Saturday, March 23, 2019

FUNGSI AKHIRAT


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Allah memberi petunjuk berpikir yang benar dalam Al-Qur’an. “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al Ankabuut, 29:64).

Mengapa kehidupan dunia hanya senda gurau dan main-main? Sebab ada kematian yang membatasi hidup manusia. Tertawalah terbahak-bahak, melihat yang sibuk mengumpulkan harta, berebut kedudukan, saling menghujat, bermusuhan tanpa ujung dan mencela untuk mendapat kesenangan di kehidupan dunia.

Hidup ini main-main jika tanpa tujuan hidup di akhirat. Setiap manusia yang punya tujuan akhirat, tidak akan main-main tentang urusan dunia. Kehidupan dunia menjadi main-main jika hidup dengan curang dan tipu daya. Meraih kesenangan dunia dengan mengabaikan perdamaian, memecah belah, menyebar permusuhan adalah main-main.

Akhirat adalah penjaga moral manusia. Fungsi akhirat menghentikan nafsu manusia yang destruktif untuk urusan dunia. Akhirat berfungsi mengendalikan nafsu manusia yang serakah. Kesadaran manusia dibatasi oleh adanya pengadilan di akhirat.

Belum ada ilmu pengetahuan yang bisa mendeskripsikan kehidupan akhirat. Ranah akhirat tidak akan terjangkau oleh penglihatan manusia. Pengetahuan akhirat bisa terlihat oleh pikiran dan imajinasi manusia. Pikiran dan imajinasi manusia tidak akan menjangkau adanya kehidupan akhirat tanpa bantuan pengetahuan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Di sinilah fungsi kitab suci Al-Qur’an sebagai petunjuk berpikir untuk manusia, isinya berupa segala pengetahuan tentang adanya kehidupan dunia dan akhirat.   

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya (berpikir)? (Al An’aam, 6:32).

Memahami dunia butuh panduan pengetahuan dari Sang Pencipta. Untuk itulah kitab suci adalah petunjuk bagi orang-orang yang mau berpikir. Meneliti dan memahami kitab suci, butuh ilmu dan teknologi. Ilmu dan teknologi adalah sarana untuk mengenal dan meyakinkan adanya kebenaran yang dikabarkan dalam kitab suci tentang kehidupan dunia dan akhirat.  

Allah berfirman mendeskripsikan apa yang terjadi setelah kematian dalam kitab suci Al-Qur’an. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.   (Az Zalzalah, 99:7-8).

Cukuplah informasi ini menjadi penjaga moral bagi setiap manusia yang berpikir sampai akhirat. Seyogyanya setiap manusia mengukur kesejahteraan dunia dengan perhitungan akhirat. Setiap manusia pasti melakukan sesuatu untuk mempertahankan hidupnya di dunia. Namun, setiap kebaikan bukan diukur dari pekerjaan yang dilakukannya di dunia semata, di akhirat kebaikan diukur dari niat baiknya. Niat ada dalam tataran perasaan dan pikiran manusia. Hadis mengabarkan, “kelak manusia akan dibangkitkan dengan niat-niatnya”. Maka fungsi akhirat adalah mendorong setiap manusia untuk bertindak dan membangun harapan tanpa batas sampai kehidupan setelah mati. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

PESAN DARI NEW ZEALAND


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kami tersenyum, melihat manusia melalui live streaming menembaki kaum muslimin di New Zealand dengan darah dingin, tanpa alasan benar. Bagi manusia yang terperdaya pola pikir material, dan pengetahuannya sebatas materi,  mati adalah mengakhiri kehidupan dan sebuah kerugian besar. Bagi mereka yang pengetahuannya dibatasi materi, kematian adalah hal paling menakutkan karena kehidupan dunia, satu-satunya kehidupan yang harus dipertahankan.

Kita memahami pembunuhan masal yang dilakukan manusia di New Zealand adalah teror bagi kaum muslimin dunia. Pembunuh sengaja menyebarkan ketakutan bahwa umat Islam sedang terancam hidupnya di dunia. Namun kami tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan manusia yang meneror umat islam. Kamu bukan meneror umat Islam, tapi meneror Tuhan Yang Maha Esa. Kamu sendiri yang akan menderita kekalahan.

Kami tidak akan menjelaskan Islam kepada mereka yang sudah ditakdirkan bodoh oleh Tuhan. Namun kami harus menjelaskan pola pikir kami dalam menyikapi kematian. Umat Islam tidak bisa ditakuti-takuti dengan kematian. Pola pikir umat Islam berbeda dengan pola pikir manusia materialis, agnostik, atau atheis.

Seorang muslim tidak akan merasa rugi, bersedih hati, takut, fobia, kehilangan nyawa. Bagi seorang muslim kehidupan sebenarnya ada setelah mati. Bagi muslim kematian adalah pintu yang harus dimasuki untuk menuju kehidupan abadi. Bagi kami mati dalam kondisi apapun, dengan cara apapun adalah takdir Tuhan yang tidak bisa dihindari. Dan bagi kami, jika dalam kondisi sangat dibutuhkan, mati di jalan Allah adalah sebuah cita-cita yang kami impikan. Itulah pola pikir kami sebagai muslim.

Pola pikir kami umat Islam dipandu oleh Al-Qur’an. Salah satu pola pikir umat Islam yang tidak takut mati, didasari oleh pola pikir ayat berikut, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al Ankabuut, 29:64).

Pola pikir kami tidak berhenti di dunia, tetapi tembus sampai masa depan yang kekal yaitu akhirat. Dunia dan akhirat adalah satu kesatuan sistem hidup. Kehidupan dunia dan akhirat dibatasi oleh mati. Bagi kami akhirat bukan nun jauh di sana, tetapi esok lusa jika kami mati.

Bagi kaum muslimin, sekalipun kami hidup di dunia, tetapi kehidupan sesungguhnya ada di akhirat. Dunia bagi kami fatamorgana dan akhirat adalah realita.  Semua muslim merindukan kembali kepada kehidupan yang sebenarnya di akhirat. Mati adalah pintu masuk kepada kehidupan abadi bersama Tuhan Yang Maha Esa.

Di dunia, Kami tidak mencari mati dan tidak juga menghindari kematian. Kematian bukan kami yang menentukan tetapi takdir Tuhan. Apapun yang kaum muslimin lakukan adalah usaha untuk menuju kehidupan akhirat. Kampung akhirat di isi oleh orang-orang yang berbuat kebajikan yang mensejahterakan semseta alam. Berbuat kebajikan adalah berusaha dan berkerja atas nama Tuhan untuk kebaikan manusia dan segala isinya.  

Apapun yang terjadi pada kaum muslimin di muka bumi, tidak ada kerugian sedikit pun bagi kami. Kerugian terbesar bagi kami adalah ketika mati dalam kekafiran (tertutup) dari petunjuk Tuhan Yang Maha Esa, Yang Tidak Beranak dan Tidak Beribu Bapak. Kewaspadaan kami bukan kepada para pengintai yang akan membunuh kami, tetapi kepada jiwa-jiwa kami yang kadang tidak terkendali keluar dari apa yang diperintahkan Tuhan dan merugikan orang lain. Kami khawatir jika kami mati sementara jiwa kami sedang cenderung pada keburukan. Kami semua ingin mati, di saat jiwa-jiwa kami sedang diberi ketenangan dan dijanjikan Tuhan menempati jannnah. Kematian kami di masjid sebagai orang teraniaya adalah kemenangan bagi kami, semoga Allah mentakdirkan kami mati dalam kebajikan dan tercatat sebagai syuhada.

Demikian kami sampaikan pesan ini kepada dunia, dari saudara kami di New Zealand. Kami semua menantikan kematian dengan akhir baik. Perlu kalian ketahui, saudara-saudara kami yang sudah tenang di akhirat, ingin kembali hidup hanya karena ingin kembali mati sebagai syuhada. Itulah kami, tidak ada yang kami takuti kecuali Allah swt. Tuhan Yang Maha Esa. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer @logika Tuhan).



Thursday, March 7, 2019

DOKTRIN UNTUK TENTARA

OLEH: MUHAMMAD PLATO
Dengan search melalui keyword “tentara ngaji bareng”, di youtube anda bisa lihat dan dengarkan, ada sekelompok tentara berbaris rapi dan serempak, seirama, membaca dengan hafal ayat Al-Qur’an dan membacanya bersama-sama dalam sebuah upacara. Ayat Al-Qur’an yang mereka baca adalah surat Fushshilat (41) ayat 30-35. Mari kita cermati apa makna dari surat dan ayat tersebut.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (41:30)

TENTARA DI DOKTRIN, sebagai orang yang sudah berkomitmen tinggi bahwa Tuhan adalah Allah, dalam melaksanakan tugas mereka harus jadi pemberani dan tidak perlu bersedih karena urusan duniawi, karena Allah telah menjanjikan mereka balasan terbaik yaitu surga.

“Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. “Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (41:31-32)

Tentara adalah mereka yang menginginkan mati dalam sabar dan berserah diri kepada Tuhan.
TENTARA DI DOKTRIN, dalam melaksanakan tugas mereka telah dijamin dilindungi oleh Allah dalam kehidupan dunia dan akhirat, dan tantara adalah pelindung rakyat.  Selama menjadi pelindung rakyat, apa pun yang mereka inginkan Allah akan mengabulkannya sesuai dengan permintaan. Dan Itulah hidangan terbaik dari Allah swt.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (41:33)

TENTARA DI DOKTRIN, dalam melaksanakan tugas hendaklah mereka awali dengan niat karena Allah, dan jadikanlah pekerjaan mereka sebagai perbuatan amal shaleh, pekerjaan terbaik di hadapan Allah. Dan jadilah orang-orang yang ikhlas. Orang-orang yang menerima dan berserah diri terhadap segala ketentuan Allah.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (41:34).

TENTARA DI DOKTRIN, dalam melaksanakan tugas harus bisa membedakan perbuatan baik dan jahat. Dalam kondisi apapun apa yang dilakukan harus diniatkan atas dasar kebaikan dihadapan Allah. Tidak niat penganiayaan, pemerkosaan, balas dendam, dan pemusnahan masal umat manusia. Sekalipun musuh berniat jahat, dan harus berperang melawan musuh, niatnya harus tetap baik, sampai akhirnya mereka mengerti bahwa kita orang baik dan bisa menjadi teman setia. Sesungguhnya tugas tentara bukan untuk berperang tetapi menyebarkan kebaikan dan mencari persaudaraan.

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (41:35)

TENTARA DI DOKTRIN, dalam melaksanakan misi kebaikan, dibutuhkan kesabaran tinggi. Sekalipun dihujat, difitnah, diancam, disiksa, dalam kondisi sesulit apapun sebagai orang yang memiliki sifat baik harus tetap bersabar. Untuk menjaga tetap bersabar dan istiqomah menjadi orang yang bersifat baik,  ingat-ingatlah janji Allah, keberuntungan, kemenangan yang besar bagi orang-orang yang sabar di dunia maupun akhirat. Mati di jalan Allah dalam kesabaran adalah keberuntungan besar dari pada hidup di dunia menjadi pecundang di hadapan Allah.

Siapa tentara itu? Tantara itu adalah kamu yang sama-sama menyebut, “Tuhan kami adalah Allah”. Tentara adalah para pemberani dan tidak bersedih karena urusan duniawi. Tentara adalah mereka yang memiliki sifat-sifat baik dengan berserah diri kepada Allah. Tentara adalah mereka yang hidup dalam kesabaran, dan selalu membalas kejahatan dengan kebaikan. Tentara adalah mereka yang selalu condong kepada hidup damai dan menjaga persaudaraan. Tentara adalah mereka yang menginginkan mati dalam sabar dan berserah diri kepada Tuhan. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan) 

Sunday, March 3, 2019

ORANG SUKSES ADALAH ORANG GAGAL

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Benarkah setelah kesulitan ada kemudahan? Apakah kalimat ini hanya sebatas pribahasa atau ketentuan? Membuktikan adalah cara manusia untuk mendapatkan kebenaran.  

Robert J. Stenberg penulis buku Seccessfull Intelegence, menyatakan, “saya adalah seorang professor di Yale. Saya telah memenangkan banyak penghargaan, mempublikasikan lebih dari enam ratus artikel dan buku, dan memperoleh dana hibah sebesar 10 juta dollar untuk penelitian. Saya termasuk anggota akademi seni dan sains Amerika, dan tercantum dalam daftar Who’s Who in Amerika. Namun siapa sangka bahwa keberuntungan terbesar saya dalam hidup justru awalnya merupakan sebuah kegagalan. Hasil tes IQ saat saya kecil sungguh mengerikan. Mengapa saya begitu beruntung? Karena saya menayadari sewaktu SD bahwa jika saya ingin sukses, maka itu bukan ditentukan oleh IQ saya. Nilai rendah pada tes kecerdasan tidak menghalangi tercapainya kesuksesan, maka nilai tinggi juga tidak menjamin tercapainya keuksesan. (Stanley, 2017 hlm. 109).

“Dua kali Jack Ma ikut seleksi masuk perguruan tinggi dan gagal, karena hasil tes matematikannya sangat rendah. Kemudian ia mencoba mengirimkan 11 lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan dan semuanya ditolak. Kemudian ia melamar ke menjadi karyawan rumah makan fast food terkenal dari Amerika, dari 24 orang hanya dia satu orang yang ditolak. Untuk ketiga kalinya Jack Ma mendaftar masuk perguruan tinggi, dan kini diterima. Hanya perguruan tinggi tersebut bukan perguruan tinggi prestisius. Kampus ini berkualitas kelas tiga atau empat di kota yang dia tempati. Jack sering mengatakan bahwa mengalami kegagalan dan kembali mencoba adalah keberanian." (Clark, 2017, hlm. 51-52)

Tn. Patrick sudah meraih gelar Ph.D dari sebuah universitas ternama. Waktu di sekolah dasar gurunya mengelompokkan kelas menjadi tiga, kelompok pintar, rata-rata, dan bodoh. Tn. Patrick berada di barisan kelompok bodoh. Ketika Beliau berhasil menjadi multimiliarder, beliau mengaku masih belum bisa mengeja. Tn. Patrick adalah orang pintar dari barisan anak bodoh. (Clark, 2017 hlm. 111-112).

Lim (2003, hlm. 87) seorang pengusaha sukses dari Malaysia mengatakan, “semua hasil karya teragung  di dunia telah dihasilkan oleh keberanian, dan semua kemenangan terbesar di dunia telah lahir dari kegagalan. Takut gagal sebenarnya berasal dari bagaimana masyarakat bereaksi terhadap orang yang gagal. Kita merasa takut gagal karena persepsi negatif orang lain terhadap orang gagal.” Lim terlahir di keluarga besar dengan 14 orang saudara. Lahir di gubuk dengan makanan seadanya. Kehidupan yang sangat miskin menjadikan hidupnya sangat terbatas dalam hal fasilitas belajar. Sewaktu SMA pernah tidak naik kelas karena nilai ujiannya tidak memadai.

Abraham Lincoln adalah presiden Amerika Serikat yang sukses dalam sejarah Amerika. Namun sebelum dilantik menjadi presdien Amerika tahun 1860, beliau telah mengalami 11 kali kegagalan dalam perjalanan karir bisnis dan politiknya. Su Yat Sen berhasil menjadi Bapak Modern China setelah usahanya mengalami kegagalan 10 kali. (Lim, 2003. hlm. 65, 94).

Orang-orang gagal adalah orang-orang sukses. Selama ini banyak orang melihat orang sukses dari kesuksesannya. Padahal kata Soichiro Honda, “yang dilihat orang pada kesuksesan saya hanya 1%, tetapi apa yang tidak mereka lihat adalah 99%, yaitu kegagalan-kegagalan saya.”  (Lim, 2003, hlm. 284). Oleh karena itu kecerdasan pewirausaha, mereka  tidak takut dengan kesalahan, kemunduran, dan kegagalan.

Fakta-fakta di atas, adalah bukti bahwa keterangan Al-Qur’an adalah benar. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,” (Alam Nasyrah, 94:5). Kesulitan adalah cara Allah mengajarkan manusia untuk sampai pada apa yang diinginkannya.  Kesulitan adalah pendidikan agar manusia memiliki kecerdasan wirausaha.

KEGAGALAN ADALAH PENDIDIKAN AGAR MANUSIA JADI PEWIRAUSAHA
Paradigma pendidikan abad sekarang adalah tidak ada lagi anak bodoh, semua anak cerdas dan harus belajar dengan guru-guru terbaik. Dalam berbagai penelitian telah diungkap bahwa memprediksi kesuksesan anak-anak dengan tes akademik tidak bisa dijadikan lagi sebagai satu patokan baku. Kecerdasan wirausaha adalah kemampuan holistis yang melihat siswa dari seluruh aspek, harus dikembangkan pada murid-murid. 

Menurut Sadino, (2007, hlm. xviii), seorang pewirausaha harus memiliki kecerdasan holistis.Untuk itu murid-murid harus dikembangkan kecerdasannya antara lain; kemampuan melihat peluang yang tidak dilihat atau tidak dianggap peluang oleh kebanyakan masyarakat umum; Gemar mengambil resiko atas tindakan yang dilakukannya; Berpikir visioner (optimis); Inovatif yakni bisa menemukan hal-hal baru; Berjiwa pemimpin; Pemikir yang bebas; Pekerja keras. Kemampuan ini bukan diukur dari kecerdasan akademik, tetapi harus dikembangkan dengan mengunakan berbagai pendekatan dan metode pembelajaran. Wallahu'alam. 

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

Saturday, March 2, 2019

DALIL MENGELUARKAN PENDAPAT


Oleh: Muhammad Plato

Scott mengatakan, “fact are sacred, opinion free”. (Carr, 1961, hlm. 10). Beliau ingin mengatakan segala kejadian yang ada di muka bumi adalah suci (bebas dari kepentingan), namun setiap orang boleh memberikan pendapat atau pemikirannya. Manusia sebagai makhluk berpikir pasti akan selalu mengeluarkan opini (pendapat) terhadap segala kejadian oleh karena berpikir mengeluarkan pendapat adalah sifat dasar manusia.

Sekalipun mengeluarkan pendapat bebas dilakukan oleh setiap orang, apa jadinya bangsa ini, jika pikiran, opini, pendapat, atau omongan masyarakat hanya memuaskan keinginan hawa nafsu? Seperti yang terjadi di negara kita, semua orang berpendapat, mengikuti standar kebenaran berdasarkan latar belakang pengetahuan masing-masing tanpa merujuk pada dasar petunjuk berpikir.

Apa bedanya orang beragama dan tidak beragama dalam berpikir? Orang-orang beragama berpikir mengikuti pola rujukan dari sumber yang dianggap sumber kebenaran dari Tuhan yang diyakininya. Apakah selama ini kita telah menjadikan kitab suci sebagai rujukan dalam berpikir? Pada saat orang beragama mengeluarkan pendapat, dengan merujuk pada sumber dasar agama, sesungguhnya dialah orang beragama, karena dia menggunakan sumber kebenaran agamanya sebagai panduan mengeluarkan pendapat.

Apapun pendapatnya, sekalipun terjadi perbedaan pendapat, jika pendapat bersumber pada kebenaran agama yang dianutnya, pendapat itu patut dihargai. Namun harus dipahami, pendapat atau opini sekalipun menggunakan sumber rujukan yang dianggap benar dari kitab suci, namanya tetap pemikiran atau pendapat manusia, maka tidak berhak merasa atau memaksa sebagai satu-satunya pendapat yang benar, harus tetap mengakui sebagai salah satu pendapat yang mungkin bisa salah karena situasi atau ada pendapat lain yang lebih tepat.

Namun demikian jika merujuk pada kitab suci Al-Qur’an, panduan beropini atau berpendapat tidak boleh menyalahkan atau merendahkan pendapat orang lain. Kita hanya bisa menyampaikan opini, pendapat, kapasitasnya sebagai pemikiran pribadi. Menyalahkan atau menyepelekan orang lain sama dengan berprasangka buruk terhadap pendapat orang lain yang kita tidak tahu apa motivasi atau niat seseorang mengeluarkan opini atau pendapat tersebut. Sangkaan buruk, menyalahkan orang lain adalah termasuk pola pikir jahiliyah atau dzonnal jahiliyyah, (Ali Imran, 3:154). Perintah berpendapat baik, dan larangan mencari-cari kesalahan serta menyalah-nyalahkan pendapat orang lain ada dalam Al-Qur’an;

ALLAH BERSAMA ORANG YANG BERPENDAPAT BAIK DAN MEMBAWA KEDAMAIAN 
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Al Hujurat, 49:12).

Penafsiran dari ayat di atas dijelaskan dalam hadis Qudsi, “Aku bersama dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, maka hendaklah ia BERPRASANGKA dengan apa yang DIINGINKAN, bukan yang ia risaukan dan khawatirkan”. (Hadis Qudsi).

Inilah dalil MENGELUARKAN PENDAPAT. Dalam berprasangka (berpendapat) dalam hadis Qudsi dijelaskan harus bersama Aku (Allah), artinya setiap prasangka harus sesuai dengan sifat Allah Yang Maha Baik serta Mutlak Pemilik Kebaikan. Jika pendapat sudah dibarengi Allah mana mungkin ada pendapat buruk, sementara Allah Mutlak Baik. Pendapat buruk, menyalahkan orang lain adalah pendapat yang tidak dibarengi Allah. Maka dari itu berpendapat dengan apa yang diinginkan bukan berarti bebas sesuai keinginan (nafs) kita, tetapi keinginan yang telah dijanjikan Allah kepada orang-orang yang punya pendapat baik, yaitu kesejahteraan dunia dan akhirat. Jadi berpendapat dengan apa yang diinginkan bukan keinginan yang dibawa oleh keinginan (nafsu) destruktif, tetapi keinginan (nafsu) mutm’ainnah (Al Fajr, 89:27), yaitu nafsu atau keinginan yang membawa manusia pada kedamaiaan dan kesejahteraan.

Pendapat-pendapat buruk, dikendalikan oleh nafsu-nafsu destruktif yang tujuannya ingin menyalahkan, mengalahkan, merendahkan, dan mempermalukan orang lain. Maka panduan berpikir bagi setiap muslim adalah tidak berpendapat buruk tentang segala kejadian, karena setiap pendapat harus dibarengi Allah, yang artinya segala pendapat harus baik dalam arti tidak membawa perpecahan, tetapi menenangkan dan mendamaikan umat manusia.

Pendapat yang akan membawa ketenangan yaitu pendapat yang tidak ditujukan untuk memaksakan sebagai satu pendapat yang paling benar atau pendapat yang tidak dibarengi rasa sebagai pemilik kebenaran. Jika rasa jadi pemilik kebenaran dimiliki, maka apa yang terjadi di masyarakat sekarang adalah bukti bahwa sebelum beperndapat kita harus belajar memahami etika dan tuntunan dalam berpendapat.

Tidak ada perbedaan pendapat dan pasti semua sepakat, setiap pendapat harus membawa kesejahteraan dan kedamaian bagi manusia. Nafsu-nafsu manusia yang tidak dibarengi Allah akan membuat pendapat-pendapat merendahkan serta memecah belah umat. Jika tidak memahami etika dan petunjuk berpikir dari Tuhan Yang Maha Esa, sekalipun beragama sebenarnya manusia tidak beragama. Seandainya berpendapat perlu etika dan petunjuk dari agama lalu kita sepakati bersama, sebagai bangsa demokrasi berpenduduk muslim terbesar di dunia, tidak menutup kemungkinan kita akan jadi bangsa religius rujukan dunia dalam berdemokrasi.

Sekalipun kita telah memahami panduan berpikir, manusia pada hakikatnya pembuat salah, maka kita akan selalu terjebak dalam kesalahan berpikir karena lupa. Berpikir gerakannya melebihi kecepatan cahaya, maka tidak menutup kemungkinan manusia selalu melalukan kesalahan berpikir dalam kecepatan cahaya. Untuk itu, Allah mengakhiri ayat berprasangka dengan kata, “sesunggunya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang (innalloha tawwaburrohim).  Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)