Sunday, July 19, 2026

MENGENALI ORANG YANG DIMULIAKAN ALLAH

Oleh: Muhammad Plato

Siapa orang-orang yang dimuliakan Allah? Mereka tidak dikenali dari keturunannya, pakaiannya, kekayaannya, atau kedudukannya. Fenomena di masyarakat kita temukan, mereka memuliakan seseorang karena keturunan, pakaian, kedudukan, pangkat dan gelar. Mereka mengkultuskannya dan riskan terjebak pada fanatisme berlebihan masuk pada wilayah syirik tersembunyi.

Orang yang dimuliakan Allah dapat dikenali dari iman dan akhlaknya. Banyak orang berakhlak baik tetapi tidak dikatakan orang mulia karena sebaik-baiknya akhlak dia harus punya dasar iman kepada Allah. Kemuliaan seseorang ditandai dengan keimanan kepada Allah dibuktikan dengan shalat dan selalu berbagi rezeki. 

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (Al Anfaal, 8:3-4)

Akhlak dan keimanan tidak dapat dipisahkan. Kemulian seseorang diukur dari dua katergori ini. Al Quran menjadi panduan pola berpikir umat Islam dan seluruh umat manusia harus diajarkan. Nabi Muhammad diutus untuk seluruh makhluk. Maka orang-orang yang dimuliakan Allah bukan untuk sekelompok orang tapi untuk seluruh umat manusia.

Kita lihat lagi dari keterangan Al Quran siapa orang yang dimuliakan Allah. Orang yang dimuliakan Allah bukan mereka yang terlihat bergelimang kekayaan dan kesenangan. Kemuliaan tidak diukur karena mereka terlihat selalu diberi kesenangan atau selalu terhindar dari kesulitan.

Manusia suka berprasangka menurut keinginan hawa nafsunya sendiri. Manusia melihat kemuliaan dari kesenangan yang didapat dari Allah, dan kesulitan adalah kehinaan yang didapat dari Allah. Kesenangan dan keterbatasan rezeki bukan ukuran Allah memuliakan atau menghinakan. 

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku".  Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". (Al Fajr, 89:15-16).

Kesenangan dan kesulitan adalah takdir yang harus dilalui oleh manusia. Allah mengenalkan orang-orang yang dimuliakan berdasarkan akhlak dan keimananya. Dalam keterangan Al Quran dijelaskan. 

Orang yang dimuliakan Allah adalah dia yang punya keimanan pada Allah, mau berhijrah, berjihad, memberi, dan suka menolong. Mereka mulia karena memperolah ampunan dan itulah sebaik-baiknya rezeki dari Allah. 

"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. (Al Anfaal, 8:74).***

AMERIKA SERIKAT HENTIKAN PERANG

Oleh: Muhammad Plato

Amerika Serikat harus hentikan perang jika ingin tetap menjadi negara berdaulat. Iran adalah negara dengan kekuatan penuh secara militer dan didukung oleh rakyatnya. Selamat 47 tahun dikucilkan, Iran berubah menjadi negara kuat karena keyakinannya pada Tuhan. 

Amerika Serikat harus hentikan perang, jika ingin tetap menjadi negara terhormat di dunia. Iran tidak akan pernah berhenti melawan penjajahan. Peperangan melawan penjajah bagi bangsa Iran sudah menjadi bagian ibadah kepada Tuhan.

Amerika Serikat harus hentikan perang, jika ingin menjaga dunia kembali berjalan damai. Iran sebagai negara berdaulat dengan mayoritas penduduk berkeyakinan pada Tuhan, tidak akan berhenti perang karena desakan senjata. 

Iran represntasi negara muslim yang ada di Timur Tengah. Sekalipun ada negara-negara muslim yang bersikap menjadi musuh Iran, tetapi sebagai muslim memiliki keyakinan pada Al Quran, bahwa sesama muslim kita bersaudara. Tidak ada seorang muslim pun yang berani menentang ayat Al Quran, karena risikonya di akhirat mendapat pengadilan Allah.

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujuraat, 49:10).

Seluruh muslim di dunia telah melihat, saudara-saudaranya telah menjadi korban genosida dari perang tidak seimbang. Untuk rasa kemanusiaan seluruh penduduk dunia telah menentang genosida. Perlawanan Iran telah menjadi representasi kebangkitan umat Islam untuk menegakkan keadilan.

Amerika Serikat harus hentikan perang, jika masih ingin membela kemanusiaan. Takdir telah terbukti, pemenang perang tidak berada pada kelompok besar tapi pada kelompok kecil teraniaya. Iran telah teraniaya selama puluhan tahun bertahan bersama keyakinan kepada Tuhan. Takdir Tuhan telah menetapkan akan bersama pasukan kecil yang sabar. 

"Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al Baqarah, 2:249).

Selama bertahun-tahun teraniaya, Allah telah menguji keyakinan kepada bangsa Iran untuk bangkit membela kedaulatan negara. Rakyat  Iran merasa kewajiban untuk membela tanah air dan berdosa kepada Tuhan jika tidak membela. 

Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka. (Asy Syuraa, 42:41). 

Kebangkitan bangsa Iran telah menyebarkan kesadaran kepada seluruh muslim di dunia. Hati muslim di seluruh dunia mulai bersatu karena keyakinan pada satu Tuhan. Kesadaran umat Islam untuk bersatu merupakan ketaatan kepada Allah sebagai mana dijelaskan dalam Al Quran.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; (Ali Imran, 3:103).

Ayat-ayat Al Quran yang memerintah umat Islam untuk bersatu telah menyebar ke seluruh dunia, seiring terjadinya genosida dan perang antara Iran dengan Amerika Serikat. Sia-sialah bagi orang yang berperang karena hawa nafsunya. 

Rasa persaudaraan dan persatuan sesama muslim kini sedang merasuki memasuki hati-hati seluruh muslim di dunia. Kesadaran rasa persaudaraan dam kemanusiaan penduduk bumi sedang bangkit melihat ajaran-ajaran Islam, karena dalam sejarahnya Nabi Muhammad tidak menaklukkan tentara untuk menyerah, tetapi menaklukkan hati manusia untuk berserah diri pada segala ketetapanTuhan.***

 

MENGANUT AGAMA ATAU PEMIKIRAN?

Oleh: Muhammad Plato

Apakah selama ini kita menganut agama atau pemikiran? Di dalam Islam sumber ajaran agama sudah jelas yaitu Al Quran dan hadis Rasulullah. Tanpa merujuk kepada dua sumber ini, seseorang tidak dapat dikatakan beragama. 

Sekalipun Al Quran dan hadis dinarasikan oleh orang per orang atau kelompok, keyakinan seseorang tidak pada orang atau kelompok, tapi pada Al Quran dan hadisnya. Pergeseran umat dalam beragama seiring dengan waktu telah bergeser bukan pada sumber pokok ajaran agama, tapi pada individu dan kelompok. 

Pengajaran beragama perlu di riset ulang, dikembalikan pada sumber aslinya. Pertentangan antar kelompok pemeluk Islam, sejak meninggalnya Nabi Muhammad masih terus terbawa hingga sekarang. Pertentangan antar kelompok karena keuasaan atas dasar keturuan menjadi keyakinan dalam beragama. Kelompok-kelompok keturunan yang ingin mendapat pengakuan mengeluarkan pandangan-pandangan keagamaan yang kadang bias dengan kepentingan.

Pertentangan antar kelompok keturunan keras terjadi di wilayah Timur Tengah hingga sekarang masih terjadi. Konflik yang masih terjadi sekarang terjadi antara kelompok Syiah dan Sunni. Dua kelompok ini masing-masing membawa pemikiran dalam ajaran Islam. Masing-masing pengikut membenarkan dan menyalahkan berdasarkan garis pemikiran dari kelompoknya masing-masing.

Ada batas yang sangat abstrak untuk membedakan mana agama dan mana pemikiran. Ketika narasi-narasi kebenaran diatasnamakan kelompok atau aliran, maka dia sedang tidak menganut ajaran agama tapi pemikiran sebuah kelompok. Hal paling abstrak lagi adalah ketika mengeluarkan dasar Al Quran dan hadis dengan niat membenarkan kelompoknya. 

Untuk mengembalikan agama pada sumber dasarnya, perlu ada gerakan kembali pada Al Quran dan hadis. Kebenaran dalam Al Quran dan hadis dinarasikan ketika berbicara ajaran agama Islam, bukan mengatasnamakan kelompok atau aliran. 

Islam bukan sunni dan bukan syiah, Islam adalah agama yang diajarkan Nabi Muhammad bersumber pada Al Quran dan hadis. Penganut agama Islam di seluruh dunia adalah satu kesatuan, tidak membeda-bedakan diri dengan kelompok, keturunan, atau aliran. 

Untuk mengembalikan kemurnian ajaran agama, perbedaan-perbedaan budaya dalam beragama tidak dibesar-besarkan menjadi konflik kelompok atau aliran agama. Umat beragama harus diberi batasan mana yang murni ajaran agama dan mana yang mengatasnamakan budaya atau kelompok. 

Semua pemuka agama sepakat kebenaran milik Allah, bukan milik ulama, pemikir, kelompok, atau aliran. Siapa yang mengajarkan agama untuk mengaku sebagai kelompok pemilik kebenaran, atau menyalahkan kelompok lain di luar kelompoknya, dia telah melampaui batas yang ditetapkan Allah.

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (Al Baqarah, 2:147).

Pengajaran agama sebaiknya lebih banyak menjelaskan apa yang terkandung dalam Al Quran dan hadis tentang sikap-sikap keteladan Nabi Muhammad dalam menjalankan agama. Tidak ada manusia yang patut diikuti kecuali Nabi Muhammad. 

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujuran, 47:10).

Konflik sesama muslim yang terjadi di Timur Tengah, sekalipun mengaku keturunan Nabi Muhammad, dia telah bertentangan dengan kebenaran dari Allah bahwa sesama muslim bersaudara dan seharusnya mengutamakan hidup damai jika mereka beriman kepada Al Quran.*** 

Saturday, July 11, 2026

AGAMA YANG DISUSUPI KEBENCIAN

Oleh: Muhammad Plato

Hati-hati terhadap agama yang telah disusupi kebencian turun-temurun, tidak disadari diwaris melalui lembaga-lembaga pendidikan dengan label agama. Kebencian dalam beragama disusupkan oleh mereka yang punya kepentingan. Penghargaan, keturunan, kekuasaan, kekayaan, adalah kepentingan-kepentingan yang sering menyusup dalam agama. 

Terkadang kerena kebencian sudah melekat dalam lembaga pendidikan berlabel agama, kebencian menjadi larut seolah jadi ajaran agama dan tidak terdeteksi oleh penganutnya. Kebencian yang sudah larut dalam lembaga agama dan menjadi narasi para penganutnya, situasi ini menjadi sulit untuk disadarkan.

Ebook pola berpikir mengikuti petunjuk Tuhan

Kebencian yang sudah larut dalam ajaran agama menjadi pola pikir menyusup tersembunyi. Mereka yang sudah tersusupi kebencian, tidak bisa mengenali kebenaran. Kebencian yang sudah membekas dalam hati sangat berbahaya, karena akan menutup keinginan untuk belajar. 

Kebencian yang tersimpan di hati tidak ada obatnya kecuali kembali belajar mengenali kembali kebenaran sesungguhnya. Bahaya memelihara kebencian adalah bisa menutup diri dari kebenaran. Karena kebencian kebenaran sekalipun sudah jelas dapat dibuktikan namun tidak dapat dikenalinya.

"Atau (apakah patut) mereka berkata: "Padanya (Muhammad) ada penyakit gila." Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran." (Al Mukminuun, 23:70). 

Kebencian yang tersembunyi bisa terjadi karena beragama terlalu mengandalkan emosi dan menutup keterlibatan akal. Tanpa libatkan akal, agama bisa jadi berubah menjadi hawa nafsu yang tidak terkendali. Agama yang terlalu mengandalkan emosi, bisa berubah menjadi sekumpulan orang yang mudah di provokasi dan mudah terjebak tipu daya. Agama yang terlalu mengandalkan emosi berubah menjadi fanatisme kelompok, aliran, keturunan, dan ekslusif.

Al Quran mengandung informasi yang sudah jelas dan abstrak. Hal-hal sudah jelas bisa dipahami dengan akal sederhana. Hal-hal yang abstrak membutuhkan kajian dan penelitian mendalam. Perintah Allah agar manusia menggunakan akal cukup jelas.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (Ali Imran, 3:190).

Allah memberi peringatan bahwa dalam beragama, wajib memiliki kecerdasan intelektual, untuk bisa membaca, meneliti, membedakan, menyamakan, dan merenungi berbagai tanda-tanda di alam. Dengan memahami tanda-tanda yang ada di alam, manusia bisa mengelola, memenuhi kebutuhan hidup, dan melestarikan alam.

Perihal penggunaan akal, Allah memberi peringatan dalam Al Quran. "Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (Al Maa'idah, 5:100).

Al Quran sangat menganjurkan penggunaan akal. Bahkan Al Quran mengandung peringatan keras bagi orang-orang yang tidak menggunakan akalnya. Tanpa penggunaan akal manusia bisa terjebak dengan emosinya sendiri. Agama tanpa akal mudah disusupi kehencian dan menimbulkan kemurkaan Allah.

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (Yunus, 10:100).

Di era keterbukaan tidak ada yang bisa sembunyi dari kebenaran. Di era informasi, kebenaran tidak lagi mutlak milik lembaga pendidikan, akademisi, ilmuwan, guru, pemuka agama, atau mereka yang bergelar. Kebenaran kembali pada esensinya bersumber pada data dengan akurasi tinggi dan mengandung nilai-nilai kebenaran, serta bisa menyelesaikan masalah untuk kehidupan damai sejahtera dan menjamin kehidupan manusia secara berkelanjutan hingga kehidupan setelah kematian.***

Friday, July 3, 2026

GURU TIDAK BERJASA PADA MURID?

Oleh: Muhammad Plato

Mengapa guru tidak boleh merasa berjasa pada muridnya? Karena tugas guru tidak boleh melampaui batas yang telah ditetapkan oleh Allah. Kegagalan dan keberhasilan adalah ketetapan dalam hidup yang tidak dapat dihindari oleh siapapun, termasuk Nabi Muhammad. 

Nabi Muhammad pernah mengalami kegagalan yang membuat jiwa kaum muslimin terguncang keimanannya. Kegagalan dialami pasukan Nabi Muhammad ketika perang Uhud. Kaum muslimin yang terguncang keimanannya kembali pada keyakinan lamanya. 

Inilah bukti ketetapan dari Allah bahwa siapapun akan mengalaminya. Gagal dan sukses adalah dua sisi yang pasti dilalui oleh siapapun. Orang-orang sabar, konsisten, fokus pada keberhasilan, atau dalam konsep Al Quran, beriman dan bertakwa kepada Tuhan itulah yang akan mendapat kemenangan.

Kembali pada topik guru. Keberhasilan dan kegagalan murid terlepas dari guru. Posisi guru hanya menduduki posisi penyampai ilmu dan penasehat. Ilmu milik Allah dan apa yang dinasehatkan dari apa yang baik milik Allah. 

Manusia tidak punya kuasa menjadi penyebab seseorang jadi baik atau buruk. Ketika guru mengajarkan ilmu dan etika, mengingatkan, membimbing, memotivasi, kehendak untuk melakukan dan tidak melakukannya sangat tergantung siapa yang dikehendaki Allah.  

Pola pikir Nabi Muhammad bisa kita identifikasi dalam ayat Al Quran. Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (Al A'raaf, 7:188).

Siapa yang dikendaki Allah mendapat kebaikan dan kesuksesan? Merekalah yang banyak berbuat kebajikan, kemungkinan besar mendapat keberhasilan, dan kemungkinan kecil mendapat kemudaratan. Ayat ini mengandung etika bagaimana seorang guru tetap rendah hati. 

Al Quran bukan perkataan manusia, jika kita mengembangkan pola pikir dari Al Quran, kita telah mengikuti pola pikir yang diajarkan Tuhan kepada para nabi hingga sampai kepada kita. Intinya adalah segala yang dilakukan guru hanya sebagai faktor eksternal yang mengondisikan situasi menuju ke arah baik. 

Inilah filosofi guru yang didasari pada kitab suci Al Quran, "Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (Al A'raaf, 7:188).

Secara hakikat, guru tidak berada pada posisi sebagai penjamin dan penentu keberhasilan murid, tapi sebagai pelaku penyampai dan pemberi kabar gembira. Guru tugasnya menggoda. Jika setan menggoda murid untuk berbuat jahat, guru menggoda murid untuk berbuat baik.

Mengapa ada orang kuliah di universitas terbaik, nasibnya kurang baik. Mengapa ada orang pendidikannya tinggi, penghasilannya lebih kecil dari orang yang tidak punya pendidikan tinggi? Itulah fakta bahwa keberhasilan terjadi pada siapa yang dikehendaki Allah. 

Lalu apa yang harus diajarkan pada murid-murid oleh guru? Jawabannya ada di potongan ayat ini. "Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. (Al A'raaf, 7:188)."

Interpretasi dari potongan ayat ini adalah karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tindakan yang paling aman untuk kita lakukan adalah berbuat baiklah sebanyak banyaknya, karena Allah berjanji akan membalas kebaikan dengan yang lebih baik. Inilah pesan yang harus diulang-ulang oleh guru agar murid-murid punya harapan bisa hidup lebih baik di masa depan.***



Sunday, June 28, 2026

ETIKA BERKOMUNIKASI PADA PEMIMPIN

Oleh: Muhammad Plato

Perbedaan mendasar pada masyarakat Timur dan Barat adalah masalah batasan. Peradaban Barat memnjamin kebebasan setiap orang berpendapat. Menghina menghujat, mencemooh, presiden di barat diakui sebagai ekpresi kebebasan berpendapat dan dilindungi undang-undang.

Al Qur'an mengajarkan etika berkomunikasi dengan pemimpin. Pemimpin di dalam Al Qur'an disebut sebagai ulim amri. Para ulama menyimpulkan ulil amri adalah para pemimpin di masyarakat. Ketaatan pada ulil amri dijelaskan dalam Al Qur'an setelah ketaatan pada Allah dan Rasul.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa, 4:59).

Keberadaan pemimpin pada sebuah masyarakat menjadi penting dan sakral. Fungsi pemimpin sebagai pengambil keputusan penentu arah kebijakan di masyarakat. Pemimpin seperti Pilot yang akan membawa kemana saja pesawat beserta penumpangnya pergi.

Idealnya seorang pemimpin dipilih dari kemampuan memahami kondisi masyarkat (peneliti), punya kemampuan berpikir (filsuf), dan teguh dalam keyakinan (berani mengambil keputusan). Pemimpin adalah manusia berkualitas tinggi sehingga punya otoritas dan harus ditaati.

Untuk itulah kepada pemimpin, seburuk apapun pemimpin ketika berkomunikasi Allah menetapkan standar penghormatan tinggi pada pemimpin. Siapapun menjadi pemimpin, tertulis dalam Al Qur'an sebagai orang yang harus ditaati. Penghormatan pada pemimpin, bagian dari ketaatan pada ketetapan dalam kitab suci. 

Namun demikian, pemimpin yang tidak mengikuti aturan harus tetap mendapat peringatan. Allah mengajarkan bagaimana Nabi Musa memberi peringatan kepada pemimpin. Allah mengabarkan Nabi Musa medatangi Fir'aun dengan kata-kata lemah lembut.

Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Thaahaa, 20:43-44).

Lalu apa yang dikatakan oleh Nabi Musa kepada Fir'aun. Secara substantif perkataan yang disampaikan kepada Fir'aun adalah bukan kata-kata hinaan, hujatan, ancaman, atau mnejelek-jelekkan, tetapi dalam bentuk katak-kata bijak untuk mengajak refleksi, tawaran bantuan, atau solusi, menuju pada kehidupan yang diharapkan oleh setiap orang.

Maka berkata, "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri?" "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar kamu takut (kepada-Nya)?" (An Naazi'at, 18-19).

Al Qur'an mengajarkan kepada seluruh manusia untuk tetap menjadi manusia beretika tinggi. Dalam kondisi seburuk apapun, manusia tetap mengendalikan dirinya tetap berada di atas akhlak yang baik. Inilah kecerdasan manusia-manusia beriman kepada Tuhan, yang digambarkan dalam Al Qur'an sebagai manusia berkemampuan intelektual tinggi.***

Saturday, June 6, 2026

STRUKTUR JIWA MANUSIA DALAM Al QUR'AN

Oleh: Muhammad Plato

Dari sudut pandang pendidikan kisah Kabil dan Habil bukan sosok fisik manusia, tapi dua potensi berpasangan yang ada dalam jiwa manusia. Perumpamaan Kabil dan Habil seperti arus dalam listrik, yaitu negatif dan positif. 

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (Al Maa'idah, 5:27).

Al Quran tidak leterlek memberikan nama Kabil dan Habil. Namun untuk memudahkan pemahaman para penafsir memberi nama dua anak Adam dengan Kabil dan Habil. Namun kalau dilihat dari kisah Al Qur'an di atas, Adam dan dua putranya dari sisi pendidikan merpakan susunan struktur jiwa manusia, yaitu Intelektual, Emosional, dan Spiritual (IES).

Tiga potensi yang ada dalam jiwa manusia ditemukan teorinya oleh tiga tokoh. Kecerdasan Intektual oleh Alfred Binet, Kecerdasan emosional oleh Daniel Goleman, kecerdasan spiritual oleh Danah Zohar dan Ian Marshal. 

Di dalam Al Qur'an ada konsep keseimbangan (mizan) dan larangan melampaui batas mizan. "Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. (Ar Rahman, 55:7-8).

ebook logika tuhan belajar berpikir optimis

Orang-orang berdosa dikatakan di dalam Al Qur'an adalah mereka yang melampuai batas. "Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; (Thaahaa, 20:43).

Intelektual (Adam) adalah pengendali emosi (Kabil) dan (Habil) spiritual. Adam adalah akal/intelektual, emosi dan spritual adalah nafsu (jiwa). Di dalam Al Qur'an ada penjelasan bahwa jiwa terdiri dari dua. "maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya," (Asy Syams, 91:8).

Intelektual sebuah kecerdasan aktif, bisa mengolah, memilah, dan mencipta informasi. Emosi dan Spiritual sifatnya dipengaruhi oleh apa yang diproses oleh kecerdasan intelektual. Emosi dan spiritual punya kekuatan besar jika aktif. Intelektual tidak bisa mengendalikan tanpa bantuan petunjuk dari Allah.

Petunjuk dari Allah adalah pengajaran. Di dalam Al Qur'an Allah mengajarkan kepada manusia kepada akal. "Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al 'Alaq, 3-5).

Allah mengutus para rasul untuk menurunkan wahyu (pemberitahuan tersembunyi) sebagai petunjuk. Kumpulan pengetahuan dari wahyu kepada para nabi jadi kitab. Nabi Muhammad meninggalkan kitab suci Al Qur'an.

Manusia diciptakan dengan tiga potensi yang ada pada dirinya, yaitu intelektual, emosi, dan spiritual. Di dalam otak, kontruksi ini terbagi menjadi tiga yaitu otak depan, tengah, dan belakang. Otak depan intelektual, otak tengah emosi, dan otak belakang motorik. 

Dalam dunia pendidikan dikenal tiga  ranah otak yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Teori ini jika ditarik ke sumber asalnya telah dijelaskan dalam Al Qur'an. Pengajaran dasarnya adalah menanam pengetahuan ke dalam otak intelektual untuk diproses menjadi moral dan prilaku hidup manusia di dunia untuk tujuan hidup sejahtera dan berkelanjutan (akhirat).***

Sunday, May 24, 2026

MENGAPA IRAN TIDAK MAU MENYERAH?

Oleh: Muhammad Plato

Iran dalam membela kedaulatannya tidak akan pernah ada kata menyerah. Nasionalisme bangsa Iran bukan bersumber dari nasionalisme kesamaan nasib atau budaya. Nasionalisme Iran dibangun atas dasar keyakinan pada ajaran agama, bersumber dari Al Quran.

Cara beragama orang Iran memiliki ciri khas. Mereka meniru karakter Ali bin Abi Thalib. Kita bisa saksikan karakter dari empat sahabat Nabi Muhammad memiliki keunggulan masing-masing. Abu Bakar berkarakter lembut, Umar Bin Khattab berkarakter keras dan tegas, Usman bin Affan berkarakter  dermawan, dan Ali Bin Abi Thalib berkarakter sangat cerdas.

ebook memahami pola pikir Al Quran menjadi rahmat bagi alam

Iran termasuk mengikuti karakter Ali bin Abi Thalib dalam beragama. Kecerdasan dalam beragama menjadi ciri khas bagi masyarakat Iran. Kondisi ini terlihat dalam model keberagamaan orang Iran yang sangat adaftif dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Para sahabat terdekat Nabi Muhammad memiliki keunggulan masing-masing. Ali bin Abi Thalib termasuk sahabat Nabi Muhammad yang ahli dalam memahami dan menjelaskan Al Quran. Ali bin Abi Thalib termasuk keluarga Nabi Muhammad yang mendapat asuhan langsung dari Nabi Muhammad. 

Oleh karena itu, Al Quran bagi masyarakat Iran selain sumber ajaran etika dan moral dalam beragama, mereka juga menjadikan Al Quran sebagai sumber gagasan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Moralitas keberagamaan orang Iran terlihat kuat tergambar dari prilaku para pemimpinnya.

Siapa orang Iran, karakternya bisa dilihat dari apa yang diajarkan Nabi Muhammad dalam Al Quran. Dalam membela tanah air, masyarakat Iran dapat digambarkan dalam Al Quran sebagai bangsa  berkeyakinan pada Tuhan dengan mengikuti apa yang diajarkan Nabi Muhammad dalam Al Quran.

Orang Iran sangat beriman pada Al Quran, sebagaimana dicontohkan para pemimpinnya. Di dalam Al Quran dijelaskan.

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya." (Al Anfaal, 8:15-16).

Inilah motivasi dorongan para pemimpin dan rakyat Iran dalam menghadapi agresi negara lain. Perlawanan dilakukan untuk menjaga kedaulatan negara. Inilah gambaran rakyat Iran menjadi kompak dalam membela kedaulatan negara. 

Negara-negara Muslim di Timur Tengah, seperti Palestina, Arab Saudi, Mesir, Yaman, memiliki keunggulan masing-masing. Dalam konteks agresi militer Amerika Serikat ke Iran saat ini, kita perlu belajar dari Iran bagaimana mempertahankan kedaulatan negara dari agresi negara lain. 

Umat Islam membutuhkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, untuk menterjemahkan Al Quran dalam konteks kekinian. Al Quran sebagai sumber pemikiran, tidak mengotak-ngotakan manusia menjadi satu kelompok ekslusif, tetapi menjadi masyarakat inklusif dengan semangat persaudaraan dan kasih sayang, saling tolong menolong dalam kebaikan, dan saling menghargai hak asasi manusia.*** 

Saturday, May 9, 2026

MENGAPA IRAN JADI NEGARA KUAT

Oleh: Muhammad Plato

Mengapa Iran bisa bertahan dari agresi Amerika Serikat? Secara fisik mungkin karena Iran punya teknologi senjata yang bisa mengimbangi AS. Iran memiliki teknologi perang yang lebih efektif dan efisien dibanding teknologi perang AS. Keunggulan Iran adalah bisa menciptakan teknologi murah tapi mematikan. Analisis ini menggunakan logika material. 

Dari sudut pandang Logika Tuhan, Iran bisa bertahan karena ketauhidan pemimpin dan masyarakat Iran kepada Tuhan. Pada saat perang berkecamuk, pemimpin Iran berkata, "tidak takut AS, tapi hanya takut kepada Tuhan". 

Para peminpin Iran menjadikan Al Quran sebagai landasan berpikir. Dalam budaya Iran, mereka memahami agama dengan menggunakan akal, sehingga Al Quran menjadi sumber keilmuan dan keimanan. Blokade selama 47 tahun tidak mungkin bisa dihadapi tanpa keyakinan. 

E book memahami logika Tuhan

Iran juga menjadikan Al Quran sebagai inspirasi dalam mengembangkan teknologi perang. Burung Ababil yang digambarkan telah menghancurkan pasukan gajah, menjadi inspirasi mengembangkan drone yang bisa menghantam kapal induk dan pangkalan militer dengan biaya murah. 

Ketika Al Quran dijadikan pedoman dalam kehidupan dan pengembangan ilmu pengetahuan, maka Allah membimbing dan memberi kekuatan pada bangsa Iran. Al Quran bukan sekedar pengetahuan biasa, Al Quran adalah firman Tuhan, Al Quran hidup dan membawa manusia dari gelap menuju terang. 

Ketika orang di isi Al Quran, dan Al Quran menjadi pola pikir dan keyakinan, maka Allah bersama orang-orang beriman. Maka selama 47 tahun Iran telah hidup bersama pertolongan Allah. Saat ini Allah membuktikan bahwa pasukan kecil bisa mengalahkan pasukan besar, karena Allah bersama pasukan kecil yang beriman dan bersabar 47 tahun. 

"Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al Baqarah, 2:249). 

"Allah beserta orang-orang sabar", inilah sebab kunci mengapa Iran bisa bertahan dan percaya diri menghadapi agresi militer Amerika Serikat. Selain itu, Iran tidak hanya beriman kepada Allah, dalam hati dan praktek ritual agama, Iran melaksanakannya dengan melaksanakan perintah Allah untuk membaca, berpikir, mengembangkan ilmu dan teknologi untuk   bisa hidup damai dan sejahtera. 

Makna perdamaian bagi bangsa Iran adalah menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mempertahankan diri. Di dalam Al Quran Allah memerintahkan untuk bersiap siaga. "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran, 3:200). 

Atas dasar bimbingan Allah, selama 47 tahun Iran tidak diam, mereka bersiap siaga dengan mengembangkan persenjataan untuk bertahan dari agresi bangsa lain. Ketika Iran tampil melawan kesewenang-wenangan AS, sesungguhnya hati umat Islam di dunia semakin yakin, Allah menjanjikan kehidupan damai dan sejahtera bagi orang-orang beriman dan seluruh makhluk di muka bumi.

Belajar dari Iran, makna ayat Al Quran, "kuatkanlah kesabaran, bersiap siaga, dan bertakwalah", prakteknya adalah selalu waspada, bersiap siaga, dan kuasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjaga kemananan, kedamaian, dan kesejahteraan hidup umat manusia.***

Friday, May 1, 2026

CARA PANDANG MANUSIA TERHADAP DUNIA

Oleh: Muhammad Plato

Para pemikir terdahulu banyak berdebat bagaimana cara memandang kehidupan dunia? Apakah dunia diciptakan Tuhan, atau ada dengan sendirinya? Apakah dunia ini kenyataan yang tepisah-pisah atau satu kesatuan?

Bermacam-macam pemikiran manusia, melahirkan bermacam-macam cara pandang. Sekularis, Integralis, Atheis, Agnostik, Pantheis, Monotheis, Animisme, Dinamisme. Mana yang akan diikuti? Manusia diberi akal dan punya potensi jadi pembelajar sepanjang hayat. 

Ebook cara berpikir menurut petunjuk Allah

Pemikiran-pemikiran dinarasikan melalui berbagai saluran informasi. Setiap pemikiran memiliki tokoh-tokoh yang diidolakan. Kadang, para ahli agama, ilmuwan, negarawan, pemimpin, pengusaha, dipakai untuk memasarkan berbagai pemikiran.

Nabi Muhammad adalah Rasulullah mendapat wahyu dari Allah untuk menarasikan bagaimana memandang dunia bersumber pada wahyu. Nabi Muhammad tidak hidup di zaman teknologi informasi, tetapi Al Quran yang diterimanya telah melampaui zaman. 

Nabi Muhammad adalah manusia, tetapi hati, pikiran, ucapan, dan tindakannya, melaksanakan Al Quran. Nabi Muhammad tidak pernah membawa kehendak berdasarkan keinginannya. 

Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru,dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. (An Najm, 53:1-3).


Nabi Muhammad membawa pesan bagaimana seharusnya manusia memiliki cara pandang. Cara pandang terhadap dunia yang diajarkan Nabi Muhammad bukan cara pandang Nabi Muhammad, tetapi cara pandang Allah, karena Nabi Muhammad berserah diri kepada apa yang telah diwahyukan Allah kepada dirinya. 

"Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu itu maka (katakanlah olehmu): "Ketahuilah, sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?" (Huud, 11:14).

Nabi Muhamad bukan sekedar membawa pesan wahyu untuk mengabarkan hukuman dan kabar gembira kepada manusia, tetapi mengabarkan bagaimana Allah memberi petunjuk kepada manusia dalam berpikir bagaimana cara memandang kehidupan dunia.

Allah telah menjelaskan bagaimana manusia dan alam semesta diciptakan, tetapi manusia-manusia yang membawa hawa nafsunya, mengemukakan pendapat-pendapatnya sendiri berdasarkan hawa nafsu tanpa ilmu. Ilmu dari Allah sudah jelas tiada Tuhan selain Allah. Ini kunci pertama agar manusia punya sudut pandang dengan mengikuti petunjuk ilmu dari Allah.

Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa". (Thaahaa, 20:16)***

SUNNI DAN SYIAH BUKAN AGAMA

Oleh: Muhammad Plato

Sunni dan Syiah bukan agama mereka adalah kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama. Agama yang bersumber pada Al Quran dan Hadis adalah Islam. Islam tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan kelompok, Islam melihat perbedaan manusia dari perbuatan, iman, dan takwanya kepada Tuhan. 

Ebook metode belajar agama langsung dari sumbernya

Keberadaan kelompok-kelompok dalam agama tidak bermasalah karena Nabi Muhammad sudah mengabarkan akan terjadi perbedaan dalam beragama. Tetapi ketika perbedaan kelompok atas nama agama sudah diajarkan dan menjadi bibit konflik dalam beragama, umat beragama harus kembali pada sumber ajaran dasar agama.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran, 3:103).

Mengapa perpecahan dilandasi kelompok agama mudah tersulut? Karena setiap kelompok agama merasa paling benar berada di posisi benar. Orang yang merasa pada posisi benar jika emosinya tidak terkendali bisa lebih berbahaya dan menuju perang saudara. Maka Allah mengajarkan kepada umat beragama jangan saling mencela karena merasa paling benar dihadapan Allah. 

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. ( Al Hujuraat, 49:11).

Untuk memahami isi dua ayat Al Quran di atas, tidak perlu validasi dari orang lain. Gunakan otak sehat pahami apa yang dikehendaki Allah berdasar ayat itu. Allah melarang bercerai berai, Allah melarang sesama umat beragama saling olok-olok. Tidak pantas bagi orang-orang yang mengaku beriman masih punya prilaku suka mengolok-ngolok sesama umat beragama. Bagi yang masih suka mengolok-ngolok harus bertobat itu peringatan dari Allah.

Ketika di akhirat manusia tidak akan ditanya dari kelompok-kelompok mana organisasi agamanya? Semua akan terbagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok kiri dan kanan, dan kelompok yang suka berkorban. Kelompok kiri mereka yang suka mengajarkan agama dengan mengolok-mengolok kelompok agama lain. Kelompok kanan adalah mereka yang mengajarkan agama taat kepada Allah dengan menjaga persatuan dan menghindarkan umat dari perpecahan. 

Kelompok yang suka berkorban mereka membela keadilan dan hak-hak manusia sebagai makhluk Tuhan yang harus dihormati dan dihargai dengan harta dan jiwanya. Mereka tidak melihat manusia dari kelompok-kelompoknya tapi melihat manusia sebagai makhluk Tuhan. Sesama orang beriman mereka menganggap saudara tanpa membeda-bedakan kelompok dan alirannya. Kelompok yang suka berkorban dirinya telah menjadi rahmat bagi seluruh alam. ***  


Sunday, April 12, 2026

NABI IBRAHIM LELUHURNYA BANGSA IRAN

Oleh: Muhammad Plato

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim." (As Syu'araa, 26:69). 

Iran adalah bangsa yang tidak pernah dijajah. Iran mewarisi peradaban Persia sebagai peradaban besar dunia. Dari sejarahnya bangsa Iran adalah pemikir dan petarung. Persia dikenal sebagai bangsa penyembah api. Kisah Persia digambarkan dalam Al Quran dalam kisah Kerasulan Nabi Ibrahim. 

Cek Ebook sukses dengan logika Tuhan

Nabi Ibrahim adalah penakluk masyarakat penyembah api atau matahari. Nabi Ibrahim diturunkan kepada masyarakat penyembah api dengan kemampuan berpikir tinggi. Nabi Ibrahim digambarkan sebagai sosok ahli debat, karena pemimpin dan masyarakat yang dihadapi Nabi Ibrahim  adalah ahli berpikir.

Kisah-kisah Nabi Ibrahim digambarkan dalam Al Quran, dengan perdebatan. Nabi Ibrahim punya kemampuan berpikir dengan bimbingan wahyu dari Allah. Nabi Ibrahim menghadapi orang-orang cerdas dalam berpikir dan menaklukkannya dengan adu debat. 

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim." (Al Baqarah, 2:258).

Bangsa persia penyembah api mengalami perubahan, sekarang menjadi bangsa Iran penyembah Tuhannya Ibrahim. Gen sebagai ahli pikir warisan Nabi Ibrahim mengalir di darah bangsa Iran. Peradaban Islam berkembang setelah Persia bertemu dengan Nabi Muhammad yang melanjutkan jejak agama Nabi Ibrahim. 

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif." dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (An Nahl, 16:123).

Berita Al Quran di bawah, bisa jadi petunjuk fakta bahwa bangsa Iran memiliki keterkaitan leluhur kepada Nabi Ibrahim sebagai Nabi yang diutus oleh Allah kepada masyarakat ahli debat. 

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (At Taubah, 9:114).

Berikut Allah gambarkan perdebatan Nabi Ibrahim dengan penyembah berhala. Perdebatan ini menggambarkan Nabi Ibrahim sebagai pememang debat. 

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim". Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara". kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara". Ibrahim berkata: "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak memberi mudarat kepada kamu?" (Al Anbinya, 21: 58, 60, 62, 63, 65,66).

Kisah perdebatan Nabi Ibrahim menggambarkan tradisi leluhur orang Iran zaman dahulu sebagai masyarakat penyembah berhala yang suka berdebat. Cara beragama bangsa Iran sekarang memiliki kebiasan menggunakan akal untuk berpikir. Tradisi beragama bangsa Iran seperti tradisi yang diaajar Nabi Ibrahim dan diikuti Nabi Muhamad. 

Bangsa Iran termasuk kelompok umat Islam yang kuat dalam keyakinan dan punya keberanian karena keteguhan Iman dibangun dengan nalar bersumber pada Al Quran sebagai pedoman. Iran bangkit sebagai bangsa yang tidak mudah menyerah, punya kemampuan ilmu dan teknologi, serta teguh dalam keyakinan.

Bangsa Iran, menjadi salah satu kelompok bangsa yang mewarisi tradisi beragama mengikuti Nabi Muhammad, dan Nabi Muhammad diutus untuk mengikuti agamanya Nabi Ibrahim. Bangsa Iran adalah pembawa narasi kisah kejayaan Islam karena kemampuannya dalam berpikir turun temurun seperti Nabi Ibrahim.***  

 

Saturday, April 11, 2026

PEMIMPIN HARUS MISKIN

Oleh: Muhammad Plato

Michael H. Hart, menobatkan Nabi Muhammad sebagai pemimpin nomor satu paling berpengaruh di dunia dari 100 tokoh berpengaruh. Sebagai pemimpin Nabi Muhammad tidak membuat singgasana. Kepemimpinan Nabi Muhammad masih ditiru oleh empat sahabat terdekat Nabi. 

Mengapa Nabi mengajarkan gaya hidup miskin pada pemimpin? Menurut Prof. Suzie Sri Suparin S. Sudarman, M.A., dalam podcast di @last minute id,  "orang kaya jika sudah sangat kaya berubah jadi jahat". 

cek Ebook sukses dengan logika Tuhan

Hal ini diungkapkan melihat kasus prilaku jahat kaum kapitalis di Amerika Serikat (AS). Skandal kebobrokan pemimpin AS terungkap dari file tokoh-tokoh kapitalis yang berisi foto-foto penyimpangan sosial yang dilakukan para pemimpin kapitalis AS. Pemimpin AS sengaja menciptakan perang untuk kepentingan uang.


Nabi Muhammad dalam sebuah hadis bersabda, "Kesengsaraan yang paling sengsara ialah miskin di dunia dan disiksa di akhirat."  (HR. Ath-Thabrani dan Asysyihaab). "Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran. (HR. Ath-Thabrani)". 

Kemudian Nabi Muhammad berdoa, "“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku nanti di hari kiamat bersama kelompok orang-orang miskin.” (HR. Ibnu Madjah dan Tarmidzi).

Dua konteks hadis di atas jika disimak terlihat bertentangan. Di satu sisi Nabi Muhammad mengajak umat manusia waspada dengan kemiskinan, di satu sisi Nabi Muhammad memberi contoh agar jadi pemimpin miskin. 

Nabi Muhammad setelah mendapat kemenangan menguasai Mekah, Beliau bisa menjadi orang paling kaya di Mekah. Namun Nabi Muhammad tetap memosisikan diri sebagai pemimpin miskin. Puncak spiritual seorang pemimpin adalah menjadi orang miskin. 

Miskin dalam konteks kepemimpinan adalah gaya hidup. Bukan berarti pemimpin miskin tidak punya kekuatan kapital dan harta. Dalam perjuangan menegakkan Islam, Nabi Muhammad menghabiskan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. 

Miskin sebagai gaya hidup pemimpin adalah gaya hidup manusia yang tidak punya banyak angan-angan, hanya berpikir kebutuhan dasar terpenuhi. Artinya gaya hidup pemimpin miskin, untuk pribadinya lebih fokus pada kebutuhan dasar hidupnya bukan keinginan.   

Semua energi perjuangan para pemimpin bergaya hidup miskin adalah mensejahterakan orang-orang miskin. Rakyat harus kaya, pemimpin tetap miskin. Segala daya dan upaya pemimpin miskin memperjuangkan seluruh kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Bagi pemimpin bergaya hidup miskin, untuk dirinya sudah terasa cukup. 

Nabi Muhammad menginginkan mati dalam keadaan miskin. Nabi memahami, orang miskin waktunya singkat ketika menghadapi pertanggungjawaban di akhirat. Orang kaya akan menghadapi hisab yang panjang mempertanggungkawabkan kekayaan yang dimilikinya di dunia. Nabi Muhammad menjelaskan.

"Orang-orang miskin dari kalangan kaum mukminin akan masuk surga setengah hari lebih dahulu daripada orang-orang kaya, dan setengah hari itu setara dengan lima ratus tahun." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). 

Inilah filosofi mengapa Nabi Muhammad berdoa minta hidup miskin dan mati miskin. Inilah filosofi seorang pemimpin yang pasti banyak peluang untuk mendapatkan kekayaan banyak dari kekuasaannya, tapi tidak punya angan-angan untuk memilikinya, karena lebih memilih jadi pemimpin miskin. 

Peemimpin miskin yang diharapkan oleh Nabi, dicontohkan oleh dirinya sendiri. Kekuasaan Nabi Muhammad bisa meliputi Barat dan Timur. Kekayaan Nabi bisa seisi langit dan bumi, tapi Nabi memilih hidup miskin, dan lebih mengkhawatirkan kehidupan umatnya. Itulah pemimpin miskin yang diajarkan Nabi Muhammad.***