Oleh: Muhammad Plato
Dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, semua nabi menggunakan logika Tuhan. Artinya semua yang para nabi pikirkan, ucapkan, dan lakukan, dibimbing Allah melalui wahyu.
Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israel, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. (Al Ma'idah, 5:70).
Allah mengabarkan dalam Al Quran, nabi-nabi terdahulu diutus dengan bimbingan wahyu dari Tuhan. Para nabi tidak ujug-ujug mengaku nabi tapi mendapat bimbingan Tuhan melalui wahyu.
Dapat dipahami ketika para nabi mendapat cemoohan, lecehan, dan pembunuhan, karena narasi, logika-logika yang dibawanya bertentangan dengan hawa nafsu.
Jelas Al Quran mengisahkan rasul-rasul yang diutus pada Bani Israel membawa kabar berita bukan dari hawa nafsunya, melainkan firman Allah. Para rasul tidak membuat perkataan-perkataan dan perbuatan dari hawa nafsunya, tetapi mengikuti, tunduk, dan patuh, dari apa yang diwahyukan Allah kepadanya.
Hal ini dialami juga oleh Nabi Muhammad, seperti nabi -nabi terdahulu mendapat lecehan, cemoohan, dan ancaman pembunuhan. Perkataan, aturan, dan perbuatan, yang dibawa Nabi Muhammad bukan dari hawa nafsu dan berbeda dengan yang ada di masyarakat Arab saat itu.
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru,dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),". (An Najm, 53:1-4).
Terkonfirmasi dengan jelas di dalam Al Quran, ucapan-ucapan Nabi Muhammad selalu merujuk pada wahyu yang diterimanya melalui malaikat Jibril. Artinya ucapan nabi bukan lahir dari pemikiran nabi, tapi mengikuti wahyu.
Maka kalimat dalam Al Quran inilah yang melahirkan konsep logika Tuhan, "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," (An Najm, 53:4).
Manusia adalah makhluk berpikir. Setiap kejadian selalu dipahami dengan logika-logika sebab akibat. Al Quran adalah petunjuk berpikir. "Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa," (Al Baqarah, 2:2).
Memahami kehidupan dengan menggali pola-pola pikir sebab akibat dari Al Quran adalah sebuah upaya menemukan logika-logika Tuhan yang digunakan para nabi dalam bernarasi.
Logika Tuhan adalah ilmu bepikir merujuk pada Al Quran, yang seharusnya dikembangkan dan ditradisikan pada penganut agama Islam.
Jika ilmu ini dikembangkan dan diajarkan tidak menutup kemungkinan akan lahirkan pemikir-pemikir pembaharu sekualitas pemikir-pemikir terbaik mengikuti para nabi. Banyak ayat-ayat Al Quran memerintahkan manusia berpikir. Dan Allah menjadikan Al Quran sebagai petunjuk berpikir.***