Saturday, June 25, 2022

AGAR KITA TIDAK DIKENDALIKAN PASAR

Oleh: Muhammad Plato

Menurut dasar teori ekonomi pasar, terciptanya harga terjadi karena banyaknya permintaan dan sedikitnya penawaran maka harga turun. Sebaliknya sedikitnya permintaan dan banyaknya penawaran, maka harga turun. Ini adalah konsep dasar dari terciptanya turun naik harga.

Naik dan turunnya permintaan dan penawaran disebabkan apa? Hal inilah yang dapat diolah dan dimainkan oleh manusia. Harga pasar bisa dikendalikan sesuai dengan keinginan. Orang yang bisa mengendalikan harga pasar syaratnya punya kekuatan modal besar, atau persekutuan dari orang-orang yang punya modal besar.

Sebuah harga saham bisa dikunci pada harga tertentu, kemudian harga bisa dipompa naik dengan berbagai isu dan kebijakan, kemudian setelah mengalami kenaikan signifikan, pemilik modal akan menjual saham di hargai tertinggi, dan akan terjadi kepanikan karena harga melorot turun. Begitulah strategi pengendalian harga oleh pemilik modal besar. 

Dalam kehidupan sehari-hari harga pasar dipengaruhi dua faktor, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal diawali dari kebutuhan, emosi, dan fantasi. Harga pasar bisa meningkat karena meningkatnya kebutuhan dasar masyarakat seperti makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal. Meningkatnya kebutuhan dasar bisa terjadi karena jumlah penduduk bertambah, dan prilaku hidup berubah.

Meningkatnya kebutuhan bisa juga diciptakan dengan memengaruhi emosi masyarakat. Untuk mengendalikan emosi masyarakat biasanya menggunakan iklan. Jadi iklan bukan hanya memperkenalkan produk, tetapi didalamnya mengandung unsur-unsur untuk mengendalikan emosi seseorang. Emosi yang diciptakan bisa rasa takut, benci, fanastisme, khawatir, tergesa-gesa, dan kesenangan. 

Ketakutan dan kesenangan adalah emosi manusia yang bisa dengan cepat merubah harga. Pandemi Covid-19 adalah cara cepat meningkatkankan harga pasar. Pandemi Covid-19 merupakan contoh bagaimana cepatnya masyarakat mengenalkan zoom sebagai media komunikasi untuk memfasilitasi kegiatan belajar, rapat, dan bekerja dari jarak jauh. Ketakutan yang diakibatkan pandemi Covid-19 telah berhasil dengan cepat mengubah mindset masyarakat untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam berbagai bidang.  

Para pelaku ekonomi dapat menggunakan agama untuk menciptakan pasar. Isu terorisme berbasis agama dapat menciptakan pasar. Senjata, radar, alat pendeteksi bom, sistem keamanan, bisa jadi komoditas yang ditawarkan pada isu terorisme. Ketika isu terorisme sudah jenuh, maka para pengendali pasar akan menciptakan isu-isu baru yang bisa memunculkan ketakutan.

Isu-isu penting di dunia sekarang bisa diketahui dengan bantuan big data, yang dikumpulkan dari data prilaku manusia di internet. Pemilik big data adalah pemilik teknologi informasi. Isu akan diolah dan diterapan dalam berbagai aspek kehidupan untuk menciptakan pasar-pasar baru. 

Agar hidup kita tidak dikendalikan pasar, dimanapun kita berada, diwilayah apapun, kita harus belajar terus menendalikan emosi. Seperti di pasar saham, banyak orang bangkrut uangnya habis karena tidak bisa mengendalikan emosi. Alat pengendali emosi adalah melatih kompetensi sabar. Kompetensi sabar bisa dilatih dengan mengendalikan hasrat pada kehidupan dunia.

Sikap tergesa-gesa ditandai sebagai prilaku yang cenderung merugikan. Kompetensi sabar juga harus didukung oleh kemampuan literasi tinggi, dan kemampuan berpikir logis untuk mengendalikan segala keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan logis berdasarkan pembendaharaan pengetahuan. Sebagaimana kita saksikan, kualitas kesabaran manusia sangat berkaitan dengan keluasan dan kedalaman kelimuan yang dimiliki seseorang. Semakin tinggi keluasan dan kedalaman keilmuan seseorang semakin teruji kualitas kesabarannya. 

Jadi dapat dipastikan bahwa manusia-manusia dengan pengetahuan sempit, dan dangkal hidupnya sangat mudah dikendalikan oleh pasar. Untuk itu teori-teori pemasaran saat ini dikembangkan dengan pendalaman ilmu psikologi dan emosi manusia dilihat dari budaya, pola pikir, dan usia. Pengajaran budaya baca di sekolah-sekolah untuk wilayah Asia perlu terus ditingkatkan, agar kelak bisa berkontribusi menjadi pengendali dan penyeimbang pasar.*** 

Sunday, June 19, 2022

SEBENARNYA PENDIDIKAN MELATIH DUA KEKUATAN PADA JIWA

Oleh: Muhammad Plato

Pendidikan adalah upaya sadar kita bersama untuk mengendalikan manusia menjadi manusia-manusia baik dan bermanfaat bagi manusia lain. Sederhananya pendidikan adalah mengelola dua potensi yang ada pada diri manusia. Dua potensi itu dikemukakan di dalam Al-Quran.

"dan jiwa (nafs) serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya" (Asy Syam, 91:7-10). 

Di dalam jiwa manusia ada dua potensi yang harus dikendalikan yang kefasikan dan ketakwaan. Allah memerintahkan pada manusia untuk bertakwa. Pengertian takwa secara umum adalah menghindari perbuatan-perbuatan buruk dan melaksanakan perbuatan-perbuatan baik.

Jika kita bandingkan, dua potensi ini dijelaskan oleh beberapa ilmuwan dalam berbagai macam rupa. Erich Fromm (1986) membagi dua kekuatan ini dengan konsep bhiopilia dan necrophilia. Bhiopilia adalah potensi yang bersifat pemelihara dan kasih sayang. Necrophilia adalah potensi-potensi yang bersifat merusak. 

Fritjop Capra (2002) menjelaskan dua kekuatan berdasarkan kajian kepercayaan China yaitu yin dan yang. Capra menjelaskan kekuatan yin dipersepsi sebagai sifat kooperatif, damai, dan yang sebagai sifat kompetitif, konflik. 

David R. Hawkins membagi dua kekuatan dengan power dan force.  Power dikaitkan dengan kekuatan lemah lembut, dan force dikaitkan dengan kekuatan keras, pemaksaan. Manusia untuk mencapai tujuan hidupnya mengguanakan dua kekuatan ini. Power meruapkan kekuatan dahsyat, dibandingkan dengan force. Peperangan adalah bentuk dari force, dan diplomasi, perundingan, adalah bentuk dari power.

Untuk menfasirkan apa itu dua potensi jiwa dalam diri manusia, kita bisa pakai pendekatan sistem yang dikembangkan oleh Capra. Pemahaman Capra dua kekuatan di dalam tubuh manusia bukan kekuatan baik atau buruk. Tapi sebagai dua kekuatan seperti positif negatif dalam arus listrik yang harus dikolaborasikan. Jadi dua kekuatan yang ada pada diri manusia, adalah energi gerak yang keseimbangannya harus dijaga. 

Sifat fujur orientasi duniawi dan sifat takwa orientasi akhirat, harus bergerak seimbang menjadi gerak kehidupan. Sebagaimana Allah menciptakan seluruh ciptaannya dengan takdir baik, maka keberadaan dua potensi yang ada pada diri manusia adalah potensi baik. Untuk itu pemaknaan hidup ini sangat tergantun pada persepsi kita. 

Pada dasar naluri manusia ada perasaan suka dan tidak suka, itu karena persespi dan keterikatan manusia pada dunia. Maka jika manusia bisa membebaskan diri dari keterikatan dunia, sikap suka dan tidak suka itu tidak akan ada. Sikap suka dan tidak suka tidak akan ada karena sudah punya persepsi semuanya berjalan untuk kebaikan. 

Maka totaliter pada kehendak Tuhanlah yang akan menyelamatkan hidup manusia. Pada faktanya hidup manusia ada pada sisi suka dan tidak suka, namun absolut yang tidak boleh ditinggalkan manusia adalah tetap bergantung pada Tuhan, memohon agar seluruh kehidupannya diberi kebahagiaan baik di kala sempit maupun lapang, dikala fujur maupun takwa, dan seterusnya.***

 


Saturday, June 18, 2022

DISKUSI BUMI BULAT ATAU DATAR JANGAN BERSELISIH

Oleh: Muhammad Plato

Diskusi bumi bulat atau datar? Berbadad-abad terus terjadi hingga saat ini higga terpolarisasi menjadi dua kelompok saling berseteru. Masing-masing mengklaim bumi bulat atau datar. Keduanya memiliki fakta-fakta yang bisa dipahami akal dan dapat dibuktikan secara empiris. Akhirnya kedua kubu terseret pada situasi saling hujat dan saling menyalahkan, saling sesat menyesatkan dan tidak ada ujungnya. 

Tentang bumi bulat atau datar sebenarnya masalah persepsi dari sudut mana orang memandang. Seperti orang melihat fatamorgana. Dari sudut tertentu benda terlihat ada, tetapi dari sudut tertentu tidak ada. Pembuktian keberadaan benda-benda langit terus terkuak seiring dengan kemampuan teknologi manusia untuk mengetahuinya. 

Yang mana yang benar bumi bulat atau datar? Jika kita menangkap pesan dari Al-Qur'an, sesungguhnya perdebatan ini harus dihindari, jangan dibesar-besarkan. Perdebatan akan jadi kontraproduktif, dan pekerjaan sia-sia karena mendiskusikan sesuatu yang memang masing-masing diberi hak memahaminya dari sudut pandang masing-masing.

Allah melarang berdiskusi tentang hal-hal yang mengundang perdebatan tiada ujung tersirat di dalam Al-Qur'an. "Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui" (An Naba, 78;5).

Diskusi tentang bumi data atau bulat adalah diskusi tentang benda besar. Perselisihan tentang benda-benda besar pembuktiannya membutuhkan teknologi yang bisa melihat secara utuh benda itu seperti bola atau nampan. Pada akhirnya kita akan mengetahuinya apakah bumi itu bulat atau datar, tidak perlu berselisih. 

Di dalam Al-Qur'an Allah memang ada menggambarkan eksplisit bahwa bumi itu hamparan. "Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? (An Naba, 78:5). Dari ayat ini orang menyangka bahwa Al-Qur'an pro pada pendapat bahwa bumi datar. 

Namun di ayat lain Al-Qur'an memberitakan bahwa telah terjadi pergantian antara siang dan malam. Hal ini membuat nalar orang bisa membenarnkan bahwa bumi itu bulat. "dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan," (An Naba, 78:10-11).

Silih bergantinya siang dan malam sangat memungkin terjadi jika bumi ini bulat. "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang" (Al Baqarah, 2:164). Jadi, Al-Qur'an mengajarkan kepada manusia untuk terus berpikir. Jangan menentukan satu persepsi tentang kebenaran karena manusia dibatasi oleh sudut pandang. 

Allah tidak punya anak dan ibu, Allah tidak menyerupai siapapun dan benda apapun. Itulah kebenaran yang diberitakan dalam Al-Qur'an. Perihal ada persepsi orang, tuhan itu berbagai ragam bentuk dan dugaannya, biarkanlah dia bertarung berdebat, dengan jiwanya sendiri. Pada akhirnya dia akan kembali kepada tuhannya sesuai dengan yang dia yakini. Hanya Allahu Ahad yang akan jadi penolong kelak di akhirat.

Untuk diskusi-diskusi yang sabtraksinya tinggi dan sangat besar kajiannya, Allah melarangnya berselisih. "Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang iniSekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui (An Anaba, 78:1-5). 

Kita diberi kesempatan untuk mengkaji apapun, namun jangan berselisih karena kebenaran milik Allah. Silahkan kaji dan buktikan sesuai kemampuan akal. Kelak kebenaran akan terkuak dan pada akhirnya semua kebenaran akan terkuak setelah kita kembali kepada Allah dan seluruh pengetahuan tentang kebenaran rahasia alam ini ada di sisi Allah. Manusia tidak punya hak mengklai kebenaran atas persepsinya yang terbatas kecuali setiap kebenaran dikembalikan kepada Allah.***  

Tuesday, June 14, 2022

KEMUTLAKKAN SEJARAH MANUSIA

Oleh: Muhammad Plato

"Kisah tentang Eril, anak lelaki kesayangan kami, hakikatnya adalah tentang cerita kita semua. Hakekat dari kita semua, pasti akan pulang. Dengan waktu, tempat dan cara yang kita tidak akan pernah selalu tahu. Hidup di dunia ini sesungguhnya adalah tentang perjalanan bukan tujuan. 

Inspirasi ini diambil dari dialog dan narasi @ridwankamil, mengenang anaknya Eril yang meninggal terseret arus di Sungai Aare Swiss. Rasa duka itu seperti menular menelusuk hati bagi siapa yang mencoba hermenitik masuk ke dalam kalbu seorang ayah yang dilanda badai duka. Akan terasa sulit bangkit bagi orang-orang yang tidak punya kemutlakkan dalam hati dan pikirannya. 

Takdir Allah adalah kemutakkan dalam hidup manusia. Takdir dapat dijelaskan dari perjalanan sejarah manusia. Maka Allah memerintahkan untuk berjalan-jalan di muka bumi ini. Bagaimana kesudahan kehidupan manusia. Kesudahan hidup manusia selalu ada dalam kemutlakkan yaitu kembali kepada Allah. Pesan tentang kemutlakkan hidup bagitu banyak dijelaskan dalam sejarah kehdiupan manusia.

Sejarah adalah kejadian yang tidak akan pernah berulang kembali karena waktu terus berjalan. Kejadian hari ini akan jadi kemutlakkan setelah menjadi masa lalu. Setiap hari kita mengalami dan menciptakan sejarah hidup kita sendiri. Lalu bagaimana orang-orang baik berksesudahan dalam hidupnya? Dan bagaimana kesudahan orang-orang yang dusta selama hidupnya?

Kemutlakkkan bagi orang-orang yang selalu berbuat baik untuk orang lain, akhir hidupnya adalah kebaikan. Sebaliknya orang-orang yang selalu berbuat buruk akhir kehidupannya akan mendapat keburukan. Akal sehat tidak akan mencampur adukkan kebaikan dengan keburukan. Akal sehat selalu berpikir kebaikan berbalas kebaikan, sekalipun kejadiannya buruk menurut pandangan manusia. Akal sehat akan berpegang teguh pada kemutlakkan bahwa kebaikan pasti berakhir dengan kebaikan.

Pesan untuk dunia, Allah memiliki kemutlakkan-kemutlakkan dalam hidup. Apapun persepsi manusia tentang kehidupan, kemutlakkannya sudah ditetapkan. Kita semua akan kembali dan mempertanggung jawabkan setiap perbuatan yang kita lakukan.

Tidak ada kekuasaan sedikitpun dimiliki oleh manusia. Negara maju negara berkembang, semua manusianya hidup dalam kemutlakkan yang telah Allah tetapkan. Bagi yang bersenang-senang silahkan bersenang-senang, tapi itu hanya sementara. Bagi yang menderita, bersabar dalam penderitaan, itu juga sifatnya sementara. 

Hidup ini bukan masalah mencari makan, berilmu dan tidak berilmu, berkedudukan dan tidak berkedudukan. Hidup ini hanya berlomba berbuat kebaikan demi kembaikan. Sekecil apapun kebaikan itulah kebaikan yang akan berbalas kebaikan. Allah tidak memandang kebaikan besar dan kecil, karena hakikatnya setiap kebaikan berpeluang menjadi pemberat neraca keadilan. 

Nabi Muhammad mengajarkan berbuatlah kebaikan (sedekah) sekalipun sebiji kurma, karena kebaikan kecil itu bisa jadi kelak menjadi pemberat neraca keadilan dihadapan Allah sebagai penentu kita penghuni surga. Siapapun yang hidup di Barat atau di Timur, semua akan dihimpun dalam satu momen untuk menghadapi pengadilan dihadapan Allah.

Orang Barat orang Timur yang beriman kepada Allah dan berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk mensejahterakan umat manusia, dia berpeluang menjadi orang-orang yang menempati sebaik-baiknya tempat yang disediakan Allah.*** 


 



Tuesday, May 24, 2022

PENJELASAN AL QURAN MENGAPA ZONA NYAMAN MEMBAHAYAKAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Banyak orang terlena dengan zona nyaman, dan ingin mempertahankan diri tetap berada di zona nyaman. Padahal jika kita baca pesan Al Quran, zona nyaman sangat membahayakan. Pesan itu dapat kita pahami bagaimana logika sebab akibat yang dijelaskan di dalam Al Quran. Pola sebab ini jika berhasil kita pahami Al Quran akan jadi pedoman hidup.

Pola sebab akibat yang bisa kita pahami bisa kita temukan dalam ayat Al Quran yang sering kita baca setiap hari ketika kita shalat. Ayat ini sering dianjurkan oleh para ustad untuk bisa keluar dari masalah. Perintahnya adalah baca ulang-ulang beberapa kali. Tapi kita simak isinya dengan memahami pola pikir Al Quran.

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (Alam Nasyrah, 94, 5-6).

Pola pikirnya adalah kesulitan itu akan bergerak menjadi kemudahan. Itu sebenarnya yang harus diingat-ingat dari isi ayat ini. Tidak mungkin kesulitan diam di tempat. Kesulitan lambat laun akan bergerak menjadi kemudahan. Sabar adalah kuncinya dan teruslah bekerja, lambat laun kemudahan itu akan datang jua. Maka perintah ustad baca saja berulang ulang ayat itu. Artinya ingat saja bahwa Allah akan menggerakkan kesulitan menjadi kemudahan.

Lalu sebaliknya apa pesan bagi orang-orang yang ada dalam kesenangan, kemudahan atau di zona nyaman. Logika berpikirnya bisa kita temukan dalam ayat Al Quran di bawah ini:

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat" (An Nasr, 110:1-3).

Seperti kesulitan akan bergerak menjadi kemudahan, maka kemenangan akan bergerak menjadi kesedihan. Abu Bakar Asyidiq, menangis ketika mendengar ayat ini dibacakan. Abu Bakar Asyidiq menangkap pesan Al Quran ini sebagai tanda akhir misi Nabi Muhammad di muka bumi. Abu Bakar Asyidiq membaca ayat itu sebagai tanda perpisahan dengan Nabi Muhammad sudah dekat. Beberapa tahun setelah penaklukkan Mekah, Nabi Muhammad meninggal dunia.

Pesan moralnya adalah hati-hatilah dengan zona nyaman. Jika kita terlena zona nyaman dapat membawa kita pada kesedihan atau kehancuran. Maka perintah dari Allah bagi orang-orang yang di zoma nyaman perbanyak mohon ampun dan banyak-banyak bertobat. Karena zona nyaman itu akan bergerak dengan sendirinya menjadi kesedihan.

Banyak orang terlena dengan zona nyaman, karena lupa setelah ujian kesenangan akan datang ujian kesedihan. Karena merasa sudah nyaman, manusia kadang suka melampaui batas, merasa mampu, merasa berkuasa, merasa bisa memenuhi segalanya dan lupa pada kekuasaan dan kasih sayang  Allah. Secara psikologis orang-orang yang diberi kenyamanan selalu lupa diri dan berbuat sesuka hati. Itulah dosa-dosa tidak terasa yang sering dilakukan orang-orang yang berada di zona nyaman.

Untuk menjaga diri tetap berada di zona nyaman, maka buatlah lembah-lembah kesulitan dengan sengaja. Caranya adalah berkorbanlah, santuni ibu bapak dan keluarga. Bantulah orang-orang yang membutuhkan, santuni anak-anak yatim dan pakir miskin. Lalu perbanyaklah mohon ampun dan lakukan pertobatan setiap kesempatan. Bersabarlah dalam pengorbanan dan selalu menjadi pemberi bantuan. Sehingga kita akan tetap berada dalam kesulitan yang akan mendatangkan kembali kesenangan. Walahu'alam. 

  






Thursday, May 19, 2022

BEBERAPA ALASAN MENGAPA TIDAK BOLEH BENCI

Oleh: Muhammad Plato

Benci adalah penyakit batin yang hanya dapat dirasakan oleh si pemilik hati. Memperbaiki hati hanya dapat dilakukan dengan cara refleksi diri oleh si pemilik hati. Pelajaran tentang hati merupakan ilmu memperbaiki kepribadian dengan membebaskan hati dari rasa benci. 

Beberapa alasan mengapa hati tidak boleh benci. Jawaban-jawaban di bawah ini sangat simple dan sederhana. Semua kebencian yang tersimpan dalam hati akan jadi kerugian untuk diri sendiri.

"Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh" (Al Baqarah, 2:130).

Kebencian yang tersimpan dalam hati selamanya menjadi prilaku hati yang kotor. Maka selama prilaku hati yang kotor akan mendatang hal-hal yang kotor untuk pribadi orang itu sendiri. Bukankah itu suatu kebodohan?

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al Baqarah, 2:216)

Hati yang benci menjadi sebab kita tidak bisa mengenal kebaikan. Hati yang benci akan fokus hal yang menyenangkan hati. Padahal Allah menyimpan kebaikan di atas kehendak-Nya, bisa jadi hal itu dibenci atau disukai. Ada orang yang tidak mau menerima kebaikan dari orang lain hanya karena benci. Ada juga orang tidak menyukai makan ikan yang menyehatkan otak, karena tidak suka makan ikan. Ada juga mereka yang tidak suka pada seseorang, padahal orang yang dibencinya akan membawa kesejahteraan. 

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Maa'idah, 5:8)

Kebencian dapat menimbulkan ketidakadilan dan bersikap. Hati yang benci akan mendorong pribadi seseorang memiliki prilaku buruk. Kebencian akan menghalangi pribadi seseorang menjadi pribadi yang mensejahterakan dirinya. Sebagai seorang pemimpin, kebencian akan membuat keputusan-keputusannya menjadi tidak adil, diskriminatif, dan selalu terselif niat-niat buruk.

Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat (Al Maa'idah, 5:64).

Semua permusuhan disebabkan oleh kebencian yang tersimpan dalam hati. Hati yang benci akan menolak persahabatan, perdamaian, dan sulit memaafkan. Ucapan-ucapan baik orang-orang yang punya kebencian, menjadi sebuah kepuara-puraan.

Begitulah beberapa alasan mengapa kita tidak boleh memelihara kebencian kepada siapa pun, kepada makhluk apapun, dan kepada benda apapun. Sebab Allah bisa jadi menyimpan kebaikan demi kebaikan dari apa apa yang kita benci.

Pertanyaan terkahir, mengapa kita membenci? Karena belum tentu juga kita termasuk orang yang menyenangkan bagi orang lain. Jika orang lain membenci kita, maka kebodohan untuk orang-orang yang memelihara hatinya tetap benci. Sesungguhnya kebodohan sebodoh bodohnya seseorang yaitu mereka yang memelihara kebencian atas nama harga dirinya. Sementara kebencian itu menyeretnya sedikit demi sedikit pada kebodohan dan kerugian untuk dirinya sepanjang hayat dikandung badan.*** 

 

Monday, May 16, 2022

Al Quran Surah Al 'Alaq, Pesan Sepanjang Zaman

Oleh: Muhammad Plato

Surat Al 'Alaq dikenal oleh umat Islam sebagai surat pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW. Surat ini diterima oleh Nabi Muhammad di Gua Hiro dekat dari kota Mekah. Sekalipun umat Islam mengetahui wahyu pertama turun dimulai dari kata bacalah, saat ini umat Islam sedang mulai sadar kembali untuk mulai lagi membaca. Beberapa tahun ke depan akan muncul lagi ilmuwan-ilmuwan muslim terkemuka di dunia.

Kesadaran umat Islam untuk membaca sedang menggeliat. Di Indonesia ribuan buku per tahun sudah diterbitkan. Pengajaran-pengajaran menulis buku di sekolah-sekolah terus digalakan. Kepala sekolah, guru, siswa, bersama-sama menulis buku. Buku karya kepala sekolah, guru, dan siswa sudah mulai tersebar di mana-mana.

Namun ada pesan  dari surat Al 'Alaq yang jarang diungkap. Terbatasya para pembaca dan peneliti Al-Qur'an membuat Al-Qur'an tertidur. Terbatasnya metode membaca Al-Qur'an membuat umat manusia kewalahan menghadapi perubahan zaman. Kini saatnya, Al-Qur'an menjiwai zaman. Paradgima baru memungkinkan kandungan isi Al-Qur'an diungkap membuktikan kebenaran-kebenarannya.   

Sekarang berbagai kajian Al-Qur'an mulai banyak bermunculan. Para ilmuwan dari berbagai kalangan sudah melirik Al-Qur'an sebagai sumber pengetahuan. Al-Qur'an menjadi sumber gagasan untuk mengembangkan berbagai ilmu terapan untuk membantu mensejahterakan hidup manusia yang tetap berkeyakinan pada Tuhan Yang Esa. Pemahaman Al-Qur'an tidak lagi menjadi hak monopoli  sekelompok atau lembaga tertentu.

Pesan untuk membaca atas nama Allah mengandung banyak arti. Salah satunya dalam membaca zaman, manusia tidak boleh lepas dari keyakinan bahwa semua yang terjadi dan direkayasa manusia pada awalnya diciptakan olah Allah. Manusia tidak punya hak untuk mengklaim bahwa dirinya mencitptakan berbagai macam teknologi, karena semua hanya mengotak-atik hukum dan benda-benda yang pada awalnya sudah diciptakan Allah. Manusia hanya memanfaatkan hukum dan benda-benda yang sudah ada.

Langit, matahari, bumi, bulan, air, udara, tanah, virus, atom, gelombang, semuanya sudah ada. Kita hidup hanya memanfaatkan fasilitas yang sebelum kita lahir sudah ada. Perintah membaca atas nama Allah membawa pesan, manusia jangan terjebak oleh keadaan alam materi. Berbagai macam teknologi berhasil direkayasa jangan sampai menggeser keyakinan manusia pada Allah sebagai pencipta. Apa yang kita pelajari dan ketahui mengikuti apa yang Allah ajarkan kepada manusia. 

"Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Al 'Alaq, 96:5).

Manusia dengan kekuatan akalnya kadang melampuai batas, karena merasa diri sebagai pencipta dan merasa menjadi penguasa. Kisah Fir'aun dikabarkan sebagai kisah bagaimana manusia meampuai batas kewenangannya sebagai hamba Allah. Qorun dikabarkan sebagai manusia berilmu yang melampaui batas, karena merasa diri sebagai pemilik ilmu pengetahuan. Prilaku manusia seperti Fir'aun dan Qorun akan terus terulang sepanjang zaman.

"Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al 'Alaq, 96:6-7).

Kemajuan teknologi, kesejahteraan hidup, dapat melalaikan manusia dari Allah sebagai pencipta dan penyejahtera. Pesan Allah dalam surat Al 'Alaq jangan tertipu dan jangan terperdaya oleh keidupan alam materi. Sehebat apapun kemajuan teknologi dan berapapun kesejehteraan manusia bisa diusahakan ketaatan harus tetap kepada Allah. 

Manusia harus punya kemampuan akal dengan berpikir analisis untuk membedakan apakah dirinya selama ini taat kepada Allah atau kepada selain Allah. Menusia sepanjang zaman harus tetap berdialog dengan dirinya, apakah selama ini dirinya masih taat kepada Allah? Allah dalam surat Al 'Alaq mengajak manusia dari zaman ke zaman untuk terus berdialog. 

"Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?" (Al 'Ala'q, 96: 9-13).

Tidakkah kita berpikir? Terkadang kita berbuat baik bukan karena atas nama Allah, tapi karena melihat kebaikan manusia yang memerintahkannya. Tidakkah kita berpikir? Terkadang kita menolak untuk berbuat baik karena melihat siapa yang memerintahkannya. Tidakkah kita berpikir? Kita selalu terjebak merasa telah melakukan kebaikan, tidak melihat kebaikannya, melainkan karena lebih percaya kepada orang yang memerintahkannya.

Setiap orang harus punya kemampuan menganalisis berbagai informasi, apakah yang diperintahkan orang itu berada di atas kebaikan yang diperintahkan Allah? Sebaliknya kita harus mampu menganalsis, apakah yang diperintahkan orang itu bertentangan dengan perintah Allah. Jangan terjebak dengan melihat siapa orang yang memerintahkannya. Jangan karena terlalu melihat orang kita menjadi terjebak taat pada orang bukan pada Allah. Maka lihatlah pada surat Al 'Alaq di surat terakhir. Pesan yang akan berlaku sepanjang zaman. 

"sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya (manusia); dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)", (Al 'Alaq, 96:19).     

Bukan berarti kita tidak boeh meghargai atau mengabaikan peringatan manusia, tapi berhati-hatilah dan jangan sampai melampaui batas. Maka, ada kalanya, sesekali, kita harus selektif, dan harus bisa membaca membedakan atas nama Allah mana kebaikan dan mana keburukan, agar hati dan pikiran kita tetap taat kepada Allah.

KH. Zainudin MZ almarhum sering menyampaikan perumpamaan ini, "kita harus bisa membedakan mana telur dan mana kotoran ayam. Sekalipun telur dan kotoran sama-sama keluar dari dubur ayam, tentu kita harus bisa memilah mana yang menyehatkan tubuh dan mana yang menyebabkan penyakit. Telur sekalipun keluar dari dubur ayam bisa kita ambil, tapi sekalipun keluar dari mulut orang suci tapi itu kotoran jangan diikuti. Berusahalan taat kepada Allah dengan segenap hati dan akal. 

Maka kembali ke pesan abadi di awal ayat pertama surat Al 'Alaq ayat 1 turun, "bacalah atas nama Tuhan mu yang menciptakan". Dan bukan kebetulan surat Al 'Alaq itu jumlah seluruh ayatnya 19. KH. Fami Basya mengatakan 19 adalah jumlah huruf arab dari bismillah. Bisa jadi membaca adalah aplikasi dari kata bismillah. Wallahu'alam***    


Sunday, May 15, 2022

BAGAIMANA CARA JAWAB, JIKA DITANYA APA BUKTI ALLAH KABULKAN DOA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Apakah buktinya Allah mengabulkan doa? Pertanyaan ini datang dari seorang anak kepada ibunya yang setiap hari shalat berdoa kepada Allah. Pertanyaan semacam ini bukan kali pertama, karena setiap anak pasti mengalaminya. Setiap tahun akan terus ada pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Lalu bagaimana cara menjawabnya?

Tugas para guru, dosen, ustad, untuk menjawabnya. Masing-masing tentu punya gaya untuk menjawabnya. Sebagai guru, saya kasih trik juga untuk menjawabnya. Lumayan sedikit perlu fokus berpikir, tapi saya coba sederhanakan. 

Pertama, ajak penanya untuk samakan dulu persepsi, bahwa seluruh ketentuan yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah. Kalau orang yang bertanya beriman pasti akan cepat sepakat bahwa seluruh ketentuan adalah milik Allah. 

"(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam" (Q.S. 81:29).

Seluruh kejadian ada di atas kehendak Allah. Bumi berputar, matahari bersinar, mata berkedip, jantung berdetak, semua terjadi atas kehendak Allah. Artinya seluruh aktivitas kehidupan hakikatnya adalah atas kehendak Allah. Bukti bahwa semua ada di atas kehendak Allah adalah bumi dan matahari yang setiap hari bergerak. Adakah teknologi, sumber energi buatan manusia yang menggerakkan bumi dan matahari? Sumbernya dari mana bermilyar-milyar tahun matahari bersinar?

Kalau dengan orang Atheis perlu penjelasan panjang dulu untuk mencapai kata sepakat. Orang Atheis bukan tidak mengakui adanya Tuhan, tetapi mereka sudah menutup hati dan pikirannya untuk percaya pada Allah.  

Jika sudah sepakat satu pemahaman bahwa seluruh kejadian adalah kehendak Allah. Maka, tinggal dikaitkan dengan pertanyaan, tentang bukti Allah mengabulkan doa. Allah menciptakan hitung-hitungan waktu. Menusia mengungkap hitungan waktu dengan ukuran detik, menit, jam dan seterusnya. 

Maka ketika kita berdoa, maka doa kita terhitung dalam hitungan detik, menit, jam, hari, dan seterusnya. Jadi bisa dipahami jika kita berdoa hari ini sudah pasti berdasar hitungan waktu doa akan dikabulkan pada hari esok. Jika pakai hitungan detik, jika kita berdoa pada detik pertama maka jawaban doa akan ktai dapat di detik berikutnya. 

Kesimpulanya, doa-doa yang kita lantunkan kepada Allah akan terkabul di masa depan, masa akan datang, sampai akhirat. Dengan menggunakan hitungan waktu terkecil detik, kita bisa membuktikan bahwa Allah mengabulkan doa dalam hitungan detik. Mengapa? karena setiap detikpun yang terjadi sesungguhnya berada di atas kehendak Allah.

Jadi ketika ada makanan di meja, lalu kita berdoa kepada Allah, ya Allah masukkanlah makanan ini ke dalam perut kami dan kenyangkanlah perut kami dengan makanan ini. Selanjutkan kita makan makanan itu dan kita merasa kenyang, sesungguhnya Allah telah mengabulkan doa kita saat itu. Mengapa? Karena makanan masuk ke perut dan perut jadi kenyang semua berada di atas kehendak Allah.

Ketika anak sekolah mau pulang ke rumah, berdoa kepada Allah, ya Allah selamat kami dalam perjalanan pulang dan sampaikanlah kami di rumah dalam keadaan selamat. Maka sudah berapa kali kita pulang pergi dari rumah ke sekolah dan diberi keselamatan. 

Kedua, harus dipahami bahwa berdoa adalah suatu tindakan dengan penuh harap dan kesadaran bahwa Allah penentu segala takdir yang terjadi. Tujuan doa sebenarnya adalah membangun kesadaran bahwa Allah berkehendak atas segala sesuatu, dan perintah berdoa adalah untuk membentuk kesadaran manusia selalu berterimakasih pada Allah atas doa-doanya yang selalu dikabulkan. 

Hakikatnya perintah berdoa dari Allah, untuk menjaga kesadaran manusia sebagai makhluk dan Allah sebagai maha pemberi. Orang-orang yang rajin berdoa akan merasa hari demi hari dalam hidupnya di atas kehendak Allah. Doa-doa minta kelesamatan hidup yang dilantunkan hari ini, maka jika hari esoknya dia selamat diperjalanan, selamat dari bencana, selamat dari kelaparan, maka doa-doa sesunguhnya telah dikabulkan Allah.

Jadi syarat untuk menemukan bahwa Allah mengabulkan doa adalah keimanan terhadap segala yang terjadi adalah ketentuan Allah. Keimanan yang kuat jika kita terus menambah ilmu pengetahuan dari Al-Qur'an tentang kehadiran kehendak Allah setiap saat dalam setiap kejadian. 

Sekarang mari kita sama-sama buktikan bahwa Allah mengabulkan doa, tutuplah mata, lalu pikirkan dan rasakan bahwa mata tertutup dan mata terbukan semuanya atas kehendak Allah. Masih dalam keadaan mata tertutup, lalu dengan sadar Allah maha mengabukan doa, silahkan dalam keadaan mata tertutup berdoalah kepada Allah, "ya Allah mohon bukakanlah mata ku yang terpejam ini!" Silahkan sekarang buka, dan itulah bukti bahwa Allah telah mengabulkan doa. Wallahu'alam.  

Tuesday, May 3, 2022

BERPIKIR HOLISTIS

Oleh: Muhammad Plato

Berpikir holistis sangat rumit dan sangat sulit untuk diaplikasikan. Namun ada cara sederhana agar kita bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Berpikir holistis adalah sebuah pendekatan untuk membangun sudut pandang kita terhadap dunia menjadi lebih utuh. Berpikir holistis yang lebih banyak berkembang sekarang sebagai kritik terhadap sekularisme. 

Pada abad 20 sekularisme digaung-gaungkan sebagai cara pandang yang paling baik dalam melihat kenyataan alam. Di akhir abad cara pandang sekuler mendapat kritikan karena faktanya membuat banyak konflik terjadi, meningkatknya kemiskinan, peredaran narkoba, kejahatan, dan dehumanisasi. 

Pandangan bahwa benda sebuah entitas terpisah menyebakan manusia semakin serakah, egois, dan terjadi ekploitasi alam demi untuk memenuhi hasrat kehidupan dunia. Pandangan sekuler yang memisahkan agama dalam kehidupan nyata, membuat hubungan palsu antara agama dengan ilmu. Agama dan ilmu jalan berbarengan tetapi berjalan masing-masing, tidak saling sapa dan asyik dengan dunianya sendiri. 

Hubungan palsu antara agama dan ilmu, menjadi sebuah perselingkuhan yang melahirkan anak-anak haram. Prilaku manusia menjadi tidak konsiten. Ajaran agama yang dianut tidak tercermin dalam kehidupan nyata. Agama mejadi rutinitas ritual sebagai obat penawar racun, sementara racun itu sendiri terus dikonsumsi.

Sekularisem melahirkan cara pandang agama yang ekslusif, mejadi kontra produktif dengan cita-cita ajaran agama itu sendiri. Cara pandang agama yang ekslusif melahirkan konflik antar penganut agama dan menyuburkan konflik antar sesama manusia. Sekularisme dalam beragama telah menyuburkan konflik ke seluruh aspek kehidupan manusia.

Hubungan manusia dengan alam menjadi hubungan eksploitatif yang melahirkan dampak buruk bagi kehidupan manusia. Eksploitasi alam melahirkan kerusakan eksositem kehidupan tidak seimbang. Dampak eksploitasi alam melahirkan pencemaran lingkungan, bencana alam, dan peningkatan suhu bumi. Alam menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup manusia.      

Memasuki abad 21 terjadi perubahan paradigma, setelah diketahui bahwa kehidupan buat suatu entitas terpisah-pisah. Keberadaan sebuah benda ternyata tidak dapat dipahami sebagai suatu entitas tersendiri. Keberadaan benda dengan benda yang saling ternyata saling berhubungan. Kejadian memiliki hubungan dengan kejadian lain. Dunia ternyata hakikatnya saling berhubungan. 

Kenyataan ini mermbuat manusia sadar bahwa keberadaan sebuah benda dapat dipahami dengan menemukan hubungan dengan benda-benda lain. Demikian juga keberadaan manusia dapat dipahami maknanya ketika dia berhubungan dengan manusia lain. Kesejahteraan manusia dapat tercapai dengan saling bekerja sama. Cara hidup terbaik dimuka bumi ini ternyata dengan menjalin hubungan baik dengan seluruh unsur kehidupan.

Keberagamaan seseorang dapat dipandang baik dan mesejahterakan jika keberagamaannya membawa kesejahteraan bagi masyarakat dan menciptakan kehidupan damai. Agama dan ilmu tidak terpisahkan. Seluruh aspek kehidupan tidak dapat dipisahkan dari ajaran agama. Sumber pengetahuan dari alam berhubungan erat dengan sumber pengetahuan dari non alam. 

Sebagai sebuah sistem kehidupan nyata di muka bumi tidak terpisah dengan kehidupan manusia setelah kematian. Kehidupan manusia di muka bumi, bukan satu-satunya kehidupan yang akan dialami manusia. Kehidupan manusia di alam lain mulai terungkap secara ilmiah. Keyakinan manusia akan keberadaan kehidupan lain selain di dunia sekarang, dapat membimbing manusia hidup lebih bijaksana dan terkendali. 

Menghilangkan pengetahuan pada keyakinan hidup setelah kematian berakibat pada pola pikir sekuler. manusia bisa kehilangan tujuan, putus asa, dan mati dengan cara mengerikan. Berpikir holistis mengembalikan sumber pengetahuan non rasional sebagai dari ontologi keilmuan. Cara berpikir bersumber pada panduan kitab suci Al-Qur'an. 

Wajah agama yang sekarang dianggap sebagai sumber kekerasan dan terorisme adalah akibat persepsi yang tidak bersumber pada agama. Buah dari cara pandang manusia yang sesungguhnya tidak bersumber pada pemikiran dari agama. Kekerasan dan terorisme lahir karena cara pandang sekuler yang selalu melihat kebenaran berdasarkan fakta empiris. 

Berpikir holistis sederhananya adalah membangun sudut pandang sistem antara kehidupan fana di dunia dengan kehidupan kekal di akhirat. Kehidupan fana harus dilalui dengan kebahagiaan melalui jalan-jalan baik, sebagai akibat kehidupan bahagia dikehidupan akhirat. Pengetahuan dari kitab suci tidak dipandang sebagai mistik atau fantasi tapi pengetahuan yang mampu menjelaskan fenomena kehidupan di dunia sekarang dan masa yang akan datang.  

Cara membangun sudut pandang dikemukakan dalam Al-Qur'an, yaitu pada perintah membaca yang tidak boleh lepas dari sudut pandang dari ketuhanan. "Bacalah (atas) nama Tuhanmu Yang menciptakan" (QS. 96:1). Membaca atas nama Tuhan seperti kita berbicara mengemukakan pendapat orang lain, yang memberi mandat kepada kita. Demikian juga beberapa ulama tafsir mengemukakan bahwa mengatasnamakan Tuhan adalah cara membangun sudut pandang pada kehidupan dunia berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang diturunkan Tuhan kepada para utusan.

 

Friday, April 15, 2022

MELATIH BERHARAP TAPI TIDAK BERHARAP

Oleh: Muhammad Plato

Bisakah manusia untuk tidak berharap? Dalam pemahaman umum beribadah tidak boleh berharap. Tetapai boleh berharap ridha Allah. Aneh juga memang, di satu sisi tidak boleh berharap, di sisi lain tidak boleh berharap. Jadi mana yang benar?

Ini sekedar solusi saja buat kawan-kawan agar mudah memahaminya. Mana yang boleh, berharap atau tidak berharap? Kita kembali kepada keterangannya di dalam Al-Qur'an. Urusan agama tidak boleh merujuk pada sumber lain, kecuali pada Al-Qur'an atau hadis yang shahih. 

Di dalam Al-Qur'an surah Alam Nasyrah ayat 8, Allah memerintahkan kepada kita untuk berharap."dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." Jadi terang benderang sekali berharap itu perintah Allah. Jika ada orang yang melarang berharap kepada Allah agak sulit cara berpikirnya.

Jadi kita ambil cara pemahaman yang mudah-mudah saja. Jika Allah sudah memerintahkan untuk berharap kepada Allah, ya apapun harapkanlah kepada Allah. Bisa jadi efek larangan berharap kepada Allah dalam beribadah, menyebabkan sebagian orang pergi ke gunung, gua, patung, dan pohon untuk mendapat pengharapan.

Sekarang sudah jelas berharap diperintahkan oleh Allah, dan hanya boleh berharap kepada Allah saja. Kalau kita berharap kepada Allah lalu apa yang kita harapkan dari Allah. Kalau kamu hidup pasti butuh makan, minum, kendaraan, rumah, kesehatan, kesejahteraan batin, dan sebagainya. Nah, untuk semua kebutuhan hidup harapannya hanya boleh kepada Allah saja.

Kalau kamu berharap kepada selain Allah, kamu bikin cemburu Allah. Harus diingat juga karena sifat Allah maha pemberi, sudah pasti kalau berharaplah sesuatu kepada Allah, Allah pasti memberi. Sifat maha pemberi artinya setiap diminta pasti selalu memberi.

Dalam Al Kahfi ayat 46 Allah berfirman, "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan". 

Harta dan anak-anak yang baik adalah yang didapat dari amal-amalan baik yang hanya berharap pahala dari Allah. Berharap harta kepada Allah lalu lakukanlah amalan-amalan yang baik. 

Jadi tidak ada larangan bagi seseorang untuk berharap apa saja kepada Allah. Namun harapan-harapan baik itu harus dibangun dengan amalan-amalan baik. 

"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami" (Yunus, 10:7).

Orang-orang yang berharap pertemuan dengan Allah, hartanya akan digunakan untuk amalan-amalan yang baik. Anak-anaknya akan diajarkan dengan amalan-amalan baik.

Berharaplah yang baik baik kepada Allah untuk dunia mu, dan gunakanlah hartamu dengan berbuat amat baik karena harapan bertemua dengan Allah.

Inilah harapan dinamis sebagaimana dijelaskan oleh Erich Fromm. Muhammad Plato mengatakan berharaplah dunia dengan pikiran mu, namun hati mu berharap pertemuan dengan Allah. Inilah cara berharap dinamis yang harus dilakukan oleh pikiran dan hati. 

Harapan adalah naluri manusia, namun sebaik-baiknya harapan kepada Allah. Orang-orang yang beramal baik dengan ikhlas dia berharap balasan kebaikan di dunia dan akhirat hanya kepada Allah. Orang yang beramal baik karena Allah akan terbebas dari tuntutan dunia karena balasannya diserahkan sekehendak Allah. 

Jadi berharaplah sebanyak-banyaknya kepada Allah, baik itu untuk dunia mu maupun akhirat mu, tapi balasannya sekehendak Allah. Inilah keikhlasan manusia yang penuh dengan pengharapan kepada Allah. Inilah cara berharap tetapi tidak berharap, pikiran berharap dunia, tetapi hati berharap Allah. Harapan dinamis antara hati dan pikiran. Wallahu'alam.  



Friday, March 25, 2022

HATI-HATI ABU JAHAL MILENIAL

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Syaifudin Ibrahim dikenal sebagai guru nagji di salah satu pesantren kemudian pindah agama karena kekecewaan yang dialaminya. Kini beliau menjadi orang yang getol mengampanyekan kekurangan-kekurangan ajaran Islam. Baru-baru ini melalui media sosial beliau mengusulkan revisi 300 ayat Al-Qur’an yang menurut beliau berbahaya.

Mendengar celotehan ini tidak perlu kita sikapi berlebihan. Tidak perlu juga muncul sikap benci dan dengki didalam hati kita. Sikap yang harus muncul pada diri kita sebagai muslim adalah rasa belas kasihan, atas apa apa yang akan menimpa mereka yang mendustakan ayat-ayat Tuhan. Cukuplah bagi kita berpedoman pada Al-Qur’an.

Barang siapa yang datang dengan kebaikan, maka baginya yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan dengan apa yang dahulu mereka kerjakan (Al Qashshas, 28:84).

Ayat di atas menjelaskan sebuah ketetapan (takdir) yang tidak akan pernah berubah dari sejak zaman Nabi Adam diciptakan hingga sekarang.

Di dalam Al-Qur’an banyak kisah-kisah prilaku hidup manusia di zaman dahulu. Kisah Fir’aun mengabarkan bagaiman seorang penguasa sewenang-wenang karena merasa diri sebagai Tuhan yang dapat mengendalikan segalanya. Keuarga Nabi Yusuf mengisahkan bagaimana konflik yang terjadi dalam lingkungan keluarga, hingga berani mecelakai adik kandungnya sendiri. Abu Lahab adalah kisah orang kaya yang menggunakan hartanya untuk mendustakan ajaran Tuhan. Abu Jahal dikisahkan adalah orang yang getol mengolok-ngolok ayat-ayat Allah. Kisah ini akan terus berulang sesuai dengan situasi zaman.

Akan ada Fir’aun, Abu Lahab, Abu Jahal di setiap zaman. Di abad milenial akan ada manusia memerankan tokoh-tokoh ini. Akan ada Fir’aun, Abu Lahab, dan Abu Jahal di abad milenial. Umat Islam tidak perlu risau dan bimbang, karena nasib mereka sudah Allah jelaskan di dalam Al-Qur’an. Mereka tidak sedang memerangi kita, tetapi mereka sedang memerangi Allah yang menciptakan mereka. Tidak ada sedikitpun kesenangan dan kemenangan bagi mereka yang memerangi Allah.

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. (Al Lahab, 111:1-3).

Kita sudah tahu bagaimana nasib akhir bagi orang-orang yang memerangi Allah. Mereka akan ada dalam akhir hidup yang mengerikan.  

Ketika kita dihadapkan pada orang-orang seperti itu, Allah sudah mengajarkan kepada kita semua. Cara sikap terbaik menghadapi olok-olokkan mereka adalah dengan mengabaikannya.

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa, maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang dzalim itu sesudah teringat.  (Al An’aam, 6:68).

Jadi tetaplah tenang, keburukan tidak akan terjadi pada diri kita dan umat Islam. Fokuslah pada upaya diri untuk memperbaiki membersihkan diri dari sifat iri dan dengki. Bebaskan diri kita dari sifat-sifat pencela, karena apa yang akan menimpa kita semua sangat tergantung pada prilaku yang kita kerjakan. Jangan merespon keburukan dengan keburukan, responlah keburukan yang dilakukan orang dengan respon terbaik sebagai telah diajarkan Allah di dalam Al-Qur’an.

Tetap bahagia sahabat-sahabat, mari kita rencanakan kebaikan demi kebaikan agar hidup kita tetap sejahtera. Semoga Allah membimbing kita semua. Kisah-kisah Abu Lahab di abad milenial akan terus bermunculan, dan itu pilihan manusia. Bagi orang-orang beriman akan tetap berada di jalan benar sekalipun keburukan demi keburukan dilakukan orang-orang pencela. Kabar buruk dari mereka adalah kabar baik bagi kita jika kita termasuk orang-orang yang bertakwa.  Wallahu’alam.

Monday, March 21, 2022

BELAJAR DARI PENGHUNI NERAKA

 OLEH: MUHAMMAD PLATO

Allah mengetahui apa yang terjadi di masa lalu dan masa yang akan datang. Kisah di masa depan telah dikabarkan di dalam Al-Qur’an. Manusia di masa depan nasibnya sangat ditentukan oleh prilakunya di masa lalu. Masa depan adalah masa dimana manusia hidup dengan kecepatan cahaya. Sebuah fenomena terjadi, manusia-manusia yang telah migrasi ke masa depan ada yang bercita-cita kembali ke masa lalu. Cara berpikir yang sangat tidak bisa diterima oleh akal sehat, yaitu cara berpikir para penghuni neraka. Mereka menginginkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Masa lalu adalah sebuah masa dimana setiap orang tidak mungkin melaluinya untuk kedua kali.

Penghuni neraka adalah orang-orang sakit pikir yang hidupnya selalu berandai-andai. Para penghuni neraka selalu telat berpikir. Kemampuan mereka menerima dan melakukan hal-hal baik selalu terlambat. Untuk itulah orang-orang yang lalai atau selalu terlambat dalam melaksanakan kebaikan (shalat), mereka termasuk golongan telat mikir sama dengan prilaku penghuni nereka. Penghuni neraka itu ada di masa depan dan ingin kembali ke masa lalu di dunia.

“Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat adzab: 'Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik'. (Az Zumar, 39:58).

“Dan jika kamu melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan)” (Al ‘An’aam, 6:27).

“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka”. (Al-Baqarah, 2:167).

Harapan-harapan yang dimiliki penghuni neraka adalah harapan hampa. Harapan untuk kembai ke masa lalu yang tidak mungkin terjadi. Harapan mereka hanya ada dalam imajinasi yang tidak akan pernah jadi kenyataan. Hidupnya hanya di isi dengan penyesalan demi penyesalan yang tidak akan pernah berakhir.

Kehidupan dunia adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk melakukan perubahan. Kesempatan berbuat baik hanya ada dalam kehidupan dunia. Mereka yang hidupnya di penuhi dengan kebaikan di dunia tidak ingin kembali ke masa lalu. Mereka selalu menatap masa depan dengan penuh harapan dan optimisme. Harapan orang-orang yang berbuat baik adalah harapan nyata. Masa depan selalu menjadi impian yang diidam-idamkan. Bagi orang-orang yang berbuat baik harapan itu selalu ada di depan, sebaliknya bagi penghuni neraka harapan-harapan baik itu ada di masa lalu. Harapan-harapan orang baik telah dijanjikan Tuhan, dan harapan-harapan penghuni neraka hanya akan jadi penyesalan.

Orang-orang baik nafsunya terkendali, dan para penghuni neraka nafsunya tidak terkendali selalu memburu dan mencari kesenangan-kesenangan sesaat. Kebahagian para penghuni neraka berlalu dengan cepat seperti kilat memberikan cahaya lalu berganti kembali dengan kegelapan. Bagi orang baik hidup ini adalah perjuangan dan bagi penghuni neraka hidup ini  cenderung berburu kesenangan (wallahu’alam). 

Sunday, March 13, 2022

MINYAK GORENG PUN JADI TUHAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Dunia tidak habis-habisnya menyajikan kisah dengan fenomena beda-beda. Di suatu negara terjadi fenomena kerumuman, desak-desakkan dan antrian panjang untuk sekedar mendapat dua bungkus minyak goreng. Di belahan dunia lain, terjadi perang akibat konflik antar dua negara karena berbeda tujuan dan latarbelakang. Dua fenomena ini terjadi setelah dunia dilanda oleh penyakit aneh covid-19. Penyakit ini baru diketahui setelah melalui tes, jika tidak di tes maka penyakit itu akan menjadi penyakit alamiah yang harus diobati. Berbagai isu yang tidak pernah pasti mengatakan penyakit ini dibuat secara sengaja dengan tujuan-tujuan duniawi.

Faktanya selama dua tahun virus Covid-19 telah menjadi tuhan sebagian besar orang. Prilaku manusia di seluruh dunia, ditentukan grafik penyebaran virus Covid-19. Keluar rumah dan keluar rumah, berkerumun dan tidak boleh berkerumun, kapan sekolah tatap muka dan kapan berlajar online, menunggu pergerakkan virus Covid-19. Orang yang sangat ketergantungan pada selain Tuhan, setiap kejadian akan berubah jadi kekhawatiran. Inilah sebenarnya pelajaran bahwa tidak boleh ada sesuatu tempat bergantung selain Allah. Setiap fenomena kehidupan memiliki makna pelajaran tentang apa yang diyakini manusia.

Selanjutnya, perang terbuka, kerumunan dan antri minyak goreng adalah dua fenomena yang sebabnya sama, yaitu manusia telah dikendalikan oleh tuhan-tuhan selain Allah. Kemana manusia bergantung, maka kesanalah manusia bertuhan. Ketergantungan manusia kepada sesuatu, menjadi sebab prilaku manusia dikendalikan oleh apa yang dijadikannya tempat bergantung. Kerumunan, antrian panjang, desak-desakkan untuk mendapat dua kantong minyak goreng adalah pemandangan mengerikan. Fenomena antrian dan desak-desakan berebut dua bungkus minyak goreng menjadi tanda bahwa minyak goreng telah menjadi pengendali prilaku manusia. Atas dasar apa manusia bertindak kesanalah dia bertuhan.

Fenomena kerumunan dan antrian mendapatkan minyak goreng adalah tanda ketika manusia bertuhan kepada selain Tuhan, maka tuhan-tuhan yang menjadi pengendali manusia itu menyebabkan prilaku-prilaku destruktif yang akan membawa kebinasaan umat manusia. “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan (Al Qashshas, 28:88). Prilaku-prilaku manusia yang telah bergantung pada selain Tuhan, mereka akan sangat cenderung pada prilaku destruktif dan agresif, mereka sangat bernafsu perang. Sebaliknya prilaku destruktif manusia yang tergantung pada selain Tuhan mereka lemah, energinya dialirkan untuk berebut, berdesak-desakkan, antri dari subuh hanya urusan isi perut. Prilakunya dikendalikan oleh hanya sekedar minyak goreng, tempe, beras, semuanya urusan perut.

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu” (Al Ikhlash, 112:2). Sangat tidak mungkin jika manusia bergantung pada Tuhan, minyak goreng menjadi pengendali prilaku manusia.  Ciri dari manusia-manusia bergantung pada Tuhan adalah sabar. Prilaku sabar bukan pekerjaan pasif. Makna sabar seperti Erich Fromm menjelaskan harapan bermakna dinamis. Sabar berkaitan dengan makna  kreatif (syukur). Dikala minyak goreng langka bagi orang-orang yang bergantung pada Tuhan, sikap pertama adalah sabar selanjutnya kreatif mencari alternatif untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kelangkaan minyak goreng sifatnya sementara, mencari alternatif selain minyak goreng adalah pelajaran dari sebuah kajadian agar manusia tidak ketergantungan pada sebuah benda.

Fenomana apa yang dilakukan manusia ketika minyak goreng langka, bukan hanya fenomena sosial. Apa yang dilakukan manusia, tidak lepas dari apa yang isi memori otak manusia. Ketika dalam memori otak manusia, minyak goreng satu-satunya alternatif untuk bertahan hidup, maka kelangkaan minyak goreng akan diproses oleh otak menjadi kecemasan, kegelisahaan, ketakutan, lalu otak memerintahkan untuk mencari aman dengan berburu minyak goreng. Maka jadilah minyak goreng sebagai pengendali prilaku karena manusia sudah menjadi sangat ketergantungan pada selain Tuhan. wallahu’alam.