Sunday, August 30, 2026

TEKNOLOGI ZAMAN NABI SULAEMAN

Oleh: Muhammad Plato

Dunia telah berada di Era Artificial Intelegence (AI). Era sekarang sedang menuju generasi AI bisa menjalin komunikasi antar AI tanpa bantuan manusia secara konstan. AI bisa berpikir menggunakan data antar AI, mengambil keputusan tanpa intruksi dari manusia. AI agent menjadi cikal bakal lahirnya robot-robot cerdas yang bisa bertindak menerima dan menggunakan data untuk ambil keputusan seperti manusia. 

Jika manusia-manusia robot ini tercipta, maka kita telah masuk pada Era Teknologi Nabi Sulaiman. Al Quran tidak menjelaskan ada manusia robot yang bisa bekerja membantu manusia, jika Al Quran hanya dipandang sebagai ajaran nilai dan moral. Para pengkaji Al Quran yang fokus pada ajaran nilai dan moral, tidak akan menemukan adanya ide tentang teknologi. Al Quran adalah petunjuk dari Tuhan, kandungannya sangat terbuka untuk mendapatkan interpretasi dari berbagai bidang.

Al Quran adalah sumber gagasan dari Tuhan untuk umat manusia. Sifat Al Quran adalah saling keterkaitan sebagai mana makna dari Al Quran itu sendiri. Bagi para ahli sains dan teknologi, Al Quran adalah sumber gagasan untuk menghadirkan ilmu-ilmu terbarukan. 

Kisah Nabi Sulaiman bagi ahli sains dan teknologi bukan sekedar cerita yang sulit dijangkau akal, tapi jadi sumber pemikiran untuk mengembangkan sains dan teknologi apa yang terkandung di dalamnya. Ide tentang AI agent bisa di dapat dari kisah Nabi Sulaiman. 

"Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya adzab neraka yang apinya menyala-nyala. (Saba, 34:12)."

Ada dua teknologi yang telah terjadi di zaman Nabi Sulaiman yiatu perjalanan singkat dipagi hari, dan sore hari sama dengan perjalanan sebulan. Di prediksi ini sebuah alat tranfortasi super cepat. Teknologi selanjutnya ada pekerja yang bekerja di bawah kendali manusia tanpa melanggar perintah. 

Dua teknologi Nabi Sulaiman sudah terjadi di era sekarang. Alat tranfortasi super cepat sudah terwujud, dan terus diciptakan dengan kecepatan tinggi. Manusia-manusia pekerja dibawah kendali manusia yang tidak mengenal lelah sudah ditemukan. Agen AI dan Pysical AI, beberapa ilmuan telah berhasil menemukannya dan terus menyempurnakannya. 

"Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih." (Saba, 34:13).

Manusia-manusia buatan manusia secanggih apapun diciptakan tetap memiliki keterbatasan. Manusia-manusia buatan bisa memprediksi dan menciptakan apa saja untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Namun manusia-manusia buatan manusia tetap tidak mengetahui kejadian-kejaian apa yang terjadi di dunia gaib. Indikasi ini, idenya dijelaskan di dalam Al Quran.

"Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan." (Saba, 34:14).

Manusia-manusia ciptaan manusia, bisa saja melebihi kecerdasan manusia, tetapi tidak akan bisa melebihi kecerdasan Tuhan. Maka pesan dari kisah Nabi Sulaiman untuk manusia adalah sekalipun Tuhan memberi kesempatan kepada manusia bisa menciptakan manusia-manusia cerdas melebihi manusia lain, mereka harus tetap menjaga keyakinannya kepada Tuhan.

Dihadapan Tuhan semua manusia akan diminta pertanggunwajawaban atas apa yang telah mereka kerjakan. Dan manusia harus ingat sehebat apapun manusia selalu ada dinding pengetahuan sebagai pembatas pengetahuan manusia yaitu masa lalu dan masa depan (akhirat). Dinding pemisah itu adalah pengetahuan alam yang tidak diketahui manusia dan tetap akan jadi misteri. 

Maka manusia harus tetap berpegang teguh pada ilmu (Al Qur'an) yang diturunkan Tuhan untuk manusia, agar manusia punya tanggung moral dan tidak melampuai batas dalam hal apapun. Al Quran mengabarkan sehebat apapun manusia harus tetap rendah hati dan mengendalikan diri.

"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata. (Yasin, 36:12)". Itulah cara berpikir yang diberkahi Tuhan.***

Sunday, August 16, 2026

PERNIKAHAN BEDA IMAN

Oleh: Muhammad Plato

Untuk memahaminya pernikahan beda agama kita kaji saja langsung dari Al Quran. Cara berpikirnya seperti apa dalam Al Quran jika nikah beda iman. 

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Al Baqarah, 2:221).

Analogi Al Quran seperti ini ada dua orang laki-laki satu beriman kepada Allah satu beriman kepada selain Allah. Jika kamu perempuan mana yang kamu pilih? Allah menjelaskan bukan ketampanan yang dijadikan patokan dalam memilih pasangan tapi keimanan. 

Sebaik-baiknya orang yang tidak beriman kepada Allah dia akan bepengaruh dalam kehidupan mu untuk keluar dari keimanan kepada Allah. Islam itu agama tauhid, dan ketauhidan inilah yang harus diperjuangkan oleh umat Islam. 

Rasa cinta adalah bagian dari hawa nafsu setiap manusia. Cinta harta, pasangan, anak, kebun, perusahaan adalah bagian dari karakter hawa nafsu. Bukan tidak boleh mencintai tetapi jangan melampaui batas. Dalam hal mencintai pasangan, Allah memberi batasan cintailah pasangan yang beriman.

Bagi muslim beriman kepada Allah yang esa adalah pondasi keimanan. Jangan mengambil risiko yang membuat goyah ketauhidan kita kepada Allah, dengan mengambil pasangan tidak seiman. Dosa yang tidak terampuni adalah ingkar kepada Allah. Risiko menikah beda iman akan ada konsekuensi berat yang akan dialami. 

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.  (Mumtahanah, 60:10).

Sudah jelas bahwa pernikahan beda agama sangat tidak boleh, karena yang bersih dan yang kotor tidak boleh dicampur. Ada istilah susu sebelana rusak oleh nila setitik. Orang-orang Islam sangat berisiko tinggi rusak imannya jika bercampur dengan orang tidak seiman. Menikah dengan tidak seiman seperti berada di ujung tanduk karena suatu saat bisa tergelincir pada hal yang sangat dibenci Allah. 

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi. (Al Maidah, 5:5).

Wanita-wanita beriman yang telah diberi Al Kitab sebelumnya mereka memiliki ketauhidan kepada Allah. Allah menjelaskan bahwa Al Quran berisi penjelasan yang terdapat dalam Al Kitab yang telah diturunkan pada umat terdahulu. Laki-laki diberi kelonggaran untuk menikahi wanita yang beriman pada Al Kitab terdahulu, dan tidak dijelaskan bahwa mereka golongan orang-orang kafir. 

Mengapa laki-laki diberi kelonggaran menikahi wanita yang beriman kepada Al Kitab, karena laki-laki di dalam keluarga punya kemampuan lebih dalam memimpin dibanding wanita. Dengan kepemimpinannya yang adil laki-laki bisa membawa wanita kepada ampunan Allah bukan ke neraka.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (An Nisaa, 4:34).

Kaum laki-laki dan wanita berjuanglah untuk mengadakan kebaikan sesuai ilmu yang Allah berikan dalam Al Quran. Untuk menjadi orang baik kita perlu berjuang, dan perjuangan yang paling berat adalah melawan hawa nafsu kita. Wanita-wanita yang mencintai laki-laki beda iman, sadarilah bahwa anda sedang diuji oleh Allah tentang keimanannya kepada Allah dan Al Quran yang diturunkannya. Selamat berjuang para wanita semoga Allah selalu melindungi dari perbuatan dosa besar yaitu kafir kepada Allah.

Dan bahaya lagi Allah telah peringatkan dalam Al Quran, orang-orang yang kafir kepada Allah tidak akan bertemu dengan Allah kelak. Karena untuk bertemu dengan Allah dia harus melakukan amal baik atas dasar keimanan kepada Allah yang esa bukan karena seseorang. Jika wanita memutuskan menikah beda iman karena cintanya kepada seseorang, maka dia telah menyekutukan Allah.

"Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya".  (Al Kahfi, 18:110).***


Saturday, August 15, 2026

KEUNTUNGAN HAJI DAN UMRAH ARAB SAUDI MILIK UMAT

Oleh: Muhammad Plato

Arab Saudi memegang tanggung jawab yang sangat besar dalam menjaga perdamaian dan meningkatkan kesejahteraan umat Islam global. Sebagai pelayan dua kota suci, negara ini memikul amanah yang dampaknya dirasakan oleh jutaan muslim di berbagai belahan dunia. Peran strategis ini menuntut kebijakan yang sejalan dengan cita-cita persaudaraan Islam yang universal.

Secara geografis dan administratif, Saudi menjadi satu-satunya negara yang mengelola wilayah Mekah dan Madinah. Namun secara spiritual, kedua kota suci tersebut sejatinya adalah milik seluruh umat Islam di dunia. Otoritas Saudi bertindak sebagai pengampu amanah besar untuk memastikan kesucian dan kelestarian situs-situs bersejarah tersebut.

Setiap tahun, jutaan umat Islam berbondong-bondong mendatangi Mekah dan Madinah dari berbagai penjuru bumi. Kedatangan para jemaah ini murni untuk memenuhi perintah Allah SWT dan mengikuti sunah Rasulullah SAW. Mereka datang bukan dengan tujuan rekreasi untuk mengunjungi negara Arab Saudi sebagai destinasi wisata sekuler.

Kehadiran jutaan jemaah haji dan umrah ini membawa keberkahan ekonomi dan spiritual yang luar biasa bagi Arab Saudi. Aktivitas ibadah massal ini menggerakkan roda ekonomi domestik mulai dari sektor transportasi, perhotelan, hingga perdagangan. Keberkahan spiritual juga terpancar dari berkumpulnya energi doa dari kaum mukmin di tanah suci.

Penting untuk dipahami bahwa berkah finansial dari pengelolaan haji dan umrah bukanlah hak mutlak milik kerajaan semata. Pendapatan yang diperoleh dari sektor ini sejatinya berasal dari pengorbanan dan tabungan umat Islam sedunia. Oleh karena itu, pemanfaatan dana tersebut idealnya mencerminkan kepentingan dan kemaslahatan seluruh umat.

Dana yang terkumpul dari penyelenggaraan ibadah ini merupakan kontribusi kolektif dari jemaah kaya maupun miskin di seluruh dunia. Arab Saudi memikul tanggung jawab moral yang tinggi dalam mengelola aliran dana yang sangat besar ini. Transparansi dan akuntabilitas dalam alokasi anggaran menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan umat.

Setiap riyal yang diterima dari pelayanan haji dan umrah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Penggunaan dana umat ini tidak boleh hanya berputar untuk kepentingan domestik atau kemewahan otoritas pengelola. Pemimpin Arab Saudi memikul beban spiritual yang berat terkait pemanfaatan aset umat ini di akhirat kelak.

Saat ini, kebutuhan mendesak umat Islam di berbagai belahan dunia mencakup kesejahteraan hidup, kemerdekaan, dan perdamaian. Banyak komunitas muslim yang masih terjebak dalam kemiskinan ekstrem, konflik bersenjata, dan penindasan politik. Realitas pahit ini memerlukan perhatian mendalam dan tindakan nyata dari kekuatan ekonomi utama dunia Islam.

Arab Saudi sudah sepatutnya berdiri di barisan paling depan dalam mengupayakan persaudaraan sesama muslim. Sebagai pusat spiritual Islam, kebijakan luar negeri negara ini idealnya mencerminkan nilai-nilai perdamaian dan keadilan global. Kepemimpinan Saudi harus mampu menjadi jembatan rekonsiliasi bagi konflik-konflik yang melibatkan negara-negara muslim.

Tanggung jawab mengelola haji dan umrah merupakan tugas suci yang langsung bersumber dari ajaran Allah SWT. Amanat yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW ini menuntut profesionalisme tingkat tinggi sekaligus ketulusan niat. Mengutamakan kenyamanan jemaah di atas keuntungan komersial adalah manifestasi nyata dari pelaksanaan amanat ini.

Tantangan dalam mengorganisasi jutaan manusia dengan latar belakang budaya yang berbeda tentu tidaklah mudah. Namun, kehormatan sebagai pelayan dua kota suci ini datang bersama dengan tanggung jawab moral yang sepadan. Visi pembangunan di tanah suci harus selalu diselaraskan dengan kemudahan akses bagi seluruh lapisan umat Islam.

Pada akhirnya, peran Arab Saudi akan selalu disorot oleh mata dunia, baik oleh muslim maupun non-muslim. Keberhasilan mereka memajukan kesejahteraan dan perdamaian global akan menjadi cerminan dari keindahan ajaran Islam itu sendiri. Semoga amanah yang berat ini dapat ditunaikan dengan penuh keadilan, kearifan, dan rasa tanggung jawab.

REFLEKSI MORAL DUNIA ARAB

Oleh Muhammad Plato

Ide tulisan ini merupakan pandangan keprihatinan sebagai muslim melihat kejadian di Timur Tengah. Pandangan mengenai pergeseran moral dan politik di tanah Arab mencerminkan keprihatinan mendalam selaras dengan berbagai peringatan dalam nas dalil agama.
Kondisi sosiopolitik di tanah Arab saat ini memicu keprihatinan mendalam bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Sikap dan kebijakan sebagian penguasa Arab dinilai mulai menjauh dari substansi nilai-nilai murni ajaran Islam. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran akan kembalinya mentalitas zaman jahiliyah sebelum datangnya Rasulullah SAW.
Sejarah mencatat bahwa karakteristik utama masyarakat jahiliyah adalah fanatisme golongan yang melampaui keadilan moral. Allah SWT mengutuk keras kesombongan berbasis kesukuan ini di dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 13. Rasulullah SAW juga menegaskan dalam hadis sahih riwayat Muslim bahwa siapa pun yang berperang demi membela fanatisme kelompok maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.
Sikap tidak berkomitmen terhadap keimanan tampak jelas dari suburnya permusuhan antar-sesama bangsa Arab itu sendiri. Konflik internal ini dipicu oleh ego keturunan, ambisi kekuasaan, dan perbedaan aliran yang tajam. Padahal, persaudaraan universal adalah fondasi utama yang dibangun Nabi Muhammad SAW untuk meruntuhkan sekat-sekat kesukuan tersebut.
Permusuhan yang terus terpelihara ini sayangnya ikut mengekspor perpecahan ke seluruh penganut Islam di dunia. Sentimen sektarian dari pusat dunia Islam justru melemahkan posisi tawar umat di panggung geopolitik global. Akibatnya, energi umat habis untuk bertikai internal alih-alih membangun peradaban yang maju dan damai.
Krisis berkepanjangan di Timur Tengah seharusnya bisa diselesaikan jika para pemimpinnya memegang teguh petunjuk Al-Qur'an. Allah SWT berfirman secara tegas dalam Surah Al-Hujurat ayat 10 bahwa sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Pengabaian terhadap ayat ini membuktikan adanya kesenjangan besar antara identitas formal sebagai muslim dan realitas tindakan sehari-hari.
Persaudaraan Islam menuntut adanya rekonsiliasi dan perdamaian ketika terjadi perselisihan di antara sesama muslim. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Oleh karena itu, memelihara konflik demi ego politik bertentangan langsung dengan amanah persatuan yang diwajibkan agama.
Faktor kedua yang sangat kasat mata adalah kontrasnya kemakmuran bangsa Arab dengan penderitaan saudara mereka. Wilayah Teluk bergelimang kemewahan material, sementara jutaan muslim di belahan lain hidup di bawah garis kemiskinan. Ketimpangan ekstrem ini menunjukkan pudarnya rasa empati yang menjadi pilar utama bangunan keimanan seseorang.
Tragedi kemanusiaan di Palestina menjadi ujian terbesar bagi komitmen moral dan keimanan bangsa-bangsa Arab saat ini. Puluhan ribu nyawa manusia melayang akibat agresi tanpa ada tindakan nyata yang mampu menghentikannya. Sikap diam dan lambatnya respons para pemimpin Arab dinilai sebagai bentuk pengorbanan terhadap nyawa saudara sendiri demi stabilitas ekonomi mereka.
Kondisi rakyat Palestina saat ini sungguh memprihatinkan karena mereka kelaparan, terlantar, dan kehilangan tempat tinggal. Rumah-rumah ibadah dan fasilitas medis dihancurkan hingga tidak menyisakan ruang aman untuk bertahan hidup. Penderitaan ini berlangsung terbuka di hadapan mata para penguasa Arab yang memiliki kekuatan militer dan finansial besar.
Pengabaian terhadap penderitaan sesama muslim ini mendapat ancaman keras di dalam teks-teks suci Islam. Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Anfal ayat 73 bahwa jika orang beriman tidak saling melindungi, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di bumi. Keengganan bertindak konkret untuk menyelamatkan nyawa sesama muslim mencerminkan rapuhnya pembelaan atas dasar akidah.
Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang sangat indah mengenai ikatan emosional umat Islam dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Beliau bersabda bahwa perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai dan menyayangi adalah bagaikan satu tubuh. Jika ada satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.
Kesimpulan dari seluruh fenomena ini adalah mendesaknya kebutuhan restorasi iman dan moral di jantung dunia Islam. Mengelola Kakbah secara fisik tidak serta-merta menggugurkan kewajiban moral untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan universal. Bangsa Arab harus segera kembali pada khitah Al-Qur'an dan Sunnah agar terhindar dari kehancuran moral layaknya kaum jahiliyah terdahulu.***

Monday, August 10, 2026

INDIKASI KIAMAT DARI ARAB

Oleh: Muhammad Plato

Fenomena turun salju, padang rumput, dan sungai mengalir sudah terjadi di Arab. Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah banyak dan melimpah, sampai-sampai seorang laki-laki keluar membawa zakat hartanya, tetapi ia tidak menemukan seorang pun yang mau menerima zakatnya itu. Dan sebelum tanah Arab kembali menjadi padang rumput yang hijau dan sungai-sungai yang mengalir." (H.R Muslim).

Tanda lainnya, "Kemudian ia bertanya, “Kapan kiamat akan terjadi?” Rasulullah menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya. Namun, aku akan memberitahumu tentang tanda-tandanya. 1. Ketika seorang budak wanita melahirkan tuannya. 2. Ketika para penggembala unta hitam mulai membanggakan diri dan bersaing dalam membangun bangunan yang tinggi. (HR. Bukhari).

Kondisi tanah Arab saat ini sudah menandakan apa yang dikemukakan Nabi Muhammad. Mengapa Nabi Muhammad memprediksi kiamat akan terjadi setelah tanah Arab kembali menjadi padang rumput yang hijau, dan sungai-sungai mengalir? Dan mengapa kiamat akan terjadi ketika pengembala unta membanggakan diri dan membangun bangunan tinggi? 

Prediksi Nabi Muhammad jika di dalami bersumber pada siklus kehidupan yang dijelaskan di dalam Al Quran. Di dalam Al Quran, puncak dari kehidupan yang dijanjikan Allah kepada manusia adalah kenikmatan hidup di surga yang Allah gambarkan dengan padang rumput dan sungai mengalir di dalamnya. Surga tempat peristirahatan terakhir manusia, dan surga digambarkan oleh Allah dengan warga hijau. 

Allah juga menjelaskan seorang manusia tidak akan mendapati kematiannya, kecuali dia sudah Allah sempurnakan rezekinya. Dalam konteks peradaban, sebuah bangsa akan mencapai puncak peradabannya jika Allah telah teguhkan kedudukannya.

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (An An'aam, 6:6).

Abu Bakar Ash Shidiq memahami pola kehidupan dari Al Quran dan menangis ketika Nabi Muhammad menyampaikan wahyu dari Allah, tentang kemenangan kaum musliman. "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (An Nashr, 110:1-3).


Abu Bakar As Shidiq memahami bahwa kemenangan kaum musliman adalah tanda akhir dari perjalanan Nabi Muhammad di muka bumi sudah selesai. Kemenangan kaum muslimin berarti akhir dari perjuangan Nabi Muhammad di muka bumi. Untuk itulah, Abu Bakar Asyidiq menangis ketika mendengar wahyu kemenangan kaum muslimin, karena beliau paham perpisahan dengan Nabi Muhammad telah dekat.

Sepeninggal Nabi Muhammad, peradaban umat Islam terus berlangsung mencapai puncak peradaban, jatuh, bangun, jatuh, dan kembali mencapai puncak kejayaan. Nabi memprediksi puncak kejayaan peradaban Islam terus berlanjut hingga tanah Arab jadi padang rumput, air sungai mengalir, dan gedung-gedung pencakar langit berdiri megah. Inilah tanda bahwa suatu perabadan telah mencapai puncak. 

Setelah itu, akan ada peradaban lain yang menggantikan. Tingginya peradaban selalu ditandai dengan hidup dalam kemegahan dan menurunnya rasa empati dan kemanusiaan. Manusia terbuai dengan kenikmatan dan takut menghadapi kesulitan. Namiun demikian, ada peradaban lain yang sedang merangkak naik menggantikan peradababan. Siapa generasi berikutnya yang akan menggantikan?

Allah memberi tanda, mereka yang akan menggantikan peradaban adalah orang-orang yang tetap beriman dan berbuat kebaikan dan mengingat Allah dengan banyak dan Allah uji mereka dengan penderitaan. Tapi Allah menjanjikan pertolongan kepada mereka setelah mereka mendapat perlakukan dzalim dan  didzalimi. 

Apakah mereka yang dizalimi selama 47 tahun dari masyarakat dunia? Apakah mereka yang penduduknnya di genosida dan rumahnya dibumihanguskan tanpa pembelaan dari saudara-saudaranya padahal saudaranya hidup bermegah-megahan dengan kekayaan? Siapa yang akan menggantikannya, Allah memberi tanda. 

"kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kedzaliman. Dan orang-orang yang dzalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. (Asy Syu'araa, 26:227)."

Kiamat adalah hari berdirinya sebuah peradaban baru akan menggantikan peradaban lama yang sudah terlalu nyaman dengan kehidupan dunia dan melupakan rasa kemanusiaan. Sisi lain berbahayanya kenyamanan adalah mematikan rasa kemanusiaan.***