Oleh: Muhammad Plato
Siapa orang-orang yang dimuliakan Allah? Mereka tidak dikenali dari keturunannya, pakaiannya, kekayaannya, atau kedudukannya. Fenomena di masyarakat kita temukan, mereka memuliakan seseorang karena keturunan, pakaian, kedudukan, pangkat dan gelar. Mereka mengkultuskannya dan riskan terjebak pada fanatisme berlebihan masuk pada wilayah syirik tersembunyi.
Orang yang dimuliakan Allah dapat dikenali dari iman dan akhlaknya. Banyak orang berakhlak baik tetapi tidak dikatakan orang mulia karena sebaik-baiknya akhlak dia harus punya dasar iman kepada Allah. Kemuliaan seseorang ditandai dengan keimanan kepada Allah dibuktikan dengan shalat dan selalu berbagi rezeki.
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (Al Anfaal, 8:3-4)
Akhlak dan keimanan tidak dapat dipisahkan. Kemulian seseorang diukur dari dua katergori ini. Al Quran menjadi panduan pola berpikir umat Islam dan seluruh umat manusia harus diajarkan. Nabi Muhammad diutus untuk seluruh makhluk. Maka orang-orang yang dimuliakan Allah bukan untuk sekelompok orang tapi untuk seluruh umat manusia.
Kita lihat lagi dari keterangan Al Quran siapa orang yang dimuliakan Allah. Orang yang dimuliakan Allah bukan mereka yang terlihat bergelimang kekayaan dan kesenangan. Kemuliaan tidak diukur karena mereka terlihat selalu diberi kesenangan atau selalu terhindar dari kesulitan.
Manusia suka berprasangka menurut keinginan hawa nafsunya sendiri. Manusia melihat kemuliaan dari kesenangan yang didapat dari Allah, dan kesulitan adalah kehinaan yang didapat dari Allah. Kesenangan dan keterbatasan rezeki bukan ukuran Allah memuliakan atau menghinakan.
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". (Al Fajr, 89:15-16).
Kesenangan dan kesulitan adalah takdir yang harus dilalui oleh manusia. Allah mengenalkan orang-orang yang dimuliakan berdasarkan akhlak dan keimananya. Dalam keterangan Al Quran dijelaskan.
Orang yang dimuliakan Allah adalah dia yang punya keimanan pada Allah, mau berhijrah, berjihad, memberi, dan suka menolong. Mereka mulia karena memperolah ampunan dan itulah sebaik-baiknya rezeki dari Allah.
"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. (Al Anfaal, 8:74).***





.jpg)