Sunday, June 9, 2024

TUHANNYA ORANG ATHEIS

Oleh: Muhammad Plato

Ciri orang beriman adalah percaya pada kehidupan akhirat. Bagi orang atheis yang sudah sangat tergantung pada kebenaran empiris dan perasaan, mereka menganggap akhirat sebagai dongeng nenek moyang. 

Mengapa orang atheis tidak percaya akhirat, jawabannya sederhana karena orang atheis Tuhannya adalah dirinya sendiri. Orang atheis bukan tidak mengetahui adanya Tuhan, tapi dia mengingkari adanya Tuhan. 

Ada beberapa sebab mengapa orang menjadi atheis. Faktor pertama yang membuat orang atheis adalah lingkungan keluarga. Orang Islam di Indonesia kebanyakan memeluk agama Islam karena lingkungan keluarganya sudah beragama Islam.

Lingkungan keluarga yang taat beragama kecenderungan membentuk keyakinan seseorang pada Tuhan kuat. Sebaliknya lingkungan keluarga yang kurang taat pada Tuhan, cenderung keyakinan orang lemah.

 

Faktor kedua penyebab orang atheis adalah lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan sekuler cenderung membahas masalah-masalah ilmu sosial dan alam tanpa ada kaitan dengan ketuhanan. 

Pendidikan sekuler membangun pola pikir material karena sumber pengetahuan yang dibangun dari kebenaran-kebenaran berdasar pengamatan. Pola pikir sekuler membangun mindset seseorang menjadi material. Kebenaran-kebenaran yang dibangun harus selalu bisa dibuktikan secara materi.

Pengertian rasional menurut pola pikir sekuler adalah dapat dibuktikan secara materi. Pola pikir ini mengikis kepercayaan seseorang kepada Tuhan. Hal inilah yang menyebabkan lahirnya tuhan-tuhan secara material.

Faktor ketiga penyebab orang atheis adalah budaya. Manusia adalah makhluk sosial. Kebanyakan orang mengikuti pola pikir berdasarkan tren di masyarakat. Perkembangan sains, teknologi, yang dilembagakan melalui pendidikan berperan membangun pola pikir material.

Faktor keempat, penngajaran agama cenderung mengajarkan hal-hal ritual, ghaib, tanpa korelasi dengan kehidupan dunia. Pandangan keagamaan cenderung mengasingkan diri dari kehidupan dunia. Narasi beragama kurang mengomunikasikan hubungan kausalitas berkelanjutan, antara kehidupan dunia dan akhirat. 

Keempat faktor di atas sedikitnya telah membangun pola pikir seseorang menjadi skeptis dan pesimis terhadap kehidupan akhirat. Keyakinan pada kehidupan akhirat sebenarnya membawa dampak positif pada kehidupan manusia.

Keyakinan pada kehidupan akhirat sebenarnya membangun etika dan moral masyarakat ketika hidup di dunia. Keyakinan pada akhirat dapat mengendalikan prilaku seseorang menjadi orang baik, karena prilaku di dunia menjadi sebab kehidupan baik di akhirat.

Keyakinan pada kehidupan akhirat dapat membangun harapan seseorang tetap ada. Ketika seseorang merasa putus asa karena gagal di dunia material, keberhasilan bisa tetap di raih di akhirat karena akhirat tidak membutuhkan materi. 

Keyakinan pada akhirat bisa memberi kekuatan kepada seseorang untuk bertahan hidup dalam kondisi sulit. Ujung dari hidup bukan kematian di dunia material, tetapi kehidupan di akhirat yang non material. 

Tidak semua orang bisa sukses di dunia karena pandangan sukses di dunia lebih pada material. Semua orang bisa sukses di akhirat karena sukses di akhirat hanya butuh prilaku baik selama di dunia. 

Tuhannya orang atheis adalah dirinya sendiri, karena pola pikirnya terlalu material. Untuk itu manusia butuh pengajaran agama yang mengajarkan secara holistik kehidupan dunia dan akhirat tidak terpisahkan. 

Lingkungan keluarga, pendidikan, budaya masyarakat, dan sistem pengajaran agama, perlu perubahan. Agama dan ilmu tidak terpisahkan, keduanya harus saling sinergi untuk membangun kehidupan manusia sejahtera di dunia dan akhirat. 

Narasi-narasi besar harus membawa pesan peran agama dan ilmu yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Etika, nilai, dan moralitas, harus dibangun dengan kesadaran pada kehidupan akhirat sebagai akhir tujuan hidup manusia kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.***

Saturday, June 1, 2024

AGAMA MEMBEBASKAN MANUSIA DARI MANUSIA

Oleh: Muhammad Plato

Agama membebaskan manusia dari manusia. "kemerdekaan adalah ketika kita ikhlas dijajah Tuhan". Makna dari pernyataan ini mengandung pesan bahwa agama mengandung ajaran supaya manusia tunduk dan patuh hanya kepada Tuhan saja. 

Banyak fenomena di muka bumi ini, manusia tunduk dan patuh manusia. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk dengan dua sifat yaitu fujur dan takwa. Fujur adalah sifat-sifat manusia yang lebih mengutamakan egonya, sedangkan takwa adalah sifat-sifat manusia yang tunduk dan patuh pada Tuhannya. 

Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang selalu mengajak manusia selalu berharap pada Tuhan, kemudian berbuat baik, dan berserah diri pada Tuhan. "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (Fushshilat, 41:33).

Jika manusia tunduk pada Tuhan, manusia diperintah Tuhan untuk pandai "iqra". "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan," (Al 'Alaq, 96:1).  Iqra dalam arti membaca, meneliti, memverifikasi, pada setiap fenomena yang terjadi. Manusia harus selalu skeptis kepada semua manusia, karena tidak semua manusia mengajak patuh pada Tuhan. Selain itu manusia memiliki kelemahan dengan sifat fujur yang melekat pada dirinya.

Allah mengabarkan di dalam Al Quran, manusia-manusia yang mengaku diri sebagan tuhan ditenggelamkan. Allah mengabarkan manusia-manusia yang dikendalikan sifat fujurnya dibinasakan. Manusia-manusia yang berhasil mempertahankan eksistensinya di dunia dikabarkan adalah mereka yang tetap beriman kepada Tuhan.

Nabi Muhammad di dalam hadis sahih mengatakan bahwa perang terbesar manusia bukan melawan manusia lainnya, tetapi perang melawan sifat-sifat fujur yang ada dalam dirinya. Ajaran agama yang benar adalah membimbing manusia supaya menjadi pemenang melawan sifat-sifat fujur yang ada dalam dirinya. 

Salah satu sifat fujur yang ada pada diri manusia adalah merasa dirinya sebagai Tuhan. Manusia punya sifat ingin dihormati, dihargai, dihormati, dengan melakukan penjajahan, perbudakan, genosida, hegemoni, monopoli, demi kepentingan pribadinya.

Allah memerintahkan pada manusia yang tunduk dan patuh pada Allah untuk saling menghormati antar sesama manusia. "Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim." (Al Hujuraat, 49:11).

Pesan dari Allah di dalam Al Quran, manusia yang mengolok-olok, menghina, merendahkan, manusia lain, sebenarnya mereka mengolok-ngolok dirinya sendiri. Ini pesan yang sangat esensial untuk dipahami dan diyakini dari Tuhan untuk semua manusia.  

Manusia-manusia terbaik, mereka selalu membawa pesan dari Tuhan untuk hidup damai, sejahtera, di dunia dan akhirat. Manusia adalah makhluk yang diberi amanah oleh Tuhan, untuk menyampaikan pesan-pesan dari Tuhan merujuk kepada sumber-sumber yang benar yaitu kitab suci yang diturunkan pada para nabi. 

Manusia-manusia yang mengembangkan logika, pola pikir, ucapan, dan tindakannya berdasar petunjuk Tuhan, dialah orang yang akan selalu menjaga kehidupan damai dan sejahtera di muka bumi untuk mencapai kedamaian dan kesejahteraan hidupnya di akhirat.***




SIAPAKAH ORANG JUJUR

Oleh: Muhammad Plato

Menimbang, mengingat begitu banyaknya praktek-praktek ketidakjujuran di negeri ini, memutuskan secara operasional kita harus memahami kembali makna kejujuran. Tanpa pemahaman operasional, tidak mungkin suatu  nilai dapat kita laksanakan dengan baik (Hasan, 1996).

Nilai kejujuran sangat penting untuk kita tanamkan sedini mungkin. “Kejujuran adalah sikap menunjukkan adanya kecocokkan antara perkataan dan perbuatan. Ciri orang jujur ditandai dengan selalu berkata berterus terang”. Begitulah makna kejujuran yang ditulis dalam salah satu buku teks pelajaran PKn SD.

Berangkat dari pengertian di atas, selama ini ada pemahaman kurang pas dalam memahami kejujuran. Kita cenderung mengartikan kejujuran sebagai “perkataan terus terang“. Konsep ini tidak salah, namun telah menggiring makna esensi kejujuran menjadi “perkataan” bukan “perbuatan”.

Indikator kejujuran berkata terus terang  dinilai kurang tepat sebab dalam situasi tertentu ada aturan, orang boleh tidak terus terang. Misalnya, tidak boleh terus terang jika perkataan bisa mengancam nyawa seseorang atau menjadi sebab konflik. Dalam hal menjaga perasaan seseorang, kita tidak boleh mengatakan kekurangan fisik dan keburukan seseorang, walaupun pada faktanya demikian.

Secara psikologis, orang yang memahami “berkata terus terang” sebagai indikator kejujuran, pribadinya bisa kurang produktif”. Kejujuran menjadi fokus hanya sebatas perkataan bukan pada perbuatan. Kejujuran dalam arti berterus terang, sulit diajarkan di dunia pendidikan. 

Hemat penulis, jujur dipahami sebagai “prilaku” bukan perkataan. Dalam kamus bahasa Indonesia salah satu pengertian yang cocok untuk konsep jujur adalah "berprilaku tidak curang". Jadi, jujur artinya kemampuan seseorang untuk berprilaku baik, sesuai nilai, moral dan norma, yang berlaku di masyarakat. 

Pemahaman konsep kejujuran sebagai perbuatan taat aturan harus lebih dikedepankan. Korupsi adalah prilaku tidak jujur, karena masuk pada kategori prilaku curang, yaitu perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai, moral, dan norma yang berlaku di masyarakat baik tertulis maupun tidak tertulis.

Dengan demikian, kejujuran menjadi sesuatu yang mungkin untuk diukur dan dilakukan oleh setiap orang, kapan saja dan di mana saja. Ini berarti, setiap orang akan bersikap preventif, saling mengontrol, mana kala ada orang tidak jujur karena perbuatannya tidak sesuai aturan. 

Menanamkan pemahaman konsep kejujuran sebagai perilaku sejak dini, bisa mendidik seseorang menjadi kritis, cerdas dan dinamis. Dengan pemahaman ini, sebelum bertindak setiap orang akan berpikir nilai dan norma apa yang akan jadi landasaan setiap tindakannya.

Maka dari itu, “jujur adalah berprilaku sesuai dengan nilai, moral, dan norma yang berlaku di masyarakat”. Dengan memahami kejujuran sebagai perbuatan, secara alamiah masyarakat dapat berpartisifasi dan melakukan fungsi kontrol terhadap dirinya. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap anggota masyarakat akan terus mendapat ujian kejujuran, dengan ukuran sesuaikah perbuatannya dengan nilai, moral, dan norma, yang berlaku di masyarakat atau tidak? Siapa yang jujur dan siapa yang tidak jujur bisa dilihat dari perbuatannya bukan dari kata-katanya.

Memahami nilai kejujuran sebagai perbuatan, etikanya dapat kita temukan  dalam sebuah ayat Al-Qur’an berikut, “amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (Ash-Shaff:3). 

Artinya, perbuatan baik harus menjadi dasar setiap kata-kata yang akan kita keluarkan. Perbuatan adalah hal yang paling utama bukan perkataan, karena perbuatan harus menjadi dasar dari setiap perkataan yang kita ucapkan. 

Secara psikologis kemungkinan besar orang tidak akan berterus terang (bohong) jika perbuatan sehari-harinya menyimpang dari aturan. Jadi, penyebab seseorang berkata bohong adalah karena perbuatan-perbuatannya yang melanggar aturan dan tidak ingin diketahui orang. 

Maka, Allah memerintahkan untuk berbuat baik. Berbuat baik diukur dari nilai, moral dan norma yang berlaku di masyarakat baik tertulis maupun tidak tertulis. Setelah itu berkatalah sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan. 

Berbuat baik lebih penting dari pada berkata terus terang. Bangsa ini akan berubah kalau orang-orang di dalamnya banyak berbuat kebaikan, bukan banyak berkata baik. Inilah prinsip sesungguhnya yang harus dipegang jika mau jadi orang jujur.  Jika setiap orang sudah biasa taat aturan, kemungkinan besar setiap perkataannya jujur karena sesuai dengan yang telah dia kerjakan. Potensi ketidakjujuran itu sebabnya adalah perbuatan melanggar aturan. Inilah menurut saya, logika kejujuran dari Tuhan. Wallahu'alam.***

Sunday, May 19, 2024

MEMBACA KARAKTER PENYEBAB KEJATUHAN AMERIKA SERIKAT

Oleh: Muhammad Plato

Sebuah bangsa mengalami kejatuhan bukan karena serangan dari luar. Amerika Serikat seperti kerajaan Mesir yang dulu tidak terkalahkan. Kekuasaan Amerika Serikat sudah tidak terkalahkan. Amerika Serikat menjadi pengendali dunia dan bebas melakukan tindakan apa saja sekalipun dunia menentang keras.

 Genosida kepada penduduk Palestina dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya terang-terangan. Amerika Serikat dan sekutunya telah melampau batas. Melakukan kerusakan di muka bumi dan sudah tidak menghargai hak-hak kemanusia. Kejadian ini seperti pernah terjadi di masa Fir'aun di Mesir. Fir'aun memerintah seluruh bayi laki-laki dibunuh karena takut kehilangan kekuasaan. Kini kekejeman Fir'aun terjadi, dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. 

Prediksi dari Al Quran, Amerika Serikat akan mengalami kajatuhan. Tanda-tanda kejatuhan Amerika Serikat dan sekutunya ditandai dengan kebijakan-kebijakannya yang menentang kehendak Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang terjadi pada kisah Fir'aun.

Amerika Serikat dalam Revolusi Mental

Ciri-ciri karakter kejatuhan Amerika Serikat dan sekutunya berumber pada apa yang meraka lakukan. Alat ukur kejatuhan Amerika Serikat dan sekutunya berdasarkan keterangan Al Quran, "Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain." (Al An'aam, 6:6).

Amerika Serikat berkali-kali memveto usulan gencatan senjata di Palestina. Amerika Serikat sudah tidak melihat nyawa manusia sesuatu yang harus dihargai. Inilah kisah Fir'aun yang berulang dan kita saksikan sekarang. 

Karakter kedua, terlihat pada prilaku Amerika Serikat dan sekutunya yang melakukan pelecehan terhadap ajaran agama. Amerika Serikat membiarkan warganya melakukan pembakaran kitab suci Al Quran dan melecehkan Nabi Muhammad. Karakter ini dilakukan oleh umat-umat terdahulu yang telah dibinasakan. "Dan tiada seorang nabi pun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." (Zukhruf, 43:7).

Karatker ketiga, genosida di terhadap penduduk Palestina. Korban perang di Palestina bukan tentara, tetapi warga sipil khusunya anak-anak. Kejadian ini persis seperti kebijakan Fir'aun yang bertekad menghabisi seluruh bayi-bayi yang lahir untuk menghindari munculnya penentang kekuasaannya. "Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu". (Al Baqarah, 2:49).

Kejatuhan Amerika Serikat bukan pemberontakan dari warga masyarakatnya, tetapi karena kekejaman demi kekejaman yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan. Kejatuhan Amerika Serikat ditandai dengan gerakan masyarakat intelektual yang melihat ketidakadilan. Nabi Musa di zaman Fir'aun tidak memimpin pemberontakkan, tetapi sebagai gerakan intektual yang membawa revolusi mental. 

Gerakan revolusi mental di Amerika Serikat ditandai dengan munculnya gerakan-gerakan anti kekerasan di kampus-kampus. Inilah tanda kejatuhan Amerika Serikat ditandai dengan munculnya gerakan yang dilakukan Nabi Musa untuk membebaskan rakyat dari penguasa yang dzalim. 

Gerakan ini tidak akan sampai terjadi pemberontakan terbuka, tetapi menjadi gerakan revolusi mental yang terus menjalar ke seluruh dunia. Amerika Serikat akan berlaku kejam kepada rakyatnya sendiri, sekejam mereka terhadap rakyat Palestina. Penguasa-penguasa di Amerika Serikat akan bersifat refresif terhadap pemikiran-pemikiran kritis rakyatnya sendiri. 

Kekejaman demi kekejaman akan dilakukan penguasa Amerika Serikat pada rakyatnya sendiri. Amerika Serikat menjadi negara dengan kekuasaan absolut seperti kerajaan Fir'aun. Para penguasanya bertindak melampaui batas-batas kemanusiaan yang kejam dan menjadi penentang kekuasaan Tuhan. Pada puncaknya, kekuasaan Amerika Serikat akan tenggelam digantikan dengan generasi baru yang membawa kembali misi-misi kemanusiaan dan keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa. Wallahu'alam. 


Saturday, May 4, 2024

DALIL TIGA RASIONALITAS MANUSIA

Oleh: Muhamad Plato

Apakah yang dimaksud rasional? Ketika saya pulang kerja di malam hari, di langit ada cahaya bergerak dan menghilang. Saya tidak merasa takut karena sebelumnya saya sudah tahu. Cahaya di langit yang bergerak cepat lalu menghilang adalah meteor. Meteor adalah benda langit yang jatuh ke bumi, lalu bergesekan dengan atmosfir hingga menimbulkan cahaya. 

Sekalipun saya tidak secara pasti bagaimana cara benda langit bergesekan dengan atmosfir, saya anggap kejadian itu sebagai kejadian rasional, karena saya bisa menjelaskan alasannya. Kejadian yang tidak saya ketahui sebabnya, untuk sementara saya katakan tidak rasional atau tidak masuk akal.

Kesimpualan saya, sesuatu dikatakan rasional atau tidak rasional berdasarkan pada pengetahuan yang dimiliki. Memori otak manusia menyimpan berjuta-juta pengetahuan. Pengetahuan yang sering digunakan tergantung sesering argumen apa yang menjadi dasar kelakuan kita setiap hari.

Pengetahuan terbagi menjadi dua, ada pengetahuan yang membawa keyakinan pada Tuhan yang esa, dan ada pengetahuan yang membawa keyakinan pada selain Tuhan yang esa. Seharusnya pengetahuan yang kita gunakan sebagai argumen, pengetahuan yang mengandung keyakinan kepada Tuhan yang esa.

Makna, 'Bacalah atas nama Tuhanmu Yang menciptakan" (Al Alaq, 96:1), artinya setiap pengetahuan yang kita gunakan harus mengandung keyakinan pada keesaan Tuhan. Sehingga seluruh puncak seluruh bacaan kita adalah menguatkan ketundukkan kita kepada Tuhan yang maha esa. 

Dengan demikian rasionalitas manusia sangat tergantung pada sumber pengetahuan yang digunakan. Hemat penulis, rasionalitas yang dipahami seseorang bergantung pada sumber pengetahuan yang digunakan. Pengetahuan yang masuk ke otak di dapat melalui indera. Penglihatan, pendengaran, raba, dan rasa, mengirimkan pengetahuan ke otak. 

Keempat informasi yang dikirim ke otak dan diolah menjadi pemikiran rasional. Rasionalitas seseorang sangat tergantung pada pengetahuan mana yang sering digunakan otak. Pengetahuan digunakan otak sebagai argumen. Jenis pengetahuan yang digunakan sebagai argumen akan menjadi ciri rasionalitas seseorang. 

Secara garis besar sumber pengetahuan yang masuk ke otak bersumber pada tiga jenis, pengetahuan alam, intuitif, dan wahyu. Pengetahuan dari alam diperoleh melalui panca indera dari fenomena alam. Pengetahuan intutif diperoleh seseorang dari hasil olah pikir dan rasa. Pengetahuan wahyu diperoleh dari Tuhan yang diturunkan kepada para nabi dan menjadi dokumen kitab suci.

Tiga sumber pengetahuan rasional berkaitan dengan tiga surat di dalam Al Quran. Pertama, "Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa" (Al Ikhlas, 112:1). Allah memberi petunjuk pada manusia dengan menganugerhkan pengetahuan melalui wahyu kepada utusan. Pengetahuan dari para utusan terdokumentasikan dalam kitab suci. 

Kedua, "Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai Falaq" (Al Falaq, 113, 1). Ayat ini memberi tanda ada pengetahuan yang bisa diakses dari alam. Pengetahuan dari alam menghasilkan rasional yang bisa membahayakan manusia. Kebenaran-kebenaran diukur dari pembuktian di alam secara material. 

Ketiga, "Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia." (An Naas, 114, 1). Allah memberi tanda juga bahwa ada pengetahuan yang didapat melalui hasil pemikiran manusia. Kebenaran-kebenaran rasional diukur dari pengetahuan yang diusahakan melalui hasil dari kemampuan akal. 

Tiga rasional bercampur aduk ada dalam pola rasionalitas manusia. Rasionalitas setiap manusia memiliki kecenderungan tergantung dominasi pengetahuan yang sering digunakannya sehari-hari. Sebagian besar manusia, kencenderungan menggunakan rasionalitas bersumber pada pengetahuan alam. Hal ini berkaitan dengan fakta bahwa kehidupan manusia sangat terikat dengan ruang. Rasional pada kelompok besar ini menggunakan pembenaran berdasarkan pembuktian yang dapat dilihat.  

Sebagian kecil, manusia menggunakan rasionalitas berdasarkan optimalisasi hasil pemikiran. Kelompok ini sering kita kenal dari kaum intelektual yang memanfaatkan kemampuan akalnya untuk memahami berbagai fenomena kehidupan.

Dan sebagian kecil lagi, manusia menggunakan sumber dari Tuhan, sebagai pedoman dalam membaca, memahami, segala sesuatu dalam kehidupan. Kelompok ini menggunakan kitab suci sebagai cara pandang dalam mengembangkan rasionalitasnya. 

Sudut pandang pemikiran terbagi menjadi dua yaitu holistis dan sekularis. Sudut pandang holistis memandang dunia sebagai suatu sistem saling berhubugan. Keberadaan suatu objek tidak bermakna rasional tanpa hubungan dengan ojek lainnya. Pandangan rasional holistis menjadi sudut pandang ketuhanan, karena Tuhan berfirman sebagai pencipta dan pemelihara alam.

Pemikiran rasionalis holistis tidak manapikan pengetahuan dari alam dan pemikiran manusia. Pemikiran rasional holistis menjadikan kehidupan alam semesta dipahami sebagai sistem saling berhubungan dan ketergantungan. 

Dalam pandangan rasional holistis; Tuhan, manusia, dan alam, menjadi sebuah sistem kehidupan tak terpisahkan. Menjaga perdamaian dan kesejahteraan menjadi misi para utusan Tuhan. Rasionalitas yang yang mengandalkan pemahaman pada kemampuan akal manusia adalah keterbatasan. Rasionalitas yang cenderung mengikuti kehendak alam adalah keterbatasan. Maka, rasionalitas yang dilandasi keberserahan diri pada kekuasaan Tuhan adalah kecerdasan tanpa batas untuk menggali kedamaian dan kesejahteraan manusia dan alam.***  


Friday, April 12, 2024

ADA MANUSIA BERJALAN DENGAN EMPAT KAKI?

Oleh: Muhammad Plato

Al Quran mengabarkan ada tiga makhluk diciptakan dari air. Secara fisik makhluk itu ada yang berjalan dengan perut, dua kaki, dan empat kaki. 

Jika kita kaitkan dengan dunia fisik, makhluk yang berjalan dengan perut sejanis binatang melata, makhluk yang berjalan dengan dua kaki, ada berbagai jenis binatang berjalan dengan dua kaki termasuk manusia, dan makhluk yang berjalan dengan empat kaki yaitu sapi, kerbau, unta, dll. 

"Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (An Nuur, 24:45).

Secara fisik, ayat itu berbicara tentang bagaimana Allah menciptakan beraneka ragam fisik makhluk. Kenyataannya terdapat makhluk-makhluk dengan ciri-ciri fisik tersebut. Untuk memahami ayat ini tidak cukup sampai pemahaman fisik, ada dimensi lain yang bisa digali agar mendapat inspirasi lebih dalam lagi. 

Jika kita gunakan fungsi otak, makhluk-makhluk yang dijelaskan oleh Allah bukan hanya menggambarkan secara fisik, tetapi menggambarkan bagaimana makhluk tersebut hidup dengan fungsi otaknya. 

Penelitian mutakhir menemukan bukti hubungan antara otak dan prilaku manusia (Pasiak, 2012, Suyadi, 2020). Artinnya, ketika manusia berjalan dengan perut, dua kaki, dan empat kaki, sudah pasti otaknya berfungsi.

Berdasar neurosains, dari informasi Al Quran di atas, Allah memberi kabar tentang makhluk-makhluk yang bertahan hidup dengan kapasitas fungsi otaknya masing-masing. Otak sering dikaitkan dengan akal manusia. 

Menurut Ibu Sina, (Suyadi, 2020), akal memiliki empat elemen, yaitu akal aktif, akal aktual, akal potensial, dan akal empirik. Akal aktif berkaitan dengan keberadaan Tuhan. Akal aktual berkaitan dengan perasaan (emosi), akal potensial berkaitan dengan motorik, dan akal empiris berkaitan dengan keberaadaan otak secara material.

Berdasarkan ilmu neurosains terbaru, anatomi otak terbagi menjadi empat yaitu otak besar, batang otak, otak kecil, dan sistem limbik (Suyadi, 2020). Otak besar berfungsi sebagai otak berpikir, batang otak sebagai pengendali gerak reflek, otak kecil berfungsi sebagai pengedali otot, melunakkan emosi, mempertajam memori, dan sistem limbik mengendalikan emosi dan spiritual.

Berdasara empat anatomi otak di atas, Allah mengabarkan ada makhluk yang hidupnya dengan menggunakan batang otak. Makhluk yang hidupnya menggunakan batang otak, tidak lain hidupnya hanya menggunakan fungsi gerak reflek, bergerak hanya sekedar mencari makan.

Selanjutnya mahluk yang berjalan dengan dua kaki, mereka menggunakan dua belahan otak yaitu otak besar dan batang otak. Mahluk ini menggunakan otak besarya untuk berpikir, menganalisis, menginterpretasi, menciptakan teknologi, dengan tujuan mengikuti fungsi batang otaknya yaitu untuk memenuhi kebutuhan naluri bertahan hidup seperti makan, minum, seks, dan foya-foya.

Selanjutnya makhluk yang berjalan dengan empat kaki, dia memuungsikan empat belahan otaknya. Dia menggunakan otak besarnya untuk berpikir untuk membangun kebiasan-kebiasaan hidup yang bermanfaat, meningkatkan perbendaharaan ilmu pengetahuan, mengendalikan emosi, dan mengenal siapa Tuhannya. 

Gambaran makhluk berjalan dengan perut, dua kaki, dan empat kaki, adalah gambaran kehidupan manusia. Ada yang hidup dengan otak perut, dimana hidup seperti binatang yang hanya mencari makan. Ada yang hidup menggunakan otak besar dan batang otak, dia hidup mengembangkan berbagai sains dan teknologi, hanya untuk memenuhi kebutuhan perut. 

Ada juga yang hidup memungsikan empat fungsi otaknya. Mereka mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan untuk memenuhi kehidupan dirinya semata, tetapi untuk memenuhi kebutuhan hidup orang lain, sebagaimana Tuhan perintahkan. Hidup mereka bukan hanya mengikuti naluri di otak perut, tapi mengikuti petunjuk dari Tuhan.***

ADA KABAR GEMBIRA UNTUK RAKYAT PALESTINA

Oleh: Muhammad Plato

Inilah logika Tuhan yang pasti, segala sebab dan akibat telah Allah kabarkan di dalam Al Quran. Logika Tuhan adalah cara berpikir yang dipandu berdasarkan sebab-akibat yang dijelaskan di dalam Al Quran. 

Dari pandangan mata, 30.000 rakyat Palestina korban genosida sangat memilukan hati. Dalam kondisi penuh dengan keterbatasan rakyat Palestina bertahan hidup dalam kelaparan ekstrim. Mesin-mesin perang genosida berteknologi tinggi membayang-bayangi nasib hidup rakyat Palestina. 

Kabar gembira dari Allah untuk rakyat Palestina. Pengorbanan harta dan nyawa mereka kelak akan Allah bayar dengan kehidupan penuh dengan kenikmatan. Kabar gembira ini, Allah kabarkan di dalam Al Quran. Dan sesungguhnya Al Quran bukan perkataan manusia.

"orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka. Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar". (Ali Imran, 3:172).

Tidak ada perkataan yang lebih benar selain dari perkataan Allah di dalam Al Quran. Umat manusia akan menyaksikan kebenaran perkataan Allah di dalam Al Quran. Palestina adalah inspirasi untuk dunia bahwa Allah tidak mati, dan perkataannya akan tetap hidup bersama orang-orang yang taat. 

Banyak orang menyangka, rakyat Palestina tidak mungkin mampu bertahan hidup dapat situasi sulit dan kelaparan. Senjata perang, alat genosida bantuan Amerika Serikat telah membumihanguskan rakyat Palestina, namun tidak mematikan ketaatan pada Allah dan semangat berkorban rakyat Palestina. 

Sampai hari ini (12 April 2024), sudah 188 hari rakyat Palestina hidup dalam ancaman mesin genosida. Allah selalu berpihak pada orang-orang yang terdzalimi. Maka, setelah terdzalimi, orang-orang yang tetap taat, beriman, dan bertakwa kepada Allah, dia akan mendapat balasan kemenangan besar dari Allah swt. 

Umat manusia akan membuktikan siapa yang akan mendapat pertolongan Allah. Apakah rakyat Palestina yang terdzalimi, atau para pelaku genosida yang berdalih membela diri?

Pertolongan Allah pasti datang. Allah dapat mengalahkan siapapun. Kerikil bisa jadi sebab kemenangan perang Badar. Angin bisa membubarkan pasukan Ahzab. Burung bisa menghentikan pasukan Gajah. Rasa takut bisa membuat musuh kocar-kacir. Kesabaran orang-orang tawakal, bisa membuat putus asa lawan.

Allah tidak berdiri bersama orang-orang yang mendustakan kebenaran ayat-ayat-Nya. Allah tidak berdiri bersama orang-orang yang menggunakan mesin perang untuk mengakhiri nyawa bayi, anak-anak, orang tua, perempuan, dan ibu hamil. 

Allah tidak bersama orang-orang yang berperang untuk membumihanguskan masjid, gereja, rumah sakit, sekolah, jembatan, dan ambulance. Allah tidak bersama orang yang menghalang-halangi orang menolong orang kepalaran.

Hukum Allah berlaku pasti. Allah selalu memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan tetap berbuat kebaikan. 

"Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barang siapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar." (An Nisaa, 4:74).

 "Dan karunia yang lain yang kamu sukai pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." (Ash Shaff, 61:13).

Bersiap-siaplah, pertolongan Allah sudah dekat. Kita akan merayakannya dengan bersyukur dan membebaskan seluruh umat manusia dari penjajahan.***



Monday, April 8, 2024

HATI-HATI ADA DUA JENIS BISIKKAN?

Oleh: Muhammad Plato

Di dalam fungsi otak ada satu bagian bernama Hipocampus. Bagian otak ini ada di otak depan, yang berkaitan dengan otak rasional. Hipocampus berfungsi sebagai memori, dan kemampuan daya ingat.

Jadi, Hipocampus seperti memory yang ada dalam sebuah komputer. Tinggi rendahnya kemampuan memori kompter, menentukan kemampuan kinerja komputer. Jika kemampuan memori rendah, komputer tidak dapat bekerja maksimal, ditandai dengan sering loading sampai hang (baca: heng).  

Manusia melakukan segala sesuatu berdasarkan pada pengetahuan yang tersimpan di memorinya. Jika ada suatu permasalahan, kemudian di memorinya tidak memiliki pengetahuan untuk mengantisifasinya, maka manusia itu akan mencari pengetahuan bagaimana cara memecahkannya. 

Salah satu cara manusia mendapatkan pengetahuan adalah dengan cara berpikir atau merenung. Merenung adalah memikirkan segala pengetahuan yang pernah masuk ke dalam memori. Proses perenungan terjadi apabila pengetahuan sudah masuk ke dalam memori. Hanya pengetahuan yang masuk memori yang akan di proses melalui aktivitas berpikir atau merenung. 

Berpikir atau merenung, merupakan proses pembentukkan sirkuit-sirkuit di otak yang terjadi karena ada proses saling berhubungan antar pengetahuan. Pengetahuan yang berhasil membangun hubungan, akan menghasilkan pengetahuan baru. Hasil pengetahuan baru ini bersifat tersembunyi dalam bentuk bisikan-bisikan.  

Dalam ilmu sains, pengetahuan ini dikategorikan sebagai pengetahuan intuitif. Di dalam Al Quran dijelaskan sebagai "bisikan tersembunyi". 

"dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. dari (golongan) jin dan manusia." (An Naas, 4-6).

Al Quran membawa peringatan. Pengetahuan tersembunyi/intuitif berupa bisikan, memiliki dua jenis, yaitu bisikan pengetahuan destruktif dan konstruktif. Peringatan di dalam Al Quran untuk manusia adalah mohon perlindungan pada Tuhan dari bisikan-bisikan yang bersifat destruktif.

Jadi, pada saat berpikir atau merenung, yaitu proses menghubung-hubungkan antar pengetahuan yang ada di memori otak, akan ada bisikan-bisikan yang masuk ke memori otak sebagai hasil pemikiran. Hasil pemikiran tersebut kemungkinannya dua, ada yang bersifat destruktif atau konstruktif. 

Manusia-manusia yang memohon perlindungan dari Tuhan, dalam proses perenungannya akan menghasilkan pengetahuan-pengetahuan konstruktif yang bisa menyelamatkan umat manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan kejahiliyahan. 

Untuk itu, sebelum melakukan proses berpikir atau perenungan, manusia diajarkan oleh Allah untuk berdoa memohon perlindungan agar bisikan-bisikan pengetahuan yang masuk ke otak, pengetahuan konstruktif yang bisa membawa kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.***  

Sunday, March 24, 2024

Kualitas Muslim Terbagi Tiga

Oleh: Muhammad Plato

Allah memberi wahyu kepada manusia melalui kitab-kitab yang diturunkan-Nya. Kitab Al Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir. Al Quran sepeninggal Nabi Muhammad diwariskan kepada umat Islam untuk mengabarkan dan mengajarkannya kepada seluruh umat manusia. 

Manusia diberi kemampuan untuk memahami ayat-ayat Al Quran sesuai dengan kemampuannya. Allah berfirman bahwa Al Quran sudah dibuat mudah untuk dipahami oleh manusia. Allah sangat mengerti tentang perkembangan psikologi manusia.  

"Kami tidak menurunkan Al Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah) (Thahaa, 20:33).

Untuk itu kualitas seseoran dalam memahami Al Quran berbeda-beda. Kita tidak bisa saling menyalahkan, karena Allah mengabarkan di dalam Al Quran. 

"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar" (Fathir, 35:32).

Pemahaman manusia tentang Al Quran terbagi menjadi tiga. Pertama, mereka yang menganiaya diri mereka sendiri. Siapa mereka? 

Jika kita perhatikan di masyarakat, mereka adalah orang-orang yang berusaha taat kepada Allah dengan mengasingkan diri dari kehidupan dunia. Mereka sengaja hidup miskin seadanya, karena kehidupan dunia sebagai tipuan dan memperdaya. Mereka hanya menginginkan hidup bahagia di akhirat. Dunia sekedar permainan dan tidak penting. 

Kedua, kelompok pertengahan. Kelompok ini adalah masyarakat yang hidup taat kepada Allah dengan mencari kehidupan akhirat tapi tidak melupakan kehidupannya di dunia. Mereka bekerja keras mencari penghidupan di dunia setelah itu mereka membelanjakan sebagian hartanya dijalan Allah sekemampuannya.

Kelompok ini hidup dalam kesejahteraan dunia. Mereka menjalankan segala syariat ajaran agama. Mereka zakat, sedekah, puasa, ibadah haji, sesuai dengan ajaran agama.   

Ketiga, kelompok yang mendahulukan kebaikan, dia adalah para pejuang. Mereka adalah orang-orang yang rela berkorban untuk kepentingan orang lain. Mereka memandang dunia sebagai tempat mengabdi kepada Allah dengan segenap hati. Kelompok ini memiliki kelimpahan rezeki, dan membelanjakannya untuk kebaikan dalam jumlah besar.

Kelompok ini, membantu memberi makan orang-orang miskin, dan memberi bantuan dalam jumlah besar pada saat terjadi bencana atau kelaparan. Jika memberi bantuan pada orang lain mereka seperti melupakan bagian untuk dirinya. Kelompok ketiga adalah mereka yang berani berkorban untuk berbuat baik di jalan Allah.  

Saturday, March 16, 2024

OTAK EMOSI

Oleh: Muhammad Plato

Otak mengendalikan emosi. "Emosi dibentuk oleh sistem limbik yang terdapat dalam otak" (Suadu, 2018). Dari sudut pandang evolusi, sistem limbik merupakan bagian otak mamalia yang lebih tua dan bertanggung jawab atas cara binatang mengungkapkan dan merasakan emosi.

Setiap informasi yang diterima tubuh melalui alat indera, akan diteruskan ke sistem limbik. Selanjutnya, informasi dari sistem limbik akan diteruskan ke bagian otak kortek untuk dipersepsi dan iinterpretasikan secara sadar. 

Selain itu, informasi yang diterima oleh sistem limbik akan mengaktifkan struktur sistem limbik lainnya seperti hippokampus yang berkaitan dengan memori dan ingatan, Amigdala berkaitan dengan derajat intensitas emosi, serta bagian lain seperti hippotalamus, thalamus, corpus callosum, stia terminalis dan korteks singulata.

Sistem limbik berada di bagian otak tengah dan terletak pada bagian bawah korteks. Sistem limbik terhubung dengan area korteks yang betanggung jawab pada dimensi kesadaran manusia. Fakta ini, memungkinkan manusia bisa merasakan dan mengendalikan emosi secara sadar. 

Emosi bereaksi setelah mendapat stimulus informasi. Reaksi tidak sadar terjadi karena respon otomatis pada pusat emosi di amygdala dan hipotalamus. Informasi sebelum diteruskan di pusat kesadaran, secara cepat diteruskan terlebih dahulu ke hipotalamus sebagai pemicu sekresi hormonal untuk mengondisikan tubuh bersiap siaga untuk melakukan aksi sebagai respon stimulus emosional. 

Penelitian menunjukkan stimulus informasi yang diterima amygdala 200ms lebih cepat dibandingkan stimulus yang diteruskan ke pusat kesadaran di kortek otak manusia (Suadu, 2018, h.54). Otak emosional hanya melakukan dua macam dorongan, yaitu pemihakkan atau penolakkan berupa justfikasi tanpa melibatkan nalar logis. 

Di dalam Al Quran, kita menemukan konsep hati (Qalbu). Jika kita cermati konsep hati di dalam Al Quran digandengkan dengan konsep cinta dan benci dalam satu ayat. Jika kita interpretasi berdasar neurosains, apa yang dijelaskan Al Quran menunjukkan sebuah fungsi otak emosi. 

"Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu (qulubikum) serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus", (Al Hujurat, 49:7). 

Saya berpendapat cara kerja hati hanya dua yaitu benci dan cinta. Kesimpulan ini saya dapatkan setelah membaca beberapa ayat Al Quran, mengaitkan kata hati, benci, dan cinta dalam satu ayat. Dikaitkan dengan neurosains, fungsi hati ternyata ada di otak emosi tepatnya di sistem limbik, di bagian hipocampus dan amydala. Otak emosi kerjanya hanya membuat dua dorongan, menolak dan memihak. 

Jadi selama ini kita sudah miskonsepsi, ketika kita menggunakan hati seolah-olah tidak ada kaitan dengan otak. Padahal dari sudut pandang neurosains, kerja hati sama dengan kerja otak. Menggunakan hati sama dengan menggunakan fungsi otak. Jaga hati sama dengan jada otak!

 

Wednesday, March 13, 2024

APAKAH POSITIF DAN NEGATIF ITU ADA?

Oleh: Muhammad Plato

Elektrikal sinyal di otak pada prinsipnya bekerja berdasarkan arus listrik (Ikrar, 2015). Atom-atom yang memiliki elektron lebih dari normal dianggap bermuatan negatif, dan atom-atom yang memiliki elektron lebih sedikit dari normal dianggap bermuatan positif. Arus listrik mengalir ke arah potensi terendah.

Atom yang bermuatan negatif, akan melepaskan elektron mereka dan akan diterima oleh atom yang bermuatan positif, dengan demikian atom memungkinkan terjadinya transfer elektron.

Jika kita perhatikan sebenarnya konsep negatif dan positif hanya sebatas tanda. Jika kita perhatikan negatif dan positif hanya tanda saja. Negatif sebagai tanda sesuai berlebih dan positif sebagai kenormalan.

Demikian juga dengan buruk dan baik sebagai ukuran saja. Buruk jika sesuatu berlebih, dan baik jika sesuatu dilakukan dalam batas kewajaran.

Makan menjadi sesuatu yang negatif jika dilakukan belebih, dan menjadi suatu hal yang positif jika dilakukan dalam batas kenormalan.

Tidak ada manusia yang hidupnya 100 persen dinilai baik. Manusia yang dinilai hidupnya baik yaitu yang melakukan sesuatu di batas kewajaran.

Shalat jika dilakukan secara berlebihan maka bisa bernilai buruk. Beragama jika dilakukan secara berlebihan, akan menimbulkan penilaian buruk.

Sedekah jika dilakukan secara berlebihan sampai menghabiskan harta dan melupakan untuk kehidupan keluarganya, hal itu akan menimbulkan dampak ketidakseimbangan kehidupan dalam keluarga.

Di dalam Al Quran, Allah menjelaskan bahwa dosa adalah perbuatan yang melampaui batas. Fir’aun adalah pelaku dosa, karena prilakunya melampaui batas kewajaran atau kenormalan, yaitu dia mengaku sebagai Tuhan.

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az Zumar, 39:53).

Jadi inti dari hidup ini bukan untuk menjadi orang baik atau jahat, tapi bagaimana menjaga keseimbangan agar prilaku kita tidak melampuai batas.

Di akhirat kelak akan ditimbang apakah hidup kita lebih banyak elektronnya atau lebih sedikit elektronnya? Dengan kata lain, apakah prilaku kita melampaui batas atau berada dekat kenormalan?

Orang-orang yang prilakunya berada dekat dengan kenormalan dialah yang akan mendapat surga. Dan orang-orang yang melampaui batas kenormalan dialah yang akan masuk neraka.

Negatif dan positif seperti petunjuk jalan kiri dan kanan. Siapa yang jalannya ke kiri terus dia tidak normal, dan siapa yang jalannya ke kanan terus dia tidak normal.***

Sunday, March 3, 2024

KEMENANGAN PALESTINA TELAH DATANG

Oleh: Muhammad Plato

Palestina telah luluh lantak karena serangan Israel dan sekutunya. Balita, anak-anak, remaja, orang tua, ibu hamil, pasien, nyawanya tidak berharga di mata mereka. Rumah sakit, masjid, ambulan, rumah warga, jalan-jalan, kuburan, bagi mereka semua target untuk dihancurkan. Sungguh ini perang yang tidak beretika. Perang yang dikendalikan oleh hawa nafsu buruk yang merusak. 

Kisah ini menjadi, kisah sejarah paling memilukan di abad 21 ini. Tidak ada rasa kemanusiaan, tidak ada hak asasi manusia. Secara terang-terangan mereka menganggap manusia sebagai binatang. Miliaran manusia menyaksikan kekejaman perang abad 21 yang tidak berprikemanusiaan.

Sejarah dunia kini menjadi milik rakyat Palestina. Rakyat Palestina berjuang untuk mendapat kemerdekaan, sementara lawannya sekutu negara-negara besar dengan kemampuan teknologi tinggi. Kini rakyat Palestina hanya berpegang teguh pada janji-janji Allah. Mereka bisa bertahan sekuat tenaga dengan berharap pada janji Allah. 

Kisah rakyat Palestina seperti kisah sejarah zaman dahulu, ketika Nabi Muhammad mendapat serangan dari gabungan pasukan dengan kekuatan penuh, yaitu perang Khandaq. Pada saat itu, orang-orang beriman mendapat ujian yang mengguncangkan jiwa. Orang-orang yang jiwanya terguncang karena lemah imannya, melarikan diri dari perang. Mereka beralasan untuk menghindari peperangan.

Bagi orang-orang dengan kekuatan iman kepada Allah, ternyata datangnya pasukan dengan sekutunya adalah tanda bahwa janji Allah akan datang. Allah akan mendatangkan kemenangan setelah kehancuran diterima oleh orang-orang beriman.

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (Al Ahzab, 33:22).

Serangan besar-besaran dari Israel dan sekutunya adalah janji Allah, bahwa setelah kehancuran akan segera datang kemenangan. Serangan demi serangan yang meluluhlantakkan Palestina, bagi orang-orang beriman semakin bertambah iman dan ketundukkannya kepada Allah.

Ketetapan Allah tidak akan mengalami perubahan. Allah memberi pertolongan kepada orang-orang beriman setelah mereka mengalami kesulitan. Sesungguhnya pertolongan Allah akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak disadari.

"Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al Ahzab, 33:25).

Kita semua sedang menantikan kemenangan itu akan datang. Allah menurunkan ujian kepada orang yang dihendaki-Nya dan menurunkan bantuan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Cukuplah Allah sebagai penolong dan pelindung bagi orang-orang beriman kepada-Nya. 

Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (Al Ahzab, 33:41).

Sesungguhnya apa yang dijanjikan Allah telah datang. Apabila kita sudah mendapat kabar gembira dari Allah dan Rasulnya, kepada siapa lagi hendak kita percaya? Tidak ada lagi kebenaran yang melebihi apa yang telah Allah janjikan di dalam kitab suci Al Quran.***

Sunday, February 25, 2024

BARAT SEDANG MENGALAMI KEMUNDURAN MENTAL

Oleh: Muhammad Plato

Negara-negara Barat sedang mengalami kemunduran moral. Sekalipun ribuan anak-anak, bayi, dan masyarakat sipil telah dirampas hak hidupnya oleh aksi brutal Israel, para pemimpin di negara-negara Barat tidak bisa lagi melihat sebagai pelanggaran hak asasi manusia. 

Inilah krisis kemanusiaan terburuk di abad 21 yang sedang menimpa negara-negara Barat. Amerika Serikat beberapa kali menolak gencatan senjata, dan seperti membiarkan Genosida berlangsung di Palestina. Para pemimpin negara-negara Barat tidak lagi menghargai manusia sebagai manusia.

Dari luar kami melihat, negara-negara Barat punya agenda politik mereka sendiri. Begitu pentingnya agenda politik mereka, sehingga telinga, mata, dan hati mereka buta terhadap hak-hak manusia yang harus dilindungi. 

Secara psikologis, manusia-manusia yang tidak lagi menghargai harkat martabat manusia, dan hanya fokus pada agenda kepentingan politik kelompoknya, mereka dapat dikategorikan sebagai manusia-manusia kurang sehat secara mental. Akal-akal yang sehat semestinya harus mengesampingkan kepentingan politik mereka, sepenting apapun, jika dihadapkan kepada hak-hak manusia di muka bumi. Hak anak-anak, hak perempuan, hak warga negara, hak sesama manusia, tidak bisa dikorbankan demi kepentingan politik semata. 

Ketika perang dunia I dan II ribuan manusia telah mati akibat perang, namun tidak semua manusia bisa menyaksikannya karena terbatasnya informasi di media. Namun sekarang, ribuan masyarakat civil dibombardir tanpa henti oleh Israel tanpa ampun, disaksikan oleh seluruh masyarakat dunia, karena media informasi sudah menjadi milik warga masyarakat.

Ketika genosida di Palestina disaksikan di media-media sosial, disaksikan miliaran manusia, aneh sekali, aksi genosida di Palestina, ditonton seperti menonton adegan film. Aneh, tidak ada satu negara pun yang berani dan bisa menghentikan Genosida di Palestina dengan cepat untuk menghentikan jatuh korban lebih banyak.

Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Mengapa Amerika Serikat dan Sekutunya begitu sulit menghentikan Genosida pada warga Palestina? Mengapa negara-negara Arab cenderung diam tidak berbuat? Agenda apakah gerangan yang sedang mereka rencanakan? Apakah ini skenario Allah akhir dari peradaban Barat, ditandai dengan kemunduran kualitas mental masyarakat Barat? 

Keselamatan dan keberkahan untuk kalian semua. Islam datang bukan untuk mengambil alih kekuasaan, tetapi untuk membawa manusia pada jalan keselamatan dan kesejahteraan. Berpegang teguhlah pada Tuhan Yang Esa, Tuhan Semesta Alam. Sesungguhnya seluruh makhluk di langit dan bumi akan kembali kepada-Nya.***