Sunday, June 28, 2015

RAHASIA SUKSES KELUARGA GENI HALILINTAR



Setelah tayang di media elektronik, keluarga kesebelasan Geni Halilintar menjadi terkenal. Keluarga dengan sebelas anak di zaman sekarang adalah sebuah fenomena sosial yang unik untuk kita kenal.

Demikian juga saya sangat tertarik dengan fenomena ini. Saya cari informasi di internet dan mencoba pesan bukunya. Buku itu berbicara true story tentang kehidupan sehari-hari keluarga Geni Halilintar dan keluarga lengkap dengan photo-photo keluarga hasil anggota keluarganya.

Buku itu secara sistematis berbicara mulai dari proses pernikahan, aktivitas bisnis setelah menikah, masa-masa kehamilan, dan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh kesebelas anaknya. Hal yang paling mengundang pertanyaan bagi saya, mungkin juga Anda,  adalah mengapa dari kesebelas anak Geni Halilintar memiliki kecerdasan luar biasa.

Siapa yang tidak ingin memiliki anak cerdas, dalam usia 13 tahun sudah punya bisnis jual beli mobil, bisnis gadget, kuliner, dan busana. Menguasai bahasa inggris dalam usia dini, punya IQ genius, bisa berkomunikasi ala presenter dalam usia dini, dan berprilaku seperti orang dewasa dalam usia muda. Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anak cerdas seperti yang dimiliki oleh keluarga Geni Halilintar.

Lalu apa rahasia sukses Geni Halilintar dalam melahirkan anak-anaknya yang cerdas. Saya akan ungkap dengan menggunakan analisa logika Tuhan. Rahasia sukses tersebut antara lain:
  1. Menikah dalam usia muda (saat masih studi di PT), tanpa pacaran. Tujuannya menghindari dosa besar (jinah). “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (Al Israa:32).
  2. Menikah dengan mahar sederhana. Geni meminta mahar yang sangat murah yaitu seperangkat alat shalat dan membaca surat Al-Ikhlas tiga kali. Menurut pandangan manusia mahar sederhana ini kecil sekali nilainya, namun menurut pandangan Tuhan inilah mahar yang tidak ternilai harganya. Keterangannya bisa kita temukan dalam sebuah hadis, “Sebaik-baik wanita ialah yang paling ringan mas kawinnya. (HR. Ath-Thabrani). Di dalam hadist dijelaskan bahwa “Isteri yang paling besar berkahnya ialah yang paling ringan tanggungannya”. (HR. Ahmad dan Al Hakim). Mahar membaca surat Al-Ikhlas tiga kali dihadapn Tuhan sama dengan mempersembahkan sebuah pemahaman terhadap 30 juz Al-Qur’an.
  3. Memperlakukan suami sebagai pemimpin. Ketentuan-Nya adalah “Tidak dibenarkan manusia sujud kepada manusia, dan kalau dibenarkan manusia sujud kepada manusia, aku akan memerintahkan wanita sujud kepada suaminya karena besarnya jasa (hak) suami terhadap isterinya”. (HR. Ahmad). 
  4. Mendidik anak sejak dalam kandungan. Salah satu bukti bahwa Geni dan Halilintar mendidik anaknya sejak dalam kandungan adalah dengan tidak mengikuti semua keinginan anaknya ketika dalam kandungan. Jika awam memanjakan ibu hamil dengan mengikuti seluruh keinginan atas nama janinnya, Geni sudah mendidiknya sejak dalam kandungan dengan mengendalikan keinginan janinnya.
Model pendidikan yang dilakukan Geni dan Halilitar adalah learning by doing (keteladanan). Ketika sejak dalam kandungan seluruh anak yang dilahirkannya telah diberi pendidikan dengan model keteladanan. Inilah pendidikan yang dilakukan Geni terhadap seluruh anaknya ketika dalam kandungan.

Metode pendidikan yang dilakukan Geni Halilintar adalah bisnis dan traveling. Bisnis adalah sebuah aktivitas yang menuntut kreativitas dan spiritualitas tinggi. Melalui aktivitas bisnisnya Geni Halilintar  secara tidak langsung telah mendidik anak-anaknya sejak dalam kandungan. Isi pendidikan yang terkandunga dalam aktivitas bisnis adalah berpikir cerdas dan kreatif, serta penanaman karakter jujur, setia pada janji, ramah, dan komunikatif. Ketika ibu dan ayahnya berpikir untuk mengembangkan bisnis, bayi-bayi yang dikandungnya ikut diajak berpikir kreatif, dst.

Tentang perintah bisnis, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (An Nisaa:29)

Metode pendidikan selanjutnya adalah traveling. Konsep traveling dijelaskan di dalam Al-Qur’an sama dengan hijrah. Traveling sudah dicontohkan oleh para Nabi. Traveling (hijrah) terpanjang dilakukan oleh Nabi Ibrahmi as. Beliau melakukan perjalanan traveling bersama keluarga kurang lebih 15000 km. Nabi Muhammad melakukan traveling (hijrah) dari Mekah ke Madinah kurang lebih 500 km.

Maka dari Nabi Ibrahim as (bapak Para nabi) lahir keturunan-keturunan yang super cerdas. Salah satunya Nabi Muhammad saw.

Traveling (hijrah) adalah ketentuan Tuhan, yang tidak bisa dihindari oleh setiap makhluk ciptaan Tuhan. Mengapa menjadi ketatapan Tuhan, karena Hijrah (traveling) membawa dampak terhadap kecerdasan dan keberkahan rezeki setiap makhluk yang melakukannya.

Ketentuan Tuhan tentang traveling (hijrah), ditetapkan dalam Al-Qur’an, “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak”. (An Nisaa:100)

Dalam surat lain ditentukan sebagai berikut, “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”. (At-Taubah:20,)

Harus diketahui logika sebab akibat yang diajarkan Tuhan. Dengan memperhatikan ayat di atas, akibat yang akan didapat bagi orang-orang berhijrah (traveling) adalah Rezeki Banyak, Kedudukan Tinggi, Dan Kejayaan.

Faktanya Nabi Ibrahim memiliki kekayaan yang tidak ternilai, untuk mengembala ternak yang dimilikinya dibutuhkan kurang lebih 3000 anjing penjaga, dan jika Nabi Muhammad saw menghendaki kerajaan bumi dan langit, Beliau bisa memilikinya.

Kesimpulannya, jika para pasangan muda-mudi menginginkan anak-anaknya terlahir dengan kecerdasan luar biasa, didiklah seperti yang dicontohkan para Nabi Ibrahim as dan dicintohkan kembali oleh Nabi Muhammad saw. dan salah satu pelakuknya sekarang adalah keluarga Geni dan Halilinatar. Jangan lupa beri pendidikan anak-anak Anda Wallahu ‘alam.

(Muhammad Palto, Penulis buku hidup sukses dengan logika Tuhan, Follow @logika_Tuhan).

Saturday, June 27, 2015

DIALOG DENGAN TUHAN DI TANAH SUCI



Izinkan saya untuk berbagi dengan kawan-kawan tentang pengalaman dari tanah suci Mekah. Bulan Februari 2015, saat itu di Mekah dan Madinah sedang musim dingin. Di Madinah, tepat jam 12 siang, saya lihat orang-orang berjemur menghangatkan tubuh karena udara sangat dingin.

Tulisan ini adalah wujud rasa syukur saya kepada Tuhan. Wujud syukur itu saya niatkan dengan berbagi pengetahuan dengan siapa saja yang membutuhkan. Jika ada yang terinspirasi itu dari Tuhan, jika tidak terinspirasi itu karena kebodohan saya.

Sebelumnya, saya tidak menyangka bisa pergi ke tanah suci dan melihat Ka’bah (rumah Allah) dengan mata kepala sendiri. Ketika pertama kami melihat kabah, mata ini terus melotot melihat sedetail-detailnya tentang Ka’bah.

Melayang ke masa lalu, di kampung saya, hanya ada dua orang saja yang bisa berangkat ke tanah suci. Saya hanya bisa membayangkan tentang Ka’bah dari cerita mereka. Sampai sekarang ongkos pergi ke tanah suci masih terbilang  mahal. Tapi sekarang saya adalah orang yang bisa datang ke tanah suci dan melihat Ka’bah, salat dihadapan kabah, salat dekat Ka’bah, tahajud di dekat Ka’bah, menyentuh Ka’bah, menempelkan kepala di Ka’bah, dan berdoa di hadapan Ka’bah  untuk keluarga, dan untuk kawan-kawan di tanah air.

Dengan penuh semanat dalam hati saya berkata, “inilah Ka’bah yang sering diceritakan banyak orang”. Dan sekarang saya merasakan sendiri mengapa orang-orang selalu rindu kembali ke tanah suci, karena di tanah suci ada harapan yang tidak  pernah mati. Harapan itu ada karena semua orang merasakan berada di rumah yang telah disucikan oleh Tuhan.

Untuk mendapatkan salat di dekat Ka’bah, dua jam sebelum waktu salat tiba saya harus sudah berangkat ke Masjid dan menuju tempat terdekat Ka’bah. Demikian juga untuk bertahajud dengan puas dekat Ka’bah, jam dua atau jam  tiga pagi saya harus sudah berada di masjid. Pada jam dua atau tiga pagi kondisi di sekitar Ka’bah tidak terlalu berdesak-desakan. Artinya pada jam  itu kita masih bisa memilih tempat-tempat terbaik untuk salat dan dekat sekali dengan Ka’bah.

Selama empat malam di Mekah, saya dan kawan-kawan tidak pernah melewatkan malam demi malam untuk selalu berada dekat Ka’bah. Dengan bermodal sajadah buatan Turki yang saya beli di toko saat menuju Masjid, saya hamparkan sajadah simetris ke arah Multajam. Menurut Hadis, siapa yang berdoa di Multajam maka doa-doanya akan dikabulkan oleh Tuhan. Multajam adalah posisi ruang antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.

Karena posisi Multajam di dekat Ka’bah berdesak-desakan dipenuhi oleh orang-orang yang Thawaf, maka saya memilih shalat di koridor luar jalur thawaf. Saya memili posisi searah dengan Multajam. Setelah sajadah terlihat simetris dengan arah Multajam, saya lakukan shalat tahajud dua-dua rakaat diakhiri dengan witir.

Ketika dua rakaat pertama selesai, saya perhatikan posisi sajadah sudah tidak simetris dengan Multajam. Saya coba arahkan kembali lurus dengan Multajam, dan kembali shalat. Selesai dua rakat kedua, saya perhatikan lagi posisi sajadah, sudah tidak simetris lagi dengan Multajam. Saya arahkan lagi ke Multajam, dan shalat lagi. Selesai dua rakaat ketiga, sajadah berubah arah lagi, saya arahkan lagi ke Multajam, dan selesai dua rakaat keempat, sajadah terlihat semakin jauh menyimpang dari Multajam.

Setelah empat kali, saya menyerah. Saya mohon ampun kepada Tuhan dan berpikir apa yang salah dengan diri saya. Saya berpikir kenapa Allah tidak mau disembah dengan cara seperti itu. Kegelisahan, keraguan  terus ada dalam  pikiran. Saya ceritakan kejadian  ini pada kawan-kawan di hotel, tidak ada jawaban memuaskan dan keraguan menggelayut dalam pikiran saya. Serasa bahwa Tuhan tidak menerima ibadah yang saya lakukan.

Hal paling penasaran adalah mengapa saya diberi peringatan oleh Allah seperti itu? Saya berusaha menenangkan diri dengan mengingat sebuah  kesimpulan dari Al-qur’an bahwa kasih sayang Tuhan lebih besar dari murkanya. Dengan mengingat ini pikiran saya sedikit tenang, namun kejadian itu sampai pulang ke tanah air terus menjadi tanda tanya?

Rabu, 24 Juni 2015, (Ramadan hari ke tujuh), ketika shalat subuh di masjid, seorang penceramah berbicara tentang takwa. Saya penasaran karena belum menemukan definsi ajeg tentang takwa. Ketika seacrhing di Al-Qur’an digital tentang takwa, saya membaca satu ayat ini.

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. (Al-Baqarah:177).

Saat membaca terjemah yang dicetak tebal di atas, saya teringat kejadian lima bulan ke belakang di depan Ka’bah. Inilah  jawabannya!. Saya tafsir (hubungkan)  kejadian lima bulan lalu di depan Ka’abah dengan ayat ini. Pada kejadian lima bulan yang lalu rupanya Tuhan sedang mengajak dialog. Ketika saya memaksakan sampai empat kali menghadapkan  sajadah ke Multajam, dan empat kali Tuhan membelokkannya. Kejadian ini memiliki arti bahwa apa yang saya lakukan adalah salah. Menghadap-hadapkan wajah ketika shalat ke Multajam dengan tujuan supaya doa dikabul, bukanlah suatu kebajikan yang diperintahkan. Suatu kebajikan sudah jelas diperintahkan sebagai mana tertulis dalam surat Al-Baqarah ayat 177.

Tuhan  tidak menyukai sikap berlebihan, mengada-adakan dalam hal keyakinan. Mungkin saya terlalu berlebihan mengimani hadis tentang Multajam dan saya termasuk kategori yang telah menjadikan Multajam sebagai berhala.  

Menghadap wajah ke Multajam bukanlah suatu penyebab dikabulkannya doa. Menghadapkan wajah ke Multajam bukanlah sebab turunnya rohman dan rohimnya Tuhan. Penyebab turunnya rohman dan rohimnya Tuhan adalah bila kita melaksanakan kebajikan-kebajikan sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an.   

Lalu bagaimana dengan mereka yang berebut berdesak-desakkan, membayar calo, demi  mencium hajar aswad? Sungguh jika kita mengaitkan dengan surat Al-Baqarah ayat 177, hal seperti itu bukanlah termasuk kebajikan yang diperintahkan. Memaksakan mencium Hajaraswad  adalah sikap berlebihan dan bisa dianggap sebuah pemberhalaan  terhadap benda yang tidak diharapkan oleh Tuhan. Semoga Allah mengampuni kita semua. Amin. 

(Penulis Buku Hidup Sukses Dengan Logika Tuhan, Follow  @logika_Tuhan)

Saturday, June 20, 2015

FILSAFAT SAINS ISLAM



Sains Islam adalah sains berbasis wahyu (Al-Qur’an), dalam arti Al-Qur’an menjadi bagian dari epistemologi (cara), ontologi (subjek) dan aksiologi (tujuan). Pendekatan praktisnya adalah melakukan analisis logis teks wahyu dan membandingkan dengan pengamatan atas alam. Itulah pendapat Dr. Agus Purwanto (2015) penulis buku Nalar Ayat-Ayat Semesta.  

Selanjutnya Dr. Agus Purwanto menjelaskan sains Islam berbeda dengan Sains Materialis. Hal yang paling berbahaya dari Sains Materialis terletak pada penegasan materi sebagai sesuatu yang tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Sains Materialis menafikan moralitas, jiwa, dan Tuhan. Jepang adalah negara yang berhasil mengembangkan Sains Materialis sebagai pondasi dalam pengembangan teknologinya, namun dari hasil survey, kurang lebih 90% wanita Jepang yang akan menikah sudah tidak perawan. Di negara-negara maju yang sekuler, kini telah menjadi budaya, dimana pasangan-pasangan yang hendak menikah sudah mencapai 90% melakukan kohabitasi, (hidup seperti suami istri tanpa nikah). Inilah paradok gambaran dunia sekarang, dimana teknologi super canggih terus diciptakan sementara manusia menuju kebinasaan.

Disadari atau tidak, telah berabad-abad kita mengikuti dogma sains materialis yang menyeret kita semakin jauh dari Tuhan. Sudah saatnya kita hidup dengan sains yang sesuai dengan kesaksian kita sebagai makhluk Tuhan pencipta Alam. Dengan dikembangkannya sains Islam, bukan hanya akan membawa pencerahan bagi umat Islam tapi akan membawa nuansa baru tentang peran Islam di dunia internasional. Juga membuka wawasan kaum muslimin untuk menggunakan logikanya dalam menalar ayat-ayat Tuhan tentang alam. Al-Qur’an jangan lagi hanya dipandang sebagai ajaran moral, tajwij dan kidung.

Selama ini, reduksionisme telah memengaruhi pola penafsiran Al-Qur’an. Penafsiran Al-Qur’an direduksi hanya pada aspek moral. Metode tafsir telah direduksi hanya boleh menggunakan pendapat-pendapat ulama terdahulu (menafikan ulama-ulama pengguna nalar), melalui kitab-kitab hadis atau kitab-kitab hasil pemikirannya. Kepada kelompok-kelompok yang menggunakan metode tafsir di luar itu, dideskriditkan sebagai kelompok-kelompok menyimpang dan dicurigai sebagai kelompok yang akan merusak ajaran agama. Padahal jika kita pikirkan, Al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan  tidak mungkin bisa dipahami hanya pada satu sisi saja. Untuk itu berbagai sisi Al-Qur’an bisa dipersepsi karena Al-Qur’an diturunkan dari Tuhan yang maha luas pengetahuannya.

Stigma negatif terutama dialamatkan kepada mereka yang berani menggunakan nalarnya untuk memahami dan mengeksplorasi isi Al-Qur’an. Mereka yang menggunakan nalar atau logika dalam memahami Al-Qur’an diangap telah keluar dari ajaran Muhammad saw. Padahal Nabi Muhammad sendiri adalah Nabi yang mengemukakan hadis-hadisnya dengan konstruksi-konstruksi logika yang bersumber dari Al-Qur’an.

Suatu saat kebenaran itu akan datang. Siapa yang menutup-nutupi kebenaran yang jelas-jelas datang dari Tuhannya, dialah orang-orang yang tidak amanah, dan dia adalah golongan dari orang-orang terdahulu yang mendustakan ajaran-ajaran Tuhan. Semoga kita semua diselamatkan dari sifat-sifat seperti itu.

Logika Tuhan yang penulis kembangkan adalah sisi lain dari Al-qur’an. Jika pada ayat pertama Al-Qur’an dijelaskan sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa, pertanyaannya adalah petunjuk apa? Maka salah satu fungsi Al-Qur’an adalah petunjuk berpikir.

Untuk itulah penulis mencoba mengkaji Al-Qur’an dari sudut lain. Sudut yang mengemukakan pola-pola berpikir yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Karena pola-pola berpikir itu ditemukan dari Al-Qur’an dan Al-Qur’an sumbernya dari Tuhan Penguasa Alam, maka logika-logika berpikir yang berhasil penulis temukan, untuk mengingatkan bahwa itu milik Tuhan, disebutlah sebagai logika Tuhan.

Pada intinya apa yang penulis lakukan tidak jauh dari apa yang dilakukan Dr. Agus Purwanto. Sama-sama menjadikan wahyu sebagai sumber epistemologi, ontologi, dan aksiologi pengembangan ilmu, dalam rangka pengembangan Sains Islam. Logika Tuhan bisa jadi fondasi filsafat dalam membangun Sains Islam. Wallahu ‘alam.

(Muhammad Plato, penulis buku hidup sukses dengan logika Tuhan. Follow Me @logika_Tuhan) 

Friday, June 12, 2015

NABI MUMAHAMMAD TIDAK MELARANG BERLOGIKA



Ada orang yang mengatasnamakan ahli agama mengajarkan kepada murid-muridnya,  agama tidak bisa dipahami dengan logika tapi dengan hati. Murid-muridnya manggut-manggut terpesona oleh pendapat ahli agama tersebut. Sang ahli agama pun puas bahwa dia telah mematikan logika murid-muridnya.

Ada juga yang mengaku filsuf, berpendapat bahwa cinta itu bukan urusan logika, tetapi urusan hati. Untuk kedua kalinya, murid-murid itu manggut-manggut terpesona oleh pendapat filsuf. Sang filsuf pun puas karena dia telah mematikan logika murid-muridnya padahal dia sendiri berlogika.

Ada juga seseorang yang mengaku ahli agama terdahulu yang disegani keluasan ilmunya sejagat raya, mengatakan bahwa haram untuk pelajari logika, karena logika dianggap sebagai penyebab kekafiran seseorang. Maka ramai-ramailah para bijak bestari, para pengkhotbah, menjelek-jelekkan logika dan mencap buruk terhdap orang-orang yang berbicara agama menggunakan logika.

Di televisi, radio, para pengkhotbah mengatakan dengan penuh nafsu kebencian kepada logika, siapa yang memahami agama dengan logika, jika benar dia salah. Sambil mengeluarkan bunyi hadis;

Barangsiapa menguraikan Al Qur'an dengan akal pikirannya sendiri dan benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan. (HR. Ahmad)

Apakah bunyi hadis di atas melarang orang untuk berlogika? Coba pahami dulu konsepnya dengan baik jangan terburu-buru ambil kesimpulan. Jika ada yang menjadikan hadis ini sebagai dalil terhadap pelarangan berlogika, maka itu adalah tafsir bukan dalil mutlak itu sendiri.

Berdasarkan pengetahuan yang saya miliki (pengetahuan dari berbagai sumber), jika hadis ini ditafsirkan sebagai pelarangan terhadap aktivitas berpikir (berlogika), tafsiran itu sudah bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang banyak memerintahkan manusia untuk berpikir. Kurang lebih 63 kali tercatat di dalam Al-Qur’an, Tuhan memerintahkan manusia untuk berpikir.

Pendapat penulis hadis di atas tidak melarang aktivitas berpikir, tetapi hadis di atas melarang aktivitas berpikir sendiri-sendiri. Memahami Al-Qur’an dengan akal pikiran sendiri-sendiri akan mengakibatkan perpecahan umat.  Perpecahan umat disebabkan oleh sistem berpikir sendiri-sendiri dan membawa ego-ego sendiri.

Di dalam ajaran agama kepentingan sendiri harus mengalah untuk kepentingan umat. Untuk itulah metode berpikir yang dianjurkan dalam ajaran agama adalah berpikir secara berjamaah dalam tata cara bermusyawarah. Sebagaimana dianjurkan di dalam AL-Qur’an. “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka”. (Asy syuura:38).

Di dalam prakteknya, bentuk permusyarawatan dalam berpikir tidak selalu harus berkumpul dalam sebuah majelis, tetapi bisa berdiskusi melalui kitab-kitab kumpulan hadis Nabi Muhammad saw, kitab-kitab tafsir ulama terdahulu, buku-buku tafsir kontemporer, buku-buku riset ilmiah, dan sebagainya.

Pada dasarnya seorang pemikir tidak akan lepas dari pemikiran-pemikiran orang-orang terdahulu. Jadi artinya semua yang dikemukakan orang bukanlah murni hasil pemikirannya. Tidak ada hasil pemikiran yang murni hasil pemikiran sendiri. Jadi jika ada orang yang mengaku bahwa sesuatu diciptakan berdasarkan hasil pemikirannya sendiri sudah jelas pendapatnya salah, karena apa yang ditemukannya adalah pasti dipengaruhi pemikiran orang-orang terdahulu.

Pada prakteknya, kita wajib mengemukakan pendapat-pendapat orang lain yang memiliki kesamaan atau perbedaan pemikiran dengan kita, agar kita terhindar dari sifat-sifat egois yang menyebabkan perpecahan umat. Dengan mengemukakan pendapat-pendapat orang terdahulu akan menghindarkan kita (para pemikir) dari fitnah-fitnah yang menyebabkan perpecahan umat.

Metode bernalar berjamaah, sering kita temukan dalam penelitian-penelitian ilmiah. Di dalam karya-karya tulis ilmiah kita sering menemukan kutipan-kutipan. Arti kutipan tersebut selain bentuk permusyawaran dalam berpikir, juga mengukuhkan kredibilitas pemikir itu sendiri. Maka di dalam tulisan soal agama pun, kita hendaknya mengutif pendapat para pemikir terdahulu sebagai bentuk permusyawaratan berpikir dalam bentuk sajian tulisan. Kutif mengutif juga sering dilakukan para khotib.  Kita sering dengar para khotib  mengatasnamakan “para ulama” sebagai bentuk bahwa apa yang dikemukakannya bukan hasil pemikiran sendiri tetapi hasil permusyawaratan. 

Saya sependapat dengan Hassan Hanafi dalam bukunya “Dari Aqidah ke Revolusi”, perbedaan bernalar dalam soal agama dan dunia hanya di metode. Nalar persoalan agama bersifat deduktif, sedangkan  nalar dalam  masalah dunia bersifat induktif. Temanya sama, yaitu masalah kehidupan manusia di dunia dan akhirat.

Sejauh ini saya belum menemukan hadis Nabi Muhammad saw yang secara tegas melarang umat untuk berlogika (berpikir). Jikalau ada, saya tetap dalam keraguan atas pendapat itu karena tidak sesuai dengan perintah Tuhan dalam Al-Qur’an. Walahu ‘alam.  

(Muhammad Plato, Penulis Buku Hidup Sukses dengan Logika Tuhan. Follow @logika_Tuhan)