Saturday, July 31, 2021

WHAT, MELIHAT TUHAN?

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ingin melihat Tuhan pernah di minta oleh seorang Nabi yaitu Musa a.s. Lalu apa yang terjadi? Nabi Musa pingsan tidak sadarkan diri karena melihat gunung hancur luluh lantak ketika Tuhan menampakkan dirinya pada gunung. Setelah bangun kembali sadar, Musa a.s bertobat dan beriman. Cerita ini dikisahkan di dalam Al-Qur’an.

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".” (Al A’raaf, 7:143)

Sungguh Al-Qur’an adalah kitab berisi pengajaran dan peringatan. Fenomena Nabi Musa terus berulang sepanjang masa, dimana saat ini ada orang yang kurang pengetahuan, menantang kepada orang-orang Islam untuk membuktikan bagaimana wujud Tuhan yang disembahnya, sebab dia merasa bahwa tuhan yang disembahnya bisa dilihat. Dengan arogan tantangan ini disertai imbalan hadiah satu miliar. Tantangan ini persis seperti prilaku orang-orang kafir terdahulu yang meminta kepada Nabi-Nabinya untuk bisa melihat Tuhan.

Bagi muslim yang memahami bagaimana sifat Tuhan, tantangan ini tidak perlu mendapat tanggapan serius. Namun Allah menghadirkan orang-orang cerdas untuk membalikkan tantangan itu dengan tantangan untuk membuktikan bahwa wajah tuhan yang disembahnya benar-benar wajah tuhan yang asli dengan imbalan 100 miliar.

Dua tantang-menantang ini memang sudah dapat dipastikan jawabannya, Tuhan tidak mungkin dilihat, dan wajah Tuhan tidak mungkin dapat dibuktikan. Namun dua tantangan ini berbeda, yang satu datang dari orang kafir (tertutup) dari kebenaran, dan yang satu dari orang-orang beriman yang ingin mempertebal keimanannya.

Melihat dan melukiskan Tuhan dalam wujud yang tampak secara materil adalah kekafiran (kebodohan, kejahiliyahan, atau ksesesatan). Kemustahilan Tuhan dapat menampakkan diri pada manusia sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an dalam kisah Nabi Musa a.s.  Dalam kisah tersebut Allah mengajarkan bahwa manusia-manusia yang ingin melihat wujud Tuhan, dia mengikuti hasrat kekafiran dan termasuk dosa besar. Untuk itu, dikisahkan setelah Nabi Musa a.s melihat gunung hancur, kemudian jatuh pingsan dan setelah sadar dia bertasbih dan bertobat lalu menyatakan keimanannya. Pertanyaannya, “mengapa Nabi Musa bertobat?” Karena meminta Tuhan untuk menampakkan diri adalah pelecehan terhadap Tuhan. Meminta Tuhan untuk menampakkan dari adalah merendahkan dan mengingkari segala ciptaan Tuhan.

Meminta Tuhan menampakkan diri adalah kedunguan. Bagaimana tidak dungu? Matahari, gunung, laut, udara, api, angin, tanah, bahkan keberadaan dirinya tidakkah menjadikan bukti keberadaan Tuhan? kebodohan itu lahir karena keterbatasan ruang dan waktu yang bisa dijelajahi secara fisik oleh manusia. Maka Allah memerintahkan manusia berulang-ulang untuk berpikir, menjelajahi ruang dan waktu agar bisa membuktikan betapa tidak terbatasnya ruang dan waktu yang diciptakan Allah, dan betapa terbatasnya pengetahuan ruang dan waktu yang bisa dijelajahi manusia di alam semesta ini. Luas bumi yang dihuni manusia ternyata ukuran besarnya tidak menyerupai sebutir debupun, lalu sebesar apa ukuran manusia ini? Lalu makhuk super super kecil dan sangat sangat lemah ini, betapa sombongnya mau melihat Tuhan di dunia ini. Itulah kiranya mengapa pada akhirnya Nabi Musa bertobat dan memutuskan cukup beriman saja kepada Tuhan Yang Esa. Untuk itu kejahatan yang dahsyat bagi manusia jika mematerilkan Tuhan dengan mengatakan beranak dan beribu.

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: "Allah beranak". Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.” (Ash Shaaffaat, 37:152).

Sangat-sangat tidak berakal sehat jika ada orang mengaku bertemu dan melihat wajah Allah di dunia ini. Dapat dipastikan orang-orang itu pembawa berita hoak dan pembohong besar. Tidakkah engkau mengambil pelajaran dari ayat-ayat Al-Qur’an yang terang? Wallahu’alam 

Friday, July 30, 2021

MELAHIRKAN PEMIKIR SESUAI ZAMANNYA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sejak meninggalanya Nabi Muhammad SAW, peradaban Islam terus berkembang mencapai puncaknya pada abad ke 8-9 Masehi. Ulama, pemikir, dan ilmuwan kelas dunia lahir mewarnai khasanah berpikir. Ilmu dan sains berkembang pesat. Pada saat itu Barat sedang berada dalam abad kegelapan akibat terlalu kuatnya kekuasaan dan doktrin Gereja. Kebebasan berpikir dibatasi dengan ancaman penjara. Cara pemahaman agama yang terlalu dominan pada pemuka-pemuka agama telah melahirkan tuhan-tuhan selain Allah yang harus ditaati manusia. Agama tidak murni lagi diajarkan untuk menyucikan diri dari perbuatan dosa, melainkan untuk mempertahankan kekuasaan, kehormatan, kelembagaan, dan kekayaan. Ayat-ayat Tuhan bisa dipesan dan dikondisikan agar bisa terlihat masuk akal dan membenarkan ajaran yang sebenarnya bukan dari Tuhan.

Waktu berputar, peradaban Islam mulai memudar mengalami kemunduran akibat perebutan kekuasaan. Kasusnya sama seperti peradaban Barat berada di masa kegelapan. Perebutan kekuasaan telah membawa agama pada kotak-kotak  dukung mendukung kekuasaan. Saling hujat dan saling menjatuhkan didasari fatwa-fatwa agama semakin menambah kuat hasrat permusuhan. Bunuh membunuh antar pendukung menjadi perang suci antar agama yang terlihat tidak suci.

Hasrat bermusuhan itu diturunkan dari generasi ke generasi dengan doktrin-doktrin agama dari penafsir tunggal nenek moyang yang semakin perkasa. Tidak ada yang berani membantahnya karena penjaga-penjaganya sangat bengis dan akan menghukum bagi siapa saja yang berani menentangnya. Jumlah umat bertambah tetapi tidak bisa melahirkan pemikir-pemikir besar, semua harus takluk di hadapan panfasir tunggal warisan nenek moyang yang perkasa yang sudah dipertuhankan.

Memahami agama berbeda dengan memahami ilmu-ilmu alam. Dalam ilmu alam ketika mengemukakan pendapat harus didukung oleh teori-teori terdahulu. Teori-teori itu ada penemunya dan dianggap pemiliknya. Tanpa dukungan teori pendapat yang dikemukakan tidak memiliki kekuatan. Demikian juga teori yang dikembangkan tanpa dukungan teori-teori sebelumnya juga diragukan.

Ajaran agama Islam harus dipahami dari sumbernya, yaitu kitab suci Al-Qur’an dan hadis yang tidak bertentangan dengan kitab suci Al-Qur’an. Para penfasir, penerjemah, ahli pikir, guru, ustad, kiai, ulama (saintis) adalah para penemu makna, nilai, dan hukum dalam beragama, tetapi tidak menjadi  pemilik makna, nilai, hukum yang ditemukan. Perbedaan makna, nilai, dan hukum dalam beragama adalah kekayaan yang harus dimiiki bersama bukan untuk saling klaim mengadu kebenaran. Tapi sebagai khasanah pembuka jalan menuju kebenaran bagi siapa yang dapat menerimanya sesuai dengan kemampuan akalnya.

Umat beragama ibarat konsumen di pasar, mereka punya kebutuhan dan keinginan sesuai dengan kebutuhan dan kesenangannya masing masing. Di pasar ada kesepakatan bersama yang mengatur agar para penjual dan pembeli saling jujur. Penjual harus jujur menjelaskan barang yang dijualnya sesuai kondisi barang. Para pembeli harus jujur membeli barang dengan uang legal senilai dengan harga barang yang dibelinya. Para penjual dan pembeli tidak saling memaksa, tidak saling menghujat, transaksi dilakukan dengan kejujuran dan keikhlasan. Demikian juga antar penjual tidak saling hujat dan menjelek-jelekkan barang dagangannya, malah saling mempromosikan jika barang jualannya berbeda. Inilah khasanah kehidupan para pedagang yang diberkahi Allah.

Penganut agama Islam dengan jumlah satu miliar lebih harus diberi kebebasan untuk menemukan atau memilih mana kahasanah agama Islam yang diminatinya sesuai kemampuan. Dengan misi suci agama Islam menjamin kesejahteraan dan perdamaian dunia adalah kode kuat dari Al-Qur’an untuk umat manusia. Apa pun yang diciptakan hendaknya tidak keluar dari misi utama Al-Qur’an diturunkan. Setiap 100 tahun akan ada perbaikan terhadap kualitas umat manusia, dan hendaknya umat beragama (Islam) mulai membuka ruang berpikir dan menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar rujukan utama dalam melahirkan pemikir-pemikir kelas dunia. Tidak ada satu orang ahli berpikir pun dihadapan Allah swt, karena Allah swt tidak melihat keahlian berpikir seseorang tetapi melihat kesucian hati dan kebermanfaatannya dari hasil sekecil apapun hasil berpikir.

“karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (Abasa, 80, 2-4)    

Sikap curiga, iri, dengki, saling hujat, saling salahkan, dan menebar kebencian akan hilang jika ajaran agama benar-benar dihayati. Jika beragama masih memelihara sifat-sifat buruk dan tidak sadar mengatasnamakan agama, maka bisa jadi kita sesungguhnya tidak beragama. Hati kadang-kadang  tidak bisa membedakan mana kebaikan dan keburukan. Jika hati sudah benci maka tertutuplah semua kebaikan. Akal juga bisa membawa malapetaka karena bisa menghilangkan rasa. Saatnya hati dan akal bersinergi agar sama-sama bekerja menyelesaikan urusan dunia dan akhirat.

Tidakkah kita sadar bahwa setiap hari gunakan teknologi, mendapat kemudahan hidup dari karya-karya akal? Tidakkah kita melihat orang-orang kaya hasil dari akalnya, membiarkan orang-orang kelaparan karena tidak memiliki hati? Sebaliknya tidakkah kita melihat orang-orang yang memiliki hati mencurigai dan membenci orang-orang diluar kelompoknya? Allah menciptakan alam ini dengan sistem dan saling ketergantungan. Untuk itu hati dan akal tidak bisa dipisah-pisahkan. Jadi kegiatan berpikir bukan murni kegiatan akal tetapi sebuah kolaborasi akal dan hati. Pemikir-pemikir sejati, setiap pemikirannya akan menyucikan hati dan menjadi inspirasi bagi siapa saja yang membacanya. Pemikir sejati tidak pernah mengklaim pemilik kebenaran dari setiap hasil pemikirannya. Pemikir sejati merasa cukup Allah jadi saksi bahwa dirinya pernah berpikir dan mengajarkannya.

Abad informasi telah menuntut hati dan akal untuk bekerja lebih cerdas. Di abad informasi dibutuhkan lebih banyak pemikir yang mengkolaborasikan akal dengan hati, dan menjadikan kitab suci AL-Qur’an sebagai sumber pengetahuan (deduktif) bersanding dengan pengetahuan hasil pengamatan (induktif). Pengetahuan-pengetahuan dari kitab suci Al-Qur’an seyogyanya menjadi sebuah pedoman hidup yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari di mana saja bagi siapa saja. Lembaga-lembaga pendidikan harus melatih kemampuan berpikir, dan perguruan tinggi harus melahirkan pemikir-pemikir cerdas sesuai dengan zamannya. Wallahu’alam.

Tuesday, July 20, 2021

SETIAP KEPUTUSAN MILIK PRIBADI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Tidak ada satu orang manusia pun tidak berpikir. Ketika lingkungan memengaruhi, guru menasehati, pedagang merayu, setan membisiki, seseorang menghembuskan permusuhan, maka setiap orang akan mengambil keputusan berdasar keputusannya sendiri, baik dalam keterpaksaan maupun sukarela.

Madzab lahir karena dalam Islam memperbolehkan ijtijhad, sebagaimana Allah memerintahkan berpikir kepada setiap orang. Ijtihad perseorangan tidak berlaku untuk umum kecuali untuk dirinya sendiri. Namun karena beraneka ragam kemampuan, ada orang yang mengikuti pemikiran seseorang yang dianggap mampu memahami Al-Qur’an sampai timbul keterikatan dan timbullah madzab.

Islam mengakui bahwa hak untuk berijtihad dimiliki oleh semua pribadi yang dapat berpikir lurus dan mampu menyelidiki, baik pria maupun wanita, raja atau kaula, pegawai negeri yang terkemuka ataupun seorang warga-warga biasa. (Shaltout, 1961, hlm. 130). Dalam berijtihad, Islam tidak mengenal seorang pun yang kebal membuat kekeliruan, kecuali Nabi Muhammad SAW dalam soal wahyu. Para ulama yang besar atau kerabat Nabi SAW yang terdekat, akan mudah berbuat kekeliruan. (Shaltout, 1961, hlm. 131).

Penggunaan ijtihad perseorangan sangat luas setelah masa kedua khalifah yang pertama, lebih-lebih setelah adanya fitnah yang dahsyat yang timbul sesudah pembunuhan Usman r.a., khalifah yang ketiga. Dalam bentuknya yang ekstrim, ijtihad perseorangan telah mengubah umat Islam menjadi sekta-sekta yang saling bertentangan, dan masing-masing hanya mengikuti kecenderungan-kecenderungan perseorangan saja dalam menetapkan madzabnya dan dalam menyampaikan kata-kata Nabi Muhammad SAW. (Shaltout, 1961, hlm. 131).

Hendaklah dipahami benar bahwa Islam tidak mengesampingkan orang-orang tertentu untuk yang berhak menafsirkan Al-Qur’an atau sunnah, dan tidak pula kewajiban bagi orang-orang untuk berpegang pada pendapat perseorangan tententu mengenai masalah-masalah yang boleh ditafsirkan oleh perorangan. Islam tidak mengikat pengikut untuk menganut orang-orang teretentu, karena tidak ada kewajiban yang harus diakukan selain kewajiban yang telah diperintahkan oleh Allah swt dan Nabi SAW. Juga Allah dan Rasulnya tidak memerintahkan seseorang mengikuti madzab tertentu. (Shaltout, 1961, hlm. 131).

Kutipan-kutipan dari pendapat Mahmoud Shaltout di atas merupakan rangkaian pemikiran yang berdasar pada Al-Qur’an. Dasar dari ajaran agama Islam adalah beriman pada Allah, Nabi Muhammad SAW, malaikat, kitab suci AL-Qur’an, takdir, dan hari akhirat. Selain itu tidak ada kewajiban umat Islam untuk beriman. Allah tidak melihat manusia dari aksesoris kasat mata, Allah melihat kutamaan manusia dari ketaatannya dalam melakukan dan mengajarkan kebeneran-kebenaran-Nya.

“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujuraat, 49:13).

Maka dari itu, kelebihan Islam menurut Ust. Dondy Tan seorang yang baru kembali Islam, ketika manusia mau berhubungan, berkomunikasi dengan Allah “tanpa perantara”. Al-Qur’an adalah sarana umat manusia untuk berkomunikasi dengan Allah. Jika Al-Qur’an dibaca maka informasi yang diterima, dimaknai secara langsung oleh seseorang bahwa dia sedang berkomunikasi dengan Allah. Sekalipun seseorang bisa memahami Al-Qur’an dari hasil terjemah atau tafsir seseorang, tetap saja setiap orang akan menerima atau tidak menerima makna terjemah atau tafsir tersebut berdasar keputusannya pribadi. Untuk itu, di pengadilan akhirat setiap orang akan mempertangungjawabkan setiap keputusan yang pernah dilakukannya.

Etika dalam agama Islam dalam memahami dan menemukan kebenaran tidak diperkenankan mengklaim dirinya sebagai pemilik kebenaran, karena kebenaran mutlak milik Allah. Sifat manusia adalah tempatnya salah, maka siapapun manusia berpotensi salah. Siapa mengaku benar dia salah, dan barang siapa mengaku salah dia benar. Untuk itu ulama, ilmuwan, ustad, guru, siapapun jika dia seorang muslim maka sifat keredahan hati sudah pasti melekat pada dirinya.

“(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Lukman, 31:16)

Ayat ini ditafsir oleh Syaiful Karim sebagai keterangan yang menjadi sebab pemahaman adanya hukum tarik menarik (the law of attraction). Maka dari itu, bagi seorang muslim yang taat, tidak ada rumus menyalahkan orang lain, segala kejadian yang menimpa selalu diawali dengan kerendahan hati dengan mengakui kelemahan dan kealpaan yang ada pada diri sendiri.

Nabi Adam a.s dan Hawa mengajarkan sekalipun tergelincir karena tipu daya setan, namun dalam permohonan ampunnya kepada Allah, beliau tidak menyalahkan setan tetapi mengakui dirinya sendiri yang telah melakukan perbuatan salah.

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi". (Al A’raaf, 7:23).

Maka dari itu, menerima dan tidak menerima kebenaran dari penjelasan dalam artikel ini, kembali pada keputusan pribadi. Untuk itu Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk selalu memohon ampunan kepada Allah sebanyak banyaknya setiap hari. Wallahu’alam.

   

Sunday, July 18, 2021

AGAMA DI ERA AKAL SEHAT

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Amazing Allah swt. diskusi Dondy Tan, Ust Kainama, Host Ariesto dalam tayangan youtube Dondy Tan, https://www.youtube.com/watch?v=kE9LNV_A01M, tanggal  28 Juni 2021 tentang pembuktian kata Hira dalam Yesaya, 29:12, membuat saya berpikir. Argumentasi Ust. Dondy Tan dengan mengungkap arti kata Hira melalui penggunaan kata Hira oleh orang Yunani, dapat membuktikan bahwa kata Hira dalam Yesaya, 29:12 mengandung makna Hira merujuk ke Gua Hira. Ini adalah tanda-tanda bahwa kebenaran demi kebenaran akan terungkap dan Janji Allah adalah benar.

Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu. (Ar Ruum, 30:60).

Melihat gaya penjelasan agama oleh Ust. Dondy Tan dan Ust. Kainama, saya berpikir kita telah memasuki era baru dalam memahami agama. Tidak ada lagi tipu-tipu dengan ayat dalam beragama. Di era Industri 4.0, era society 5.0, informasi tentang kebenaran agama begitu telanjang. Orang-orang yang menjajakan keyakinan dan mengatasnamakan Tuhan, dapat di tracer, dianalisis, dan diverifikasi kebenarannya dengan menggunakan perbandingan kitab suci.

Al-Qur’an yang mengklaim dirinya sendiri sebagai kitab suci yang diturunkan dari Allah dan terpelihara, dengan dimulainya agama era akal sehat semakin mengukuhkan secara nyata bahwa Al-Qur’an memang diturunkan dari Allah Yang Suci dan terpelihara.

“sesungguhnya Al Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lohmahfuz), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam.” (Al Waqiah, 56:77-80)

Metode saling menguji kebenaran ayat-ayat dalam kitab suci melalui berbagai pendekatan, menjadi tanda telah dimulainya era akal sehat dalam memahami agama.  Di era akal sehat dakwah agama tidak lagi berjualan dongeng, gelak tawa, dan popularitas, tetapi agama akan banyak diajarkan dengan pendekatan-pendekatan yang masuk akal. Alat-alat bukti tentang kebenaran ajaran agama tersedia berjuta-juta informasi yang tersedia di internet.

Dimulainya era agama akal sehat seiring dengan terbukanya informasi dengan ditemukannya internet yang sering disebut dengan era informasi. Di era informasi pengetahuan bukan lagi milik orang-orang tertentu, tetapi sudah jadi milik semua orang. Sekolah, pesantren, kampus, bukan lagi mutlak sebagai tempat untuk menggali ilmu pengetahuan. Sekolah, pesantren, kampus, telah berubah menjadi Sekolah, pesantren, dan kampus universal. Dimanapun tempat adalah sekolah, dan seluruh makhluk adalah guru sebagaimana dikemukakan oleh Ridwal Kamil, merupakan pernyataan universal bahwa saat ini semua orang bisa belajar dan berpendidikan melalui internet.

Di era informasi semua orang bisa jadi guru, ustad, ulama, dan ilmuwan, tanpa harus berstatus siswa, mahasiswa, dan gelar pendidikan. Dengan berjuta-juta informasi yang tersedia di ineternet, semua orang bisa cerdas tanpa pendidikan formal. Kebenaran tidak lagi mutlak membutuhkan legitimasi kampus, atau gelar. Legitimasi kebenaran di era informasi adalah kemampuan berliterasi dan menggunakan akal sehat.

Era agama akal sehat adalah era pemahaman agama berdasarkan argumen-argumen dari kitab suci. Al-Qur’an dengan kebenaran-kebenaran yang nyata dan terus menerus terungkap semakin nyata,  akan membimbing seluruh umat manusia menuju kepada agama era akal sehat. Beragama dengan doktrin buta, manut pada satu guru, aliran, madzab, akan berakhir. Dengan akal sehat bersumber pada kitab suci, setiap orang akan mencari dan menemukan keyakinan dengan mengakses berbagai informasi yang tersedia di internet. Berjuta-juta Informasi dan pendapat yang berbeda-beda di internet akan semakin membuat orang semakin mandiri dan cerdas dalam menemukan dan memperkuat keyakinannya. Keyakinan beragama seseorang di era agama akal sehat, akan benar-benar bergantung pada kitab suci yang benar-benar datang otentik diturunkan dari Tuhan Semesta Alam.

Di era agama akal sehat, berbagai pendekatan kajian Al-Qur’an akan semakin beragam. Banyaknya pendekatan dalam kajian Al-Qur’an akan membuka peluang banyak orang menemukan kebenaran-kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an yang sesuai dengan kadar pengetahuannya. Untuk itu era akal sehat menjadi era kembalinya manusia kepada agama yang lurus, agama yang dibawa Nabi Ibrahim, dan agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW yaitu Islam. Fakta ini akan terbukti sebagaimana prediksi perkembangan keyakinan umat manusia didalam Al-Qur’an.

Berada dalam surga kenikmatan (Islam). Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. (Al Waqiah, 56: 12-14). “(Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian. (Al Waqiah, 56: 38-40).

Jika kita gabungkan secara berurut ayat-ayat dalam surat Al-Waqiah ini akan menggambarkan sebuah perkembangan zaman, seperti gelombang, “segolongan besar terdahulu—segolongan kecil kemudian, segolongan besar terdahulu, segolongan besar kemudian.” Dari informasi ini, kita bisa menafsir bahwa penganut agama yang lurus akan mengalami perkembangan pada awalnya besar, mengecil, kemudian membesar. Pada era informasi, era agama akal sehat sekarang ini, akan terjadi gelombang ketiga, yaitu golongan penganut agama yang lurus dalam jumlah besar.

 Inilah masa-masa ujung akhir zaman, ketika kita hubungkan dengan gelombang peradaban manusia dalam Al-Qur’an, sebuah peradaban dibinaskan---diteguhkan---binasakan. 

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (Al An ‘aam, 6:6).

Berdasarkan informasi di atas, penganut agama lurus (Islam) akan mengalami perkembangan pada awalnya kecil, besar, kecil, dan membesar. Setelah penganut agama yang lurus membesar manusia akan mengalami pembinasaan, dan dimulai era manusia baru. Bisa jadi generasi manusia kita sekarang akan mengalami pembinasaan dan telah Allah siapkan generasi yang lain. Semoga umat manusia saat ini bisa menjadi bagian dari segolongan besar manusia kemudian, manusia yang beragama akal sehat dan binasa kembali kepada Allah swt, di dalam jalan kebenaran. Walahu’alam.

Saturday, July 17, 2021

SETIAP MANUSIA TERLAHIR MUSLIM

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ide tulisan ini datang dari Pak Dondy dari tayangan youtube “Ngaji Cerdas” 10 Juli 2021. Pak Dondy adalah seorang Kristen kemudian mencari kebenaran diawali dari ceramah-ceramah Ahmed Deedat, Zakir Naik, Yusuf Ethes, kemudian melakukan self research terhadap kitab-kitab suci yang diimaninya. Akhirnya beliau menemukan kitab suci otentik dari Nya yang tidak kontradiktif dan make sense.

Setelah saya belajar Al-Qur’an sekemampuan, melalui terjemah, dengan bantuan terjemah per kata, tafsir, dan melakukan perbandingan dari pendapat-pendapat ahli tafsir berbagai latar belakang, sedikit-sedikit pola-pola berpikir Al-Qur’an dapat dipahami. Untuk itu ketika menonton kisah bagaimana proses Pak Dondy menemukan Islam, kesimpulan-kesimpulan dan argument-argumen logika pak Dondy sangat mudah dipahami.

Pertama, menurut kesimpulan Pak Dondy, setiap orang itu sejak lahir sudah Islam, maka ketika Pak Dondy menjadi mualaf beliau tidak merasa convert ke agama Islam, tetapi kembali ke Islam. Argumentasi Pak Dondy bisa kita temukan dalam Al-Qur’an.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (Ar Ruum, 30:30).

Allah telah menciptakan manusia menurut fitrah Allah, artinya setiap orang diciptakan sebagai seseorang yang telah mengenal Allah atau bisa mengenali siapa Tuhannya sejak dilahirkan. Fitrah itu adalah agama yang lurus, agama yang berserah diri (Islam) kepada Allah.

Untuk memberi penjelasan lebih lanjut,  bisa kita tinjau dari sudut pandang psikologi bagaimana struktur manusia terbangun. Ada konsep id, ego, super ego, ruh, nafs, jiwa, dan lain-lain. Ada juga kecerdasan dasar bawaan manusia antara lain intelektual, emosional dan spiritual. Seluruh unsur yang membentuk fitrah manusia akan berkembang dan tumbuh sesuai dengan lingkungan yang memengaruhinya. Namun demikian ada fungsi akal manusia yang bisa membedakan mana agama yang lurus dan bengkok. Mana Tuhan palsu dan mana Tuhan Yang Esa.

Saya terlahir muslim karena lahir dari ayah ibu sebagai muslim. Jadi kemusliman saya karena ibu dan bapak saya selama saya lahir telah membentuk kultur seorang muslim. Jadi kemusliman saya tidak pernah bersyahadat disaksikan orang seperti orang-orang yang sudah dewasa masuk agama Islam karena hidayah melalui pencarian, inspirasi, perkawinan, dan berbagai macam kondisi lainnya.

Supaya manusia bisa menemukan siapa Tuhannya dalam kondisi lingkungan apapun, maka Allah menurunkan kitab suci, dan kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah Al-Qur’an mengawalinya dengan membaca. Membaca adalah sebuah alat bagi manusia untuk melakukan proses pencarian atau menemukan agama menurut fitrah Allah. Apapun kondisinya, lingkungan, budaya, agama, semua diperintahkan untuk membaca menemukan Islam sebagai agama fitrah Allah.

Atas dasar itu, Pak Dondy tidak mengakui pindah convert agama tetapi kembali kepada agama awal sesuai dari fitrah Allah. Pernyataan ini tentunya bisa dipertanggungjawabkan dengan argument pengetahuan dari Al-Qur’an.

Selanjutnya argumen lain tentang sangkaan orang-orang Islam menyembah Kabah. Argument pertama bahwa orang Islam tidak menyembah Kabah adalah terkait tentang pemindahan kiblat dari Baitulmakdis ke Kabah.

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al Baqarah, 2:44).

Jadi jelas, apa yang dilakukan orang Islam selalu berargumen kitab suci. Perpindahan kiblat dari Baitulmakdis ke Mekah jelas sekali bahwa perpindahan kiblat ini bukan atas dasar penyembahan pada Kabah tetapi sebagai bentuk ketaatan orang Islam kepada perintah Allah.

Selanjutnya argumen Pak Dondy untuk membuktikan orang Islam tidak menyembah Kabah adalah ketika orang Islam berada di atas kapal laut, pesawat terbang, kereta api atau kendaraan, orang Islam diberi kebebasan shalat menghadap ke mana saja. Dalam kendaaran apapun, pada saat tiba waktu shalat orang Islam bisa shalat pada posisi kemana saja saat dikendaraan menghadap. Ini menjadi bukti nyata bahwa orang Islam tidak menyembah Kabah tetapi mengikuti petunjuk Allah.

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah, 2:115).

Jelasah bahwa orang-orang Islam tidak sedang menyembah selain Allah, karena segala sesuatunya dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai tindakan taat kepada Allah yang bersumber pada kitab suci Al-Qur’an.

Demikian kiranya penjelasan cerdas dari Pak Dondy salah seorang yang telah kembali kepada Islam melalui proses pencarian dengan membaca. Allah Maha Luas Pengetahuannya, semoga kita diberi kemampuan untuk terus membaca agar tetap berada di jalan yang lurus. Wallahu’alam.

Thursday, July 15, 2021

CARA AKTIFKAN PENGLIHATAN BATIN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka Barang siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu)”. (Al An’aam, 6:104). Berdasarkan pada ayat ini, Syaiful Karim pada youtube efisode ke 032, 12 Oktober 2020 menjelaskan bahwa ada dua kemampuan melihat yang dimiliki oleh manusia, yaitu kemampuan melihat secara fisik dan kemampuan melihat secara batin.

Kemampuan melihat dengan batin yang dimaksud adalah kemampuan melihat hakikat-hakikat kejadian sesuai dengan kehendak Allah, dengan ukuran bahwa seluruh kejadian di muka bumi bagi orang yang sudah mampu melihat dengan mata batin, semuanya tidak akan berpengaruh buruk dan akan tetap menjadi keberuntungan.

Selanjutnya, Syaiful Karim menjelaskan makna “bumi” dalam surat lainnya, “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-An’aam, 6:165).

Ibn’ Arabi mengatakan, “bumi adalah manusia berbadan besar”. Maka sebaliknya manusia adalah bumi kecil. Analogi ini dapat kita pahami dari penjelasan-penjelasan Al-Qur’an bahwa sistem penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia memiliki kesamaan. Jika bumi adalah Al-Qur’an, maka manusia sendiri adalah Al-Qur’an. Untuk itu, para filsuf membagi alam menjadi dua yaitu alam makro dan mikro. Manusia adalah alam mikro.

Maka ketika Allah mengatakan, “Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi”. Bumi di sini bisa bermakna makro dan mikro. Maka makna bumi mikro menjadi tafsir bahwa setiap manusia dijadikan penguasa-penguasa dirinya sendiri. Tafsir ini digunakan oleh Syaiful Karim untuk menjadikan diri kita menjadi pengatur diri kita sendiri. Manusia-manusia yang menjadi penguasa bagi dirinya sendiri adalah manusia yang bisa mengendalikan seluruh kehendaknya berada di atas kehendak Allah. Iniah kekuasaan sesungguhnya yang harus dimiliki oleh setiap individu. Manusia-manusia yang bisa mengendalikan dirinya di atas kehendak Allah, adalah mereka yang bisa melihat semua kejadian dengan mata batinnya.

Lalu bagaimana cara agar kita bisa melihat dengan mata batin? Objek penglihatan fisik adalah benda atau kejadian, kemudian dipersespi akal berdasarkan pengetahuan yang berhasil diingat oleh memori. Stok pengetahuan yang diingat memori adalah kunci objek yang dilihat bisa diberi makna. Kebanyakan orang memberi makna sebuah objek dengan pengetahuan yang di dapat dari alam atau pengalaman. Ilmu dan sains mempersepsi objek dengan pengetahuan alam dan pengalaman (percobaan atau penelitian). Maka dari itu, ilmu atau sains melatih penglihatan fisik karena objek yang diteliti berdasar pengetahuan dari hasil penelitian atau pengalaman.

Objek penglihatan batin pada dasarnya sama yaitu benda dan kejadian. Pemberian makna terhadap sebuah objek oleh penglihatan batin akan berbeda dengan penglihatan fisik. Penyebab perbedaan tersebut terletak pada pengetahuan yang ada dalam memori. Penglihatan batin bisa diaktifkan dengan memberikan makna pada objek yang dilihat berdasar pada pengetahuan non materi yang sudah tersimpan dalam memori. Sumber pengetahuan non materi adalah kitab suci Al-Qur’an yang terpeihara dari campur tangan manusia. Pengetahuan-pengetahuan yang bersumber dari non materi menjelaskan sebab akibat kejadian kasar (material) sampai kejadian halus (non material).

(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Lukman, 31:16).

Pengihatan batin adalah pemahaman akal yang dapat mengetahui sebab akibat kejadian non material berdasar petunjuk pengetahuan yang bersumber dari non material yaitu kitab suci Al-Qur’an. Jadi kunci untuk mengasah penglihatan mata batin adalah dengan memahami sebab akibat (logika) kejadian yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Kebenaran-kebenaran penglihatan batin dapat dibuktikan dengan kesadaran tinggi (akal sehat) terhadap adanya ketentuan Allah melalui pengalaman (lahir) dan melibatkan perasaan (batin).

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (Lukman, 31:20)

Untuk itu sangat penting untuk mempelajari dan memahami logika-logika Tuhan dalam Al-Qur’an sebagai modal kita untuk mengaktifkan mata batin dalam melihat segala kejadian. Dengan memohon pertolongan Allah dan keberanian, siapapun akan dibimbing Allah untuk memahami setiap kejadian dengan penglihatan batin sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing yang diberikan Allah. Demikian sedikit informasi untuk membuka diskusi tak berujung dalam memahami segala kejadian dengan pengihatan mata batin.  Wallahu’alam. 

Tuesday, July 13, 2021

MANUSIA BERMORAL TINGGI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Al-Fatihah, 01:01). Ini terjemah versi standar dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Apakah salah? Tidak, namun bukan satu-satunya terjemahan dari surat Al-Fatihah ayat pertama ini. Bahasa Arab sangat kaya kosa kotanya.  Buya Syakur sebagai seorang kiai dan berbasis ilmu filolog, memberi terjemahan lain. Bismilah dapat juga berarti “atas nama Allah”. Manusia yang seluruh langkahnya mengatasnamakan Allah dia manusia bermoral tinggi.

Terkait perbedaan makna terjemahan menyebut nama Allah dengan atas nama Allah, Buya Syakur menganalogikan ketika kita di suruh pidato mengatasnamakan yang disuruh, maka kita adalah bagian dari yang diatasnamakan, dan dipercaya oleh permberi atas nama. Ketika Sukarno dan Hatta membacakan proklamasi mengatas namakan bangsa Indonesia, maka proklamasi punya pengaruh kuat ke seluruh Nusantara. Dunia tidak melihat sosok Sukarno dan Hatta tetapi mereka seolah-olah melihat bangsa Indonesia. Ketika orang datang bertamu menyebut-nyebut presiden, tamu itu akan dianggap biasa-biasa saja. Namun ketika tamu datang bertamu mengatasnamakan presiden, maka orang itu bukan orang biasa-biasa.

Menyebut Allah sama dengan mengingat Allah, artinya ketika kita mau melakukan sesuatu maka niat dan harapan kita harus karena Allah. Namun menurut Buya Syakur bahasa terjemah “menyebut nama Allah” sebagai terjemahan dari bismillah dalam implementasinya kurang meresap pada jiwa. Berbeda ketika kita mengatakan “atas nama Allah”, rasa dan pemahaman akan terasa mendalam karena seolah-olah kita mewakili Allah. Ini artinya ikatan dengan Allah akan terbangun lebih dekat, dan keinginan untuk menjaga moralitas ajaran agama di masyarakat lebih tinggi.

“atas nama Allah”, adalah pembuka jiwa agar merasa bahwa setiap apa yang kita lakukan ada di atas kehendak Allah. Supaya mudah memahaminya, mengatasnamakan Allah berarti kita menjadi bagian dari kehendak Allah tapi bukan Allah. Sukarno dan Hatta mengatasnamakan bangsa Indonesia, tapi mereka bukan refresentasi wujud seluruh bangsa Indonesia itu sendiri. Bayang-bayang kita di pagi hari ketika tubuh kita tersinar matahari adalah kita, tapi bayang-bayang bukan tubuh kita. Allah adalah pemilik bayang-bayang, dan bayang-bayang bergerak persis seperti pemilik bayang-bayang, namun bayang-bayang pemilik bayang-bayang itu sendiri. Manusia itu ketika berkata, “atas nama Allah”, maka hidupnya akan seperti bayang-bayang, pemilik bayang-bayang duduk dia ikut duduk, pemilik bayang-bayang berdiri dia ikut berdiri, dan pemilik bayang-bayang hidup dia hidup.

Mengucap, “atas nama Allah” (bismillah) dalam setiap tindakan adalah upaya manusia agar hidupnya selalu merasa dekat, diberkahi, dan berada di atas kehendak Allah. Inilah upaya manusia agar hidupnya selalu berada di jalan lurus yaitu berada di atas kehendak Allah.

“bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (At Takwir, 81:28-29).

Bismillah adalah upaya membangun kesadaran bahwa Allah selalu hadir dalam setiap gerak langkah kita. Sebagai manusia hina kita berharap seluruh langkah hidup kita berada di jalan yang lurus yaitu jalan ketaatan yang dikehendaki Allah.

Bismillah adalah implementasi dari permohonan petunjuk kepada Allah yang selalu diulang-ulang umat Islam dalam bacaan shalat setiap hari yaitu, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Afatihah, 1:6-7).  Permohonan yang diulang-ulang dalam surat Alfatihah dan pengucapan bismillah yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW dalam setiap awal  perbuatan merupakan usaha agar setiap langkah kita selalu berada di atas niat baik, jika salah diberi tahu kesalahannya, diampuni, dan diperbaiki oleh Allah. Jika benar diberi pengetahuan serta kemampuan oleh Allah untuk isitiqomah di jalan itu dan menjadi contoh teladan sebagai pribadi berakhlak mulia bagi umat manusia.

Inilah cara-cara hidup yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai ajaran inti keimananan untuk muslim dan pelajaran bagi seluruh umat manusia yang telah Allah beri kemampuan memahaminya. Kalimat Bismillah yang sederhana ini menjadi pembuka kemurahan dan keberkahan hidup yang datang dikabarkan kepada Nabi Muhammad SAW dari Allah Tuhan Semesta Alam untuk memberkahi kehidupan seluruh alam. Bismillah adalah doa agar setiap langkah kita selalu berada di atas kehendak Allah. inilah manusia-manusia yang akan menjadi manusia bermoral tinggi atas kehendak Allah. Wallahu’alam.

Tuesday, July 6, 2021

SURAT YASIN OBAT JANTUNG

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Semua benda memiliki jantung dan jantungnya Al-Qur’an adalah Yasin”. (HR. Tirmidzi). Menurut ahli, hadis ini dhaif namun kaum muslimin yang yang terbiasa membaca surat Yasin, jangan melewatkan membaca surat-surat lainnya. Pada prinsipnya membaca Al-Qur’an surat apa saja tidak ada larangan.

Sekalipun hadis ini dhaif tapi menarik pula untuk kita pikirkan mengapa ada gagasan bahwa surat Yasin ini diumpamakan sebagai Jantung. Jantung berfungsi sebagai pengatur irama kehidupan. Tenang dan tegangnya seseorang dapat dideteksi dari detak jantung. Orang-orang terbaik adalah yang detak jantungnya tenang baik di dalam kondisi ektsrem maupun normal. Sebagaimana kuda-kuda terbaik Nabi Sulaeman memiliki detak jantung tenang, sekalipun telah berlari kencang.

“(ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore.” (Shaad, 38;31).

Jantung memiliki kenyamanan ketika situasi hati dan pikiran terkondisikan tidak menjadi ancaman atau kekhawatiran. Dalam ilmu psikologi, kemampuan mengondisikan hati atau pikiran berkaitan dengan coping, yaitu suatu usaha mengatasi stress atau ketidaknyamanan. Untuk bisa mengatasi ketidaknyamanan diperlukan kemampuan mengolah pengetahuan yang dipersepsi negatif menjadi positif. Untuk itu dibutuhkan panduan berpikir yang sumber pengetahuannya didasari keimanan dan keyakinan kepada Tuhan. Keimanan kepada Allah akan membantu coping. Keimanan adalah pemutlakkan terhadap pengetahuan yang datang dari Allah. “Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.” (Yasin, 36:10).  Untuk itu membaca pengetahuan dari Al-Qur’an harus dengan pemutlakkan (keimanan) bahwa pengetahuan tersebut bersumber dari Allah. Pengetahuan dalam Al-Qur’an adalah bantuan Allah kepada manusia untuk membaca segala kejadian berdasarkan persepsi atau petunjuk dari Allah.

“Bacalah atas nama Tuhanmu Yang menciptakan, (Al ‘Alaq, 96:1). Berdasarkan keimanan, kegiatan membaca adalah pekerjaan mutlak yang akan mendatangkan kebaikan bagi manusia dan itu petunjuk Allah.

Surat Yasin ayat-ayatnya mengandung pengetahuan yang dapat membantu coping terhadap kejadian kejadian yang tidak kita diinginkan. Coping dengan bantuan keterangan ayat-ayat dalam surat Yasin, membantu pikiran dan hati menjadi tenang. Inilah di antara ayat-ayat dalam surat Yasin yang bisa membantu mengkondisikan hati dan pikiran menjadi penenang jantung bila menghadapi kejadian yang tidak menyenangkan.

Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka coping pertama adalah, “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri.” (Yasin, 36:19). Mempersepsi kemalangan bersumber dari luar adalah akar yang akan membuat masalah menjadi lebih besar dan tidak terselesaikan. Manusia tidak bisa mengubah keadaan di luar dirinya. Atas kehendak Allah, manusia hanya bisa mengubah dirinya sendiri karena manusia itu sendirilah yang berkuasa atas dirinya. Apa yang terjadi di luar dirinya dapat berubah dengan mengubah dirinya sendiri. “…sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, (Al-Anfaal, 8:53). Jadi obat jantung dari surat Yasin adalah apabila mendapat kemalangan jangan menyalahkan orang lain, percayalah pada pengetahuan dari Allah bahwa semua itu datang dari diri sendiri. Jika anda sudah mengetahuinya maka solusinya sudah ditemukan yaitu memperbaiki diri.

Coping kedua, jika kemalangan menimpa mutlakkan (imani) dalam hati dan pikiran bahwa setelah kematian ada kehidupan lagi. Prilaku baik dan buruk di dunia akan jadi akibat di kehidupan setelah kematian. Setelah kematian, prilaku buruk di dunia akan jadi kemalangan dan prilaku baik akan jadi kebahagiaan. “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lohmahfuz).” (Yaasin, 36:12). Jadi kemalangan dan kebahagiaan yang terjadi di dunia, bisa jadi buruk bisa jadi baik sangat tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jika kemalangan diterima dengan prilaku baik akan jadi kebahagiaan. Sebaliknya jika kebahagiaan kita terima dengan perilaku buruk akan jadi kemalangan. Kunci coping dalam hidup ini adalah apapun kejadiannya jaga hati, pikiran, sikap, prilaku agar tetap baik. Mutlakkan dalam hatia dan pikiran bahwa setiap prilaku baik yang kita lakukan akan melahirkan kebaikan. “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (Ar Rahmaan, 55:60). Hal buruk atau baik yang telah terjadi tidak perlu dikhawatirkan berdampak buruk pada diri kita selama kita selalu menjaga sikap selalu baik, yaitu tidak menyalahkan orang lain.

Coping ketiga, jika kemalangan menimpa mintalah nasihat kepada orang-orang yang tidak meminta upah dari nasihat. Jangan minta nasihat kepada orang-orang yang ketika memberi nasihat harus memberi sesuatu kepada mereka. Orang-orang yang telah diberi petunjuk Allah tidak meminta sesuatu apapun dari nasihat (bantuan) yang telah diberikan kepada orang lain. “ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Yasin, 36:21).  Orang-orang yang tidak meminta upah dari nasihat atau bantuan yang diberikan, tidak akan menambah masalah baru, sehingga hati dan pikiran kita terasa tenang karena tidak akan terbebani dengan masalah baru, dengan berharap sesuatu pada orang pemberi nasihat. Berharap pada selain Allah akan berakibat masalah semakin besar karena menduakan Allah.

Coping ke empat, lakukan pengakuan dosa kepada Allah. Dalam kondisi apapun manusia adalah makhluk pelupa dan tidak luput dari masalah serta kesalahan. Pengakuan ini sebagai bentuk pengakuan diri bahwa manusia tidak punya daya dan upaya untuk menyelesaikan masalah kecuali dengan pertolongan Allah. Lakukan dengan penuh kesadaran dengan hati dan pikiran berserah diri (ikhlas). “Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. “Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.” (Yasin, 36:24-25).

Coping ke lima, "Nafkahkanlah sebahagian dari rezeki yang diberikan Allah kepadamu", (Yaasin, 36:47). Sebagaimana Hadis Rasulullah, sedekah yang kita keluarkan akan menolak bala dan membantu kita keluar dari kesulitan. Melalui jalan sedekah Allah melipat gandakan kebaikan melampau keburukan yang pernah kita lakukan. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah, 2:261). Balasan sedekah berlipat ganda dari Allah akan menutupi keburukan prilaku kita, hingga kebaikan kita menjadi surplus dan balasan yang akan kit anikmati dari Allah adalah kebaikan.

Coping keenam, “dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus”. (Yaasin, 36:61). Jaga selalu ketauhidan dengan menjadikan Allah satu-satunya penolong. Tidak ada kekuasaan selain Allah. Semua terjadi atas kehendak Allah. Jangan terlintas sedikitpun dalam hati dan pikiran ada keimanan kepada selain Allah. “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan”. (Yaasin, 36, 82-83). Fokuskan hati dan pikiran selalu berharap dan bergantung kepada Allah saja, ketergantungan pada selain Allah membuat jantung rapuh karena selain Allah tidak memiliki daya dan upaya. Untuk memfokuskan, "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat." (Al-Baqarah, 2:215)

Demikian bimbingan coping dari surat Yaasin, agar jantung-jantung manusia bisa tetap tenang, tegar, sabar, dan tawakal kepada Allah. Bacalah surat Yaasin dan ingatlah bimbingan coping dari Allah agar segala kejadian yang menimpa dirasa ringan dan menentramkan hati dan pikiran, sehingga jantung kita tetap berdetak dengan tenang tanpa ada rasa khawatir dan kecewa. Jantung akan selalu optimis karena berharap pada Allah. Insya Allah semoga kelak kita selalu menjadi orang-orang yang sibuk menerima kebahagiaan dari Allah di dunia maupun akhirat. Wallahu’alam.

Friday, July 2, 2021

LOUIS FREDERICK THE GREAT MAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Terakhir saya berkomunikasi dengan Pak Louis 29 Mei 2021, saya undang beliau untuk memberikan motivasi kepada anak-anak untuk menjadi entrepreneur di acara wisuda virtual SMAN 2 Padalarang yang akan dilaksanakan tanggal 3 Juni 2021. Beliau mengatakan, “tanggal 3 saya masih di Sumbawa, lagi turing pakai motor, berangkat kemarin tanggal 27 Mei sampai 8 Juni 2021”.  Saya jawab, waduh jalan-jalan terus. Baiklah saya agendakan khusus kegiatan lain. Semoga Selamat.

Tanggal 28 Juni 2021, saya dapat informasi dari kawan SMP, “Bismmillah…Innalillahiwainnailaihi rojiun, telah meninggal dunia Bp. Louis Frederick, suami tercinta dari Bunda Euis, semoga Beliau khusnul khotimah. Mohon dimaafkan segala kesalahan beliau semasa hidupnya, dan keluarga yang ditinggalkan sabar dan tawakkal menjalani takdir Allah”. Assalamulaikum bro, bilih teu acan dapat info.  Itulah pesan yang saya terima. Saya cek nama dengan mengeja nama Pak Louis, dan ingat-ingat nama istri Pak Louis. Setelah beberapa menit saya baru menerima Pak Louis telah meninggal. Saya sampaikan informasi ke kawan-kawan Yayasan SBI di Cianjur. Saya minta kepada kawan-kawan dan kepala SMK SBI untuk mengadakan shalat ghaib untuk Pak Louis.

Jujur, saya sangat kehilangan sosok Pak Louis. Sejak saya kenal Pak Louis, saya lebih mengenal karakter beliau sebagai seorang entrepreneur tulen. Karakter yang saya lihat dari beliau adalah bersahabat, tidak pernah marah, sabar dan penyantun. Karakter uniknya sebagai seorang entrepreneur adalah tidak banyak debat hingga cepat dalam mengambil keputusan dan sangat berani mengambil resiko dan tidak takut gagal. Keberaniannya dalam mengambil resiko dan tidak takut gagal menurut saya didasari bukan pola pikir manusia biasa. Pola pikir Pak Louis adalah pola pikir The Great Man.

Pola pikir The Great Man dapat saya pahami dari cerita beliau ketika berdiskusi tentang rencana Beliau membangun kampus. Beliau berkata, “karena kampus yang dibangun butuh biaya besar, maka saya harus sedekah dalam jumlah besar". Beliau merencanakan akan membangun masjid dengan biaya satu miliar. Pola pikir ini tidak akan terjangkau oleh orang-orang yang berpikir matematika material.

Bagi saya yang sudah kurang lebih 15 tahun sedikit-sedikit mempelajari pola pikir dari Al-Qur’an, pola pikir Pak Louis seperti pola pikir Nabi Nabi Muhammad SAW, dan para sahabat, para pemimpin besar dunia, dan para pemimpin besar di republik ini. Pola pikir Pak Louis ini ada dalam penjelasan ayat Al-Qur’an.

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”  (Al Baqarah, 2: 261).

Bagi saya apa yang dikemukakan oleh Pak Louis bersumber dari rumus dalam Al-Baqarah ayat 261, yaitu 1-1 = 700. Rumus ini tidak akan dimengerti oleh orang-orang yang belajar matematika alam. Rumus ini dianggap klenik, mengada-ngada, dan takhayul. Allah berfirman, “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.”. (At Takwir, 81:22). Rumus 1-1=700 bukan ilmu nuzum, pesugihan atau hitung-hitungan orang mabuk. Rumus hidup sukses dari Al-Baqarah ayat 261 yang dibicarakan Pak Louis bukan untuk diperdebatkan, tapi untuk diujicobakan seperti apa yang dilakukan Pak Louis.

Apa yang dilakukan Pak Louis seperti apa yang diakukan Nabi Ibrhami dalam pejelasan Al-Baqarah ayat 260. “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?". Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)". Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”.

Itulah persepsi saya tentang Pak Louis dari apa yang saya lihat dan dengar. Dan beliau memang melakukannya sesuai dengan apa yang diomongkan, antara ucapan dan perbuatannya seirama, (walk the talk), dalam bahasa Al-Qur’an, “mengerjakan apa-apa yang dia kerjakan”. Semoga menjadi sosok yang dicintai Allah.

Bagi saya yang sudah mengalami dua kali kehilangan orang-orang terbaik dalam hidup, mereka orang-orang yang gugur dijalan Islam sesungguhnya tidak meninggal. “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Al Baqarah, 2:154).

Ujung dari kehidupan ini bukan kematian tapi kehidupan. Inilah pemahaman yang benar jika kita beriman kepada Al-Qur’an. Jasadlah yang terlihat mati, tetapi ruh tetap hidup. Jasad itu fana. Ruh berpindah ke dimensi kehidupan yang abadi kembali ke Allah Yang Abadi. Manusia diciptakan dari ruh Allah yang hidup. "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud". (Al Hijr, 15:29). Ruh yang hidup adalah milik Allah dan akan kembali pulang ke Allah. Sesungguhnya cita-cita hidup kita di dunia adalah supaya bisa hidup kembali bersama Allah.

Saya bersaksi, sepengetahuan saya, Pak Louis telah hidup di jalan Allah, dan Beliau gugur dijalan Islam, dan akan hidup abadi di sisi Allah. "Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan." (Yasin, 36:83).   

Kita doakan semoga Beliau hidup sejahtera di sisi Allah, dan kita kelak akan menyusulnya, semoga kita meninggal dalam keadaan muslim dan berkumpul bersama keluarga bersama orang-orang sholeh di akhirat kelak. Walahu’alam.

Friday, June 25, 2021

BUKTI ALLAH TIDAK TIDUR

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus; tidak mengantuk dan tidak tidur.” (Al Baqarah, 2:255). “Allah, tidak ada Tuhan  melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya”. (Ali Imran, 3:2).

Berangkat dari informasi Al-Qur’an di atas, kita buktikan bahwa Allah mengurus manusia secara terus menerus baik dikala kita tidur maupun bangun, untuk orang tidak percaya Tuhan maupun percaya. Mau kemana manusia? Seluruh semesta alam berdzikir taat kepada Allah, seluruh semesta alam berkehendak atas nama Allah. Tidak ada satu kedip pun manusia bisa lepas dari ikatan Allah.

Benarkah Allah terus menerus mengurus? Makanan yang kita makan, dipilah menjadi berbagai nutrisi kemudian diedarkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Pada saat tidur, dalam tubuh ada petugas memperbaiki sel-sel yang rusak. Jantung, sekalipun kita dalam keadaan tidur, tetap bekerja memompa darah agar mengalir keseluruh bagian tubuh sesuai kebutuhan. Jika seluruh kerja organ tubuh bisa bekerja karena energi listrik, lalu sebelah mana sumber listrik itu ada dalam tubuh kita? Sirkuit robot begitu rumit didesain agar bisa merespon gerakan dan suara, tidak bisa mengimbangi gerakan reponsip seperti manusia ketika kulitnya terbakar.

Sel-sel ukuran mikro dalam tubuh manusia semua berfungsi megikuti kehendak Allah. Allah menciptakan makhluk-makluk super kecil dengan tugas mengikuti kehendak Allah sehingga gerakan-gerakan manusia sangat lentur. Untuk memproses makanan yang masuk dari mulut sampai keluar dari anus, banyak makhluk-makhluk superkecil terlibat untuk mengolah dan mengeluarkannya kembali. Aktivitas makhluk-makhuk kecil itu tanpa henti mengikuti kehendak Allah untuk mengurus manusia.

“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. (At Takwir, 81:29).    

Kesombongan manusia jika mengaku telah menyebuhkan orang-orang sakit. Kesombongan manusia jika mengaku telah mensejahterakan masyarakat. Kesombongan manusia jika mengaku telah membuat murid-muridnya sukses. Kesombongan manusia jika mengaku telah menciptakan teknologi. Kesombongan manusia jika mengaku telah membantu orang-orang miskin. Tidak sebutir debu pun manusia bisa berpikir, mengembangkan ilmu, menciptakan teknologi dengan kemampuannya sendiri.

Di saat manusia tidur, jantung tetap berdetak, paru-paru tetap bernafas, pikiran tetap bekerja, matahari terus beredar, bumi terus berputar, setelah malam kembali datang siang. Matahari tidak pernah berhenti hanya sekedar untuk isi bahan bakar, bumi tidak pernah istirahat untuk melepas lelah. Semua berfungsi atas kehendak Allah, maka Allah tidak tidur mengurus dan melayani manusia sepanjang masa. Kita lahir dengan fasilitas yang sudah tersedia. Terlalu banyak fasilitas gratis yang Allah berikan pada manusia.

Apapun yang manusia usahakan dan kerjakan semua berada di atas kehendak Allah. Setiap usaha dan kerja manusia berdasarkan fasilitas yang telah Allah sediakan. Manusia hanya menggunakan segala sesuatu yang telah Allah sediakan. Jika manusia bisa mengubah keadaan, maka semua yang diusahakan manusia bisa dilakukan, namun Allah menetapkan kegagalan dan kesuksesan. Allah memerintahkan kepada manusia untuk mengubah keadaan, namun hasilnya sudah Allah tetapkan yaitu kegagalan dan kesuksesan. Allah menghendaki kepada siapa gagal dan sukses. Manusia hanya bisa berharap kepada Allah, semoga sukses selalu datang di masa mendatang. Harapan manusia tidak pernah putus karena Allah tidak pernah tidur, terus mendengar permohonan, terus mengurus makhluk,  dan berjanji mengabulkan semua harapan dengan catatan tetap bersabar.  Bagi orang-orang sabar Allah janjikan keberutungan besar tanpa batas.

Bagi orang-orang yang mengetahui dan sadar bahwa Allah tidak pernah tidur mengurus manusia, tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak ingat, taat, dan bersyukur pada Allah setiap saat. Begitu besar jasa Allah kepada manusia karena terus menerus mengurus manusia dan tidak pernah tidur. Untuk itu kemanapun manusia pergi, Allah selalu dekat mengurus segala kebutuhan semua manusia. “maka kemanakah kamu akan pergi?” (At Takwir, 81:26).  Allah selalu mengurus kita semua. Wallahu’alam.  

BERTAUHID PADA MANUSIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Perbedaan agama Islam dengan agama-agama lain adalah hanya di monotheis. Ilmu tauhid adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia agar tidak terjebak pada ketaatan, ketundukan, kepada selain Allah. Segala tindak tanduknya harus selalu mengatasnamakan Tuhan Yang Esa. Ketauhidan seseorang dinyatakan batal jika niat hati dan pikirannya bermotif tidak kepada Tuhan Yang Esa.

Jika seseorang bertindak atas dasar instruksi dukun maka ketauhidannya kepada dukun. Jika seseorang bertindak atas nama gurunya, maka ketauhidannya kepada guru. Jika seseorang bertindak atas nama teori yang ditemukan seseorang, maka ketauhidannya kepada orang si penemu teori. Berkiblat pada satu guru mursid dan menaatinya dalam segala hal, maka ketauhidannya kepada guru mursid. Menetapkan diri sebagai pengikut aliran menjadikan alirannya sebagai satu-satunya yang dijadikan patokan maka dia bertauhid pada aliran. Lalu memutuskan untuk tidak mengikuti pendapat guru, golongan, dan aliran manapun karena kemampuan yang dimilikinya, maka dia bertauhid pada dirinya.

Ketauhidan yang lurus hanya kepada Allah semata, dengan mengakui bahwa segala kehendak yang kita lakukan berada di atas kehendak  Allah swt. "bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki  kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (A Takwir, 81:28-29). Ketauhidan yang lurus apa bila seluruh tindakan selalu ingat berada di atas kehendak Allah.     

Dalam obrolan sehari-hari banyak sekali tindakan-tindakan yang tidak mengatasnamakan Allah. Seseorang untuk mempersiapkan pesta pernikahan menghabiskan miliaran rupiah, alasan melakukan tindakan tersebut karena status sosial, tradisi masyarakat, dan demi pandangan masyarakat. Maka tindakan semacam itu ketauhidannya kepada status sosial, tradisi, dan opini masyarakat. Ketika bekerja untuk mencari uang maka ketauhidannya kepada uang, dst. Penyebab kehancuran dan kebodohan manusia disebabkan oleh ketauhidan pada selain Allah. Ilmu tauhid bisa dipelajari dengan ilmu logika. Logika mampu memperivikasi ketauhidan seseorang sampai tingkat nano, hingga kita dapat meluruskan dan menjaga ketauhidan murni kepada Allah.

Al-Qur’an adalah petunjuk bagaimana berlogika (berpikir) agar manusia mampu menemukan ketauhidan murni kepada Allah sekalipun dalam kesibukan aktivitas sehari-hari. Keotentikan Al-Qur’an sebagai kitab suci dari Allah, dapat diuji bukan saja dari historis kenabian Nabi Muhammad SAW, tapi dari kebenaran-kebenaran informasi yang terkandung di dalamnya. Namun demikian substansi kebenaran kitab suci Al-Qur'an bukan dari pembuktian sejarah, atau saksi semata, tetapi kebenaran kandungan ayat-ayat kitab suci dengan pengujian sesuai kondisi zaman. Keotentikan Al-Qur’an dapat diuji bahwa orang-orang yang benar-benar membaca dan memahami Al-Qur’an kemurnian ketauhidannya dapat terjaga.

Kitab-kitab suci selain Al-Qur’an sudah banyak campur tangan manusia Kitab suci selain Al-Qur’an layaknya seperti karya akademik seorang ilmuwan. Jika kitab yang dianggap suci namun di dalamnya sudah ada campur tangan manusia, maka umat yang meyakini kitab suci tersebut sedang tidak bertauhid kepada Tuhan Yang Esa, melainkan kepada manusia-manusia penulis dan penafsir kitab suci tersebut. Fenomena ini dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At Taubah, 9:31)

Al-Qur’an kitab otentik berbahasa Arab, penuturnya masih ada dan sejak zaman kekhalifahan empat sahabat Nabi, ayat ayat A-Qur’an dikumpulkan dari sahabat-sahabat Nabi penghafal Al-Qur’an. Hingga saat ini ayat-ayat Al-Qur’an terus teruji kebenarannya. Abad informasi semakin mengungkap kebenaran kitab suci Al-Qur’an dengan publikasi kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an melalui pengujian sains.

Berkaitan dengan fenomena perpindahan agama atau keluar dari agama Islam (murtad), sejak zaman Nabi Muhammad SAW hal ini sudah terjadi. Bagi kami yang memahami ketauhidan kepada Allah, tidak ada sedikitpun kerugian bagi mereka-mereka yang memutuskan keluar dari agama Islam. Namun rasanya sedikit geli dan ingin tertawa, melihat orang-orang yang keluar dari agama Islam lalu berapi-api membela agama barunya dan menyerang ajaran Islam. Bagi kami, dia yang keluar dari agama Islam tidak sedang berurusan dengan umat Islam, dia sedang berurusan dengan Allah yang menciptakannya. Jika manusia benar-benar memahami Al-Qur’an, tidak sedikitpun orang-orang yang murtad dari agama Islam akan merugikan umat Islam, karena dia sedang berperang melawan Allah penciptanya bukan dengan umatnya.

Jadi dapat dipastikan umat beragama selain Islam kebanyakan dia sedang bertauhid kepada manusia penafsir kitab sucinya bukan kepada Tuhan Yang Esa. Kitab suci yang mereka baca bukan otentik dari utusan tetapi hasil kompilasi dari perkataan-perkataan yang diduga bahwa perkataan itu dari Tuhan. Mereka tidak sedang membaca firman Tuhan, mereka sedang menyampaikan karya pemikiran manusia, sebagaimana Allah mengabarkan.

Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putra Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (At Taubah, 9:30).

Mereka yang beriman kepada ucapan-ucapan orang terdahulu, tidak sedang beriman kepada Allah Tuhan Yang Esa, tapi beriman kepada manusia. Pendidikan kita cenderung menggiring manusia taat kepada manusia. Umat Islam yang beriman kepada Al-Qur’an dia beriman kepada Tuhan Yang Esa, karena Al-Qur’an kitab suci otentik lisannya Tuhan Yang Esa Allah swt. Wallahu ‘alam. 

Thursday, June 24, 2021

POLA PIKIR PRIMITIF

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Silaturahmi adalah sunatullah yang sampai kapanpun akan tetap berlaku dalam kehidupan manusia. Nabi Muhammad SAW menjelaskan manusia-manusia yang tidak mau bersilaturahmi akan menghadapi kesulitan hidup dengan tidak menemukan kesejahteraan di dunia maupun akhirat. Namun demikian ketika silaturahmi apa yang harus kita lakukan? Berbagi kebaikan adalah isi silaturahmi. Kualitas silaturahmi ditentukan dengan apa yang dilakukan berkomunikasi.

Zaman dulu gosip hanya terjadi antar keluarga dan tetangga. Zaman teknologi gosip berubah menjadi tingkat dunia. Pola pikir primitif semakin subur, gosip tingkat tetangga diubah menjadi gosip tingkat dunia untuk menghasilkan keuntungan material. Lelucon-lelucon murahan, prilaku menyimpang, dikemas oleh tim kreatif primitif agar menarik perhatian masyarakat hingga menghasilkan pundi pundi rupiah.

Pola pikir primitif adalah pola pikir materialistik. Orang-orang primitif melakukan transaksi dengan pola pikir barang ditukar menjadi barang. Barter yang dilakukan masyarakat terdahulu tidak termasuk primitif karena pola pikirnya adalah menegakkan keadilan. Namun orang yang berpola pikir benda harus selalu bertukar menjadi benda, itulah orang-orang primitif. Pola pikir primitif terpaku bahwa apa yang diakukannya harus berbalas dengan material dari orang per orang. Masyarakat primitif adalah mereka yang berpikir cenderung materialistik dan positivistik. Kata Nietzche dalam kehidupan masyarakat materialistik Tuhan dimatikan karena dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah kehidupan dunia. Inilah gambaran masyarakat primitif yang terjebak kebenaran-kebenaran materialistik. 

Siklus kehidupan masyarakat yang diprediksi oleh Auguste Comte, ternyata masyarakat menuju modern bukan dari masyarakat teologis bergerak menjadi masyarakat positivistik, tetapi dari masyarakat positivistik berubah menjadi masyarakat religius. Menurut Wiliam F. Ogburn ada dua dasar budaya yaitu material dan non material. Jika perubahan berjalan siklus maka sekarang sedang terjadi perubahan dari masyarakat material ke masyarakat non material. Arnold Toynbee berpendapat masyarakat akan mengalami perubahan dari keseimbangan, transisi, kemudian terwujud keseimbangan baru.

Pemikiran yang tidak bersumber dari Allah, berputar-putar tidak ada akhirnya. Semua pendapat dianggap benar dan semua pendapat ada salahnya. Seperti orang sakit jiwa, pulang pergi tiap hari tanpa ada tujuan yang ingin dicapai. Berpikir bulak-balik, terbawa arus terombang-ambing mengikuti kemana arah angin bertiup. Masyarakat primitif tidak punya paradigma berpikir ajeg, tidak punya nilai-nilai baku, dan tidak punya prinsip-prinsip tegas. Masyrakat primitif hidup dalam polemik dan sangat tergantung pada kondisi sosial dan alam.

Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW untuk membawa masyarakat pada peradaban, dari masyarakat bodoh ke masyarakat cerdas, dari masyarakat primitif ke masyarakat modern. Masyarakat modern adalah masyarakat yang tergantung pada non material. Gerak usaha dan kerja kerasnya semuanya berdasarkan pada yang non material yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Material sifat dasarnya adalah kaku dan terbatas, Tuhan yang non material sifatnya bebas dan tanpa batas. Sifat individualistis, tidak mau kalah, dan serakah adalah prilaku masyarakat primitif yang pola pikirnya material. Manusia-manusia modern bertransaksi dengan Tuhan non material, jiwanya hidup menjadi pekerja keras, tekun, tidak pernah putus asa, selalu optimis dan sabar menjalani hidup sesuai garis edarnya. Ruhnya kreatif dan penyejahtera.

Kegagalan umat Islam dalam mewujudkan kehidupan masyarakat ideal merupakan kegagalan umat Islam itu sendiri dalam memahami Al-Qur’an. Bukan substansi ajaran yang harus diubah, tetapi metode pengajarannya. Dulu para penyebar agama di Nusantara abad 7-13 tidak memaksa raja-raja masuk Islam, maka kuncinya ada di metode mengajar. Filsafat, sains, tradisi, budaya, ideologi, politik, ekonomi, mistik, semua bisa diperankan untuk mengajarkan substansi dari ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan kondisi zaman, dan masyarakat yang dihadapinya.

Zaman sekarang, jika agama masih diajarkan dengan pendekatan tekstual, kaku, berguru hanya pada satu guru, fanatik pada aliran, sementara informasi pemahaman agama seperti banjir bandang telah masuk ke ruang-ruang pribadi, maka akan terjadi benturan-benturan ketika mendapat perbedaan pemahaman. Untuk itu, sekolah-sekolah di dunia sudah mulai mengubah tujuan pembelajaran menjadi melatih kemampuan bernalar mulai dari analisis, interpretasi, integrasi, dan menyimpulkan informasi. Kemampuan ini diprediksi dapat membantu masyarakat menyikapi banjirnya informasi dan masyarakat tidak tenggelam terbawa arus. Pendekatan pemahaman agama tekstual harus sedikit ditingkatkan dengan kemampuan pemahaman rasional tanpa meninggalkan teks. Berpikir bebas tidak berarti meninggalkan teks, tetapi mengelaborasi kebenaran-kebenaran teks Al-Qur’an melalui bantuan berbagai ilmu dan sudut pandang. Dengan cara-cara ini semoga kita bisa keluar dengan damai dari pola-pola pikir primitif yang sudah cenderung material, sombong, dan lancang berani membunuh Tuhan. Walahu’alam.

AL-QUR’AN STANDAR BERPIKIR MODERN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Modern adalah teori yang dikembangkan para ilmuwan untuk membedakan manusia, bangsa, dan negara yang sudah berperadaban atau primitif. Ukuran modern dan  primitif didasari pada pola berpikir material. Tidak seluruh ukuran modern rasional-empirik yang cenderung material memiliki kesesuaian dengan sudut pandang pola pikir Al-Qur’an.  

Jika Al-Qur’an kita jadikan pedoman dalam paradigma berpikir, ukuran kemajuan sebuah bangsa dibedakan dengan konsep masyarakat kafir dan beriman. Masyarakat kafir mewakili ciri masyarakat primitif dan manusia beriman mewakili ciri masyarakat modern. Kafir dan modern dalam hal ini bukan person atau kelompok masyarakat melainkan sebuah pola pikir. Masyarakat kafir yaitu masyarakat yang menolak kebenaran-kebenaran pengetahuan dari Tuhan sekalipun sudah ada berbagai bukti kebenaran.  Masyarakat modern adalah masyarakat yang percaya pada pengetahuan yang dikabarkan Tuhan kepada utusan-utusan-Nya. Masyarakat modern menjadikan pengetahuan dari Tuhan sebagai alat ukur, pertimbangan, dalam memahami dan memaknai seluruh fenomena kehidupan.


Tun Mahatir mengatakan jika umat Islam menjadikan Al-Qur’an benar-benar sebagai pedoman dalam seluruh aktivitas kehidupan, maka umat Islam akan menjadi masyarkat berperadaban sebagai ciri masyarakat modern yang diidam-idamkan. Contohnya dibuktikan dengan perjalanan sejarah Nabi Muhammad SAW mengubah masyarakat pola pikir kafir (jahiliyah) di Mekah menjadi masyarakat berperadaban seperti memuliakan perempuan, menegakkan hak dan perhargaan terhadap kemanusiaan, hidup berdampingan dengan alam, menghilangkan permusuhan, menjalankan kejujuran, menghilangkan diskriminasi berdasarkan ras dan agama, menciptakan keteraturan dan kedisiplinan dalam bernegara, dan mengutamakan perdamaian. Ciri-ciri hidup masyarakat berperadaban ini semua terkandung dalam ajaran-ajaran dari pengetahuan yang bersumber pada Al-Qur’an.

Ada pun fenomema konflik, kemiskinan, ketidakteraturan, ekspolitasi alam, diskriminasi terhadap kaum perempuan, permusuhan, pembunuhan yang faktanya hadir dalam masyarakat yang sudah mengaku menganut agama Islam, hal tersebut tidak mencerminkan ajaran-ajaran agama Islam sebagaimana terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an.  Kejahiliyahan yang terjadi pada masyarakat Islam ataupun seluruh umat manusia di muka bumi ini, semua bersumber pada ketidaktahuan, ketidaktaatan, keterbatasan manusia pada ajaran-ajaran yang sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Nabi Muhammad SAW tidak diutus untuk masyarakat Arab, juga tidak diutus hanya untuk sekelompok manusia, tetapi diutus untuk membawa pengetahuan dari Tuhan untuk seluruh umat manusia yang diciptakan pada dasarnya sebagai pembawa amanah dari Tuhan. Sebagaimana Allah mengabarkan bahwa semua manusia diciptakan dari ruh Allah yang hidup dan kreatif.

Nabi Muhammad SAW adalah anugerah bagi bumi, langit, gunung, laut, hewan, tumbuhan, dan manusia. Sebagai pemikul amanah, Allah menurunkan Nabi Muhammad SAW yang memberi pedoman kepada manusia untuk menjadi manusia-manusia modern yang bisa menjaga keseimbangan dan keteraturan gerak sinergi antara alam, hewan, tumbuhan dan manusia. Nabi Muhammad SAW dengan pedoman hidup yang dibawanya yaitu Al-Qur’an menjadi model manusia modern yang diciptakan oleh Allah agar menjadi ukuran sebuah individu atau masyarakat berprilaku modern.  

Awal abad-ke 21 ini adalah  momentum 100 atau 1000 tahunan dimana manusia harus kembali melakukan refleksi diri atas pola pikir dan prilaku yang telah berlaku selama satu abad atau milinium. Bagi kaum beragama maupun tidak beragama, sebagaimana pendapat Thomas Khun awal abad ke 21 ini adalah masa refleksi diri untuk kembali memverifikasi dan meneliti ulang cara pandang, nilai-nilai, prinsip-prinsip yang selama satu abad atau millenium diyakini sebagai langkah-langkah yang harus diperjuangkan. Sikap-sikap arogan meremehkan Tuhan sebagai pemilik pengetahuan, dan menganggap kitab suci sebagai kitab tradisional dan isinya tertinggal dari pengetahuan yang dihasilkan penalaran murni pengetahuan alam, harus kembali direnungkan dan diredefinisi.

Seluruh manusia perlu kembali ke gua-gua perenungan sebagaimana Nabi Muhammad SAW bertahun-tahun melakukan perenungan di Gua Hira, seperi Nabi Musa merenung di gunung, seperti Nabi Ibrahim merenung di padang pasir, seperti Nabi Idris merenung di laut. Memikirkan kembali, memverifikasi, apakah pemikiran-pemikiran rasional empiris yang hanya mengandalkan pengetahuan alam telah menjamin keseimbangan dan kesejahteraan alam dan seluruh penghuninya. Pencemaran laut oleh plastik, pencemaran sungai oleh limbah pabrik dan domestik, eksploitasi air tanah, penjarahan hutan, pencemaran udara oleh gas buang mesin, dan pandemi penyakit menular yang menandai abad ini, direncanakan manusia atau tidak,  ini adalah fakta bahwa pola pikir yang dikembangkan 100 hingga 1000 tahun berujung dengan krisis kemanusiaan dan kerusakan lingkungan alam.

Saatnya kita kembali pada Tuhan yang maha kuasa, yang maha mengatur, dan menggunakan pengetahuan dari Tuhan melalui kitab suci Al-Qur’an untuk membangun dan mengembangkan cara pandang, nilai-nilai, dan prinsip-prinsip hidup modern dari yang maha mengetahui. Seluas ilmu yang dimiliki manusia, sedalam ilmu yang dikuasai, manusia tetap bodoh karena masih banyak yang tidak diketahuinya. Pengakuan manusia bahwa Allah maha tahu dan manusia tidak mengetahui, akan melahirkan manusia-manusia rendah hati dan bijaksana dalam mengembangkan teknologi dan bersahabat dengan sesama manusia dan semesta alam. “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Al Hadiid, 57:3). Wallahu’alam.