Thursday, June 24, 2021

AL-QUR’AN STANDAR BERPIKIR MODERN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Modern adalah teori yang dikembangkan para ilmuwan untuk membedakan manusia, bangsa, dan negara yang sudah berperadaban atau primitif. Ukuran modern dan  primitif didasari pada pola berpikir material. Tidak seluruh ukuran modern rasional-empirik yang cenderung material memiliki kesesuaian dengan sudut pandang pola pikir Al-Qur’an.  

Jika Al-Qur’an kita jadikan pedoman dalam paradigma berpikir, ukuran kemajuan sebuah bangsa dibedakan dengan konsep masyarakat kafir dan beriman. Masyarakat kafir mewakili ciri masyarakat primitif dan manusia beriman mewakili ciri masyarakat modern. Kafir dan modern dalam hal ini bukan person atau kelompok masyarakat melainkan sebuah pola pikir. Masyarakat kafir yaitu masyarakat yang menolak kebenaran-kebenaran pengetahuan dari Tuhan sekalipun sudah ada berbagai bukti kebenaran.  Masyarakat modern adalah masyarakat yang percaya pada pengetahuan yang dikabarkan Tuhan kepada utusan-utusan-Nya. Masyarakat modern menjadikan pengetahuan dari Tuhan sebagai alat ukur, pertimbangan, dalam memahami dan memaknai seluruh fenomena kehidupan.


Tun Mahatir mengatakan jika umat Islam menjadikan Al-Qur’an benar-benar sebagai pedoman dalam seluruh aktivitas kehidupan, maka umat Islam akan menjadi masyarkat berperadaban sebagai ciri masyarakat modern yang diidam-idamkan. Contohnya dibuktikan dengan perjalanan sejarah Nabi Muhammad SAW mengubah masyarakat pola pikir kafir (jahiliyah) di Mekah menjadi masyarakat berperadaban seperti memuliakan perempuan, menegakkan hak dan perhargaan terhadap kemanusiaan, hidup berdampingan dengan alam, menghilangkan permusuhan, menjalankan kejujuran, menghilangkan diskriminasi berdasarkan ras dan agama, menciptakan keteraturan dan kedisiplinan dalam bernegara, dan mengutamakan perdamaian. Ciri-ciri hidup masyarakat berperadaban ini semua terkandung dalam ajaran-ajaran dari pengetahuan yang bersumber pada Al-Qur’an.

Ada pun fenomema konflik, kemiskinan, ketidakteraturan, ekspolitasi alam, diskriminasi terhadap kaum perempuan, permusuhan, pembunuhan yang faktanya hadir dalam masyarakat yang sudah mengaku menganut agama Islam, hal tersebut tidak mencerminkan ajaran-ajaran agama Islam sebagaimana terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an.  Kejahiliyahan yang terjadi pada masyarakat Islam ataupun seluruh umat manusia di muka bumi ini, semua bersumber pada ketidaktahuan, ketidaktaatan, keterbatasan manusia pada ajaran-ajaran yang sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Nabi Muhammad SAW tidak diutus untuk masyarakat Arab, juga tidak diutus hanya untuk sekelompok manusia, tetapi diutus untuk membawa pengetahuan dari Tuhan untuk seluruh umat manusia yang diciptakan pada dasarnya sebagai pembawa amanah dari Tuhan. Sebagaimana Allah mengabarkan bahwa semua manusia diciptakan dari ruh Allah yang hidup dan kreatif.

Nabi Muhammad SAW adalah anugerah bagi bumi, langit, gunung, laut, hewan, tumbuhan, dan manusia. Sebagai pemikul amanah, Allah menurunkan Nabi Muhammad SAW yang memberi pedoman kepada manusia untuk menjadi manusia-manusia modern yang bisa menjaga keseimbangan dan keteraturan gerak sinergi antara alam, hewan, tumbuhan dan manusia. Nabi Muhammad SAW dengan pedoman hidup yang dibawanya yaitu Al-Qur’an menjadi model manusia modern yang diciptakan oleh Allah agar menjadi ukuran sebuah individu atau masyarakat berprilaku modern.  

Awal abad-ke 21 ini adalah  momentum 100 atau 1000 tahunan dimana manusia harus kembali melakukan refleksi diri atas pola pikir dan prilaku yang telah berlaku selama satu abad atau milinium. Bagi kaum beragama maupun tidak beragama, sebagaimana pendapat Thomas Khun awal abad ke 21 ini adalah masa refleksi diri untuk kembali memverifikasi dan meneliti ulang cara pandang, nilai-nilai, prinsip-prinsip yang selama satu abad atau millenium diyakini sebagai langkah-langkah yang harus diperjuangkan. Sikap-sikap arogan meremehkan Tuhan sebagai pemilik pengetahuan, dan menganggap kitab suci sebagai kitab tradisional dan isinya tertinggal dari pengetahuan yang dihasilkan penalaran murni pengetahuan alam, harus kembali direnungkan dan diredefinisi.

Seluruh manusia perlu kembali ke gua-gua perenungan sebagaimana Nabi Muhammad SAW bertahun-tahun melakukan perenungan di Gua Hira, seperi Nabi Musa merenung di gunung, seperti Nabi Ibrahim merenung di padang pasir, seperti Nabi Idris merenung di laut. Memikirkan kembali, memverifikasi, apakah pemikiran-pemikiran rasional empiris yang hanya mengandalkan pengetahuan alam telah menjamin keseimbangan dan kesejahteraan alam dan seluruh penghuninya. Pencemaran laut oleh plastik, pencemaran sungai oleh limbah pabrik dan domestik, eksploitasi air tanah, penjarahan hutan, pencemaran udara oleh gas buang mesin, dan pandemi penyakit menular yang menandai abad ini, direncanakan manusia atau tidak,  ini adalah fakta bahwa pola pikir yang dikembangkan 100 hingga 1000 tahun berujung dengan krisis kemanusiaan dan kerusakan lingkungan alam.

Saatnya kita kembali pada Tuhan yang maha kuasa, yang maha mengatur, dan menggunakan pengetahuan dari Tuhan melalui kitab suci Al-Qur’an untuk membangun dan mengembangkan cara pandang, nilai-nilai, dan prinsip-prinsip hidup modern dari yang maha mengetahui. Seluas ilmu yang dimiliki manusia, sedalam ilmu yang dikuasai, manusia tetap bodoh karena masih banyak yang tidak diketahuinya. Pengakuan manusia bahwa Allah maha tahu dan manusia tidak mengetahui, akan melahirkan manusia-manusia rendah hati dan bijaksana dalam mengembangkan teknologi dan bersahabat dengan sesama manusia dan semesta alam. “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Al Hadiid, 57:3). Wallahu’alam.  

2 comments: