Saturday, June 20, 2015

FILSAFAT SAINS ISLAM



Sains Islam adalah sains berbasis wahyu (Al-Qur’an), dalam arti Al-Qur’an menjadi bagian dari epistemologi (cara), ontologi (subjek) dan aksiologi (tujuan). Pendekatan praktisnya adalah melakukan analisis logis teks wahyu dan membandingkan dengan pengamatan atas alam. Itulah pendapat Dr. Agus Purwanto (2015) penulis buku Nalar Ayat-Ayat Semesta.  

Selanjutnya Dr. Agus Purwanto menjelaskan sains Islam berbeda dengan Sains Materialis. Hal yang paling berbahaya dari Sains Materialis terletak pada penegasan materi sebagai sesuatu yang tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Sains Materialis menafikan moralitas, jiwa, dan Tuhan. Jepang adalah negara yang berhasil mengembangkan Sains Materialis sebagai pondasi dalam pengembangan teknologinya, namun dari hasil survey, kurang lebih 90% wanita Jepang yang akan menikah sudah tidak perawan. Di negara-negara maju yang sekuler, kini telah menjadi budaya, dimana pasangan-pasangan yang hendak menikah sudah mencapai 90% melakukan kohabitasi, (hidup seperti suami istri tanpa nikah). Inilah paradok gambaran dunia sekarang, dimana teknologi super canggih terus diciptakan sementara manusia menuju kebinasaan.

Disadari atau tidak, telah berabad-abad kita mengikuti dogma sains materialis yang menyeret kita semakin jauh dari Tuhan. Sudah saatnya kita hidup dengan sains yang sesuai dengan kesaksian kita sebagai makhluk Tuhan pencipta Alam. Dengan dikembangkannya sains Islam, bukan hanya akan membawa pencerahan bagi umat Islam tapi akan membawa nuansa baru tentang peran Islam di dunia internasional. Juga membuka wawasan kaum muslimin untuk menggunakan logikanya dalam menalar ayat-ayat Tuhan tentang alam. Al-Qur’an jangan lagi hanya dipandang sebagai ajaran moral, tajwij dan kidung.

Selama ini, reduksionisme telah memengaruhi pola penafsiran Al-Qur’an. Penafsiran Al-Qur’an direduksi hanya pada aspek moral. Metode tafsir telah direduksi hanya boleh menggunakan pendapat-pendapat ulama terdahulu (menafikan ulama-ulama pengguna nalar), melalui kitab-kitab hadis atau kitab-kitab hasil pemikirannya. Kepada kelompok-kelompok yang menggunakan metode tafsir di luar itu, dideskriditkan sebagai kelompok-kelompok menyimpang dan dicurigai sebagai kelompok yang akan merusak ajaran agama. Padahal jika kita pikirkan, Al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan  tidak mungkin bisa dipahami hanya pada satu sisi saja. Untuk itu berbagai sisi Al-Qur’an bisa dipersepsi karena Al-Qur’an diturunkan dari Tuhan yang maha luas pengetahuannya.

Stigma negatif terutama dialamatkan kepada mereka yang berani menggunakan nalarnya untuk memahami dan mengeksplorasi isi Al-Qur’an. Mereka yang menggunakan nalar atau logika dalam memahami Al-Qur’an diangap telah keluar dari ajaran Muhammad saw. Padahal Nabi Muhammad sendiri adalah Nabi yang mengemukakan hadis-hadisnya dengan konstruksi-konstruksi logika yang bersumber dari Al-Qur’an.

Suatu saat kebenaran itu akan datang. Siapa yang menutup-nutupi kebenaran yang jelas-jelas datang dari Tuhannya, dialah orang-orang yang tidak amanah, dan dia adalah golongan dari orang-orang terdahulu yang mendustakan ajaran-ajaran Tuhan. Semoga kita semua diselamatkan dari sifat-sifat seperti itu.

Logika Tuhan yang penulis kembangkan adalah sisi lain dari Al-qur’an. Jika pada ayat pertama Al-Qur’an dijelaskan sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa, pertanyaannya adalah petunjuk apa? Maka salah satu fungsi Al-Qur’an adalah petunjuk berpikir.

Untuk itulah penulis mencoba mengkaji Al-Qur’an dari sudut lain. Sudut yang mengemukakan pola-pola berpikir yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Karena pola-pola berpikir itu ditemukan dari Al-Qur’an dan Al-Qur’an sumbernya dari Tuhan Penguasa Alam, maka logika-logika berpikir yang berhasil penulis temukan, untuk mengingatkan bahwa itu milik Tuhan, disebutlah sebagai logika Tuhan.

Pada intinya apa yang penulis lakukan tidak jauh dari apa yang dilakukan Dr. Agus Purwanto. Sama-sama menjadikan wahyu sebagai sumber epistemologi, ontologi, dan aksiologi pengembangan ilmu, dalam rangka pengembangan Sains Islam. Logika Tuhan bisa jadi fondasi filsafat dalam membangun Sains Islam. Wallahu ‘alam.

(Muhammad Plato, penulis buku hidup sukses dengan logika Tuhan. Follow Me @logika_Tuhan) 

No comments:

Post a Comment