Sunday, November 14, 2021

TIGA AYAT AMALAN ORANG PALING KAYA DI INDONESIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Inilah tiga ayat amalan ilmu orang paling kaya di Indonesia, Aditya Prayoga. Kemungkinan, sedekahnya 500 persen lebih besar dari penghasilannya. Gagasan mendirikan Rumah Makan Gratis (RMG), bisa dibilang ide yang tidak bisa dipahami nalar rasional material. Dalam kondisi terbatas, pendidikan hanya sekolah dasar, rumah petakan kontrak, dan penghasilan tidak menentu, gagasan mendirikan RMG sangat tidak diterima nalar awam yang mainstream material. Inilah keunggulan orang-orang yang berpikir mengikuti logika Tuhan. Siapapun pelakunya, dari lapisan manapun, kalangan manapun dia akan tampil jadi sosok pribadi inspiratif dan edukatif.

Aditya Prayoga tidak sekolah khusus tentang agama, tetapi apa yang dilakukannya telah mengikuti apa yang telah diajarkan dalam pelajaran agama. Adit drop out dari dunia pendidikan, tetapi dia belajar dari sekolah kehidupan dengan merantau, terjun ke dunia real dan berusaha survival. Tulisan ini akan mengambil pelajaran-pelajaran penting yang bisa kita tiru dan ajarkan dalam dunia pendidikan. Banyak pesan moral yang harus kita renungkan dari kesuksesan Adit Prayoga yang berhasil membangun RMG dan berhasil membuka beberapa cabang di berbagai daerah. Inilah kunci kesuksesan Adit Prayoga yang bisa kita teladani.


Pertama,
komitmen Adit sebagai anak yang benar-benar berbakti pada orang tua sepenuh hati. Berbakti pada orang tua sebagai kunci sukses bukan semata dongeng rakyat tetapi sebuah ketetapan dari Tuhan yang bagi siapapun dapat melakukannya, dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Berbakti pada orang tua adalah rumus sukses bisnis orang-orang China, rumus sukses para pengusaha, rumus ilmu sosial dasar, dan grand theory ilmu pendidikan. Allah telah menetapkan ketentuan ini sejak dulu hingga sekarang.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Al Israa, 17:23).

Ketentuan ini berlaku general tidak hanya untuk orang tua kandung, tapi untuk seluruh orang tua. Ketentuan yang berat ini, berhasil Adit aplikasikan dengan sempurna. Beliau mengurus seorang nenek yang hidup, sakit, sebatang kara hingga ajalnya tiba. Ketulusan Adit yang tidak berpendidikan tinggi dalam menghargai, menghormati, dan memelihara orang tua, telah mengguncang dunia spiritual. Malaikat bersujud dan Allah memuji prilakunya.

Kedua, secara faktual Adit tidak menjadikan shalat dan sabar sebagai ritual dan ucapan tanpa makna, tetapi menjadi alat berkomunikasi dirinya dengan Tuhan ketika berhadapan dengan kesulitan, dan tempat berkeluh kesah kesah tentang kondisi hidup yang dihadapinya. Kemampuannya dalam bersabar telah dibuktikan oleh Adit dengan mengambil ajaran yang terberat dirasa manusia, dan tidak semua orang bisa melakukannya yaitu:

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (At Thalaaq, 65:7).

Prilaku Adit bertentangan dengan pola umum tetapi sangat dianjurkan di dalam Islam, yaitu sedekah di kala sempit. Sedekah dikala tidak punya uang. Sedekah dikala sakit. Sedekah di kala tidak punya pekerjaan. Sedekah dikala tidak punya uang untuk bayar kontrakkan. Sedekah dikala hidup dilanda kegelisahan. Cara berpikir ini tidak dapat dijelaskan oleh cara berpikir rasional materialis, tapi hanya bisa dipahami oleh cara berpikir rasional religius.

Ketiga, Adit mengimplementasikan cara berpikir berkelimpahan sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an, 1-1=700. Ini cara berpikir orang-orang besar terdahulu. Cara berpikir para Nabi dan cara berpikir para sahabat Nabi. Cara berpikir ini akan melahirkan semangat jiwa berkorban, semakin mengabdi pada Tuhan, dan semangat untuk mensejahterakan banyak orang. Ayat ini mengandung rumus bagaimana orang-orang besar dapat memperoleh keberhasilan yang besar. Rumus ini tidak dapat dipahami dengan matematika material, hanya bisa dipahami oleh matematika Al-Qur’an yang belum dapat diketahui turunan rumusnya tetapi bisa dibuktikan adanya secara nyata.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Al-Baqarag, 2:261).

Bagi siapapun yang berani hidup di jalan ini, pasti hidupnya sejahtera. Kuncinya hanya keberanian. Jika belum berani, sedikit-sedikit saja kerjakan tapi konsisten. Mari kita ajarkan pada anak-anak kita, agar mereka menjadi manusia-manusia pemberkah di masa mendatang. Ini standar kompetensi dari Tuhan. Jangan percaya apa yang saya katakan, pikirkan saja ayatnya! Wallahu’alam. 

Tuesday, November 9, 2021

SHALAT LIMA WAKTU DI AL-QUR’AN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ada pernyataan seseorang yang menyatakan, “shalat lima waktu tidak ada di Al-Qur’an”. Kepada seorang yang mengatakan shalat tidak ada di Al-Qur’an, ayo kita diskusi!!!

Bagaimana menurut pendapat Anda?

Diskusi

Diskusi

Diskusi

Diskusi

Diskusi

Diskusi

Diskusi

Nabi Muhammad SAW sumber syariatnya dari Al-Qur’an.

Diskusi

Diskusi

Diskusi

Diskusi

Diskusi

Diskusi

Diskusi

“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (Huud, 11:114).

Kedua tepi siang = dua waktu

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (Al-Israa, 17:78).

sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam = dua waktu

subuh = satu waktu

dua waktu + dua waktu + satu waktu = lima waktu

 “Dari Abdullah Ibnu Amr Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Waktu Dhuhur ialah jika matahari telah condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu Ashar belum tiba, waktu Ashar masuk selama matahari belum menguning, waktu shalat Maghrib selama awan merah belum menghilang, waktu shalat Isya hingga tengah malam, dan waktu shalat Shubuh semenjak terbitnya fajar hingga matahari belum terbit." Riwayat Muslim.

Sudah begitu saja diskusinya.

Terimakasih semuanya. Walahu’alam

Saturday, October 23, 2021

TINGKATAN PENGETAHUAN DAN TINDAKAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Semua tujuan pengajaran untuk diri sendiri, orang lain hanya mendengar, mempertimbangkan dan memutuskan. Semua pengajaran konkritnya akan ditanggkap oleh diri kita dan orang lain adalah pengetahuan. Setiap orang punya level-level pengetahuan yang dipahaminya.

Secara singkat saya jelaskan bagaimana level pengetahuan seseorang dengan menggunakan analogi dari struktur benda. Level benda menurut fisika terdiri dari atom, molekul, partikel, dan quanta. Empat level benda ini saya bandingkan dengan konsep pengetahuan dalam pemikiran Islam sebagai berikut:

LEVEL PEGETAHUAN

LEVEL PENGETAHUAN

LEVEL PENGETAHUAN

ATOM

SYARIAT

FORMAL

MOLEKUL

TAREKAT

INTELEKTUAL

PARTIKEL

HAKIKAT

MISTIK

QUANTA

MA’RIFAT

PROPHETIK


(Sumber: Fritjop Capra, Fahrudin Faiz)

Level pengetahuan atom terdapat pada level pengetahuan awam level alam nyata. Pengetahuan yang didapat atau diterima begitu saja apa adanya. Pengetahuan yang diterima bersumber dari apa yang ditangkap dari panca indera; didengar, dilihat, diraba, dirasa dan dicium. Penngetahuan yang di dapat panca indera langsung diterima disimpan di memori tanpa ada proses pemahaman. Dalam teori pengetahuan Bloom, pengetahuan yang didapat panca indera ini ada pada level ingatan (recalling data). Orang yang pengetahuannya di level atom (benda besar) sama dengan level pengetahuan syariat (jalan besar) atau formal (pola umum). Tindakan orang pada level ini berdasar pendapat umum, opini atau apa kata orang banyak. Pada level ini orang melihat alam ini pada level benda-benda besar yang terpisah-pisah, out group-in group. Cintanya pada materi masih sangat besar.

Level pengetahuan molekul (pola khusus), merupakan level pengetahuan tarekat (jalan kecil) atau intelektual. Pengetahuan yang diterima seseorang sudah melalui proses pemahaman. Pada proses pemahaman sudah ada proses kerja akal. Setiap informasi yang diterima sudah melalui proses pemahaman sebab akibat. Pengetahuan orang pada level ini sudah mulai mendalam dan sedikit kritis. Prilaku orang pada level ini sudah memiliki dasar pemahaman mengapa suatu tindakan harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Pada level ini orang melihat alam sebagai kelompok-kelompok kecil yang terpisah-pisah, out group-in group. Cintanya pada materi sudah mengecil.

Level pengetahuan partikel (pola sangat khusus), merupakan level hakikat, atau mistik. Pengetahuan yang diterima melibatkan akal dan perasaan (hati). Pada level ini, pengetahuan yang diterima sudah melalui proses uji rasa. Setiap informasi yang masuk sudah melalui proses analisis dan evaluasi. Tindakan orang pada level pengetahuan ini, mempertimbangkan ketenangan jiwa, kesucian diri, dan tidak merugikan orang lain. Pada level ini orang melihat alam sebagai benda dalam bentuk individu-individu kesendirian. Menagsingkan diri, menjauhkan diri dari hiruk pikuk merupakan jalan hidup yang harus ditempuh untuk mendapatkan ketenangan dan kesucian diri. Cintanya pada materi hanya tinggal apa yang ada dalam dirinya.   

Level pengetahuan quanta, (pola general), merupakan level ma’rifat atau prophetik. Pengetahuan yang diterima sudah melalui proses sistesa antara akal dan perasaan mendalam, dengan tujuan-tujuan kemanusiaan. Pada level ini orang sudah bisa menemukan ketanangan sekalipun dalam hiruk pikuk kehidupan.  Pada level ini orang sudah melihat alam sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Keberadaan benda lain tidak lepas dari keberadaan benda-benda lain. Keberadaan dirinya tidak lepas dari keberadaan orang lain. Keberadaan dirinya tidak terlepas dari keberadaan orang lain. Antara dirinya dengan orang lain terikat oleh sebuah sistem yang saling berhubungan. Pola tindak orang pada level ini bukan hanya untuk kesenangan, ketenangan jiwa untuk dirinya sendiri. Tindakan-tindakan yang dilakukannya bukan saja untuk pertimbangan rasa untuk ketenangan dan kesejahteraan dirinya sendiri, tetapi sudah mempertimbangkan ketenangan dan kesejahteraan orang lain. Cintanya pada materi hanya terbatas apa yang dibutuhkan untuk hidup dan sebagian besar untuk kesenangan dan kesejahteraan orang lain.

Orang-orang pada level pengetahuan quanta, ma’rifat atau prophetik adalah orang-orang yang layak untuk menjadi guru atau pemimpin di muka bumi ini. Orang-orang pada level ini sudah melarutkan diri menjadi bagian dari sebuah sistem alam, yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keharmonisan sistem kerja alam. Tuhan dengan dirinya sudah hampir tidak ada jarak. Jarak antara Tuhan dan dirinya hampir tanpa batas. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (Qaaf, 50:16). Pada level ini orang sudah mengenal sistem kekuatan di luar manusia yaitu Tuhan yang maha esa yang maha besar kekuasaannya.

Isi tulisan ini merupakan sintesa dari pemikiran-pemikiran yang telah ada. Semoga membantu mempermudah meningkatkan kapasitas diri kita sebagai manusia. Secara pribadi, berdasar tulisan ini saya semakin memahami diri bagaimana saya harus memantaskan diri menjadi manusia yang menyenangkan dan membahagiakan seluruh alam. Menurut saya ini jalan yang lebih mendekatkan diri kepada Tuhan tempat kita kembali. Wallahu’alam. 

Saturday, October 16, 2021

METODE BERAGAMA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Saya amati ada dua metode beragama yang ada di masyarakat. Metode pertama adalah metode langsung (direct). Pada metode ini seseorang bisa langsung berhubungan dengan Allah, tanpa perantara. Kedua, metode tidak tidak langsung (indirect). Pada metode ini seseorang untuk bisa berhubungan dengan Allah harus melalui perantara. Kedua metode ini perangkatnya sama yaitu otak, akal, dan penalaran.

Metode beragama secara langsung (direct), jika seseorang ingin berkomunikasi dengan Tuhannya bisa langsung mengakses sumber ajarannya yaitu kitab suci. Melalui kemampuan akalnya dan keilmuan yang dimilikinya, seseorang bisa membaca, memahami, mempraktekkan, menganalisis, mensintesis,  menemukan nilai etika dan moral yang terkandung dalam kitab suci yang diyakininya.

Metode langsung memosisikan bahwa manusia adalah makhluk sempurna, diberi alat yaitu otak, kapasitas akal dan penalaran. Metode langsung dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kapasitas dan keberanian untuk memahami kitab suci dengan kemampuan akalnya. Metode langsung dilakukan oleh orang-orang yang mengakui bahwa antara Allah dan dirinya tidak ada batas. Akal yang dimiliki manusia adalah anugerah dari Allah yang lebih dari cukup untuk bisa memahami ayat-ayat Allah sekemampuannya, karena manusia dipandang Allah bukan dari kapasitas keilmuannya tetapi ketakwaan akalnya kepada Allah.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujuurat, 49:13).

Pada dasarnya, ilmu hanya membantu pemahaman seseorang tentang hakikat Allah dan ciptaannya. Hasil dari kepemilikan ilmu adalah keimanan dan ketaatan kepada Allah. Allah tidak mengukur berapa kapasitas keilmuan seseorang, tetapi Allah memuliakan berdasar keimanan dan ketaatannya. Allah tidak membedakan orang berdasarkan lulusan sekolah dasar dan perguruan tinggi, tetapi sejauhmana keimanan dan ketakwaan seseorang.

Dalam metode beragama tidak langsung (indirect); seseorang untuk berkomunikasi dengan Allah, tidak bisa langsung tetapi memerlukan bantuan dari orang-orang yang dianggap lebih paham dalam memahami ayat-ayat Allah. Untuk itu dibutuhkan guru pembimbing dalam memahaminya. Ketergantungan pada guru-guru pembimbingnya sangat erat, sehingga akalnya diposisikan terikat oleh apa yang telah dijelaskan oleh guru-gurunya. Dalam hal ini seperti penganut ajaran Nasrani yang sangat terikat kepada pemahaman para pendetanya. Tidak ada yang berhak memahami kitab suci kecuali para pendetanya.

Mereka yang beragama tidak langsung, akalnya tidak memiliki kebebasan dan memosisikan akalnya tidak pantas untuk memahami ayat-ayat Allah secara langsung. Akalnya dianggap memiliki keterbatasan dan rendah di banding dengan gurunya. Ketaatan pada gurunya terdahulu dianggap sebagai satu-satunya cara memahami agama.  

Dua metode ini masing-masing memiliki kelemahan. Kelemahahan dari dua metode beragama ini adalah egoisme, sikap berlebihan yang melampaui batas kewenangan bahwa Allah sebagai pemilik kebenaran. Kedua metode ini sama-sama akan terjebak pada egoisme individu atau kelompok, akibatnya akan terjadi saling klaim kebenaran dan menimbulkan perpecahan. Sikap egosime akan melampaui batas kewenangan dengan saling klaim sebagai pemilik kebenaran. Risikonya, secara berlebihan kelompok yang beragama secara langsung akan bergeser men-Tuhan-kan dirinya, dan kelompok yang tidak langsung akan men-Tuhan-kan guru-gurunya.

Dari dua metode ini tidak ada yang lebih diunggulkan, pemahaman yang harus dipahami bersama adalah sebagai umat beragama tidak pantas untuk mengambil hak Allah sebagai pemilik kebenaran. Sebagaimana para Nabi diutus ke bumi hanya untuk menyampaikan kebenaran dari Allah. Kebenaran-kebenaran dari Allah disampaikan kepada manusia untuk membimbing mereka agar bisa  hidup damai dan sejahtera di dunia dan akhirat.

Pada akhirnya manusia dengan kapasitas akalnya secara langsung atau tidak langsung akan mengambil pilihan berdasarkan keputusan dirinya masing-masing dan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan pengadilan Allah. “orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (Al Insyiqaaq, 84:25). Dihadapan Allah tidak ada yang lebih mulia kedudukannya kecuali yang beriman dan bertakwa. Wallahu’alam. 

Wednesday, October 13, 2021

LEBIH BAIK JADI TANAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Akal itu berpikir, dan setiap akal memiliki pola berpikir sesuai dengan pengetahuan dan kebiasaanya yang dia lakukan. Pengetahuan yang sering dioleh oleh akal manusia akan menentukan arah pola pikir manusia itu sendiri. Jika manusia ini selalu mengolah pengetahuan berdasar pengalaman dan pendapat orang saja, maka dapat dipastikan dia sedang berpikir menggunakan pendekatan materialistik.

Ciri dari pola pikir orang beriman adalah selalu ada konsep akhirat di dalam pikirannya. Akhirat sebagai dunia yang hidup setelah kematian diyakini menjadi tempat kehidupan sebagai akibat dari kehidupan dunia. Kabar tentang dunia akhirat adalah kabar dari masa depan, yang dikabarkan oleh Allah swt kepada manusia.


“Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (Yasin, 36:54).

Dari masa depan Allah mengabarkan kepada kita bahwa di dunia akhirat kelak bukan mulut yang akan berkata dan memberi kesaksian, tetapi  tangan dan kaki kita. Di akhirat tangan akan berkata dan kaki akan bersaksi atas apa yang telah kita kerjakan di dunia sekarang. Maka, kehidupan yang kita terima di akhirat adalah akibat dari apa yang kita lakukan di dunia sekarang.

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Yasin, 36:65).

Orang-orang yang mendustakan adanya Tuhan, menganggap negeri akhirat sebagai dongengan orang-orang terdahulu. Mereka tidak yakin aka nada kehidupan setelah kematian, karena keyakinan mereka harus berdasar pada penglhatan dan pengalaman semata.

“yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu". (Al Mutaffifiin, 83:13).

Allah kembali mengabarkan bahwa di masa depan akan ada orang berkata, “alangkah baiknya jika aku menjadi tanah”. Perkataan ini adalah pealajara bagi kita yang hidup di masa lalu sekarang. Kabar ini dijelaskan di dalam Al-Qur’an:

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu  siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah". (An Naba’, 78:40).

Mengapa orang-orang kafir berkeinginan menjadi tanah? Tanah itu tidak mengemban tugas seperti manusia, tetapi tanah banyak berjasa untuk kehidupan manusia. Manusi diciptakan dari tanah, hidup di atas tanah, makan dari tanah, kembali ke tanah. Pada hari perhitungan tanah bebas dari segala tuntutan, karena selama hidupnya tanah telah melaksanakan seluruh perintah Allah. Tanah tidak terikat perjanjian dengan Allah sebagai pengembagan amanah sebagaimana diemban manusia. Maka kelak di akhirat alangkah bahagianya jadi tanah yang bebas dari segala tuntutan. Walahu’alam.

Sunday, September 26, 2021

CARA MEMBACA TANDA-TANDA DARI ALLAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Dua sahabat dengan cepat telah pergi mendahului kita. Di saat-saat kita butuh kehadiran guru-guru terbaik untuk melahirkan generasi-generasi terbaik, Allah punya rencana lain, Allah memanggil sahabat-sahabat terbaik kembali pulang kepada-Nya. Rasanya ingin protes mengapa terjadi di saat-saat situasi sedang seperti ini? Untung saja ada sedikit kesadaran terbersit, bahwa orang-orang terbaik dihadapan Allah akan diuji dengan ujian-ujian besar agar selalu dekat dengan Allah.

Jika kita akan kehilangan sesuatu, sebenarnya Allah telah memberi tahu. Cara Allah memberi tahu dengan kejadian-kejadian yang terjadi pada alam, hewan, teman, saudara, pikiran dan bisikan hati. Allah memberi tanda-tanda. Kemampuan kita membaca tanda-tanda dapat jadi pengingat diri menjadi selalu waspada.

Sebagaimana Allah memberi tahu dengan tanda-tanda alam, mendung sebagai tanda akan turun hujan, angin kencang sebagai tanda akan terjadi penggantian musim, banjir bandang sebagai tanda telah terjadi kerusakan hutan, gunung meletus sebagai tanda pergerakan dapur magma. Semua tanda dikejadian alam adalah Allah yang menggerakkan, manusia membaca sebab dan akibatnya sebagai tanda.

Kejadian alam di rumah, ketika nasi sering basi Allah memberi tanda. Burung menabrak kaca, kupu-kupu, ular, kelabang, serangga, masuk rumah adalah tanda. Hati tiba-tiba gelisah dan pikiran jadi berprasangka negatif itu adalah tanda-tanda. Ilmu tanda-tanda Allah kabarkan dalam Al-Qur’an.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh  tanda-tanda  bagi kaum yang memikirkan. (Al Baqarah, 2:164).

Lalu bagaimana kita membaca tanda-tanda? Bukan kejadian fisik apa yang akan terjadi yang kita baca. Bukan siapa yang akan berbuat dzalim kepada kita yang kita baca. Bukan penderitaan apa yang akan menimpa kita yang kita baca. Allah memberi kabar cara membaca kejadian di dalam Al-Qur’an.

“Bacalah atas nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,” (Al ‘Alaq, 96:3).

Membaca atas nama Tuhan berarti manusia tidak boleh sembarangan membaca tanpa ada petunjuk dari Allah. Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang beriman adalah petunjuk membaca segala kejadian alam yang pada hakikatnya adalah tanda-tanda dari Allah.

Lalu bagaimana cara membaca tanda-tanda dari Allah berdasar petunjuk Al-Qur’an? Tanda-tanda dari Allah dapat dibaca oleh kaum yang memikirkannya, sebagaimana bunyi kata terakhir dalam Al Baqarah ayat 164, “la ayaatilliqoumi ya’qiluun”. Membaca kejadian sebagai tanda-tanda dari Allah adalah sebagai sebab dan manusia memikirkan akibatnya. Sebaliknya membaca tanda-tanda dari Allah sebagai akibat dan memikirkan sebabnya. Dua pola ini menjadi cara membaca tanda-tanda kejadian dari Allah. Untuk mempermudah kita buat tabel seperti di bawah ini, bacalah dari atas ke bawah pada tiap kolom agar bisa dipahami secara kronologis.

Tanda-tanda

Sebab

Akibat

Semua tanda-tanda kejadian adalah dari Allah

Membaca dengan memikirkan apa sebabnya

Membaca dengan memikirkan apa akibatnya

Menurut Petunjuk Allah, semua sebab kejadian baik dan buruk datang dari diri sendiri

Menurut petunjuk Allah semua akibat adalah apa yang dikehendaki Allah

Membaca sebab kejadian menurut petunjuk Allah adalah  berpikir, merenungi, merefleksi diri, atas apa-apa yang telah dilakukan di masa lalu.

Membaca akibat apa yang akan terjadi menurut petunjuk Allah adalah berpikir dengan bertauhid berserah diri atas apa yang akan terjadi sesuai kehendak Allah.

Perintah Allah, hapuslah keburukan dengan berbuat baik, atau ingat Allah banyak banyak agar akibat yang terjadi tetap baik.

Perintah Allah, “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (2:163)

Saya sederhanakan logikanya biar mudah memahaminya. Jadi jika kita mau membaca tanda-tanda kejadian dari Allah. Cara kerja logikanya sederhana, bacalah bahwa semua sebab kajadian yang kamu anggap buruk itu datang dari dirimu sendiri, dan bacalah semua akibat yang akan terjadi hanya Allah satu satunya yang tahu, tidak ada satu pun yang tahu selain Allah.

Harus kita pahami dalam hal membaca akibat-akibat yang akan terjadi, selalu ada manusia atau makhluk selain Allah yang merasa tahu. Manusia atau makhluk selain Allah ini kadang posisinya menjadi seperti Allah, dan inilah yang tidak boleh dilakukan oleh manusia, yaitu memiliki keyakinan  kepada selain Allah.

Jadi tanda-tanda itu hanya berfungsi sebagai peringatan untuk manusia, agar selalu ingat Allah, mohon ampun kepada Allah, dan berusaha memperbaiki diri dihadapan Allah, lalu setelah itu berserah dirilah atas segala akibat yang akan terjadi kepada Allah. Namun harus diingat, segala akibat yang akan terjadi jika kita telah memohon ampunan dan berserah diri kepada Allah, maka segala akibatnya adalah keberuntugan besar. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” (Al Buruuj, 85:11).

Begitulah cara membaca tanda-tanda dari Allah, semuanya dibaca atas perintah dari Allah. Hati-hatilah dari tanda-tanda itu, semoga iman kita tetap kepada Allah saja. Wallahu’alam.  

Wednesday, August 25, 2021

SURAT AL JIN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Surat Al Jin berisi tentang kisah ajaran ketauhidan yang di bawa Nabi Muhammad SAW. Jin adalah makhluk ghaib yang bisa membelok keimanan seseorang. Jin bisa membisikkan hati dan pikiran sehingga pandangan manusia berdasarkan pandangannya seperti melihat kebaikan. Jin bersama dengan orang yang mendua dan mentigakan Tuhan, padahal Allah telah menetapkan dirinya Tunggal.

“dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.” (Al Jin, 72:3).

Dijelaskan dalam surat Al Jin, orang-orang kurang akal bersekutu dengan Jin untuk menentang keesaan Allah. Mereka menghina Allah dengan melampaui batas. Mereka yang menghina Allah telah bersekutu dengan jin.

“Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah, (Al Jin, 72:4).


Allah sudah menetapkan ada dua jalan yang akan ditempuh manusia yaitu jalan kiri dan kanan. Jalan kanan adalah jalan mendaki yang ditempuh orang-orang shaleh. Orang-orang yang shaleh adalah mereka yang taat kepada Allah dan Rasulnya. Sebagaimana di dalam surat Al Jin dijelaskan:

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shaleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (Al Jin, 72:11)

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barang siapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. (Al Jin, 72:14).

Sesungguhnya tempat-tempat ibadah adalah tempat menyembah Allah, tidak ada yang disembah selain Allah. Tidak ada orang-orang yang wajib di sembah di tempat-tempat ibadah kecuali Allah. Orang-orang yang membuat tempat ibadah sebagai tempat menyembah manusia dan selain Allah, maka sesungguhnya mereka telah bersekutu dengan Jin.

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya. Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya". (Al Jin, 72:18-20).

Di dalam surat Al Jin, Nabi Muhammad sudah menetapkan bahwa masjid atau tempat ibadah adalah tempat menyembah Allah Yang Esa. Jin-jin memengaruhi untuk membelokkan hati, pikiran, pandangan, pendengaran, untuk menyembah orang atau selain Allah. Namun Nabi Muhammad SAW sebagaimana di wahyukan Allah tetap mengatakan, aku hanya menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah.

Jadi berdasarkan keterangan surat Al Jin, hidup manusia ada dua jalan. Mereka ada yang mengabil jalan lurus ada yang mengabil jalan sesat. Orang-orang yang mengambil jalan sesat adalah mereka yang menyekutukan Allah. Mereka menjadikan manusia sebagai sesembahannya dengan menyebut tuhan anak, tuhan ibu, dan tuhan bapak. Di dalam tempat-tempat ibadah orang sesat, mereka menjadikan patung-patung manusia sebagai sesembahannya.

Jadi mereka yang bersekutu dengan Jin adalah mereka yang menyembah kepada selain Allah dan mereka menjadikan manusia sebagai sesembahannya. Jadi sebenarnya, bagi orang-orang yang berakal sehat, surat Al Jin ini menjelaskan orang-orang yang sesat karena bersekutu dengan Jin. Jadi dalam surat Al Jin, dikabarkan Nabi Muhammad SAW mendapat godaan dari jin-jin, namun Nabi Muhammad tetap bersikukuh berpegang pada wahyu Allah, bahwa “aku hanya menyembah Allah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Nya.”  

Inti dari surat Al Jin adalah menegakan ajaran ketauhidan, dan manusia harus berhati-hati pada Jin karena jin bisa menyesatkan ketauhidan manusia. Selain itu, ajaran agama yang benar adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan. Jika ada manusia-manusia menjadikan masjid, tempat-tempat ibadah sebagai tempat menyembah selain Allah, maka orang-orang itu tidak sedang berada dijalan lurus, mereka tersesat bersama jin-jin yang menyesatkannya. Jadi siapa yang bersekutu dengan jin? Jawab dengan akal sehat. Wallahu’alam.

Monday, August 23, 2021

SAKSI MUHAMMAD UTUSAN ALLAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sudah 30 tahun lamanya tidak jumpa kawan semasa SMA, ketika bertemu diskusi tak terasa sampai menjelang pagi. Diskusi-diskusi menarik sekitar masalah kehidupan pribadi, keluarga, dan bangsa. Namun diskusi lebih banyak tentang masalah pribadi yang berkaitan dengan pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya jarang didiskusikan karena tabu. Saya mengingatkan kawan-kawan bahwa usia kita sudah kepala empat hampir masuk umur 50. Sudah saatnya kita bertanya mencari pengetahuan tentang hakikat kehidupan.

Diskusi pun berlangsung hangat ditemani kopi dan mie baso buatan istri.  Pertanyaan-pertanyaan nyeleneh pun bermunculan. Apakah benar Nabi Muhammad itu ada, dan apakah Nabi Muhammad itu utusan? Pertanyaan itu pernah ditanyakan pada ustad, lalu dijawab oleh ustad dengan jawaban yang tidak memuaskan dengan menyuruhnya kembali bersyahadat.

Baiklah saya akan membantu saudara kita yang memiliki pertanyaana seperti ini. Saya tidak marah dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, karena saya merasa bahwa mereka butuh jawaban dan yang ditanya harus memberi jawaban untuk menolong mereka yang punya pertanyaan.

Saksi Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah adalah Allah. Ketika Nabi Muhammad bertemu dengan malaikat Jibril di Gua Hira tidak ada saksi manusia. Kejadian bertemunya Nabi Muhammad dengan Malaikat Jibril, saksinya adalah Allah swt. Maka dari itu Allah sebagai saksi kerasulan Nabi Muhammad SAW memiliki kekuatan yang tak terbantahkan.

Berbeda jika saksi kerasulan seorang nabi saksinya manusia. Derajat kerasulan seorang nabi dengan kesaksian manusia kebenarannya tidak 100 persen, karena ada faktor yang membuat kesaksian manusia tidak dapat dikatakan 100 persen benar, yaitu posisi manusia yang punya potensi salah dan benar. Jadi kesaksian manusia tentang kerasulan sebagai syarat kerasulan tidak memiliki derajat kesaksian yang kuat, artinya masih bisa terbantahkan karena kesaksian manusia bisa kemungkinan salah.

Lalu apa buktinya bahwa kerasulan Nabi Muhammad saksinya Allah swt. Allah kan tidak terlihat, tidak bicara langsung seperti manusia, tidak menulis kitab sejarah seperti manusia? Bagaimana membuktikannya bahwa Allah telah menjadi saksi kerasulan Nabi Muhammad? Untuk membuktikan bahwa Nabi Muhammad sebagai rasul saksinya Allah, kita dapat mengecek kebenaran kitab suci A-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad sebagai utusan.

Di dalam Al-Qur’an dikatan bahwa orang-orang menganggap Nabi Muhammad saw tidak sehat akal, karena mengatakan sesuatu kebenaran tetapi tidak memiliki saksi manusia seorang pun. Kejadian ini terekam di dalam ayat Al-Qur’an.

“sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar firman utusan yang mulia”. (At takwir, 81:19). Melalui ayat ini Allah menegaskan Allah menjadi saksi bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar firman yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad saw.

Selanjutnya Allah menjelaskan lagi, “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila”. (A takwir, 81:22). Ayat ini menegakan Allah menjadi saksi bahwa apa yang disampaikan Nabi Muhammad saw adalah kebenaran dari Allah.

“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang”. (At Takwir, 81:23). Ayat ini menegaskan lagi bahwa Allah menjadi saksi pertemuan antara Nabi Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril.

Sekanjutnya kesaksian Allah dipertgas lagi, “Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang gaib. Dan apa yang dikatakan Muhammad (Al Qur'an) itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk,” (At takwir, 81:24:25).

Jadi kenabian nabi Muhammad SAW sebagai Rasul saksinya bukan manusia tapi langsung Allah swt, dan kesaksian itu tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an, kemudian Allah juga menegaskan bahwa wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad bukan perkataan setan. Artinya Allah ingin menegaskan bahwa wahyu Al-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad adalah juga kebenaran dari Allah.

Lalu untuk menujukkan eksistensi-Nya, Allah menantang atau mengingatkan manusia dengan bersumpah, “Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing,” (At takwir, 81:15-18). Sumpah Allah ini ditujukan untuk orang-orang yang ingin membuktikan eksitensi Allah, mereka diminta untuk memperhatikan bagaimana pergerakan bintang-bintang dengan keteraturan dan fenomena-fenomenanya.

sesungguhnya perkataan Muhammad (Al Qur'an) benar-benar firman Allah dari utusan yang mulia (Jibril), (At Takwir, 81:19). Jadi berdasarkan ayat ini, Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad adalah firman Allah. Untuk itu jika ingin membuktikan kebenaran bahwa Allah yang menjadi saksi kenabian Nabi Muhammad, maka Allah mempersilahkan kepada seluruh manusia untuk menguji dan membuktikan kebenaran-kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an dengan memperhatikan alam semesta ciptaan-Nya.

Saya berpikir, sejak saya dilahirkan matahari, bulan, gunung, laut, udara, air, api, sudah ada. Fasilitas hidup ini saya gunakan setiap hari, tanpa tahu asal-usulnya dari mana. Teralu berat dan rumit untuk otak saya harus mencari tahu sendiri siapa yang menyediakan fasilitas ini semua. Beruntung ada firman Allah berisi informasi, pengetahuan, yang dibawa Nabi Muhammad, SAW sehingga saya bisa mengungkap dan menemukan jawaban-jawaban untuk membuktikan kebenaran. Wallahu’alam.  

Sunday, August 22, 2021

DUA JALAN MENUJU ALLAH

OLEH: MUHMMAD PLATO

Berjumpa dengan kawan-kawan lama di sekolah, menjadi ruang diskusi yang bukan lagi untuk mengenang masa-masa lalu di sekolah. Bertemu dengan kawan lama di sekolah untuk saling bertukar pikiran setelah sekian lama hidup umur bertambah dan jatah berkurang. Diksusi yang harus dibuka setiap bertemu kawan lama adalah menyangkut realitas hidup yang harus terkendali untuk selamat sampai tujuan.

Lain jalan hidup lain cerita, beruntunglah bagi orang-orang yang punya kebiasaan berpikir, membaca kenyataan-kenyataan hidup dan selalu mengajak berdialog dengan sesama. Tidak ada jalan baik dan buruk, karena semua orang ditempa dengan jalannya masing-masing untuk menemukan Tuhannya. Hidup ini dua jalan bukan jalan baik dan buruk menurut persepsi kita, tapi jalan pendek dan jalan panjang.

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Maka tidakkah sebaiknya  ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?. (Al Balad, 80:10-11)

Jalan pendek adalah jalan-jalan sempit ke sebelah kanan yang terjal namun cepat sampai tujuan. Jalan panjang adalah jalan-jalan lebar tapi penuh dengan hambatan hingga lama untuk sampai tujuan. Tujuan semua manusia adalah kembali kepada Tuhan Yang Esa.

“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (Al Insyiqaaq, 84:6).

Jadi tidak ada satupun manusia yang tidak akan kembali kepada Tuhannya. Apa pun yang dilakukan manusia, semuanya sedang bekerja keras berjalan menuju Tuhannya. Perbedaannya adalah ada yang bekerja keras menempuh jalan pendek menuju Tuhannya, ada yang bekerja keras menempuh jalan pajang menuju Tuhannya.

Orang-orang yang menempuh jalan pendek adalah mereka yang mengikuti segala bimbingan Tuhan melalui para Rasul dan kitab yang ditinggalkannya. Orang-orang yang menempuh jalan panjang adalah mereka yang membuat jalan sendiri, mereka memikirkannya, memetakannya, dan mereka merasa mampu menemukannya dengan kemampuan akal yang dimilikinya tanpa bantuan Tuhan.

Orang-orang yang menempuh jalan pendek dan terjal, mereka mampu merasakan kesenangan jiwa dalam kesempitan dan terbatas, setelah itu mereka akan sampai pada suatu tempat yang penuh kesenangan dan keleluasaan tanpa batas hingga akhirnya bertemu Tuhan. Bagi orang-orang yang menempuh jalan panjang mereka merasakan kesenangan dalam keleluasaan, setelah itu mereka akan menempuh jalan sukar yang penuh semak belukar yaitu suatu proses penyucian jiwa yang panjang, sebelum kembali kepada Tuhannya. Sementara itu, orang-orang yang mengambil jalan pendek sudah sampai pada suatu tempat menyenangkan dan penuh kenikmatan sambil menunggu kembali kepada Tuhannya.

Semua manusia diciptakan dari ruh Tuhan dan ruh itu akan kembali kepada Tuhan. Mereka yang melalui jalan pendek terjal dan mendaki akan cepat bertemu dengan Tuhannya, dan mereka yang menempuh jalan panjang akan lama bertemu dengan Tuhannya. Mereka yang memilih jalan panjang, setelah menikmati kesenangan mereka akan bertemu dengan kesulitan sebelum bertemu Tuhannya, dan mereka yang memilih jalan pendek setelah mendaki jalan yang terjal penuh kesulitan, akan bertemu kesenangan hinnga kembali kepada Tuhannya.

Kitab suci (Al-Qur’an) yang diturunkan pada Para Nabi isinya adalah kabar berita, yang menjelaskan bagaimana manusia-manusia berjalan pada kedua jalan yang disediakan Allah. Maka manusia diberi ruh atau kemampuan kreatif oleh Allah untuk memilih jalan mana yang hendak ditempuh, apakah jalan pendek atau jalan pandang. Dan orang-orang yang berakal sehat akan memilih jalan-jalan pendek yang mendaki dan terjal agar cepat sampai tujuan.

Lalu apakah jalan mendaki dan terjal itu? “melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Mereka adalah golongan kanan”. (Al Balad, 90: 13-18). Inilah jalan-jalan yang ditempuh oleh orang-orang berakal sehat. Wallahu’alam.

Sunday, August 8, 2021

ALLAH ADA DALAM KESADARAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kawan-kawan ada cerita menarik untuk disimak bagi siapa saya yang ingin dekat dengan Tuhan. Di media sosial banyak orang-orang baik saling membantu antar sesama. Saya suka sekali melihat mereka saling tolong menolong, dan hati ini terasa mengembang menyaksikannya. Saya melihat mereka yang berbuat baik, tidak melihat latar belakang agamanya, karena pakaiannya biasa-biasa saja tidak mencirikan seorang penganut agama tertentu. Dan saya juga tidak tahu apakah mereka membantu sesama manusia atas nama Tuhan, atau karena empati saja pada penderitaan orang lain atas dasar kemanusiaan.

Mungkin kawan-kawan berpikir, untuk berbuat baik, tidak perlu bawa-bawa Tuhan. Tapi Tuhan itu ada dan menciptakan kita, mengapa kita tidak boleh bawa-bawa Tuhan dalam kehidupan kita? Masalah ini dari masa ke masa, dari generasi ke generasi terus jadi perdebatan. Tak ada ujungnya. Sampai kiamat pasti ini jadi perdebatan antar sesama manusia.

Di media sosial saya tonton orang mati suri, menceritakan pengalamannya ditayangkan di stasiun televisi nasional. Bagi saya, orang yang punya pengetahuan dari kitab suci, cerita pengalaman orang mati suri itu sama dengan cerita isi kitab suci. Semua ceritanya seperti apa yang diceritakan dalam kitab suci, bahwa setiap orang akan diadili sesuai dengan perbuatannya di dunia. Teman setianya seseorang kelak adalah perbuatan-perbuatan baik yang pernah dilakukannya di dunia.

Pengetahuan ini membuat rasa takut di hati, apakah kelak amal-amal baik saya bisa menemani hidup saya di alam akhirat, atau amal baik saya kalah sama amal buruk yang pernah saya lakukan? Pengetahuan ini membuat saya sadar diri untuk mengimbangi setiap perbuatan buruk dengan perbuatan baik. Tindakan yang saya lakukan berdasar pada kesadaran bahwa setelah kematian akan ada kehidupan dan pengadilan berdasar pengetahuan awal yang saya miliki dari kitab suci. Tanggapan tentang pengalaman mati suri akan berbeda jika pengetahuan awal yang dimiliki bukan dari kitab suci seperti mitos, tradisi, atau sains.

Pengetahuan awal yang kita miliki menentukan Tuhan itu ada atau tidak ada. Anak-anak yang dikeluarganya tidak diajarkan tentang keberadaan Tuhan, dia tidak akan mengenal Tuhan. Jadi, pada dasarnya Tuhan itu ada dalam pengetahuan, kemudian kesadaran dan menjadi tindakan. Untuk membangun kesadaran perlu kegiatan berulang-ulang. Maka dari itu tindakan ibadah ritual rutin setiap hari salah satu dampakanya adalah menghadirkan kesadaran adanya Tuhan setiap hari. Dalam agama Islam untuk membangun kesadaran dilakukan ritual shalat lima waktu dan dhuha 12 rakaat. Kegiatan ini bisa jadi program pendidikan bagi anak-anak yang muslim.

Fenomena kehidupan dunia yang material memang terus menggiring kita jadi makhluk material murni. Di Amerika sebagai contoh negara maju, sejak tahun 1960an nilai agama mulai memudar. Tahun 1986, seorang Provesor di New York University, Paul Vitz, meluncurkan buku mengungkap bahwa potret agama secara perlahan hilang dari konteks sekolah. Dalam buku teks sekolah kata kata Tuhan diedit dan hilang. Kata-kata syukur dengan ungkapan “thank God” diubah dengan “thank Goodnes”. (Lickona, 2019, hlm. 66). Survey anak-anak di Amerika dengan latar belakang agama berbeda mengatakan bahwa sesuatu yang buruk sudah jelas tidak boleh dilakukan karena itu merugikan orang lain. Kesadaran tidak melakukan hal buruk tidak mereka hubungkan dengan ajaran agama yang mereka anut, tetapi lebih kepada alasan rasional kemanusiaan.

Selanjutnya, di Amerika ada upaya memasukkan kembali agama pada pelajaran budaya Amerika dan Sejarah. Hukum-hukum dasar moral yang universal dapat diajarkan di sekolah seperti berlaku adil dan peduli sama sesama, dapat diajarkan secara religius kepada masyarakat beragama. (Lickona, 2019, hlm. 69). Kita tidak mengikuti Amerika, tetapi kesadaran tentang keberadaan Tuhan sudah kembali digalakan dan dirasakan kebutuhannya oleh masyarakat di dunia.

Allah berwujud tapi tidak dapat dilihat, Dia berbicara tetapi kita tidak mendengarnya. Tuhan ada dalam kesadaran manusia. Jika kita berdo’a kepada Tuhan, maka hanya dengan kesadaran bahwa Tuhan mengabulkan doa kita. Untuk membangun kesadaran adanya Tuhan dibutuhkan pengetahuan (knowing), pembuktian (feeling), dan tindakan (action). Setelah mengetahui tidak mungkin memiliki perasaan jika tidak pernah membuktikan.

Tuhan ada dan menetapkan hukumnya bahwa setiap kebaikan akan berbalas kebaikan dan setiap perbuatan buruk akan berbalas keburukan. “Jika kamu berbuat baik  kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,” (Al Israa, 17:7).

Jika kita mengetahui ketentuan ini dari Tuhan, maka manusia harus membuktikan, bagaimana kebaikan-kebaikan yang kita lakukan berbalas dengan kebaikan. Untuk membuktikannya dibutuhkan upaya pembuktian dengan melakukannya. Saya menyarankan untuk proses pembuktian melakukan eksperimen kebaikan. Dilakukan secara berjangka tiga bulan atau enam bulan. Setiap kebaikan dicatat dan dirasasakan dampaknya, kemudian dicatat dengan mencantumkan jam, hari, dan tanggal. Pengalaman-pengalaman dari hasil pembuktian akan membangun kesadaran kita bahwa Tuhan itu ada. Metode ini bisa diajarkan pada anak-anak sebagai pendidikan karakter dan penerapan nilai-nilai agama di rumah atau di keluaga. Allah ada dalam kesadaran. Selamat mencoba. Wallahu’alam. 

Saturday, July 31, 2021

WHAT, MELIHAT TUHAN?

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ingin melihat Tuhan pernah di minta oleh seorang Nabi yaitu Musa a.s. Lalu apa yang terjadi? Nabi Musa pingsan tidak sadarkan diri karena melihat gunung hancur luluh lantak ketika Tuhan menampakkan dirinya pada gunung. Setelah bangun kembali sadar, Musa a.s bertobat dan beriman. Cerita ini dikisahkan di dalam Al-Qur’an.

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".” (Al A’raaf, 7:143)

Sungguh Al-Qur’an adalah kitab berisi pengajaran dan peringatan. Fenomena Nabi Musa terus berulang sepanjang masa, dimana saat ini ada orang yang kurang pengetahuan, menantang kepada orang-orang Islam untuk membuktikan bagaimana wujud Tuhan yang disembahnya, sebab dia merasa bahwa tuhan yang disembahnya bisa dilihat. Dengan arogan tantangan ini disertai imbalan hadiah satu miliar. Tantangan ini persis seperti prilaku orang-orang kafir terdahulu yang meminta kepada Nabi-Nabinya untuk bisa melihat Tuhan.

Bagi muslim yang memahami bagaimana sifat Tuhan, tantangan ini tidak perlu mendapat tanggapan serius. Namun Allah menghadirkan orang-orang cerdas untuk membalikkan tantangan itu dengan tantangan untuk membuktikan bahwa wajah tuhan yang disembahnya benar-benar wajah tuhan yang asli dengan imbalan 100 miliar.

Dua tantang-menantang ini memang sudah dapat dipastikan jawabannya, Tuhan tidak mungkin dilihat, dan wajah Tuhan tidak mungkin dapat dibuktikan. Namun dua tantangan ini berbeda, yang satu datang dari orang kafir (tertutup) dari kebenaran, dan yang satu dari orang-orang beriman yang ingin mempertebal keimanannya.

Melihat dan melukiskan Tuhan dalam wujud yang tampak secara materil adalah kekafiran (kebodohan, kejahiliyahan, atau ksesesatan). Kemustahilan Tuhan dapat menampakkan diri pada manusia sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an dalam kisah Nabi Musa a.s.  Dalam kisah tersebut Allah mengajarkan bahwa manusia-manusia yang ingin melihat wujud Tuhan, dia mengikuti hasrat kekafiran dan termasuk dosa besar. Untuk itu, dikisahkan setelah Nabi Musa a.s melihat gunung hancur, kemudian jatuh pingsan dan setelah sadar dia bertasbih dan bertobat lalu menyatakan keimanannya. Pertanyaannya, “mengapa Nabi Musa bertobat?” Karena meminta Tuhan untuk menampakkan diri adalah pelecehan terhadap Tuhan. Meminta Tuhan untuk menampakkan dari adalah merendahkan dan mengingkari segala ciptaan Tuhan.

Meminta Tuhan menampakkan diri adalah kedunguan. Bagaimana tidak dungu? Matahari, gunung, laut, udara, api, angin, tanah, bahkan keberadaan dirinya tidakkah menjadikan bukti keberadaan Tuhan? kebodohan itu lahir karena keterbatasan ruang dan waktu yang bisa dijelajahi secara fisik oleh manusia. Maka Allah memerintahkan manusia berulang-ulang untuk berpikir, menjelajahi ruang dan waktu agar bisa membuktikan betapa tidak terbatasnya ruang dan waktu yang diciptakan Allah, dan betapa terbatasnya pengetahuan ruang dan waktu yang bisa dijelajahi manusia di alam semesta ini. Luas bumi yang dihuni manusia ternyata ukuran besarnya tidak menyerupai sebutir debupun, lalu sebesar apa ukuran manusia ini? Lalu makhuk super super kecil dan sangat sangat lemah ini, betapa sombongnya mau melihat Tuhan di dunia ini. Itulah kiranya mengapa pada akhirnya Nabi Musa bertobat dan memutuskan cukup beriman saja kepada Tuhan Yang Esa. Untuk itu kejahatan yang dahsyat bagi manusia jika mematerilkan Tuhan dengan mengatakan beranak dan beribu.

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: "Allah beranak". Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.” (Ash Shaaffaat, 37:152).

Sangat-sangat tidak berakal sehat jika ada orang mengaku bertemu dan melihat wajah Allah di dunia ini. Dapat dipastikan orang-orang itu pembawa berita hoak dan pembohong besar. Tidakkah engkau mengambil pelajaran dari ayat-ayat Al-Qur’an yang terang? Wallahu’alam 

Friday, July 30, 2021

MELAHIRKAN PEMIKIR SESUAI ZAMANNYA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sejak meninggalanya Nabi Muhammad SAW, peradaban Islam terus berkembang mencapai puncaknya pada abad ke 8-9 Masehi. Ulama, pemikir, dan ilmuwan kelas dunia lahir mewarnai khasanah berpikir. Ilmu dan sains berkembang pesat. Pada saat itu Barat sedang berada dalam abad kegelapan akibat terlalu kuatnya kekuasaan dan doktrin Gereja. Kebebasan berpikir dibatasi dengan ancaman penjara. Cara pemahaman agama yang terlalu dominan pada pemuka-pemuka agama telah melahirkan tuhan-tuhan selain Allah yang harus ditaati manusia. Agama tidak murni lagi diajarkan untuk menyucikan diri dari perbuatan dosa, melainkan untuk mempertahankan kekuasaan, kehormatan, kelembagaan, dan kekayaan. Ayat-ayat Tuhan bisa dipesan dan dikondisikan agar bisa terlihat masuk akal dan membenarkan ajaran yang sebenarnya bukan dari Tuhan.

Waktu berputar, peradaban Islam mulai memudar mengalami kemunduran akibat perebutan kekuasaan. Kasusnya sama seperti peradaban Barat berada di masa kegelapan. Perebutan kekuasaan telah membawa agama pada kotak-kotak  dukung mendukung kekuasaan. Saling hujat dan saling menjatuhkan didasari fatwa-fatwa agama semakin menambah kuat hasrat permusuhan. Bunuh membunuh antar pendukung menjadi perang suci antar agama yang terlihat tidak suci.

Hasrat bermusuhan itu diturunkan dari generasi ke generasi dengan doktrin-doktrin agama dari penafsir tunggal nenek moyang yang semakin perkasa. Tidak ada yang berani membantahnya karena penjaga-penjaganya sangat bengis dan akan menghukum bagi siapa saja yang berani menentangnya. Jumlah umat bertambah tetapi tidak bisa melahirkan pemikir-pemikir besar, semua harus takluk di hadapan panfasir tunggal warisan nenek moyang yang perkasa yang sudah dipertuhankan.

Memahami agama berbeda dengan memahami ilmu-ilmu alam. Dalam ilmu alam ketika mengemukakan pendapat harus didukung oleh teori-teori terdahulu. Teori-teori itu ada penemunya dan dianggap pemiliknya. Tanpa dukungan teori pendapat yang dikemukakan tidak memiliki kekuatan. Demikian juga teori yang dikembangkan tanpa dukungan teori-teori sebelumnya juga diragukan.

Ajaran agama Islam harus dipahami dari sumbernya, yaitu kitab suci Al-Qur’an dan hadis yang tidak bertentangan dengan kitab suci Al-Qur’an. Para penfasir, penerjemah, ahli pikir, guru, ustad, kiai, ulama (saintis) adalah para penemu makna, nilai, dan hukum dalam beragama, tetapi tidak menjadi  pemilik makna, nilai, hukum yang ditemukan. Perbedaan makna, nilai, dan hukum dalam beragama adalah kekayaan yang harus dimiiki bersama bukan untuk saling klaim mengadu kebenaran. Tapi sebagai khasanah pembuka jalan menuju kebenaran bagi siapa yang dapat menerimanya sesuai dengan kemampuan akalnya.

Umat beragama ibarat konsumen di pasar, mereka punya kebutuhan dan keinginan sesuai dengan kebutuhan dan kesenangannya masing masing. Di pasar ada kesepakatan bersama yang mengatur agar para penjual dan pembeli saling jujur. Penjual harus jujur menjelaskan barang yang dijualnya sesuai kondisi barang. Para pembeli harus jujur membeli barang dengan uang legal senilai dengan harga barang yang dibelinya. Para penjual dan pembeli tidak saling memaksa, tidak saling menghujat, transaksi dilakukan dengan kejujuran dan keikhlasan. Demikian juga antar penjual tidak saling hujat dan menjelek-jelekkan barang dagangannya, malah saling mempromosikan jika barang jualannya berbeda. Inilah khasanah kehidupan para pedagang yang diberkahi Allah.

Penganut agama Islam dengan jumlah satu miliar lebih harus diberi kebebasan untuk menemukan atau memilih mana kahasanah agama Islam yang diminatinya sesuai kemampuan. Dengan misi suci agama Islam menjamin kesejahteraan dan perdamaian dunia adalah kode kuat dari Al-Qur’an untuk umat manusia. Apa pun yang diciptakan hendaknya tidak keluar dari misi utama Al-Qur’an diturunkan. Setiap 100 tahun akan ada perbaikan terhadap kualitas umat manusia, dan hendaknya umat beragama (Islam) mulai membuka ruang berpikir dan menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar rujukan utama dalam melahirkan pemikir-pemikir kelas dunia. Tidak ada satu orang ahli berpikir pun dihadapan Allah swt, karena Allah swt tidak melihat keahlian berpikir seseorang tetapi melihat kesucian hati dan kebermanfaatannya dari hasil sekecil apapun hasil berpikir.

“karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (Abasa, 80, 2-4)    

Sikap curiga, iri, dengki, saling hujat, saling salahkan, dan menebar kebencian akan hilang jika ajaran agama benar-benar dihayati. Jika beragama masih memelihara sifat-sifat buruk dan tidak sadar mengatasnamakan agama, maka bisa jadi kita sesungguhnya tidak beragama. Hati kadang-kadang  tidak bisa membedakan mana kebaikan dan keburukan. Jika hati sudah benci maka tertutuplah semua kebaikan. Akal juga bisa membawa malapetaka karena bisa menghilangkan rasa. Saatnya hati dan akal bersinergi agar sama-sama bekerja menyelesaikan urusan dunia dan akhirat.

Tidakkah kita sadar bahwa setiap hari gunakan teknologi, mendapat kemudahan hidup dari karya-karya akal? Tidakkah kita melihat orang-orang kaya hasil dari akalnya, membiarkan orang-orang kelaparan karena tidak memiliki hati? Sebaliknya tidakkah kita melihat orang-orang yang memiliki hati mencurigai dan membenci orang-orang diluar kelompoknya? Allah menciptakan alam ini dengan sistem dan saling ketergantungan. Untuk itu hati dan akal tidak bisa dipisah-pisahkan. Jadi kegiatan berpikir bukan murni kegiatan akal tetapi sebuah kolaborasi akal dan hati. Pemikir-pemikir sejati, setiap pemikirannya akan menyucikan hati dan menjadi inspirasi bagi siapa saja yang membacanya. Pemikir sejati tidak pernah mengklaim pemilik kebenaran dari setiap hasil pemikirannya. Pemikir sejati merasa cukup Allah jadi saksi bahwa dirinya pernah berpikir dan mengajarkannya.

Abad informasi telah menuntut hati dan akal untuk bekerja lebih cerdas. Di abad informasi dibutuhkan lebih banyak pemikir yang mengkolaborasikan akal dengan hati, dan menjadikan kitab suci AL-Qur’an sebagai sumber pengetahuan (deduktif) bersanding dengan pengetahuan hasil pengamatan (induktif). Pengetahuan-pengetahuan dari kitab suci Al-Qur’an seyogyanya menjadi sebuah pedoman hidup yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari di mana saja bagi siapa saja. Lembaga-lembaga pendidikan harus melatih kemampuan berpikir, dan perguruan tinggi harus melahirkan pemikir-pemikir cerdas sesuai dengan zamannya. Wallahu’alam.