Oleh: Muhammad Plato
Hati-hati terhadap agama yang telah disusupi kebencian turun-temurun, tidak disadari diwaris melalui lembaga-lembaga pendidikan dengan label agama. Kebencian dalam beragama disusupkan oleh mereka yang punya kepentingan. Penghargaan, keturunan, kekuasaan, kekayaan, adalah kepentingan-kepentingan yang sering menyusup dalam agama.
Terkadang kerena kebencian sudah melekat dalam lembaga pendidikan berlabel agama, kebencian menjadi larut seolah jadi ajaran agama dan tidak terdeteksi oleh penganutnya. Kebencian yang sudah larut dalam lembaga agama dan menjadi narasi para penganutnya, situasi ini menjadi sulit untuk disadarkan.
Ebook pola berpikir mengikuti petunjuk Tuhan
Kebencian yang sudah larut dalam ajaran agama menjadi pola pikir menyusup tersembunyi. Mereka yang sudah tersusupi kebencian, tidak bisa mengenali kebenaran. Kebencian yang sudah membekas dalam hati sangat berbahaya, karena akan menutup keinginan untuk belajar.
Kebencian yang tersimpan di hati tidak ada obatnya kecuali kembali belajar mengenali kembali kebenaran sesungguhnya. Bahaya memelihara kebencian adalah bisa menutup diri dari kebenaran. Karena kebencian kebenaran sekalipun sudah jelas dapat dibuktikan namun tidak dapat dikenalinya.
"Atau (apakah patut) mereka berkata: "Padanya (Muhammad) ada penyakit gila." Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran." (Al Mukminuun, 23:70).
Kebencian yang tersembunyi bisa terjadi karena beragama terlalu mengandalkan emosi dan menutup keterlibatan akal. Tanpa libatkan akal, agama bisa jadi berubah menjadi hawa nafsu yang tidak terkendali. Agama yang terlalu mengandalkan emosi, bisa berubah menjadi sekumpulan orang yang mudah di provokasi dan mudah terjebak tipu daya. Agama yang terlalu mengandalkan emosi berubah menjadi fanatisme kelompok, aliran, keturunan, dan ekslusif.
Al Quran mengandung informasi yang sudah jelas dan abstrak. Hal-hal sudah jelas bisa dipahami dengan akal sederhana. Hal-hal yang abstrak membutuhkan kajian dan penelitian mendalam. Perintah Allah agar manusia menggunakan akal cukup jelas.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (Ali Imran, 3:190).
Allah memberi peringatan bahwa dalam beragama, wajib memiliki kecerdasan intelektual, untuk bisa membaca, meneliti, membedakan, menyamakan, dan merenungi berbagai tanda-tanda di alam. Dengan memahami tanda-tanda yang ada di alam, manusia bisa mengelola, memenuhi kebutuhan hidup, dan melestarikan alam.
Perihal penggunaan akal, Allah memberi peringatan dalam Al Quran. "Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (Al Maa'idah, 5:100).
Al Quran sangat menganjurkan penggunaan akal. Bahkan Al Quran mengandung peringatan keras bagi orang-orang yang tidak menggunakan akalnya. Tanpa penggunaan akal manusia bisa terjebak dengan emosinya sendiri. Agama tanpa akal mudah disusupi kehencian dan menimbulkan kemurkaan Allah.
Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (Yunus, 10:100).
Di era keterbukaan tidak ada yang bisa sembunyi dari kebenaran. Di era informasi, kebenaran tidak lagi mutlak milik lembaga pendidikan, akademisi, ilmuwan, guru, pemuka agama, atau mereka yang bergelar. Kebenaran kembali pada esensinya bersumber pada data dengan akurasi tinggi dan mengandung nilai-nilai kebenaran, serta bisa menyelesaikan masalah untuk kehidupan damai sejahtera dan menjamin kehidupan manusia secara berkelanjutan hingga kehidupan setelah kematian.***




.jpg)