Sunday, February 5, 2023

FILOSOFI BISNIS BUKAN CARI UNTUNG MATERI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Untuk mengurangi pengangguran, bukan hanya melatih hard skill. Pada dasarnya hard skills yang dimiliki peserta didik tidak akan bertahan lama jika tidak dibekali dengan soft skills. Soft Skills adalah cara berpikir yang menjadi keterampilan peserta didik dalam memahami sebuah fenomena atau kejadian. Keterampilan umum cara berpikir yang harus kita latihkan kepada para peserta didik adalah kemampuan bepikir sebab akibat, menganalisis sebab, menganalisis akibat, dan menguji, memverifikasi, menginterpetasi hubungan sebab dengan akibat. 

Mari kita bahas, apa sebabnya konsep dasar bisnis bukan cari untung materi? Filosofi yang mendasarinya apa? Saya jelaskan, karena penjelasan ini berkaitan dengan logika tuhan, maka dasarnya adalah ayat Al Quran. Jadi ciri mendasar dari berpikir dengan logika Tuhan adalah pemikirannya didasari dari Al Quran. Di bawah ini adalah ayat Al Quran yang dapat digali logikanya menjadi dasar filosofi bisnis. 

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu" (An Nisaa, 4:1).

Tujuan bisnis bukan mencari keuntungan materi atau kejayaan bangsa, tapi untuk melaksanakan perintah Tuhan agar manusia saling mensejahterakan dan menjaga hubungan kekeluargaan sesama manusia agar tercipta perdamaian di dunia.

Mari kita analisis pengetahuan dari ayat di atas. Ayat ini berbicara universal untuk manusia. Mengapa? Pada awal ayat Allah menyeru pada manusia (yaa ayyuhannaas). Artinya Allah sedang menjelaskan sebuah sistem kehidupan yang berlaku untuk seluruh umat manusia. 

Konsep bisnis bisa kita gali dari kalimat "dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan hubungan silaturahmi". Konsep saling meminta jika kita interprestasi dalam kehidupan sehari-hari adalah praktek jual beli (trade). Pada praktek jual beli jika kita hubungkan dengan konsep sedekah yang banyak di jelaskan dalam Al Quran, jual beli adalah salah satu cara praktek dari saling mensedekahi. Dalam jual beli orang saling mensedekahi, "saya berikan barangnya, dibalas saya berikan uangnya". 

Terjadi jual beli sah jika keduanya saling suka (ridha) maka di Arab setiap akad jual beli selalu diakhiri dengan kata "halal" (sah, ikhlas, ridha).  Inilah makna kalimat, "dengan nama-Nya" kami berbisnis. Inilah prilaku bisnis yang akan menimbulkan multi efek salah satunya pada keberkahan hidup salah satunya pada keuntungan materi.

Dari kasus di atas, kita sudah bisa menarik kesimpulan bahwa bisnis filosofinya bukan cari untung materi, tetapi melaksanakan perintah Allah saling meminta, saling menolong, saling memberkahi, sesama umat manusia. Jadi tujuan bisnis pada dasarnya menolong atau mesedekahi orang lain. Dengan konsep bisnis tujuan menolong orang lain, maka kehidupan kita akan dikaruniai kehidupan damai dan sejahtera sampai akhirat. 

Contoh, dalam perdagangan internasional. Eropa membutuhkan biji nikel dari Indonesia untuk kebutuhan industrinya, Indonesia membutuhkan teknologi dari hasil industri orang Eropa. Indonesia memberi nikel dan orang Eropa memberi teknologi. Tujuan dari perdagangan ini harus equal, yaitu mensejahterakan orang Eropa dan mensejahterakan orang Indonesia. 

Penyimpangan yang terjadi dalam perdagangan adalah salah satu pihak mengambil keuntungan sebesar-besarnya untuk dirinya tanpa memperhatikan kesejahteraan orang lain. Fenomena ini kerap terjadi saat ini, negara penghasil teknologi mengambil keuntungan sebesar-besarnya, sementara negara penghasil bahan baku hanya sebagian kecil saja. Akibatnya terjadi ketimpangan kesejahteraan ekonomi antar negara. Fenomena ini terjadi karena kesalahan memahami filosofi dari tujuan bisnis, yang lebih cenderung pada keuntungan material tanpa ada tanggung jawab "atas nama-Nya" untuk saling memberi kesejahteraan. 

Tujuan berikutnya dari bisnis adalah dalam rangka menjaga "hubungan silaturahmi atau kekeluargaan". Menarik untuk disimak, konsep "kekeluargaan" karena awal ayat menyeru pada "manusia", maka keleluargaan di sini bukan kekeluargaan dalam konteks keluarga dekat, tetapi keluarga besar sesama manusia, antar etnis, antar suku, antar bangsa, antar negara. Secara luas tujuan bisnis adalah menjaga rasa kekeluargaan antar manusia di seluruh dunia. Inilah makna ajaran Islam yang bertujuan mewujudkan rahmat Tuhan untuk seluruh manusia. Manusia-manusia yang belajar dari Al Quran, akan menjadi manusia-manusia penebar rahmat Tuhan untuk alam semesta. 

Jika bisnis menimbulkan konflik dan perpecahan, sesama manusia, perang antar negara, itulah tanda? Konsep dasar bisnis yang dipahami bukan "atas nama-Nya" untuk saling mensejahterakan dan menjaga hubungan baik kekeluargaan antar sesama manusia, tetapi cenderung pada keuntungan material. Bagi orang-orang yang memahami konsep bisnis dari panduan logika Tuhan, mereka berani berkorban keuntungan materinya demi menjaga kekeluargaan sesama manusia. Tujuan bisnis bukan mencari keuntungan materi atau kejayaan bangsa, tapi untuk melaksanakan perintah Tuhan agar manusia saling mensejahterakan dan menjaga hubungan kekeluargaan sesama manusia agar tercipta perdamaian di dunia.***  


    

  



PENGETAHUAN ADALAH KARYA BESAR ALLAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Iqra atau bacalah...!!! (Al 'Alaq, 96:1). Kata mukjizat dari Tuhan Semesta Alam untuk umat manusia. Perintah membaca bukan hanya aktivitas fisik yang harus dipahami mendalam. Perintah membaca dari Allah, yang harus dipahami hakikatnya adalah akibat dari membaca yaitu pengetahuan yang dihasilkan. Mukjizat dari membaca adalah ketika orang tersebut mendapat pengetahuan dan masuk ke dalam memori otak, kemudian akal bisa berfungsi dengan baik.  

Bukan muslim sejati, jika belum mengetahui hakikat pengetahuan. Bukan seorang muslim berkualitas jika tidak mencintai pengetahuan. Awal manusia mengenal Tuhan karena pengetahuan. Pengetahuan menjadi sebab pertama manusia tumbuh menjadi manusia-manusia berkualitas dan bermanfaat bagi orang banyak. 

Seluruh muara berbagai macam ilmu dan pelajaran yang diberikan pada manusia, tersimpan dalam bentuk pengetahuan. Hasil pendidikan berpuluh-puluh tahun hasilnya adalah perbendaharaan pengetahuan. Tinggi rendahnya pendidikan seseorang bukan dari gelarnya atau kehormatannya tetapi kedalaman atau keluasannya dalam perbendaharaan pengetahuan. 

Berapapun uang yang kita korbankan untuk pendidikan,
tidak akan sebanding dengan pengetahuan yang Allah berikan untuk kita.

Keterbelakangan sebuah bangsa, dan kemajuan sebuah bangsa terletak pada perbendaharaan pengetahuan masyarakat. Keterbelakangan manusia disebabkan rendahnya akses mereka terhadap pengetahuan. Bangsa-bangsa yang rendah terhadap akses pengetahuan hidup dengan keterbatasan dan berkualitas rendah. 

Al Quran adalah pengetahuan terpilih yang diberikan Tuhan kepada manusia sebagai anugerah terbesar. Pengetahuan adalah mukjizat dari Allah untuk manusia. Al Quran adalah kumpulan pengetahuan berkualitas tinggi yang dapat menumbuhkan kecerdasan akal manusia. Al Quran adalah pengetahuan dengan kandungan protein tinggi untuk mencerdaskan otak manusia.

Bukan akalnya yang cerdas tapi pengetahuan yang dimilikinya berkualitas tinggi. Guru-guru terbaik adalah mereka yang mampu memilih dan memilah pengetahuan berkualitas tinggi dan memberikannya pada peserta didik untuk mencerdaskan akal. Semua manusia diberi akal yang sama, yang membedakan adalah kualitas pengetahuan yang dimilikinya. 

Cara berpikir, cara berbicara, cara berprilaku, dan teknologi yang dibuat manusia, sangat tergantung pada perbendaharaan pengetahuan yang ada di otaknya. Iqra adalah kata terindah, terhebat, dan terbesar dari Allah. Pendidikan manusia sejak lahir adalah menjaga pengetahuan di otaknya. Itulah makna ketika seorang muslim lahir diawali dengan memperkenalkan pengetahuan Allahu Akbar. Nabi Muhammad SAW, telah memberi pengajaran dengan pengetahuan-pengetahuan terpilih kepada umat manusia. Pengetahuan-pengetahuan terpilih tersebut adalah wahyu dari Tuhan Penguasa Alam dikumpulkan dalam kitab suci Al Quran. 

Manusia-manusia berkualitas tinggi adalah mereka yang mencintai dan selalu mencari, memahami, menganalisis, mensintesa, dan mengenginterpretasi, makna-makna terdalam dari pengetahuan. Pengetahuan dari Al Quran adalah pedoman untuk memahami, menganalisis, mensintesa, dan menginterpretasi pengetahuan-pengetahuan yang terhampar di alam semesta. 

Penyebab akal yang cerdas adalah pengetahuan kualitas tinggi dan keterampilan mengolahnya. Pengajaran dalam dunia pendidikan adalah menyajikan pengetahuan berkualitas tinggi dan melatih bagaimana cara mengolahnya. Al Quran harus jadi sumber pengetahuan yang mengisi seluruh relung otak. Menghubung-hubungkan pengetahuan dengan pengetahuan yang ada dalam Al Quran adalah latihan yang harus dilakukan peserta didik. Pemahaman yang dalam dapat dimiliki melalui proses menghubung-hubungkan. Terminilogi Al Quran sendiri adalah keterkaiatan. 

Perintah membaca bisa dipahami sebagai perintah menginput pengetahuan ke otak dan menghubung-hubungkan dengan berbagai fenomena kehidupan manusia dan kejadian alam, hingga manusia bisa memahami pola sebab akibat sebuah fenomena atau kejadian. Karya-karya besar Allah tentang pengetahuan bisa terungkap jika, pengetahuan yang diolah akal manusia pengetahuan berkualitas tinggi. 

Pengetahuan dasar yang harus dimiliki manusia adalah pengetahuan-pengetahuan yang datang dari Allah yang disampaikan jibril kepada para nabi. Al Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, bisa dibuktikan kebenarannya dengan menganalisis isinya. Membenarkan Al Quran sebagai pengetahuan dari Allah dapat dilakukan dengan melakukan kajian isinya. Sejarah, Antropologi, Sosiologi, Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, Ekonomi, Psikologi, Kedokteran, adalah alat analisis untuk membaca makna-makna pengetahuan yang terkandung dalam Al Quran.

Tidak akan menjadi manusia yang baik jika tidak mengenal hakikat pengetahuan adalah karya Allah. Bukan seorang muslim yang baik, jika tidak mencintai dan menghargai pengetahuan. Orang-orang pendidikan pasti menghargai pengetahuan di atas kebutuhan material lainnya. Berapapun uang yang dikeluarkan untuk pendidikan, tidak akan sebanding dengan pengetahuan diberikan Allah kepada kita dari pendidikan. Betapa agungnya Allah swt yang telah menciptakan pengetahuan sehingga manusia bisa hidup sejahtera di dunia dan di akhirat. Wallahu'alam.***

  


  

Saturday, February 4, 2023

The End Of Liberalism Karena Siklus Kehidupan

Oleh: Muhamad Plato

Situasi Krisis Ekonomi Sedang Melanda Eropa. Di Prancis jutaan orang turun ke jalan. Di Inggris hampir 500.000 orang berdemo sehari. Eropa dihadapkan pada krisis listrik akibat berhentinya Listrik Tenaga Nuklir, ditambah dengan ganguan pasokan gas Rusia akibat perang dengan Ukrania. Ketergantungan pada listrik warga Eropa sangat tinggi. Pendingin makanan yang mengunakan listrik dapat menghilangkan produk segar beku bahan pokok masyarakat Eropa. Inflasi yang tinggi menuntut mendorong para pekerja menuntut gaji yang tinggi (cnbcindonesia.com).

Liberalisme dan Komunisme pada ujungnya sama-sama menyengsarakan rakyat. Negara komunis melahirkan kelompok oligarki yang mengendalikan ekonomi, dan negara liberalis melahirkan kelompok kapitalis yang semakin bernafsu menguasai ekonomi. Tidak akan ada yang abadi di muka bumi ini, kekuasaan, kejayaan Komunisme maupun Liberalisme hanya bersifat sementara. 

Dunia ini ditetapkan telah memiliki siklus kehidupan. Siklus sebuah bangsa akan diteguhkan kedudukan dan kemudian dibinasakan, adalah takdir Tuhan. Nabi Muhammad SAW memprediksi siklus kehidupan terjadi dalam 100 tahunan. "Sesungguhnya Allah akan menurunkan setiap permulaan 100 tahun seseorang kepada Umat yang akan mengembalikan kegemilangan Agama mereka" [Hadits diriwayatkan oleh Abu Daud, Hakim di dalam Mustadrak dan al-Baihaqi di dalam al-Ma'rifah] (wikipedia.com). 

Dalam kisah sejarah dikenal dengan siklus kehidupan rise and decline teori Arnold Joseph Toynbee. Manusia hanya menjelaskan apa yang telah ditetapkan dalam Al Quran. Alam semesta bergerak dengan siklus rise and decline. 

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (Al An'aam, 6:6).

Kesejahteraan adalah rahmat dari Allah swt. Kesejahteraan adalah sebuah kondisi berada di keseimbangan dua posisi. Menjaga keseimbangan seperti cara kerja timbangan. Jumlah satu kilogram bisa dikatakan satu kilo gram jika berat barang lebih berat dari berat batu kiloan. Menjaga keseimbangan adalah menjaga posisi kehidupan masyarakat tidak cenderung pada seglintir kelompok atau individualis.

Ajaran agama mengajarkan bagaimana manusia bisa hidup cenderung pada kepentingan publik bukan kepentingan kelompok atau individu. Di dalam ajaran Islam, konsep keseimbangan agar manusia tidak cenderung pada segelintir kelompok atau individu, diperkenalkan dengan konsep membantu kesejahteraan sosial melalui sedekah, zakat, wakaf, infak, hibah, dan waris. 

Pengajaran agama lebih cenderung pada pengajaran individu, yaitu individu-individu yang bisa menjaga keseimbangan antara individu yang bisa membatasi kebutuhan untuk pribadinya, dan menyalurkan hak-hak orang lain yang melekat pada dirinya. Untuk itu dalam ajaran agama Islam, memerintah seseorang untuk beriman pada Tuhan Yang Esa dan mengeluarkan harta hak orang lain yang melekat pada hartanya. 

Menjaga keseimbangan hidup sejahtera adalah membatasi kebutuhan pribadi,
dan menyalurkan hak orang lain yang melekat pada milik pribadi. 

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (At Thalaq, 65:7). 

Kesejahteraan hidup seseorang bukan seberapa banyak memiliki, tetapi seberapa besar yang dimilikinya bisa mensejahterakan orang lain. Inilah sistem keseimbangan hidup yang harus terpelihara dalam kolektif memori masyarakat di sebuah negara. Sebuah negara, perusahaan, tidak dapat mensejahterakan rakyat dan karyawannya jika individu-individunya tidak memiliki niat menjaga keseimbangan hidup sebagaimana diajarkan dalam agama.

Negara kaya, perusahaan besar, tidak akan bisa mensejahterakan rakyat dan karyawannya, jika para pengelola negara atau perusahaan tidak memiliki konsep keseimbangan hidup, menjaga kebutuhan pribadi dan mensejahterakan kesejahteraan orang lain. Komunisme dan Liberalisme dua-duanya telah berakhir, dan saatnya kembali pada konsep-konsep keseimbangan hidup yang diajarkan dalam ajaran-ajaran agama, seperti diajarkan dalam ajaran agama Islam. 

Siklus kehidupan akan berlaku, setiap 100 tahun akan terjadi redefinisi, refleksi, dimana manusia akan belajar dan memverifikasi konsep-konsep hidup yang telah lama dijalaninya. Ilmu-ilmu yang bersumber pada ajaran agama, jika dicermati lebih menjamin kesejahteraan hidup manusia, dari pada pemikiran-pemikiran manusia dari alam yang bersifat spekulatif.*** 

 

Friday, February 3, 2023

TERPAKSA SHALAT KARENA TERPAKSA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Diskusi ini diangkat dari kasus di sekolah, perihal pelaksanaan shalat dhuha 12 rakaat. Ada komentar program shalat dhuha 12 rakaat terasa berat dan dirasakan menjadi pemaksaan. Komentar ini terus bergulir dari tahun ke tahun. Sementara, program dhuha 12 rakaat hari demi hari terus berjalan, dan komentar komentar pesimis terus diperbincangkan seiring dengan program dhuha 12 rakaat terus berjalan. 

Diskusi ini akan mengukur sejauh mana program shalat dhuha 12 rakaat memberatkan. Tujuan diskusi ini untuk menakar apakah komentar shalat dhuha 12 rakaat memberatkan dan pemaksaan, apakah  mengandung kebenaran atau hanya argumen yang dilandasi dengan keengganan  dan kesombongan untuk tidak taat pada Allah. 

Secara lahiriah, shalat adalah gerakan fisik rukuk dan sujud. Gerakan ruku dan sujud bukan gerakan yang dikarang oleh seseorang, tetapi gerakan rukuk dan sujud diwariskan dari Nabi Muhammad SAW. Diyakini gerakan rukuk dan sujud adalah gerakan shalat yang dicontohkan Rasulullah SAW bersumber dari wahyu Al Quran. Jadi gerakan rukuk dan sujud adalah gerakan mengikuti ayat-ayat Al Quran. 

Penulis menganalogikan gerakan rukuk dan sujud, seperti gerakan tawaf yang gerakannya mengelilingi Ka'bah. Para ulama berpendapat jika seorang muslim melakukan ibadah haji atau umrah dengan melakukan gerakan tawaf, sekalipun tanpa membaca doa-doa, Allah tetap memberikan balasan kebaikan bagi yang melakukannya. Tawaf adalah gerakan yang bersumber dari ayat Al Quran, demikian juga dengan gerakan rukuk dan sujud. Artinya, jika seseorang melakukan gerakan rukuk dan sujud dalam shalat dia sedang mengerjakan sebuah gerakan yang bersumber dari Al Quran. Insya Allah ada kebaikan bagi pelakukanya. 

Shalat, rukuk dan sujudlah kepada Allah, dengan senang hati atau terpaksa, sesungguhnya shalat perintah Allah dan mengandung kebaikan bagi yang taat melakukannya.  

Artinya, gerakan shalat berupa rukuk dan sujud saja mengandung kebaikan, apalagi jika bacaan-bacaannya dilakukan dengan benar. Allah Maha Pemurah, bagi pengamal shalat jangan merasa putus asa, pesimis, shalat tidak diterima. Berpikirlah optimis pada Allah, setiap gerak yang didasarkan pada perintah Allah, geraknya saja Allah pasti menilainya sebagai sebuah kebaikan. Keraguan, kemalasan, keengganan, kekhawatiran, secara berlebihan ketika kita seudah belakukan kebaikan adalah pemikiran dan perasaan yang dibisikkan setan.  

Jika kita dilanda keraguan, kemalasan, keengganan, dan kekhawatiran, di saat melakukan shalat, maka solusinya adalah melakukannya sekalipun dengan terpaksa. Melakukan perintah Allah dengan keterpaksaan lebih baik dari pada diam memelihara keraguan, kemalasan, keengganan, dan kekhawatiran. Melakukan shalat perintah Allah sekalipun dengan keterpaksaan akan menghasilkan kebaikan karena kebaikan tetap akan berbalas kebaikan. Melakukan perintah Allah dengan keterpaksaan justru akan jadi obat untuk menghilangkan keraguan dan kekhawatiran. 

"Hanya kepada Allah-lah sujud segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari" (Ar r'ad, 13:15).

Shalat yang mengandung gerakan rukuk dan sujud, adalah gerakan perintah Allah. Bagi siapa saja yang merasa sukarela atau terpaksa sujud kepada Allah, dia telah melaksanakan perintah Allah. Namun bagi orang-orang berakal sehat, tidak ada keterpaksaan untuk melaksanakan perintah Allah. 

"Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". (Fushshilat, 41:11). 

Dari mulut siapapun datangnya perintah shalat rukuk dan sujud, perintah itu hakikatnya dari Allah pemilik kebenaran. Kesombongan dan keangkuhan yang membuat orang tidak mau bersujud, seperti iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Bagi seorang muslim, tidak ada keraguan untuk melaksanakan perintah Allah, dia harus melaksanakannya baik dalam kondisi suka hati ataupun terpaksa. Namun bagi muslim yang hati dan pikirannya diberkahi, dia akan memilih melaksanakan perintah Allah dengan suka hati, karena segala perintah Allah pasti mengandung kebaikan di dunia maupun di akhirat.***




Wednesday, February 1, 2023

KEBEBASAN HANYA MILIK ALLAH

Oleh: Muhammad Plato

Disertasi tentang determinisme kisah pada tokoh di dunia mendapat penentangan dari beberapa ahli sejarah. Dari hasil riset ditemukan bahwa tokoh-tokoh besar di dunia mengalami determinisme empat kisah dalam perjalanan hidupnya. Empat kisah tersebut adalah usaha, gagal, derita, dan sukses. Validitas empat kisah ini bisa dikonfirmasi dari berbagai kisah para tokoh di dunia. Kisah Nabi Muhammad SAW mengalami empat kisah dalam perjalanan misi kenabiannya. 

Usaha Nabi Muhammad SAW diawali dengan kisah perintah membaca. Membaca adalah usaha kreatif seseorang dalam menemukan masalah dan menyelesaikan masalah hidupnya. Fakta sejarah seluruh manusia di dunia mengawali usahanya dengan membaca atau mencari ide untuk menyelesaikan masalah hidupnya. 

Mau kemana kamu? Semua bertasbih kepada Allah.
Jika kamu berpikir lurus, seluruh hidup manusia di atas kehendak Allah.

Pada kisah gagal, dialami oleh Nabi Muhammad SAW ketika mendapat reaksi keras dari masyarakat Arab yang menolak kenabian Nabi Muhammad SAW. Pengikut Nabi Muhammad SAW harus terusir ke Afrika. Setelah itu Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk hijrah ke Madinah. 

Di Madinah kisah Nabi Muhammad SAW bukan mereda, penderitan harus dihadapinya dengan menghadapi peperangan demi peperangan yang tidak seimbang. Pengikutnya yang tidak banyak harus berhadapan dengan pasukan 1:10. Dalam kondisi tertekan Nabi Muhammad SAW dihadapkan pada pengikut-pengikutnya yang membelot. 

Pada akhirnya tibalah sebuah perjanjian Hudaibiyah yang ditulis dengan merendahkan Nabi Muhammad SAW. namun membawa kedamaian dan kesuksesan bagi umat Islam. Beberapa tahun setelah perjanjian Hudaibiyah, Nabi Muhammad bersama 10.000 pasukan memasuki Mekah dan berhasil membebaskan Mekah dari penyembahan pada selain Tuhan Yang Ghaib. Hari itu dikenal sebagai hari pembebasan massal. 

Empat kisah yang dialami Nabi Muhammad SAW dalam membebaskan Mekah dari berhala, adalah determinisme kisah yang terjadi pada setiap orang sukses. Terlepas orang itu dari golongan mana dan warna kulitnya apa. Determinisme merupakan segala ketentuan yang Allah ciptakan untuk kehidupan manusia. 

Tidak ada free determinisme, karena semua sudah ada dalam kehendak Tuhan. Free determinisme sama dengan menuhankan manusia. Seolah-olah manusia bisa mengendalikan hidupnya tanpa kehendak Tuhan. Pada seluruh gerak dan fasilitas kehidupan di muka bumi ini bergerak atas kehendak Tuhan. 

Manusia hidup dalam lautan determinisme yang diciptakan Tuhan. Manusia bisa pindah dari determinisme ke determinisme yang telah Tuhan ciptakan. Kebebasan manusia ada dalam kebebasan yang telah diciptakan oleh Tuhan. Kebebasan manusia adalah determinisme yang diberikan Tuhan pada manusia. Inilah cara berpikir lurus, menjadikan satu-satunya Tuhan yang maha berkehendak.

"maka ke manakah kamu akan pergi? Al Qur'an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam". (At Takwir, 81:29).

Semua yang dilakukan manusia adalah kehendak Allah. Manusia merasa diberi kebebasan karena kebebasan yang diberikan Allah dalam menjalajahi seluruh kehendak Allah yang maha luas. Mau kemana kamu pergi? Seluruh alam bertasbih, tunduk, patuh, kepada Allah. Bagi siapa yang ingin mendapat jalan lurus, berpikir lurus, maka semua yang kamu lakukan adalah ketetapan, determinisme, atau kehendak Allah. 

Allah yang memiliki kebebasan, dan kebebasan manusia berada di atas lautan determinisme milik Allah. Sesungguhnya seluruh kehidupan ini diciptakan Allah Tuhan Semesta Alam. Tidak ada satu manusia pun lepas dari ikatan ketetapan dari Allah.***


Monday, January 23, 2023

Tuhan Ku Imajinatif

Oleh: Muhammad Plato

Allah Yang Gahib adalah Tuhan yang imanjinatif. Allah ada dalam persepsi manusia. Hanya Tuhan yang imajinatif yang bisa memenuhi segala hajat hidup manusia. Allah yang ghaib adalah Tuhan yang akan memberkahi otak manusia menjadi kreatif. Allah Yang Ghaib akan memberkahi otak tidak kehabisan akal untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup manusia. 

Allah ada dalam imajinasi manusia yang tidak terimajinasikan. Allah ghaib adalah Allah yang tidak bisa disamakan, dirupakan, pada benda. Allah ada dalam imajinasi yang tak terimajinasikan. Allah yang tidak terimajinasikan adalah Tuhan yang maha kreatif yang tidak akan habis-habisnya memberi inspriasi pada manusia. 

Allah yang ada dalam imajinasi tidak membutuhkan benda-benda untuk mendekatinya. Allah yang ada dalam imajinasi membuat manusia hidup sederhana, dan banyak manfaat bagi manusia lain. Manusia sederhana adalah yang merasa cukup apa yang dipakai dan dimakan. Kesederhanaan akan menumbuhkan kelimpahan dan menjadi berkah bagi banyak orang karena tetap ada dalam kesederhanaan. 

Allah Tuhan ku yang ada dalam imajinasi, tidak pernah berhenti memberi inspirasi. Ketika sakit, dalam imajinasi Allah jadi penyembuh, ketika sedih Allah menjadi penghibur, ketika salah Allah menjadi penyemangat, ketika berbuat dosa Allah jadi pengampun, ketika kekurangan Allah jadi pemberi. Allah yang ada dalam imajinasi membuat manusia kreatif dan berpikir tumbuh. 

Doa orang miskin, "Ya Allah berilah aku banyak kebutuhan,
agar imajinasi ku selalu sibuk ingin dekat dengan Mu".

Allah Tuhan ku yang ada dalam imajinasi punya 99 nama. Dia bisa membantu ku dalam segala kondisi dengan kemampuannya berubah-ubah nama yang imajinatif. Allah Tuhan ku akan selalu imajinatif, karena ketika Tuhan berubah wujud jadi materi, aku gagal mempertahankan Tuhan ku yang imajinatif. 

Allah Tuhan ku yang imajinatif, membuatkan tidak pernah kehabisan gagasan. Allah yang imajinatif mengajari berpikir fleksibel. Doa-doa ku dalam imajinasi ingin dekat Allah, menjadi kekasih, yang selalu di sayang dan dicintai-Nya. Ketika jatuh cinta, dalam imajinasi ku Allah datang menjadi kekasih.

Allah dalam imajinasi ku, Allah bisa datang kapan saja saat dibutuhkan. Dalam imajinasi ku, aku berdoa ya Allah berilah aku banyak kebutuhan, agar imajinasi ku selalu sibuk dekat dengan Mu.    

SEJARAH MANUSIA TERPELAJAR

Oleh: Muhammad Plato

Dikisahkan dalam Al Quran, manusia diciptakan sebagai pemimpin, dan Allah memerintahkan malaikat dan iblis taat pada pemimpin. Malaikat dan iblis adalah dua sifat pembentuk ruh manusia. Sebagaimana Allah jelaskan bahwa di dalam ruh manusia ada dua sifat, yaitu fujur dan taqwa. Fujur adalah sifat sombong, dan taqwa adalah ketundukkan pada perintah Allah. 

"dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya" (Asy Syams, 91:10). 

Para pemimpin adalah pemegang kekuasaan, dan kepada para penguasa mereka harus tunduk. Ilmu Allah telah diberikan kepada pemimpin. Para pemimpin diberi pengetahuan yang tampak dan yang tersembunyi. 

Pendidikan adalah upaya Adam menghidup sifat-sifat malaikat yang terpelajar

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." (Al Baqarah, 2:34). 

Manusia tercipta dari tiga unsur yaitu Adam, Malaikat, dan Iblis. Adam adalah makhluk pembelajaran, diajari ilmu oleh Allah, dan diberi kedudukan sehingga malaikat dan iblis harus tunduk pada Adam. Kesempurnaan Adam karena punya dua sifat yaitu iblis yang mendorong hawa nafsu hingga terjadi pertumpahan darah, dan malaikat yang berilmu maka selalu taat pada Allah.  

Pertumpahan darah terjadi setiap hari dalam jiwa manusia. Pertumpahan darah dalam jiwa manusia terjadi antara iblis dan malaikat. Iblis senantiasa sombong, merasa diri lebih baik dari orang lain, dan merasa punya kekuasaan. Malaikat senantiasa lemah lembut, sabar, berserah diri tunduk dan patuh pada perintah Tuhan. 

Para pemimpin adalah Adam yang bisa mengendalikan iblis. Para pemimpin adalah Adam yang cenderung memiliki sifat-sifat malaikat yang selalu tunduk pada perintah Allah. Kekuatan ilmu para pemimpin adalah kemampuan mengendalikan hawa nafsu yang merusak, dan lebih cenderung pada ketundukkan pada Tuhan. 

Kepemimpinan akan tegak selama Adam menjaga kecedenderungan sifat-sifat malaikat ada dalam dirinya. Kepemimpinan akan dicabut ketika Adam cenderung pada sifat-sifat sombong, malas, merasa benar, otoriter, dan diskriminatif. 

Konflik yang terjadi dalam kehidupan manusia dalam bermasyarakat dan bernegara adalah refresentasi dari konflik yang terjadi dalam jiwa Adam. Pemimpin-pemimpin yang membawa damai adalah Adam yang bisa mengendalikan sifat-sifat iblis dengan menghidupkan sifat-sifat malaikat yang pembelajar.

Rasulullah mengatakan, "perang yang besar adalah perang melawan hawa nafsu". Perang ini tidak berkesudahan karena perang ini selalu ada dalam diri Adam. "Musuhmu yang paling berbahaya adalah hawa nafsu yang ada di antara lambungmu, anakmu yang keluar dari tulang rusukmu, istrimu yang kamu gauli, dan sesuatu yang kamu miliki (HR. Al Baihaqi).

Pendidikan adalah upaya sadar Adam untuk menghidupkan sifat-sifat malaikat yang terpelajar. Upaya pendidikan setiap saat adalah menghidupkan bakat pembelajar sepanjang hayat yang ada dalam jiwa Adam. Jiwa malaikat, ditandai dengan semangat pembelajar karena cinta ilmu pengetahuan, dan menghidupkan budaya membaca. Adam membutuhkan banyak pengetahuan untuk mengalahkan sifat-sfita iblis yang malas dan sombong. 

Saturday, January 21, 2023

LOGIKA ALAM DAN LOGIKA TUHAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Penjelasan kali ini, akan membantu para pembaca memahami perbedaan logika alam dengan logika Tuhan. Di lapangan banyak terjadi miskomunikasi, logika Tuhan disangkanya akan menjadikan manusia jadi Tuhan. Padahal pendapat itu hanya prasangka orang yang tidak memahami terminologi logika Tuhan. Logika Tuhan adalah produk pemikiran, sebuah karya intelektual dan ada penemunya. 

Oleh karena itu, orang tidak bisa memberi pandangan tentang logika Tuhan, tanpa mendengar penjelasan dari penemunya. Mereka yang menghakimi logika Tuhan tanpa mendengar penjelasan dari penemunya adalah perbuatan main hakim sendiri, yang akan berujung pada fitnah. 

Terminologi logika Tuhan adalah ilmu berpikir yang dilandasi oleh petunjuk dari Tuhan, yang bersumber dari Al Quran. Berbicara logika Tuhan, bukan hanya bicara kemampuan bernalar yang harus dimiliki, tetapi harus punya kemampuan menjelaskan dari mana sumber pemikiran dikembangkan. Berpikir dengan logika Tuhan, bisa jadi terdapat kesamaan dengan orang yang berpikir dari logika alam. 

Di dalam Al Quran dijelaskan, alam adalah Al Quran. "Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui" (Al An'aam, 6:97). 

Belajar berlogika dari alam hasilnya bisa sama dengan belajar logika dari Al Quran yang tertulis dalam kertas. Namun demikian dari sudut pandang sejarah, belajar logika dari alam informasinya didapat dengan penafsiran manusia dalam membahasakan apa yang terjadi di alam benda. Informasi yang dihasilkan sangat mengandalkan imajinasi tingkat tinggi, karena alam tidak bisa bicara seperti komunikasi manusia dengan manusia. Untuk menguji kebenaran hasil pemikiran di alam membutuhkan metodologi cukup panjang dan harus diuji berulang-ulang.   

Alam bisa berkomunikasi dengan manusia melalui simbol- simbol dan bunyi. Orang yang belajar logika dari alam seperti manusia purba yang belajar bertahan hidup tanpa tulisan. Kemampuan manusia purba yang tidak kenal tulisan hanya dibesarkan dengan belajar dari alam mengalami keterlambatan dalam berpikir. 

Bahasa alam dapat dipahami jika orang konsentrasi dalam jangka waktu lama melakukan penelitian. Bahasa alam berdasarkan teori komunikasi cenderung bersifat high context, bisa dipahami dan dijelaskan oleh orang-orang yang memang ahli berpikir. Untuk memahami logika alam, mereka harus punya kemampuan dan kapasitas sebagai ilmuwan tertentu. Filsuf-filsuf hadir sebagai ahli logika dari alam. Hasil pemikiran-pemikiran para filsuf bisa jadi pola pikir yang dikehendaki oleh Tuhan, bisa jadi pemikiran mereka berlebihan sehingga tidak dikehendaki Tuhan.

Memahami logika Tuhan, keunggulannya adalah orang-orang diajak mengenal paragraf, kalimat, kata, dan tanda baca, yang teruji dan diyakini dikabarkan langsung kepada manusia utusan Tuhan melalui bahasa yang dipahami manusia. Memahami kitab suci dalam kalimat, informasi lebih cepat dicerna, dibanding dengan bahasa alam. Kitab suci dalam kalimat dan kata, mengandung bahasa low context dan high context.  

Terminologi logika Tuhan adalah berpikir dengan petunjuk Tuhan

Ada orang berpendapat bahwa semua kebaikan sudah pasti dari Tuhan, pendapat itu tidak salah, tetapi dia harus membuktikan apakah perkataan itu dari Tuhan atau hanya dari pengalaman. Jika pendapat itu diklaim dari Tuhan, maka orang tersebut harus mampu memberikan sumber rujukan spesifik pada kitab suci Al Quran. Perbedaan mendasar dari orang yang berlogika Tuhan dan alam terletak pada sumber logika yang dikembangkan. 

Apabila terjadi perbedaan sudut pandang, dalam logika Tuhan tidak ada klaim kebenaran dari sebuah pemikiran. Perbedaan pemikiran akan jadi khazanah ilmu yang akan terus diuji dalam dialog tak berkesudahan. Al Quran yang disampaikan dalam kalimat dan kata, manusia bisa lebih cepat menangkap pesan-pesan dari Tuhan, dan alam menjadi sarana untuk pembuktikan dari apa-apa yang dijelaskan oleh Tuhan. Wallahu'alam.

TUHAN MU DAN TUHAN KU SAMA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Seorang guru agama di sekolah, berdiskusi lama tentang upaya meningkatkan pendidikan agama bagi para siswa. Disimpulkan bahwa pelajaran agama harus lebih banyak praktek dari pada teori. Praktek pelajaran agama yang harus banyak dilakukan adalah berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari. 

Di akhir diskusi, guru agama bercerita bahwa sahabatnya yang non muslim suka berdiskusi. Ada pertanyaan terlontar dari temannya yang non muslim, "apakah Tuhan di agama mu dengan Tuhan di agama ku berbeda atau sama? Jawaban dari guru agama adalah "sama, jika berbeda maka Tuhan akan bertengkar". Tuhan akan berebut kekuasaan dan antar umat beragama akan terjadi konflik.

Mendengar diskusi guru agama dengan sahabatnya yang non muslim, penulis jadi ingat pada bunyi ayat Al Qur'an. "Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai `Arsy daripada apa yang mereka sifatkan" (Al Anbiyaa', 21:22).

Penyebab konflik adalah terjadinya perbedaan tuhan yang disembah manusia. Hadirnya tuhan-tuhan yang berbeda adalah akibat dari persepsi manusia. Untuk itulah manusia butuh Nabi pembawa risalah kebenaran. Manusia butuh kitab suci yang teruji kebenarannya sebagai petunjuk hidup. 

Ilmu tauhid atau ilmu mengesakan Tuhan adalah ilmu yang akan membawa perdamaain dan persatuan antar umat beragama dan seluruh umat manusia di dunia. Inilah kiranya terminologi ilmu tauhid yang membumi. Islam dikenal sebagai agama tauhid, agama yang menjaga manusia untuk mengesakan Tuhan. Maka dari itu, agama Islam sebenarnya agama yang membawa pesan-pesan damai dan sejahtera untuk umat manusia dengan mengajak manusia tidak membeda-bedakan Tuhan yang disembah. Tuhan esa yaitu Tuhan Yang Ghaib, yang tidak dapat menyerupai atau diserupai, tidak berbentuk dan tidak berwujud, tetapi ada. 

"Sesungguhnya ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku" (Al Anbiyaa', 21:92).

Terlalu berisiko bagi kita semua jika menganggap ada tuhan-tuhan yang berbeda yang kita sembah, karena kita akan dianggap menduakan Tuhan. Sementara Tuhan maha pencemburu, karena tidak ingin diduakan. Ketika ada manusia sedang memperbincangkan tentang perbedaan Tuhan yang disembah, maka dia sedang berdebat dengan pikiran dan dibawa oleh hawa nafsunya sendiri. Wallahu'alam. 

Monday, January 2, 2023

HUBUNGAN MENDENGAR DENGAN KEKAFIRAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Mendengar adalah kompetensi dasar yang dimiliki manusia-manusia berkualitas tinggi. Budaya mendengar dikenal sebagai budaya orang Jepang. Di Jepang, anak-anak mereka diajari mendengar sejak usia dini. Hasilnya hingga dewasa budaya mendengar terpelihara dengan baik di masyarakat Jepang.

Dari hasil penelitian, "komunikasi efektif, menjadi permasalahan orang Indonesia. Mereka masih awam terhadap budaya komunikasi efektif dan kurang keterampilan mendengar dalam berkomunikasi, sehingga mengakibatkan mereka lebih banyak “berpendapat untuk mengemukakan masalah” daripada “berpendapat untuk memecahkan masalah” (Sari, 2016).

Budaya mendengar dibutuhkan oleh masyarakat, karena budaya mendengar menjadi awal dari terbentuknya masyarakat berperadaban. Mendengar saat musyawarah, rapat, webinar, seminar, workshop, kuliah, adalah kompetensi penting dimiliki. Dalam ilmu komunikasi mendengar adalah bagian penting jika ingin terjalin komunikasi baik. Kesepahaman antar kelompok akan terjadi jika kedua kelompok mau saling mendengar. Kegiatan mendengar akan menuntut orang berpikir karena dengan mendengar informasi diserap dan disimpan dalam otak, kemudian diolah menjadi pemikiran. Orang-orang yang rajin mendengar otaknya dinamis dan kreatif. 

  

Jika kita telusuri dari penjelasan Al Quran, ternyata mendengar berkaitan dengan keimanan dan kekafiran. Mendengar adalah kompetensi manusia berkualitas tinggi. Manusia-manusia yang mau mendengar dikategorikan sebagai orang-orang beriman, dan manusia yang tidak mendengar dikategorikan sebagai manusia kafir (tertutup dari kebenaran).

Secara psikologis, otak bisa menerima informasi karena mendengar. Melalui pendengaran informasi bisa masuk ke dalam memori di otak. Informasi itu kemudian diproses dan tersimpan. Pendengaran adalah pintu masuknya pengetahuan ke otak. Menjadi pendengar yang baik, adalah tindakan positif karena otak akan banyak menginput pengetahuan. Semakin banyak input pengetahuan ke otak, maka semakin tinggi kualitas pemikiran seseorang. 

Budaya mendengar merupakan budaya manusia berkelas tinggi, yang digambarkan oleh Allah di dalam Al Quran sebagai orang-orang beriman. Manusia-manusia pendengar termasuk orang-orang yang berkualitas tinggi, karena meniru sifat Allah yaitu maha mendengar. Dunia pendidikan merupakan upaya terencana agar manusia memiliki sifat-sifat dasar sebagai pembentuk karakter unggul. Melatih para siswa untuk membiasakan mendengar adalah kompetensi dasar dalam membentuk manusia-manusia unggul. 

Orang-orang yang tidak mau mendengar dikategorikan sebagai manusia kelas rendah. Manusia kafir dikatergorikan sebagai manusia yang tidak punya kompetensi mendengar dengan baik. Sedangkan manusia bertakwa adalah mereka yang mau mendengar dan mau memikirkan informasi yang diprolehnya. 

Kadang sering kita saksikan, ketika kita menjadi pendengar diuji, berapa lama kita bisa menjadi pendengar? Kalau hanya bertahan lima menit saja untuk mendengar, betapa rendahnya kualitas dan kuantitas pengetahuan yang masuk ke dalam otak kita. Maka orang-orang yang tidak bisa bertahan lama untuk mendengar, otaknya akan kekurangan asupan pengetahuan. Orang yang tidak punya kompetensi mendengar, bukan seorang pembaca yang baik. Kualitas orang yang tidak punya kompetensi mendengar, dia akan terus mengalami penurunan kualitas mental dan bukan saja membahayakan dirinya sendiri tetapi membahayakan kehidupan orang lain. 

Tingginya budaya jujur, disiplin, teratur, dan kerja keras masyarakat Jepang, berbanding lurus dengan budaya mendengar yang dimiliki masyarakat Jepang. Karakter masyarakat berperadaban tinggi, memiliki kemampuan mendengar dalam waktu lama. Semakin lama kemampuan mendengar sebuah  masyarakat, semakin tinggi peradaban masyarakat tersebut. Demikian juga, semakin lama kemampuan mendengar seseorang, semakin tinggi kualitas intelektual seseorang.  

Dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak mengerti. (Albaqarah, 2:171).

Kebiasaan sebagai pendengar yang efektif akan menghasilkan beberapa hal yang positif, antara lain: Pendengar yang baik akan disukai orang lain karena mereka dapat memuaskan kebutuhan dasar manusia untuk didengarkan. Kinerja atau prestasi kerja seseorang meningkat ketika pesan yang diterima tersebut dapat dimengerti dengan baik. Umpan balik (feedback) yang akurat dari bawahan (karyawan) akan berdampak positif pada prestasi kerjanya. (Sari, 2016).

Keterampilan mendengar jadi kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang konselor, pendidik, dan siswa. Konsoler dapat memanfaatkan kemampuan mendengarnya untuk meringankan stres yang dialami seseorang. Hasil riset menjelaskan orang-orang yang merasa stres mengalami penurunan tingkat stres karena curhatannya ada yang mendengarkan (Fitriana dan Rosyidi, 2021). 

Manajer dan karyawan akan terhindar dari munculnya kesalahpahaman dalam penyampaian suatu pesan. Pendengar yang baik akan dapat memisahkan mana fakta dan mana yang sekedar gosip. Pendengar yang baik memiliki kecenderungan membuka ide-ide baru dari pihak lain, sehingga hal ini mendorong berkembangnya kreativitas. Pendengar yang efektif juga akan dapat menghasilkan prestasi kerja yang baik dan peningkatan kepuasan kerja. Kepuasan kerja meningkat karena mereka tahu apa yang terjadi, kapan mereka mendengar, dan kapan mereka berpartisipasi di dalamnya, tumbuh dari komunikasi yang baik (Sari, 2016). 

Kualitas mendengar terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu mendengar isi, kritis, dan empatik. Mendengar isi artinya memahami apa yang disampaikan orang lain. Mendengar kritis artinya menyimak secara logis, menilai kualitas argumen, validitas, kesimpulan yang dihasilkan, dll. Mendengar empatik, artinya aktivitas memahami karena menghargai terlepas dari perbedaan sudut pandangnya. Orang-orang yang tidak punya kompetensi mendengar Allah sebut sebagai orang-orang yang tidak mengerti, bodoh, dungu, atau kafir. Jangan-jangan kita kafir hanya karena gagal untuk mendengar.***



Sunday, January 1, 2023

PERSEPSI AGAMA DARI KELAS BAWAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Agama tidak lepas dari cara manusia mempersepsinya. Salah satu persepsi terhadap agama selalu dilihat dari penampilan penganutnya. Penganut agama Islam sering dipersepsi sebagai agama orang miskin. Persepsi ini dibangun karena sebagian besar penganut agama Islam ada di negara-negara miskin. Padahal semua penganut agama dari kelas ekonomi miskin sampai dengan kelas ekonomi kaya, mereka akan menampilkan dirinya sebagaimana mereka berada di kelasnya. Manusia kodratnya sangat terikat dengan geografi dan budaya dimana mereka tinggal. Ajaran agama digunakan sebagai cara manusia bertahan hidup berdasarkan kondisi geografi, sosial, dan budaya di mana mereka berada. 

Masyarakat Afrika dengan kondisi geografi di tanah gurun, dengan kondisi ekonomi terbatas, mereka akan tampil sesuai dengan kondisi realitas mereka.  Orang Afganistan yang tinggal di tengah gurun, mereka tampil dengan kesederhanaan infrastruktur dan kesederhanaan gaya hidup. Apapun agama yang dianut sebuah masyarakat akan tampil dipengaruhi oleh kondisi geografi, sosial, dan ekonomi mereka. 

Sebaliknya masyarakat yang menganut agama Islam di Selandia Baru, Australia, Jerman, Amerika Serikat, dan negara-negara maju lainnya, mereka akan tampil dengan pola hidup tertib, teratur, bersih, dan disiplin sesuai dengan geografi, sosial, dan budaya dimana mereka tinggal. Agama menjadi pedoman bagaimana mereka harus tinggal dengan kondisi geografi, sosial, dan budaya di mana mereka berada.

Dengan kemajuan teknologi informasi, pengetahuan tentang kondisi geografi, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat bisa kita saksikan dengan latar belakang agama berbeda-beda. Semua penganut agama mereka tampil sesuai dengan kondisi mereka masing-masing. Jadi cap penganut agama Islam cenderung miskin hanya sebatas persepsi manusia terhadap sekelompok penganut agama yang mereka saksikan secara kasat mata berada di daerah-daerah miskin. 

Persepsi agama Islam sebagai agama orang miskin adalah murni persepsi berdasar pandangan manusia berdasarkan fakta empiris. Hal ini disebabkan penganut agama Islam berada di daerah-daerah yang tergolong kondisi geografi, sosial, ekonomi dan budayanya miskin secara materi. Persepsi ini secara tidak sadar telah membentuk pola pikir mayoritas penganut agama Islam, persepsinya dibentuk dari sudut pandang orang-orang kalangan ekonomi lemah. Agama dipersepsi dari kalangan ekonomi lemah, lebih cenderung pada ilmu kebatinan, karena agama dijadikan alat untuk mempertahankan hidup dalam keterbatasan dan penderitaan hidup yang dialaminya. 

Sebaliknya jika agama Islam dipandang dari sudut orang-orang dengan kecukupan fasilitas hidup, mereka akan memandang agama sebagai cara mereka hidup bermanfaat bagi orang lain, disiplin, teratur, berpendidikan, dan berperadaban tinggi. Jadi, keberadaan agama bukan penghambat kemajuan, tapi agama sebagai alat bagi seseorang untuk survive dan beradaftasi dengan situasi dan kondisi di mana mereka tinggal. 

Persepsi seseorang sangat dipengaruhi oleh budaya dimana mereka tinggal. Penganut agama Islam di Arab, India, China, Israel, Indonesia, Singapura, Autralia, Amerika Serikat, Jepang, sescara sosiologis akan menampilkan budaya yang berbeda-beda. Orang Islam di Indonesia yang ada di ekonomi kelas atas, akan tampil dengan kelas ekonomi mereka sekalipun budaya-budayanya masih dipengaruhi oleh kebanyakan budaya masyarakat Indonesia yang dari kalangan ekonomi lemah. 

Sebaliknya, penganut agama Islam di Jepang, Selandia Baru, Amerika Serikat, mereka tampil menjadi orang-orang intelek dengan disiplin tinggi karena pengaruh dari geografi dan dimana mereka tinggal. Muslim di Jepang mereka hidup dengan jujur, tertib, teratur, dan bersih. Muslim Jepang tampil sebagaimana budaya-budaya orang Jepang yang jujur, disiplin, dan dengan kualitas intelektual tinggi. 

Namun jika kita kaji ajaran agama Islam dari sumber teks tertulis dari Al Quran sesungguhnya ajaran agama Islam sangat berkualitas tinggi. Karakter orang Islam sebagaimana digambarkan di dalam Al Quran adalah manusia-manusia berintelektual tinggi dan pembawa berkah bagi kehidupan dunia. Pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh orang Islam jika berpedoman pada Al Quran, mereka dapat digolongkan manusia-manusia berkualitas tinggi, tanpa melihat geografi, sosial, ekonomi, dan budaya dimana mereka tinggal. 

Pandangan-pandangan orang Islam yang berpedoman pada Al Quran selalu mengandung kebenaran, meyakinkan, dan argumentatif. Pemaksaan, penjajahan, tidak dibenarkan di dalam ajaran Islam. Penganut agama Islam dituntut untuk memberi penjelasan, pengajaran, dengan pendekatan-pendekatan argumentatif bersumber pada Al Quran. 

"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling, maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung" (At Taubah, 9:128-129). 

Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (Al Baqarah:212).

Orang-orang kafir adalah mereka yang menganggap ayat-ayat Al Quran sebagai cerita nenek moyang belaka. Sudah jelas bahwa pandangan-pandangan yang merendahkan agama Islam sebagai agama orang miskin, adalah pandangan dari kelas bawah yang menghina, tidak objektif, dan bersifat material. Wallaahu'alam.***


  

Tuesday, December 13, 2022

KEBENARAN BERPIKIR

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kebenaran berpikir bukan pada pemikirannya tapi pada sumber pemikirannya. Berpikir ilmiah adalah kemampuan berargumen dengan fakta. Gelar ilmuwan diberikan pada mereka yang berhasil membuktikan hipotesis melalui pembuktian. Dalam proses pembuktian ilmuwan harus mengikuti prosedur baku yang disepakati. Kebenaran berpikir ilmiah tergantung pada kualitas fakta yang dijadikan dasar argumen.   

Jadi derajat kebenaran berpikir ilmiah sangat tergantung pada kualitas kebenaran fakta. Dengan demikian kebenaran berpikir ilmiah yang rasional sangat tergantung pada kualitas fakta yang digunakannya. Berpikir rasional adalah kemampuan akal menguji hubungan kohesi antara dua fakta yang dianggap saling berhubungan. Sumber kebenaran ilmiah yang biasa digunakan para ilmuwan adalah fakta yang ditemukan dari hasil penelitian. 

Metodologi penelitian adalah alat untuk penemuan fakta yang benar. Fakta yang yang benar sangat tergantung pada metode yang teruji, dan kejujuran para peneliti. Namun demikian karena metode yang digunakan dalam penelitian sangat beragam, maka ujung dari kebenaran fakta adalah terbukti dalam kenyataan dan rasional. Itulah ukuran dari apa yang dimaksud berpikir ilmiah. 

Jadi kualitas pemikiran sangat tergantung pada fakta yang ditafsir. Kebenaran tidak terletak pada hasil pemikirannya, tetapi pada validitas data yang ditafsirnya. Beruntung orang-orang yang beragama, karena memiliki fakta yang sudah dijamin kebenarannya. Fakta-fakta yang sudah dijamin kualitas kebenarannya adalah kitab suci yang diturunkan kepada para Nabi. 

Sumber kebenaran agama adalah kitab suci, bagi muslim sumber fakta yang sudah dijamin kebenarannya adalah Al Quran. Kitab suci Al Quran, beberapa ahli yang telah meneliti mengatakan masih terjaga keasliannya. Kitab suci Al Quran sangat dapat diandalkan, karena informasi yang dikandungnya mengandung kebenaran dimensi rasional, empiris, dan suprarasional. Al Quran juga dalam pembenarannya tidak memerlukan dukungan eksternal, karena Al Quran menjadi saksi bagi dirinya sendiri sebagai perkataan Allah. Berbagai temuan hukum-hukum di alam, telah banyak membuktikan bahwa apa yang diberitakan dalam Al Quran mengandung kebenaran di alam. Sehingga tidak diragukan Al Quran mengandung berita-berita benar tentang kehidupan setelah kematian. 

Dari sudut pandang ilmu berpikir, Al Quran adalah sumber atau pijakan untuk berpikir. Kebenaran berpikir terletak pada pijakan berpikirnya. Maka orang-orang yang berpikir dengan menggunakan pijakan berpikir pada Al Quran dia memiliki dua peluang. Pertama, kemungkinan pemikirannya salah. Kesalahan terjadi bisa karena pemikirannya bertentangan dengan ayat-ayat Al Quran lain, tidak diterima oleh pemikir lain, bertentangan dengan hadist. Kedua, kemungkinan pemikirannya benar. Beberapa kriteria pemikirannya benar bisa karena tidak bertentangan dengan ayat ayat lain dalam Al Quran, terdapat persamaan pendapat dengan pemikiran lain, tidak bertentangan dengan hadis, dsb. Inti dari ilmu berpikir adalah menjaga ketauhidan pemikiran seseorang. 

Namun demikian jika pemikiran seseorang bersumber pada Al Quran sebagai fakta yang benar, maka ketika pemikirannya salah dia masih dapat pahala satu dari Allah, dan jika pemikirannya benar maka dia dapat pahala dua dari Allah. Mengapa kesalahan berpikir dari Al Quran dapat pahala satu? Karena berpikir untuk memahami Al Quran dia sudah dalam posisi melaksanakan perintah Allah untuk berpikir. Lalu mengapa orang yang berpikir bersumber pada Al Quran dapat pahala dua? Karena dia telah melakukan dua kegiatan perintah Allah yaitu, membaca ayat-ayat Al Quran dan memikirkannya. Dua-duanya adalah perintah Allah.

Apakah bentuk pola pikir orang-orang yang menggunakan Al Quran sebagai sumber berpikir? Jika kita kaji secara utuh, pemikiran yang bersumber pada Al Qur'an meliputi dunia dimensi yaitu lahir dan batin. Orang yang sumber pemikirannya dari Al Quran dia tidak meninggalkan dunia, dia juga tidak akan mengabaikan kehidupan akhirat. Kehidupan dunia dipandang linier dengan kehidupan akhirat sebagai gerak sejarah. Kehidupan akhirat tidak terpisahkan dengan dunia dalam pikirannya. Orang-orang yang dalam pikirannya ada alam akhirat, moralnya akan terjaga karena semua tindak-tanduknya di dunia akan jadi perhitungan di akhirat.

Kehidupan akhirat adalah akhir dari perjalanan sejarah, dan sangat ditentukan oleh kehidupan dunianya. Inilah keunggulan orang-orang yang berpikir bersumber pada Al Quran. Orang yang berpikir dengan sumber Al Quran tidak akan memutlakkan hasil pemikirannya sebagai kebenaran, karena tetap kebenaran mutlak miliknya Allah. Cara berpikir inilah yang akan membuat pemikir Al Quran rendah hati dan selalu membuka peluang perbedaan pemikiran. Pemikiran-pemikiran yang bersumber pada Al Quran dipandang sebagai upaya mendekati kebenaran dari Allah. Orang-orang yang berusaha dekat kepada Allah inilah yang akan mendapat keberuntungan. 

Orang yang berusaha dekat dengan Allah adalah mereka yang pikirannya menggunakan ayat-ayat Allah sehingga pikirannya selalu ingat Allah. "...maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung." (Al Anfaal, 8:45). Orang yang berpikir bersumber dari Al Quran ingatannya akan selalu terjaga ingat Allah. Wallahu'alam.***

Monday, December 12, 2022

MASUK SURGA KARENA LALAT

OLEH: MUHAMMAD PLATO

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah." (Al Hajj, 22:73).

Segala sesuatu yang diminta pertolongan selain Allah adalah penyebab kelemahan manusia. Dia yang disembah selain Allah dan yang menyembah kepada selain Allah sama-sama makhluk lemah. Allah adalah kekuatan, dan manusia yang memohon pertolongan Allah adalah manusia yang memiliki kekuatan. Melatih dan mengajarkan peserta didik untuk membiasakan diri memohon pertolongan pada Allah setiap pagi adalah upaya dunia pendidikan untuk membangun manusia-manusia kuat berkarakter unggul. 

Manusia yang menyembah pada selain Allah kekuatannya lebih lemah dari seekor lalat. Ketika lalat hinggap di atas makanan kita, lalu lalat itu terbang sesunguhnya lalat sudah mengambil sebagian makanan kita. Jika disadari,  kita memang tidak berdaya mengambil kembali makanan yang telah diambil seekor lalat. Betapa lemahnya kita, kalah hanya dengan seekor lalat. Itulah perumpamaan bagi manusia yang memohon pertolongan kepada selain Allah. 

Ayat di atas bisa jadi menjadi dasar Nabi Muhammad memberikan sebuah logika perumpamaan dari cerita seekor lalat. Hadis riwayat Thariq bin Syihab, Nabi Muhammad pernah bersabda, "ada seorang lelai yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki yang masuk neraka gara-gara lalat". 

Mereka (para sahabat bertanya), "bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban sesuatu untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, "berkorbanlah." Ia pun menjawab, "aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan"." Mereka mengatakan, "berkorbanlah, walaupun dengan seekor lalat." Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya, "berkorbanlah." Ia menjawab, "tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah. "Akhirnya mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah ia masuk surga. (Hadis Mauquf dikeluarkan oleh Ahmad dalam Az Zuhud dari Thoriq bin Syihab dari sahabat Salman Al Farisi).

Apa pesan di kisah lalat ini? Al Quran dan hadis berbicara tentang lalat. Bisa jadi inspirasi Nabi Muhammad membuat cerita lalat ini dengan menafsir dari Al Quran.

Jika kita analisis pesan dari Al Quran dan cerita Nabi Muhammad sangat dalam, berkaitan dengan menjaga keyakinan niat hati dan pikiran seseorang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Allah memudahkan jalan orang untuk masuk neraka, dan Allah menyulitkan jalan seseorang untuk masuk surga. Bisa jadi jalan yang mudah di muka bumi ini, penyebab orang masuk neraka, dan bisa jadi jalan sulit yang dipilih orang adalah jalan menuju surga. Jalan sulit dan jalan mudah menuju surga tergantung kepada di atas tujuan orang melakukan sesuatu. Bisa jadi kematian seseorang adalah akhir jalan hidup dia masuk surga, bisa jadi keselamatan dari maut seseorang adalah jalan singkat menuju neraka. 

Pengorbanan seseorang yang bisa membuat dia masuk surga bukan diukur dari besar atau kecilnya pengorbanan. Demikian juga keselamatan seseorang tidak bisa diukur dari selamatnya dia dari kematian. Sesungguhnya penyelamat kehidupan seseorang adalah komitmennya dalam menjaga keimanan kepada satu Tuhan, yaitu Tuhan Yang Ghaib. Inilah pesan filosofis yang dalam dari perumpamaan seekor lalat. Hanya orang berakal yang bisa mengambil pelajaran dari cerita lalat ini.

Jangan meremehkan pekerjaan kecil dan jangan berbangga dengan pekerjaan besar. Jaminan surganya seseorang bukan dari seberapa besar pekerjaan yang orang lakukan, tapi seberapa lurus hati dan pikiran seseorang dalam menjaga iman tauhid orang kepada Allah. Untuk itulah orang Islam selalu meminta jalan yang lurus dalam setiap shalatnya. Wallahu'alam.