Sunday, June 28, 2026

ETIKA BERKOMUNIKASI PADA PEMIMPIN

Oleh: Muhammad Plato

Perbedaan mendasar pada masyarakat Timur dan Barat adalah masalah batasan. Peradaban Barat memnjamin kebebasan setiap orang berpendapat. Menghina menghujat, mencemooh, presiden di barat diakui sebagai ekpresi kebebasan berpendapat dan dilindungi undang-undang.

Al Qur'an mengajarkan etika berkomunikasi dengan pemimpin. Pemimpin di dalam Al Qur'an disebut sebagai ulim amri. Para ulama menyimpulkan ulil amri adalah para pemimpin di masyarakat. Ketaatan pada ulil amri dijelaskan dalam Al Qur'an setelah ketaatan pada Allah dan Rasul.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa, 4:59).

Keberadaan pemimpin pada sebuah masyarakat menjadi penting dan sakral. Fungsi pemimpin sebagai pengambil keputusan penentu arah kebijakan di masyarakat. Pemimpin seperti Pilot yang akan membawa kemana saja pesawat beserta penumpangnya pergi.

Idealnya seorang pemimpin dipilih dari kemampuan memahami kondisi masyarkat (peneliti), punya kemampuan berpikir (filsuf), dan teguh dalam keyakinan (berani mengambil keputusan). Pemimpin adalah manusia berkualitas tinggi sehingga punya otoritas dan harus ditaati.

Untuk itulah kepada pemimpin, seburuk apapun pemimpin ketika berkomunikasi Allah menetapkan standar penghormatan tinggi pada pemimpin. Siapapun menjadi pemimpin, tertulis dalam Al Qur'an sebagai orang yang harus ditaati. Penghormatan pada pemimpin, bagian dari ketaatan pada ketetapan dalam kitab suci. 

Namun demikian, pemimpin yang tidak mengikuti aturan harus tetap mendapat peringatan. Allah mengajarkan bagaimana Nabi Musa memberi peringatan kepada pemimpin. Allah mengabarkan Nabi Musa medatangi Fir'aun dengan kata-kata lemah lembut.

Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Thaahaa, 20:43-44).

Lalu apa yang dikatakan oleh Nabi Musa kepada Fir'aun. Secara substantif perkataan yang disampaikan kepada Fir'aun adalah bukan kata-kata hinaan, hujatan, ancaman, atau mnejelek-jelekkan, tetapi dalam bentuk katak-kata bijak untuk mengajak refleksi, tawaran bantuan, atau solusi, menuju pada kehidupan yang diharapkan oleh setiap orang.

Maka berkata, "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri?" "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar kamu takut (kepada-Nya)?" (An Naazi'at, 18-19).

Al Qur'an mengajarkan kepada seluruh manusia untuk tetap menjadi manusia beretika tinggi. Dalam kondisi seburuk apapun, manusia tetap mengendalikan dirinya tetap berada di atas akhlak yang baik. Inilah kecerdasan manusia-manusia beriman kepada Tuhan, yang digambarkan dalam Al Qur'an sebagai manusia berkemampuan intelektual tinggi.***

Saturday, June 6, 2026

STRUKTUR JIWA MANUSIA DALAM Al QUR'AN

Oleh: Muhammad Plato

Dari sudut pandang pendidikan kisah Kabil dan Habil bukan sosok fisik manusia, tapi dua potensi berpasangan yang ada dalam jiwa manusia. Perumpamaan Kabil dan Habil seperti arus dalam listrik, yaitu negatif dan positif. 

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (Al Maa'idah, 5:27).

Al Quran tidak leterlek memberikan nama Kabil dan Habil. Namun untuk memudahkan pemahaman para penafsir memberi nama dua anak Adam dengan Kabil dan Habil. Namun kalau dilihat dari kisah Al Qur'an di atas, Adam dan dua putranya dari sisi pendidikan merpakan susunan struktur jiwa manusia, yaitu Intelektual, Emosional, dan Spiritual (IES).

Tiga potensi yang ada dalam jiwa manusia ditemukan teorinya oleh tiga tokoh. Kecerdasan Intektual oleh Alfred Binet, Kecerdasan emosional oleh Daniel Goleman, kecerdasan spiritual oleh Danah Zohar dan Ian Marshal. 

Di dalam Al Qur'an ada konsep keseimbangan (mizan) dan larangan melampaui batas mizan. "Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. (Ar Rahman, 55:7-8).

ebook logika tuhan belajar berpikir optimis

Orang-orang berdosa dikatakan di dalam Al Qur'an adalah mereka yang melampuai batas. "Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; (Thaahaa, 20:43).

Intelektual (Adam) adalah pengendali emosi (Kabil) dan (Habil) spiritual. Adam adalah akal/intelektual, emosi dan spritual adalah nafsu (jiwa). Di dalam Al Qur'an ada penjelasan bahwa jiwa terdiri dari dua. "maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya," (Asy Syams, 91:8).

Intelektual sebuah kecerdasan aktif, bisa mengolah, memilah, dan mencipta informasi. Emosi dan Spiritual sifatnya dipengaruhi oleh apa yang diproses oleh kecerdasan intelektual. Emosi dan spiritual punya kekuatan besar jika aktif. Intelektual tidak bisa mengendalikan tanpa bantuan petunjuk dari Allah.

Petunjuk dari Allah adalah pengajaran. Di dalam Al Qur'an Allah mengajarkan kepada manusia kepada akal. "Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al 'Alaq, 3-5).

Allah mengutus para rasul untuk menurunkan wahyu (pemberitahuan tersembunyi) sebagai petunjuk. Kumpulan pengetahuan dari wahyu kepada para nabi jadi kitab. Nabi Muhammad meninggalkan kitab suci Al Qur'an.

Manusia diciptakan dengan tiga potensi yang ada pada dirinya, yaitu intelektual, emosi, dan spiritual. Di dalam otak, kontruksi ini terbagi menjadi tiga yaitu otak depan, tengah, dan belakang. Otak depan intelektual, otak tengah emosi, dan otak belakang motorik. 

Dalam dunia pendidikan dikenal tiga  ranah otak yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Teori ini jika ditarik ke sumber asalnya telah dijelaskan dalam Al Qur'an. Pengajaran dasarnya adalah menanam pengetahuan ke dalam otak intelektual untuk diproses menjadi moral dan prilaku hidup manusia di dunia untuk tujuan hidup sejahtera dan berkelanjutan (akhirat).***