Tuesday, August 16, 2022

CARA MENJADI ORANG BERUNTUNG

OLEH: MUHAMMA PLATO

Keberuntungan adalah kemujuran hidup yang datangnya tidak disangka-sangka. Keberuntungan sering diyakini sebagai suatu keadaan yang tidak semua orang tahu apa sebabnya. Tentang keberuntungan banyak orang mengaitkannya dengan nasib-nasiban. Ada orang dinasibkan beruntung hidupnya ada orang yang kurang beruntung. Keberuntungan menjadi hal yang tidak bisa ditebak, dan kadang menjadi seperti undian. 

Kadang-kadang keberuntungan sering dijadikan alasan orang untuk menghindar dari sikap kerja keras. Keberuntungan juga sering dijadikan alasan oleh orang ketika mengalami kegagalan. Ada juga keyakinan bahwa tidak semua orang memiliki nasib beruntung. Tidak sedikit orang mencari keberuntungan dengan cara-cara mistis takhayul.

Al Qur an menjelaskan siap-siapa saja orang yang akan diberi keberuntungan. Merujuk pada Al Quran kita bisa menentukan siapa orang beruntung dan siapa yang merugi. Keberuntungan tidak ujug-ujug, tetapi ada sebab-sebab yang harus dimiliki agar orang bisa beruntung. Panduannya bisa kita kembangkan dari Al Qur'an. 

Satu-satunya orang yang tidak akan mendapat keberuntungan adalah mereka yang berbuat dosa. Perbuatan dosa adalah prilaku-prilaku tidak produktif dari hal kecil sampai hal besar. Semua peraturan yang baik datangnya dari Allah. Maka sikap dan prilaku yang tidak baik seperti indisipliner, tidak taat pada aturan, malas, melecehkan, tidak taat pada guru, pemimpin, adalah prilaku dosa (bertentangan dengan perintah Allah).  "Sesungguhnya tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa" (Yunus, 10:17).

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Ali Imran, 3:200).

Salah satu penyebab keberuntungan seseorang adalah kesabaran. Kesabaran adalah sebuah tindakan, dalam bentuk gerak pasif atau pun aktif. Kesabaran dilakukan dalam kegiatan-kegiatan positif berdasarkan keyakinan pada Tuhan. Bersabar dalam kebaikan adalah penyebab keberuntungan.

Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (Al Maa'idah, 5:100).

Penyebab keberuntungan kedua adalah mereka yang memiliki kemampuan akal untuk membedakan baik dan buruk tanpa terpengaruh oleh kepentingan-kepentingan pribadi. Akal memiliki kedudukan netral, yang akan membedakan cara pandang seseorang adalah pengetahuan yang dimiliki.

Setiap pengetahuan yang masuk ke dalam memory otak akan jadi pembentuk cara pandang. Sumber pengetahuan dapat dibagi dua, yaitu pengetahuan alam material dan non material (kitab suci). Dominasi pengetahuan alam materi dalam otak akan membentuk cara pandang materialistik. Sebaliknya dominasi cara pandang non material dari kitab suci, akan memebntuk cara pandang mistik.

Cara pandang jalan tengah adalah cara pandang holistik yang menjadikan sumber pengetahuan alam dan sumber pengetahuan non alam (kita suci), saling berkaitan, saling memperkuat dan membawa kepada cara pandang hidup damai dan sejahtera. 

Orang yang akan mendapat keberuntungan bukan yang rajin shalat lupa bekerja, bukan pula yang rajin bekerja lupa shalat. Orang-orang yang beruntung adalah mereka yang rajin shalat dan rajin bekerja. Bagi orang-orang yang rajin shalat mereka akan rajin bekerja karena bekerja bagian dari implementasi sedekah. Inilah tanda bagi orang-orang yang akan mendapat keberuntungan.***


Saturday, August 13, 2022

ORANG SUCI TAKUT PADA ALLAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Rasa takut adalah naluri manusia. Setiap orang memiliki rasa takut. Rasa takut dapat menjadi penggerak seluruh aktivitas manusia. Rasa takut menjadi faktor penggerak manusia kreatif, bekerja, berpikir, dan mencipta. Rasa takut harus dikendalikan menjadi hal-hal produktif, agar manusia bisa hidup sejahtera di dunia dan akhirat. 

Rasa takut bisa lahir karena imajinasi manusia dan segala hasrat manusia. Imajinasi manusia tentang alam dan makhluk-makhluk transenden, bisa jadi penyebab rasa takut manusia. Imajinasi manusia tentang alam melahirkan keganasan alam yang menghancurkan infrastruktur kehidupan manusia. Alam dipersepsi sebagai kekuatan di luar manusia yang bersifat destruktif. 

Imajinasi manusia tentang makhluk transenden, berwujud menjadi makhluk-makhluk dengan wajah mengerikan dengan sifat-sifat yang buruk. Hantu-hantu lahir dalam imajinasi manusia sesuai dengan latar belakang budaya dan lingkungan alam dimana manusia tinggal. Mitologi-mitologi tentang makhluk transenden diciptakan turun-temurun, dan divisualisaskan dalam bentuk gambar-gambar hasil imanjinasi.

Lalu berbagai hasrat manusia untuk memiliki harta, keturunan, perusahaan, perkebunan, kendaraan, pasangan hidup, dan kedudukan, melahirkan rasa takut kekurangan. Rasa takut yang disebabkan hasrat manusia tentang keduniawiaan menjadi penyebab segala tindakan manusia untuk kepentingan-kepentingan pribadi yang cenderung pada duniawi. Persaingan teknologi informasi dan produksi, perang, adalah tindakan yang disebabkan oleh rasa takut kekurangan dengan kencenderungan kepentingan duniawi. 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (Al Baqarah, 2:155).

Rasa takut pada makhluk transenden, melahirkan tindakan-tindakan klenik atau takhayul. Tindakan-tindakan klenik, takhayul, terpelihara dalam sistem budaya masyarakat. Pada masyarakat rasional, budaya takhayul dikemas dalam karya-karya kreatif film horor. Berisi cerita-cerita karya imajinasi, animasi dikemas dengan mengembangkan berbagai teknologi desain grafis dan disebarkan melalui media informasi. Karya-karya film hasil imajinasi dianggap sebagai karya ilmiah, padahal tidak jauh beda dengan cerita kuntilanak dan genderwo yang ada pada masyarakat mistis. 

Dalam persaingan politik, rasa takut dapat diciptakan untuk mengendalikan orang atau bangsa. Islamophobia adalah rasa takut yang diciptakan untuk mengendalikan dan mendeskreditkan sebuah kelompok dengan tujuan-tujuan tertentu. Teror, kekerasan, ancaman, adalah bentuk-bentuk tindakan yang dapat menimbulkan rasa takut. 

Dalam konsep religius, rasa takut dapat menjadi pengendali manusia. Manusia-manusia suci adalah mereka yang takut mendurhakai Tuhannya karena takut pada akibat-akibat buruk dari perbuatannya yang telah ditetapkan Tuhan. Jiwa-jiwa yang kotor adalah mereka yang takut kepada selain Tuhan. 

"Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada adzab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan shalat. Dan barang siapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali" (Fathir, 35:18).

Segala sesuatu telah diciptakan dan ditakdirkan Tuhan. Maka apapun rasa takut yang terjadi di dunia ini, seharusnya menjadi sebab ketakutan kepada Tuhan. Covid 19 terlepas dari berbagai pendapat, dia disebabkan oleh prilaku manusia yang buruk, maka kepada Tuhan kita memohon ampun, dan berbuat sebaik mungkin yang bermanfaat bagi banyak orang untuk mengakhirinya. Murakami (2006) ahli DNA dari Jepang mengakatan jika kita punya kepentingan dalam hidup, jalan terbaik untuk memenuhinya adalah memenuhi kepentingan orang lain. 

Atas dasar kasih sayangnya Allah menurunkan petunjuk jalan hidup kepada manusia. Rasulullah diutus untuk membawa petunjuk hidup berupa kabar baik bagi orang-orang yang takut kepada-Nya. Orang-orang yang takut kepada Allah adalah mereka yang pikiran dan hatinya suci. Sesungguhnya rasa takut yang akan membawa hidup manusia damai dan sejahtera adalah takut kepada Allah.

Maka, orang yang ingin selalu menyucikan dirinya dari perbuatan buruk adalah mereka yang punya rasa takut pada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi orang-orang suci adalah mereka yang punya rasa takut pada Allah dengan menyucikan diri dari perbuatan-perbuatan merugikan orang lain dan perbuatan yang dibenci oleh Allah. Jiwa-jiwa yang kotor adalah mereka yang menciptakan rasa takut untuk keuntungan diri dan golongan, dan menggiring pikiran serta hati orang lain takut kepada selain Allah. Iblis adalah makhluk yang selalu hadir dalam imajinasi manusia, untuk membelokkan rasa takut manusia pada selain Allah.***


sumber:

Murakami, K. (2006). The Divine Message of DNA. Mizan Pustaka.

Wednesday, August 10, 2022

PSIKOLOGI MEMBANGUN HARAPAN MENURUT AL QURAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Dunia pendidikan adalah upaya membangun harapan. Melalui pendidikan orang harus punya harapan bisa hidup lebih sejahtera. Pendidikan yang berbasis pengetahuan ajaran agama, cita-cita kebahagiannya tidak hanya di dunia, tetapi berkelanjutan dengan kesejahteraan hidup di akhirat. Inilah salah satu keuntungan jika pendidikan menggunakan sumber pengetahuan dari ajaran agama.

Membangun harapan adalah upaya pendidikan dalam membangun mental optimis. Untuk itu dalam dunia pendidikan tidak boleh ada kata-kata negatif yang bisa mematikan harapan siswa. Guru-guru harus mengajari cara-cara berkomunikasi positif, sehingga dalam kondisi apapun siswa tetap harus punya harapan positif.

Shalat Dhuha 12 Rakaat adalah tindakan yang akan melahirkan harapan.
Harapan abadi karena digantungkan pada Allah.

Kata-kata positif bisa dilatihkan pada siswa dengan mengawali pembelajaran dengan kegiatan berdoa bersama dan ceramah-ceramah motivasi setiap hari. Al Quran mengabarkan bahwa bagi orang-orang yang berpikirkan positif kata-kata yang keluar dari mulutnya semuanya kata-kata bernilai positif.  

"Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta" (An Naba', 78:35). Inilah gambaran dari lingkungan pendidikan. Semua perkatan harus dibiasakan perkataan-perkataan yang mengandung harapan baik. Setiap perkataan dalam lingkungan pendidikan harus mengandung kabar baik. "Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik". (Al Hajj, 22:37).

Agar para siswa selalu punya pikiran dan keyakinan hati yang postif, mereka harus dilatih untuk melakukan hal-hal baik setiap hari. Gerakan doa bersama untuk siswa muslim dan non muslim menjadi latihan otak untuk selalu bermental positif. Gerakan doa bersama bagi yang muslim, diawali dengan gerakan shalat dhuha 12 rakaat, dan non muslim dalam kegiatan doa harian.

Gerakan doa bersama, melalui shalat dhuha 12 rakaat dan doa harian untuk non muslim, sebuah tindakan baik yang akan terus memandu siswa setiap hari tetap opitmis. Secara psikologis, optimisme lahir setelah kita melakukan tindakan-tindakan baik. Sebaliknya pesimisme akan muncul jika tindakan-tindakan kita tidak baik. 

Al Quran memandu kita bagaiaman agar selalu punya harapan baik. "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (Alam Nasyrah, 94:7-8). Pada hakikatnya semua yang diprogramkan dalam dunia pendidikan dalam upaya membangun harapan-harapan baik. Dan sebaik-baiknya harapan harus digantungkan kepada Tuhan. Karena Tuhan Abadi, maka harapan-harapan siswa yang digantung kepada Tuhan akan abadi. Para siswa akan tampil menjadi generasi-generasi optimis tanpa batas, pantang menyerah, dan pantang pustus asa.*** 


Sunday, August 7, 2022

JIKA MUSLIM SUMBER BERPIKIRNYA AL QURAN TIDAK AKAN KONFLIK

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Konflik pertama yang terjadi di muka bumi adalah antara Habil dan Kabil. Penyebab konflik kedua umat manusia ini terbagi dalam dua kategori, manusia yang satu berserah diri kepada Allah, dan manusia yang satu lagi mengikuti hawa nafsunya. Sejarah dua umat manusia ini dicatat dalam Al Quran.

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa" (Al Maidah, 5:27). 

Penyebab terjadinya konflik adalah manusia-manusia yang cenderung membawa hawa nafsunya sendiri. Mereka berpikir dengan hawa nafsunya yang cenderung ingin selalu menang sendiri, selalu ingin menjadi yang terbaik, dan merasa dirinya paling benar. Ucapan-ucapannya selalu menyalahkan dan menyesatkan orang lain. Menyalahkan dan menyesatkan orang lain, berarti dia telah merasa diri menjadi sosok paling benar, sementara kebenaran mutlak milik Allah dan hak Allah untuk menghakiminya kelak di akhirat. Orang-orang ini digambarkan sebagai manusia yang menuhankan dirinya sendiri, seperti jejak langkah Fir'aun yaitu generasi Kabil.

Tugas Pendidikan Melahirkan Generasi Sabar dengan Keyakinan Pada Allah
Sebagai Tempat Bergantung Segala Makhluk

Nabi Muhammad adalah Rasul yang diutus untuk menyampaikan kebenaran dan menyempurnakan akhlak. Dalam menjalankan tugasnya Nabi penuh dengan kelembutan dan selalu menjadi suri teladan dalam membalas keburukan dengan kebaikan, sabar, memudahkan dan tidak menyulitkan. 

Dan manusia-manusia penyebab damai adalah mereka yang berusaha keras untuk berserah diri kepada Allah. Manusia-manusia penyebab damai adalah mereka yang menyerahkan segala kerja kerasnya atas petunjuk Allah, dan hasilnya pun mereka berserah diri kepada Allah.  

Tidak ada konflik dalam hati dan pikiran orang-orang yang berserah diri kepada Allah. Dalam melaksanakan tugasnya seperti apa yang dilakukan Nabi Muhammad, hanya menyampaikan kebenaran dari Tuhan Semesta Alam. "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas". (Yasin, 36:17). 

Kesabarannya dalam menyampaikan kebenaran tidak ada batasnya. Orang-orang yang berserah diri kepada Allah meyakini bahwa kesabaran akan selalu mendatangkan kebaikan. Kesabaran selalu menjadikan akhlaknya menjadi lemah lembut. Kesabaran akan menjadikan dirinya tetap optimis dan kreatif dalam menjalani kehidupan. Orang sabar beriman kepada apa yang diajarkan Allah.

Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (Al 'Araaf, 7:87). 

Doa-doa yang terucap dari mulut seorang muslim selalu mendoakan keselamatan untuk seluruh umat manusia. Seorang muslim tunduk dan patuh kepada Allah. Segala tindakannya yang diatasnamakan pada Allah selalu membawa kesejahteraan dan kabar baik untuk umat. Sebagaimana Allah berfirman:

Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa". (Al 'Araaf, 7:128).

Bagi seorang muslim, jaminan dari Allah terhadap orang-orang sabar sudah mendamaikan hatinya. Tugasnya di dunia tiada lain hanya menyampaikan kebenaran dan mendoakan semoga keberkahan dari langit dan bumi menimpa orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah.

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (Ar Ra'ad, 13:22).

Seorang muslim bermental kuat dan kekuatan itu hanya datang dari Allah. Dia meminta tolong kepada Allah dengan shalat dan sabar, menafkahkan sebagian rezekinya, untuk menolak kejahatan dengan kebaikan. Walalhu'alam.***


KAUM GENERALIS PEMERSATU UMAT

OLEH: MUHAMMAD PLATO 

Secara tidak sadar sebenarnya hidup kita sekarang sedang mewarisi budaya konflik dari umat terdahulu. Collingwood & Collingwood (1994) berpendapat, “the past survives in the present” artinya ada hubungan antara masa lalu dengan masa sekarang. Umat yang hidup sekarang adalah warisan dari masyarakat zaman dahulu. Sekarang dan masa lalu seperti dua sisi dari mata uang yang tidak terpisahkan.

Untuk memahami apa yang terjadi sekarang manusia harus belajar dari masa lalu. Jadi masa lalu bukan sekedar pengetahuan fakta, tapi pengetahuan tentang nilai-nilai hidup untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Belajar dari sejarah merupakan bagian dari perintah Allah.

Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa (Fathir, 35:44).

Tujuan Kita Sama Bekerja Sungguh Sungguh
Menuju Tuhan Yang Esa

Berjuta-juta tahun yang lalu, karakter manusia itu bisa dibaca dengan belajar sejarah. Bangsa-bangsa yang merasa kuat pada akhirnya akan binasa karena prilaku manusia itu sendiri. Sebagaimana kuatnya sebuah bangsa, dia sifatnya hanya sementara. Hal itu sudah menjadi hukum sejarah atau takdir Tuhan.

Konflik antar umat beragama sudah terjadi sejak dahulu. Orang-orang yang taat pada Allah dalam ajaran agama tidak perlu khawatir dengan usaha-usaha jahat dari kalangan manusia. Bumi Allah sangat luas maka berhijrahlah dijalan Allah. 

Sejak dahulu konflik terjadi karena perbedaan pendapat. Memperhatikan pola pikir cara orang beragama saat ini, dapat disimpulkan menjadi dua pendekatan. Pertama spesialis dan kedua generalis. Kelompok spesialis adalah kelompok yang memahami agama dengan pendekatan tahapan-tahap hukum fiqih yang telah dikembangkan para pemikir agama terdahulu.

Kelompok spesialis yang memahami hukum-hukum agama berangkat dari kesadaran untuk menjaga kemurnian ajaran agama. Seiring dengan waktu, pendekatan spesialis menjadi dominan. Dominasi kaum spesialis melahirkan kekakuan-kekakuan dalam menyikapi perkembangan zaman, seiring dengan produk-produk hukum lama terus dipertahankan mengacu pada teks sunnah. 

Kelompok kedua adalah kaum generalis, kelompok kreatif yang cepat beradftasi dengan perubahan zaman. Kelompok generalis cenderung berpikir adaftif. Kelompok generalis menjadikan teks sunnah sebagai dasar pijakan pemikiran analogis. Pada pelaksanaannya dua pendekatan ini tidak bisa bertahan sendiri-sendiri.

Tidak ada yang benar 100 persen, karena Allah menciptakan manusia sempurna dengan dua potensi yaitu salah dan benar. Egoisme nafsu manusialah yang sering membuat pertikaian. Para pemikir spesialis dan generalis seperti pertentangan masalah bumi bulat atau datar. Dua-duanya punya argumen yang masuk akal namun kebenarannya hanya milik Tuhan Pencipta Alam.

Pemikir spesialis dan generalis harus menyadari tujuan bersama yaitu menyejahterakan umat manusia di muka bumi dan akhirat. Itulah yang bisa mempersatukan kita semua. Selain itu untuk menyatukan visi bersama, maka pemikir spesialis dan generalis harus sepakat untuk menjadikan kitab suci Al Quran sebagai sumber dan petunjuk berpikir. 

Al Quran sebagai ayat qauliyah dijadikan sebagai dasar untuk memahami ayat-ayat kauliah di kejadian alam dan fenomena sosial. Hakikatnya semua manusia sedang bergerak menuju Allah. Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya (Al Insyiqaaq, 84:6).

Berbantah-bantahan atas dasar pemikiran akal manusia adalah hal sia-sia. Sekalipun pikiran berbeda, namun dalam langkah kita harus menuju tujuan yang sama yaitu menuju keridhaan Allah. Apapun pemikirannya tujuan hanya untuk menuju Allah dengan berlomba-lomba berbuat kebaikan antar sesama umat manusia. Al Quran adalah kitab general petunnjuk berpikir untuk umat manusia.*** 

 

SETIAP ORANG MENGGUNAKAN PIKIRANNYA SENDIRI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Tidak ada yang bisa melarang setiap orang untuk berpikir. Larangan berpikir bertentangan dengan kodrat manusia sebagai makhluk berpikir. Melarang manusia berpikir sama dengan pemaksaan terhadap kodrat setiap orang. Melarang berpikir sama dengan menentang perintah Allah yang berkali-kali mengajak kepada seluruh manusia untuk berpikir. 

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (Al Baqarah, 2:44).

Ketika seseorang memutuskan untuk menerima atau menolak sebuah pemikiran tentunya dengan pikirannya sendiri. Pada saat adzan berkumandang, apakah dia mau langsung shalat atau menantikannya, berdasarkan pada pemikirannya sendiri. Ketika seseorang memutuskan untuk berbuat baik atau menolak kebaikan, berdasarkan pada pemikirannya sendiri. 

Ketika datang seorang penipu merayu seseorang untuk membeli barang hasil curiannya, keputusannya berasal dari keputusan dari pemikirannya sendiri. Ketika Nabi Adam dirayu Iblis untuk memakan buah khuldi, maka Nabi Adam memakan buah khuldi karena hasil keputusan pemikirannya sendiri. Untuk itu Nabi Adam bertobat kepada Allah dengan tidak menyalahkan Iblis.

"Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi" (Al A'raaf, 7:23).

Setiap orang bertindak, berprilaku, berdasarkan keputusan pikiran dan hatinya. Di akhirat kelak semua diadili sendiri-sendiri, karena setiap orang bertindak dari hasil keputusan pemikirannya sendiri-sendiri. Untuk itu Allah menurunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dalam berpikir. 

Pembelajaran dengan keterampilan berpikir bukan karena sekarang ada di abad 21, tetapi karena keterampilan berpikir adalah subtansi dasar dari pendidikan. Apapun mata pelajarannya, siswa harus diajari tentang kemampuan berpikir. Pendidikan agama, sejarah, sosiologi, matematika, fisika, semuanya melatih manusia berpikir. 

Ketika terjadi perbedaan keyakinan, perbedaan pendapat, semuanya berawal dari perbedaan pemikiran. Faktor penyebab terjadinya perbedaan pemikiran dilatarbelakangi oleh perbendaharaan pengetahuan. Sumber pengetahuan dasarnya dua yaitu dari pengetahuan alam (kauniah) dan pengetahuan kitab suci Al Quran (Qauliyah). 

Dalam kenyataannya, sebagian besar orang mendapat pengetahuan dari Kauniah, dan sedikit sekali pengetahuan dari sumber Qauliyah. Pemikiran-pemikiran dalam sumber Kauniah melahirkan aliran pemikiran materalistik. Jadi kesalahan berpikir terjadi karena manusia terlalu fokus pada pengetahuan Kauniah, dan sangat miskin pengetahuan Qauliyah.

Kemiskinan pengetahuan Qauliyah salah satunya disebabkan oleh doktrin larangan berpikir yang berujung pada stagnasi orang untuk menggali pengetahuan-pengetahuan Qauliyah dalam menyelesaikan masalah-masalah di alam. Metode membaca Al Quran cenderung pada belajar tajwij, sangat kurang keberanian untuk mendalami, menyelamai, memikirkan, kandungannya.

Maka alih-alih melarang orang memikirkan isi Al Quran menurut pikirannya sendiri, sebaliknya harus dianjurkan kepada semua orang untuk menggali berbagai pengetahuan Al Quran sebagai bahan berpikir untuk menyelesaikan masalah-masalah pribadi seseorang. Diakhirat setiap orang akan diadili sendiri-sendiri. Orang-orang yang belajar memikirkan isi Al Quran pahalanya tinggi. Wallahu'alam.***


Saturday, July 30, 2022

SETIAP ORANG ADA KARAKTER FIR'AUNNYA

Oleh: Muhammad Plato

Setiap orang ada Fir'aunnya. Kisah Fir'aun yang dikabarkan dalam Al Quran bukan hanya sebagai sosok manusia yang pernah hidup di muka bumi, tetapi sebagai karakter manusia. Allah menjelaskan secara nyata dengan memberi contoh kisah bagaimana sifat fujur (buruk) yang ada pada manusia. Salah satunya manusi berkarakter Fir'aun. 

Karakter Fir'aun selalu ada pada setiap diri manusia. Jadi Fir'aun bukan menceritakan prilaku manusia zaman dahulu kala, tetapi sedang menceritakan karakter manusia yang hidup sekarang termasuk saya dan anda. Jadi ketika Al Quran berbicara tentang Fir'aun, Al Quran sedang berbicara tentang saya dan anda.

Apa sesungguhnya karakter Fir'aun yang pasti ada pada setiap manusia? Karakter Fir'aun yang pasti ada adalah egois. Sifat-sifat yang menjadi ciri sebagai seorang individu. Kisah Fir'aun dalam Al Quran mengabarkan sebuah kisah bagaimana sifat keegoan manusia yang melampaui batas kewajaran. Maka dikatakan dalam Al Qur'an, Fir'aun adalah manusia berdosa karena melampaui batas.

Dalam diri setiap orang ada karakter Fir'aunnya, maka
Allah memimpin manusia supaya takut kepada-Nya

"Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," (An Naazi'aat, 79:17). 

Kisah tentang Fir'aun bukan berarti hanya terjadi sekali di masa lalu. Secara historis fakta kisah Fir'aun hanya terjadi sekali di masa lalu, namun secara generalis kisah Fir'aun akan berulang sampai akhir zaman. Karakter Fir'aun yang akan berulang dalam setiap rezim atau zaman yaitu karakter berkuasa hingga menghilangkan kekuasaan Tuhan. Dalam setiap zaman selalu pasti ada manusia-manusia yang berperan sebagai Fir'aun dengan gonta-ganti nama tokoh.

Inilah karakter Fir'aun yang ada pada diri manusia dalam kehidupan keluarga maupun negara. "Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang. Maka dia mengumpulkan lalu berseru memanggil kaumnya. berkata: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi". (An Nazaazi'aat, 22-24).

Sifat merendahkan orang lain, merasa benar, merasa berkuasa, ada pada setiap diri manusia. Perkelahian, pertengkaran, perselisihan, kedengkian, kebencian, bersumber pada karakter Fir'aun yang dominan muncul pada diri seseorang. Kisah Fir'aun menggambarkan bagaimana egoisme manusia yang telah melampaui batas hingga merasa dirinya sebagai Tuhan sebagai penentu segala kehidupan manusia. 

Untuk itu setiap zaman selalu ada manusia-manusia yang akan mengingatkan setiap orang untuk menyampaikan pengajaran-pengajaran agar manusia menyucikan diri dari sifat-sifat Fir'aun. "dan katakanlah: "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar." (An Naazi'aat, 79:18-20). 

Proses penyucian jiwa untuk meredam karakter Fir'aun dalam diri manusia adalah dengan beriman dan mempelajajari ayat-ayat Allah, menemukan kebenaran dan beserah diri kepada Allah dengan rasa takut melalui shalat dan sedekah. Wallahu'alam.***


Saturday, July 2, 2022

Al Quran Berbicara Big Data

Oleh: Muhammad Plato

Dalam pandangan integralis, apa yang terjadi dalam fenomena zaman saat ini tidak terpisah dari apa yang dijelaskan di dalam Al Qur'an. Konsep big data mulai dikenal setelah teknologi internet diterapkan dalam alat komunikasi media sosial. Jumlah pengguna internet semakin hari semakin bertambah. Data terakhir yang pernah penulis dengan adalah 4,2 miliar manusia di dunia sudah terkoneksi internet dari jumlah total 7 miliar lebih jumlah manusia yang ada di muka bumi. Saat ini mungkin datanya sudah berubah. Faktannya adalah hampir tiga perempat jumlah manusia di dunia sudah terkoneksi internet. 

Para pengunan internet bisa berkomunikasi dengan memanfaatkan aplikasi-aplikasi media sosial yang dimiliki secara privat dalam bentuk perusahaan swasta. Jadi saat ini pemilik data penduduk bukan lagi dimonopoli oleh pemerintah, tetapi oleh perorangan dalam lembaga swasta pemilik aplikasi media sosial. Saat ini, pemilik kerajaan, atau negara, bukan lagi dominan lembaga negara, tetapi terpolarisasi pada pemilik big data. Para pemilik big data yang real time adalah sektor swasta. Kekuatan pemerintah benar-benar hanya dalam tataran regulasi. 

Para pemilik big data kalangan swasta menjadi sangat berkuasa. Mereka bisa mengendalikan opini dan memengaruhi kebijakan negara. Mereka bisa mengendalikan pikiran orang dengan regulasi yang mereka ciptakan sendiri dalam media komunikasi yang mereka miliki. Pemilik big data bisa menghapus peta negara skehendaknya dari peta dunia. Sepertinya dengan kehadiran para pemilik big data, kita tidak berdaya. Di pengadilan dunia para pemilik big data mereka merasa bisa mengendalikan keinginan sekehendak, karena merasa sebagai pemilik big data. 

Melalui big data mereka bisa memprediksi siapa yang potensial jadi presiden. Prediksinya bisa sangat akurat karena jumlah data yang mereka gunakan sangat besar. Melalui big data mereka bisa mengambil keputusan akurat tanpa diketahui orang banyak. Para pemilik big data seperti tuhan-tuhan yang berkuasa.

Namun demikian pemilik big data sesungguhnya adalah Allah. Di dalam Al Quran Allah menjelaskan bahwa seluruh catatan miliaran prilaku manusia sudah tercatat. Sepeninggal Nabi Muhammad, kurang lebih 1400 tahun yang lalu sudah berbicara big data. 

"Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah, kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis." (Al Mutaffifiin, 83:7-9). Kitab big data sijjin berisi catatan-catatan kecurangan manusia. 

"Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang berbakti itu (tersimpan) dalam `Illiyyin. Tahukah kamu apakah `Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, (Al Mutaffifiin, 83:18-20). Kitab big data 'Illiyyin menyimpan data orang-orang yang berbakti.

Pantas saja Allah bisa mengungakap skandal-skandal kecil dan besar setiap orang dengan teliti dan adil karena bisa membeberkan setiap prilaku orang semasa hidup di dunia. Semakin panjang usia seseorang semakin panjang catatan hidup mereka selama di dunia. Dari sini kita bisa menyimpulkan siapa orang-orang paling beruntung, mereka yang diberi catatan big data 'Illiyyin. Siapa yang merugi, mereka yang diberi catatan big data Sijjin. Jika begitu kualitas hidup manusia tidak dipandang dari panjang pendeknya umur, juga tidak dipandang berkedudukan dan tidak berkedudukan di dunia. Sangat mengerikan semua catatan skandal-skandal manusia, rencana-rencana jahat manusia tercatat dalam big data Sijjin. 

Artinya kehidupan dunia ini bukan masalah menguasai big data atau tidak. Pengendali dunia saat ini bukan di pemilik big data di internet. Pemilik big data sesungguhnya adalah Allah, yang sudah mencatat segala prilaku hidup manusia dalam sebuah kitab bernama Sijjin dan 'Illiyin. Sudah jelas sekali perlombaan hidup di muka bumi ini adalah mencatatkan rencan-rencana dan tindakan-tindakan baik apa yang akan kita lakukan. 

Para pemilik big data di internet jika mereka mengunakan big data yang mereka untuk kejahatan, penindasan, dan ketidakdilan, maka mereka sedang berhadapan dengan prilaku hidup yang penuh dengan risiko. Mereka akan mendapat pengadilan yang adil dari pemilik big data yaitu Allah. Bagi para pemilik big data yang menggunakannya untuk mensejahterakan umat manusia, dan menciptakan keadilan dan perdamaian, dialah manusia paling beruntung di muka bumi ini. Mereka akan mendapatkan catatan amal bakti dengan diserahi kitab "Iliyyin. 

Janji Allah untuk para pemilik big data yang menggunakan data untuk kebajikan, mereka akan mendapat kenikmatan abadi di sisi Allah. "Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam keni'matan yang besar (surga)" (Al Mutaffifiin, 83:22).***

Saturday, June 25, 2022

AGAR KITA TIDAK DIKENDALIKAN PASAR

Oleh: Muhammad Plato

Menurut dasar teori ekonomi pasar, terciptanya harga terjadi karena banyaknya permintaan dan sedikitnya penawaran maka harga turun. Sebaliknya sedikitnya permintaan dan banyaknya penawaran, maka harga turun. Ini adalah konsep dasar dari terciptanya turun naik harga.

Naik dan turunnya permintaan dan penawaran disebabkan apa? Hal inilah yang dapat diolah dan dimainkan oleh manusia. Harga pasar bisa dikendalikan sesuai dengan keinginan. Orang yang bisa mengendalikan harga pasar syaratnya punya kekuatan modal besar, atau persekutuan dari orang-orang yang punya modal besar.

Sebuah harga saham bisa dikunci pada harga tertentu, kemudian harga bisa dipompa naik dengan berbagai isu dan kebijakan, kemudian setelah mengalami kenaikan signifikan, pemilik modal akan menjual saham di hargai tertinggi, dan akan terjadi kepanikan karena harga melorot turun. Begitulah strategi pengendalian harga oleh pemilik modal besar. 

Dalam kehidupan sehari-hari harga pasar dipengaruhi dua faktor, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal diawali dari kebutuhan, emosi, dan fantasi. Harga pasar bisa meningkat karena meningkatnya kebutuhan dasar masyarakat seperti makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal. Meningkatnya kebutuhan dasar bisa terjadi karena jumlah penduduk bertambah, dan prilaku hidup berubah.

Meningkatnya kebutuhan bisa juga diciptakan dengan memengaruhi emosi masyarakat. Untuk mengendalikan emosi masyarakat biasanya menggunakan iklan. Jadi iklan bukan hanya memperkenalkan produk, tetapi didalamnya mengandung unsur-unsur untuk mengendalikan emosi seseorang. Emosi yang diciptakan bisa rasa takut, benci, fanastisme, khawatir, tergesa-gesa, dan kesenangan. 

Ketakutan dan kesenangan adalah emosi manusia yang bisa dengan cepat merubah harga. Pandemi Covid-19 adalah cara cepat meningkatkankan harga pasar. Pandemi Covid-19 merupakan contoh bagaimana cepatnya masyarakat mengenalkan zoom sebagai media komunikasi untuk memfasilitasi kegiatan belajar, rapat, dan bekerja dari jarak jauh. Ketakutan yang diakibatkan pandemi Covid-19 telah berhasil dengan cepat mengubah mindset masyarakat untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam berbagai bidang.  

Para pelaku ekonomi dapat menggunakan agama untuk menciptakan pasar. Isu terorisme berbasis agama dapat menciptakan pasar. Senjata, radar, alat pendeteksi bom, sistem keamanan, bisa jadi komoditas yang ditawarkan pada isu terorisme. Ketika isu terorisme sudah jenuh, maka para pengendali pasar akan menciptakan isu-isu baru yang bisa memunculkan ketakutan.

Isu-isu penting di dunia sekarang bisa diketahui dengan bantuan big data, yang dikumpulkan dari data prilaku manusia di internet. Pemilik big data adalah pemilik teknologi informasi. Isu akan diolah dan diterapan dalam berbagai aspek kehidupan untuk menciptakan pasar-pasar baru. 

Agar hidup kita tidak dikendalikan pasar, dimanapun kita berada, diwilayah apapun, kita harus belajar terus menendalikan emosi. Seperti di pasar saham, banyak orang bangkrut uangnya habis karena tidak bisa mengendalikan emosi. Alat pengendali emosi adalah melatih kompetensi sabar. Kompetensi sabar bisa dilatih dengan mengendalikan hasrat pada kehidupan dunia.

Sikap tergesa-gesa ditandai sebagai prilaku yang cenderung merugikan. Kompetensi sabar juga harus didukung oleh kemampuan literasi tinggi, dan kemampuan berpikir logis untuk mengendalikan segala keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan logis berdasarkan pembendaharaan pengetahuan. Sebagaimana kita saksikan, kualitas kesabaran manusia sangat berkaitan dengan keluasan dan kedalaman kelimuan yang dimiliki seseorang. Semakin tinggi keluasan dan kedalaman keilmuan seseorang semakin teruji kualitas kesabarannya. 

Jadi dapat dipastikan bahwa manusia-manusia dengan pengetahuan sempit, dan dangkal hidupnya sangat mudah dikendalikan oleh pasar. Untuk itu teori-teori pemasaran saat ini dikembangkan dengan pendalaman ilmu psikologi dan emosi manusia dilihat dari budaya, pola pikir, dan usia. Pengajaran budaya baca di sekolah-sekolah untuk wilayah Asia perlu terus ditingkatkan, agar kelak bisa berkontribusi menjadi pengendali dan penyeimbang pasar.*** 

Sunday, June 19, 2022

SEBENARNYA PENDIDIKAN MELATIH DUA KEKUATAN PADA JIWA

Oleh: Muhammad Plato

Pendidikan adalah upaya sadar kita bersama untuk mengendalikan manusia menjadi manusia-manusia baik dan bermanfaat bagi manusia lain. Sederhananya pendidikan adalah mengelola dua potensi yang ada pada diri manusia. Dua potensi itu dikemukakan di dalam Al-Quran.

"dan jiwa (nafs) serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya" (Asy Syam, 91:7-10). 

Di dalam jiwa manusia ada dua potensi yang harus dikendalikan yang kefasikan dan ketakwaan. Allah memerintahkan pada manusia untuk bertakwa. Pengertian takwa secara umum adalah menghindari perbuatan-perbuatan buruk dan melaksanakan perbuatan-perbuatan baik.

Jika kita bandingkan, dua potensi ini dijelaskan oleh beberapa ilmuwan dalam berbagai macam rupa. Erich Fromm (1986) membagi dua kekuatan ini dengan konsep bhiopilia dan necrophilia. Bhiopilia adalah potensi yang bersifat pemelihara dan kasih sayang. Necrophilia adalah potensi-potensi yang bersifat merusak. 

Fritjop Capra (2002) menjelaskan dua kekuatan berdasarkan kajian kepercayaan China yaitu yin dan yang. Capra menjelaskan kekuatan yin dipersepsi sebagai sifat kooperatif, damai, dan yang sebagai sifat kompetitif, konflik. 

David R. Hawkins membagi dua kekuatan dengan power dan force.  Power dikaitkan dengan kekuatan lemah lembut, dan force dikaitkan dengan kekuatan keras, pemaksaan. Manusia untuk mencapai tujuan hidupnya mengguanakan dua kekuatan ini. Power meruapkan kekuatan dahsyat, dibandingkan dengan force. Peperangan adalah bentuk dari force, dan diplomasi, perundingan, adalah bentuk dari power.

Untuk menfasirkan apa itu dua potensi jiwa dalam diri manusia, kita bisa pakai pendekatan sistem yang dikembangkan oleh Capra. Pemahaman Capra dua kekuatan di dalam tubuh manusia bukan kekuatan baik atau buruk. Tapi sebagai dua kekuatan seperti positif negatif dalam arus listrik yang harus dikolaborasikan. Jadi dua kekuatan yang ada pada diri manusia, adalah energi gerak yang keseimbangannya harus dijaga. 

Sifat fujur orientasi duniawi dan sifat takwa orientasi akhirat, harus bergerak seimbang menjadi gerak kehidupan. Sebagaimana Allah menciptakan seluruh ciptaannya dengan takdir baik, maka keberadaan dua potensi yang ada pada diri manusia adalah potensi baik. Untuk itu pemaknaan hidup ini sangat tergantun pada persepsi kita. 

Pada dasar naluri manusia ada perasaan suka dan tidak suka, itu karena persespi dan keterikatan manusia pada dunia. Maka jika manusia bisa membebaskan diri dari keterikatan dunia, sikap suka dan tidak suka itu tidak akan ada. Sikap suka dan tidak suka tidak akan ada karena sudah punya persepsi semuanya berjalan untuk kebaikan. 

Maka totaliter pada kehendak Tuhanlah yang akan menyelamatkan hidup manusia. Pada faktanya hidup manusia ada pada sisi suka dan tidak suka, namun absolut yang tidak boleh ditinggalkan manusia adalah tetap bergantung pada Tuhan, memohon agar seluruh kehidupannya diberi kebahagiaan baik di kala sempit maupun lapang, dikala fujur maupun takwa, dan seterusnya.***

 


Saturday, June 18, 2022

DISKUSI BUMI BULAT ATAU DATAR JANGAN BERSELISIH

Oleh: Muhammad Plato

Diskusi bumi bulat atau datar? Berbadad-abad terus terjadi hingga saat ini higga terpolarisasi menjadi dua kelompok saling berseteru. Masing-masing mengklaim bumi bulat atau datar. Keduanya memiliki fakta-fakta yang bisa dipahami akal dan dapat dibuktikan secara empiris. Akhirnya kedua kubu terseret pada situasi saling hujat dan saling menyalahkan, saling sesat menyesatkan dan tidak ada ujungnya. 

Tentang bumi bulat atau datar sebenarnya masalah persepsi dari sudut mana orang memandang. Seperti orang melihat fatamorgana. Dari sudut tertentu benda terlihat ada, tetapi dari sudut tertentu tidak ada. Pembuktian keberadaan benda-benda langit terus terkuak seiring dengan kemampuan teknologi manusia untuk mengetahuinya. 

Yang mana yang benar bumi bulat atau datar? Jika kita menangkap pesan dari Al-Qur'an, sesungguhnya perdebatan ini harus dihindari, jangan dibesar-besarkan. Perdebatan akan jadi kontraproduktif, dan pekerjaan sia-sia karena mendiskusikan sesuatu yang memang masing-masing diberi hak memahaminya dari sudut pandang masing-masing.

Allah melarang berdiskusi tentang hal-hal yang mengundang perdebatan tiada ujung tersirat di dalam Al-Qur'an. "Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui" (An Naba, 78;5).

Diskusi tentang bumi data atau bulat adalah diskusi tentang benda besar. Perselisihan tentang benda-benda besar pembuktiannya membutuhkan teknologi yang bisa melihat secara utuh benda itu seperti bola atau nampan. Pada akhirnya kita akan mengetahuinya apakah bumi itu bulat atau datar, tidak perlu berselisih. 

Di dalam Al-Qur'an Allah memang ada menggambarkan eksplisit bahwa bumi itu hamparan. "Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? (An Naba, 78:5). Dari ayat ini orang menyangka bahwa Al-Qur'an pro pada pendapat bahwa bumi datar. 

Namun di ayat lain Al-Qur'an memberitakan bahwa telah terjadi pergantian antara siang dan malam. Hal ini membuat nalar orang bisa membenarnkan bahwa bumi itu bulat. "dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan," (An Naba, 78:10-11).

Silih bergantinya siang dan malam sangat memungkin terjadi jika bumi ini bulat. "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang" (Al Baqarah, 2:164). Jadi, Al-Qur'an mengajarkan kepada manusia untuk terus berpikir. Jangan menentukan satu persepsi tentang kebenaran karena manusia dibatasi oleh sudut pandang. 

Allah tidak punya anak dan ibu, Allah tidak menyerupai siapapun dan benda apapun. Itulah kebenaran yang diberitakan dalam Al-Qur'an. Perihal ada persepsi orang, tuhan itu berbagai ragam bentuk dan dugaannya, biarkanlah dia bertarung berdebat, dengan jiwanya sendiri. Pada akhirnya dia akan kembali kepada tuhannya sesuai dengan yang dia yakini. Hanya Allahu Ahad yang akan jadi penolong kelak di akhirat.

Untuk diskusi-diskusi yang sabtraksinya tinggi dan sangat besar kajiannya, Allah melarangnya berselisih. "Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang iniSekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui (An Anaba, 78:1-5). 

Kita diberi kesempatan untuk mengkaji apapun, namun jangan berselisih karena kebenaran milik Allah. Silahkan kaji dan buktikan sesuai kemampuan akal. Kelak kebenaran akan terkuak dan pada akhirnya semua kebenaran akan terkuak setelah kita kembali kepada Allah dan seluruh pengetahuan tentang kebenaran rahasia alam ini ada di sisi Allah. Manusia tidak punya hak mengklai kebenaran atas persepsinya yang terbatas kecuali setiap kebenaran dikembalikan kepada Allah.***  

Tuesday, June 14, 2022

KEMUTLAKKAN SEJARAH MANUSIA

Oleh: Muhammad Plato

"Kisah tentang Eril, anak lelaki kesayangan kami, hakikatnya adalah tentang cerita kita semua. Hakekat dari kita semua, pasti akan pulang. Dengan waktu, tempat dan cara yang kita tidak akan pernah selalu tahu. Hidup di dunia ini sesungguhnya adalah tentang perjalanan bukan tujuan. 

Inspirasi ini diambil dari dialog dan narasi @ridwankamil, mengenang anaknya Eril yang meninggal terseret arus di Sungai Aare Swiss. Rasa duka itu seperti menular menelusuk hati bagi siapa yang mencoba hermenitik masuk ke dalam kalbu seorang ayah yang dilanda badai duka. Akan terasa sulit bangkit bagi orang-orang yang tidak punya kemutlakkan dalam hati dan pikirannya. 

Takdir Allah adalah kemutakkan dalam hidup manusia. Takdir dapat dijelaskan dari perjalanan sejarah manusia. Maka Allah memerintahkan untuk berjalan-jalan di muka bumi ini. Bagaimana kesudahan kehidupan manusia. Kesudahan hidup manusia selalu ada dalam kemutlakkan yaitu kembali kepada Allah. Pesan tentang kemutlakkan hidup bagitu banyak dijelaskan dalam sejarah kehdiupan manusia.

Sejarah adalah kejadian yang tidak akan pernah berulang kembali karena waktu terus berjalan. Kejadian hari ini akan jadi kemutlakkan setelah menjadi masa lalu. Setiap hari kita mengalami dan menciptakan sejarah hidup kita sendiri. Lalu bagaimana orang-orang baik berksesudahan dalam hidupnya? Dan bagaimana kesudahan orang-orang yang dusta selama hidupnya?

Kemutlakkkan bagi orang-orang yang selalu berbuat baik untuk orang lain, akhir hidupnya adalah kebaikan. Sebaliknya orang-orang yang selalu berbuat buruk akhir kehidupannya akan mendapat keburukan. Akal sehat tidak akan mencampur adukkan kebaikan dengan keburukan. Akal sehat selalu berpikir kebaikan berbalas kebaikan, sekalipun kejadiannya buruk menurut pandangan manusia. Akal sehat akan berpegang teguh pada kemutlakkan bahwa kebaikan pasti berakhir dengan kebaikan.

Pesan untuk dunia, Allah memiliki kemutlakkan-kemutlakkan dalam hidup. Apapun persepsi manusia tentang kehidupan, kemutlakkannya sudah ditetapkan. Kita semua akan kembali dan mempertanggung jawabkan setiap perbuatan yang kita lakukan.

Tidak ada kekuasaan sedikitpun dimiliki oleh manusia. Negara maju negara berkembang, semua manusianya hidup dalam kemutlakkan yang telah Allah tetapkan. Bagi yang bersenang-senang silahkan bersenang-senang, tapi itu hanya sementara. Bagi yang menderita, bersabar dalam penderitaan, itu juga sifatnya sementara. 

Hidup ini bukan masalah mencari makan, berilmu dan tidak berilmu, berkedudukan dan tidak berkedudukan. Hidup ini hanya berlomba berbuat kebaikan demi kembaikan. Sekecil apapun kebaikan itulah kebaikan yang akan berbalas kebaikan. Allah tidak memandang kebaikan besar dan kecil, karena hakikatnya setiap kebaikan berpeluang menjadi pemberat neraca keadilan. 

Nabi Muhammad mengajarkan berbuatlah kebaikan (sedekah) sekalipun sebiji kurma, karena kebaikan kecil itu bisa jadi kelak menjadi pemberat neraca keadilan dihadapan Allah sebagai penentu kita penghuni surga. Siapapun yang hidup di Barat atau di Timur, semua akan dihimpun dalam satu momen untuk menghadapi pengadilan dihadapan Allah.

Orang Barat orang Timur yang beriman kepada Allah dan berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk mensejahterakan umat manusia, dia berpeluang menjadi orang-orang yang menempati sebaik-baiknya tempat yang disediakan Allah.*** 


 



Tuesday, May 24, 2022

PENJELASAN AL QURAN MENGAPA ZONA NYAMAN MEMBAHAYAKAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Banyak orang terlena dengan zona nyaman, dan ingin mempertahankan diri tetap berada di zona nyaman. Padahal jika kita baca pesan Al Quran, zona nyaman sangat membahayakan. Pesan itu dapat kita pahami bagaimana logika sebab akibat yang dijelaskan di dalam Al Quran. Pola sebab ini jika berhasil kita pahami Al Quran akan jadi pedoman hidup.

Pola sebab akibat yang bisa kita pahami bisa kita temukan dalam ayat Al Quran yang sering kita baca setiap hari ketika kita shalat. Ayat ini sering dianjurkan oleh para ustad untuk bisa keluar dari masalah. Perintahnya adalah baca ulang-ulang beberapa kali. Tapi kita simak isinya dengan memahami pola pikir Al Quran.

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (Alam Nasyrah, 94, 5-6).

Pola pikirnya adalah kesulitan itu akan bergerak menjadi kemudahan. Itu sebenarnya yang harus diingat-ingat dari isi ayat ini. Tidak mungkin kesulitan diam di tempat. Kesulitan lambat laun akan bergerak menjadi kemudahan. Sabar adalah kuncinya dan teruslah bekerja, lambat laun kemudahan itu akan datang jua. Maka perintah ustad baca saja berulang ulang ayat itu. Artinya ingat saja bahwa Allah akan menggerakkan kesulitan menjadi kemudahan.

Lalu sebaliknya apa pesan bagi orang-orang yang ada dalam kesenangan, kemudahan atau di zona nyaman. Logika berpikirnya bisa kita temukan dalam ayat Al Quran di bawah ini:

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat" (An Nasr, 110:1-3).

Seperti kesulitan akan bergerak menjadi kemudahan, maka kemenangan akan bergerak menjadi kesedihan. Abu Bakar Asyidiq, menangis ketika mendengar ayat ini dibacakan. Abu Bakar Asyidiq menangkap pesan Al Quran ini sebagai tanda akhir misi Nabi Muhammad di muka bumi. Abu Bakar Asyidiq membaca ayat itu sebagai tanda perpisahan dengan Nabi Muhammad sudah dekat. Beberapa tahun setelah penaklukkan Mekah, Nabi Muhammad meninggal dunia.

Pesan moralnya adalah hati-hatilah dengan zona nyaman. Jika kita terlena zona nyaman dapat membawa kita pada kesedihan atau kehancuran. Maka perintah dari Allah bagi orang-orang yang di zoma nyaman perbanyak mohon ampun dan banyak-banyak bertobat. Karena zona nyaman itu akan bergerak dengan sendirinya menjadi kesedihan.

Banyak orang terlena dengan zona nyaman, karena lupa setelah ujian kesenangan akan datang ujian kesedihan. Karena merasa sudah nyaman, manusia kadang suka melampaui batas, merasa mampu, merasa berkuasa, merasa bisa memenuhi segalanya dan lupa pada kekuasaan dan kasih sayang  Allah. Secara psikologis orang-orang yang diberi kenyamanan selalu lupa diri dan berbuat sesuka hati. Itulah dosa-dosa tidak terasa yang sering dilakukan orang-orang yang berada di zona nyaman.

Untuk menjaga diri tetap berada di zona nyaman, maka buatlah lembah-lembah kesulitan dengan sengaja. Caranya adalah berkorbanlah, santuni ibu bapak dan keluarga. Bantulah orang-orang yang membutuhkan, santuni anak-anak yatim dan pakir miskin. Lalu perbanyaklah mohon ampun dan lakukan pertobatan setiap kesempatan. Bersabarlah dalam pengorbanan dan selalu menjadi pemberi bantuan. Sehingga kita akan tetap berada dalam kesulitan yang akan mendatangkan kembali kesenangan. Walahu'alam.