Tuesday, November 26, 2013

KEDAMAIAN PENYEBAB KESUKSESAN ANDA



Suatu hari, saya dihadapkan pada masalah yang sebenarnya tidak sulit untuk dipecahkan. Pihak pertama merasa tidak bersalah, pihak kedua merasa tidak bersalah. Kedua belah pihak berposisi tegang mempertahankan posisinya.

Lalu kedua belah pihak berusaha mengurai urutan masalah untuk mencari pembenaran, siapa yang salah dan siapa yang benar. Pihak pertama mengajukan bukti-bukti untuk membenarkan posisinya. Tapi pihak kedua menyangkal semua bukti dan merasa telah difitnah.

Selanjutnya, pihak kedua mengajukan pihak pertama kehadapan hukum dengan alasan pencemaran nama baik. Pihak penegak hukum, mengembalikan masalah untuk diselesaikan secara kekeluargaan.

Sebagai peimpinan saya berinisiatif memanggil semua pihak untuk bermusyarawarah. Setelah semua hadir, saya dituntut untuk menyelesaikan masalah dengan kekeluargaan. Saya tidak tahu langkah apa yang harus saya ambil. Tapi jika dilihat dari urutan kasus, posisi kedua belah pihak sudah dalam posisi tegang, jadi sangat sulit untuk dipertemukan jika mengurai kembali siapa yang salah. Alih-alih bukan menyelesaikan masalah, malah akan semakin memperparah keadaan.

Untuk mengambil keputusan, secara psikologis saya pilah kedewasaan kedua belah pihak. Dari umur, pihak pertama belum dewasa menurut undang-undang, dan masih sangat tergantung pada orang lain. Dari pengetahuan pihak pertama belum memiliki banyak pengetahuan karena tingkat pendidikan lebih rendah dari pihak pertama. Secara psikologis tingkat kedewasaan seseorang dipengaruhi oleh luasnya pengetahuan.

Sementara posisi pihak kedua, umur sudah dewasa, tingkat pendidikan sarjana, dan menduduki posisi terhormat, serta punya kedewasaan berpikir dalam menyikapi masalah. Dari kepemilikan pengetahuan, pihak pertama sudah jauh lebih banyak pengetahuan dalam arti dewasa, karena sudah berpendidikan sarjana.

Atas dasar itu, saya ajak kedua belah pihak untuk berdamai tanpa harus mengusut siapa yang benar dan siapa yang salah. Karena pihak kedua tidak hadir, sebagai pimpinan saya mengambil posisi mewakili pihak kedua.

Pihak pertama bersikukuh, menuntut bahwa dirinya tidak bersalah dan minta direhabilitasi nama baiknya dihadapan publik. Kesepakatan pun dibuat, dengan pernyataan bahwa pihak kedua bersalah, minta maaf, dan pihak pertama mencabut tuntutannya. Konsekuensi selanjutnya, semua orang harus berkumpul dilapangan untuk terima pengumuman bahwa pihak pertama adalah orang baik dan tidak bersalah. Saya lakukan semua tuntutan dengan harapan kondisi kembali dalam keadaan damai.

Namun setelah itu, teman-teman pihak kedua akan mogok karena tidak terima keputusan yang telah disepakati sebagai bentuk solidaritas karena merasa tidak bersalah, serta merasa dilecehkan oleh pihak pertama yang masih di bawah umur (belum dewasa).

Saya mencoba menjelaskan bahwa keputusan itu diambil dengan pertimbangan, suasana damai lebih penting dari sebuah kemenangan. Alasan selanjutnya, bersitegang dengan orang-orang yang belum dewasa, menandakan bahwa kita sama-sama tidak dewasa. Kemudian untuk mendudukkan posisi kita sebagai orang baik, tidak perlu pembenaran dari opini publik. Seandainya kita bersikukuh ingin jadi orang baik karena opini publik, hal itu cerminan bahwa kita bukan orang baik. Orang-orang baik adalah orang-orang yang teguh dalam kebaikan, tanpa harus terpengaruh oleh pendapat publik, karena bagi orang-orang baik,  kebaikan itu hanya perlu disaksikan oleh Tuhan.

Dilecehkan dan ditinggikannya derajat seseorang bukan karena pendapat publik, tapi kehendak yang Maha Kuasa Allah swt. Sebagai orang baik, kita selalu diuji kemampuan untuk bersabar menanti ketentuan Allah swt, bahwa yang baik akan ditinggikan derajatnya dan yang buruk akan direndahkan kedudukannya. Ketentuan itu akan terwujud dalam selang beberapa waktu. Saksikan dengan mata kepala sendiri bahwa ketentuan Allah itu benar adanya.

Terakhir saya jelaskan mengapa damai itu lebih penting dari kemenangan. Kondisi damai jauh lebih penting karena akan melahirkan kemenangan besar. Kemenangan bukan penyebab kedamainan, tapi penyebab konflik, karena kemenangan berada di atas kekalahan orang lain. Maka cenderunglah pada kedamaian karena dibalik kedamaian ada sukses besar yang dijanjikan Tuhan.

Perhatikan firman Allah swt di bawah ini. Ada logika berpikir yang harus kita yakini! Lihat cetak tebal dan baca dengan logika.

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (An Nisaa:114)

KEDAMAIAN ADALAH SEBAB, DAN PAHALA BESAR (SUKSES, KEMENANGAN, KEJAYAAN) ADALAH AKIBATNYA. Apakah benar logikanya seperti itu? Kita lihat urutan sejarah Nabi Muhammad saw dalam menyebarkan Islam ke seluruh dunia.

Pada perang pertama (perang Badar), kaum musliman mendapat kemenangan, setelah itu berganti dengan kekalahan pada perang Uhud. Ini menunjukkan logika perjalanan hidup bahwa KEMENANGAN melahirkan konflik dan kekalahan.

Setelah kekalahan itu, Nabi Muhammad saw lebih cenderung menerima perdamaian, sekalipun kedudukan Nabi Muhammad saw dalam perjanjian damai itu direndahkan (dilecehkan). Dalam perjanjian itu Nabi Muhammad ditulis bukan sebagai Rasulullah tetapi sebagai Muhammad bin Abdullah. Ini adalah lebih dari pelecehan, karena merendahkan kedudukan seorang Nabi yang diutus langsung oleh Allah swt.

Saat itu, sesama kaum muslimin banyak yang tidak bisa menerima perjanjian damai ini karena dianggap menguntungkan lawan dan kaum muslimin berada di posisi lemah. Namun semua menyaksikan, setelah penjanjian damai itu, penyebaran Islam, hubungan diplomasi, kekuatan umat semakin bertambah besar. Sampai pada akhirnya Mekkah berhasil ditaklukkan oleh kaum muslimin di bawah pimpinan Rasulullah saw.

Bukankah ini logika dari Tuhan, bahwa kedamaian adalah penyebab lahirnya kemenangan yang besar bagi kuam muslimin. Salam sukses dengan logika Tuhan.

Follow me @logika_Tuhan

Monday, November 25, 2013

MAU KAYA? BACA KUN FAYAKUN



Kata kun fayakun adalah perkataan Tuhan yang diucapkan ketika Tuhan berkehendak menciptakan sesuatu atau kejadian. Kata kun fayakun tertulis dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 117.

“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya:  "Jadilah". Lalu jadilah ia”.

Kun fayakun, diterjemahkan menjadi kata “jadilah”. Lalu jadilah ia. Kata jadilah, dalam alam pikiran awan dipersepsikan sebagai bentuk penciptakan tanpa proses. Awam mempersepsikan kata jadilah seperti jin memenuhi permintaan Aladin. Tring...trin...tring...

Persepsi semacam ini tidak salah, karena Tuhan bisa berkehendak apa saja dalam menjadikan sesuatu. Tetapi ada persepsi lain yang perlu diketahui awam. Please open your mind!

Kata jadilah, tidak mutlak dipersepsikan sebagai kejadian tanpa proses. Jika dimutlakkan tanpa proses, umat akan terjebak pada pola-pola pikir yang kurang rasional, dan cenderung mistis. Sementara, Al-Qur’an mendandung ajaran-ajaran rasional.

Kecenderungan berpikir mistis (tanpa proses), akan berdampak pada sikap-sikap pasrah, kurang kreatif, dan malas. Alhasil umat Islam akan tenggelam dalam kejumudan.

Selain kata “jadilah”, terjemahan turunan dari kata kun fayakun, bisa juga “berproseslah, kerjakanlah, lakukanlah, bergeraklah, berhijrahlah”. Kun fayakun dilihat dari bentuk katanya adalah kata kerja. Maka dapat diterjemhakan ke dalam bahasa kita sebagai kata kerja. Untuk itu, kata Jadilah, berproseslah, kerjakanlah, lakukanlah, bergeraklah, berhijrahlah, adalah bentuk-bentuk lain dari kata kerja kun fayakun. Maka, dengan terjemahan berbagai macam kata kerja, kun fayakun dapat digunakan pada berbagai kejadian.

Menurut Agus Mustofa (2013), kata kun fayakun mengandung logika sebab akibat. Kata penghubung ‘fa’ sebelum ‘yakun’ adalah bermakna ‘maka’, atau ‘kemudian’ atau ‘lantas’, oleh karena itu menunjukkan adanya sebab akibat yang berarti mengandung proses. Selanjutnya beliau menegaskan, pemahaman saintifiknya, bahwa semua proses penciptakan sesuatu atau kejadian di alam semesta, membutuhkan waktu untuk berubah dari keadaan sebelum tercipta menjadi keadaan setelah tercipta. Meskipun itu hanya berlangsung sepersekian detik, atau berlangsung miliaran tahun.

Sekarang coba kita perhatikan bagaimana proses kesuksesan seseorang dalam membangun bisnis, atau menemukan teknologi baru. Semua pengusaha sukses berproses mulai dari kejadian sederhana sampai  kejadian komplek. Proses kejadian itu mengikuti logika sebab akibat, dan berkesinambungan (berproses). Hal ini berlaku dalam kajadian manusia dan penciptaan langit beserta bumi. 

Bisnis-bisnis besar yang dimiliki seorang pengusaha sukses, jika dibaca ke belakang rata-rata dibangun dari usaha-usaha kecil. Pengusaha-pengusaha sukses, selalu memiliki usaha sederhana yang awalnya disepelekan orang, dan berkembang menjadi kerajaan bisnis. 

Chairul Tanjung, bisnisnya dimulai dari menjadi makelar photo copy diktat mahasiswa ketika kuliah, Bob Sadino, membangun kerajaan bisnis mulai dari ternak ayam petelur dan menjualnya secara berkeliling, Dahlan Iskan, menjadi raja media dimulai dari wartawan surat kabar, Edy Soeryanto Soegoto, membangun kerajaan kampusnya dengan 17000 mahasiswa, dari lesan dua orang murid.

Kesimpulannya, kawan-kawan Tuhan selalu berkehendak menjadikan kalian orang-orang hebat. Kehendak Tuhan ini digambarkan dalam kata kun fayakun. Dalam bahasa yang bisa kita pahami, jika ingin membangun kerajaan bisnis, maka kun fayakun! Dalam arti operasional (bentuk kata kerja), lalukanlah, berproseslah, mulai dari bisnis-bisnis kecil. Tuhan berkehendak, bisnis-bisnis kecilmu akan berubah menjadi kerajaan bisnis, mulai hitungan detik, jam, bulan, dan tahun. Bersabarlah dalam ketetapan Tuhan. Walalhu ‘alam.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan

Tuesday, November 19, 2013

PENGETAHUAN DULU ATAU BERIMAN DULU?

Oleh: Muhammad Plato

Sepulang dari panti asuhan satu keluarga, begitu melelahkan. Rumah kontrakan yang tidak layak huni bagi seorang manusia berpenghasilan di atas 10 juta, selalu jadi tempat istirahat yang menenteramkan. 

Sekalipun langit-langit lapuk, talang kadang bocor, kamar mandi tak berkeramik, dan sedikit ada bau lembab, rumah itu seperti surga yang selalu membawa tenang di saat-saat waktu istirahat tiba.

Waktu pulang dari panti asuhan, hampir larut malam. Sebelum tidur, iseng-iseng nonton ceramah seorang Pendeta dari salah satu acara televisi swasta lokal. Sengaja saya nonton ingin tahu bagimana logika-logika berpikir yang digunakan agama lain.


Hal yang menarik dari ceramah itu adalah Pak Pendeta berkata, bahwa keimanan sesorang bukan didapat dari logika (logic), bukan pula dari penglihatan (seeing), bukan pula dari bukti-bukti (evident). Tapi keimanan di dapat dari iman, istilah Pak Pendeta adalah faith to faith. Pak Pendeta menegaskan bukan mengerti lalu beriman, tetapi beriman dulu baru mengerti.  Menurut Pak Pendeta inilah metode beriman yang tidak dimiliki oleh agama lain.

Penulis tidak mau menghakimi apakah pendapat Pak Pendeta itu benar atau salah. Lagian Pak Pendeta berbeda agama dengan penulis. Yang menggelitik penulis adalah apakah dalam memperoleh keimanan, kita harus beriman dulu, atau mengerti dulu?

Ternyata metode yang dianut Pak Pendeta dianut juga oleh kawan-kawan saya yang muslim di pesantren.  Beberapa kawan yang selalu terlibat diskusi bersikukuh bahwa keimanan mendahului pengetahuan. Metode mereka sama dengan Pak Pendeta yaitu faith to faith.

Penulis coba analisis pendapat Pak Pendeta, kenapa Beliau berpendapat untuk beriman harus beriman dulu bukan mengerti. Kemungkinan besar, Pak Pendeta sangat menghindarkan ajaran agama yang dianutnya dari pendekatan-pendekatan ilmiah, melalui logika, dan empiris. Penulis ketahui dari sejarah bahwa ajaran agama Pak Pendeta sangat bertentangan dengan orang-orang ilmiah. Seperti diceritakan dalam kasus Copernicus, dan Galileo Galilei.

Sepengetahuan penulis, agama Pak Pendeta juga memiliki kasus kontroversi tentang konsep ketuhanannya. Konsep ketuhanan dalam agama Pak Pendeta kadang-kadang sulit dipahami dengan akal (logika). Dalam berbagai acara debat agama (Ahmed Deedat, Dr. Naik), Pendeta selalu kewalahan menghadapi argumen logis untuk mempertahankan konsep ketuhanannya. Atas dasar itulah Tuhan Pak Pendeta selalu berlindung di balik misteri yang dinisbatkan sebagai sifat mutlak Tuhan, yang tidak dimiliki makhluk selain Tuhan. Padahal dimuka bumi ini banyak makhluk-makhluk misterius juga, seperti Alien contohnya.

Untuk itulah keluar metode bahwa keimanan itu di dapat bukan dari logika, penglihatan, dan bukti-bukti, tapi dari keimanan. Jika metode ini satu-satunya dalam memperoleh keimanan, kemungkinan bisa terjadi, sekalipun tidak logis, dan empiris dengan keimanan sesuatu bisa menjadi benar. Begitu kira-kira.  Mohon maaf ini hanya prediksi saja, yang lebih tahu tentu Pak Pendeta. Setiap orang boleh berpendapat kan, asal tidak saling menjelekkan.
  
Bagaimana dengan pandangan dari agama penulis? Dari sudut pandang agama penulis, metode untuk beriman harus beriman dulu, atau untuk mengerti harus beriman dulu, kurang sependapat. Sebab jika metode ini dimutlakkan, akan terjadi indoktrinasi membabi buta, yaitu membenarkan sesuatu sekalipun bertentangan dengan logika. Padahal akal, logika adalah perantara manusia untuk memahami siapa Tuhannya.

Jika memahami asal-usulnya turunnya kitab suci Al-Qur’an, Nabi Muhammad saw menerima wahyu pertama dari Allah di Gua Hira adalah kata Iqra (bacalah). Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (logika). (Al-‘Alaq:1-4). 

Jika dicermati mengapa untuk pertama kalinya Tuhan tidak memerintahkan manusia (Nabi Muhammad saw) berimanlah, bertakwalah, atau berserah dirilah? Sangat mungkin perintah membaca ini adalah perintah awal dari Tuhan yang harus dilakukan manusia, jika manusia ingin mencapai derajat beriman.  Dapat juga berarti, untuk mendapatkan dan meningkatkan keimanan, Tuhan mewajibkan manusia membuktikan firman-firman Tuhan dengan pikiran (logika), dan membuktikannya.

Sebagaimana kita ketahui dari wahyu Al-Qur’an, bagaimana proses pencarian Tuhan yang dilakukan Nabi Ibrahim. Diberitakan Nabi Ibrahim melakukan penalaran (berlogika), dan meminta pembuktian keberadaan Tuhan kepada Tuhan, untuk memantapkan keimanannya. Nabi Ibrahim memang sempat ditegur Tuhan dalam bentuk pertanyaan,” apakah kamu belum yakin dengan keberadaan Ku?” Dan setelah mendengar jawaban Nabi Ibrahim, ingin memantapkan keimanannya, Tuhan tidak menyuruh Nabi Ibrahim untuk beriman demi keimanan. Tapi Tuhan menjawab keinginan Nabi Ibrahim dengan menyuruh menyembelih burung dan setelah itu Tuhan membuktikan kebenarannya dengan menghidupkan kembali burung yang telah disembelih Nabi Ibrahim. Tunduklah Nabi Ibrahim dalam keimanan kepada Tuhan setelah itu.

Jadi pendapat penulis, di dalam agama yang penulis anut, untuk beriman seseorang harus mengerti dulu, sebab tanpa pengertian terlebih dahulu, kadang-kadang manusia sering merasa telah beriman dengan benar padahal sangat jauh dari kebenaran. Tuhan tidak takut gara-gara berlogika, dan ingin membuktikan Tuhan, manusia jadi tidak beriman. Sebab Tuhan sendirilah yang menciptakan logika untuk manusia.

Saya sependapat dengan Hassan Hanafi (2010:277-278), “Nalar mendahului keimanan. Memberikan prioritas iman di atas nalar tidak mendatangkan manfaat dan kemaslahatan. Pemilihan keimanan sebagai kewajiban pertama telah terjadi pada masa-masa keterbelakangan dan kebekuan, sebagai ajakan tegas menuju pengabaian terhadap nalar (logika). Ditegaskan oleh Beliau, kewajiban pertam bukan ber Islam, sebab seorang mukalaf tidak meyakini Islam kecuali setelah melakukan nalar, perenungan, menggunakan akal dan pikiran. Jika tidak, maka berarti Islamnya adalah melalui adat dan tradisi. Keislaman menuntut adanya pengetahuan tentangnya. JADI PENGETAHUAN MENDAHULUI KEISLAMAN. PENGETAHUAN TIDAK AKAN ADA KECUALI DENGAN NALAR. DENGAN DEMIKIAN NALAR MENDAHULUI PENGETAHUAN”.

Saya sependapat dengan KH. Fahmi Basya, bahwa yang pertama kali diciptakan Tuhan adalah logika. Pendapat ini dapat dipahami jika dihubungkan dengan pendapat Hassan Hanafi, yang menyimpulkan bahwa nalar mendahului pengetahuan.

Sampai sejauhmana manusia berlogika Tuhan akan meladeninya. Bahkan Tuhan menyuruh-nyuruh manusia berlogika (berpikir) sebanyak 63 kali. Perintah yang luar biasa penting. Tuhan sangat menginginkan umatnya menjadi cerdas, dan Tuhan membenci manusia-manusia bodoh yang tidak pernah menguji dan meningkatkan keimanannya.  Hari esok harus lebih baik dari hari ini, agar hari depan mu tetap baik. 

Sekian pendapat penulis, mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan. Wallahu ‘alam.
Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan

PERTARUNGAN POLITIK KABIL DAN HABIL 2014



Dunia politik bukan milik orang-orang suci, bukan juga milik orang-orang kotor. Politik adalah kehendak Tuhan yang harus dialami oleh setiap manusia. Jika ada yang menisbatkan politik sebagai dunia kotor, sesungguhnya dia tidak terlalu memahami politik. Dan jika ada yang mengatakan bahwa dunia politik adalah suci, itulah yang harus selalu diperjuangkan umat manusia. 

Dalam sejarahnya, politik selalu digambarkan sebagai sebuah perebutan kekuasaan. Sifat-sifat berkuasa tidak diberikan Tuhan kepada malaikat, tapi diberikan Tuhan kepada iblis dan manusia. Ketika Tuhan memberikan kelebihan potensi berkuasa kepada Adam (manusia), maka Iblis menurut dirinya sama memiliki potensi berkuasa, dan menolak untuk mengakui bahwa manusia lebih berkuasa.

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam (potensi berkuasa)," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir (albaqarah:34)

Maka, Tuhan mengutuk Iblis sebagai kaum pembangkang, pendengki, dan sombong karena tidak mau tunduk pada perintah Tuhan. Kemudian, Iblis berjanji, akan membuat onar di muka bumi dan menjadikan manusia tidak mampu mengemban kekuasan. Tuhan pun memberi tangguh kepada Iblis. Sejak saat itu, dunia politik dipenuhi dengan sifat konflik. Iblis dan manusia saling berebut kekuasaan.
  
Drama konflik untuk pertama kalinya terjadi. Iblis berhasil menggelincirkan Adam dari kekuasaannya. Lalu, sebagai manusia bertanggung jawab, Adam tidak menyalahkan Iblis, tapi mengakui kelemahannya dan memohon ampun kepada Tuhan, serta berjanji akan terus mempertahankan kekuasaannya dengan sekuat tenaga. Tuhan pun mengampuni Adam, dan Tuhan menetapkan aturan-aturan yang lurus dalam politik. Siapa bisa mengikuti aturan-aturan lurus, Tuhan menjanjikan kekuasaan abadi di sisi Tuhan.

Selanjutnya, dengan memanfaatkan sifat konflik dalam politik, Iblis berhasil memecah belah manusia menjadi dua kutub berlawanan. Satu kutub yang berhasil diajak bersekutu dengan Iblis, satu kutub mereka yang tidak mau bersekutu dengan Iblis dan tetap tunduk pada petunjuk-petunjuk Tuhan.

Sepanjang sejarah, dunia politik menjadi ruang tempat bertarungnya Iblis dan manusia yang sama-sama diberi potensi berkuasa oleh Tuhan. Kadang-kadang politik berhasil dikuasai oleh Iblis sehingga politik penuh dengan kekotoran, kadang pula dikuasai oleh manusia sehingga politik penuh dengan kesucian. Pertarungan akan terus berlangsung sampai batas waktu yang telah ditentukan yaitu datangnya hari pembalasan.

Tragedi kemanusiaan pertama dalam dunia politik terjadi pada anak-anak Adam, yaitu antara Kabil dan Habil. Untuk mengukuhkan kekuasaannya, Kabil berhasil membunuh Habil. Kabil adalah representasi dari kubu yang bersekutu dengan Iblis yang menginginkan kekuasaan dengan cara-cara kotor (menentang Tuhan). Sedangkan Habil adalah kubu manusia yang mencoba meraih kekuasaan dengan berserah diri pada ketentuan Tuhan.

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban (kewajiban berkorban dalam politik), maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu! (sifat konflik dalam politik)" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa“ (al-maa’idah:27)

Dari tragedi itu Tuhan memberi petunjuk kepada manusia, dunia politik selain di isi dengan konflik, juga diisi dengan sifat-sifat pengorbanan. Berkorban dalam dunia politik, bukan hanya harus dilakukan oleh manusia yang ingin berkuasa, tetapi kerap juga dilakukan oleh Iblis yang haus kekuasaan. 

Di dalam dunia politik berlaku hukum,  siapa berani berkorban, dia akan diantarkan pada kekuasaan. Namun Tuhan memberi petunjuk, tidak semua pengorbanan diterima oleh Tuhan. Pengorbanan yang diterima oleh Tuhan harus dilakukan di atas jalan Tuhan. Para Nabi adalah pembawa petunjuk Tuhan, agar manusia berkorban di jalan Tuhan demi kukuhnya kekusasaan.

Demikian, drama konflik dan pengorbanan politik kita dapatkan dari wahyu suci Al-Qur’an yang penuh pelajaran. Maka, umat manusia punya kewajiban untuk mewarnai dunia politik ini dengan penuh pengorbanan. Para pelaku suap dan korupsi sesungguhnya dia telah berkorban sebagaimana Kabil melakukannya demi sebuah kekuasaan, tetapi perngorbanan dengan suap dan harta hasil korupsi tidak akan diterima oleh Tuhan.

Renungan untuk semua politisi (manusia), jika memang sudah ketentuan bahwa setiap pengorbanan akan diganjar dengan kekuasaan, mengapa tidak berkorban saja dijlalan Tuhan? Semoga hari raya kurban yang kita peringati setiap tahun dapat memberi hidayah kepada kita semua.
 
Kami berfirman: "Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku (berpolitik dalam aturan Tuhan), niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (albaqarah:38)

Hai orang-orang baik, jangan mudah menyerah! Kekuasaan (Kesejahteraan, kesenangan hidup) harus ditebus dengan pengorbanan. Jika golongan Kabil merebut kekuasaan dengan suap, janji palsu, tipu daya, fitnah, maka golongan Habil harus merebut kekuasaan dengan berkorban dijalan Tuhan, dengan menyuburkan sedekah. Itulah bentuk pengorbanan di jalan Tuhan. Wallahu ‘alam.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan