Oleh: Muhammad Plato
Mengapa guru tidak boleh merasa berjasa pada muridnya? Karena tugas guru tidak boleh melampaui batas yang telah ditetapkan oleh Allah. Kegagalan dan keberhasilan adalah ketetapan dalam hidup yang tidak dapat dihindari oleh siapapun, termasuk Nabi Muhammad.
Nabi Muhammad pernah mengalami kegagalan yang membuat jiwa kaum muslimin terguncang keimanannya. Kegagalan dialami pasukan Nabi Muhammad ketika perang Uhud. Kaum muslimin yang terguncang keimanannya kembali pada keyakinan lamanya.
Inilah bukti ketetapan dari Allah bahwa siapapun akan mengalaminya. Gagal dan sukses adalah dua sisi yang pasti dilalui oleh siapapun. Orang-orang sabar, konsisten, fokus pada keberhasilan, atau dalam konsep Al Quran, beriman dan bertakwa kepada Tuhan itulah yang akan mendapat kemenangan.
Kembali pada topik guru. Keberhasilan dan kegagalan murid terlepas dari guru. Posisi guru hanya menduduki posisi penyampai ilmu dan penasehat. Ilmu milik Allah dan apa yang dinasehatkan dari apa yang baik milik Allah.
Manusia tidak punya kuasa menjadi penyebab seseorang jadi baik atau buruk. Ketika guru mengajarkan ilmu dan etika, mengingatkan, membimbing, memotivasi, kehendak untuk melakukan dan tidak melakukannya sangat tergantung siapa yang dikehendaki Allah.
Pola pikir Nabi Muhammad bisa kita identifikasi dalam ayat Al Quran. Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (Al A'raaf, 7:188).
Siapa yang dikendaki Allah mendapat kebaikan dan kesuksesan? Merekalah yang banyak berbuat kebajikan, kemungkinan besar mendapat keberhasilan, dan kemungkinan kecil mendapat kemudaratan. Ayat ini mengandung etika bagaimana seorang guru tetap rendah hati.
Al Quran bukan perkataan manusia, jika kita mengembangkan pola pikir dari Al Quran, kita telah mengikuti pola pikir yang diajarkan Tuhan kepada para nabi hingga sampai kepada kita. Intinya adalah segala yang dilakukan guru hanya sebagai faktor eksternal yang mengondisikan situasi menuju ke arah baik.
Inilah filosofi guru yang didasari pada kitab suci Al Quran, "Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (Al A'raaf, 7:188).
Secara hakikat, guru tidak berada pada posisi sebagai penjamin dan penentu keberhasilan murid, tapi sebagai pelaku penyampai dan pemberi kabar gembira. Guru tugasnya menggoda. Jika setan menggoda murid untuk berbuat jahat, guru menggoda murid untuk berbuat baik.
Mengapa ada orang kuliah di universitas terbaik, nasibnya kurang baik. Mengapa ada orang pendidikannya tinggi, penghasilannya lebih kecil dari orang yang tidak punya pendidikan tinggi? Itulah fakta bahwa keberhasilan terjadi pada siapa yang dikehendaki Allah.
Lalu apa yang harus diajarkan pada murid-murid oleh guru? Jawabannya ada di potongan ayat ini. "Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. (Al A'raaf, 7:188)."
Interpretasi dari potongan ayat ini adalah karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tindakan yang paling aman untuk kita lakukan adalah berbuat baiklah sebanyak banyaknya, karena Allah berjanji akan membalas kebaikan dengan yang lebih baik. Inilah pesan yang harus diulang-ulang oleh guru agar murid-murid punya harapan bisa hidup lebih baik di masa depan.***




.jpg)