Friday, June 25, 2021

BUKTI ALLAH TIDAK TIDUR

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus; tidak mengantuk dan tidak tidur.” (Al Baqarah, 2:255). “Allah, tidak ada Tuhan  melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya”. (Ali Imran, 3:2).

Berangkat dari informasi Al-Qur’an di atas, kita buktikan bahwa Allah mengurus manusia secara terus menerus baik dikala kita tidur maupun bangun, untuk orang tidak percaya Tuhan maupun percaya. Mau kemana manusia? Seluruh semesta alam berdzikir taat kepada Allah, seluruh semesta alam berkehendak atas nama Allah. Tidak ada satu kedip pun manusia bisa lepas dari ikatan Allah.

Benarkah Allah terus menerus mengurus? Makanan yang kita makan, dipilah menjadi berbagai nutrisi kemudian diedarkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Pada saat tidur, dalam tubuh ada petugas memperbaiki sel-sel yang rusak. Jantung, sekalipun kita dalam keadaan tidur, tetap bekerja memompa darah agar mengalir keseluruh bagian tubuh sesuai kebutuhan. Jika seluruh kerja organ tubuh bisa bekerja karena energi listrik, lalu sebelah mana sumber listrik itu ada dalam tubuh kita? Sirkuit robot begitu rumit didesain agar bisa merespon gerakan dan suara, tidak bisa mengimbangi gerakan reponsip seperti manusia ketika kulitnya terbakar.

Sel-sel ukuran mikro dalam tubuh manusia semua berfungsi megikuti kehendak Allah. Allah menciptakan makhluk-makluk super kecil dengan tugas mengikuti kehendak Allah sehingga gerakan-gerakan manusia sangat lentur. Untuk memproses makanan yang masuk dari mulut sampai keluar dari anus, banyak makhluk-makhluk superkecil terlibat untuk mengolah dan mengeluarkannya kembali. Aktivitas makhluk-makhuk kecil itu tanpa henti mengikuti kehendak Allah untuk mengurus manusia.

“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. (At Takwir, 81:29).    

Kesombongan manusia jika mengaku telah menyebuhkan orang-orang sakit. Kesombongan manusia jika mengaku telah mensejahterakan masyarakat. Kesombongan manusia jika mengaku telah membuat murid-muridnya sukses. Kesombongan manusia jika mengaku telah menciptakan teknologi. Kesombongan manusia jika mengaku telah membantu orang-orang miskin. Tidak sebutir debu pun manusia bisa berpikir, mengembangkan ilmu, menciptakan teknologi dengan kemampuannya sendiri.

Di saat manusia tidur, jantung tetap berdetak, paru-paru tetap bernafas, pikiran tetap bekerja, matahari terus beredar, bumi terus berputar, setelah malam kembali datang siang. Matahari tidak pernah berhenti hanya sekedar untuk isi bahan bakar, bumi tidak pernah istirahat untuk melepas lelah. Semua berfungsi atas kehendak Allah, maka Allah tidak tidur mengurus dan melayani manusia sepanjang masa. Kita lahir dengan fasilitas yang sudah tersedia. Terlalu banyak fasilitas gratis yang Allah berikan pada manusia.

Apapun yang manusia usahakan dan kerjakan semua berada di atas kehendak Allah. Setiap usaha dan kerja manusia berdasarkan fasilitas yang telah Allah sediakan. Manusia hanya menggunakan segala sesuatu yang telah Allah sediakan. Jika manusia bisa mengubah keadaan, maka semua yang diusahakan manusia bisa dilakukan, namun Allah menetapkan kegagalan dan kesuksesan. Allah memerintahkan kepada manusia untuk mengubah keadaan, namun hasilnya sudah Allah tetapkan yaitu kegagalan dan kesuksesan. Allah menghendaki kepada siapa gagal dan sukses. Manusia hanya bisa berharap kepada Allah, semoga sukses selalu datang di masa mendatang. Harapan manusia tidak pernah putus karena Allah tidak pernah tidur, terus mendengar permohonan, terus mengurus makhluk,  dan berjanji mengabulkan semua harapan dengan catatan tetap bersabar.  Bagi orang-orang sabar Allah janjikan keberutungan besar tanpa batas.

Bagi orang-orang yang mengetahui dan sadar bahwa Allah tidak pernah tidur mengurus manusia, tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak ingat, taat, dan bersyukur pada Allah setiap saat. Begitu besar jasa Allah kepada manusia karena terus menerus mengurus manusia dan tidak pernah tidur. Untuk itu kemanapun manusia pergi, Allah selalu dekat mengurus segala kebutuhan semua manusia. “maka kemanakah kamu akan pergi?” (At Takwir, 81:26).  Allah selalu mengurus kita semua. Wallahu’alam.  

BERTAUHID PADA MANUSIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Perbedaan agama Islam dengan agama-agama lain adalah hanya di monotheis. Ilmu tauhid adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia agar tidak terjebak pada ketaatan, ketundukan, kepada selain Allah. Segala tindak tanduknya harus selalu mengatasnamakan Tuhan Yang Esa. Ketauhidan seseorang dinyatakan batal jika niat hati dan pikirannya bermotif tidak kepada Tuhan Yang Esa.

Jika seseorang bertindak atas dasar instruksi dukun maka ketauhidannya kepada dukun. Jika seseorang bertindak atas nama gurunya, maka ketauhidannya kepada guru. Jika seseorang bertindak atas nama teori yang ditemukan seseorang, maka ketauhidannya kepada orang si penemu teori. Berkiblat pada satu guru mursid dan menaatinya dalam segala hal, maka ketauhidannya kepada guru mursid. Menetapkan diri sebagai pengikut aliran menjadikan alirannya sebagai satu-satunya yang dijadikan patokan maka dia bertauhid pada aliran. Lalu memutuskan untuk tidak mengikuti pendapat guru, golongan, dan aliran manapun karena kemampuan yang dimilikinya, maka dia bertauhid pada dirinya.

Ketauhidan yang lurus hanya kepada Allah semata, dengan mengakui bahwa segala kehendak yang kita lakukan berada di atas kehendak  Allah swt. "bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki  kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (A Takwir, 81:28-29). Ketauhidan yang lurus apa bila seluruh tindakan selalu ingat berada di atas kehendak Allah.     

Dalam obrolan sehari-hari banyak sekali tindakan-tindakan yang tidak mengatasnamakan Allah. Seseorang untuk mempersiapkan pesta pernikahan menghabiskan miliaran rupiah, alasan melakukan tindakan tersebut karena status sosial, tradisi masyarakat, dan demi pandangan masyarakat. Maka tindakan semacam itu ketauhidannya kepada status sosial, tradisi, dan opini masyarakat. Ketika bekerja untuk mencari uang maka ketauhidannya kepada uang, dst. Penyebab kehancuran dan kebodohan manusia disebabkan oleh ketauhidan pada selain Allah. Ilmu tauhid bisa dipelajari dengan ilmu logika. Logika mampu memperivikasi ketauhidan seseorang sampai tingkat nano, hingga kita dapat meluruskan dan menjaga ketauhidan murni kepada Allah.

Al-Qur’an adalah petunjuk bagaimana berlogika (berpikir) agar manusia mampu menemukan ketauhidan murni kepada Allah sekalipun dalam kesibukan aktivitas sehari-hari. Keotentikan Al-Qur’an sebagai kitab suci dari Allah, dapat diuji bukan saja dari historis kenabian Nabi Muhammad SAW, tapi dari kebenaran-kebenaran informasi yang terkandung di dalamnya. Namun demikian substansi kebenaran kitab suci Al-Qur'an bukan dari pembuktian sejarah, atau saksi semata, tetapi kebenaran kandungan ayat-ayat kitab suci dengan pengujian sesuai kondisi zaman. Keotentikan Al-Qur’an dapat diuji bahwa orang-orang yang benar-benar membaca dan memahami Al-Qur’an kemurnian ketauhidannya dapat terjaga.

Kitab-kitab suci selain Al-Qur’an sudah banyak campur tangan manusia Kitab suci selain Al-Qur’an layaknya seperti karya akademik seorang ilmuwan. Jika kitab yang dianggap suci namun di dalamnya sudah ada campur tangan manusia, maka umat yang meyakini kitab suci tersebut sedang tidak bertauhid kepada Tuhan Yang Esa, melainkan kepada manusia-manusia penulis dan penafsir kitab suci tersebut. Fenomena ini dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At Taubah, 9:31)

Al-Qur’an kitab otentik berbahasa Arab, penuturnya masih ada dan sejak zaman kekhalifahan empat sahabat Nabi, ayat ayat A-Qur’an dikumpulkan dari sahabat-sahabat Nabi penghafal Al-Qur’an. Hingga saat ini ayat-ayat Al-Qur’an terus teruji kebenarannya. Abad informasi semakin mengungkap kebenaran kitab suci Al-Qur’an dengan publikasi kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an melalui pengujian sains.

Berkaitan dengan fenomena perpindahan agama atau keluar dari agama Islam (murtad), sejak zaman Nabi Muhammad SAW hal ini sudah terjadi. Bagi kami yang memahami ketauhidan kepada Allah, tidak ada sedikitpun kerugian bagi mereka-mereka yang memutuskan keluar dari agama Islam. Namun rasanya sedikit geli dan ingin tertawa, melihat orang-orang yang keluar dari agama Islam lalu berapi-api membela agama barunya dan menyerang ajaran Islam. Bagi kami, dia yang keluar dari agama Islam tidak sedang berurusan dengan umat Islam, dia sedang berurusan dengan Allah yang menciptakannya. Jika manusia benar-benar memahami Al-Qur’an, tidak sedikitpun orang-orang yang murtad dari agama Islam akan merugikan umat Islam, karena dia sedang berperang melawan Allah penciptanya bukan dengan umatnya.

Jadi dapat dipastikan umat beragama selain Islam kebanyakan dia sedang bertauhid kepada manusia penafsir kitab sucinya bukan kepada Tuhan Yang Esa. Kitab suci yang mereka baca bukan otentik dari utusan tetapi hasil kompilasi dari perkataan-perkataan yang diduga bahwa perkataan itu dari Tuhan. Mereka tidak sedang membaca firman Tuhan, mereka sedang menyampaikan karya pemikiran manusia, sebagaimana Allah mengabarkan.

Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putra Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (At Taubah, 9:30).

Mereka yang beriman kepada ucapan-ucapan orang terdahulu, tidak sedang beriman kepada Allah Tuhan Yang Esa, tapi beriman kepada manusia. Pendidikan kita cenderung menggiring manusia taat kepada manusia. Umat Islam yang beriman kepada Al-Qur’an dia beriman kepada Tuhan Yang Esa, karena Al-Qur’an kitab suci otentik lisannya Tuhan Yang Esa Allah swt. Wallahu ‘alam. 

Thursday, June 24, 2021

POLA PIKIR PRIMITIF

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Silaturahmi adalah sunatullah yang sampai kapanpun akan tetap berlaku dalam kehidupan manusia. Nabi Muhammad SAW menjelaskan manusia-manusia yang tidak mau bersilaturahmi akan menghadapi kesulitan hidup dengan tidak menemukan kesejahteraan di dunia maupun akhirat. Namun demikian ketika silaturahmi apa yang harus kita lakukan? Berbagi kebaikan adalah isi silaturahmi. Kualitas silaturahmi ditentukan dengan apa yang dilakukan berkomunikasi.

Zaman dulu gosip hanya terjadi antar keluarga dan tetangga. Zaman teknologi gosip berubah menjadi tingkat dunia. Pola pikir primitif semakin subur, gosip tingkat tetangga diubah menjadi gosip tingkat dunia untuk menghasilkan keuntungan material. Lelucon-lelucon murahan, prilaku menyimpang, dikemas oleh tim kreatif primitif agar menarik perhatian masyarakat hingga menghasilkan pundi pundi rupiah.

Pola pikir primitif adalah pola pikir materialistik. Orang-orang primitif melakukan transaksi dengan pola pikir barang ditukar menjadi barang. Barter yang dilakukan masyarakat terdahulu tidak termasuk primitif karena pola pikirnya adalah menegakkan keadilan. Namun orang yang berpola pikir benda harus selalu bertukar menjadi benda, itulah orang-orang primitif. Pola pikir primitif terpaku bahwa apa yang diakukannya harus berbalas dengan material dari orang per orang. Masyarakat primitif adalah mereka yang berpikir cenderung materialistik dan positivistik. Kata Nietzche dalam kehidupan masyarakat materialistik Tuhan dimatikan karena dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah kehidupan dunia. Inilah gambaran masyarakat primitif yang terjebak kebenaran-kebenaran materialistik. 

Siklus kehidupan masyarakat yang diprediksi oleh Auguste Comte, ternyata masyarakat menuju modern bukan dari masyarakat teologis bergerak menjadi masyarakat positivistik, tetapi dari masyarakat positivistik berubah menjadi masyarakat religius. Menurut Wiliam F. Ogburn ada dua dasar budaya yaitu material dan non material. Jika perubahan berjalan siklus maka sekarang sedang terjadi perubahan dari masyarakat material ke masyarakat non material. Arnold Toynbee berpendapat masyarakat akan mengalami perubahan dari keseimbangan, transisi, kemudian terwujud keseimbangan baru.

Pemikiran yang tidak bersumber dari Allah, berputar-putar tidak ada akhirnya. Semua pendapat dianggap benar dan semua pendapat ada salahnya. Seperti orang sakit jiwa, pulang pergi tiap hari tanpa ada tujuan yang ingin dicapai. Berpikir bulak-balik, terbawa arus terombang-ambing mengikuti kemana arah angin bertiup. Masyarakat primitif tidak punya paradigma berpikir ajeg, tidak punya nilai-nilai baku, dan tidak punya prinsip-prinsip tegas. Masyrakat primitif hidup dalam polemik dan sangat tergantung pada kondisi sosial dan alam.

Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW untuk membawa masyarakat pada peradaban, dari masyarakat bodoh ke masyarakat cerdas, dari masyarakat primitif ke masyarakat modern. Masyarakat modern adalah masyarakat yang tergantung pada non material. Gerak usaha dan kerja kerasnya semuanya berdasarkan pada yang non material yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Material sifat dasarnya adalah kaku dan terbatas, Tuhan yang non material sifatnya bebas dan tanpa batas. Sifat individualistis, tidak mau kalah, dan serakah adalah prilaku masyarakat primitif yang pola pikirnya material. Manusia-manusia modern bertransaksi dengan Tuhan non material, jiwanya hidup menjadi pekerja keras, tekun, tidak pernah putus asa, selalu optimis dan sabar menjalani hidup sesuai garis edarnya. Ruhnya kreatif dan penyejahtera.

Kegagalan umat Islam dalam mewujudkan kehidupan masyarakat ideal merupakan kegagalan umat Islam itu sendiri dalam memahami Al-Qur’an. Bukan substansi ajaran yang harus diubah, tetapi metode pengajarannya. Dulu para penyebar agama di Nusantara abad 7-13 tidak memaksa raja-raja masuk Islam, maka kuncinya ada di metode mengajar. Filsafat, sains, tradisi, budaya, ideologi, politik, ekonomi, mistik, semua bisa diperankan untuk mengajarkan substansi dari ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan kondisi zaman, dan masyarakat yang dihadapinya.

Zaman sekarang, jika agama masih diajarkan dengan pendekatan tekstual, kaku, berguru hanya pada satu guru, fanatik pada aliran, sementara informasi pemahaman agama seperti banjir bandang telah masuk ke ruang-ruang pribadi, maka akan terjadi benturan-benturan ketika mendapat perbedaan pemahaman. Untuk itu, sekolah-sekolah di dunia sudah mulai mengubah tujuan pembelajaran menjadi melatih kemampuan bernalar mulai dari analisis, interpretasi, integrasi, dan menyimpulkan informasi. Kemampuan ini diprediksi dapat membantu masyarakat menyikapi banjirnya informasi dan masyarakat tidak tenggelam terbawa arus. Pendekatan pemahaman agama tekstual harus sedikit ditingkatkan dengan kemampuan pemahaman rasional tanpa meninggalkan teks. Berpikir bebas tidak berarti meninggalkan teks, tetapi mengelaborasi kebenaran-kebenaran teks Al-Qur’an melalui bantuan berbagai ilmu dan sudut pandang. Dengan cara-cara ini semoga kita bisa keluar dengan damai dari pola-pola pikir primitif yang sudah cenderung material, sombong, dan lancang berani membunuh Tuhan. Walahu’alam.

AL-QUR’AN STANDAR BERPIKIR MODERN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Modern adalah teori yang dikembangkan para ilmuwan untuk membedakan manusia, bangsa, dan negara yang sudah berperadaban atau primitif. Ukuran modern dan  primitif didasari pada pola berpikir material. Tidak seluruh ukuran modern rasional-empirik yang cenderung material memiliki kesesuaian dengan sudut pandang pola pikir Al-Qur’an.  

Jika Al-Qur’an kita jadikan pedoman dalam paradigma berpikir, ukuran kemajuan sebuah bangsa dibedakan dengan konsep masyarakat kafir dan beriman. Masyarakat kafir mewakili ciri masyarakat primitif dan manusia beriman mewakili ciri masyarakat modern. Kafir dan modern dalam hal ini bukan person atau kelompok masyarakat melainkan sebuah pola pikir. Masyarakat kafir yaitu masyarakat yang menolak kebenaran-kebenaran pengetahuan dari Tuhan sekalipun sudah ada berbagai bukti kebenaran.  Masyarakat modern adalah masyarakat yang percaya pada pengetahuan yang dikabarkan Tuhan kepada utusan-utusan-Nya. Masyarakat modern menjadikan pengetahuan dari Tuhan sebagai alat ukur, pertimbangan, dalam memahami dan memaknai seluruh fenomena kehidupan.


Tun Mahatir mengatakan jika umat Islam menjadikan Al-Qur’an benar-benar sebagai pedoman dalam seluruh aktivitas kehidupan, maka umat Islam akan menjadi masyarkat berperadaban sebagai ciri masyarakat modern yang diidam-idamkan. Contohnya dibuktikan dengan perjalanan sejarah Nabi Muhammad SAW mengubah masyarakat pola pikir kafir (jahiliyah) di Mekah menjadi masyarakat berperadaban seperti memuliakan perempuan, menegakkan hak dan perhargaan terhadap kemanusiaan, hidup berdampingan dengan alam, menghilangkan permusuhan, menjalankan kejujuran, menghilangkan diskriminasi berdasarkan ras dan agama, menciptakan keteraturan dan kedisiplinan dalam bernegara, dan mengutamakan perdamaian. Ciri-ciri hidup masyarakat berperadaban ini semua terkandung dalam ajaran-ajaran dari pengetahuan yang bersumber pada Al-Qur’an.

Ada pun fenomema konflik, kemiskinan, ketidakteraturan, ekspolitasi alam, diskriminasi terhadap kaum perempuan, permusuhan, pembunuhan yang faktanya hadir dalam masyarakat yang sudah mengaku menganut agama Islam, hal tersebut tidak mencerminkan ajaran-ajaran agama Islam sebagaimana terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an.  Kejahiliyahan yang terjadi pada masyarakat Islam ataupun seluruh umat manusia di muka bumi ini, semua bersumber pada ketidaktahuan, ketidaktaatan, keterbatasan manusia pada ajaran-ajaran yang sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Nabi Muhammad SAW tidak diutus untuk masyarakat Arab, juga tidak diutus hanya untuk sekelompok manusia, tetapi diutus untuk membawa pengetahuan dari Tuhan untuk seluruh umat manusia yang diciptakan pada dasarnya sebagai pembawa amanah dari Tuhan. Sebagaimana Allah mengabarkan bahwa semua manusia diciptakan dari ruh Allah yang hidup dan kreatif.

Nabi Muhammad SAW adalah anugerah bagi bumi, langit, gunung, laut, hewan, tumbuhan, dan manusia. Sebagai pemikul amanah, Allah menurunkan Nabi Muhammad SAW yang memberi pedoman kepada manusia untuk menjadi manusia-manusia modern yang bisa menjaga keseimbangan dan keteraturan gerak sinergi antara alam, hewan, tumbuhan dan manusia. Nabi Muhammad SAW dengan pedoman hidup yang dibawanya yaitu Al-Qur’an menjadi model manusia modern yang diciptakan oleh Allah agar menjadi ukuran sebuah individu atau masyarakat berprilaku modern.  

Awal abad-ke 21 ini adalah  momentum 100 atau 1000 tahunan dimana manusia harus kembali melakukan refleksi diri atas pola pikir dan prilaku yang telah berlaku selama satu abad atau milinium. Bagi kaum beragama maupun tidak beragama, sebagaimana pendapat Thomas Khun awal abad ke 21 ini adalah masa refleksi diri untuk kembali memverifikasi dan meneliti ulang cara pandang, nilai-nilai, prinsip-prinsip yang selama satu abad atau millenium diyakini sebagai langkah-langkah yang harus diperjuangkan. Sikap-sikap arogan meremehkan Tuhan sebagai pemilik pengetahuan, dan menganggap kitab suci sebagai kitab tradisional dan isinya tertinggal dari pengetahuan yang dihasilkan penalaran murni pengetahuan alam, harus kembali direnungkan dan diredefinisi.

Seluruh manusia perlu kembali ke gua-gua perenungan sebagaimana Nabi Muhammad SAW bertahun-tahun melakukan perenungan di Gua Hira, seperi Nabi Musa merenung di gunung, seperti Nabi Ibrahim merenung di padang pasir, seperti Nabi Idris merenung di laut. Memikirkan kembali, memverifikasi, apakah pemikiran-pemikiran rasional empiris yang hanya mengandalkan pengetahuan alam telah menjamin keseimbangan dan kesejahteraan alam dan seluruh penghuninya. Pencemaran laut oleh plastik, pencemaran sungai oleh limbah pabrik dan domestik, eksploitasi air tanah, penjarahan hutan, pencemaran udara oleh gas buang mesin, dan pandemi penyakit menular yang menandai abad ini, direncanakan manusia atau tidak,  ini adalah fakta bahwa pola pikir yang dikembangkan 100 hingga 1000 tahun berujung dengan krisis kemanusiaan dan kerusakan lingkungan alam.

Saatnya kita kembali pada Tuhan yang maha kuasa, yang maha mengatur, dan menggunakan pengetahuan dari Tuhan melalui kitab suci Al-Qur’an untuk membangun dan mengembangkan cara pandang, nilai-nilai, dan prinsip-prinsip hidup modern dari yang maha mengetahui. Seluas ilmu yang dimiliki manusia, sedalam ilmu yang dikuasai, manusia tetap bodoh karena masih banyak yang tidak diketahuinya. Pengakuan manusia bahwa Allah maha tahu dan manusia tidak mengetahui, akan melahirkan manusia-manusia rendah hati dan bijaksana dalam mengembangkan teknologi dan bersahabat dengan sesama manusia dan semesta alam. “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Al Hadiid, 57:3). Wallahu’alam.  

Sunday, June 20, 2021

PEMIKIRAN TUN MAHATIR

Oleh: Muhammad Plato

Menyimak wawancara Tun Mahatir oleh Nazwa Shihab dalam tayangan youtube dapat sedikit informasi tentang pandangan agama dari seorang Perdana Menteri Senior kelas dunia. Pandangan agama Tun Mahatir sangat modern karena mengacu kepada sumber otentik ajaran agama yaitu Al-Qur’an. Tun Mahatir dapat dikatakan sebagai sosok politisi dan negarawan muslim yang benar-benar telah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan politik.

Tun Mahatir berpandangan bahwa saat ini para guru agama tidak benar-benar mengajarkan ajaran agama sesuai sunnah. Para guru agama hanya mengajarkan tentang shalat, zakat, puasa, ibadah haji, tanpa mengajarkan bagaimana agama diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu para guru agama kebanyakan mengajarkana tentang pemikiran-pemikiran para ulama sehingga dalam beragama menimbulkan perpecahan karena mengikuti pedoman pemikiran-pemikiran para ulama. Para guru agama jarang mengajarkan bagaimana tuntutan beragama sesuai dengan ajaran yang ada dalam Al-Qur’an. Hadis-hadis yang digunakan sesungguhnya tidak dapat menjamin sebagai ajaran agama yang benar karena dari 600-700 ribu hadis setelah melalui penelitian hanya 7000 hadis saja yang shahih.

Tun Mahatir mengatakan jika umat Islam benar-benar menerapkan ajaran agama dari Al-Qur’an, Islam itu akan mendorong sebuah negara menjadi negara berperadaban. Dibuktikan oleh Nabi Muhammad SAW, masyarakat Arab yang pada zaman itu hidup jahiliyah, dengan tuntutan Al-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad SAW, mampu menjadi sebuah masyarakat dengan peradaban tinggi menyebar sampai ke Afrika, Eropa, dan Asia.

Pandangan Tun Mahatir mirip dengan pendapat penulis yang menilai jika Al-Qur’an benar-benar menjadi pedoman hidup, tidak akan ada pembunuhan dan perselisihan antar umat beragama dan bangsa. Jika Al-Qur’an menjadi pedoman tidak akan ada sekelompok manusia mendirikan negara Islam dengan membunuh orang-orang Islam atau non muslim. Pembunuhan dilarang jika kita berpedoman kepada Al-Qur’an. Jika beragama berdasarkan petunjuk pada Al-Qur’an tidak ada permusuhan berkepanjangan. Perselisihan hanya terjadi karena ada hal yang dirasakan tidak adil, setelah musyawarah ditempuh dan ditemukan keadilannya maka permusuhan selesai karena permasalahannya sudah terselesaikan.

Bagi penulis pemikiran dan pendapat orang bisa berbeda-beda. Jika beragama mengandalkan pedoman pada pemikiran-pemikiran seseorang maka sudah pasti akan terjadi perpecahan karena kebenaran telah menjadi milik seseorang bukan milik Allah. Jika kebenaran sudah ditempatkan pada pemikiran orang per orang, maka sudah tentu setiap orang menginginkan kebenaran menjadi miliknya. Dengan demikian akan terjadi perebutan siapa yang benar dan akan terjadi saling menjatuhkan. Apalagi perebutan kebenaran sudah melibatkan organisasi, kelompok, aliran,  maka perebutan siapa yang paling benar akan melibatkan banyak orang dan perselisihanpun melibatkan banyak orang, fatalnya akan memakan banyak korban.

Berpikir mencari kebenaran tujuannya bukan untuk mencari siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling menghargai nyawa manusia, saling bekerjasama, mengutamakan perdamaian, dan rasa persaudaraan. Kebenaran sudah mutlak milik Allah, yang harus dipikirkan adalah bagaimana manusia bisa mentaati ajaran-ajaran berkehidupan dari Allah dengan hasil damai, sejahtera, dan mensejahterakan.

Berpedoman pada Al-Qur’an artinya menyerahkan diri bahwa hasil pemikiran siapapun orangnya  tidak ada yang dijamin kebenarannya, sekalipun Nabi Muhammad SAW, kecuali urusan wahyu yang diterimanya. Semua pemikiran manusia berpotensi salah karena manusia dibatasi oleh pengetahuan yang diinderanya. Penglihatan dibatasai oleh jarak yang bisa dilihat, dan cahaya yang tersedia. Pikiran dibatasi oleh pengetahuan yang dimiliki dan kemampuan  penalarannya, serta pengalaman yang pernah dialaminya. Berpedoman pada Al-Qur’an artinya tidak membajak kebenaran seolah-olah ketika berpikir merujuk pada ayat Al-Qur’an dirinya merasa paling benar. Berpedoman pada Al-Qur’an hanya berusaha menemukan kebenaran dengan keraguan-raguan hasil pemikirannya tidak benar karena Allah pemilik pengetahuan Al-Qur’an.

Tun Mahatir adalah fenomena gambaran model tokoh politik senior dunia yang telah berupaya hidup dengan panduan Al-Qur’an. Usianya diberkahi Allah dan karakternya dapat menjadi panutan para politisi. Beliau tidak menyimpan permusuhan atas dasar kekuasaan tetapi karena ketidakdilan yang harus ditegakkan. Semoga damai sejahtera untuk Tun Mahatir dan kita semua umat manusia. Wallahu’alam.  

Tuesday, June 15, 2021

KESADARAN MANUSIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ketika kita lupa, lalu kembali ingat, siapakah yang memberi tahu? Jawaban tergantung pada pengetahuan masing-masing. Untuk menjawabnya butuh pengetahuan, kemudian pengetahuan akan diolah dengan hubungan sebab akibat hingga sampai pada suatu pemahaman.

Jika pertanyaan di atas kita hubungkan dengan informasi dari Al-Qur’an, “Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al ‘Alaq, 96:5). Apa kira-kira jawaban Anda? Mungkin jawaban Anda sama dengan saya, yang memberi tahu ketika kita lupa adalah Allah, karena Allah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Lupa adalah suatu kondisi dimana kita tidak mengetahui, maka ketika ingat, berdasarkan informasi ayat di atas Allah telah memberitahu.

Dari dialog di atas, kita sebenarnya hanya mendiskusikan suatu kejadian yang secara fisik tidak dapat kita saksikan. Lupa bentuk fisiknya tidak ada, dan Allah gaib, wujud Allah tidak bisa kita saksikan dengan kasat mata. Oleh karena itu, Allah ada dalam kesadaran ingatan manusia. Orang-orang beriman adalah orang yang ingat (sadar) bahwa dirinya diatur dan dikendalikan Allah. Tanpa kesadaran Allah akan tetap ada, tetapi manusia bisa ingat dan merasakan kehadiran Allah setiap saat dengan kesadaran. Jadi ukuran kesadaran manusia adalah ingat dan merasakan Allah mengatur segala kehidupan.

Ingat Allah adalah ukuran kesadaran manusia paling mendasar. Kesadaran manusia akan meningkat jika pengetahuan adanya ketentuan-ketentuan alam dan tujuan-tujuan hidup yang Allah tetapkan disaksikan dan dirasakan dalam kehidupan.  Kesadaran akan meningkat lagi dengan bentuk ketaatan kepada segala ketentuan hidup yang telah Allah tetapkan.

Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (Al A’raaf, 7:`43).

Kesadaran manusia bukan ketika dia mengenal siapa dirinya, tetapi ketika dia mengenal siapa Tuhannya. Kesadaran manusia diukur dari seberapa dekat manusia mengenal Tuhannya dan segala ketentuannya. Tuhan ada dalam kesadaran manusia yang selalu mengingat, menaati, dan merasa dekat dengan-Nya. Untuk itu, tujuan pendidikan mengajarkan kepada anak-anak agar mereka menjadi manusia sadar bahwa dirinya makhuk ciptaan Tuhan dan hidupnya telah ditetapkan dalam segala ketentuan-Nya.

Kesadaran manusia kepada Tuhan memiiki beberapa tingkatan. Beberapa ukuran kesadaran manusia ditentukan oleh seberapa banyak ingat Tuhan, seberapa taat kepada Tuhan, dan seberapa dekat dengan Tuhan. Maka Allah mengajarkan ayat-ayat bagaimana agar manusia sadar kepada Tuhannya. (Dia-lah) Tuhan masyrik dan magrib, tiada Tuhan melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung. (Muzzammil, 73:9).  

Kesadran selanjutnya yang harus ditemukan dan dirasakan manusia adalah, “Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah”. (Al Ahzab, 33:62).

Tingkat kesadaran manusia tertinggi adalah ketika seluruh hidupnya telah menjadi satu dengan Allah. “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Thaahaa, 20:14). Total surrender adalah kesadaran para Nabi terhadap Tuhannya. Seluruh laku hidupnya sudah merasa sebagai kehendak Allah. Inilah manusia-manusia dengan kelas kesadaran paling tinggi yang menjadi teladan bagi umat manusia. Wallahu’alam.