Sunday, October 2, 2022

REFLEKSI TUJUAN NEGARA DEMOKRASI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ciri umum dari negara demokrasi adalah melibatkan rakyat dalam proses pengambilan keputusan. Salah satu pelibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan adalah rakyat terlibat dalam pemilihan umum (pemilu). Metode pemilihan umum secara garis besar dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk empat besar dunia, memberlakukan pemilu secara langsung. 

Demokrasi bukan barang baru dalam dunia muslim. Nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, perdamaian, adalah misi dari tujuan bagi kaum muslimin. Misi dapat dicapai salah satunya dengan mendorong para calon pemimpin yang berkualitas tampil. Setelah meninggalnya Nabi Muhammad, kepemimpinan dilanjutkan para sahabat. Proses peralihan kepemimpinan pada masa empat sahabat tidak ada kebakuan. Dari fakta ini disimpulkan bahwa dalam Islam tidak mengenal sistem peralihan kepemimpian yang baku. 

Pemilihan secara langsung untuk memilih pemimpin, bukan satu satunya cara baku dalam memilih pemimpin. Sependapat dengan Alexander Hamilton, pada intinya pemilihan adalah alat penyaringan  Pemilahan dilakukan dengan tujuan jangan sampai kepemimpinan jatuh di tangan orang-orang yang tidak layak jadi pemimpin. (Levitsky & Ziblatt, 2019).

Ada benarnya pendapat Hamilton, "pemilihan langsung seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang paling mampu menganalisis kualitas yang cocok untuk jabatan, dan bertindak dalam kondisi yang bagus untuk berpikir, dan kombinasi bijak segala alasan dan dorongan yang tepat untuk mengarahkan mereka." Dengan cara demikian kepemimpinan jarang jatuh ke tangan orang yang tidak memiliki kecakapan yang diperlukan. Orang-orang dengan bakat intrik dan sekedar populer bakal tersingkir. 

Namun demikian, pemilahan langsung atau tidak langsung sebenarnya memiliki peluang melahirkan pemimpin berkualitas dan tidak berkualitas tampil. Jadi tujuan demokrasi yang paling dasar adalah bukan melahirkan pemimpin berkualitas tapi melahirkan rakyat berkualitas. Dalam negara demokrasi pendidikan harus jadi panglima, karena dari dunia pendidikan akan lahir rakyat rakyat berkualitas.

Para pemimpin yang tampil dalam negara demokrasi, merupakan cerminan dari kualitas rakyat yang memilihnya. Dalam alam demokrasi, kebijakan pemerintah harus tetap konsisten dan fokus dalam memberikan layanan pendidikan berkualitas pada rakyat. Negara yang damai, sejahtera, dapat diwujudkan oleh sistem demokrasi melalui keberpihakkan negara pada jaminan rakyat bisa mengakses pendidikan berkualitas. 

Ahli ilmu politik terkemuka Juan Linz mengembangkan empat set berisi tanda peringatan yang dapat membantu masyarakat membantu mengenali tokoh otoriter. 1) menola aturan main demokrasi, dengan kata-kata atau perbuatan. 2) menyangkal legitimasi lawan. 3) meneloransi atau menyerukan kekerasan. 4) menunjukkan kesediaan membatasi kebebasan sipil lawan, termasuk media. (Levitsky & Ziblatt, 2019).

Berikut beberapa contoh pertanyaan untuk menilai para politikus dengan empat faktor. Apakah mereka menolak konstitusi atau menunjukkan kesediaannya untuk melanggar? Apakah mereka menyebut lawan sebagai pelaku makar, atau menentang tatanan konstitusi yang ada? Apakah mereka punya hubungan dengan pasukan milisi, gerilyawan bersenjata? Apakah mereka mendukung hukum atau kebijakan yang membatasi kebebasan sipil melalui hukum pencemaran nama baik, penistaan, atau membatasi protes? 

Penulis tetap berkeyakinan, nasib suatu pemerintahan terletak di tangan rakyatnya. Jika rakyatnya suka otoritarianisme, maka cepat atau lambat demokrasi akan bermasalah di sana. Sekalipun pada faktanya ada pemimpin pilihan rakyat yang otoriter hal itu bukan berarti rakyat telah mendukung lahirnya pemimpin otoriter, tapi kualitas pemimpin dan rezim yang tidak bisa mengimplementasikan diri dan rezimnya sebagai pemimpin demokratis. Maka faktanya jika pemimin hasil pilihan rakyat bersifat otoriter, mereka akan kembali berhadapan dengan rakyat. Akhirnya demokrasi akan terus mengalami permasalahan.***


Saturday, October 1, 2022

MENGAPA SHALAT TERASA BERAT?

Oleh: Muhammad Plato

Siapapun yang memerintahkan shalat, dia tidak sedang memerintahkan atas dasar kehendak sendiri, tetapi dia sedang memerintahkan memerintahkan apa yang Allah kehendaki. Gerakan shalat secara fisik bukan gerakan berdasarkan kreasi manusia semata, tetapi gerakan yang sudah diberi berkah oleh Allah. Siapapun yang melaksanakan gerakan shalat dia telah melaksanakan gerakan yang didesain langsung oleh Allah. 

Gerakan shalat merepresentasikan gerak melingkat 360 derajat. Berdiri-ruku-berdiri (90 derajat), berdiri-sujud (180 Derajat), sujud-duduk-sujud (90 derajat). Gerakan shalat 360 derajat sama dengan gerakan tawaf, gerakan ibadah mengelilingi Ka'bah. Gerakan shalat 360 derajat sama dengan gerakan bumi mengelilingi matahari. Gerakan shalat 360 derajat sama dengan gerakan semesta alam hingga membentuk galaksi. 

Setiap hari manusia bergerak tidak lepas dari gerakan melingkar 360 derajat. Setiap hari, dari rumah pergi ke kantor, pasar, dan kembali ke rumah. Setiap hari makanan masuk ke dalam perut kemudian dikeluarkan. Oksigen dihirup kemudian dikeluarkan lagi, dihirup lagi. Aliran listrik, pergerakan mesin dalam kendaraan, semua dibangun dengan sistem perputaran 360 derajat. Shalat adalah prinsip dasar dalam kehidupan alam semesta. 

Irama gerakan semesta adalah gerak melingkar 360 derajat. Semua makhluk yang diciptakan Tuhan, diciptakan dalam gerakan melingkar 360 derajat. Sesungguhnya menjaga gerakan melingkar yang paling berat adalah gerakan-gerakan melingkar yang telah ditetapkan Tuhan, dan gerakan shalat adalah gerakan melingkar yang harus dibangun dengan kesadaran sebagai gerakan ketundukkan dan kepatuhan kepada Tuhan. 

Shalat yang ditentukan Allah sebanyak lima kali dalam sehari, seperti lonceng-lonceng peringatan agar manusia kembali patuh dengan membangun kesadaran sebagai makhluk Tuhan dengan gerakan 360 derajat sebagai siklus dasar kehidupan. Siklus manusia diciptakan Allah dan kembali kepada Allah.

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Hadiid, 57:3)

Mengapa gerakan shalat yang terlihat ringan, pada kenyataannya banyak yang lalai melaksanakannya. Manusia diciptakan sempurna dengan dua kekuatan yaitu fujur dan takwa. Kekuatan fujur mengikuti hawa nafsu dan kekuatan takwa dikendalikan kesadaran. Kekuatan fujur adalah kekuatan destruktif dan kekuatan takwa adalah kekuatan pemelihara. Menjaga keseimbangan antara kekuatan destruktif dengan kekuatan pemelihara inilah yang harus terus dijaga manusia agar manusia tetap berada di dalam garis edar seperti bumi beredar pada porosnya mengambang berputar di angkasa. Jika bumi kehilangan keseimbangan maka bumi akan keluar dari garis edarnya dan mengalami kehancuran. 

Demikian juga manusia, jika tidak bisa memelihara keseimbangan maka manusia akan keluar dari garis edarnya. Shalat adalah penjaga keseimbangan garis edar manusia. Kekuatan hawa nafsu yang destruktif merupakan sifat dunia materi. Setiap hari manusia hidup dalam ruang dan waktu yang material. Untuk bisa keluar dari pengaruh dunia material, manusia membutuhkan pengetahuan dan Allah memberi great knowledge berupa wahyu sebagai petunjuk bagi orang-orang beriman. Shalat adalah great knowledge yang harus terus diperkaya pemahamannya sebagai kekayaan intelektual manusia. 

Mendirikan shalat yang terdiri dari ruku dan sujud, adalah sesuatu yang berat karena sifat fujur adalah kekuatan yang cenderung sombong dan tidak mau bersujud. Sifat fujur pada diri manusia ini yang sering mendapat penguatan dari faktor lingkungan. 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Al Baqarah, 2:34).

Sujud adalah sebuah ketundukkan, kepasrahan, kerendahan diri makhluk, sebagai sebuah tindakan dari sifat ketakwaan makhluk kepada Allah. Kesombongan sering menjadi penghalang manusia untuk bersujud mengerjakan shalat, sehingga manusia cenderung merasa berat untuk bersujud. 

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (Al Baqarah, 2:45). 

Shalat menjadi hal yang ringan bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu orang-orang yang selalu fokus meminta pertolongan kepada Allah. Orang-orang yang menjaga ruku dan sujud adalah mereka yang selalu didampingi oleh Allah, diringankan bebannya dalam segala kondisi. 

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah, 2:153).***




Friday, September 30, 2022

YANG BENAR HIDUP INI BANYAK GRATISNYA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Apakah anda suka mendengar perkataan ini? "tidak ada makan siang gratis". Pepatah ini, ingin mengatakan bahwa hidup ini tidak ada yang gratis. Sayang banyak orang memahami pepatah ini dengan pandangan sempit. Pepatah ini dipahami bahwa hidup ini tidak ada yang gratis, seolah-olah seluruh hidup ini semuanya berbayar. 

Cara berpikir sempit ini membuat manusia terjebak dengan pola pikir kerdil. Pola pikir seperti katak dalam tempurung, atau seperti ikan di dalam akuarium. Katak dalam tempurung berpikir seolah-olah dunia ini sempit karena hanya melihat ruangan terbatas dalam tempurung, demikian juga ikan. 

Benarkah hidupnya harus selalu berbayar? Banyak manakah, apakah banyak gratisnya atau banyak bayarnya hidup ini? Jawabannya hanya ada dua, tetapi argumennya yang harus kita perhatikan. Orang yang mengatakan hidup ini tidak ada yang gratis, sebuah tanda bahwa pengetahuannya terbatas dalam ruang dan waktu yang dialaminya.

Dunia Yang Material Membuat Manusia Lupa Pada Banyak 
Nikmat Yang Telah Allah Berikan.

Konsep hidup ini tidak ada yang gratis bukan berarti hidup ini semua berbayar, tetapi segala pencapaian hidup yang kita inginkan harus diraih dengan pengorbanan. Sifat jiwa berkorban harus dilatih dan dimiliki jika ingin hidup menuju kebaikan. Mungkin itu makna terbaik dari "tidak ada makan siang gratis".

Namun demikian, jika kita gunakan informasi dari Al Qur'an, hidup ini sebenarnya banyak gratisnya. Mengapa demikian? Jawabannya banyak diinformasikan dalam Al Qur'an.

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak" (Al Kautsar, 108:1). Informasi ini memberi makna bahwa fasilitas hidup gratis jauh lebih banyak telah diberikan Allah kepada manusia. Namun keterjebakkan manusia dalam ruang dan waktu yang terbatas di dunia materil, cenderung membentuk pemahaman dangkat tentang hidup.

Fasilitas gratis yang dinikmati setiap hari oleh manusia adalah seluruh organ tubuh dan perangkat hidup lainnya seperti udara, tanah, air, pohon, sinar matahari, hewan, mikroorganisme dan tumbuh-tumbuhan. Sepertinya setiap hari kita harus mengeluarkan biaya untuk makan, minum, untuk bisa hidup. Padahal jika dihitung fasilitas gratis yang kita dapat untuk bisa makan, minum, dan tetap hidup, jauh lebih banyak. 

Kerja jantung yang setiap hari, siang, malam, dikala bangun, dan tidur terus menerus memompa darah keseluruh tubuh, kita dapat dengan gratis. Oksigen yang kita hirup, makanan, daging hewan yang kita makan semuanya sudah ada sejak sebelum kita hadir di muka bumi. Tanah yang kita pijak sudah tersedia sejak jutaan tahun yang lalu. Ketika kita lahir, semua fasilitas hidup sudah ada dan banyak yang kita gunakan secara gratis. 

Menjadi sesuatu yang masuk akal, jika manusia dikaterogirkan sering terjebak pada kondisi lupa diri pada fasilitas gratis yang banyak sekali kita gunakan. Untuk itu, kebanyakan manusia tidak bersyukur kepada pemberi kehidupan, karena terlalu mudah terpengaruh oleh cara pandangnya yang sempit dan terbatas. 

Maka sebagai pentunjuk hidup, Allah turunkan Al Qur'an agar manusia bisa membedakan karakter-karakter buruk mana yang harus dihindari oleh manusia. Salah karekater buruk manusia adalah mendustai fasilitas-fasilitas gratis yang telah banyak diberikan Tuhan. 

 Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk (Nya). di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar Rahman, 55: 10-13).***

 




 






Wednesday, September 21, 2022

SEMUA MANUSIA PUNYA JABATAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sekecil apapun jabatan manusia di muka bumi ini, dia telah diberi amanah oleh Allah. Dulu saya berpikir, jabatan itu adalah kedudukan yang ada di pemerintahan dengan gaji dan tunjangan. Dalam pikiran saya waktu itu, orang-orang yang menduduki jabatan adalah orang-orang yang memiliki posisi, berpangkat dan punya penghasilan. 

Padahal jika kita kembali kepada hakikat hidup manusia di muka bumi ini, semua manusia sudah punya jabatan. Pelantikkannya sudah terjadi sebelum manusia dilahirkan. Pelantikan jabatan manusia telah terjadi di alam ruh, sebagaimana dijelaskan di dalam Al Qur'an.

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh, (Al Ahzab, 33:72).

Mari kita renungkan ayat di atas. Perhatikan, penggalan kalimat dari ayat di atas, "lalu dipikullah amanat itu oleh manusia (wahamalahal insaan)". Inilah kata-kata pelantikan manusia sebagai pemegang jabatan di dunia. Pelantikannya langsung dari Allah. Inilah cara berpikir generalis yang bersumber dari Al Qur'an.

Jika beriman kepada kitab suci Al Qur'an, dan meyakini kebenaran yang ada di dalamnya, maka setiap jabatan yang diduduki manusia di muka bumi ini adalah jabatan dari Allah. Presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, camat, lurah, RW, RT, semuanya jabatan dari Allah. Termasuk jabatan-jabatan di dunia pendidikan. Menteri, Dirjen, kepala bagian, kepala dinas, kepala bidang, kepala cabang wilayah, kepala sekolah, wakasek, staf, koordinator, wali kelas, guru, ketua osis, ketua MPK, ketua sanggar, ketua jurusan, dan ketua murid, anggota osis, anggota masyarakat, adalah jabatan dari Allah. 

Mengapa semua jabatan yang ada di muka bumi ini dari Allah? Karena semua manusia sudah dilantik oleh Allah menjadi pemikul amanah. adapun berbagai macam kedudukan yang ada di muka bumi ini hanya sebagai berbagi peran untuk berjalannya sebuah sistem kehidupan. Jabatan tertinggi yang diduduki manusia adalah Nabi, dan yang terakhir adalah Nabi Muhammad. 

PESAN PENTING!

Dalam pemikiran generalis, jabatan dihadapan Allah tidak dilihat dari berapa penghasilan dan tunjangan yang didapatkan dari jabatan tersebut. Jabatan tertinggi yaitu nabi, tidak ada gaji dan tunjangannya. Gaji dan tunjangan dikenal kemudian. Jadi, tidak berarti sebuah jabatan harus dilengkapi dengan gaji dan tunjangan. Jadi, sebuah jabatan ada gaji dan tunjangannya maupun tidak, sama-sama akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah.

Bisa jadi kelak, orang-orang yang menduduki jabatan dengan gaji dan tunjangan bebas dari hisab, karena selama di dunia dia terus mendapat caci maki dan fitnah. Untuk itu, bisa jadi para pejabat yang mendapat gaji dan tunjanangan itu selalu refleksi diri, bertobat dan memohon ampunan kepada Allah siang dan malam, karena takut dosanya tidak terampuni.

Sebaliknya bisa jadi, orang-orang yang tidak merasa punya jabatan karena tidak memiliki gaji dan tunjangan, sibuk memaki, dan mencari-cari kesalahan orang. Dia lupa diri bahwa jabatan itu melekat pada setiap diri manusia. Serendah apapun jabatan di muka bumi ini, dia sudah dilantik oleh Allah. Bisa jadi jabatan-jabatan yang tidak bergaji dan tunjanganlah yang akan menggiring orang-orang ke neraka.

Menjadi ketua organisasi sosial, menjadi ketua LSM, menjadi kepala keluarga, ketua osis, ketua kelas, ketua karang taruna, ketua DKM, ketua atau anggota osis, anggota organisasi profesi, dan anggota masyarakat, itulah sebagai kecil contoh jabatan yang tidak ada gaji dan tunjangannya. Jabatan ini sangat berbahaya karena tidak ada orang yang tidak peduli dam mau mengevaluasi kinerja jabatan ini.   

Jabatan-jabatan berbahaya itu adalah jabatan yang tidak ada gaji dan tunjangannya. Jabatan tanpa gaji dan tunjangan itulah yang membuat manusia lupa diri, tidak ada yang mengontrol kecuali dirinya sendiri. Akibat tidak ada kontrol, manusia sering lupa diri, kritis ke luar dirinya tetapi tumpul ke dalam dirinya. Orang yang lupa diri, prilakunya cenderung melampaui batas. Dia juga merasa tidak punya kekurangan dan dosa sehingga sering lalai dalam mengingat dan memohon ampunan dari Allah. 

Bisa jadi kelak di akhirat, orang-orang yang punya jabatan dengan gaji dan tunjangan mendapat ampunan dari Allah karena selalu dikritisi dari luar dan selalu melakukan refleksi diri memohon ampunan kepada Tuhannya. Sebaliknya mereka yang punya jabatan tanpa gaji dan tunjangan, merasa tidak punya jabatan sehingga terlalu fokus melihat keburukan jabatan orang lain. Mereka lupa bahwa semua manusia sudah punya jabatan, bergaji dan bertunjangan atau tidak, dia akan diadili untuk apa jabatannya digunakan? 

Ketika jadi presiden, gubernur, bupati, wali kota, camat, kepala dinas, kepala sekolah, orang bisa jadi bebas mendapat ampunan dari Allah. Namun jangan lupa bisa jadi ketika kita jadi ketua karang taruna, ketua osis, ketua murid, ketua LSM, ketua DKM, kepala keluarga, malah jadi penghambat kita masuk surga. 

Sesungguhnya jabatan itu datang dari Allah. Apapun posisi kita di dunia semuanya dari Allah, dan harus dilaksanakan dengan amanah. Kelak, bisa jadi seorang presiden divonis masuk neraka tapi bisa selamat masuk surga karena amanah ketika menjadi ketua osis di sekolah atau ketua karang taruna di masyarakat. Wallahu'alam.

Sunday, September 18, 2022

MERASAKAN KEMATIAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Jika anda mengatakan kematian adalah akhir dari kehidupan, dapat dipastikan bahwa pemikiran anda termasuk materialis. Cara berpikir materialis, kebenaran yang dapat dikatakan benar selalu berbasis pada fakta. Kematian secara fakta memang tidak dapat dibantah sebagai akhir dari hidup manusia. Namun demikian pengetahuan dari alam nyata yang dipahami manusia terlalu sempit. Alam semesta sangat luas, tetapi keterbatasan manusia membuktikan kebenaran-kebenaran secara empiris sangat terbatas. 

Sangat bisa dipahami jika ada orang ditinggal mati oleh orang yang sangat dikasihi akan menangis. Tangisan ini disebabkan oleh perasaan yang bersifat materialis. Merasa kehilangan secara fisik orang-orang yang dikasihi bisa jadi sebab kesedihan. Hal ini masih bisa dikatakan wajar, tetapi jika kesedihan berlarut-larut itulah yang sangat tidak disarankan dalam ajaran agama.  

Kematian jika kita pikirkan berdasar sumber informasi dari Al Quran, bukanlah sebagai akhir dari kematian, tetapi sebagai proses perpindahan tempat hidup. 

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Ali Imran, 3:185)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan. (Al Anbiyaa, 21:34)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (Al 'Ankaabut, 29:57)

Mari kita simak penjelasan Al Quran. Setiap yang berjiwa merasakan mati. Ini bahasa terjemah, dalam arti bahasa paling sederhana. Kata "merasakan" merupakan point penting yang perlu kita simak. Fenomena merasakan seperti bagaimana kita merasakan panas, dingin, sakit, sedih, senang, gembira, dan sebagainya. Dalam fenomena kematian kita sering melihat ekspresi mayat sedih dan senang. Ini berarti kematian adalah sebuah fenomena sebuah proses dalam kehidupan yang bisa dirasakan oleh setiap orang, bisa dalam ekpresi senang atau menyedihkan. 

Hal ini bisa punya arti bahwa kematian bisa terjadi pada setiap orang sebagai fenomena kebahagiaan atau kesedihan bagi orang yang merasakannya. Dengan demikian, kematian tidak dipandang sebagai akhir kehidupan, tetapi sebagai proses seseorang menuju suatu kehidupan di dimensi lain. Untuk menuju kehidupan di dimensi lain, setiap orang akan "merasakan kematian". Rasa kematian itu dikabarkan sebagai sesuatu yang menyakitkan, dan ada juga yang merasakannya sebagai kegembiraan.

Orang-orang muslim biasanya selalu berdoa mendapat kemudahan dan kebahagiaan disaat menghadapi kematian. Kebahagiaan ini dirasakan pada saat orang merasakan mati dalam kebaikan atau khusnul khotimah. 

Pandangan di atas tentunya berlaku bagi orang-orang yang meyakini adanya kehidupan dimensi lain, setelah kehidupan dunia yaitu kehidupan akhirat. Untuk itu, Allah menentukan ciri orang-orang beriman mereka harus beriman kepada adanya hari akhirat. Pandangan ini akan sedikit berbeda bagi orang-orang yang tidak meyakini adanya kehidupan akhirat. Untuk itu, perbedaan antara orang beriman dan tidak beriman adalah kepercayaannya kepada adanya hari akhirat, atau kehidupan di dimensi lain setelah kehidupan di dunia. 

Jadi bagi orang-orang yang percaya pada kehidupan akhirat, kematian adalah sebuah proses perpindahan manusia dari kehidupan dunia menuju ke kehidupan akhirat. Setiap orang akan mengalami ini, dan kita berharap kita dapat merasakan kematian dengan penuh kegembiraan yaitu kemudahan dalam sakaratul maut, dan dalam keadaan baik atau khusnul khotimah.***

 


Sunday, September 4, 2022

KEBENARAN PEMIKIRAN TERLETAK PADA SUMBERNYA

Oleh: Muhammad Plato

Jangan berebut dan berdebat tentang kebenaran, karena kebenaran bukan pada hasil pemikiran, tapi dari mana pemikiran itu bersumber. Pemikiran manusia bersumber pada data atau pengetahuan yang ditafsirmnya. Jika data atau pengetahuan yang ditafsirnya salah maka hasil pemikirannya salah. Jika data atau pengetahuan yang ditafsirnya benar, maka kemungkinan tafsirnya benar atau salah. Jadi pada dasarnya, setiap pemikiran yang dihasilkan manusia memiliki dua potensi benar atau salah. Tinggal keyakinan atau pertimbangan pribadi masing-masing yang akan menegaskan mana yang dianggap benar. Keyakinan ini kelak akan dipertanggung jawabkan kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. 

Setiap manusia pada level manapun tidak berposisi sebagai pemilik kebenaran, tetapi sebagai penyampai kebenaran. Para penyampai kebenaran hanya berusaha membantu agar orang-orang bisa mendapatkan informasi tentang kebenaran, sesuai dengan kemampuan setiap orang. Menyampaikan kebenaran pada anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua, tentu harus dengan berbagai macam cara dengan memperhatikan kondisi psikologi, kemampuan bepikir, dan pengetahuan yang dimiliki seseorang. 

Para ilmuwan mengeluarkan teori bersumber pada data atau pengetahuan dari hasil penelitiannya. Keyakinan ilmuwan pada data atau pengetahuan yang didapatkan berdasarkan pada metodologi penelitian yang dilakukannya. Data tersebut kemudian diuji kebenarannya oleh para ilmuwan lain. Semakin banyak peneliti membuktikan sumber kebenaran teorinya, maka kemungkinan besar teori tersebut akan menjadi kebenaran yang disepakati bersama. 

Al Quran mengandung data atau pengetahuan yang dijamin Allah kebenarannya. "Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa," (Al Baqarah, 2:2). Setiap orang yang menggunakan data atau pengetahuan dari Al Quran sebagai sumber pengetahuan, pemikirannya berpotensi besar mendekati kebenaran. Orang-orang akan menerima hasil pemikiran seseorang yang bersumber pada Al Quran, sesuai dengan kapasitas pengetahuan yang dimilikinya. Jika terjadi perbedaan maka dikembalikan pada pengetahuan awalnya dari Al Quran. 

Kebenaran mutlak ada pada data atau pengetahuan yang semuanya bersumber dari Allah, dan kemungkinan benar atau salah terletak pada penafsiran manusia. Setiap orang yang mengemukakan penafsiran, tidak akan marah atau tersinggung jika ada orang yang mengatakan penafsirannya salah, karena sifat manusia punya potensi salah. Namun orang yang mengatakan pendapat orang lain salah, sebenarnya dia telah bersalah karena merasa dirinya seolah sebagai pemilik kebenaran. Maka jika setiap orang mengakui pemilik kebenaran hanyalah Allah, tidak bisa saling mengklaim pendapatnya benar, tetapi hanya menjelaskan bahwa pendapatnya berbeda. Sedangkan benar atau salahnya pendapat hanya berserah diri pada Allah pemilik kebenaran. 

Jika cara pandang setiap orang berpendapat pemilik kebenaran hanya Allah, diskusi-diskusi yang terjadi tidak akan saling menyudutkan, merendahkan, atau menyalah-nyalahkan, tetapi hanya bergantian memberi penjelasan dengan argumen-argumen data valid dan reliabel yang dimilikinya. Inilah cara diskusi atau dialog yang akan membawa kedamaian, kesejahteraan, dna mencerdaskan umat manusia. 

Kemudahan dari Allah adalah umat manusia telah diberi data shahih, tidak perlu uji validitas dan reliabilitas yaitu data yang terdapat dalam Al Quran. Data dalam Al Quran sudah mendapat jaminan dari Allah sebagaimana Al Quran menjelaskan. 

"Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh." (Al Baqarah, 2:176). 

"Sebab itu bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata". (An Naml, 27:79). Semua yang diturunkan Allah pada Rasulnya mengandung kebenaran yang nyata, karena keterbatasan dan egoisnya manusia, sering terjadi perselisihan. Wallahu'alam.***

 

KECERDASAN MENGAMBIL KEPUTUSAN

Oleh: Muhammad Plato

Ambilan keputusan! "Maka kepada perkataan apakah selain Al Quran ini mereka akan beriman?"  (Al Mursalat, 77:50). Ini pertanyaan penting yang Allah kabarkan di dalam surat Al Mursalat. Pertanyaan yang harus dijawab oleh umat manusia. Atas dasar apa umat manusia tidak percaya pada ayat-ayat Al Qur'an yang diturunkan pada Nabi Muhammad? Sementara ayat-ayat Al Quran begitu terang benderang menjelaskan tentang berbagai kejadian alam dan kejadian ghaib yang tidak diketahui manusia. Malaikat-malaikat ditugaskan untuk mengurus berbagai urusan. 

Al Quran bukan dongeng seperti yang ada dalam alam pikiran manusia. Semua yang diberitakan di dalam Al Quran adalah kejadian yang benar-benar terjadi. Allah mengabarkan semua yang terjadi di masa lalu dan masa yang akan datang di dalam Al Quran untuk menjadi pelajaran. Bukti-bukti kebenaran sudah Allah beberkan di dalam Al Quran, dan bisa disaksikan dengan mata kepala telanjang. 

"Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan, dan yang terbang dengan kencangnya, dan yang menyebarkan dengan seluas-luasnya, dan yang membedakan dengan sejelas-jelasnya, dan yang menyampaikan wahyu, untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan, (Al Mursalat, 77:1-6).

Bagi Iblis yang bisa bersemayam di dalam seluruh unsur tubuh manusia, mereka mengetahui, sangat berbahaya bagi Iblis jika manusia mulai tertarik untuk memahami, mengidentifikasi, dan memaknai, ayat-ayat Al Quran. Berbagai argumen dan penolakan terhadap upaya-upaya manusia yang berusaha memahami ayat-ayat Al Quran, iblis lakukan. Iblis selalu berusaha mempersulit manusia dalam memahami ayat-ayat Al Quran, sedangkan Allah menghendaki kemudahan bagi manusia. 

Iblis selalu berupaya keras memalingkan manusia dari upaya-upaya baik manusia dengan membuat bisikan-bisikan. Untuk itu manusia harus terus berupaya berpegang teguh pada Allah dengan berpedoman pada ayat-ayat Al Quran dan Sunnah.

Untuk itu, Allah memeringatkan manusia berulang-ulang sampai 10 kali di dalam Al Quran. "Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." (Al Mursalaat, 77:15). Peringatan ini dapat diidentifikasi dalam surat Al Mursalaat sampai 10 kali. Ini tanda peringatan penting dari Allah kepada manusia. 

Salah satu yang diperingatkan oleh Allah adalah tentang keputusan. Peringatan terhadap adanya hari keputusan dan harus sesegera mungkin mengambil keputusan. Silahkan putuskan sekarang, mau beriman kepada perkatan mana lagi, setelah turun dengan jelas perkataan-perkataan Allah di dalam Al Qur'an. Keputusannya sangat personal, dan tergantung pribadi masing-masing. Keputusan manusia sekarang akan diuji pada hari keputusan. Selama manusia diberi hidup, dia sedang diberi tangguh pada batas sampai hari keputusan. Allah kabarkan kecelakaan bagi orang yang tidak percaya pada hari keputusan.

"Sampai hari apakah ditangguhkan?" Sampai hari keputusan. Dan tahukah kamu apakah hari keputusan itu? Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan". (Al Mursalaat, 77:12-15).

Segeralah mengambil keputusan dari sekarang, apakah mau beriman kepada Al Quran atau tetap mendustakan. Cepat...cepat...cepatlah....putuskan... apa lagi yang membuat ragu. Hari keputusan itu akan segera tiba dan datangnya hanya Allah yang tahu. Mungkin detik ini, jam ini, esok, lusa, atau nanti, mumpung Allah masih memberi tangguh. 

Hari keputusan itu adalah ketika kita merasakan kematian. Hari kematian sangat dekat dengan kehidupan manusia di dunia. "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." (Al Ankabuut, 29:57).

Kecerdasan manusia dalam mengambil keputusan adalah kecepatan manusia mengenal kebenaran dan sesegera mungkin mengambil keputusan. Keberanian mendasar dalam mengambil keputusan adalah keberanian kita untuk berada di atas jalan kebenaran dari Tuhan Yang Maha Esa. Dasar dari kecerdasan mengambil keputusan adalah kemampuan membedakan baik buruk, menolak keburukan, dan menerima kebaikan, berdasarkan argumen-argumen data yang telah Allah sajikan dalam Al Quran. wallahu'alam.***

MUDAHNYA MENEMUKAN ILMU DARI AL QURAN

Oleh: Muhammad Plato

Jika anda seorang ilmuwan, apakah yang membuat sebuah teori dikatakan benar? Jawabannya karena teori tersebut telah diuji dengan penelitian menggunakan sebuah metodologi yang disepakati. Jadi sumber kebenaran teori adalah kebenaran data yang dianggap sudah memiliki ]validitas dan reliabilitas. Validitas dan reliabilitas data menjadi dasar sebuah teori dapat diakui kebenarannya.

Ribetnya para ilmuwan menemukan kebenaran, didasarkan pada kesepakatan dalam menggunakan metodologi penellitian. Berbagai metode penelitian dikembangkan, dan yang diakui benar yang paling banyak pemakainya. Dunia sains pada akhirnya seperti dunia pasar. Siapa yang paling banyak diminati pasar maka dialah yang akan memimpin pasar. 

Konsensus ilmuwan, tanpa metodologi penelitian sekalipun orang menemukan kebenaran secara empiris, tetap saja orang tersebut tidak dapat dinggap sebagai ilmuwan. Metodologi penelitian sebenarnya hanya aturan yang disepakati, agar setiap orang bisa mempertanggungjawabkan keilmuannya.

Apa yang dicari ilmuwan? Hanya kebenaran empiris, hasil dari pengukuran yang alat ukurnya valid dan hasil reliabel. Inilah kunci dasar sebuah teori dapat diakui atau tidak diakui, yaitu data valid dan reliabel. Sekali saya tegasnya, sumber dari klaim kebenaran ilmuwan terhadap teori adalah data valid dan reliabel. Jadi teori merupakan hasil tafsir  dari data valid dan reliabel. 

Jika data valid dan reliabel yang yang dicari ilmuwan untuk menemukan sebuah kebenaran teori, maka Al Quran adalah kitab data. Data-data yang ada dalam Al Quran sudah memenuhi tingkat validitas dan reliabilitas tinggi. Mengapa demikian, karena Al Quran tidak ada penelitinya, tidak ada ilmuwannya, dan Al Quran mengklaim dirinya sebagai data yang bersumber dari Tuhan Semesta Alam.

Jadi ketika ada orang yang tidak percaya kepada data-data yang ada dalam Al Quran, seharusnya tidak ada yang marah, karena orang yang tidak percaya tersebut sedang berdiskusi dengan Tuhannya. Kita persilahkan saja orang tidak percaya, tetapi konsekuensi-konsekuensi bagi orang tidak percaya, Al Quran juga punya data-data bagaimana mereka akhir dari mereka yang menolak kebenaran Al Quran.

Sebenarnya Allah sudah memberi kemudahan kepada manusia dalam menemukan kebenaran. Allah menurunkan Al Quran sebagai data-data yang valid dan reliabel. Data yang ada dalam Al Quran datang dari Allah diwahyukan pada Nabi Muhammad melalui malaikat. Informasi ini di dapat dari Al Quran sendiri bukan dari karangan manusia. Allah mengatakan bahwa Al Quran diturunkan dari Allah untuk memudahkan urusan manusia.

"Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy." (Thahaa, 20:1-5).

Dengan demikian, kebenaran yang dikemukakan oleh ilmuwan bukan pada mulut ilmuwan tapi pada data yang dijadikan rujukkannya. Demikian juga para pendakwah, mulut-mulut mereka bukan sumber kebenaran, tapi data-data valid dan reliabel yang mereka gunakan sebagai dasar kebenaran. Maka sebuah pendapat, teori, dapat diakui kebenarannya dengan mencari tahu validitas dan reliabilitas data.

Lalu validitas dan reliabilitas bagaimana lagi yang harus dipertanyakan?  "Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah." (Thahaa, 20:6). 

Allah sudah menyediakan data-data valid dan reliabel dalam Al Quran. Jika ingin menemukan kebenaran, maka semua orang bisa menggunakan data-data valid dan reliabel dalam Al Quran untuk menemukan berbagai macam solusi bagi manusia dalam memecahkan masalah dalam berbagai bidang kehidupan. Kemampuan yang Allah berikan sebagai alat agar manusia bisa menyelesaikan masalah hidupnya adalah hati dan akal. 

Namun demikian, orang-orang tidak boleh mendustai Tuhan, dengan mengaku-ngaku sebagai pemilik kebenaran. Allah berpesan bahwa semua kebenaran mutlak milik Allah, karena semua yang disampaikan dari mulut manusia data-datanya semua datang dari Allah. Manusia tidak lain hanya penyampai pesan, pembawa amanah, tidak lebih dari itu. Amanah Allah pada manusia sampaikanlah kehidupan damai dan sejahteralah untuk seluruh umat manusia. Semoga Allah memberi hidayah (great knowledge) kepada kita semua.*** 

 

Saturday, September 3, 2022

WAKTU YANG DAPAT MENYELAMATKAN MANUSIA

Oleh: Muhammad Plato

"Demi masa, sesunguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kesabaran" (Al 'Ashr, 103, 1-3). Waktu atau masa adalah milik Allah siapa memanfaatkan untuk kebaikan, dialah orang-orang beruntung. Manusia-manusia berkualitas tinggi diawali dengan menghargai waktu. 

Allah telah bersumpah demi masa atau waktu. Ada hal bear yang harus kita pikirkan mengapa Allah bersumpah dengan waktu? Pikiran kritis kita harus muncul dengan bertanya apa sebenarnya waktu? Jika kita kembali kepada Al Qur'an Allah menjelaskan berbagai macam konsep waktu atau masa. Konsep waktu yang kita kenal sehari-hari di alam seperti malam, sepertiga malam, siang, sore, fajar, dhuha, dan subuh. 

Lalu Allah juga memperkenalkan shalat yang ditentukan waktu-waktunya. Subuh, dhuhur, ashar, magrib, Isya. Dalam perkembangan fisik dan psikologi manusia dikenal masa anak-anak, remaja, dewasa, dan tua. Di alam kita kenal pergantian musim, seperti hujan dan kemarau, dingin, panas, semi, dan gugur. Nabi Muhammad dalam hadis mengingatkan masa sehat, kaya, luang, dan hidup sebelum datang masa sakit, miskin, sibuk, dan mati.

Allah juga mengingatkan ada masa kehidupan setelah kematian. Allah mengabarkan tentang alam kubur, kiamat, hari perhitungan, hari pembelasan, hari pengadilan, berada di masa kehidupan akhirat.  Masa-masa yang telah ditetapkan Allah memiliki karkater-karakter tersendiri. Manusia harus terus membaca, belajar, memahaminya agar manusia bisa hidup dalam kesejahteraan. 

Inilah suatu masa yang diingatkan Allah. "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." (Al Ankabuut, 29:57). 

Manusia ternyata hidup dalam ketentuan-ketentuan masa atau waktu. Mengapa Allah memperingatkan demi masa atau waktu kepada manusia? Berbagai jawaban bisa kita pahami dari berbagai sudut pandang. Dari sudut pandang sejarah, waktu tidak bisa diciptakan manusia. Waktu berjalan dari masa lalu menuju masa yang akan datang. Orang-orang beruntung yang mengisi sepanjang waktunya dengan hal-hal baik untuk diri dan orang lain. 

Namun deminkian dari jutaan masa yang diciptakaan Allah, inilah masa-masa yang akan menyelamatkan umat manusia. "Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (An Nisaa, 4:103).

Hadis Nabi Muhammad menjelaskan shalat yang telah ditentukan waktunya adalah subuh, dhuhur, asar, magrib dan isya. Kelima waktu ini akan menyelamatkan manusia dari segala kondisi kehidupan yang dianggap baik atau buruk yang dialami manusia. Wallahu'alam.***  


RAHASIA VIER ABDUL JAMAL THE GREAT MAN STOCK TRADER

Oleh: Muhammad Plato

Kali ini saya sajikan tokoh besar dari tokoh pasar modal, beliau adalah Vier Abdul Jamal. Disertasi yang sedang saya tulis berbicara tentang kisah-kisah sukses tokoh besar dunia. Kisah-kisah tokoh besar di dunia mengalami empat kisah yang sama, yaitu usaha, gagal, derita, dan sukses. Saya membaca kisah Vier Abdul Jamal dari buku otobiografinya berjudul, "Vier Abdul Jamal Legenda Pasar Modal Indonesia". Buku ini saya terima langsung dari beliau saat datang memenuhi undangan Talk Shaw di sekolah. 

Sebuah anugerah terbesar untuk dunia pendidikan, tokoh besar pasar modal mau hadir diundang ke sekolah untuk berbagi ilmu trading saham di pasar modal. Saya berharap tokoh-tokoh besar dari berbagai bidang memiliki kepdedulian yang tinggi pada dunia pendidikan seperti Vier Abdul Jamal. Tanpa protokoler beliau mau menerima undangan kami untuk berbagi ilmu dengan siswa-siswi SMA. Semoga beliau tetap diberi kesehatan dan menjadi berkah bagi umat manusia dimanapun berada. 

Dari beberapa kisah yang saya baca dari buku otobiobiografinya, beliau memiliki empat kisah yang sama dilalui oleh tokoh-tokoh besar di dunia, yaitu kisah usaha, gagal, derita, dan sukses. Dalam menjalani karirnya Vier Abdul Jamal memiliki banyak usaha yang dilakukannya. Segala usaha yang dibangunnya tidak lepas dari kreatifitas gagasan yang dimilikinya. Selanjutnya beliau juga mengisahkan kegagalan demi kegagalan dari usaha yang dilakukannya. Kemudian beliau mengisahkan masa-masa penderitaan hidup yang harus dialaminya. Hingga akhirnya beliau menjadi tokoh besar berpengaruh khususnya di pasar modal.

Dari kisah-kisah yang dilaluinya, kita bisa dapatkan filosofi-filosofi hidup layaknya tokoh-tokoh kelas dunia. Sebagai tokoh besar di pasar modal, Vier Abdul Jamal mengidolakan tokoh besar Nabi Muhammad saw. Kisah Nabi Muhammad adalah model perjalanan hidup yang dilalui tokoh-tokoh besar dunia. Setiap kisah tokoh besar dimanapun mengandung pelajaran nilai-nilai ketuhanan. Nilai-nilai itu  sebagaimana firman Allah di dalam Al Quran. 

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah, 2:261)

Vier Abdul Jamal mengimplementasikan ayat di atas dengan mengatakan, "ilmu jika dibagikan dia tidak akan pernah habis". Komitmen beliau untuk berbagi ilmu trading dengan gratis dilandasi oleh filosofi yang bersumber dalam Al Quran.  

Selain itu, filosofi berdalil lainnya yang dimiliki oleh Vier Abdul Jamal adalah, "kekurangan adalah kekuatan". Kekurangan yang dia miliki selama ini, justru menjadi kekuatan yang tidak dimiliki orang lain dalam bidang trading saham. Mata juling yang dimiliki beliau yang dianggap orang kekurangan, ternyata telah menjadi kekuatan ketika trading beliau bisa melihat beberapa monitor tanpa membutuhkan asistes. 

Filosofi hidup yang beliau miliki Allah jelaskan di dalam Al Qur'an, "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (Alam Nasyraah, 94:5-6). Bersama kelemahanan seseorang Allah menyimpan kekuatan yang dimiliki seseorang. Itulah pelajaran buat kita bahwa Allah maha adil.

Rahasia sukses Vier Abdul Jamal tidak lepas dari keyakinan pada Allah. Beliau praktekkan keyakinannya pada Allah dengan melaksanakan ritual shalat malam 11 rakaat setiap malam, dan malah sampai 100 rakaat. Ritual itu pernah dilakukan sebelumnya selama bulan Ramadan penuh. Doanya, "ya Allah alirkan rezekiku sederas air sungai dan seluas lautan, tapi jangan palingkan wajahku dari Mu". Doa dilakukan terus menerus hingga menjelang enam bulan belum ada jawaban. Jawaban pun tiba, seorang investor menawarkan modal 30 Miliar, dan sukses berkembang menjadi 300 miliar.

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah, 2:153).

Orang-orang besar dibentuk oleh Allah dengan karakter unggul dan keyakinan dengan filosofi tinggi bersumber pada Al Quran. Itulah rahasisa sukes Vier Abdul Jamal.  Allah tampilkan model manusia-manusia unggul dari berbagai bidang pada umat manusia agar mereka bisa meneladaninya. Wallahu'alam.***




PENYEBAB PENDERITAAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kegagalan, penderitaan, kesuksesan, kesejahteraan, kelapangan adalah takdir Allah. Tidak ada yang bisa menghapukan kesulitan dan kemudahan di muka bumi, keduanya sudah ditakdirkan Allah pasti terjadi dalam kehidupan. Jika tujuan hidup menghindarkan diri dari kegagalan semua akan berada dalam kegagalan. Jika hidup mencari kesejahteraan semua mendapat kesejahteraan tanpa harus dicari.

Cara berpikir orang-orang beriman itu berbeda dengan kebiasaan. Orang-orang beriman selalu menjaga pikiran berada dalam kesadaran ingat Tuhan. Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan membawa kesejahteraan bagi orang lain, tetapi pikiran orang-orang beriman tetap fokus pada pandangan dari Tuhan. 

Penderitaan bukan dilihat dari kenyataan fisik yang biasa kita saksikan. Orang-orang hidup hidup di muka bumi dalam berbagai ragam keadaan. Jika kesejahteraan hanya dirasakan oleh orang-orang dengan fasilitas hidup dari kekayaan, maka Allah tidak adil karena kesejahteraan hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang. Oleh karena itu, Allah maha adil karena kesejahteraan bisa dinikmati oleh setiap orang dalam segala kondisi. Ada seorang ayah bahagia mendapatkan uang Rp. 10.000 karena baginya keselamatan hidup hari itu untuk dana pendidikan anak-anaknya. 

Jadi apa sesunguhnya penyebab penderitaan? Allah berfirman bahwa semua sebab kemalangan datang dari diri sendiri. 

Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan. " (Al An'aan, 6:120). 

Semua penderitaan disebabkan dari apa yang kita kerjakan. Ada dua pekerjaan yang kita lakukan yaitu pekerjaan atas nama Allah dan pekerjaan yang melupakan Allah. Pekerjaan yang melupakan Allah akan jadi penderitaan. Semua tindakan yang dilakukan dengan perencanaan singkat (spontan) atau pun dengan perencanaan matang akan berujung pada penderitaan jika melupakan Allah. 

Penederitaan adalah hasil dari olahan pikiran yang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan buruk. Kesimpulan buruk akan memengaruhi hati menjadi khawatir, kecewa, atau benci. Kesejahteraan adalah hasil olahan pikiran yang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan baik. Kesimpulan baik akan melahirkan harapan, optimisme, ketenangan atau kedamaian dalam hati. 

Kendala umumnya adalah hasil olahan pikiran seseorang lebih biesar dipengaruhi oleh situasi yang sedang dihadapinya. Situasi-situasi krisis yang dialami seseorang kadang mendominasi hasil kesimpulan yang dihasilkan. Hanya orang-orang yang paham saja, yang mampu mengendalikan situasi krisis menjadi peluang, dan harapan-harapan baik. Mereka adalah manusia berkarakter unggul dengan kemampuan berpikir positif tingkat tinggi.  

Maka untuk menghindari penderitaan, sangat tergantung pada hasil olah pikir yang akan memengaruhi suasana hati. Untuk itu Allah menyampaikan di dalam Al Quran apapun kejadiannya harus tetap menghasilkan kesimpulan yang baik. Carilah dari setiap kejadian sisi-sisi baik yang dapat menghasilkan harapan, optimisme, dan kedamaian. 

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (Fushshilat, 41:34).***

Tuesday, August 16, 2022

CARA MENJADI ORANG BERUNTUNG

OLEH: MUHAMMA PLATO

Keberuntungan adalah kemujuran hidup yang datangnya tidak disangka-sangka. Keberuntungan sering diyakini sebagai suatu keadaan yang tidak semua orang tahu apa sebabnya. Tentang keberuntungan banyak orang mengaitkannya dengan nasib-nasiban. Ada orang dinasibkan beruntung hidupnya ada orang yang kurang beruntung. Keberuntungan menjadi hal yang tidak bisa ditebak, dan kadang menjadi seperti undian. 

Kadang-kadang keberuntungan sering dijadikan alasan orang untuk menghindar dari sikap kerja keras. Keberuntungan juga sering dijadikan alasan oleh orang ketika mengalami kegagalan. Ada juga keyakinan bahwa tidak semua orang memiliki nasib beruntung. Tidak sedikit orang mencari keberuntungan dengan cara-cara mistis takhayul.

Al Qur an menjelaskan siap-siapa saja orang yang akan diberi keberuntungan. Merujuk pada Al Quran kita bisa menentukan siapa orang beruntung dan siapa yang merugi. Keberuntungan tidak ujug-ujug, tetapi ada sebab-sebab yang harus dimiliki agar orang bisa beruntung. Panduannya bisa kita kembangkan dari Al Qur'an. 

Satu-satunya orang yang tidak akan mendapat keberuntungan adalah mereka yang berbuat dosa. Perbuatan dosa adalah prilaku-prilaku tidak produktif dari hal kecil sampai hal besar. Semua peraturan yang baik datangnya dari Allah. Maka sikap dan prilaku yang tidak baik seperti indisipliner, tidak taat pada aturan, malas, melecehkan, tidak taat pada guru, pemimpin, adalah prilaku dosa (bertentangan dengan perintah Allah).  "Sesungguhnya tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa" (Yunus, 10:17).

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Ali Imran, 3:200).

Salah satu penyebab keberuntungan seseorang adalah kesabaran. Kesabaran adalah sebuah tindakan, dalam bentuk gerak pasif atau pun aktif. Kesabaran dilakukan dalam kegiatan-kegiatan positif berdasarkan keyakinan pada Tuhan. Bersabar dalam kebaikan adalah penyebab keberuntungan.

Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (Al Maa'idah, 5:100).

Penyebab keberuntungan kedua adalah mereka yang memiliki kemampuan akal untuk membedakan baik dan buruk tanpa terpengaruh oleh kepentingan-kepentingan pribadi. Akal memiliki kedudukan netral, yang akan membedakan cara pandang seseorang adalah pengetahuan yang dimiliki.

Setiap pengetahuan yang masuk ke dalam memory otak akan jadi pembentuk cara pandang. Sumber pengetahuan dapat dibagi dua, yaitu pengetahuan alam material dan non material (kitab suci). Dominasi pengetahuan alam materi dalam otak akan membentuk cara pandang materialistik. Sebaliknya dominasi cara pandang non material dari kitab suci, akan memebntuk cara pandang mistik.

Cara pandang jalan tengah adalah cara pandang holistik yang menjadikan sumber pengetahuan alam dan sumber pengetahuan non alam (kita suci), saling berkaitan, saling memperkuat dan membawa kepada cara pandang hidup damai dan sejahtera. 

Orang yang akan mendapat keberuntungan bukan yang rajin shalat lupa bekerja, bukan pula yang rajin bekerja lupa shalat. Orang-orang yang beruntung adalah mereka yang rajin shalat dan rajin bekerja. Bagi orang-orang yang rajin shalat mereka akan rajin bekerja karena bekerja bagian dari implementasi sedekah. Inilah tanda bagi orang-orang yang akan mendapat keberuntungan.***


Saturday, August 13, 2022

ORANG SUCI TAKUT PADA ALLAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Rasa takut adalah naluri manusia. Setiap orang memiliki rasa takut. Rasa takut dapat menjadi penggerak seluruh aktivitas manusia. Rasa takut menjadi faktor penggerak manusia kreatif, bekerja, berpikir, dan mencipta. Rasa takut harus dikendalikan menjadi hal-hal produktif, agar manusia bisa hidup sejahtera di dunia dan akhirat. 

Rasa takut bisa lahir karena imajinasi manusia dan segala hasrat manusia. Imajinasi manusia tentang alam dan makhluk-makhluk transenden, bisa jadi penyebab rasa takut manusia. Imajinasi manusia tentang alam melahirkan keganasan alam yang menghancurkan infrastruktur kehidupan manusia. Alam dipersepsi sebagai kekuatan di luar manusia yang bersifat destruktif. 

Imajinasi manusia tentang makhluk transenden, berwujud menjadi makhluk-makhluk dengan wajah mengerikan dengan sifat-sifat yang buruk. Hantu-hantu lahir dalam imajinasi manusia sesuai dengan latar belakang budaya dan lingkungan alam dimana manusia tinggal. Mitologi-mitologi tentang makhluk transenden diciptakan turun-temurun, dan divisualisaskan dalam bentuk gambar-gambar hasil imanjinasi.

Lalu berbagai hasrat manusia untuk memiliki harta, keturunan, perusahaan, perkebunan, kendaraan, pasangan hidup, dan kedudukan, melahirkan rasa takut kekurangan. Rasa takut yang disebabkan hasrat manusia tentang keduniawiaan menjadi penyebab segala tindakan manusia untuk kepentingan-kepentingan pribadi yang cenderung pada duniawi. Persaingan teknologi informasi dan produksi, perang, adalah tindakan yang disebabkan oleh rasa takut kekurangan dengan kencenderungan kepentingan duniawi. 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (Al Baqarah, 2:155).

Rasa takut pada makhluk transenden, melahirkan tindakan-tindakan klenik atau takhayul. Tindakan-tindakan klenik, takhayul, terpelihara dalam sistem budaya masyarakat. Pada masyarakat rasional, budaya takhayul dikemas dalam karya-karya kreatif film horor. Berisi cerita-cerita karya imajinasi, animasi dikemas dengan mengembangkan berbagai teknologi desain grafis dan disebarkan melalui media informasi. Karya-karya film hasil imajinasi dianggap sebagai karya ilmiah, padahal tidak jauh beda dengan cerita kuntilanak dan genderwo yang ada pada masyarakat mistis. 

Dalam persaingan politik, rasa takut dapat diciptakan untuk mengendalikan orang atau bangsa. Islamophobia adalah rasa takut yang diciptakan untuk mengendalikan dan mendeskreditkan sebuah kelompok dengan tujuan-tujuan tertentu. Teror, kekerasan, ancaman, adalah bentuk-bentuk tindakan yang dapat menimbulkan rasa takut. 

Dalam konsep religius, rasa takut dapat menjadi pengendali manusia. Manusia-manusia suci adalah mereka yang takut mendurhakai Tuhannya karena takut pada akibat-akibat buruk dari perbuatannya yang telah ditetapkan Tuhan. Jiwa-jiwa yang kotor adalah mereka yang takut kepada selain Tuhan. 

"Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada adzab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan shalat. Dan barang siapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali" (Fathir, 35:18).

Segala sesuatu telah diciptakan dan ditakdirkan Tuhan. Maka apapun rasa takut yang terjadi di dunia ini, seharusnya menjadi sebab ketakutan kepada Tuhan. Covid 19 terlepas dari berbagai pendapat, dia disebabkan oleh prilaku manusia yang buruk, maka kepada Tuhan kita memohon ampun, dan berbuat sebaik mungkin yang bermanfaat bagi banyak orang untuk mengakhirinya. Murakami (2006) ahli DNA dari Jepang mengakatan jika kita punya kepentingan dalam hidup, jalan terbaik untuk memenuhinya adalah memenuhi kepentingan orang lain. 

Atas dasar kasih sayangnya Allah menurunkan petunjuk jalan hidup kepada manusia. Rasulullah diutus untuk membawa petunjuk hidup berupa kabar baik bagi orang-orang yang takut kepada-Nya. Orang-orang yang takut kepada Allah adalah mereka yang pikiran dan hatinya suci. Sesungguhnya rasa takut yang akan membawa hidup manusia damai dan sejahtera adalah takut kepada Allah.

Maka, orang yang ingin selalu menyucikan dirinya dari perbuatan buruk adalah mereka yang punya rasa takut pada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi orang-orang suci adalah mereka yang punya rasa takut pada Allah dengan menyucikan diri dari perbuatan-perbuatan merugikan orang lain dan perbuatan yang dibenci oleh Allah. Jiwa-jiwa yang kotor adalah mereka yang menciptakan rasa takut untuk keuntungan diri dan golongan, dan menggiring pikiran serta hati orang lain takut kepada selain Allah. Iblis adalah makhluk yang selalu hadir dalam imajinasi manusia, untuk membelokkan rasa takut manusia pada selain Allah.***


sumber:

Murakami, K. (2006). The Divine Message of DNA. Mizan Pustaka.