Tuesday, May 11, 2021

BAHAYA BERPIKIR NEGATIF

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Berpikir negatif dalam bahasa Al-Qur’an adalah berprasangka buruk. Allah melarang manusia untuk berpikir negatif karena berpikir negatif masuk pada kategori dosa. Mengapa tidak boleh berprasangka buruk? Al-Qur’an (17:7) menjelaskan bahwa keburukan yang dilakukan seseorang akan menimpa pelakunya, sebaiknya kebaikan yang dilakukan seseorang akan kembali kepada pelakunya.

Ibrahim Elfiky (2014) mengatakan bahwa berpikir negatif adalah penyakit sangat berbahaya. Ia candu seperti narkoba dan minuman keras. Pikiran negatif menghasilkan perasaan, prilaku negatif dan dampak yang negatif. Selain itu, pikiran negatif membuat perasaan selalu khawatir. Para ilmuwan di Universitas Stanford melakukan penelitian tentang kekuatan pikiran negatif dan pengaruhnya terhadap organ tubuh. Hasilnya pikiran negatif membuat lambung mengeluarkan asam sangat kuat. Mereka mengambil asam lambung tersebut kemudian meletakkannya pada makanan tikus yang dijadikan objek penelitian. Hasilnya sungguh mencengangkan, tikus itu mati karena kuatnya kadar asam itu. Para ilmuwan terus mengulang penelitian dan hasilnya tetap sama: kematian.

Penelitian yang diakukan fakultas kedokteran San Francisco pada tahun 1985 menyimpulkan bahwa pikiran negatif penyebab 75% lebih penyakit organik seperti jantung, tekanan darah tinggi, vertigo, dan kanker. (Elfiky, 2014). Atas dasar itu, berpikir membutuhkan panduan, agar kondisi kesehatan bisa terjaga.

Berpikir ada yang dilakukan secara sadar dan ada yang di bawah alam sadar. Pikiran alam bawah sadar mengendalikan prilaku-prilaku spontan pada diri manusia. Hasil pemikiran dan yang kita lakukan dipengaruhi oleh persepsi.  Penelitian yang dilakukan Universitas George Town menyimpulkan bahwa lebih dari 90% sikap kita dilakukan secara spontan, tanpa dipikir panjang. (Elfiky, 2014). Hal-hal yang sudah menjadi rutinitas biasanya dilakukan secara spontan dikendalikan oleh pikiran alam bawah sadar.

Sangat berbahaya sekali jika alam bawah sadar memiliki kebiasaan berpikir negatif. Prilaku-prilaku spontannya akan bersifat negatif. Prilaku pikiran spontan dan negatif secara tidak sadar telah membahayakan diri sendiri setiap saat. Berpikir negatif adalah prilaku tidak kasat mata, sangat mudah terlintas dalam berbagai kondisi. Bisa dibayangkan bahwa orang-orang yang memiiki kebiasaan berpikir negatif jiwa sedang terancam setiap saat akibat keburukan prilaku berpikir yang dilakukannya. Hanya kesadaran yang bisa mengakhiri kebiasaan berpikir negatif.

Jika pikiran negatif dapat menghasilkan asam lambung yang racunnya dapat membunuh tikus, dapat dipahami jika orang-orang yang sulit sembuh dari penyakit bukan karena tidak ada obatnya, tetapi tidak bisa mengubah pola pikirnya yang selalu spontan negatif dan tidak disadari.

Faktor dominan dari penyebab lahirnya pikiran negatif adalah prasangka buruk pada setiap kejadian. Prasangka buruk akan berubah menjadi prilaku suka menyalahkan orang lain, atau menilai prilaku orang lain buruk, dan lupa pada diri sendiri sebagai manusia yang tidak lepas dari keburukan. Padahal Allah mengabarkan dunia ini diciptakan untuk kebaikan dan kemudahan. Persepsi prasangka baik harus dijaga dalam menyikapi berbagai kejadian agar setiap saat manusia diiputi kebaikan yang telah ditetapkan Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain”.(A Hujurat, 49:12).

Orang yang akut selalu berpikir negatif adalah mereka yang selalu mencari sisi buruk ketika melihat objek, orang, atau kejadian. Pola pikir ini menular dan sangat berbahaya. Orang-orang sukses tidak pernah melihat keburukan sekalipun dari keburukan. 

Sangat dipahami oleh akal jika berpedoman pada Al-Qur’an bahwa orang yang paling berbahaya bagi manusia di muka bumi ini adalah manusia itu sendiri. Untuk memperbaikinya harus berawal dari mengubah atau membiasakan berpola pikir positif. Logika Tuhan adalah cara berpikir positif sebagaimana Allah telah memberi petunjuk di dalam Al-Qur’an. Wallahu’alam.

Friday, May 7, 2021

CARA MENJADI ORANG SABAR

OLEH: MUHAMMAD PLATO 

Tidak dapat dikatakan orang baik tanpa memiliki kesabaran. Sebaik-baiknya manusia dia belum menjadi orang baik, tanpa memiliki sifat dan prilaku sabar.

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fushshilat, 41:35).

Kata sabar sering dinasehatkan kepada siapa saja yang sedang menghadapi ujian dari Allah. Namun demikian jarang orang memahami apa  arti sabar menurut Al-Qur’an. Sangkaan kita, sabar itu hanya sekedar diam, menerima apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Pandangan ini sangat pasif dan orang-orang sabar dianggap orang menderita, sehingga menjadi orang sabar dianggap menjadi orang dalam posisi tertindas. Pandangan ini sangat negatif dan membuat orang-orang sabar pesimis dan pada enggan menjadi orang sabar.

Jika kita belajar dari Al-Qur’an orang-orang sabar pasti optimis dan bahagia. Untuk memahaminya kita coba pahami konsep sabar dari penjelasan Al-Qur’an. Kabar gembira bagi orang yang memilih hidup berkarakter sabar. Orang-orang sabar teman dekatnya Allah. Siapa yang mengganggu orang sabar dia berurusan dengan teman dekatnya yaitu Allah. Dalam Al-Baqarah, 2:153), Allah berfirman, “sesungguhnya Allah bersama orang sabar”.

Betapa beruntungnya orang-orang yang menjadi teman dekat Allah. Lalu siapa orang-orang sabar ini? Al-Qur’an memberi kriteria siapa orang-orang sabar. Berikut kriteria orang-orang sabar menurut penjelasan Al-Qur’an.

1.      Shalat

Karakter yang dapat diihat sebagai orang sabar adalah shalat. Bagi orang-orang yang shalat Allah akan menganugerahkan kesabaran. Minimal kesabaran beliau dalam menjaga tetap melaksanakan shalat. Konsepsi shalat tentu bukan hanya ritual tetapi termasuk dalam tindakan-tindakan baik secara faktual. 

Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (Al Baqarah, 2:45).

2.      Pemberi Maaf

Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (Asy Syuura, 42:43).

3.      Menolak kejahatan dengan kabaikan.

Karakter orang sabar sudah tidak lagi terpengaruh oleh rangsangan-sangsangan berbuat baik yang datangnya dari luar. Apapun reaksi yang datang dari luar, sudah tidak berpengaruh karena respon yang dihasikan kepada setiap kejadian adalah respon yang baik. 

 "disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan", (Al Qashshas, 28:54).

4.      Taat dijalan benar

Kesabaran seseorang diuji dalam ketaatannya menjalani jalan yang benar. Tidak ada kesabaran pada orang-orang yang taat pada jalan salah. Orang-orang sabar memiliki prilaku konsisten dalam menjaga untuk tetap di jalan benar.

“orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya, dan yang memohon ampun di waktu sahur. (Ali Imran, 3:17).

Kesimpulan sementara sabar adalah prilaku agung orang-orang baik. Siapa memiliki karakter orang sabar maka dia telah diberi keberuntungan yang besar. Kesabaran adalah karakter yang dapat mendatangkan kesuksesan. Prilaku sabar wajib diajarkan kepada anak-anak agar keak mereka menjadi pemimpin-pemimpin sukses di negeri ini. Allah berjanji kepada orang-orang sabar.

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az Zumar, 39:10).

Untuk itulah sabar sangat perlu diajarkan di sekolah-sekolah sebagai karakter sukses yang akan mendampingi anak-anak ketika sukses di masa mendantang. Wallahu’alam.

Wednesday, May 5, 2021

FITNAH PADA AGAMA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Pesan Nabi Muhammad saw, agama itu awalnya asing dan akan kembali menjadi asing. Terorisme bukan untuk menyerang sekelompok agama, tetapi upaya sekelompok orang untuk mengkerdilkan peran agama dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Pertarungan ini sudah terjadi sejak dahulu antara orang orang pola pikir materialis dengan religius.

Agama adalah ajaran moral agar manusia bisa hidup berdampingan dengan damai dan sejahtera. Damai dan sejahtera adalah puncak yang ingin dicapai oleh orang-orang beragama. Peran agama menjadi terasing dari kehidupan dengan pola-pola pikir sekuler yang positivistik. Agama menjadi symbol-simbol dan ritual-ritual. Kultus individu, gelar, penampilan, bangunan, seolah menjadi tampilan baku dari ciri orang beragama. Agama telah kehilangan nalar karena nalar dianggap k kekafiran.

Nietzsche, (1844-1900) telah mengemukakan pemikirannya bahwa kelak manusia akan membunuh Tuhannya. Seorang mahasiswa dari fakultas hukum yang giat belajar filsafat menemukan bahwa Nietzsche tidak mengajarkan orang menjadi Atheis. Dia membantu menjelaskan bahwa dengan menjamurnya pemikiran-pemikiran ilmiah materialistik, suatu saat akan sampai pada titik bahwa sebagian besar manusia sudah tidak lagi menganggap Tuhan ada. Sekalipun hidup, Tuhan akan terpenjara di masjid-masjid, biara-biara, dan sinagog. Tuhan tidak ada di lembaga poitik, ekonomi, sosial, dan budaya. Pada akhirnya Tuhan tidak akan lagi hadir di rumah dan dunia pendidikan. Hubungan antar manusia menjadi transaksional karena berharap imbalan-imbalan material.

Penjelasan Nietzche bisa dipandang sebagai sebuah gambaran kekhawatiran melihat pesatnya pola-pola pikir manusia yang semakin materialistik. Pola pikir material yang dikampanyekan mealui sains dan teknologi informasi berhasil menjadi world view berpikir sebagian besar manusia. Agama yang mengajarkan keikhlasan, kejujuran, kedamaian antar umat manusia, difitnah sebagai penghambat kemajuan dan biang perpecahan.

Padahal menurut Ibn Khaldun dan Maududi (2000), “agama memiliki peranan besar dalam membentuk dan menegakkan sejarah kehidupan bangsa yang berperadaban”. Karen Amstrong mengatakan bahwa sejarah dunia semuanya tentang sejarah Tuhan sebagai pemilik alam semesta.

Penganut agama pun terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling berebut kebenaran. Pandangan-pandangan agamanya terjerumus pada keegoisan yang haus kekuasaan, dan kehormatan. Sumber ajaran agama bergeser pada penafsir-penafsir agama yang saling bergesekkan karena ingin mendapat pengakuan sebagai pemilik kebenaran. Ayat-ayat Tuhan digunakan untuk melegitimasi kekuasan dan kehormatannya.

Agama harus dikembalikan pada fungsi sesungguhnya. Agama diajarkan untuk memberikan pedoman atau petunjuk arah bagi kehidupan di dunia secara aplikatif bukan hanya sebatas ritual-ritual, simbol-simbol. (Agustian, 2002:xliv). Nalar agama harus kembali kepada ajaran sesungguhnya yang bersifat universal untuk memberi petunjuk pada umat manusia agar hidup damai dan sejahtera di muka bumi sebagaimana diajarkan pada para utusan-Nya. Agama adalah pembangun peradaban umat manusia.  

Kehadiran nalar dalam memahami agama sangat dibutuhkan sebagaimana Tuhan mengancam kepada mereka yang tidak menggunakan nalar dalam beragama. Nalar materialis yang cenderung telah menguasai nalar manusia, membutuhkan nalar religius bersumber pada pengetahuan kitab suci ajaran agama yang mengajarkan keseimbangan dunia dan akhirat dalam berpikir. Agama mengajarkan bagaimana manusia bisa hidup damai sejahtera di dunia dan diakhirat. Ritual-ritual ajaran agama apa bila dipahami dengan nalar sebenarnya mengandung pesan simbol-simbol bagaimana keteraturan hidup manusia di dunia yang kelak menjadi sebab kesuksesan hidup di akhirat.

Dunia dan akhirat bukan ruang dan waktu terpisah, melainkan suatu kontinum berkelanjutan menuju cita-cita hidup yang luhur menuju kembali kepada Tuhan. Taufik Pasiaq mengatakan ada Tuhan yang maha kreatif dalam setiap otak manusia. Tuhan selalu hadir untuk mensejahterakan manusia di manapun berada. Manusia Pancasila adalah manusia yang di dalam otaknya ada Tuhan sebagai pengendali hidup di dunia. Manusia Pancasila adalah manusia berakal Tuhan yang mempersatukan umat manusia dalam damai, dan selalu tampil menjadi manusia-manusia sejahtera di manapun berada. Wallahu’alam.  

Monday, May 3, 2021

FITNAH PADA AKAL

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Akal adalah suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung luas pengalaman dan tingkat pendidikan formal maupun informal. Jadi, akal bisa didefinisikan sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis dan menilai apakah sesuai, benar atau salah. Namun, karena kemampuan manusia dalam menyerap pengalaman dan pendidikan tidak sama. Maka tidak ada kemampuan akal antar manusia yang betul-betul sama. (id.wikipedia.org/wiki/akal).

Berdasarkan definisi di atas, akal adalah sebuah benda, karena dikategorikan alat. Di organ tubuh manusia akal terletak di bagian otak. Jelas sekali cara kerja akal adalah berpikir antara lain menganalisis, menyimpulkan, dan menilai. Setiap otak manusia pasti dilengkapi akal karena setiap manusia berpikir seperti menganaisis, menyimpulkan dan menilai.

Dari sini bisa kita simpulkan siapapun orangnya yang melarang dan meremehkan kemampuan akal akan mengalami ketertinggalan dari kualitas kemanusiaannya. Allah merendahkan kualitas manusia yang tidak menggunakan akalnya. Manusia yang tidak taat pada Tuhan dikategorikan sebagai manusia yang tidak mau menggunakan akalnya.

“Dan apabila kamu menyeru untuk shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.” (Al Maa ’idah, 5:58).

Lebih tegas lagi manusia yang tidak mau menggunakan akalnya, akan ditimpa segala keburukan dalam hidupnya. Atas kehendak Allah, kebodohan, kemiskinan, perselisihan, perpecahan, akan menimpa umat yang tidak mau menggunakan akalnya.

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (Yunus, 10:100).

Maka yang berdosa bukan mereka yang menggunakan akal, tapi mereka yang menghalang-halangi digunakannya akal untuk berpikir. Banyak pendidik, penceramah, pendakwah berkata, agama tidak bisa dipahami akal seolah-olah hendak menghalang-halangi manusia untuk menggunakan akalnya dalam memahami agama. Padahal para pendidik, penceramah, pendakwah, mereka semua punya akal dan menggunakan akalnya. Orang yang menghalang-halangi orang menggunakan akal dia telah menggunakan akal, dan sekaligus tidak berakal.

CARA KERJA AKAL   

Akal berfungsi untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar, serta menjelakan apa-apa yang belum dimengerti, sebagai mana di dalam Al-Qur’an dijelaskan.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan  yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf, 12:111).

Ukuran kebenaran yang didapat oleh akal sangat tergantung pada sumber pengetahuan yang diperoleh. Secara garis besar ada dua sumber pengetahuan yang diciptakan Allah, yaitu pengetahuan alam dan pengetahuan yang diturunkan Allah kepada para utusan berupa wahyu. Dua sumber pengetahuan ini menghasilkan dua konsep kebenaran yaitu kebenaran empiris dan kebenaran wahyu. Akal akan menghasilkan perbedaan kesimpulan jika pengetahuan yang didapatnya berbeda sumber.

Akal bekerja dengan rasional menggunakan pola berpikir sebab akibat. Akal bisa bekerja  jika ada pengetahuan yang diolahnya. Jika akal mengolah pengetahuan alam akan menghasilkan kebenaran rasional empiris (alam). Jika akal mengolah pengetahuan alam yang ada dalam pengetahuannya maka akal akan menghasilkan kebenaran rasional. Cara berpikir akal tidak terpisah, dia bersifat holistik karena alam adalah wahyu Tuhan dalam bentuk fisik.

Jika akal mengolah pengetahuan wahyu akan menghasilkan kebenaran rasional religius. Jika akal mengolah pengetahuan wahyu yang ada dalam pengetahuannya akan menghasilkan kebenaran rasional mistik.

Jika akal bekerja menggunakan kekuatannya dalam mengolah pengetahuan tanpa menggunakan pengetahuan alam, akal hanya berimajinasi. Selanjutnya jika akal bekerja menggunakan kekuatannya mengolah pengetahuan tanpa pengetahuan wahyu, akal telah menciptakan takhayul.    

Pengetahuan sains jika diolah akal tanpa bukti rasional dari pengetahuan alam maka sains hanya menghasilkan imajinasi. Ajaran agama jika diolah akal tanpa bukti rasional dari pengetahuan wahyu, maka agama akan jadi takhayul.

Kebodohan akal kaum intelektual adalah menggunakan akal hanya untuk mengolah pengetahuan alam dan menafikan pengetahuan wahyu sebagai sumber petunjuk kebenaran. Sebaliknya kebodohan akal kaum agamawan adalah menafikan pengetahuan alam sebagai sumber pembuktian kebenaran-kebenaran wahyu peningkat keimanan.      

Untuk itu dimana letak salahnya akal? Kesalahannya ada pada kelemahan dalam memahami sumber pengetahuan. Akal dibiarkan bekerja tanpa petunjuk dari Tuhan. Akal dibiarkan bekerja tanpa ketaatan pada Tuhan. Seharusnya akal diajak bekerja untuk meng-Esa dengan Tuhan. Seharusnya akal diajak berserah diri menyatu dengan akal Tuhan Yang Maha Mengetahui yang tersembunyi maupun yang lahir. Fitnah terbesar adalah ketika akal dibenci sebagai penyebab kemunkaran, sementara Allah memurkai orang-orang yang tidak menggunakan akal. Wallahu’alam.  

Friday, April 23, 2021

AL-QUR’AN BICARA EMANSIPASI WANITA

 OLEH: MUHAMMAD PLATO

Apakah kepemimpinan wanita menjadi pertanda bahwa di Indonesia telah terjadi emansipasi wanita? Apakah tampilnya pemimpin wanita dalam kepemimpinan sebagai kabar baik? Saya tidak akan mempermasalahkan kepemimpinan wanita dalam dunia politik dan aspek kehidupan lain, tetapi wanita dan laki-Laki memiliki perbedaan itu fakta.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An Nisaa, 4:34).

Ayat di atas menjadi kontroversi dan mengajak semua orang berpikir bagaimana menerapkan emansipasi wanita dalam kehidupan nyata. Ayat ini mengajak dan melahirkan banyak tafsir dan penafsir. Siapa yang berhak menafsir ayat ini? Semua orang yang memiliki kemampuan intelektual tinggi. Para lulusan sarjana dan pasca sarjana, dari berbagai bidang ilmu berhak menafsir dengan perbendaharaan pengetahuan yang dimilikinya. Allah tidak pernah membatasi siapa yang berhak memahami Al-Qur’an dan siapa yang tidak berhak. Al-Qur’an adalah berkah untuk manusia dan siapapun berhak untuk berhubungan langsung dengan Al-Qur’an sesuai dengan kapasitas intelektualnya.

Kiai Hendi Noor seorang sarjana Fisika yang rajin mengikuti kajian Al-Qur’an dari youtube, memiliki penafsiran yang dipahaminya sendiri. Konsep “arijalu” yang ditafsirkan sebagai kata laki-laki tidak dipahami secara lahiriah. Arijalu dalam kontek batiniah adalah ruh yang suci yang ditiupkan Allah ke dalam jasad manusia. Laki-laki dan wanita memiliki ruh yang harus jadi pemimpin dalam kehidupan dunia. Kelak yang akan di adili di akhirat laki-laki maupun perempuan adalah ruh. Sedangkan kata “nisaa” tidak dipahami sebagai wanita dalam arti gender, melainkan jasad.

Selanjutnya Kiai Hendi Noor menyimpulkan bahwa bukan laki-laki atau perempuannya yang harus memimpin tetapi baik laki-laki maupun perempuan harus dipimpin oleh Ruhaninya “jallu” bukan oleh naluri yang sudah dipengaruhi jasadnya “nisaa”.

Dalam kontek penafsiran di atas, Kiai Hendi Noor tidak mempermasalahkan jika ada seorang wanita menjadi pemimpin, karena di dalam diri wanita itu sendiri sesungguhnya ada ruh yang harus jadi pemimpin ketika wanita itu menjadi pemimpin. Tafsir kiai Hendi Noor masuk kategori lapis dua dengan tingkat abstraksi tinggi.

Dengan hadirnya penfasiran seperti Kiai Hendi Noor, apakah penafsiran bahwa laki-laki secara fisik ditakdirkan sebagai pemimpin salah? Faktanya secara statistik saat ini, pemimpin pemimpin negara lebih banyak dipegang oleh laki-laki. Secara kodrat fisik laki-laki lebih memungkinkan untuk jadi pemimpin. Berdasarkan struktur otak, laki-laki yang lebih dominan gunakan logika lebih memungkinkan untuk jadi pemimpin. Laki-laki selama hidupnya tidak ada masa-masa kritis dimana emosi tidak stabil, berbeda dengan wanita yang memiliki masa emosi tidak stabil karena datang bulan.

Secara fisik wanita pun memiliki tugas untuk hamil untuk menjaga eksistensi manusia. Untuk itu wanita dibatasi geraknya selama sembilan bulan mengandung. Setelah itu ada fase menyusui sampai usia anak dua tahun. Melihat kondisi fisik seperti ini, ada layaknya bahwa kata “arijalu” ditafsirkan dengan laki-laki dan “nisaa” adalah wanita. Realitasnya para Nabi yang diutus dikabarkan di dalam kitab suci Al-Qur’an sebagai laki-laki.

Lalu tafsir mana yang akan digunakan? Kedua-duanya bersumber pada Al-Qur’an. Tidak perlu ada perselisihan tafsir mana yang benar, karena kebenaran mutlak milik Allah. Perseisihan, pertikaian, sudah jelas sebabnya karena masing-masing sudah jadi tuhan-tuhan selain Allah.

Perbedaan pendapat adalah realitas hidup dari Tuhan, tujuannya agar manusia tidak saling mengklaim kebenaran dan harus saling memberi kesempatan untuk mengekspresikan pemikirannya. Tujuan dari kehidupan adalah kondisi damai yang saling menghargai perbedaan dengan rujukan pola pikir Al-Qur’an. Budaya atau kebiasaan masyarakat tidak serta merta dapat disalahkan karena tafsir-tafsir Al-Qur’an bisa hidup dalam budaya masyarakat. Manusia hidup dalam lautan takdir Tuhan, dan Al-Qur’an akan membenarkan mana yang harus manusia terus lakukan atau hentikan.

Laki-laki jadi pemimpin memiliki dasar pemikiran dari Al-Qur’an, dan wanita menjadi pemimpin dilandasi pemikiran dari Al-Qur’an. Pemikiran mana yang mau dilakukan, takdir Tuhan yang akan menentukan. Al-Qur’an diturunkan untuk memudahkan tidak untuk menyulitkan manusia. Wallahu’alam.

Sunday, April 18, 2021

AGAMA ILMU BERPIKIR

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Agama pada era disrupsi ini sering jadi perbincangan, bahkan perbincangannya kontra produktif, seolah-olah agama menjadi faktor penghambat perubahan dan persatuan bangsa. Pandangan ini sangat tendensius bukan datang dari kaum intelektual kelompok manapun, pandangan ini datang dari mereka yang pikirannya sangat dipengaruhi oleh kepentingan pribadi dan golongan untuk suatu kepentingan.

Jika manusia terdiri dari ruh dan jasad, maka ruh adalah inti dari manusia. Berpikir adalah bagian dari aktivitas yang dilakukan ruh. Pengetahuan adalah makanan ruh yang akan diolah dengan aktivitas berpikir dan menghasilkan kesimpulan demi kesimpulan sebagai dasar manusia dalam bertindak, berprilaku dan berkepribadian.

Agama berkaitan dengan kecerdasan intelektual seseorang. Keberagamaan seseorang akan berbanding lurus dengan kecerdasan intelektualnya. Edward Said tidak membedakan peran alim ulama dengan para intelektual, mereka sama-sama memiliki tugas menyebarkan ajaran-ajaran damai dan kebaikan dari Tuhan atau pewaris para Nabi.

Nabi Muhammad saw dalam hadis menjelaskan bahwa tujuan dari agama adalah memperbaiki akhak (kepribadian atau karakter) seseorang. Pembentukkan akhlak dalam ilmu pendidikan meliputi tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Untuk itu agama dalam kacamata pendidikan adalah ilmu yang bertujuan membentuk pola pikir, perasaan, dan prilaku yang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah. Ritual dan kepribadian yang ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari adalah kegiatan psikomotor sebagai pengikat pikiran dan perasaan.

Pembentuk perasaan dan psikomotor adalah kegiatan pola pikir yang ada di wilayah kognitif.  Berpikir adalah pekerjaan ruh sebagai inti dari kehidupan manusia. Ruh adalah daya berpikir kreatif yang ditiupkan langsung oleh Tuhan sebagai bagian unsur inti dalam diri manusia. Mahmud Thoha (1994) mengatakan bahwa ruh adalah daya entrepreneurship yang dimiliki oleh setiap manusia.  Pendidikan berkaitan erat dengan usaha sadar untuk menjadikan ruh manusia berpikir sehat sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para Nabi kepada umat manusia.

Perbedaan pola pikir terletak pada sumber pengetahuan, dominasi, dan egoisme. Perbedaan pengetahuan membuat perbedaan persepsi. Dominisasi dan propaganda, membangun persepsi publik hingga jadi pola pikir bersama. Egoisme membangun persepsi berdasar pada kepentingan-kepentingan pribadi atau golongan. Sumber pengetahuan agama dari kitab suci Al-Qur’an  membebaskan manusia dari keterikatan manusia pada alam, dominasi tradisi nenek moyang, dan sifat-sifat berlebihan mementingkan diri sendiri yang dilakukan manusia.

Nabi Muhammad saw pertama kali berdakwah di Mekkah adalah mengajarkan berpikir Tauhid yaitu mengesakan Allah sebagai dzat yang tidak berwujud dan tidak dapat dipersamakan dengan manusia. Cara berpikir seperti ini membutuhkan kecerdasan nalar dengan sumber pengetahuan dari Al-Qur’an. Sebagaimana Allah jelaskan di dalam Al-Qur’an orang-orang beriman melaksanakan shalat dan berbuat baik pada sesama sesungguhnya mereka yang memiiki pikiran sehat.

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Ali Imran, 3:7)

Al-Qur’an adalah sumber pengetahuan sebagai pijakan berpikir. Berpikir kepada selain sumber dari Al-Qur’an seperti berpijak pada batu mengambang. Diihatnya batu tetapi ketika dipijak akan tenggelam. Sumber pengetahuan dan berpikir adalah permasalahan manusia dalam berpikir. Manusia-manusia yang tidak mengenal Tuhan bukan karena tidak berpikir, tetapi bermasalah di sumber pengetahuan.

Hanya agama yang membawa sumber pengetahuan yang otentik yang layak dijadikan agama. Ajaran agama yang membawa kabar pengetahuan dari karangan manusia adalah penyebab kekacauan dalam berpikir. Manusia-manusia yang berpikir pada sumber dari Al-Qur’an tidak akan mengklaim kebenaran tetapi hanya menyampaikan kebenaran. Bagi orang-orang yang berpikir bersumber pada Al-Qur’an perbedaan akan jadi kenyataan yang tidak saling membahayakan. Kehidupan akan jadi harmoni dan menyejukkan hati. Hati damai hadir dari pikiran sehat yang dipandu dari pengetahuan agama yaitu Al-Qur’an. Wallahu’alam. 

Tuesday, April 13, 2021

HATI-HATI PADA ORANG YANG KAMU BANTU

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Hati-hati pada orang yang kamu bantu! Nasihat ini mengajak kita untuk berpikir. Pesan ini mengandung arti kehati-hatian tinggi bagi orang-orang beriman. Orang-orang yang kita bantu, menurut pemikiran kita semestinya mereka menjadi orang yang berprilaku baik pada kita. Apa jadinya jika orang-orang yang kita bantu mengkhianati kita sendiri? Pada saat orang-orang yang kita bantu berkhiatan, berprilaku buruk pada kita, di sinilah kehati-hatian kita untuk menyikapinya.

Pesan hati-hati pada yang yang kita bantu, mengandung pesan bersumber pada ayat Al-Qur’an. Perasaan sakit, kecewa, kesal, benci, dendam, mudah tumbuh pada diri seseorang ketika orang yang diberi bantuan berkhianat.  Pengkhiatan seseorang adalah pupuk penumbuh subur penyakit-penyakit hati. Pada saat ini emosi harus terkendali agar sikap atau reaksi terhadap pengkhiatan tidak menjadi keburukan sikap yang lebih buruk.

Kasus yang sering terjadi ketika pengkhianatan terjadi, emosi sering tidak terkendali dan membabi buta. Hal yang harus hati-hati untuk tidak dilakukan adalah mengungkap semua kebaikan yang telah diberikan kepada mereka yang mengkhinati. Mengungkap semua kebaikan yang pernah diberikan akan mengubah niat ikhlas seseorang dalam berbuat baik. Kebaikan yang pernah dilakukannya akan berubah menjadi kebaikan yang mengharuskan seseorang untuk membalas kebaikan.

Sebuah pemberian yang diiming-imingi dengan harapan seseorang untuk membalas kebaikan yang dilakukannya adalah bukan pekerjaan baik.  Ukuran kebaikan adalah ketika kebaikan yang dilakukan hanya diharapkan kepada Allah, ketika berharap kepada manusia maka tidak ada kebaikan karena kiblatnya atau tauhidnya kepada manusia.

Orang yang mengungkit kebaikan yang dilakukannya kepada orang lain adalah alamat kebangkrutan bagi orang tersebut. Allah peringatkan kondisi orang seperti ini dalam sebuah perumpamaan.

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al Baqarah, 2:264).

Secara psikologis manusia yang menerima pembalasan buruk dari orang yang pernah dibantunya akan membangkitkan seluruh sifat buruk yang dimilikinya. Sifat buruk tersebut adalah ketika mengungkap seluruh bantuan kebaikan yang pernah dilakukannya dengan sumpah serapah, kata-kata menyakitkan hingga melukai orang-orang yang menerimanya. Ketika ini terjadi maka terungkap, tujuannya berbuat baik ternyata bukan karena Allah tetapi karena ingin dibalas kebaikan oleh orang orang yang dibantunya. Hingga pada kondisi ini kiblat manusia bukan lagi kepada Allah tetapi kepada manusia. Maka orang-orang itulah yang dikategrikan orang-orang ria yaitu orang yang berkibat kepada manusia dalam berbuat baik. Tidak ada sedikitpun kebaikan bagi mereka yang mengungkap kebaikannya karena ingin dihargai dihormati oleh orang yang pernah dibantunya. Kebaikannya akan hilang seperti tanah di atas batus licin yang ditimpa hujan lebat.

Penjelasan lain, orang-orang yang mengungkap seluruh kebaikan yang dilakukannya kepada orang lain dengan menyakiti, prilakunya bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah. “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan. Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Al Baqarah, 2:263). Kualitas manusia terbaik adalah mereka yang berkata tetap baik, dan pemberi maaf sekalipun kebaikan mereka dibalas keburukan oleh manusia yang dibantunya.

Allah mengajari kepada manusia untuk berakhlak seperti Allah, yaitu pemberi maaf dan penyantun. Sekalipun tidak seluruh manusia bersyukur kepada Allah atas rezeki yang diberikan-Nya, Allah masih tetap menyantuni dan membuka pintu maaf kepada semua manusia.  Umat Islam yang membaca Al-Qur’an sebagai kitab suci ilmu pengetahuan dari Allah, selayaknya memahami dan menghayati ayat-ayat Allah sampai bisa tampil menjadi manusia-manusia unggul dengan menjadi pribadi-pribadi agung seperti pribadi Rasullullah SAW. Berhati-hatilah pada orang yang kamu bantu! wallahu’alam.

Sunday, April 11, 2021

AGAMA ILMU DUNIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Pendapat mainstream dari sudut pandang sekuler ilmu alam dan sosial dianggap ilmu tentang dunia, dan ilmu agama dianggap ilmu akhirat. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, paradigma berpikir sekuler terus mendominasi pola pikir umat manusia termasuk pemikiran kelompok-kelompok umat beragama. Dengan susah payah para kelompok religius menncoba memasukkan pola pikir keberagamaannya agar cocok dengan paradigma sekuler. Kelompok pemikir ini mencoba mendamaikan agama dengan pemikiran sekuler, sekalipun cara berpikirnya berbelit-belit dan susah dimengerti oleh orang.

Ketika seorang filsuf ditanya bagaimana hubungan antara agama dengan nation building? Agama dianggap tidak bisa dijadikan sebagai faktor pembentuk pola pikir kebangsaan. Katanya, agama adalah urusan pribadi antara manusia dengan Tuhannya, bersifat personal dan tidak bisa dijadikan sebagai dasar berpikir dalam kenegaraan. Ini pola pikir berisiko sebenarnya, karena dengan paradigma seperti ini ketika manusia bernegara maka seluruh warga negara refleksi otaknya tidak berTuhan. Otaknya berisi Tuhan ketika melakukan ritual ibadah. Di luar ritual ibadah Tuhannya kembali hilang dari ingatan. 

Cara pandang sekuler sebenarnya bisa diterapkan dalam bernegara, namun terlalu berbelit-belit cara berpikirnya. Sulit menjelaskannya, apalagi kepada orang-orang awam yang tidak suka belajar berpikir. Daripada memaksakan cara berpikir yang rumit untuk dipahami, sebagai manusia yang pasti dalam otaknya ada Tuhan, seharusnya mengambil cara-cara berpikir yang bersumber kepada ajaran agamanya.  Ajaran agama harus benar-benar berdasar dari kitab suci yang orisinalitasnya dapat dipertanggungjawabkan masih bersumber dari Tuhan. Sangat tidak logis jika manusia menjadikan kitab suci sebagai sumber keberagamaan sementara di dalam kitab suci tersebut ada pemikiran-pemikiran manusia. Jadi ketika umat beragama berkiblat pada kitab suci sementara di dalamnya ada pemikiran-pemikiran manusia maka dia tidak sedang berkiblat pada pola pikir Tuhan tapi pada pola pikir manusia.


Al-Qur’an menawarkan cara berpikir yang mudah dipahami dan dapat dijadikan panduan dalam kehidupan sehari-hari dala berbangsa dan bernegara. Lalu seorang filsuf berbicara, Al-Qur’an tidak bisa dijadikan langsung sebagai car akita berpikir dalam hidup bernegara. Filsuf ini sedang menjadi Tuhan, karena dia mengeluarkan kata larangan bagi seseorang untuk berpikir bersumber langsung kepada kitab suci Al-Qur’an padahal mereka sendiri yang mengusung kata kebebasan berpikir.

Agama adalah ilmu dunia plus akhirat. Dunia tidak dapat dipisah-pisah karena Tuhan menciptakan alam dalam sistem ketersalinghubungan. Benda-benda tidak berdiri sendiri-sendiri, semua benda memiliki eksistensi jika saling berhubungan.  

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (Al Anbiyaa’, 21:30)

Inilah cara berpikir yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an langit dan bumi tidak terpisah. Artinya memahami kehidupan dunia ini tidak bisa dipahami secara terpisah-pisah. Keterpaduan adalah cara berpikir yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an. Prakteknya adalah segala tindakan manusia secara nyata dikendalikan pikiran yang harus bersumber pada petunjuk sebagaimana Allah perintahkan.

dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (Al Baqarah, 2:4)

inilah ilmu dunia yang diajarkan Allah, bahwa bagi manusia-manusia yang beriman kepada Tuhan mereka harus punya pemikiran bahwa hidup dunia akan terus berkesinambungan sampai pada kehidupan akhirat. Kehidupan dunia tidak terputus karena kematian. Tindakan-tindakan manusia di dunia akan mengalami kematian namun pikiran-pikiran akan terus berlangsung sampai akhirat. Untuk itulah yang diadili dikahirat adalah prilaku-prilaku pikiran manusia. Maka dari itu, Rasulullah saw menjelaskan bahwa semua manusia akan diadili berdasarkan niat-niatnya dalam arti pikiran-pikirannya. Semua manusia bertindak berdasarkan apa yang dipikirkannya.

Paradigma pemisahan ilmu umum dan ilmu agama adalah paradigma manusia. Buya Syakur berpendapat Nabi Muhammad saw ketika memerintahkan pada umat untuk mencari ilmu, tidak ada spesifik ilmu apa yang harus dipeajari. Pada saat itu para sahabat belajar ilmu dari Yunani, Parsi, China, karena pada saat itu memang adanya ilmu-ilmu tersebut. Jadi pemisahan ilmu agama dan umum hanya paradigma saja atas dugaan manusia yang tidak berdasar pada pengetahuan dari Al-Qur’an.

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". (Al Baqarah, 2:201).

Begitulah panduan cara berparadigma berpikir sebagaimana Allah ajarkan kepada manusia. Maka dari itu agama yang sumbernya dari Al-Qur’an adalah ilmu dunia. Ilmu yang dapat memandu manusia agar bisa hidup sejahtera di dunia karena diakhirat orang-orang masuk neraka gegara tidak becus hidup di dunia. Wallahu’alam.

Monday, April 5, 2021

RASISME, BODY SHAMING, HARAM

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Perbedaan ras, warna kulit, bentuk tubuh, adalah takdir Allah yang tidak bisa diubah. Sekalipun manusia berbeda-beda bentuk rupa dan warna kulit, Allah mengatakan semua manusia sudah diciptakan dengan bentuk rupa terbaik.

“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At Tiin, 95;04)

Sekalipun pandangan manusia menemukan berupa-rupa wujud manusia, sesungguhnya manusia harus mengikuti pandangan Allah bahwa sesungguhnya manusia sudah diciptakan Allah dengan bentuk yang sebaik baiknya. Inilah pandangan yang mengikuti apa yang Allah kabarkan dalam ayat-ayat Nya.

Atas dasar itu, tidak ada alasan bagi manusia merasa lebih baik karena meihat bentuk. Tidak ada alasan bagi manusia merasa lebih baik karena melihat ras. Tidak ada alasan bagi manusia merasa superior karena keturunan. Juga tidak ada alasan merasa lebih indah karena melihat warna kulit, dan tidak ada alasan merasa lebih sempurna karena melihat bentuk rambut. Dalam ciptaan Allah pada seluruh tubuh manusia tidak ada yang buruk. Sesungguhnya pandangan manusia selalu tertipu oleh rupa dan bentuk, kecuali orang-orang yang berakal sehat.

Allah menentukan ukuran kemuliaan manusia bukan dari bentuk, ras, suku, atau keturunan. Allah adil mengukur kemulian manusia dari sesuatu yang semua manusia bisa melakukannya tanpa biaya, tanpa otot, dan aksesosris benda. Allah melihat kemuliaan manusia dari bagaimana manusia mengasihi kepada manusia lain, terutama kepada kedua orang tua, kepada tetangga, kerabat, orang-orang miskin, yatim piatu, tanpa memandang ras, suku, keturunan dan agama. Kemuliaan manusia dalam pandangan Tuhan adalah manusia yang paling baik karakternya dalam menjalin silaturahmi, dan komunikasi dengan sesama manusia.

Dalam kisah hidup Nabi Muhammad saw, Beliau mengajarkan agama kepada masyarakat Arab dengan kelemah lembutan. Kekerasan dalam menyebarkan agama yang dituduhkan kepada Nabi Muhammad saw, sangat tidak beralasan jika melihat perang demi perang yang dihadapi oleh Nabi Muhammad saw jumlahnya selalu tidak seimbang, antar 1 berbanding 10.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al Hujurat, 49:13).

Ayat di atas adalah argument dari Allah bahwa kemuliaan manusia bukan dari jabatan, rupa, keturunan, rasa, keilmuan, harta kekayaan, atau popularitas. Orang yang mulia dihadapan Allah bisa jadi dari orang berkedudukan, punya kekayaan, berketurunan bangsawan, cacat, tidak punya harta, tidak punya jabatan, pekerja rendah dan bukan dari golongan berilmu. Semua manusia memungkinkan menjadi manusia mulia dihadapan Allah dengan ukuran yang telah Allah tetapkan.

Oleh karena itu, sikap rasisme, merendahkan orang karena meihat bentuk, warna kulit, teknologi, pekerjaan dan kekayaan, adalah perbuatan haram karena sangat menentang kondrat yang Allah tetapkan yaitu semua manusia telah Allah ciptakan dengan bentuk sebaik-baiknya. Untuk itu Allah memerintahkan kepada manusia untuk berlaku lemah lembut, saling mengenal dan bersahabat untuk menjaga kehidupan damai.

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An Nisaa, 04:01).

Inilah ayat ayat pedoman hidup untuk manusia agar manusia hidup sejahtera di dunia dan akhirat. Bagi siapa yang taat kepada Allah, sesungguhnya Allah lah yang akan menjaga kesejahteraan hidupnya. Wallahu’alam.

Sunday, April 4, 2021

RAHASIA KETAMPANAN NABI YUSUF

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Setiap orang pasti terjebak karena selalu membayangkan bahwa ketampanan Nabi Yusuf dilihat dari wajahnya. Untuk itu tidak semua orang bisa tampan seperti Nabi Yusuf. Padahal ketampanan Nabi Yusuf yang hakiki bukan dari wajahnya tetapi dari kepribadiannya. Maka dari itu, semua orang bisa setampan Nabi Yusuf dengan meneladani kepribadian-kepribadian yang dimiliki oleh Nabi Yusuf.

Jika keutamaan Nabi Yusuf dari ketampanan, maka tidak semua orang tampan menarik hati para wanita. Maka dari itu, wanita-wanita baik hanya tertarik pada ketampanan akhlak dari para kaum lelaki. Seperti Khadijah tertarik pada Nabi Muhammad saw bukan karena ketampanan fisiknya sekaipun Nabi Muhammad tampan, namun karena ketampanan akhaknya yaitu kejujurannya.

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (yusuf, 12:23)

Ketampanan Nabi Yusuf yang dapat dimiiki oleh kita adalah kemampuan membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan sebagai mana Allah mengajarkan. Nabi Yusuf menolak ajakan mesum karena ingat kebaikan demi kebaikan yang telah dilakukan oleh majikannya.

Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. (12:47). Ketampanan Nabi Yusuf adalah kemampuannya dalam mengelola investasi modal, aset, bahan pokok, miik negara untuk mempersiapkan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang.

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (12:53). Ketampanan Nabi yusuf terletak pada kemampuannya mengendalikan nafsu yang cenderung pada perbuatan buruk. Kemampuan Nabi Yusuf mengendalikan Nafsunya hingga Beliau tidak tergoda oleh bujuk rayu wanita.

Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (12:55). Selanjutnya, ketampanan Nabi Yusuf teretak pada kepandaian dalam mengelola uang negara untuk kepentingan rakyatnya. Beliau pandai dalam mengadministrasikan, dan mengatur pengeluaran serta pemasukan dengan jelas.

Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: "Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu? (12:59). Ketampanan Nabi Yusuf, Beliau mampu berbuat amanah, memberikan hak bantuan kepada rakyatnya tanpa melihat bagaimana rakyat memperlakukan baik atau buruk terhadap dirinya.

Mereka berkata: "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?" Yusuf menjawab: "Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami". Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik". (12;90). Ketampanan Nabi Yusuf adalah kesabaran dan ketakwaannya kepada Allah dalam menghadapi cobaan demi cobaan yang dialaminya.

Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (12:92). Terakhir, ketampanan Nabi Yusuf adalah ketika membalas keburukan dengan kabaikan sekalipun dia berkemampuan menghukum orang yang mencelakainya. Yusuf tidak memiliki dendam dan membebaskan serta memaafkan kesalahan orang lain dengan balasan yang lebih baik. Wallahu’aam.

Monday, March 29, 2021

MAU SUKSES? PENUHI JANJI!

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Jangan terlalu banyak berjanji, karena kebanyakan manusia berdusta”. (Muhammad Plato). Quote ini berangkat dari kenyataan bahwa janji adalah sesuatu yang berat. Mengapa demikian? Janji biasanya dinyatakan atas sesuatu yang akan kita lakukan di masa yang akan datang. Sedangkan masa yang akan datang kendalinya di luar kemampuan kita. Nabi Muhammad saw dalam hadis mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok. Ini artinya janji yang kita ucapkan sesungguhnya sesuatu yang tidak mampu kita lakukan. Untuk itu berjanji adalah tindakan yang sangat berisiko.

Janji pun termasuk sesuatu yang harus dipenuhi, tidak memenuhi janji termasuk perbuatan dosa dalam arti akan berdampak buruk pada pribadi seseorang. Orang-orang yang tidak punya komitmen pada janji cenderung kurang dipercaya, sehingga berdampak pada aspek kesejahteraan seseorang. Jabatan, pekerjaan, harta kekayaan, dititipkan kepada orang-orang terpercaya.

Menepati janji termasuk bagian dari shalatnya seseorang. Di dalam A-Qur’an (Al Maidah, 05:106) dijelaskan bahwa makna shalat adalah komitmen seseorang terhadap sesuatu yang akan dia tunaikan. Untuk itu, janji yang tidak ditunaikan sama dengan tidak menunaikan shalat.

Nabi Muhammad saw menyampaikan ajaran dari Allah apa bila hendak mengerjakan sesuatu di masa yang akan datang, hendaklan memohon pertolongan kepada Allah, dengan mengucapkan insya Allah. “dan mereka tidak mengucapkan: "Insyaa Allah", (Al-Qalam, 68:18). Kata insya Allah adalah sebuah bentuk penyerahan diri, kerendahan diri, atau permohonan, agar Allah memberi kemampuan untuk menunaikan janji yang hendak dilakukan.

Ketika manusia berjanji ada kewajiban untuk memenuhinya. “Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (Al Baqarah, 2:40).

Sebenarnya peringatan untuk memenuhi janji bukan untuk kepentingan Allah. Sebagaimana Allah mengabarkan bahwa Allah punya ketetapan khusus, hanya kepada orang-orang yang memenuhi janji Allah akan memenuhi janjinya. Oleh karena itu, ketika manusia tidak memenuhi janjinya sebenarnya manusia telah menahan rezekinya, keberkahannya, dan kesuksesannya sendiri. Jadi bagi manusia-manusia berpikir, sebenarnya memenuhi janji bukan untuk kepentingan orang lain, tetapi untuk kepentingan dirinya sendiri. Allah tidak memaksa hanya memberi rambu-rambu kepada manusia untuk memenuhi janjinya. Bagi orang-orang berpikir tentu dapat memahaminya mengapa Allah menetapkan untuk memenuhi janji.  

Allah tidak akan menghukum orang yang tidak menepati janji, hanya konsekuensi logis orang-orang yang tidak menepati janji akan mendapat kesulitan demi kesulitan dalam hidup. Namun demikian bagi orang-orang yang berserah diri, memohon pertolongan, meminta kekuatan kepada Allah dengan ‘Insya Allah” agar bisa memenuhi janjinya, bagi dia tidak ada keburukan karena sebelumnya telah menetapkan diri sebagai makhuk lemah, tidak ada daya upaya dan mengakui semua atas kekuasaan Allah, maka orang-orang tersebut rezekinya sudah ada dalam tanggungan Allah.

 Sumpah jabatan, ikrar, fakta integritas, perjanjian, MOU, adalah janji-janji kita kepada Tuhan. Penuhilah janji-janji mu niscaya Aku memenuhi janji Ku kepadamu. Janji-janji Allah kepada orang yang taat kepada Nya adalah kesejahteran, karir, kesuksesan, kekayaan, kedamaian, ketenangan, ketentraman, kematian yang mudah, mati dalam kebaikan, alam kubur yang menyenangkan dan surga di sisi Tuhan. Bagi orang-orang berpikir, memenuhi janji bukan lagi menjadi beban tetapi menjadi target yang harus dicapai demi untuk mendapat kesejahteraan dari Tuhan YME. Semoga Allah memberi kemampuan kepada siapa saja untuk memenuhi janji-janjinya. Wallahu’alam.

Friday, March 26, 2021

BUMI TEMPAT IBADAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ketika orang menyebut bangunan masjid sebagai tempat ibadah, maka ajaran reduksionisme telah menjadi sudut pandang orang dalam beragama. Ketika bentuk ibadah hanya dikategorikan dengan shalat maka reduksionisme telah digunakan kembali oleh orang beragama dalam memahami kata ibadah.

Pandangan-pandangan reduksionisme ini telah menyempitkan konsep-konsep dalam ajaran agama yang hakikatnya bersifat menyeluruh karena ajaran agama datang dari Tuhan Yang Maha Luas Pengetahuannya tidak sama dengan cara pandang manusia. Ketika manusia sudah memosisikan diri menjadi pemiik-pemilik konsep maka agama menjadi ajaran kerdil yang kadang tidak disukai sesama manusia.  

Konsep ibadah dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada Ku (liya’budun).” (Adz Dzaariyat, 51:56). Konsep ibadah sangat general tidak terbatas pada satu kegiatan tertentu. Kata ibadah menaungi seluruh perbuatan manusia yang dialamatkan sebagai bentuk ketaatan, ketundukan manusia atau jin kepada Tuhan.

Setiap shalat kita selalu membaca, “Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah (wanusuki), hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,” (Al An’aam, 6:162). Beribadah menjadi tujuan Tuhan menciptakan jin dan manusia. Ibadah menjadi ruang besar yang menaungi seluruh aktivitas manusia di muka bumi.

Shalat adalah bagian dari ibadah. Jika ibadah diidentikkan dengan kegiatan ritual shalat maka seluruh aktivitas manusia selain shalat menjadi bukan ibadah. Untuk itu mengkerucutkan makna ibadah ke dalam ritual shalat sama dengan mengkerdilkan ajaran agama, dan menghilangkan makna spiritual kehidupan. Mengkerdilkan makna ibadah hanya dalam bentuk ritual shalat sama dengan menyempitkan bumi yang suci hanya sebatas bangunan-bangunan masjid.

Pemahaman sempit dalam memberi makna ibadah sebatas ritual shalat telah menghilangkan kesucian hidup manusia dan menghilangkan sebagian besar bumi sebagai masjid untuk manusia. Pemahaman ibadah sebagai ritual shalat atau ritual keagamaan telah mengiring manusia menjadi setan-setan ketika berada di luar bangunan masjid. Laut, sungai, gunung, lembah, bukit, pasar, kantor, mall, dan tempat rekreasi menjadi tempat beredarnya suluh neraka. Laut menjadi tempat sampah, sungai tempat pembuangan limbah, gunung jadi tempat ekpoitasi sumber energi, kantor tempat korupsi, sekolah tempat jual beli, pasar tempat monopoli, dan mall tempat pemenuhan hasrat konsumsi. Sedikit sekali orang-orang yang beribadah di dalam bangunan masjid, dan banyak sekali orang-orang di pasar, mall dan tempat-tempat rekreasi.

Ibadah adalah narasi besar tujuan hidup manusia. Shalat hanya bagian kecil dari ibadah. Kita kembalikan kesucian hidup manusia menjadi sebuah peribadatan kepada Tuhan dalam segala aspek kehidupan. Dengan demikian bumi ini menjadi tempat ibadah. Pasar, mall, gunung, laut, sungai, pabrik, kantor, sekolah, di manapun berada jika kita mengingat Tuhan dan berbuat baik dengan jujur ketika di pasar, meindungi gunung, laut, dan sungati, bekerja untuk melayani orang di kantor, belajar mencari ilmu di sekoah, semua adalah ibadah.

Jika manusia berpendangan bahwa seluruh hidup manusia adalah untuk beribadah, maka peribadatan tidak akan hanya terbatas di dalam masjid-masjid, tetapi ketika berada di seluruh muka bumi ini. Jika tujuan manusia diciptakan untuk beribadah maka seluruh bumi ini adalah masjid. Di manapun berada kapan pun, kewajiban manusia adalah berbuat baik. Dengan pemahaman ini, sikap manusia akan menjadi ramah terhadap lingkungan alam dan manusia, karena kegiatan ibadah ada di mana-mana.

Untuk itulah pentingnya membedakan makna ibadah dengan shalat.  Ibadah adalah tujuan seluruh hidup manusia, dan shalat adalah partikel dari unsur ibadah. Jangan mengecilkan makna yang besar dan jangan membesarkan makna yang kecil. Kerusakan di muka bumi ini diawali dari kegagalan manusia dalam memahami hakikat kehidupan.

Jadi bumi ini adalah tempat beraktivitas manusia, dan tujuan hidup manusia adalah ibadah. Maka bumi ini adalah masjid. Sungai adalah masjid. Laut adalah masjid. Gunung adalah masjid. Kantor, sekolah, pasar, mall, jalanan, semua tempat adalah masjid. Untuk itu karena semua masjid, dimanapun kita harus tetap beribadah. Walahu’alam.

Saturday, March 13, 2021

KARAKTER CURANG

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Allah mengabarkan manusia memiliki karakter curang.  Ciri karakter curang dikategorinkan dalam sebuah tindakan dalam sebuah perniagaan. “orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (Al mutaffifiin, 83:3-4).

Kesehariannya karakter ini bisa kita saksikan dalam aktivitas perdagangan. Ketika menjual ingin mengurangi, ketika membeli ingin dipenuhi. Dalam sebuah perjuangan, ketika berkorban ingin sekecil-kecilnya, ketika giliran keuntungan ingin sebesar-besarnya. Dalam dunia kerja, karakter ini juga sering terjadi ketika bekerja ingin seringan ringannya, tetapi ketika merima upah menuntut sebesar-besarnya.  Dalam berkomunikasi, orang selalu ingin mendapat apresiasi tetapi ketika giliran mendengar, orang sering abai pada pendapat orang lain. Dalam bersosialisasi di masyarakat orang selalu menilai prilaku orang lain terlihat salah matanya, tetapi ketika orang lain melihat dirinya tidak ingin dinilai buruk.

Untuk itulah mengapa gibah atau menceritakan keburukan-keburukan orang lain sangat dilarang. Gibah adalah karakter curang yang secara tidak sadar mengaktifkan karakter buruk yang ada dalam diri manusia. Gibah sama dengan karakter curang karena ketika menilai orang selalu salah, dan ketika orang lain menilai dirinya selalu ingin baik. Jika karakter curang ini tanpa sadar terus diaktifkan tanpa disadari kita telah mengukir karakter buruk pada diri kita sendiri.

Di sinilah kecerdasan akal manusia harus terus diasah untuk memehami ayat-ayat Al-Qur’an untuk sampai bisa diimplementasikan sehari-hari. Surat Al Mutaffifii, jarang diungkap secara general yang bisa memandu kita dalam setiap aspek kehidupan. Kebanyakan tafsir surat ini berkaitan dengan dengan perdagangan di pasar saja, padahal jika kita kaji dari ilmu pendidikan, ayat ini bercerita tentang unsur karakter curang yang terdapat dalam setiap pribadi manusia. 

Jadi apa yang dikabarkan Allah dalam Al-Qur’an itulah karakter manusia yang harus dipahami. Karakter curang tidak bisa dihilangkan namun perlu dikendalikan dan dijaga keseimbangannya. Karakter curang adalah perbuatan melampaui batas yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Orang-orang yang melampaui batas adalah yang prilakunya secara nyata curang dan berdampak hingga merugikan orang lain. 

Jadi, karakter curang tidak parsial terjadi pada aktivitas jual beli di pasar. Karakter curang terjadi pada semua aspek kehidupan. Karakter curang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Karakter curang adalah naluri setiap manusia. Karakter ini dikatakan sebagai prilaku puzur yang ada dalam setiap jiwa manusia sempurna. Secara psikologis setiap manusia memiliki potensi berpilaku curang. Sejujur-jujurnya orang pasti ada prilaku curangnya.

Prilaku curang yang sering dilakukan manusia setiap hari adalah menilai orang lain selalu salah dan menginginkan orang lain menilai dirinya benar. Prilaku ini terjadi ketika orang membicarakan keburukan orang lain, ketika orang mengungkap aib orang lain, ketika orang menyebarkan berita tentang keburukan orang lain, dan ketika orang mengampanyekan keburukan orang lain, sementara kita semua tidak ingin keburukan dan kekurangan kita diketahui orang lain. Inilah prilaku curang yang sulit dihindari dalam pergaulan sehari-hari, kecuali orang-orang yang diberi pengetahuan dan menyadarinya.

Para pengkritik jika tidak dibarengi dengan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya, akan bergerak menjadi orang-orang berkarater curang. Jika tidak dikendalikan, para pengkritik akan bergeser menjadi orang-orang yang berkarakter curang karena terlalu fokus pada keburukan orang lain, dan lupa pada kemampuan diri sendiri. Wallahu’alam.