Sunday, December 27, 2015

MENGAPA HARUS TAKUT ALLAH?

Oleh: Muhammad Plato



Rasa takut adalah fitrah atau naluri yang ditakdirkan Tuhan kepada setiap manusia. Fitrah itu dapat kita ketahui, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Al Baqarah:155).

Rasa takut bisa dikatakan adalah pengendali prilaku manusia. Setiap tindakan manusia dihambat dan didorong oleh rasa takut. Rasa takut kadang bisa jadi penghambat, kadang bisa jadi pendorong seseorang untuk berbuat.

Rasa takut adalah penggerak untuk berbuat. Rasa takut tidak bersifat negatif juga tidak bersifat positif. Rasa takut bersifat netral, sangat tergantung pada persepsi manusia dalam menggunakannya.

Rasa takut dapat diolah menjadi alat pengendali manusia. Teror, intimidasi, ancaman, sanksi, adalah cara mengolah rasa takut manusia. Mengolah rasa takut telah dilakukan manusia diberbagai belahan dunia untuk mengendalikan manusia. Sering kita saksikan para penguasa menggunakan teror dan intimidasi untuk mempertahankan kekuasaannya.


Teroris, bisa jadi pelakunya dia sendiri, bisa jadi ada dalang yang memainkan dibelakangnya. Teror bisa menimbulkan rasa takut berlebihan atau phobia bagi masyarakat. Manusia-manusia yang dihinggapi rasa takut berlebihan tidak bisa berpikir rasional. Inilah kondisi psikologis yang diharapkan oleh para pemanfaat teror.

Islamphobia yang melanda masyarakat Barat adalah kondisi psikologis yang diharapkan para pengendali. Sekalipun masyarakat Barat terkenal rasional dan objektif, namun dalam kondisi phobia, kemampuan berpikir rasionalnya tidak akan berfungsi dengan baik. Dalam kondisi phobia kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan akan cenderung negatif. Kesimpulan negatif akan menghasilkan kecenderungan sikap dan prilaku reaktif negatif. Sikap dan prilaku reaktif kurang mempertimbangkan rasionalitas. Prilaku reaktif yang negatif dihasilkan dari pola pikir kaca mata kuda, yang melihat sesuatu dari sudut pandang umum (opini) negatif (stereotif).

Prilaku manusia bisa dikendalikan dengan memanfaatkan rasa takut yang dimilikinya. Memanfaatkan rasa takut dilakukan juga oleh Iblis. Diberitakan dalam Al-Qur’an, Iblis berjanji akan menyesatkan manusia. Sebagai makhluk tidak terlihat, Iblis menyesatkan manusia dengan melakukan teror. Iblis membangun imajinasi manusia dengan persepsi-persepsi buruk dan menakutkan, dengan membisikkan pengetahuan yang akan menciptakan rasa takut berlebihan.

Dalam kasus terorisme, bukan kejadian demi kejadian terornya yang berbahaya tapi imajinasi dan rasa takut terhadap teror yang sedang diciptakan. Ketika suasana menakutkan sudah tercipta dan seolah meneror setiap saat maka dengan mudah manusia atau masyarakat dikendalikan. Untuk menjaga agar suasana takut tetap ada, diciptakan kejadian-kejadian luar biasa yang bisa diklaim sebagai aksi teror. Agar masuk akal bahwa pelaku teror itu ada, maka diciptakan kelompok yang mengklaim baik langsung maupun tidak langsung sebagai pelaku teror. Inilah teori bagaimana mengendalikan masyarakat dengan memanfaatkan rasa takut.

Saat ini rasa takut manusia sedang diaduk-aduk, mengarah pada takut yang tidak nyata yaitu teror. Saling curiga, saling menyesatkan, berburuk sangka, adalah ciri dari masyarakat yang sedang dikendalikan oleh rasa takut terhadap teror.

Tidak ada yang bisa membebaskan rasa takut kecuali Tuhan. Cara membebaskan manusia dari rasa takut, Tuhan memerintahkan agar manusia hanya takut kepada Tuhan. Ketika Tuhan ditakuti maka logikanya akan berbeda dengan manusia. Manusia semakin takut kepada Tuhan, maka Tuhan akan mencintai dan melindungi manusia.   

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. (Almaidah:44)

Wujud rasa takut manusia kepada Tuhan diaplikasikan dengan cara memutuskan segala perkara dengan mengingat dan mempertimbangkan segala pengetahuan yang diberikan Tuhan kepada manusia di dalam kitab suci.

Di dalam kitab suci Al-Qur’an, Tuhan merekam secara empiris bagaimana orang-orang yang lebih takut kepada Tuhan, mendapat perlindungan dan kecukupan rezeki dari Tuhan.  

Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. (Al Anfaal:26)

Konklusinya, orang-orang yang menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya dzat yang ditakuti akan terbebas dari rasa takut, karena Tuhan akan memenuhi segala hajat hidupnya. Mengapa orang-orang yang takut pada Tuhan akan terbebas dari rasa takut? Ketakutan terhadap Tuhan akan melahirkan ketaatan, kedekatan, ketundukkan kepada Tuhan. Ketaatan, kedekatan, dan ketundukkan pada ketetapan Tuhan akan berbalas perlindungan, dan pemenuhan terhadap segala kebutuhan hidup.

Inilah penjelasan rasional, mengapa manusia dianjurkan untuk hanya takut pada Tuhan? Karena Tuhan maha kuasa atas segala yang dikehendaki manusia, maka dari itu Tuhan adalah pembebas dari segala rasa takut. Wallahu ‘alam.

(Muhammad Plato, Folow @logika_Tuhan).

Wednesday, December 16, 2015

SUDAHKAH BERIMAN PADA TAKDIR?


Perhatikan dan dengarkan oborlan orang-orang sehari-hari. Banyak pernyataan-pernyataan yang dinilai tidak berdasarkan pada keimanan kepada Tuhan. Salah satu landasan keimanan yang paling banyak dilanggar oleh manusia adalah beriman kepada Takdir.

“Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman”. (Ali Imran:166)

Beriman kepada takdir artinya berkomitmen bahwa segala kejadian yang terjadi pada alam dan diri kita adalah kehendak Tuhan. Kalau menggunakan logika, beriman kepada takdir artinya percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini DISEBABKAN oleh kehendak Tuhan.

Kalau tidak setuju dengan pendapat saya, silahkan cari definisi lain. Setiap orang diberi kebebasan untuk memahami konsep berdasarkan pengetahuannya masing-masing. Tidak usah pakai marah dan berpikiran negatif.

Suatu hari perjalanan rombongan ke Bali digeser satu hari karena pesawat rusak tidak bisa dipaksakan terbang. Lalu penerbangan dilaihkan ke bandara lain, dengan jadwal terbang jam 16.00. Lalu seseorang dengan pengetahuan yang dimilikinya, mengusulkan untuk menggeser penerbangan ke jam 21 malam. Dengan alasan bahwa pada jam 16-18, termasuk penerbangan yang paling beresiko kecelakaan karena pada jam itu sedang terjadi pergantian cuaca. Banyak orang menghindari penerbangan jam 16.00 karena dapat beresiko kecelakaan dan bisa juga berakhir dengan kematian.

Kawan saya berpikir dengan logika material. Konstruksi logikanya sebagai berikut;
“Jangan terbang pakai pesawat jam 16.00 (akibat)”
“Jam tersebut sering terjadi kecelakaan, dan terjadi kematian (sebab)”.

Flight to Lombok

Jika pola berpikir material seperti di atas kita aplikasikan dalam kehidupan, maka akan terjadi kesalahan dalam bertindak. Dengan pola pikir di atas, kita akan kena resiko bertindak bukan atas dasar kehendak Tuhan, tapi karena fakta empiris seringnya terjadi kecelakaan di penerbangan jam 16.00. Secara akidah pola pikir ini telah menyimpang dari keimanan kepada takdir Tuhan.

Pola pikir material sebenarnya lucu. Jika penyebab kematian adalah kecelakaan pesawat jam 16.00, semestinya orang-orang menghindari penerbangan jam 16.00. Faktanya, jumlah penumpang pesawat tetap banyak, dan maskapai penerbangan semakin ketat mengatur jadwal penerbangan jam demi jam termasuk di jam 16.00.

Fakta ini menandakan bukti bahwa berpola pikir material seperti di atas tidak benar, karena menjadikan manusia tidak konsisten. Orang-orang seperti ini termasuk yang dibenci Tuhan, karena orang itu banyak bicara tetapi tidak sesuai dengan tindakannya.

Menurut pendapat saya, pola pikir yang benar jika kita ingin tetap beriman kepada takdir Tuhan, dan bejiwa tenang, berpikirnya harus langsung menjadikan Tuhan sebagai sebab. Jangan menjadikan ada sebab perantara antara kita dengan Tuhan.

Ketika Tuhan menjadi sebab, hidup akan lancar tidak akan ada hambatan-hambatan. Seandainya mau berangkat ke suatu tempat dan harus naik pesawat jam 16.00, tidak ada rasa takut kecelakan atau mati. Penyebab kematian adalah Tuhan, dan manusia tidak tahu dengan cara apakah manusia dimatikan Tuhan. 

Dalam setiap tindakan tugas kita hanya, "berhati-hatilah di jalan!". Berhati-hati di jalan artinya apa? Ketika diperjalanan ingatlah selalu kepada takdir Tuhan, agar jika kematian datang tercatat sebagai orang yang mati di jalan Tuhan.

Terbang jam berapapun dengan pesawat, kita selalu ada dalam takdir Tuhan. Kematian dan kecelakaan adalah kehendak Tuhan. Dengan demikian, tugas manusia itu sederhana, yaitu membaikkan segala urusan, agar meninggal dalam kebaikan di jalan Tuhan. Walahu 'alam.

Saturday, November 21, 2015

BELAJAR BERLOGIKA DARI NABI KHIDHR



Kesalahan berpikir (berlogika) sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kesalahan berlogika terjadi karena membaca akibat kejadian berdasarkan pada apa yang kita lihat. Kesalahan membaca akibat berdasarkan apa yang dilihat, dicontohkan dalam kisah perjalanan Nabi Muda dan Nabi Khidhr.
Berikut adalah kisah kesalahan logika Nabi Musa, karena membaca akibat berdasarkan pengetahuan dari apa yang dilihat yang dilakukan Nabi Khidhr.

KEJADIAN YANG DILIHAT
AKIBAT YANG DIBACA
ALQUR’AN
Nabi Khidhr Melobangi Perahu
Menenggelamkan Penumpangnya
AL KAHFI : 71
Nabi Khidhr Membunuh Anak kecil
Membunuh jiwa bersih, dan melakukan perbuatan munkar
AL KAHFI : 74
Nabi Khidhr Menegakkan dinding yang mau roboh
Seharusnya Meminta Upah dari apa yang dilakukan
AL KAHFI : 77

Cara berlogika yang dilakukan Nabi Musa menggambarkan logika berpikir manusia biasa pada umumnya, manusia yang menggunakan akalnya untuk memahami suatu kejadian berdasarkan dari apa yang dilihat. Apa yang dikemukakan Nabi Musa, sangat masuk akal. Jika Nabi Khidhr melobangi perahu maka tindakannya itu dianggap akan membunuh (menenggelamkan) penumpangnya, dan perbuatan itu termasuk perbuatan yang tidak dapat ditolelir.

Ketika Nabi Khidhr membunuh anak kecil, siapapun yang melihatnya akan melakukan protes keras. Di zaman sekarang Nabi Khidhr akan mendapat protes keras dari para aktivis HAM. Nabi Khidhr akan jadi trendimg topic di twitter sebagai pembunuh berdarah dingin.

Ketika Nabi Khidhr membangunkan sebuah rumah untuk anak yatim, di tengah masyarakat kikir, kapitalis, individualis, seharusnya setiap pekerjaan yang kita lakukan dihitung juga dengan upah yang pantas. Dan hal itu lumrah dilakukan karena Nabi Khidhr telah mengerjakan sesuatu pekerjaan.   

Sekarang kita bandingkan logika berpikir Nabi Khidhr dalam menjelaskan akibat dibalik kejadian yang dilakukannya sendiri.

KEJADIAN YANG DILIHAT
AKIBAT YANG DIBACA
ALQUR’AN
Nabi Khidhr Melobangi Perahu
Menyelamatkan Pemilik Perahu dari raja yang akan merampas setiap perahu
AL KAHFI : 79
Nabi Khidhr Membunuh Anak kecil
Menyelamat orang tua anak itu dari kekafiran dan kesesatan karena anak itu
AL KAHFI : 80
Nabi Khidhr Menegakkan dinding yang mau roboh
Menyelematkan harta anak yatim, karena anak yatim itu akan sampai berusia dewasa
AL KAHFI : 82

Perbedaan antara logika yang digunakan oleh Nabi Musa dan Nabi Khidhr dalam cerita itu adalah Nabi Musa menggunakan logika berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya dari sumber pengetahuan yang dilihatnya. Sedangkan Nabi Khidhr sebagai orang berilmu pengetahuan melakukan sesuatu dan membaca akibatnya bukan dari apa yang dilakukannya dan pengetahuan dari apa yang dilihatnya, tapi berdasarkan pengetahuan dari Tuhannya.

Nabi Khidhr berkata, “...dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri”. (Al Kahfi : 82). Maka dari itulah, Nabi Khidhr adalah termasuk orang yang dianugerahi ilmu pengetahuan oleh Tuhan. Dan inilah cara berpikir yang membedakan antara orang berilmu dan tidak berilmu.

Jadi orang-orang berilmu adalah orang-orang yang mampu melihat kebaikan dibalik kejadian-kejadian yang dilihatnya, dan mereka membaca segala kejadian berdasarkan pengetahuan dari Tuhannya. Sumber pengetahuan dari Tuhan yang menginformasikan akibat dari segala kejadian kepada manusia adalah wahyu (kitab suci).

Al-Qur’an adalah kitab suci yang masih dapat diyakini keasliannya, karena turun pada 15 abad yang lalu, dalam masa kenabian Muhammad saw yang masih terekam jelas jejak sejarahnya. Kitab-kitab suci Zabur, Tauret, dan Injil yang sekarang ada, disinyalir sudah banyak bercampur dengan pemikiran-pemikiran manusia, dan diragukan keotentikannya. Mengingat jarak turunnya kitab-kitab tersebut dengan manusia sekarang sudah sangat lama dan jejak rekam sejarah para Nabi yang membawanya sudah tidak utuh lagi terekam dalam sejarah karena terbatasnya sumber-sumber primer dalam penulisan sejarah tersebut. 
 
Kesimpulan selanjutnya, orang-orang berilmu selalu bersabar dalam mengambil kesimpulan. Kesabaran adalah kata kunci dalam memahami suatu kejadian ke kejadian lainnya. Konsep sabar memiliki arti kunci bahwa untuk membaca kebenaran di balik kejadian berdasar pada penglihatan membutuhkan waktu, dan waktu tersebut tidak singkat. Waktu tersebut digunakan untuk melakukan pengamatan atau penelitian. Dalam proses pengamatan atau penelitian inilah seorang yang menginginkan ilmu pengetahuan dari Tuhan harus bersabar.

Sebagaimana kita ketahui, pengamatan-pengamatan dan penelitian-penelitian yang melahirkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi manusia, selalu memakan waktu lama. Penemuan tulisan, api, roda, bola lampu, jika kita lihat rentang waktunya dari manusia terdahulu sampai sekarang,  waktunya sangat lama. 
 
Dari mana kita tahu bahwa untuk membuktikan akibat dari suatu kejadian berdasarkan penglihatan, harus bersabar karena membutuhkan waktu lama? Kita perhatikan saja, untuk membuktikan akibat kebaikan dari kejadian yang dilakukan Nabi Khidhr semuanya membutuhkan kejadian berikutnya. Jarak antara kejadian yang saat itu dilakukan Nabi Khidhr dengan kejadian berikutnya ternyata membutuhkan waktu lama.

Berapa rentang waktu yang dibutuhkan untuk membuktikan kebenaran dibalik kejadian? Hal ini terekam jelas dalam kejadian “menegakkan dinding yang mau roboh”, yang dilakukan karena anak yatim dalam rumah itu kelak akan hidup sampai dewasa. Jika usia anak belum dewasa sekitar 5 tahun, maka untuk menjadi dewasa sampai usia 18 tahun, ada rentang waktu 13 tahun.

Jadi inilah salah satu, ukuran rentang waktu 13 tahun yang dibutuhkan Nabi Musa saat itu untuk membuktikan sebuah kebenaran dibalik suatu kejadian. Selama rentang 13 tahun pula Nabi Muhammad saw membuktikan kebenaran dari Tuhannya, bahwa ajaran agama yang dibawanya menjadi agama yang berpengaruh di dunia. 
   
Orang-orang berilmu seperti Nabi Khidhr demikian juga Nabi Muhammad saw tidak memerlukan waktu lama untuk mengetahui akibat dari suatu kejadian, karena Nabi Khidhr dan Nabi Muhammad saw mendapatkan pengetahuan langsung (wahyu) dari Tuhan. 

Bagi kita, yang ingin mendapat pengetahuan langsung dari Tuhan, bisa membaca kitab suci Al-Qur’an yang masih diyakini keotentikannya yang di turunkan kepada Nabi Muhammad saw. Dengan membaca kitab suci Al-Qur’an kita akan dibimbing langsung untuk mengetahui segala kebaikan dibalik segala kejadian. Dan itulah ciri dari ilmuwan yang dilimpahi ilmu pengetahuan dari Tuhan. Wallahu ‘alam.

(Muhammad Plato, Penulis Buku Hidup Sukses Dengan Logika Tuhan. Follow @logika_Tuhan).

Friday, October 30, 2015

KESALAHAN BERPIKIR DIAJARKAN DI SEKOLAH-SEKOLAH



Konsep pemikiran terdahulu mengatakan, untuk mencari agama tertua, kita harus mencari suku-suku tertua yang masih hidup di dunia. Apa yang diyakini suku tertua tersebut itulah agama yang mereka anut. Jika kita menemukan suku yang menyembah fenomena alam sebagai komunitas primitif di bumi, maka agama yang dianutnya sebagai yang paling kuno.

Dengan konsep berpikir ini, sebagian besar masyarakat percaya bahwa agama paling tua di dunia adalah agama yang mengakui kekuatan pada fenomena alam, seperti animisme, dinamisme, dan politeisme. “Pola berpikir ini dipengaruhi oleh kultur ilmiah yang telah mendidik kita untuk memusatkan perhatian hanya kepada dunia fisik dan material yang hadir dihadapan kita”. (Amstrong, 2013). Manusia lebih sadar pada apa yang mereka lihat secara fisik dan material, dan tidak sadar bahwa lebih banyak hal-hal ghaib yang ada disekitarnya.

Konsep pemikiran lain adalah agama yang dianut manusia mengikuti perkembangan zaman. Auguste Comte membagi zaman menjadi tiga fase yaitu teologis, metafisis, dan positif. Comte berpendapat bahwa asal usul fase teologis bermula dari fetisisme, diikuti politeisme, dan berakhir pada monoteisme. (Taslaman, 2010).

Dengan teori ini, Comte seolah-olah ingin berpendapat bahwa keberagamaan manusia hanya berada pada fase teologis yang terbagi menjadi tiga fase yaitu fetisisme, politeisme, dan monoteisme. Selanjutnya, setelah masyarakat meyakini agama monoteis, secara bertahap masyarakat akan beralih ke masa metafisik, dan akhirnya menjadi masyarakat positif, dimana sains mengambil alih agama.

Pola pikir diatas telah diajarkan di sekolah-sekolah berabad-abad di dunia Barat, hingga sampai ke bangku sekolah kita mulai dari tingkat usia dini sampai perguruan tinggi. Belum sepenuhnya disadari bahwa kita sedang mengajarkan generasi kita menuju masyarakat positif yang dicita-citakan oleh Comte, yaitu masyarakat yang meninggalkan kepercayaan kepada Tuhan, menjadi masyarakat yang hanya percaya kepada kebenaran fisik dan material.

Dari pola pikir di atas, disimpulkan bahwa masyarakat yang percaya pada Tuhan adalah masyarakat primitif yang terbelakang berabad-abad tahun lalu. Muncul stigma negatif bahwa mereka yang masih percaya Tuhan dianggap kuno, dan tidak akan bisa hidup sesuai dengan perkembangan zaman. Kenyataannya seolah-olah dibenarkan oleh kondisi kaum agamawan aliran anti keduniawian yang tampil miskin dan penuh kesederhanaan. Pola hidup ini semakin tidak diminati oleh generasi-generasi muda yang sudah diajarkan hidup dengan kemewahan, kemudahan, dengan penerapan berbagai macam teknologi. Kalau tidak Atheis, generasi Barat memilih Agnostik. Pengaruh ini mulai ke kita melalui berbagai saluran seperti pendidikan. Tanda-tandanya mulai dengan meninggalkan nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari Tuhan (wahyu), menggantinya dengan teori-teori ilmiah hasil dari penelitian yang meyakini kebenaran dari apa yang dilihat secara fisik dan material.

Pemikiran sekuler yang melihat dunia sebagai entitas terpisah, ikut membenarkan bahwa antara tipe masyarakat satu dengan lainnya hidup berdasarkan karakteristiknya masing-masing. Oleh karena itu masyarakat teologis seolah-olah terpisah dari masyarakat ilmiah.

Inilah kesalahan berpikir yang diajarkan di sekolah-sekolah secara turun temurun berabad-abad. Kini setelah dunia mengalami krisis, kerusakan alam dan kemiskinan merajalela, menyebarnya penyakit mematikan akibat hubungan seks bebas, dan turunnya kualitas moral masyarakat, mulailah muncu kesadaran. Telah terjadi kesalahan berpikir, sehingga manusia terlepas dan mengabaikan keberadaan Tuhan. Pengetahuan yang bersumber dari Tuhan tidak dijadikan sebagai sumber pengetahuan untuk dipikirkan dan dianggap sebagai khayalan, layaknya mitos dan cerita legenda.

KEMBALI KE JALAN BENAR

Karen Amstrong (2013) dalam bukunya, “Sejarah Tuhan”, telah membantu meluruskan kita ke jalan yang benar bahwa pada mulanya manusia meyakini satu Tuhan sebagai sebab pertama dari segala sesuatu dan penguasa langit dan bumi. Pendapat Amstrong didasari oleh teori yang dipopulerkan oleh Wihelm Schmidt dalam buku The Origin Of The Idea of God, yang terbit tahun 1912. Schmidt menyatakan bahwa telah ada suatu monoteisme primitif sebelum manusia mulai menyembah banyak dewa. Pada awalnya mereka mengakui hanya ada satu Tuhan Tertinggi, yang telah menciptakan dunia dan menata urusan dunia.

Caner Taslaman (2010) mempertegas bahwa kebanyakan agama dunia hanyalah versi menyimpang dari monoteisme. Penuhanan terhadap alam penyebab lahirnya konsep Tuhan monoteis, adalah tidak masuk akal, karena sebelum orang menjadikan kekuatan alam sebagai tuhan, orang tersebut terlebih dahulu harus sudah mengenal “Tuhan”.

Logisnya, penyimpangan terhadap agama monoteisme menjadi politeisme, seiring dengan perjalanan waktu, karena manusia memvisualisasikan Tuhan dengan metafora. Jalan pikirannya seperti berikut, “Tuhan adalah pencipta, dia seperti ibuku.”, “Tuhan adalah segala sesuatu, Dia bagaikan bumi”.   Itu sebab lahirnya agama politeisme.

Selanjutnya dalam setiap tahapan sejarah, sudah ada gagasan satu Tuhan. Pada setiap tahapan sejarah selalu terjadi, agama monoteisme ditentang oleh penyembah bulan atau matahari. Pada zaman sekarang, agama monoteis mendapat penentangan dari kaum komunis atau positivis. Pada akhirnya penentang monoteis selalu mengalami kegagalan, dan keyakinan pada satu Tuhan bertahan selamanya.

Jadi gambaran perubahan masyarakat secara evolusi yang dikemukakan oleh Comte, sudah tidak relevan lagi. Setiap tahap-tahap sejarah, masalah teologis selalu mewarnainya bukan suatu yang terpisah seperti yang disangkakan kaum evolusionis.

Penulis punya kesimpulan baru bahwa perjalanan hidup manusia mengikuti sebuah siklus, silih berganti, atau timbul tenggelamnya agama monoteisme dengan politeisme. Ujung dari siklus ini adalah monoteisme. Diprediksi pada pada abad sekarang sebagai masa redup dari agama politeisme, dan segera akan mulai muncul kesadaran masyarakat untuk kembali kepada agama monoteisme.

Pemilik keyakinan terhadap agama monoteisme, tidak lagi akan dianggap sebagai masyarakat tertinggal dan kuno. Sebaliknya masyarakat berperadaban akan dicirikan sebagai masyarakat dengan keyakinan terhadap agama monoteisme. Wallahu ‘alam.

(Muhammad Plato, Penulis Buku Hidup Sukses Dengan Logika Tuhan. Follow @logika_Tuhan)