Showing posts with label sukses dengan logika tuhan. Show all posts
Showing posts with label sukses dengan logika tuhan. Show all posts

Sunday, November 20, 2022

BEDAH AKAL ORANG BERAGAMA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Belum tentu orang beragama, isi akalnya beragama. Dalam sebuah riwayat mengatakan, Nabi Muhammad memerintahkan untuk memeriksa akalnya, ketika para sahabat membicarakan orang-orang saleh hanya melihat dari aktivitas fisik. Ada indikasi bahwa aktivitas fisik bisa jadi tidak merepresentasikan dari aktivitas akalnya. 

Nilai dari sebuah aktivitas adalah tujuannya. Aktivitas akal bisa terbagi menjadi dua tujuan. Ada aktivitas akal untuk tujuan fisik, material, dunia, dan ada juga aktivitas akal untuk tujuan ketaatan pada Tuhan Yang Maha Esa. Hal inilah yang mendasari Nabi Muhammad memerintahkan memeriksa akal orang, sekalipun aktivitas fisiknya sudah memperlihatkan prilaku-prilaku baik. 

Tujuan akal dalam beraktivitas diketahui sangat personal. Allah mengadili isi tujuan dari akal setiap orang, bukan aktivitas fisiknya. Sangat mungkin terjadi ada orang beraktivitas fisik menebar kebaikan untuk sesama manusia, tetapi akalnya tidak bertujuan atas dasar taat pada Tuhan. Dapat disimpulkan prilaku ini dimiliki oleh orang-orang yang tidak percaya Tuhan. Masuk akal jika kelak di hadapan Tuhan, orang-orang ini tidak mendapat kebaikan atas apa-apa yang dikerjakannya.

Memeriksa tujuan sebagai aktivitas akal tidak dapat dinilai langsung oleh orang lain. Memeriksa tujuan akal dalam beraktivitas adalah aktivitas refleksi diri tiap orang. Orang yang taat pada Tuhan, akan selalu menjaga tujuan aktivitas akalnya sebagai wujud ketaatan pada Tuhan. Tujuan akal dalam beraktivitas berdasarkan isi pengetahuan yang ada dalam akalnya. 

Al Quran sebagai kitab pengetahuan, berisi pengetahuan dari Allah tentang petunjuk-petunjuk. Isi Al Quran berupa pengetahuan tertulis yang mengandung konsep berupa, subjek, objek, predikat, keterangan, masa lalu, masa depan, perintah dan larangan, yang jika dibaca akan mengisi akal seseorang. Semua karakter manusia sudah tertulis di dalam Al Quran. Kadang terjadi pergeseran, otak orang beragama bukan lagi berisi pengetahuan hasil analisis dari Al Quran, tapi berisi pengetahuan Al Quran yang bermuatan kepentingan seseorang, keturunan, kelompok, kekuasaan, dan sebagainya. 

Hemat penulis, pengajaran agama adalah membebaskan manusia dari segala keterikatan terhadap selain Allah. Orang beragama terbebas dari kepentingan seseorang, keturunan, kelompok, dan apapun yang dapat menyimpangkan ketergantungan, kecuali kepada Allah. Kebersamaan hanya terjadi karena sama-sama taat kepada Allah yang hanya diketahui antara pribadinya dengan Allah. Ketaatannya kepada Allah senantiasa berusaha hidup dalam harmoni kemanusiaan yang tidak saling menghujat, mencela, dan menjatuhkan. 

Akal orang beragama berisi kemerdekaan karena sangat tergantung pada Allah. Jika orang-orang beragama berpecah belah, saling menghujat, saling mengkafirkan, dan menjadi biang kerok permusuhan, bisa jadi isi akalnya bukan berisi ketaatan kepada Allah, tapi kepada manusia atau kelompoknya. 

Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka". (Al Mukminun, 23:53). 

"Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan." (Al Qashash, 28:4). 

Fir'aun adalah orang-orang. Mereka menghidupkan perempuan melebihi kodratnya sebagai perempuan. Mereka menjungkirbalikkan kodrat manusia hingga manusia terjerumus pada jurang kebinasaan. Fir'aun adalah karakter manusia yang isi akalnya dipenuhi dengan pengetahuan hasil dari pemikiran sekehendaknya. Mereka tidak memiliki akal yang punya ketundukkan kepada pengetahuan-pengetahuan yang diberikan Tuhan.***


Sunday, October 2, 2022

REFLEKSI TUJUAN NEGARA DEMOKRASI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ciri umum dari negara demokrasi adalah melibatkan rakyat dalam proses pengambilan keputusan. Salah satu pelibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan adalah rakyat terlibat dalam pemilihan umum (pemilu). Metode pemilihan umum secara garis besar dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk empat besar dunia, memberlakukan pemilu secara langsung. 

Demokrasi bukan barang baru dalam dunia muslim. Nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, perdamaian, adalah misi dari tujuan bagi kaum muslimin. Misi dapat dicapai salah satunya dengan mendorong para calon pemimpin yang berkualitas tampil. Setelah meninggalnya Nabi Muhammad, kepemimpinan dilanjutkan para sahabat. Proses peralihan kepemimpinan pada masa empat sahabat tidak ada kebakuan. Dari fakta ini disimpulkan bahwa dalam Islam tidak mengenal sistem peralihan kepemimpian yang baku. 

Pemilihan secara langsung untuk memilih pemimpin, bukan satu satunya cara baku dalam memilih pemimpin. Sependapat dengan Alexander Hamilton, pada intinya pemilihan adalah alat penyaringan  Pemilahan dilakukan dengan tujuan jangan sampai kepemimpinan jatuh di tangan orang-orang yang tidak layak jadi pemimpin. (Levitsky & Ziblatt, 2019).

Ada benarnya pendapat Hamilton, "pemilihan langsung seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang paling mampu menganalisis kualitas yang cocok untuk jabatan, dan bertindak dalam kondisi yang bagus untuk berpikir, dan kombinasi bijak segala alasan dan dorongan yang tepat untuk mengarahkan mereka." Dengan cara demikian kepemimpinan jarang jatuh ke tangan orang yang tidak memiliki kecakapan yang diperlukan. Orang-orang dengan bakat intrik dan sekedar populer bakal tersingkir. 

Namun demikian, pemilahan langsung atau tidak langsung sebenarnya memiliki peluang melahirkan pemimpin berkualitas dan tidak berkualitas tampil. Jadi tujuan demokrasi yang paling dasar adalah bukan melahirkan pemimpin berkualitas tapi melahirkan rakyat berkualitas. Dalam negara demokrasi pendidikan harus jadi panglima, karena dari dunia pendidikan akan lahir rakyat rakyat berkualitas.

Para pemimpin yang tampil dalam negara demokrasi, merupakan cerminan dari kualitas rakyat yang memilihnya. Dalam alam demokrasi, kebijakan pemerintah harus tetap konsisten dan fokus dalam memberikan layanan pendidikan berkualitas pada rakyat. Negara yang damai, sejahtera, dapat diwujudkan oleh sistem demokrasi melalui keberpihakkan negara pada jaminan rakyat bisa mengakses pendidikan berkualitas. 

Ahli ilmu politik terkemuka Juan Linz mengembangkan empat set berisi tanda peringatan yang dapat membantu masyarakat membantu mengenali tokoh otoriter. 1) menola aturan main demokrasi, dengan kata-kata atau perbuatan. 2) menyangkal legitimasi lawan. 3) meneloransi atau menyerukan kekerasan. 4) menunjukkan kesediaan membatasi kebebasan sipil lawan, termasuk media. (Levitsky & Ziblatt, 2019).

Berikut beberapa contoh pertanyaan untuk menilai para politikus dengan empat faktor. Apakah mereka menolak konstitusi atau menunjukkan kesediaannya untuk melanggar? Apakah mereka menyebut lawan sebagai pelaku makar, atau menentang tatanan konstitusi yang ada? Apakah mereka punya hubungan dengan pasukan milisi, gerilyawan bersenjata? Apakah mereka mendukung hukum atau kebijakan yang membatasi kebebasan sipil melalui hukum pencemaran nama baik, penistaan, atau membatasi protes? 

Penulis tetap berkeyakinan, nasib suatu pemerintahan terletak di tangan rakyatnya. Jika rakyatnya suka otoritarianisme, maka cepat atau lambat demokrasi akan bermasalah di sana. Sekalipun pada faktanya ada pemimpin pilihan rakyat yang otoriter hal itu bukan berarti rakyat telah mendukung lahirnya pemimpin otoriter, tapi kualitas pemimpin dan rezim yang tidak bisa mengimplementasikan diri dan rezimnya sebagai pemimpin demokratis. Maka faktanya jika pemimin hasil pilihan rakyat bersifat otoriter, mereka akan kembali berhadapan dengan rakyat. Akhirnya demokrasi akan terus mengalami permasalahan.***


Saturday, October 1, 2022

MENGAPA SHALAT TERASA BERAT?

Oleh: Muhammad Plato

Siapapun yang memerintahkan shalat, dia tidak sedang memerintahkan atas dasar kehendak sendiri, tetapi dia sedang memerintahkan memerintahkan apa yang Allah kehendaki. Gerakan shalat secara fisik bukan gerakan berdasarkan kreasi manusia semata, tetapi gerakan yang sudah diberi berkah oleh Allah. Siapapun yang melaksanakan gerakan shalat dia telah melaksanakan gerakan yang didesain langsung oleh Allah. 

Gerakan shalat merepresentasikan gerak melingkat 360 derajat. Berdiri-ruku-berdiri (90 derajat), berdiri-sujud (180 Derajat), sujud-duduk-sujud (90 derajat). Gerakan shalat 360 derajat sama dengan gerakan tawaf, gerakan ibadah mengelilingi Ka'bah. Gerakan shalat 360 derajat sama dengan gerakan bumi mengelilingi matahari. Gerakan shalat 360 derajat sama dengan gerakan semesta alam hingga membentuk galaksi. 

Setiap hari manusia bergerak tidak lepas dari gerakan melingkar 360 derajat. Setiap hari, dari rumah pergi ke kantor, pasar, dan kembali ke rumah. Setiap hari makanan masuk ke dalam perut kemudian dikeluarkan. Oksigen dihirup kemudian dikeluarkan lagi, dihirup lagi. Aliran listrik, pergerakan mesin dalam kendaraan, semua dibangun dengan sistem perputaran 360 derajat. Shalat adalah prinsip dasar dalam kehidupan alam semesta. 

Irama gerakan semesta adalah gerak melingkar 360 derajat. Semua makhluk yang diciptakan Tuhan, diciptakan dalam gerakan melingkar 360 derajat. Sesungguhnya menjaga gerakan melingkar yang paling berat adalah gerakan-gerakan melingkar yang telah ditetapkan Tuhan, dan gerakan shalat adalah gerakan melingkar yang harus dibangun dengan kesadaran sebagai gerakan ketundukkan dan kepatuhan kepada Tuhan. 

Shalat yang ditentukan Allah sebanyak lima kali dalam sehari, seperti lonceng-lonceng peringatan agar manusia kembali patuh dengan membangun kesadaran sebagai makhluk Tuhan dengan gerakan 360 derajat sebagai siklus dasar kehidupan. Siklus manusia diciptakan Allah dan kembali kepada Allah.

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Hadiid, 57:3)

Mengapa gerakan shalat yang terlihat ringan, pada kenyataannya banyak yang lalai melaksanakannya. Manusia diciptakan sempurna dengan dua kekuatan yaitu fujur dan takwa. Kekuatan fujur mengikuti hawa nafsu dan kekuatan takwa dikendalikan kesadaran. Kekuatan fujur adalah kekuatan destruktif dan kekuatan takwa adalah kekuatan pemelihara. Menjaga keseimbangan antara kekuatan destruktif dengan kekuatan pemelihara inilah yang harus terus dijaga manusia agar manusia tetap berada di dalam garis edar seperti bumi beredar pada porosnya mengambang berputar di angkasa. Jika bumi kehilangan keseimbangan maka bumi akan keluar dari garis edarnya dan mengalami kehancuran. 

Demikian juga manusia, jika tidak bisa memelihara keseimbangan maka manusia akan keluar dari garis edarnya. Shalat adalah penjaga keseimbangan garis edar manusia. Kekuatan hawa nafsu yang destruktif merupakan sifat dunia materi. Setiap hari manusia hidup dalam ruang dan waktu yang material. Untuk bisa keluar dari pengaruh dunia material, manusia membutuhkan pengetahuan dan Allah memberi great knowledge berupa wahyu sebagai petunjuk bagi orang-orang beriman. Shalat adalah great knowledge yang harus terus diperkaya pemahamannya sebagai kekayaan intelektual manusia. 

Mendirikan shalat yang terdiri dari ruku dan sujud, adalah sesuatu yang berat karena sifat fujur adalah kekuatan yang cenderung sombong dan tidak mau bersujud. Sifat fujur pada diri manusia ini yang sering mendapat penguatan dari faktor lingkungan. 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Al Baqarah, 2:34).

Sujud adalah sebuah ketundukkan, kepasrahan, kerendahan diri makhluk, sebagai sebuah tindakan dari sifat ketakwaan makhluk kepada Allah. Kesombongan sering menjadi penghalang manusia untuk bersujud mengerjakan shalat, sehingga manusia cenderung merasa berat untuk bersujud. 

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (Al Baqarah, 2:45). 

Shalat menjadi hal yang ringan bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu orang-orang yang selalu fokus meminta pertolongan kepada Allah. Orang-orang yang menjaga ruku dan sujud adalah mereka yang selalu didampingi oleh Allah, diringankan bebannya dalam segala kondisi. 

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah, 2:153).***




Saturday, July 30, 2022

SETIAP ORANG ADA KARAKTER FIR'AUNNYA

Oleh: Muhammad Plato

Setiap orang ada Fir'aunnya. Kisah Fir'aun yang dikabarkan dalam Al Quran bukan hanya sebagai sosok manusia yang pernah hidup di muka bumi, tetapi sebagai karakter manusia. Allah menjelaskan secara nyata dengan memberi contoh kisah bagaimana sifat fujur (buruk) yang ada pada manusia. Salah satunya manusi berkarakter Fir'aun. 

Karakter Fir'aun selalu ada pada setiap diri manusia. Jadi Fir'aun bukan menceritakan prilaku manusia zaman dahulu kala, tetapi sedang menceritakan karakter manusia yang hidup sekarang termasuk saya dan anda. Jadi ketika Al Quran berbicara tentang Fir'aun, Al Quran sedang berbicara tentang saya dan anda.

Apa sesungguhnya karakter Fir'aun yang pasti ada pada setiap manusia? Karakter Fir'aun yang pasti ada adalah egois. Sifat-sifat yang menjadi ciri sebagai seorang individu. Kisah Fir'aun dalam Al Quran mengabarkan sebuah kisah bagaimana sifat keegoan manusia yang melampaui batas kewajaran. Maka dikatakan dalam Al Qur'an, Fir'aun adalah manusia berdosa karena melampaui batas.

Dalam diri setiap orang ada karakter Fir'aunnya, maka
Allah memimpin manusia supaya takut kepada-Nya

"Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," (An Naazi'aat, 79:17). 

Kisah tentang Fir'aun bukan berarti hanya terjadi sekali di masa lalu. Secara historis fakta kisah Fir'aun hanya terjadi sekali di masa lalu, namun secara generalis kisah Fir'aun akan berulang sampai akhir zaman. Karakter Fir'aun yang akan berulang dalam setiap rezim atau zaman yaitu karakter berkuasa hingga menghilangkan kekuasaan Tuhan. Dalam setiap zaman selalu pasti ada manusia-manusia yang berperan sebagai Fir'aun dengan gonta-ganti nama tokoh.

Inilah karakter Fir'aun yang ada pada diri manusia dalam kehidupan keluarga maupun negara. "Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang. Maka dia mengumpulkan lalu berseru memanggil kaumnya. berkata: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi". (An Nazaazi'aat, 22-24).

Sifat merendahkan orang lain, merasa benar, merasa berkuasa, ada pada setiap diri manusia. Perkelahian, pertengkaran, perselisihan, kedengkian, kebencian, bersumber pada karakter Fir'aun yang dominan muncul pada diri seseorang. Kisah Fir'aun menggambarkan bagaimana egoisme manusia yang telah melampaui batas hingga merasa dirinya sebagai Tuhan sebagai penentu segala kehidupan manusia. 

Untuk itu setiap zaman selalu ada manusia-manusia yang akan mengingatkan setiap orang untuk menyampaikan pengajaran-pengajaran agar manusia menyucikan diri dari sifat-sifat Fir'aun. "dan katakanlah: "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar." (An Naazi'aat, 79:18-20). 

Proses penyucian jiwa untuk meredam karakter Fir'aun dalam diri manusia adalah dengan beriman dan mempelajajari ayat-ayat Allah, menemukan kebenaran dan beserah diri kepada Allah dengan rasa takut melalui shalat dan sedekah. Wallahu'alam.***


Monday, May 16, 2022

Al Quran Surah Al 'Alaq, Pesan Sepanjang Zaman

Oleh: Muhammad Plato

Surat Al 'Alaq dikenal oleh umat Islam sebagai surat pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW. Surat ini diterima oleh Nabi Muhammad di Gua Hiro dekat dari kota Mekah. Sekalipun umat Islam mengetahui wahyu pertama turun dimulai dari kata bacalah, saat ini umat Islam sedang mulai sadar kembali untuk mulai lagi membaca. Beberapa tahun ke depan akan muncul lagi ilmuwan-ilmuwan muslim terkemuka di dunia.

Kesadaran umat Islam untuk membaca sedang menggeliat. Di Indonesia ribuan buku per tahun sudah diterbitkan. Pengajaran-pengajaran menulis buku di sekolah-sekolah terus digalakan. Kepala sekolah, guru, siswa, bersama-sama menulis buku. Buku karya kepala sekolah, guru, dan siswa sudah mulai tersebar di mana-mana.

Namun ada pesan  dari surat Al 'Alaq yang jarang diungkap. Terbatasya para pembaca dan peneliti Al-Qur'an membuat Al-Qur'an tertidur. Terbatasnya metode membaca Al-Qur'an membuat umat manusia kewalahan menghadapi perubahan zaman. Kini saatnya, Al-Qur'an menjiwai zaman. Paradgima baru memungkinkan kandungan isi Al-Qur'an diungkap membuktikan kebenaran-kebenarannya.   

Sekarang berbagai kajian Al-Qur'an mulai banyak bermunculan. Para ilmuwan dari berbagai kalangan sudah melirik Al-Qur'an sebagai sumber pengetahuan. Al-Qur'an menjadi sumber gagasan untuk mengembangkan berbagai ilmu terapan untuk membantu mensejahterakan hidup manusia yang tetap berkeyakinan pada Tuhan Yang Esa. Pemahaman Al-Qur'an tidak lagi menjadi hak monopoli  sekelompok atau lembaga tertentu.

Pesan untuk membaca atas nama Allah mengandung banyak arti. Salah satunya dalam membaca zaman, manusia tidak boleh lepas dari keyakinan bahwa semua yang terjadi dan direkayasa manusia pada awalnya diciptakan olah Allah. Manusia tidak punya hak untuk mengklaim bahwa dirinya mencitptakan berbagai macam teknologi, karena semua hanya mengotak-atik hukum dan benda-benda yang pada awalnya sudah diciptakan Allah. Manusia hanya memanfaatkan hukum dan benda-benda yang sudah ada.

Langit, matahari, bumi, bulan, air, udara, tanah, virus, atom, gelombang, semuanya sudah ada. Kita hidup hanya memanfaatkan fasilitas yang sebelum kita lahir sudah ada. Perintah membaca atas nama Allah membawa pesan, manusia jangan terjebak oleh keadaan alam materi. Berbagai macam teknologi berhasil direkayasa jangan sampai menggeser keyakinan manusia pada Allah sebagai pencipta. Apa yang kita pelajari dan ketahui mengikuti apa yang Allah ajarkan kepada manusia. 

"Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Al 'Alaq, 96:5).

Manusia dengan kekuatan akalnya kadang melampuai batas, karena merasa diri sebagai pencipta dan merasa menjadi penguasa. Kisah Fir'aun dikabarkan sebagai kisah bagaimana manusia meampuai batas kewenangannya sebagai hamba Allah. Qorun dikabarkan sebagai manusia berilmu yang melampaui batas, karena merasa diri sebagai pemilik ilmu pengetahuan. Prilaku manusia seperti Fir'aun dan Qorun akan terus terulang sepanjang zaman.

"Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al 'Alaq, 96:6-7).

Kemajuan teknologi, kesejahteraan hidup, dapat melalaikan manusia dari Allah sebagai pencipta dan penyejahtera. Pesan Allah dalam surat Al 'Alaq jangan tertipu dan jangan terperdaya oleh keidupan alam materi. Sehebat apapun kemajuan teknologi dan berapapun kesejehteraan manusia bisa diusahakan ketaatan harus tetap kepada Allah. 

Manusia harus punya kemampuan akal dengan berpikir analisis untuk membedakan apakah dirinya selama ini taat kepada Allah atau kepada selain Allah. Menusia sepanjang zaman harus tetap berdialog dengan dirinya, apakah selama ini dirinya masih taat kepada Allah? Allah dalam surat Al 'Alaq mengajak manusia dari zaman ke zaman untuk terus berdialog. 

"Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?" (Al 'Ala'q, 96: 9-13).

Tidakkah kita berpikir? Terkadang kita berbuat baik bukan karena atas nama Allah, tapi karena melihat kebaikan manusia yang memerintahkannya. Tidakkah kita berpikir? Terkadang kita menolak untuk berbuat baik karena melihat siapa yang memerintahkannya. Tidakkah kita berpikir? Kita selalu terjebak merasa telah melakukan kebaikan, tidak melihat kebaikannya, melainkan karena lebih percaya kepada orang yang memerintahkannya.

Setiap orang harus punya kemampuan menganalisis berbagai informasi, apakah yang diperintahkan orang itu berada di atas kebaikan yang diperintahkan Allah? Sebaliknya kita harus mampu menganalsis, apakah yang diperintahkan orang itu bertentangan dengan perintah Allah. Jangan terjebak dengan melihat siapa orang yang memerintahkannya. Jangan karena terlalu melihat orang kita menjadi terjebak taat pada orang bukan pada Allah. Maka lihatlah pada surat Al 'Alaq di surat terakhir. Pesan yang akan berlaku sepanjang zaman. 

"sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya (manusia); dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)", (Al 'Alaq, 96:19).     

Bukan berarti kita tidak boeh meghargai atau mengabaikan peringatan manusia, tapi berhati-hatilah dan jangan sampai melampaui batas. Maka, ada kalanya, sesekali, kita harus selektif, dan harus bisa membaca membedakan atas nama Allah mana kebaikan dan mana keburukan, agar hati dan pikiran kita tetap taat kepada Allah.

KH. Zainudin MZ almarhum sering menyampaikan perumpamaan ini, "kita harus bisa membedakan mana telur dan mana kotoran ayam. Sekalipun telur dan kotoran sama-sama keluar dari dubur ayam, tentu kita harus bisa memilah mana yang menyehatkan tubuh dan mana yang menyebabkan penyakit. Telur sekalipun keluar dari dubur ayam bisa kita ambil, tapi sekalipun keluar dari mulut orang suci tapi itu kotoran jangan diikuti. Berusahalan taat kepada Allah dengan segenap hati dan akal. 

Maka kembali ke pesan abadi di awal ayat pertama surat Al 'Alaq ayat 1 turun, "bacalah atas nama Tuhan mu yang menciptakan". Dan bukan kebetulan surat Al 'Alaq itu jumlah seluruh ayatnya 19. KH. Fami Basya mengatakan 19 adalah jumlah huruf arab dari bismillah. Bisa jadi membaca adalah aplikasi dari kata bismillah. Wallahu'alam***    


Monday, August 23, 2021

SAKSI MUHAMMAD UTUSAN ALLAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sudah 30 tahun lamanya tidak jumpa kawan semasa SMA, ketika bertemu diskusi tak terasa sampai menjelang pagi. Diskusi-diskusi menarik sekitar masalah kehidupan pribadi, keluarga, dan bangsa. Namun diskusi lebih banyak tentang masalah pribadi yang berkaitan dengan pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya jarang didiskusikan karena tabu. Saya mengingatkan kawan-kawan bahwa usia kita sudah kepala empat hampir masuk umur 50. Sudah saatnya kita bertanya mencari pengetahuan tentang hakikat kehidupan.

Diskusi pun berlangsung hangat ditemani kopi dan mie baso buatan istri.  Pertanyaan-pertanyaan nyeleneh pun bermunculan. Apakah benar Nabi Muhammad itu ada, dan apakah Nabi Muhammad itu utusan? Pertanyaan itu pernah ditanyakan pada ustad, lalu dijawab oleh ustad dengan jawaban yang tidak memuaskan dengan menyuruhnya kembali bersyahadat.

Baiklah saya akan membantu saudara kita yang memiliki pertanyaana seperti ini. Saya tidak marah dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, karena saya merasa bahwa mereka butuh jawaban dan yang ditanya harus memberi jawaban untuk menolong mereka yang punya pertanyaan.

Saksi Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah adalah Allah. Ketika Nabi Muhammad bertemu dengan malaikat Jibril di Gua Hira tidak ada saksi manusia. Kejadian bertemunya Nabi Muhammad dengan Malaikat Jibril, saksinya adalah Allah swt. Maka dari itu Allah sebagai saksi kerasulan Nabi Muhammad SAW memiliki kekuatan yang tak terbantahkan.

Berbeda jika saksi kerasulan seorang nabi saksinya manusia. Derajat kerasulan seorang nabi dengan kesaksian manusia kebenarannya tidak 100 persen, karena ada faktor yang membuat kesaksian manusia tidak dapat dikatakan 100 persen benar, yaitu posisi manusia yang punya potensi salah dan benar. Jadi kesaksian manusia tentang kerasulan sebagai syarat kerasulan tidak memiliki derajat kesaksian yang kuat, artinya masih bisa terbantahkan karena kesaksian manusia bisa kemungkinan salah.

Lalu apa buktinya bahwa kerasulan Nabi Muhammad saksinya Allah swt. Allah kan tidak terlihat, tidak bicara langsung seperti manusia, tidak menulis kitab sejarah seperti manusia? Bagaimana membuktikannya bahwa Allah telah menjadi saksi kerasulan Nabi Muhammad? Untuk membuktikan bahwa Nabi Muhammad sebagai rasul saksinya Allah, kita dapat mengecek kebenaran kitab suci A-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad sebagai utusan.

Di dalam Al-Qur’an dikatan bahwa orang-orang menganggap Nabi Muhammad saw tidak sehat akal, karena mengatakan sesuatu kebenaran tetapi tidak memiliki saksi manusia seorang pun. Kejadian ini terekam di dalam ayat Al-Qur’an.

“sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar firman utusan yang mulia”. (At takwir, 81:19). Melalui ayat ini Allah menegaskan Allah menjadi saksi bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar firman yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad saw.

Selanjutnya Allah menjelaskan lagi, “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila”. (A takwir, 81:22). Ayat ini menegakan Allah menjadi saksi bahwa apa yang disampaikan Nabi Muhammad saw adalah kebenaran dari Allah.

“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang”. (At Takwir, 81:23). Ayat ini menegaskan lagi bahwa Allah menjadi saksi pertemuan antara Nabi Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril.

Sekanjutnya kesaksian Allah dipertgas lagi, “Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang gaib. Dan apa yang dikatakan Muhammad (Al Qur'an) itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk,” (At takwir, 81:24:25).

Jadi kenabian nabi Muhammad SAW sebagai Rasul saksinya bukan manusia tapi langsung Allah swt, dan kesaksian itu tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an, kemudian Allah juga menegaskan bahwa wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad bukan perkataan setan. Artinya Allah ingin menegaskan bahwa wahyu Al-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad adalah juga kebenaran dari Allah.

Lalu untuk menujukkan eksistensi-Nya, Allah menantang atau mengingatkan manusia dengan bersumpah, “Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing,” (At takwir, 81:15-18). Sumpah Allah ini ditujukan untuk orang-orang yang ingin membuktikan eksitensi Allah, mereka diminta untuk memperhatikan bagaimana pergerakan bintang-bintang dengan keteraturan dan fenomena-fenomenanya.

sesungguhnya perkataan Muhammad (Al Qur'an) benar-benar firman Allah dari utusan yang mulia (Jibril), (At Takwir, 81:19). Jadi berdasarkan ayat ini, Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad adalah firman Allah. Untuk itu jika ingin membuktikan kebenaran bahwa Allah yang menjadi saksi kenabian Nabi Muhammad, maka Allah mempersilahkan kepada seluruh manusia untuk menguji dan membuktikan kebenaran-kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an dengan memperhatikan alam semesta ciptaan-Nya.

Saya berpikir, sejak saya dilahirkan matahari, bulan, gunung, laut, udara, air, api, sudah ada. Fasilitas hidup ini saya gunakan setiap hari, tanpa tahu asal-usulnya dari mana. Teralu berat dan rumit untuk otak saya harus mencari tahu sendiri siapa yang menyediakan fasilitas ini semua. Beruntung ada firman Allah berisi informasi, pengetahuan, yang dibawa Nabi Muhammad, SAW sehingga saya bisa mengungkap dan menemukan jawaban-jawaban untuk membuktikan kebenaran. Wallahu’alam.  

Sunday, August 22, 2021

DUA JALAN MENUJU ALLAH

OLEH: MUHMMAD PLATO

Berjumpa dengan kawan-kawan lama di sekolah, menjadi ruang diskusi yang bukan lagi untuk mengenang masa-masa lalu di sekolah. Bertemu dengan kawan lama di sekolah untuk saling bertukar pikiran setelah sekian lama hidup umur bertambah dan jatah berkurang. Diksusi yang harus dibuka setiap bertemu kawan lama adalah menyangkut realitas hidup yang harus terkendali untuk selamat sampai tujuan.

Lain jalan hidup lain cerita, beruntunglah bagi orang-orang yang punya kebiasaan berpikir, membaca kenyataan-kenyataan hidup dan selalu mengajak berdialog dengan sesama. Tidak ada jalan baik dan buruk, karena semua orang ditempa dengan jalannya masing-masing untuk menemukan Tuhannya. Hidup ini dua jalan bukan jalan baik dan buruk menurut persepsi kita, tapi jalan pendek dan jalan panjang.

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Maka tidakkah sebaiknya  ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?. (Al Balad, 80:10-11)

Jalan pendek adalah jalan-jalan sempit ke sebelah kanan yang terjal namun cepat sampai tujuan. Jalan panjang adalah jalan-jalan lebar tapi penuh dengan hambatan hingga lama untuk sampai tujuan. Tujuan semua manusia adalah kembali kepada Tuhan Yang Esa.

“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (Al Insyiqaaq, 84:6).

Jadi tidak ada satupun manusia yang tidak akan kembali kepada Tuhannya. Apa pun yang dilakukan manusia, semuanya sedang bekerja keras berjalan menuju Tuhannya. Perbedaannya adalah ada yang bekerja keras menempuh jalan pendek menuju Tuhannya, ada yang bekerja keras menempuh jalan pajang menuju Tuhannya.

Orang-orang yang menempuh jalan pendek adalah mereka yang mengikuti segala bimbingan Tuhan melalui para Rasul dan kitab yang ditinggalkannya. Orang-orang yang menempuh jalan panjang adalah mereka yang membuat jalan sendiri, mereka memikirkannya, memetakannya, dan mereka merasa mampu menemukannya dengan kemampuan akal yang dimilikinya tanpa bantuan Tuhan.

Orang-orang yang menempuh jalan pendek dan terjal, mereka mampu merasakan kesenangan jiwa dalam kesempitan dan terbatas, setelah itu mereka akan sampai pada suatu tempat yang penuh kesenangan dan keleluasaan tanpa batas hingga akhirnya bertemu Tuhan. Bagi orang-orang yang menempuh jalan panjang mereka merasakan kesenangan dalam keleluasaan, setelah itu mereka akan menempuh jalan sukar yang penuh semak belukar yaitu suatu proses penyucian jiwa yang panjang, sebelum kembali kepada Tuhannya. Sementara itu, orang-orang yang mengambil jalan pendek sudah sampai pada suatu tempat menyenangkan dan penuh kenikmatan sambil menunggu kembali kepada Tuhannya.

Semua manusia diciptakan dari ruh Tuhan dan ruh itu akan kembali kepada Tuhan. Mereka yang melalui jalan pendek terjal dan mendaki akan cepat bertemu dengan Tuhannya, dan mereka yang menempuh jalan panjang akan lama bertemu dengan Tuhannya. Mereka yang memilih jalan panjang, setelah menikmati kesenangan mereka akan bertemu dengan kesulitan sebelum bertemu Tuhannya, dan mereka yang memilih jalan pendek setelah mendaki jalan yang terjal penuh kesulitan, akan bertemu kesenangan hinnga kembali kepada Tuhannya.

Kitab suci (Al-Qur’an) yang diturunkan pada Para Nabi isinya adalah kabar berita, yang menjelaskan bagaimana manusia-manusia berjalan pada kedua jalan yang disediakan Allah. Maka manusia diberi ruh atau kemampuan kreatif oleh Allah untuk memilih jalan mana yang hendak ditempuh, apakah jalan pendek atau jalan pandang. Dan orang-orang yang berakal sehat akan memilih jalan-jalan pendek yang mendaki dan terjal agar cepat sampai tujuan.

Lalu apakah jalan mendaki dan terjal itu? “melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Mereka adalah golongan kanan”. (Al Balad, 90: 13-18). Inilah jalan-jalan yang ditempuh oleh orang-orang berakal sehat. Wallahu’alam.

Sunday, August 8, 2021

ALLAH ADA DALAM KESADARAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kawan-kawan ada cerita menarik untuk disimak bagi siapa saya yang ingin dekat dengan Tuhan. Di media sosial banyak orang-orang baik saling membantu antar sesama. Saya suka sekali melihat mereka saling tolong menolong, dan hati ini terasa mengembang menyaksikannya. Saya melihat mereka yang berbuat baik, tidak melihat latar belakang agamanya, karena pakaiannya biasa-biasa saja tidak mencirikan seorang penganut agama tertentu. Dan saya juga tidak tahu apakah mereka membantu sesama manusia atas nama Tuhan, atau karena empati saja pada penderitaan orang lain atas dasar kemanusiaan.

Mungkin kawan-kawan berpikir, untuk berbuat baik, tidak perlu bawa-bawa Tuhan. Tapi Tuhan itu ada dan menciptakan kita, mengapa kita tidak boleh bawa-bawa Tuhan dalam kehidupan kita? Masalah ini dari masa ke masa, dari generasi ke generasi terus jadi perbincangan tidak ada ujungnya. Sampai akhir nanti hal ini jadi perbincangan antar sesama manusia.

Di media sosial saya tonton ada orang mati suri, menceritakan pengalamannya ditayangkan di stasiun televisi nasional. Bagi saya, orang yang punya pengetahuan dari kitab suci, cerita pengalaman orang mati suri itu sama dengan cerita isi kitab suci. Semua ceritanya seperti apa yang diceritakan dalam kitab suci, bahwa setiap orang akan diadili sesuai dengan perbuatannya di dunia. Teman setianya seseorang kelak adalah perbuatan-perbuatan baik yang pernah dilakukannya di dunia.

Pengetahuan ini membuat rasa takut di hati, apakah kelak amal-amal baik saya bisa menemani hidup saya di alam akhirat, atau amal baik saya kalah sama amal buruk yang pernah saya lakukan? Pengetahuan ini membuat saya sadar diri untuk mengimbangi setiap perbuatan buruk dengan perbuatan baik. Tindakan yang saya lakukan berdasar pada kesadaran bahwa setelah kematian akan ada kehidupan dan pengadilan berdasar pengetahuan awal yang saya miliki dari kitab suci. Tanggapan tentang pengalaman mati suri akan berbeda jika pengetahuan awal yang dimiliki bukan dari kitab suci seperti mitos, tradisi, atau sains.

Pengetahuan awal yang kita miliki menentukan Tuhan itu ada atau tidak ada. Anak-anak yang dikeluarganya tidak diajarkan tentang keberadaan Tuhan, dia tidak akan mengenal Tuhan. Jadi, pada dasarnya Tuhan itu ada dalam pengetahuan, kemudian kesadaran dan menjadi tindakan. Untuk membangun kesadaran perlu kegiatan berulang-ulang. Maka dari itu tindakan ibadah ritual rutin setiap hari salah satu dampakanya adalah menghadirkan kesadaran adanya Tuhan setiap hari. Dalam agama Islam untuk membangun kesadaran dilakukan ritual shalat lima waktu dan dhuha 12 rakaat. Kegiatan ini bisa jadi program pendidikan bagi anak-anak yang muslim.

Fenomena kehidupan dunia yang material memang terus menggiring kita jadi makhluk material murni. Di Amerika sebagai contoh negara maju, sejak tahun 1960an nilai agama mulai memudar. Tahun 1986, seorang Provesor di New York University, Paul Vitz, meluncurkan buku mengungkap bahwa potret agama secara perlahan hilang dari konteks sekolah. Dalam buku teks sekolah kata kata Tuhan diedit dan hilang. Kata-kata syukur dengan ungkapan “thank God” diubah dengan “thank Goodnes”. (Lickona, 2019, hlm. 66). Survey anak-anak di Amerika dengan latar belakang agama berbeda mengatakan bahwa sesuatu yang buruk sudah jelas tidak boleh dilakukan karena itu merugikan orang lain. Kesadaran tidak melakukan hal buruk tidak mereka hubungkan dengan ajaran agama yang mereka anut, tetapi lebih kepada alasan rasional kemanusiaan.

Selanjutnya, di Amerika ada upaya memasukkan kembali agama pada pelajaran budaya Amerika dan Sejarah. Hukum-hukum dasar moral yang universal dapat diajarkan di sekolah seperti berlaku adil dan peduli sama sesama, dapat diajarkan secara religius kepada masyarakat beragama. (Lickona, 2019, hlm. 69). Kita tidak mengikuti Amerika, tetapi kesadaran tentang keberadaan Tuhan sudah kembali digalakan dan dirasakan kebutuhannya oleh masyarakat di dunia.

Allah berwujud tapi tidak dapat dilihat, Dia berbicara tetapi kita tidak mendengarnya. Tuhan ada dalam kesadaran manusia. Jika kita berdo’a kepada Tuhan, maka hanya dengan kesadaran bahwa Tuhan mengabulkan doa kita. Untuk membangun kesadaran adanya Tuhan dibutuhkan pengetahuan (knowing), pembuktian (feeling), dan tindakan (action). Setelah mengetahui tidak mungkin memiliki perasaan jika tidak pernah membuktikan.

Tuhan ada dan menetapkan hukumnya bahwa setiap kebaikan akan berbalas kebaikan dan setiap perbuatan buruk akan berbalas keburukan. “Jika kamu berbuat baik  kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,” (Al Israa, 17:7).

Jika kita mengetahui ketentuan ini dari Tuhan, maka manusia harus membuktikan, bagaimana kebaikan-kebaikan yang kita lakukan berbalas dengan kebaikan. Untuk membuktikannya dibutuhkan upaya pembuktian dengan melakukannya. Saya menyarankan untuk proses pembuktian melakukan eksperimen kebaikan. Dilakukan secara berjangka tiga bulan atau enam bulan. Setiap kebaikan dicatat dan dirasasakan dampaknya, kemudian dicatat dengan mencantumkan jam, hari, dan tanggal. Pengalaman-pengalaman dari hasil pembuktian akan membangun kesadaran kita bahwa Tuhan itu ada. Metode ini bisa diajarkan pada anak-anak sebagai pendidikan karakter dan penerapan nilai-nilai agama di rumah atau di keluaga. Allah ada dalam kesadaran. Selamat mencoba. Wallahu’alam. 

Saturday, July 31, 2021

WHAT, MELIHAT TUHAN?

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ingin melihat Tuhan pernah di minta oleh seorang Nabi yaitu Musa a.s. Lalu apa yang terjadi? Nabi Musa pingsan tidak sadarkan diri karena melihat gunung hancur luluh lantak ketika Tuhan menampakkan dirinya pada gunung. Setelah bangun kembali sadar, Musa a.s bertobat dan beriman. Cerita ini dikisahkan di dalam Al-Qur’an.

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".” (Al A’raaf, 7:143)

Sungguh Al-Qur’an adalah kitab berisi pengajaran dan peringatan. Fenomena Nabi Musa terus berulang sepanjang masa, dimana saat ini ada orang yang kurang pengetahuan, menantang kepada orang-orang Islam untuk membuktikan bagaimana wujud Tuhan yang disembahnya, sebab dia merasa bahwa tuhan yang disembahnya bisa dilihat. Dengan arogan tantangan ini disertai imbalan hadiah satu miliar. Tantangan ini persis seperti prilaku orang-orang kafir terdahulu yang meminta kepada Nabi-Nabinya untuk bisa melihat Tuhan.

Bagi muslim yang memahami bagaimana sifat Tuhan, tantangan ini tidak perlu mendapat tanggapan serius. Namun Allah menghadirkan orang-orang cerdas untuk membalikkan tantangan itu dengan tantangan untuk membuktikan bahwa wajah tuhan yang disembahnya benar-benar wajah tuhan yang asli dengan imbalan 100 miliar.

Dua tantang-menantang ini memang sudah dapat dipastikan jawabannya, Tuhan tidak mungkin dilihat, dan wajah Tuhan tidak mungkin dapat dibuktikan. Namun dua tantangan ini berbeda, yang satu datang dari orang kafir (tertutup) dari kebenaran, dan yang satu dari orang-orang beriman yang ingin mempertebal keimanannya.

Melihat dan melukiskan Tuhan dalam wujud yang tampak secara materil adalah kekafiran (kebodohan, kejahiliyahan, atau ksesesatan). Kemustahilan Tuhan dapat menampakkan diri pada manusia sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an dalam kisah Nabi Musa a.s.  Dalam kisah tersebut Allah mengajarkan bahwa manusia-manusia yang ingin melihat wujud Tuhan, dia mengikuti hasrat kekafiran dan termasuk dosa besar. Untuk itu, dikisahkan setelah Nabi Musa a.s melihat gunung hancur, kemudian jatuh pingsan dan setelah sadar dia bertasbih dan bertobat lalu menyatakan keimanannya. Pertanyaannya, “mengapa Nabi Musa bertobat?” Karena meminta Tuhan untuk menampakkan diri adalah pelecehan terhadap Tuhan. Meminta Tuhan untuk menampakkan dari adalah merendahkan dan mengingkari segala ciptaan Tuhan.

Meminta Tuhan menampakkan diri adalah kedunguan. Bagaimana tidak dungu? Matahari, gunung, laut, udara, api, angin, tanah, bahkan keberadaan dirinya tidakkah menjadikan bukti keberadaan Tuhan? kebodohan itu lahir karena keterbatasan ruang dan waktu yang bisa dijelajahi secara fisik oleh manusia. Maka Allah memerintahkan manusia berulang-ulang untuk berpikir, menjelajahi ruang dan waktu agar bisa membuktikan betapa tidak terbatasnya ruang dan waktu yang diciptakan Allah, dan betapa terbatasnya pengetahuan ruang dan waktu yang bisa dijelajahi manusia di alam semesta ini. Luas bumi yang dihuni manusia ternyata ukuran besarnya tidak menyerupai sebutir debupun, lalu sebesar apa ukuran manusia ini? Lalu makhuk super super kecil dan sangat sangat lemah ini, betapa sombongnya mau melihat Tuhan di dunia ini. Itulah kiranya mengapa pada akhirnya Nabi Musa bertobat dan memutuskan cukup beriman saja kepada Tuhan Yang Esa. Untuk itu kejahatan yang dahsyat bagi manusia jika mematerilkan Tuhan dengan mengatakan beranak dan beribu.

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: "Allah beranak". Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.” (Ash Shaaffaat, 37:152).

Sangat-sangat tidak berakal sehat jika ada orang mengaku bertemu dan melihat wajah Allah di dunia ini. Dapat dipastikan orang-orang itu pembawa berita hoak dan pembohong besar. Tidakkah engkau mengambil pelajaran dari ayat-ayat Al-Qur’an yang terang? Wallahu’alam 

Friday, July 30, 2021

MELAHIRKAN PEMIKIR SESUAI ZAMANNYA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sejak meninggalanya Nabi Muhammad SAW, peradaban Islam terus berkembang mencapai puncaknya pada abad ke 8-9 Masehi. Ulama, pemikir, dan ilmuwan kelas dunia lahir mewarnai khasanah berpikir. Ilmu dan sains berkembang pesat. Pada saat itu Barat sedang berada dalam abad kegelapan akibat terlalu kuatnya kekuasaan dan doktrin Gereja. Kebebasan berpikir dibatasi dengan ancaman penjara. Cara pemahaman agama yang terlalu dominan pada pemuka-pemuka agama telah melahirkan tuhan-tuhan selain Allah yang harus ditaati manusia. Agama tidak murni lagi diajarkan untuk menyucikan diri dari perbuatan dosa, melainkan untuk mempertahankan kekuasaan, kehormatan, kelembagaan, dan kekayaan. Ayat-ayat Tuhan bisa dipesan dan dikondisikan agar bisa terlihat masuk akal dan membenarkan ajaran yang sebenarnya bukan dari Tuhan.

Waktu berputar, peradaban Islam mulai memudar mengalami kemunduran akibat perebutan kekuasaan. Kasusnya sama seperti peradaban Barat berada di masa kegelapan. Perebutan kekuasaan telah membawa agama pada kotak-kotak  dukung mendukung kekuasaan. Saling hujat dan saling menjatuhkan didasari fatwa-fatwa agama semakin menambah kuat hasrat permusuhan. Bunuh membunuh antar pendukung menjadi perang suci antar agama yang terlihat tidak suci.

Hasrat bermusuhan itu diturunkan dari generasi ke generasi dengan doktrin-doktrin agama dari penafsir tunggal nenek moyang yang semakin perkasa. Tidak ada yang berani membantahnya karena penjaga-penjaganya sangat bengis dan akan menghukum bagi siapa saja yang berani menentangnya. Jumlah umat bertambah tetapi tidak bisa melahirkan pemikir-pemikir besar, semua harus takluk di hadapan panfasir tunggal warisan nenek moyang yang perkasa yang sudah dipertuhankan.

Memahami agama berbeda dengan memahami ilmu-ilmu alam. Dalam ilmu alam ketika mengemukakan pendapat harus didukung oleh teori-teori terdahulu. Teori-teori itu ada penemunya dan dianggap pemiliknya. Tanpa dukungan teori pendapat yang dikemukakan tidak memiliki kekuatan. Demikian juga teori yang dikembangkan tanpa dukungan teori-teori sebelumnya juga diragukan.

Ajaran agama Islam harus dipahami dari sumbernya, yaitu kitab suci Al-Qur’an dan hadis yang tidak bertentangan dengan kitab suci Al-Qur’an. Para penfasir, penerjemah, ahli pikir, guru, ustad, kiai, ulama (saintis) adalah para penemu makna, nilai, dan hukum dalam beragama, tetapi tidak menjadi  pemilik makna, nilai, hukum yang ditemukan. Perbedaan makna, nilai, dan hukum dalam beragama adalah kekayaan yang harus dimiiki bersama bukan untuk saling klaim mengadu kebenaran. Tapi sebagai khasanah pembuka jalan menuju kebenaran bagi siapa yang dapat menerimanya sesuai dengan kemampuan akalnya.

Umat beragama ibarat konsumen di pasar, mereka punya kebutuhan dan keinginan sesuai dengan kebutuhan dan kesenangannya masing masing. Di pasar ada kesepakatan bersama yang mengatur agar para penjual dan pembeli saling jujur. Penjual harus jujur menjelaskan barang yang dijualnya sesuai kondisi barang. Para pembeli harus jujur membeli barang dengan uang legal senilai dengan harga barang yang dibelinya. Para penjual dan pembeli tidak saling memaksa, tidak saling menghujat, transaksi dilakukan dengan kejujuran dan keikhlasan. Demikian juga antar penjual tidak saling hujat dan menjelek-jelekkan barang dagangannya, malah saling mempromosikan jika barang jualannya berbeda. Inilah khasanah kehidupan para pedagang yang diberkahi Allah.

Penganut agama Islam dengan jumlah satu miliar lebih harus diberi kebebasan untuk menemukan atau memilih mana kahasanah agama Islam yang diminatinya sesuai kemampuan. Dengan misi suci agama Islam menjamin kesejahteraan dan perdamaian dunia adalah kode kuat dari Al-Qur’an untuk umat manusia. Apa pun yang diciptakan hendaknya tidak keluar dari misi utama Al-Qur’an diturunkan. Setiap 100 tahun akan ada perbaikan terhadap kualitas umat manusia, dan hendaknya umat beragama (Islam) mulai membuka ruang berpikir dan menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar rujukan utama dalam melahirkan pemikir-pemikir kelas dunia. Tidak ada satu orang ahli berpikir pun dihadapan Allah swt, karena Allah swt tidak melihat keahlian berpikir seseorang tetapi melihat kesucian hati dan kebermanfaatannya dari hasil sekecil apapun hasil berpikir.

“karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (Abasa, 80, 2-4)    

Sikap curiga, iri, dengki, saling hujat, saling salahkan, dan menebar kebencian akan hilang jika ajaran agama benar-benar dihayati. Jika beragama masih memelihara sifat-sifat buruk dan tidak sadar mengatasnamakan agama, maka bisa jadi kita sesungguhnya tidak beragama. Hati kadang-kadang  tidak bisa membedakan mana kebaikan dan keburukan. Jika hati sudah benci maka tertutuplah semua kebaikan. Akal juga bisa membawa malapetaka karena bisa menghilangkan rasa. Saatnya hati dan akal bersinergi agar sama-sama bekerja menyelesaikan urusan dunia dan akhirat.

Tidakkah kita sadar bahwa setiap hari gunakan teknologi, mendapat kemudahan hidup dari karya-karya akal? Tidakkah kita melihat orang-orang kaya hasil dari akalnya, membiarkan orang-orang kelaparan karena tidak memiliki hati? Sebaliknya tidakkah kita melihat orang-orang yang memiliki hati mencurigai dan membenci orang-orang diluar kelompoknya? Allah menciptakan alam ini dengan sistem dan saling ketergantungan. Untuk itu hati dan akal tidak bisa dipisah-pisahkan. Jadi kegiatan berpikir bukan murni kegiatan akal tetapi sebuah kolaborasi akal dan hati. Pemikir-pemikir sejati, setiap pemikirannya akan menyucikan hati dan menjadi inspirasi bagi siapa saja yang membacanya. Pemikir sejati tidak pernah mengklaim pemilik kebenaran dari setiap hasil pemikirannya. Pemikir sejati merasa cukup Allah jadi saksi bahwa dirinya pernah berpikir dan mengajarkannya.

Abad informasi telah menuntut hati dan akal untuk bekerja lebih cerdas. Di abad informasi dibutuhkan lebih banyak pemikir yang mengkolaborasikan akal dengan hati, dan menjadikan kitab suci AL-Qur’an sebagai sumber pengetahuan (deduktif) bersanding dengan pengetahuan hasil pengamatan (induktif). Pengetahuan-pengetahuan dari kitab suci Al-Qur’an seyogyanya menjadi sebuah pedoman hidup yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari di mana saja bagi siapa saja. Lembaga-lembaga pendidikan harus melatih kemampuan berpikir, dan perguruan tinggi harus melahirkan pemikir-pemikir cerdas sesuai dengan zamannya. Wallahu’alam.

Sunday, July 18, 2021

AGAMA DI ERA AKAL SEHAT

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Amazing Allah swt. diskusi Dondy Tan, Ust Kainama, Host Ariesto dalam tayangan youtube Dondy Tan, https://www.youtube.com/watch?v=kE9LNV_A01M, tanggal  28 Juni 2021 tentang pembuktian kata Hira dalam Yesaya, 29:12, membuat saya berpikir. Argumentasi Ust. Dondy Tan dengan mengungkap arti kata Hira melalui penggunaan kata Hira oleh orang Yunani, dapat membuktikan bahwa kata Hira dalam Yesaya, 29:12 mengandung makna Hira merujuk ke Gua Hira. Ini adalah tanda-tanda bahwa kebenaran demi kebenaran akan terungkap dan Janji Allah adalah benar.

Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu. (Ar Ruum, 30:60).

Melihat gaya penjelasan agama oleh Ust. Dondy Tan dan Ust. Kainama, saya berpikir kita telah memasuki era baru dalam memahami agama. Tidak ada lagi tipu-tipu dengan ayat dalam beragama. Di era Industri 4.0, era society 5.0, informasi tentang kebenaran agama begitu telanjang. Orang-orang yang menjajakan keyakinan dan mengatasnamakan Tuhan, dapat di tracer, dianalisis, dan diverifikasi kebenarannya dengan menggunakan perbandingan kitab suci.

Al-Qur’an yang mengklaim dirinya sendiri sebagai kitab suci yang diturunkan dari Allah dan terpelihara, dengan dimulainya agama era akal sehat semakin mengukuhkan secara nyata bahwa Al-Qur’an memang diturunkan dari Allah Yang Suci dan terpelihara.

“sesungguhnya Al Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lohmahfuz), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam.” (Al Waqiah, 56:77-80)

Metode saling menguji kebenaran ayat-ayat dalam kitab suci melalui berbagai pendekatan, menjadi tanda telah dimulainya era akal sehat dalam memahami agama.  Di era akal sehat dakwah agama tidak lagi berjualan dongeng, gelak tawa, dan popularitas, tetapi agama akan banyak diajarkan dengan pendekatan-pendekatan yang masuk akal. Alat-alat bukti tentang kebenaran ajaran agama tersedia berjuta-juta informasi yang tersedia di internet.

Dimulainya era agama akal sehat seiring dengan terbukanya informasi dengan ditemukannya internet yang sering disebut dengan era informasi. Di era informasi pengetahuan bukan lagi milik orang-orang tertentu, tetapi sudah jadi milik semua orang. Sekolah, pesantren, kampus, bukan lagi mutlak sebagai tempat untuk menggali ilmu pengetahuan. Sekolah, pesantren, kampus, telah berubah menjadi Sekolah, pesantren, dan kampus universal. Dimanapun tempat adalah sekolah, dan seluruh makhluk adalah guru sebagaimana dikemukakan oleh Ridwal Kamil, merupakan pernyataan universal bahwa saat ini semua orang bisa belajar dan berpendidikan melalui internet.

Di era informasi semua orang bisa jadi guru, ustad, ulama, dan ilmuwan, tanpa harus berstatus siswa, mahasiswa, dan gelar pendidikan. Dengan berjuta-juta informasi yang tersedia di ineternet, semua orang bisa cerdas tanpa pendidikan formal. Kebenaran tidak lagi mutlak membutuhkan legitimasi kampus, atau gelar. Legitimasi kebenaran di era informasi adalah kemampuan berliterasi dan menggunakan akal sehat.

Era agama akal sehat adalah era pemahaman agama berdasarkan argumen-argumen dari kitab suci. Al-Qur’an dengan kebenaran-kebenaran yang nyata dan terus menerus terungkap semakin nyata,  akan membimbing seluruh umat manusia menuju kepada agama era akal sehat. Beragama dengan doktrin buta, manut pada satu guru, aliran, madzab, akan berakhir. Dengan akal sehat bersumber pada kitab suci, setiap orang akan mencari dan menemukan keyakinan dengan mengakses berbagai informasi yang tersedia di internet. Berjuta-juta Informasi dan pendapat yang berbeda-beda di internet akan semakin membuat orang semakin mandiri dan cerdas dalam menemukan dan memperkuat keyakinannya. Keyakinan beragama seseorang di era agama akal sehat, akan benar-benar bergantung pada kitab suci yang benar-benar datang otentik diturunkan dari Tuhan Semesta Alam.

Di era agama akal sehat, berbagai pendekatan kajian Al-Qur’an akan semakin beragam. Banyaknya pendekatan dalam kajian Al-Qur’an akan membuka peluang banyak orang menemukan kebenaran-kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an yang sesuai dengan kadar pengetahuannya. Untuk itu era akal sehat menjadi era kembalinya manusia kepada agama yang lurus, agama yang dibawa Nabi Ibrahim, dan agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW yaitu Islam. Fakta ini akan terbukti sebagaimana prediksi perkembangan keyakinan umat manusia didalam Al-Qur’an.

Berada dalam surga kenikmatan (Islam). Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. (Al Waqiah, 56: 12-14). “(Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian. (Al Waqiah, 56: 38-40).

Jika kita gabungkan secara berurut ayat-ayat dalam surat Al-Waqiah ini akan menggambarkan sebuah perkembangan zaman, seperti gelombang, “segolongan besar terdahulu—segolongan kecil kemudian, segolongan besar terdahulu, segolongan besar kemudian.” Dari informasi ini, kita bisa menafsir bahwa penganut agama yang lurus akan mengalami perkembangan pada awalnya besar, mengecil, kemudian membesar. Pada era informasi, era agama akal sehat sekarang ini, akan terjadi gelombang ketiga, yaitu golongan penganut agama yang lurus dalam jumlah besar.

 Inilah masa-masa ujung akhir zaman, ketika kita hubungkan dengan gelombang peradaban manusia dalam Al-Qur’an, sebuah peradaban dibinaskan---diteguhkan---binasakan. 

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (Al An ‘aam, 6:6).

Berdasarkan informasi di atas, penganut agama lurus (Islam) akan mengalami perkembangan pada awalnya kecil, besar, kecil, dan membesar. Setelah penganut agama yang lurus membesar manusia akan mengalami pembinasaan, dan dimulai era manusia baru. Bisa jadi generasi manusia kita sekarang akan mengalami pembinasaan dan telah Allah siapkan generasi yang lain. Semoga umat manusia saat ini bisa menjadi bagian dari segolongan besar manusia kemudian, manusia yang beragama akal sehat dan binasa kembali kepada Allah swt, di dalam jalan kebenaran. Walahu’alam.

Saturday, July 17, 2021

SETIAP MANUSIA TERLAHIR MUSLIM

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ide tulisan ini datang dari Pak Dondy dari tayangan youtube “Ngaji Cerdas” 10 Juli 2021. Pak Dondy adalah seorang Kristen kemudian mencari kebenaran diawali dari ceramah-ceramah Ahmed Deedat, Zakir Naik, Yusuf Ethes, kemudian melakukan self research terhadap kitab-kitab suci yang diimaninya. Akhirnya beliau menemukan kitab suci otentik dari Nya yang tidak kontradiktif dan make sense.

Setelah saya belajar Al-Qur’an sekemampuan, melalui terjemah, dengan bantuan terjemah per kata, tafsir, dan melakukan perbandingan dari pendapat-pendapat ahli tafsir berbagai latar belakang, sedikit-sedikit pola-pola berpikir Al-Qur’an dapat dipahami. Untuk itu ketika menonton kisah bagaimana proses Pak Dondy menemukan Islam, kesimpulan-kesimpulan dan argument-argumen logika pak Dondy sangat mudah dipahami.

Pertama, menurut kesimpulan Pak Dondy, setiap orang itu sejak lahir sudah Islam, maka ketika Pak Dondy menjadi mualaf beliau tidak merasa convert ke agama Islam, tetapi kembali ke Islam. Argumentasi Pak Dondy bisa kita temukan dalam Al-Qur’an.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (Ar Ruum, 30:30).

Allah telah menciptakan manusia menurut fitrah Allah, artinya setiap orang diciptakan sebagai seseorang yang telah mengenal Allah atau bisa mengenali siapa Tuhannya sejak dilahirkan. Fitrah itu adalah agama yang lurus, agama yang berserah diri (Islam) kepada Allah.

Untuk memberi penjelasan lebih lanjut,  bisa kita tinjau dari sudut pandang psikologi bagaimana struktur manusia terbangun. Ada konsep id, ego, super ego, ruh, nafs, jiwa, dan lain-lain. Ada juga kecerdasan dasar bawaan manusia antara lain intelektual, emosional dan spiritual. Seluruh unsur yang membentuk fitrah manusia akan berkembang dan tumbuh sesuai dengan lingkungan yang memengaruhinya. Namun demikian ada fungsi akal manusia yang bisa membedakan mana agama yang lurus dan bengkok. Mana Tuhan palsu dan mana Tuhan Yang Esa.

Saya terlahir muslim karena lahir dari ayah ibu sebagai muslim. Jadi kemusliman saya karena ibu dan bapak saya selama saya lahir telah membentuk kultur seorang muslim. Jadi kemusliman saya tidak pernah bersyahadat disaksikan orang seperti orang-orang yang sudah dewasa masuk agama Islam karena hidayah melalui pencarian, inspirasi, perkawinan, dan berbagai macam kondisi lainnya.

Supaya manusia bisa menemukan siapa Tuhannya dalam kondisi lingkungan apapun, maka Allah menurunkan kitab suci, dan kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah Al-Qur’an mengawalinya dengan membaca. Membaca adalah sebuah alat bagi manusia untuk melakukan proses pencarian atau menemukan agama menurut fitrah Allah. Apapun kondisinya, lingkungan, budaya, agama, semua diperintahkan untuk membaca menemukan Islam sebagai agama fitrah Allah.

Atas dasar itu, Pak Dondy tidak mengakui pindah convert agama tetapi kembali kepada agama awal sesuai dari fitrah Allah. Pernyataan ini tentunya bisa dipertanggungjawabkan dengan argument pengetahuan dari Al-Qur’an.

Selanjutnya argumen lain tentang sangkaan orang-orang Islam menyembah Kabah. Argument pertama bahwa orang Islam tidak menyembah Kabah adalah terkait tentang pemindahan kiblat dari Baitulmakdis ke Kabah.

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al Baqarah, 2:44).

Jadi jelas, apa yang dilakukan orang Islam selalu berargumen kitab suci. Perpindahan kiblat dari Baitulmakdis ke Mekah jelas sekali bahwa perpindahan kiblat ini bukan atas dasar penyembahan pada Kabah tetapi sebagai bentuk ketaatan orang Islam kepada perintah Allah.

Selanjutnya argumen Pak Dondy untuk membuktikan orang Islam tidak menyembah Kabah adalah ketika orang Islam berada di atas kapal laut, pesawat terbang, kereta api atau kendaraan, orang Islam diberi kebebasan shalat menghadap ke mana saja. Dalam kendaaran apapun, pada saat tiba waktu shalat orang Islam bisa shalat pada posisi kemana saja saat dikendaraan menghadap. Ini menjadi bukti nyata bahwa orang Islam tidak menyembah Kabah tetapi mengikuti petunjuk Allah.

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah, 2:115).

Jelasah bahwa orang-orang Islam tidak sedang menyembah selain Allah, karena segala sesuatunya dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai tindakan taat kepada Allah yang bersumber pada kitab suci Al-Qur’an.

Demikian kiranya penjelasan cerdas dari Pak Dondy salah seorang yang telah kembali kepada Islam melalui proses pencarian dengan membaca. Allah Maha Luas Pengetahuannya, semoga kita diberi kemampuan untuk terus membaca agar tetap berada di jalan yang lurus. Wallahu’alam.

Thursday, July 15, 2021

CARA AKTIFKAN PENGLIHATAN BATIN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka Barang siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu)”. (Al An’aam, 6:104). Berdasarkan pada ayat ini, Syaiful Karim pada youtube efisode ke 032, 12 Oktober 2020 menjelaskan bahwa ada dua kemampuan melihat yang dimiliki oleh manusia, yaitu kemampuan melihat secara fisik dan kemampuan melihat secara batin.

Kemampuan melihat dengan batin yang dimaksud adalah kemampuan melihat hakikat-hakikat kejadian sesuai dengan kehendak Allah, dengan ukuran bahwa seluruh kejadian di muka bumi bagi orang yang sudah mampu melihat dengan mata batin, semuanya tidak akan berpengaruh buruk dan akan tetap menjadi keberuntungan.

Selanjutnya, Syaiful Karim menjelaskan makna “bumi” dalam surat lainnya, “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-An’aam, 6:165).

Ibn’ Arabi mengatakan, “bumi adalah manusia berbadan besar”. Maka sebaliknya manusia adalah bumi kecil. Analogi ini dapat kita pahami dari penjelasan-penjelasan Al-Qur’an bahwa sistem penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia memiliki kesamaan. Jika bumi adalah Al-Qur’an, maka manusia sendiri adalah Al-Qur’an. Untuk itu, para filsuf membagi alam menjadi dua yaitu alam makro dan mikro. Manusia adalah alam mikro.

Maka ketika Allah mengatakan, “Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi”. Bumi di sini bisa bermakna makro dan mikro. Maka makna bumi mikro menjadi tafsir bahwa setiap manusia dijadikan penguasa-penguasa dirinya sendiri. Tafsir ini digunakan oleh Syaiful Karim untuk menjadikan diri kita menjadi pengatur diri kita sendiri. Manusia-manusia yang menjadi penguasa bagi dirinya sendiri adalah manusia yang bisa mengendalikan seluruh kehendaknya berada di atas kehendak Allah. Iniah kekuasaan sesungguhnya yang harus dimiliki oleh setiap individu. Manusia-manusia yang bisa mengendalikan dirinya di atas kehendak Allah, adalah mereka yang bisa melihat semua kejadian dengan mata batinnya.

Lalu bagaimana cara agar kita bisa melihat dengan mata batin? Objek penglihatan fisik adalah benda atau kejadian, kemudian dipersespi akal berdasarkan pengetahuan yang berhasil diingat oleh memori. Stok pengetahuan yang diingat memori adalah kunci objek yang dilihat bisa diberi makna. Kebanyakan orang memberi makna sebuah objek dengan pengetahuan yang di dapat dari alam atau pengalaman. Ilmu dan sains mempersepsi objek dengan pengetahuan alam dan pengalaman (percobaan atau penelitian). Maka dari itu, ilmu atau sains melatih penglihatan fisik karena objek yang diteliti berdasar pengetahuan dari hasil penelitian atau pengalaman.

Objek penglihatan batin pada dasarnya sama yaitu benda dan kejadian. Pemberian makna terhadap sebuah objek oleh penglihatan batin akan berbeda dengan penglihatan fisik. Penyebab perbedaan tersebut terletak pada pengetahuan yang ada dalam memori. Penglihatan batin bisa diaktifkan dengan memberikan makna pada objek yang dilihat berdasar pada pengetahuan non materi yang sudah tersimpan dalam memori. Sumber pengetahuan non materi adalah kitab suci Al-Qur’an yang terpeihara dari campur tangan manusia. Pengetahuan-pengetahuan yang bersumber dari non materi menjelaskan sebab akibat kejadian kasar (material) sampai kejadian halus (non material).

(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Lukman, 31:16).

Pengihatan batin adalah pemahaman akal yang dapat mengetahui sebab akibat kejadian non material berdasar petunjuk pengetahuan yang bersumber dari non material yaitu kitab suci Al-Qur’an. Jadi kunci untuk mengasah penglihatan mata batin adalah dengan memahami sebab akibat (logika) kejadian yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Kebenaran-kebenaran penglihatan batin dapat dibuktikan dengan kesadaran tinggi (akal sehat) terhadap adanya ketentuan Allah melalui pengalaman (lahir) dan melibatkan perasaan (batin).

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (Lukman, 31:20)

Untuk itu sangat penting untuk mempelajari dan memahami logika-logika Tuhan dalam Al-Qur’an sebagai modal kita untuk mengaktifkan mata batin dalam melihat segala kejadian. Dengan memohon pertolongan Allah dan keberanian, siapapun akan dibimbing Allah untuk memahami setiap kejadian dengan penglihatan batin sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing yang diberikan Allah. Demikian sedikit informasi untuk membuka diskusi tak berujung dalam memahami segala kejadian dengan pengihatan mata batin.  Wallahu’alam. 

Tuesday, July 13, 2021

MANUSIA BERMORAL TINGGI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Al-Fatihah, 01:01). Ini terjemah versi standar dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Apakah salah? Tidak, namun bukan satu-satunya terjemahan dari surat Al-Fatihah ayat pertama ini. Bahasa Arab sangat kaya kosa kotanya.  Buya Syakur sebagai seorang kiai dan berbasis ilmu filolog, memberi terjemahan lain. Bismilah dapat juga berarti “atas nama Allah”. Manusia yang seluruh langkahnya mengatasnamakan Allah dia manusia bermoral tinggi.

Terkait perbedaan makna terjemahan menyebut nama Allah dengan atas nama Allah, Buya Syakur menganalogikan ketika kita di suruh pidato mengatasnamakan yang disuruh, maka kita adalah bagian dari yang diatasnamakan, dan dipercaya oleh permberi atas nama. Ketika Sukarno dan Hatta membacakan proklamasi mengatas namakan bangsa Indonesia, maka proklamasi punya pengaruh kuat ke seluruh Nusantara. Dunia tidak melihat sosok Sukarno dan Hatta tetapi mereka seolah-olah melihat bangsa Indonesia. Ketika orang datang bertamu menyebut-nyebut presiden, tamu itu akan dianggap biasa-biasa saja. Namun ketika tamu datang bertamu mengatasnamakan presiden, maka orang itu bukan orang biasa-biasa.

Menyebut Allah sama dengan mengingat Allah, artinya ketika kita mau melakukan sesuatu maka niat dan harapan kita harus karena Allah. Namun menurut Buya Syakur bahasa terjemah “menyebut nama Allah” sebagai terjemahan dari bismillah dalam implementasinya kurang meresap pada jiwa. Berbeda ketika kita mengatakan “atas nama Allah”, rasa dan pemahaman akan terasa mendalam karena seolah-olah kita mewakili Allah. Ini artinya ikatan dengan Allah akan terbangun lebih dekat, dan keinginan untuk menjaga moralitas ajaran agama di masyarakat lebih tinggi.

“atas nama Allah”, adalah pembuka jiwa agar merasa bahwa setiap apa yang kita lakukan ada di atas kehendak Allah. Supaya mudah memahaminya, mengatasnamakan Allah berarti kita menjadi bagian dari kehendak Allah tapi bukan Allah. Sukarno dan Hatta mengatasnamakan bangsa Indonesia, tapi mereka bukan refresentasi wujud seluruh bangsa Indonesia itu sendiri. Bayang-bayang kita di pagi hari ketika tubuh kita tersinar matahari adalah kita, tapi bayang-bayang bukan tubuh kita. Allah adalah pemilik bayang-bayang, dan bayang-bayang bergerak persis seperti pemilik bayang-bayang, namun bayang-bayang pemilik bayang-bayang itu sendiri. Manusia itu ketika berkata, “atas nama Allah”, maka hidupnya akan seperti bayang-bayang, pemilik bayang-bayang duduk dia ikut duduk, pemilik bayang-bayang berdiri dia ikut berdiri, dan pemilik bayang-bayang hidup dia hidup.

Mengucap, “atas nama Allah” (bismillah) dalam setiap tindakan adalah upaya manusia agar hidupnya selalu merasa dekat, diberkahi, dan berada di atas kehendak Allah. Inilah upaya manusia agar hidupnya selalu berada di jalan lurus yaitu berada di atas kehendak Allah.

“bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (At Takwir, 81:28-29).

Bismillah adalah upaya membangun kesadaran bahwa Allah selalu hadir dalam setiap gerak langkah kita. Sebagai manusia hina kita berharap seluruh langkah hidup kita berada di jalan yang lurus yaitu jalan ketaatan yang dikehendaki Allah.

Bismillah adalah implementasi dari permohonan petunjuk kepada Allah yang selalu diulang-ulang umat Islam dalam bacaan shalat setiap hari yaitu, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Afatihah, 1:6-7).  Permohonan yang diulang-ulang dalam surat Alfatihah dan pengucapan bismillah yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW dalam setiap awal  perbuatan merupakan usaha agar setiap langkah kita selalu berada di atas niat baik, jika salah diberi tahu kesalahannya, diampuni, dan diperbaiki oleh Allah. Jika benar diberi pengetahuan serta kemampuan oleh Allah untuk isitiqomah di jalan itu dan menjadi contoh teladan sebagai pribadi berakhlak mulia bagi umat manusia.

Inilah cara-cara hidup yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai ajaran inti keimananan untuk muslim dan pelajaran bagi seluruh umat manusia yang telah Allah beri kemampuan memahaminya. Kalimat Bismillah yang sederhana ini menjadi pembuka kemurahan dan keberkahan hidup yang datang dikabarkan kepada Nabi Muhammad SAW dari Allah Tuhan Semesta Alam untuk memberkahi kehidupan seluruh alam. Bismillah adalah doa agar setiap langkah kita selalu berada di atas kehendak Allah. inilah manusia-manusia yang akan menjadi manusia bermoral tinggi atas kehendak Allah. Wallahu’alam.