Thursday, May 19, 2022

BEBERAPA ALASAN MENGAPA TIDAK BOLEH BENCI

Oleh: Muhammad Plato

Benci adalah penyakit batin yang hanya dapat dirasakan oleh si pemilik hati. Memperbaiki hati hanya dapat dilakukan dengan cara refleksi diri oleh si pemilik hati. Pelajaran tentang hati merupakan ilmu memperbaiki kepribadian dengan membebaskan hati dari rasa benci. 

Beberapa alasan mengapa hati tidak boleh benci. Jawaban-jawaban di bawah ini sangat simple dan sederhana. Semua kebencian yang tersimpan dalam hati akan jadi kerugian untuk diri sendiri.

"Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh" (Al Baqarah, 2:130).

Kebencian yang tersimpan dalam hati selamanya menjadi prilaku hati yang kotor. Maka selama prilaku hati yang kotor akan mendatang hal-hal yang kotor untuk pribadi orang itu sendiri. Bukankah itu suatu kebodohan?

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al Baqarah, 2:216)

Hati yang benci menjadi sebab kita tidak bisa mengenal kebaikan. Hati yang benci akan fokus hal yang menyenangkan hati. Padahal Allah menyimpan kebaikan di atas kehendak-Nya, bisa jadi hal itu dibenci atau disukai. Ada orang yang tidak mau menerima kebaikan dari orang lain hanya karena benci. Ada juga orang tidak menyukai makan ikan yang menyehatkan otak, karena tidak suka makan ikan. Ada juga mereka yang tidak suka pada seseorang, padahal orang yang dibencinya akan membawa kesejahteraan. 

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Maa'idah, 5:8)

Kebencian dapat menimbulkan ketidakadilan dan bersikap. Hati yang benci akan mendorong pribadi seseorang memiliki prilaku buruk. Kebencian akan menghalangi pribadi seseorang menjadi pribadi yang mensejahterakan dirinya. Sebagai seorang pemimpin, kebencian akan membuat keputusan-keputusannya menjadi tidak adil, diskriminatif, dan selalu terselif niat-niat buruk.

Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat (Al Maa'idah, 5:64).

Semua permusuhan disebabkan oleh kebencian yang tersimpan dalam hati. Hati yang benci akan menolak persahabatan, perdamaian, dan sulit memaafkan. Ucapan-ucapan baik orang-orang yang punya kebencian, menjadi sebuah kepuara-puraan.

Begitulah beberapa alasan mengapa kita tidak boleh memelihara kebencian kepada siapa pun, kepada makhluk apapun, dan kepada benda apapun. Sebab Allah bisa jadi menyimpan kebaikan demi kebaikan dari apa apa yang kita benci.

Pertanyaan terkahir, mengapa kita membenci? Karena belum tentu juga kita termasuk orang yang menyenangkan bagi orang lain. Jika orang lain membenci kita, maka kebodohan untuk orang-orang yang memelihara hatinya tetap benci. Sesungguhnya kebodohan sebodoh bodohnya seseorang yaitu mereka yang memelihara kebencian atas nama harga dirinya. Sementara kebencian itu menyeretnya sedikit demi sedikit pada kebodohan dan kerugian untuk dirinya sepanjang hayat dikandung badan.*** 

 

Monday, May 16, 2022

Al Quran Surah Al 'Alaq, Pesan Sepanjang Zaman

Oleh: Muhammad Plato

Surat Al 'Alaq dikenal oleh umat Islam sebagai surat pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW. Surat ini diterima oleh Nabi Muhammad di Gua Hiro dekat dari kota Mekah. Sekalipun umat Islam mengetahui wahyu pertama turun dimulai dari kata bacalah, saat ini umat Islam sedang mulai sadar kembali untuk mulai lagi membaca. Beberapa tahun ke depan akan muncul lagi ilmuwan-ilmuwan muslim terkemuka di dunia.

Kesadaran umat Islam untuk membaca sedang menggeliat. Di Indonesia ribuan buku per tahun sudah diterbitkan. Pengajaran-pengajaran menulis buku di sekolah-sekolah terus digalakan. Kepala sekolah, guru, siswa, bersama-sama menulis buku. Buku karya kepala sekolah, guru, dan siswa sudah mulai tersebar di mana-mana.

Namun ada pesan  dari surat Al 'Alaq yang jarang diungkap. Terbatasya para pembaca dan peneliti Al-Qur'an membuat Al-Qur'an tertidur. Terbatasnya metode membaca Al-Qur'an membuat umat manusia kewalahan menghadapi perubahan zaman. Kini saatnya, Al-Qur'an menjiwai zaman. Paradgima baru memungkinkan kandungan isi Al-Qur'an diungkap membuktikan kebenaran-kebenarannya.   

Sekarang berbagai kajian Al-Qur'an mulai banyak bermunculan. Para ilmuwan dari berbagai kalangan sudah melirik Al-Qur'an sebagai sumber pengetahuan. Al-Qur'an menjadi sumber gagasan untuk mengembangkan berbagai ilmu terapan untuk membantu mensejahterakan hidup manusia yang tetap berkeyakinan pada Tuhan Yang Esa. Pemahaman Al-Qur'an tidak lagi menjadi hak monopoli  sekelompok atau lembaga tertentu.

Pesan untuk membaca atas nama Allah mengandung banyak arti. Salah satunya dalam membaca zaman, manusia tidak boleh lepas dari keyakinan bahwa semua yang terjadi dan direkayasa manusia pada awalnya diciptakan olah Allah. Manusia tidak punya hak untuk mengklaim bahwa dirinya mencitptakan berbagai macam teknologi, karena semua hanya mengotak-atik hukum dan benda-benda yang pada awalnya sudah diciptakan Allah. Manusia hanya memanfaatkan hukum dan benda-benda yang sudah ada.

Langit, matahari, bumi, bulan, air, udara, tanah, virus, atom, gelombang, semuanya sudah ada. Kita hidup hanya memanfaatkan fasilitas yang sebelum kita lahir sudah ada. Perintah membaca atas nama Allah membawa pesan, manusia jangan terjebak oleh keadaan alam materi. Berbagai macam teknologi berhasil direkayasa jangan sampai menggeser keyakinan manusia pada Allah sebagai pencipta. Apa yang kita pelajari dan ketahui mengikuti apa yang Allah ajarkan kepada manusia. 

"Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Al 'Alaq, 96:5).

Manusia dengan kekuatan akalnya kadang melampuai batas, karena merasa diri sebagai pencipta dan merasa menjadi penguasa. Kisah Fir'aun dikabarkan sebagai kisah bagaimana manusia meampuai batas kewenangannya sebagai hamba Allah. Qorun dikabarkan sebagai manusia berilmu yang melampaui batas, karena merasa diri sebagai pemilik ilmu pengetahuan. Prilaku manusia seperti Fir'aun dan Qorun akan terus terulang sepanjang zaman.

"Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al 'Alaq, 96:6-7).

Kemajuan teknologi, kesejahteraan hidup, dapat melalaikan manusia dari Allah sebagai pencipta dan penyejahtera. Pesan Allah dalam surat Al 'Alaq jangan tertipu dan jangan terperdaya oleh keidupan alam materi. Sehebat apapun kemajuan teknologi dan berapapun kesejehteraan manusia bisa diusahakan ketaatan harus tetap kepada Allah. 

Manusia harus punya kemampuan akal dengan berpikir analisis untuk membedakan apakah dirinya selama ini taat kepada Allah atau kepada selain Allah. Menusia sepanjang zaman harus tetap berdialog dengan dirinya, apakah selama ini dirinya masih taat kepada Allah? Allah dalam surat Al 'Alaq mengajak manusia dari zaman ke zaman untuk terus berdialog. 

"Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?" (Al 'Ala'q, 96: 9-13).

Tidakkah kita berpikir? Terkadang kita berbuat baik bukan karena atas nama Allah, tapi karena melihat kebaikan manusia yang memerintahkannya. Tidakkah kita berpikir? Terkadang kita menolak untuk berbuat baik karena melihat siapa yang memerintahkannya. Tidakkah kita berpikir? Kita selalu terjebak merasa telah melakukan kebaikan, tidak melihat kebaikannya, melainkan karena lebih percaya kepada orang yang memerintahkannya.

Setiap orang harus punya kemampuan menganalisis berbagai informasi, apakah yang diperintahkan orang itu berada di atas kebaikan yang diperintahkan Allah? Sebaliknya kita harus mampu menganalsis, apakah yang diperintahkan orang itu bertentangan dengan perintah Allah. Jangan terjebak dengan melihat siapa orang yang memerintahkannya. Jangan karena terlalu melihat orang kita menjadi terjebak taat pada orang bukan pada Allah. Maka lihatlah pada surat Al 'Alaq di surat terakhir. Pesan yang akan berlaku sepanjang zaman. 

"sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya (manusia); dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)", (Al 'Alaq, 96:19).     

Bukan berarti kita tidak boeh meghargai atau mengabaikan peringatan manusia, tapi berhati-hatilah dan jangan sampai melampaui batas. Maka, ada kalanya, sesekali, kita harus selektif, dan harus bisa membaca membedakan atas nama Allah mana kebaikan dan mana keburukan, agar hati dan pikiran kita tetap taat kepada Allah.

KH. Zainudin MZ almarhum sering menyampaikan perumpamaan ini, "kita harus bisa membedakan mana telur dan mana kotoran ayam. Sekalipun telur dan kotoran sama-sama keluar dari dubur ayam, tentu kita harus bisa memilah mana yang menyehatkan tubuh dan mana yang menyebabkan penyakit. Telur sekalipun keluar dari dubur ayam bisa kita ambil, tapi sekalipun keluar dari mulut orang suci tapi itu kotoran jangan diikuti. Berusahalan taat kepada Allah dengan segenap hati dan akal. 

Maka kembali ke pesan abadi di awal ayat pertama surat Al 'Alaq ayat 1 turun, "bacalah atas nama Tuhan mu yang menciptakan". Dan bukan kebetulan surat Al 'Alaq itu jumlah seluruh ayatnya 19. KH. Fami Basya mengatakan 19 adalah jumlah huruf arab dari bismillah. Bisa jadi membaca adalah aplikasi dari kata bismillah. Wallahu'alam***    


Sunday, May 15, 2022

BAGAIMANA CARA JAWAB, JIKA DITANYA APA BUKTI ALLAH KABULKAN DOA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Apakah buktinya Allah mengabulkan doa? Pertanyaan ini datang dari seorang anak kepada ibunya yang setiap hari shalat berdoa kepada Allah. Pertanyaan semacam ini bukan kali pertama, karena setiap anak pasti mengalaminya. Setiap tahun akan terus ada pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Lalu bagaimana cara menjawabnya?

Tugas para guru, dosen, ustad, untuk menjawabnya. Masing-masing tentu punya gaya untuk menjawabnya. Sebagai guru, saya kasih trik juga untuk menjawabnya. Lumayan sedikit perlu fokus berpikir, tapi saya coba sederhanakan. 

Pertama, ajak penanya untuk samakan dulu persepsi, bahwa seluruh ketentuan yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah. Kalau orang yang bertanya beriman pasti akan cepat sepakat bahwa seluruh ketentuan adalah milik Allah. 

"(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam" (Q.S. 81:29).

Seluruh kejadian ada di atas kehendak Allah. Bumi berputar, matahari bersinar, mata berkedip, jantung berdetak, semua terjadi atas kehendak Allah. Artinya seluruh aktivitas kehidupan hakikatnya adalah atas kehendak Allah. Bukti bahwa semua ada di atas kehendak Allah adalah bumi dan matahari yang setiap hari bergerak. Adakah teknologi, sumber energi buatan manusia yang menggerakkan bumi dan matahari? Sumbernya dari mana bermilyar-milyar tahun matahari bersinar?

Kalau dengan orang Atheis perlu penjelasan panjang dulu untuk mencapai kata sepakat. Orang Atheis bukan tidak mengakui adanya Tuhan, tetapi mereka sudah menutup hati dan pikirannya untuk percaya pada Allah.  

Jika sudah sepakat satu pemahaman bahwa seluruh kejadian adalah kehendak Allah. Maka, tinggal dikaitkan dengan pertanyaan, tentang bukti Allah mengabulkan doa. Allah menciptakan hitung-hitungan waktu. Menusia mengungkap hitungan waktu dengan ukuran detik, menit, jam dan seterusnya. 

Maka ketika kita berdoa, maka doa kita terhitung dalam hitungan detik, menit, jam, hari, dan seterusnya. Jadi bisa dipahami jika kita berdoa hari ini sudah pasti berdasar hitungan waktu doa akan dikabulkan pada hari esok. Jika pakai hitungan detik, jika kita berdoa pada detik pertama maka jawaban doa akan ktai dapat di detik berikutnya. 

Kesimpulanya, doa-doa yang kita lantunkan kepada Allah akan terkabul di masa depan, masa akan datang, sampai akhirat. Dengan menggunakan hitungan waktu terkecil detik, kita bisa membuktikan bahwa Allah mengabulkan doa dalam hitungan detik. Mengapa? karena setiap detikpun yang terjadi sesungguhnya berada di atas kehendak Allah.

Jadi ketika ada makanan di meja, lalu kita berdoa kepada Allah, ya Allah masukkanlah makanan ini ke dalam perut kami dan kenyangkanlah perut kami dengan makanan ini. Selanjutkan kita makan makanan itu dan kita merasa kenyang, sesungguhnya Allah telah mengabulkan doa kita saat itu. Mengapa? Karena makanan masuk ke perut dan perut jadi kenyang semua berada di atas kehendak Allah.

Ketika anak sekolah mau pulang ke rumah, berdoa kepada Allah, ya Allah selamat kami dalam perjalanan pulang dan sampaikanlah kami di rumah dalam keadaan selamat. Maka sudah berapa kali kita pulang pergi dari rumah ke sekolah dan diberi keselamatan. 

Kedua, harus dipahami bahwa berdoa adalah suatu tindakan dengan penuh harap dan kesadaran bahwa Allah penentu segala takdir yang terjadi. Tujuan doa sebenarnya adalah membangun kesadaran bahwa Allah berkehendak atas segala sesuatu, dan perintah berdoa adalah untuk membentuk kesadaran manusia selalu berterimakasih pada Allah atas doa-doanya yang selalu dikabulkan. 

Hakikatnya perintah berdoa dari Allah, untuk menjaga kesadaran manusia sebagai makhluk dan Allah sebagai maha pemberi. Orang-orang yang rajin berdoa akan merasa hari demi hari dalam hidupnya di atas kehendak Allah. Doa-doa minta kelesamatan hidup yang dilantunkan hari ini, maka jika hari esoknya dia selamat diperjalanan, selamat dari bencana, selamat dari kelaparan, maka doa-doa sesunguhnya telah dikabulkan Allah.

Jadi syarat untuk menemukan bahwa Allah mengabulkan doa adalah keimanan terhadap segala yang terjadi adalah ketentuan Allah. Keimanan yang kuat jika kita terus menambah ilmu pengetahuan dari Al-Qur'an tentang kehadiran kehendak Allah setiap saat dalam setiap kejadian. 

Sekarang mari kita sama-sama buktikan bahwa Allah mengabulkan doa, tutuplah mata, lalu pikirkan dan rasakan bahwa mata tertutup dan mata terbukan semuanya atas kehendak Allah. Masih dalam keadaan mata tertutup, lalu dengan sadar Allah maha mengabukan doa, silahkan dalam keadaan mata tertutup berdoalah kepada Allah, "ya Allah mohon bukakanlah mata ku yang terpejam ini!" Silahkan sekarang buka, dan itulah bukti bahwa Allah telah mengabulkan doa. Wallahu'alam.  

Tuesday, May 3, 2022

BERPIKIR HOLISTIS

Oleh: Muhammad Plato

Berpikir holistis sangat rumit dan sangat sulit untuk diaplikasikan. Namun ada cara sederhana agar kita bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Berpikir holistis adalah sebuah pendekatan untuk membangun sudut pandang kita terhadap dunia menjadi lebih utuh. Berpikir holistis yang lebih banyak berkembang sekarang sebagai kritik terhadap sekularisme. 

Pada abad 20 sekularisme digaung-gaungkan sebagai cara pandang yang paling baik dalam melihat kenyataan alam. Di akhir abad cara pandang sekuler mendapat kritikan karena faktanya membuat banyak konflik terjadi, meningkatknya kemiskinan, peredaran narkoba, kejahatan, dan dehumanisasi. 

Pandangan bahwa benda sebuah entitas terpisah menyebakan manusia semakin serakah, egois, dan terjadi ekploitasi alam demi untuk memenuhi hasrat kehidupan dunia. Pandangan sekuler yang memisahkan agama dalam kehidupan nyata, membuat hubungan palsu antara agama dengan ilmu. Agama dan ilmu jalan berbarengan tetapi berjalan masing-masing, tidak saling sapa dan asyik dengan dunianya sendiri. 

Hubungan palsu antara agama dan ilmu, menjadi sebuah perselingkuhan yang melahirkan anak-anak haram. Prilaku manusia menjadi tidak konsiten. Ajaran agama yang dianut tidak tercermin dalam kehidupan nyata. Agama mejadi rutinitas ritual sebagai obat penawar racun, sementara racun itu sendiri terus dikonsumsi.

Sekularisem melahirkan cara pandang agama yang ekslusif, mejadi kontra produktif dengan cita-cita ajaran agama itu sendiri. Cara pandang agama yang ekslusif melahirkan konflik antar penganut agama dan menyuburkan konflik antar sesama manusia. Sekularisme dalam beragama telah menyuburkan konflik ke seluruh aspek kehidupan manusia.

Hubungan manusia dengan alam menjadi hubungan eksploitatif yang melahirkan dampak buruk bagi kehidupan manusia. Eksploitasi alam melahirkan kerusakan eksositem kehidupan tidak seimbang. Dampak eksploitasi alam melahirkan pencemaran lingkungan, bencana alam, dan peningkatan suhu bumi. Alam menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup manusia.      

Memasuki abad 21 terjadi perubahan paradigma, setelah diketahui bahwa kehidupan buat suatu entitas terpisah-pisah. Keberadaan sebuah benda ternyata tidak dapat dipahami sebagai suatu entitas tersendiri. Keberadaan benda dengan benda yang saling ternyata saling berhubungan. Kejadian memiliki hubungan dengan kejadian lain. Dunia ternyata hakikatnya saling berhubungan. 

Kenyataan ini mermbuat manusia sadar bahwa keberadaan sebuah benda dapat dipahami dengan menemukan hubungan dengan benda-benda lain. Demikian juga keberadaan manusia dapat dipahami maknanya ketika dia berhubungan dengan manusia lain. Kesejahteraan manusia dapat tercapai dengan saling bekerja sama. Cara hidup terbaik dimuka bumi ini ternyata dengan menjalin hubungan baik dengan seluruh unsur kehidupan.

Keberagamaan seseorang dapat dipandang baik dan mesejahterakan jika keberagamaannya membawa kesejahteraan bagi masyarakat dan menciptakan kehidupan damai. Agama dan ilmu tidak terpisahkan. Seluruh aspek kehidupan tidak dapat dipisahkan dari ajaran agama. Sumber pengetahuan dari alam berhubungan erat dengan sumber pengetahuan dari non alam. 

Sebagai sebuah sistem kehidupan nyata di muka bumi tidak terpisah dengan kehidupan manusia setelah kematian. Kehidupan manusia di muka bumi, bukan satu-satunya kehidupan yang akan dialami manusia. Kehidupan manusia di alam lain mulai terungkap secara ilmiah. Keyakinan manusia akan keberadaan kehidupan lain selain di dunia sekarang, dapat membimbing manusia hidup lebih bijaksana dan terkendali. 

Menghilangkan pengetahuan pada keyakinan hidup setelah kematian berakibat pada pola pikir sekuler. manusia bisa kehilangan tujuan, putus asa, dan mati dengan cara mengerikan. Berpikir holistis mengembalikan sumber pengetahuan non rasional sebagai dari ontologi keilmuan. Cara berpikir bersumber pada panduan kitab suci Al-Qur'an. 

Wajah agama yang sekarang dianggap sebagai sumber kekerasan dan terorisme adalah akibat persepsi yang tidak bersumber pada agama. Buah dari cara pandang manusia yang sesungguhnya tidak bersumber pada pemikiran dari agama. Kekerasan dan terorisme lahir karena cara pandang sekuler yang selalu melihat kebenaran berdasarkan fakta empiris. 

Berpikir holistis sederhananya adalah membangun sudut pandang sistem antara kehidupan fana di dunia dengan kehidupan kekal di akhirat. Kehidupan fana harus dilalui dengan kebahagiaan melalui jalan-jalan baik, sebagai akibat kehidupan bahagia dikehidupan akhirat. Pengetahuan dari kitab suci tidak dipandang sebagai mistik atau fantasi tapi pengetahuan yang mampu menjelaskan fenomena kehidupan di dunia sekarang dan masa yang akan datang.  

Cara membangun sudut pandang dikemukakan dalam Al-Qur'an, yaitu pada perintah membaca yang tidak boleh lepas dari sudut pandang dari ketuhanan. "Bacalah (atas) nama Tuhanmu Yang menciptakan" (QS. 96:1). Membaca atas nama Tuhan seperti kita berbicara mengemukakan pendapat orang lain, yang memberi mandat kepada kita. Demikian juga beberapa ulama tafsir mengemukakan bahwa mengatasnamakan Tuhan adalah cara membangun sudut pandang pada kehidupan dunia berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang diturunkan Tuhan kepada para utusan.

 

Friday, April 15, 2022

MELATIH BERHARAP TAPI TIDAK BERHARAP

Oleh: Muhammad Plato

Bisakah manusia untuk tidak berharap? Dalam pemahaman umum beribadah tidak boleh berharap. Tetapai boleh berharap ridha Allah. Aneh juga memang, di satu sisi tidak boleh berharap, di sisi lain tidak boleh berharap. Jadi mana yang benar?

Ini sekedar solusi saja buat kawan-kawan agar mudah memahaminya. Mana yang boleh, berharap atau tidak berharap? Kita kembali kepada keterangannya di dalam Al-Qur'an. Urusan agama tidak boleh merujuk pada sumber lain, kecuali pada Al-Qur'an atau hadis yang shahih. 

Di dalam Al-Qur'an surah Alam Nasyrah ayat 8, Allah memerintahkan kepada kita untuk berharap."dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." Jadi terang benderang sekali berharap itu perintah Allah. Jika ada orang yang melarang berharap kepada Allah agak sulit cara berpikirnya.

Jadi kita ambil cara pemahaman yang mudah-mudah saja. Jika Allah sudah memerintahkan untuk berharap kepada Allah, ya apapun harapkanlah kepada Allah. Bisa jadi efek larangan berharap kepada Allah dalam beribadah, menyebabkan sebagian orang pergi ke gunung, gua, patung, dan pohon untuk mendapat pengharapan.

Sekarang sudah jelas berharap diperintahkan oleh Allah, dan hanya boleh berharap kepada Allah saja. Kalau kita berharap kepada Allah lalu apa yang kita harapkan dari Allah. Kalau kamu hidup pasti butuh makan, minum, kendaraan, rumah, kesehatan, kesejahteraan batin, dan sebagainya. Nah, untuk semua kebutuhan hidup harapannya hanya boleh kepada Allah saja.

Kalau kamu berharap kepada selain Allah, kamu bikin cemburu Allah. Harus diingat juga karena sifat Allah maha pemberi, sudah pasti kalau berharaplah sesuatu kepada Allah, Allah pasti memberi. Sifat maha pemberi artinya setiap diminta pasti selalu memberi.

Dalam Al Kahfi ayat 46 Allah berfirman, "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan". 

Harta dan anak-anak yang baik adalah yang didapat dari amal-amalan baik yang hanya berharap pahala dari Allah. Berharap harta kepada Allah lalu lakukanlah amalan-amalan yang baik. 

Jadi tidak ada larangan bagi seseorang untuk berharap apa saja kepada Allah. Namun harapan-harapan baik itu harus dibangun dengan amalan-amalan baik. 

"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami" (Yunus, 10:7).

Orang-orang yang berharap pertemuan dengan Allah, hartanya akan digunakan untuk amalan-amalan yang baik. Anak-anaknya akan diajarkan dengan amalan-amalan baik.

Berharaplah yang baik baik kepada Allah untuk dunia mu, dan gunakanlah hartamu dengan berbuat amat baik karena harapan bertemua dengan Allah.

Inilah harapan dinamis sebagaimana dijelaskan oleh Erich Fromm. Muhammad Plato mengatakan berharaplah dunia dengan pikiran mu, namun hati mu berharap pertemuan dengan Allah. Inilah cara berharap dinamis yang harus dilakukan oleh pikiran dan hati. 

Harapan adalah naluri manusia, namun sebaik-baiknya harapan kepada Allah. Orang-orang yang beramal baik dengan ikhlas dia berharap balasan kebaikan di dunia dan akhirat hanya kepada Allah. Orang yang beramal baik karena Allah akan terbebas dari tuntutan dunia karena balasannya diserahkan sekehendak Allah. 

Jadi berharaplah sebanyak-banyaknya kepada Allah, baik itu untuk dunia mu maupun akhirat mu, tapi balasannya sekehendak Allah. Inilah keikhlasan manusia yang penuh dengan pengharapan kepada Allah. Inilah cara berharap tetapi tidak berharap, pikiran berharap dunia, tetapi hati berharap Allah. Harapan dinamis antara hati dan pikiran. Wallahu'alam.  



Friday, March 25, 2022

HATI-HATI ABU JAHAL MILENIAL

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Syaifudin Ibrahim dikenal sebagai guru nagji di salah satu pesantren kemudian pindah agama karena kekecewaan yang dialaminya. Kini beliau menjadi orang yang getol mengampanyekan kekurangan-kekurangan ajaran Islam. Baru-baru ini melalui media sosial beliau mengusulkan revisi 300 ayat Al-Qur’an yang menurut beliau berbahaya.

Mendengar celotehan ini tidak perlu kita sikapi berlebihan. Tidak perlu juga muncul sikap benci dan dengki didalam hati kita. Sikap yang harus muncul pada diri kita sebagai muslim adalah rasa belas kasihan, atas apa apa yang akan menimpa mereka yang mendustakan ayat-ayat Tuhan. Cukuplah bagi kita berpedoman pada Al-Qur’an.

Barang siapa yang datang dengan kebaikan, maka baginya yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan dengan apa yang dahulu mereka kerjakan (Al Qashshas, 28:84).

Ayat di atas menjelaskan sebuah ketetapan (takdir) yang tidak akan pernah berubah dari sejak zaman Nabi Adam diciptakan hingga sekarang.

Di dalam Al-Qur’an banyak kisah-kisah prilaku hidup manusia di zaman dahulu. Kisah Fir’aun mengabarkan bagaiman seorang penguasa sewenang-wenang karena merasa diri sebagai Tuhan yang dapat mengendalikan segalanya. Keuarga Nabi Yusuf mengisahkan bagaimana konflik yang terjadi dalam lingkungan keluarga, hingga berani mecelakai adik kandungnya sendiri. Abu Lahab adalah kisah orang kaya yang menggunakan hartanya untuk mendustakan ajaran Tuhan. Abu Jahal dikisahkan adalah orang yang getol mengolok-ngolok ayat-ayat Allah. Kisah ini akan terus berulang sesuai dengan situasi zaman.

Akan ada Fir’aun, Abu Lahab, Abu Jahal di setiap zaman. Di abad milenial akan ada manusia memerankan tokoh-tokoh ini. Akan ada Fir’aun, Abu Lahab, dan Abu Jahal di abad milenial. Umat Islam tidak perlu risau dan bimbang, karena nasib mereka sudah Allah jelaskan di dalam Al-Qur’an. Mereka tidak sedang memerangi kita, tetapi mereka sedang memerangi Allah yang menciptakan mereka. Tidak ada sedikitpun kesenangan dan kemenangan bagi mereka yang memerangi Allah.

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. (Al Lahab, 111:1-3).

Kita sudah tahu bagaimana nasib akhir bagi orang-orang yang memerangi Allah. Mereka akan ada dalam akhir hidup yang mengerikan.  

Ketika kita dihadapkan pada orang-orang seperti itu, Allah sudah mengajarkan kepada kita semua. Cara sikap terbaik menghadapi olok-olokkan mereka adalah dengan mengabaikannya.

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa, maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang dzalim itu sesudah teringat.  (Al An’aam, 6:68).

Jadi tetaplah tenang, keburukan tidak akan terjadi pada diri kita dan umat Islam. Fokuslah pada upaya diri untuk memperbaiki membersihkan diri dari sifat iri dan dengki. Bebaskan diri kita dari sifat-sifat pencela, karena apa yang akan menimpa kita semua sangat tergantung pada prilaku yang kita kerjakan. Jangan merespon keburukan dengan keburukan, responlah keburukan yang dilakukan orang dengan respon terbaik sebagai telah diajarkan Allah di dalam Al-Qur’an.

Tetap bahagia sahabat-sahabat, mari kita rencanakan kebaikan demi kebaikan agar hidup kita tetap sejahtera. Semoga Allah membimbing kita semua. Kisah-kisah Abu Lahab di abad milenial akan terus bermunculan, dan itu pilihan manusia. Bagi orang-orang beriman akan tetap berada di jalan benar sekalipun keburukan demi keburukan dilakukan orang-orang pencela. Kabar buruk dari mereka adalah kabar baik bagi kita jika kita termasuk orang-orang yang bertakwa.  Wallahu’alam.

Monday, March 21, 2022

BELAJAR DARI PENGHUNI NERAKA

 OLEH: MUHAMMAD PLATO

Allah mengetahui apa yang terjadi di masa lalu dan masa yang akan datang. Kisah di masa depan telah dikabarkan di dalam Al-Qur’an. Manusia di masa depan nasibnya sangat ditentukan oleh prilakunya di masa lalu. Masa depan adalah masa dimana manusia hidup dengan kecepatan cahaya. Sebuah fenomena terjadi, manusia-manusia yang telah migrasi ke masa depan ada yang bercita-cita kembali ke masa lalu. Cara berpikir yang sangat tidak bisa diterima oleh akal sehat, yaitu cara berpikir para penghuni neraka. Mereka menginginkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Masa lalu adalah sebuah masa dimana setiap orang tidak mungkin melaluinya untuk kedua kali.

Penghuni neraka adalah orang-orang sakit pikir yang hidupnya selalu berandai-andai. Para penghuni neraka selalu telat berpikir. Kemampuan mereka menerima dan melakukan hal-hal baik selalu terlambat. Untuk itulah orang-orang yang lalai atau selalu terlambat dalam melaksanakan kebaikan (shalat), mereka termasuk golongan telat mikir sama dengan prilaku penghuni nereka. Penghuni neraka itu ada di masa depan dan ingin kembali ke masa lalu di dunia.

“Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat adzab: 'Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik'. (Az Zumar, 39:58).

“Dan jika kamu melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan)” (Al ‘An’aam, 6:27).

“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka”. (Al-Baqarah, 2:167).

Harapan-harapan yang dimiliki penghuni neraka adalah harapan hampa. Harapan untuk kembai ke masa lalu yang tidak mungkin terjadi. Harapan mereka hanya ada dalam imajinasi yang tidak akan pernah jadi kenyataan. Hidupnya hanya di isi dengan penyesalan demi penyesalan yang tidak akan pernah berakhir.

Kehidupan dunia adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk melakukan perubahan. Kesempatan berbuat baik hanya ada dalam kehidupan dunia. Mereka yang hidupnya di penuhi dengan kebaikan di dunia tidak ingin kembali ke masa lalu. Mereka selalu menatap masa depan dengan penuh harapan dan optimisme. Harapan orang-orang yang berbuat baik adalah harapan nyata. Masa depan selalu menjadi impian yang diidam-idamkan. Bagi orang-orang yang berbuat baik harapan itu selalu ada di depan, sebaliknya bagi penghuni neraka harapan-harapan baik itu ada di masa lalu. Harapan-harapan orang baik telah dijanjikan Tuhan, dan harapan-harapan penghuni neraka hanya akan jadi penyesalan.

Orang-orang baik nafsunya terkendali, dan para penghuni neraka nafsunya tidak terkendali selalu memburu dan mencari kesenangan-kesenangan sesaat. Kebahagian para penghuni neraka berlalu dengan cepat seperti kilat memberikan cahaya lalu berganti kembali dengan kegelapan. Bagi orang baik hidup ini adalah perjuangan dan bagi penghuni neraka hidup ini  cenderung berburu kesenangan (wallahu’alam). 

Sunday, March 13, 2022

MINYAK GORENG PUN JADI TUHAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Dunia tidak habis-habisnya menyajikan kisah dengan fenomena beda-beda. Di suatu negara terjadi fenomena kerumuman, desak-desakkan dan antrian panjang untuk sekedar mendapat dua bungkus minyak goreng. Di belahan dunia lain, terjadi perang akibat konflik antar dua negara karena berbeda tujuan dan latarbelakang. Dua fenomena ini terjadi setelah dunia dilanda oleh penyakit aneh covid-19. Penyakit ini baru diketahui setelah melalui tes, jika tidak di tes maka penyakit itu akan menjadi penyakit alamiah yang harus diobati. Berbagai isu yang tidak pernah pasti mengatakan penyakit ini dibuat secara sengaja dengan tujuan-tujuan duniawi.

Faktanya selama dua tahun virus Covid-19 telah menjadi tuhan sebagian besar orang. Prilaku manusia di seluruh dunia, ditentukan grafik penyebaran virus Covid-19. Keluar rumah dan keluar rumah, berkerumun dan tidak boleh berkerumun, kapan sekolah tatap muka dan kapan berlajar online, menunggu pergerakkan virus Covid-19. Orang yang sangat ketergantungan pada selain Tuhan, setiap kejadian akan berubah jadi kekhawatiran. Inilah sebenarnya pelajaran bahwa tidak boleh ada sesuatu tempat bergantung selain Allah. Setiap fenomena kehidupan memiliki makna pelajaran tentang apa yang diyakini manusia.

Selanjutnya, perang terbuka, kerumunan dan antri minyak goreng adalah dua fenomena yang sebabnya sama, yaitu manusia telah dikendalikan oleh tuhan-tuhan selain Allah. Kemana manusia bergantung, maka kesanalah manusia bertuhan. Ketergantungan manusia kepada sesuatu, menjadi sebab prilaku manusia dikendalikan oleh apa yang dijadikannya tempat bergantung. Kerumunan, antrian panjang, desak-desakkan untuk mendapat dua kantong minyak goreng adalah pemandangan mengerikan. Fenomena antrian dan desak-desakan berebut dua bungkus minyak goreng menjadi tanda bahwa minyak goreng telah menjadi pengendali prilaku manusia. Atas dasar apa manusia bertindak kesanalah dia bertuhan.

Fenomena kerumunan dan antrian mendapatkan minyak goreng adalah tanda ketika manusia bertuhan kepada selain Tuhan, maka tuhan-tuhan yang menjadi pengendali manusia itu menyebabkan prilaku-prilaku destruktif yang akan membawa kebinasaan umat manusia. “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan (Al Qashshas, 28:88). Prilaku-prilaku manusia yang telah bergantung pada selain Tuhan, mereka akan sangat cenderung pada prilaku destruktif dan agresif, mereka sangat bernafsu perang. Sebaliknya prilaku destruktif manusia yang tergantung pada selain Tuhan mereka lemah, energinya dialirkan untuk berebut, berdesak-desakkan, antri dari subuh hanya urusan isi perut. Prilakunya dikendalikan oleh hanya sekedar minyak goreng, tempe, beras, semuanya urusan perut.

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu” (Al Ikhlash, 112:2). Sangat tidak mungkin jika manusia bergantung pada Tuhan, minyak goreng menjadi pengendali prilaku manusia.  Ciri dari manusia-manusia bergantung pada Tuhan adalah sabar. Prilaku sabar bukan pekerjaan pasif. Makna sabar seperti Erich Fromm menjelaskan harapan bermakna dinamis. Sabar berkaitan dengan makna  kreatif (syukur). Dikala minyak goreng langka bagi orang-orang yang bergantung pada Tuhan, sikap pertama adalah sabar selanjutnya kreatif mencari alternatif untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kelangkaan minyak goreng sifatnya sementara, mencari alternatif selain minyak goreng adalah pelajaran dari sebuah kajadian agar manusia tidak ketergantungan pada sebuah benda.

Fenomana apa yang dilakukan manusia ketika minyak goreng langka, bukan hanya fenomena sosial. Apa yang dilakukan manusia, tidak lepas dari apa yang isi memori otak manusia. Ketika dalam memori otak manusia, minyak goreng satu-satunya alternatif untuk bertahan hidup, maka kelangkaan minyak goreng akan diproses oleh otak menjadi kecemasan, kegelisahaan, ketakutan, lalu otak memerintahkan untuk mencari aman dengan berburu minyak goreng. Maka jadilah minyak goreng sebagai pengendali prilaku karena manusia sudah menjadi sangat ketergantungan pada selain Tuhan. wallahu’alam.

Sunday, March 6, 2022

KUNCI SUKSES LO KHENG HONG

 OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kisah hidup sosok ini sangat inspiratif. Pola hidup sederhana, telah mengantarkan dirinya menjadi orang paling bahagia di dunia. Prinsip hidupnya, “tidurlah yang banyak agar uangmu banyak” sangat bertentangan dengan logika masyarakat umum. Sering saya katakan, warisan kekayaan itu bukan harta bendanya tapi karakter kaya. Sama dengan penyakit, penyakit keturunan itu bukan penyakitnya yang diturunkan tapi pola hidupnya. Lo Kheng Hong awalnya bukan orang yang punya harta kekayaan dari warisan. Sebagai pegawai tukang photo copy berkas di bank, dia memiliki karakter kaya. Berikut beberapa karakter kaya yang dimiliki oleh Lo Kheng Hong.

Pertama, tidak punya utang. Berbeda dengan Robert Kiyosaki yang memanfaatkan utang untuk investasi produktif, Hong sangat menghindari hutang. Gaji selama menjadi pegawai dia gunakan untuk menabung saham, sementara pegawai pada umumnya kredit kendaraan. Mungkin dalam dunia investasi, menggunakan investasi dengan modal utang sangat berisiko tinggi dan bisa membuat bangkrut. Sudah pasti, jika investasi saham dengan dana utang, tidak akan membuat tidur nyenyak. Dalam kondisi saham crash, jika tidak punya utang masih bisa tidur nyenyak. Pelajaran penting dari Hong adalah jangan berinvestasi dari dana utang, lebih baik nabung sedikit demi sedikit dengan uang dingin dalam jangka panjang.

Kedua, belajar dengan membaca laporan keuangan perusahaan. Dengan membaca laporan keuangan perusahaan, kita bisa menemukan mana perusahaan yang jujur, dan prospek bisnis perusahaannya akan terus berkembang. Allah berfirman, “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Al “Alaq, 96:3-5). Hong mengatakan, dia selalu melihat ke depan dengan pengetahuan dari membaca laporan keuangan perusahaan. Jangan membeli saham seperti membeli kucing dalam karung, atau ikut-ikutan karena ikut trend atau FOMO (Fear of missing out). Keberhasilan investor sekelas Hong dibentuk karena ketelitiannya dalam membaca laporan keuangan perusahaan. Dengan membaca laporan keuangan para investor dapat membeli perusahan harga mercy dengan harga bajai. Hong mengatakan, kenyataan ini hanya ada di pasar saham.

Ketiga, tidak perlu analisis teknikal, dia lebih tertarik pada analisis fundamental. Perusahaan yang dihuni orang jujur dan bisnisnya prospektif lebih menenangkan sebagai perusahaan tempat berinvestasi. Perubahan sesuatu yang tidak dapat diketahui, karena bagi Hong, kemarin hanyalah memori dan hari esok misteri. Kejadian buruk dan baik bisa kapan saja terjadi dan hanya Tuhan yang tahu. “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka”, (Al Baqarah, 2:255). Analisa sahamnya tidak terlalu rumit dengan angka-angka.

Keempat, kendalikan emosi dengan memiliki kesabaran tinggi. Investor yang sabar dialah yang akan dijanjikan keberuntungan besar oleh Tuhan. Keuntungan-keuntungan yang diraih oleh Hong, semuanya berkat kesabaran dalam berinvestasi. Selama menjadi investor, dengan kesabarannya, dia tidak pernah menjual rugi saham (cut loss). Keuntungan yang diraih dari investasi sahamnya terjadi setelah menunggu bertahun tahun, sampai ada yang mencapai 16 tahun. Janji Allah kepada siapa saja, “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar” (Fushshiat, 41:35).

Hong pernah mengalami kebangkrutan sampai jumlah investasi sahamnya hilang tinggal 10 persen. Tapi karena mengawali investasi sahamnya dengan bebas utang, dia masih bisa bertahan hidup, karena dengan sisa sahamnya yang tinggal 10 persen dia masih tetap kaya. Demikianlah sedikit kunci sukses dari Lo Kheng Hong yang dapat kita teladani. Hong sangat menyayangkan jika orang-orang hanya memandang investasi saham sebagai dunia penuh risiko dan berusaha menghindarinya. Hong telah membandingkan, orang terkaya lulusan universitas ternama di Amerika, kekayaan mereka tidak lebih banyak dari kekayaan yang dimilikinya sekalipun Hong hanya lulusan kampus dengan tempat kuliah menyewa di bangunan sekolah. Semoga kita diberkahi Tuhan punya karakter-karakter kaya dan berguna bagi nusa dan bangsa. Wallahu’alam.   

PSIKOLOGI DAN EMOSI PERANG NABI MUHAMMAD

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Perang Rusia dengan Ukraina menjadi sorotan dunia, namun kita tidak tahu apa motivasi sesungguhnya dibalik perang yang dilakukan oleh kedua negara. Rusia jelas menjadi negara berkekuatan besar tetapi jumlahnya tidak seberapa dibanding dengan kekuatan 27 negara tergabung dalam NATO yang terdiri dari beberapa negara yang punya kekuatan militer besar di dunia. Sesungguhnya, bukan Ukraina yang sedang berperang dengan Rusia tapi kekuatan yang ada dibalik Ukraina. Dapat dipahami secara emosi, Rusia akan sangat marah kepada Ukraina jika ingin bergabung dengan NATO. Tetangga dekat yang seharusnya senasib dan sepenanggungan malah milih bergabung dengan rival. Kemarahan yang sangat memuncak dari Rusia, maka dipilihlah jalan perang untuk menduduki Ukraina, sebelum Ukraina keburu berubah menjadi bagian kekuatan NATO. Perang didasari oleh psikologi dan emosi para pemimpin yang menjadi komandan tertinggi pasukan.

Dahulu, Nabi Muhammad mengalami beberapa kali perang yang sangat menguras energi pikiran, hati, dan tenaga. Dari peristiwa-peristiwa perang yang dialami Nabi, beredar sangkaan-sangkaan di masyarakat dunia, Nabi Muhammad dianggap sebagai sosok yang menyebarkan Islam dengan kekerasan, disimbolkan dengan pedang di tangan kanan dan Al-Qur’an di tangan kiri. Isu ini disebarkan oleh orang-orang yang mencoba mempelajari sejarah Islam tetapi tidak dilatarbelakangi oleh objektivitas fakta. Artinya kejujuran sebagai nilai dasar bagi seorang ilmuwan tidak dipegang teguh. Sebagai seorang muslim, penulis tidak hendak mengklarifikasi sangkaan-sangkaan buruk terhadap Nabi Muhammad, tetapi penulis mencoba menyampaikan fakta dan dari fakta itu biarkan semua orang berkseimpulan.

Fakta sejarah sifatnya netral, dan penafsiran sangat tergantung pada kultur memori yang dimiliki panafsir. Fakta bahwa perang Badar, Uhud, dan Khandaq adalah perang tidak seimbang. Berdasar fakta ini, secara psikologis sangat tidak mungkin pasukan kecil berniat melakukan ekspansi pada pasukan yang berjumlah besar. Peperangan yang dialami Nabi Muhammad jauh dari fakta sebagai agresi, tetapi tepatnya sebagai masa-masa penderitaan Nabi Muhammad. Secara psikologis Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq merupakan tekanan batin yang sangat hebat, menguji keimanan para pengikut Nabi Muhammad. Rasa takut yang menghantui para pengikutnya pada saat perang Badar, membuat Nabi berdoa dengan doa yang sangat mengiba dan “mengancam” pada Allah, jika tidak ada pertolongan Allah maka tidak akan ada lagi manusia yang menyembah Allah.

Kemenangan perang Nabi Muhammad bukan karena pasukan kecil yang dipimpin Nabi Muhammad, tetapi dalam rekaman sejarah di Al-Qur’an dikatakan; “Maka bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Al-Anfaal, 8:17). Kekuatan perang Nabi Muhammad, adalah bantuan dari Allah, akibat penderitaan, tekanan, teror, yang melampaui batas dialami Nabi dan pengikutnya dari orang-orang yang ingin memerangi kebenaran. Pada hakikatnya Allah akan menolong bangsa-bangsa, kelompok-kelompok yang mendapat tekanan dari bangsa atau kelompok lain yang melampaui batas.  

Di bawah tekanan yang hebat, maka emosi perang yang bangkit bukan untuk melakukan agresi atau penjajahan, tetapi melakukan perlawanan untuk membela diri. Emosi untuk membela diri inilah yang sampai kapanpun akan bangkit, menjelma menjadi kekuatan melebihi kekuatan pasukan biasa. Seperti perlawanan bangsa Indonesia terhadap Penjajahan Kolonial Belanda, nafsu perang pada saat itu untuk membela diri dari tekanan dan kekerasan yang dilakukan pemerintah Kolonial Belanda. Kematian dalam perang menjadi tebusan terbaik bagi orang-orang yang merasa bertahun-tahun tertindas dan teraniaya.  

Dalam catatan biografi Nabi Muhammad SAW karya Muhammad Husain Haekal (2003, hlm. 305), dikisahkan Nabi Muhammad pada saat usai perang Uhud sangat berduka cita, melihat mayat Hamzah pamannya, dianiaya dengan membedah perutnya, Nabi merasa sangat sedih sekali sehingga ia berkata; “takkan pernah ada orang mengalami malapetaka seperti kau ini. Belum pernah aku menyaksikan suatu peristiwa yang begitu menimbulkan amarahku seperti kejadian itu”. Lalu katanya lagi, “demi Allah, kalau pada suatu ketika Tuhan memberikan kemenangan kepada kami melawan mereka, niscaya akan kuaniaya mereka dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang Arab”. Dalam kejadian ini firman Allah turun:

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. (An Nahl, 16:126-127)

Sebagai Rasul, Nabi melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dalam ayat di atas. Tiba saatnya Nabi Muhammad dan 10.000 pengikutnya menaklukkan Mekah. Hari itu bukan jadi hari pembantaian, tetapi jadi hari pengampunan masal. Nabi Muhammad tidak mengingat kebencian, kekerasan, pelecehan, dan rencana-rencana pembunuhan yang telah dilakukan masyarakat Arab di masa lalu, Nabi Muhammad melaksanakan perintah Allah yang telah mengajarkan dalam Al-Qur;an; “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. Fushshiat, 41:34). Nabi Muhammad menginstruksikan tidak boleh ada darah setetespun ditumpahkan. Membalas keburukan dengan keburukan hanya akan membuat lingkaran setan, yang melahirkan keburukan terus berkelanjutan. Kemenangan perang akan diperoleh oleh bangsa-bangsa yang tidak melampaui batas sekalipun dalam peperangan atau menjadi pemenang perang.  Wallahu’alam.

Thursday, March 3, 2022

PENDIDIKAN DI NEGERI LOBI-LOBI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Indonesia itu beda dengan Jepang, Jerman dan Amerika. Bertahuan-tahun berupaya untuk menyamakan budaya hidup bangsa Indonesia dengan Jepang, Jerman, dan Amerika, ternyata kita harus berpikir ulang. Apakah harus kita hidup seperti gaya negara-negara maju, atau kita harus mengembangkan cara hidup yang sesuai dengan budaya kita sendiri? Mendengar keluh kesah orang-orang di negara-negara maju, ternyata mereka juga memiliki keluhan, hidup di negara maju terlalu keras sehingga menuntut mereka bekerja keras dan tidak bisa menerima kegagalan berujung dengan bunuh diri. Mereka mencemooh cara hidup orang-orang Indonesia, tetapi disisi lain setelah mereka bergaul dengan cara-cara hidup orang Indonesia, mereka menikmatinya karena hidup di Indonesia cenderung rileks dan menyenangkan sehingga mereka memilih tinggal di Indonesia berbaur dengan masyarakat dan alam Indonesia yang pada dasarnya ramah.

Bisa jadi, orang-orang Belanda bersikukuh ratusan tahun untuk menguasai Indonesia, karena masyarakat dan alam Indonesia sangat menawan hati orang Belanda. Bisa jadi pula orang-orang Indonesia selalu merasa gagal karena terlalu fokus dengan gaya hidup negara-negara maju, dan lupa bahwa di mana tempat dipijak di situ langit dijunjung. Artinnya bangsa Indonesia gagal menjunjung tinggi budaya-budaya hidup bangsa Indonesia sendiri yang tidak kalah dengan negara-negara maju di dunia. Negara-negara maju dengan budaya rasionalistik mereka sangat hitung-hitungan dalam mengaruhi kehidupan, karena materalis menjadi ukuran pokok mengukur keberhasilan hidup. Sedangkan Indonesia sebagai negara religius, memandang kehidupan sebagai tempat tinggal sementara sehingga cara berpikirnya sangat fleksibel. Bagi orang Indonesia dunia materi bukan satu-satunya tempat ruang hidup, ada ruang hidup lain yang akan dijalani yaitu ruang yang kekal di alam setelah kematian.

Kekuatan bangsa Indonesia bisa bertahan dalam kondisi sulit, karena harapan hidupnya tidak hanya diukur oleh dunia materil, tetapi oleh keberhasilan hidup yang non materil yang tidak diukur oleh kepemilikan sesuatu yang materil. Kaya dan miskin menjadi sesuatu yang tidak tendensius menjadi perbedaan kualitas hidup. Hidup orang kaya dan orang miskin sama-sama berpeluang gagal dan sukses di dunia. Ukuran kesuksesan bagi orang-orang Indonesia yang religius adalah bagaimana hidupnya berakhir dalam jalan kebaikan. Ketika akhir hidupnya berada dalam jalan kebaikan, tidak dipandang kaya atau miskin dialah sesungguhnya orang-orang sukses di dunia materil.

Indonesia sebagaimana negara-negara maju, hidup dengan hukum tata negara, norma adat, budaya, dan agama. Penyelesaian-penyelesaian masalah tidak selalu selesai di meja hukum tata negara, karena bangsa Indonesia punya norma adat, budaya, dan agama. Inilah keunggulan bangsa Indonesia dalam menyelesaikan masalah. Konflik-konfik yang terjadi di Indonesia selalu bisa terselesaikan tanpa konflik terbuka. Norma adat, budaya dan agama selalu berhasil meredam atau menyelesaikan masalah-masalah sosial di masyarakat hingga berujung pada perdamaian. Bisa jadi inilah penyebab mengapa Indonesia bisa jadi negara demokrasi dengan ciri khas unik sebagai demokrasi lobi (dialog) ala Indonesia.

Alam demokrasi di Indonesia selalu melibatkan lobi-lobi antara tokoh adat, budaya, dan agama. Sekalipun rumit tetapi bangsa Indonesia selalu berhasil keluar dari konflik terbuka, dan tetap hidup berdampingan. Inilah uniknya bangsa Indonesia berbeda dengan Jepang, Jerman, Amerika, Korea, dan Rusia. Sekalipun alam demokrasi terus berkembang, namun sikap saling menghargai terhadap norma adat, budaya, dan agama tetap terpelihara. Demokrasi di Indonesia tidak menghilangkan norma-norma yang ada tetapi lebih mengakomodasi seluruh norma yang ada menjadi sebuah harmoni kehidupan damai dan sejahtera. Demokrasi Indonesia menjadi tempat lobi-lobi seluruh unsur norma yang ada menjadi sebuah rajutan, mozaik, atau hexagonal yang tampak indah.

Kecerdasan bangsa Indonesia berbeda dengan bangsa Jepang, Jerman dan Amerika. Bangsa Indonesia cenderung memiliki kecerdasan inter dan antar personal. Pandai bermain peran sebagaimana diimpelemtasikan dalam politik luar negeri Indonesia bebas aktif. Orang Indonesia tidak hipokrit tetapi pandai membaca peluang dan menempatkan posisi dimana posisi menguntungkan. Sikap ini terbentuk karena kondisi alam Indonesia serba ada, dan keteteran untuk mengolahnya. Norma adat, budaya, dan agama, dalam setiap keputusan memandu agar selalu terjadi keharmonisan hidup bermasyarakat dan bernegara. Pertimbangan-pertimbangan norma adat, budaya, dan agama, pada tataran implementasi selalu ikut memengaruhi keputusan hukum dan politik.

Bagi orang Jepang, Jerman, Amerika, mungkin tata cara hidup seperti ini sangat rumit dan sulit dipahami. Lalu mereka membuat stereotif prilaku orang Indonesia buruk, berdasar sudut pandang budaya yang mereka miliki. Stereotif ini disebarluaskan melalui berbagai macam cara, seperti tekanan politik, bantuan keuangan, substansi pendidikan, beasiswa pendidikan, ideologi, dan riset-riset yang menyudutkan Indonesia. Tujuannya agar budaya yang mereka miliki bisa sama-sama dimiliki orang Indonesia, sehingga mereka lebih mudah memasuki dan memengaruhi bangsa Indonesia.

Setelah bertahun-tahun merdeka, Indonesia tetap Indonesia. Norma adat, budaya, dan agama sangat mengakar kuat dalam kepribadian bangsa Indonesia. Di era informasi global, kita bisa saling menilai bahwa setiap bangsa punya kelebihan dan kekurangan. Untuk itulah Sukarno menyampaikan sebuah pesan dari Al-Qur’an; “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujurat, 49:13).

Orang Indonesia tidak semua baik dan tidak semua buruk, demikian juga orang Jepang, Jerman, Amerika, Korea, China, tidak semua baik dan tidak semua buruk. Tidak pantas bagi siapapun menjelek-jelekan sebuah bangsa atau negara, kecuali kita saling kenal mengenal, bekerjasama untuk saling melengkapi kekurangan menjaga perdamaian dan kesejahteraan bumi tempat kita hidup bersama. Indonesia dengan kekayaan alam dan sumber daya melimpah, tentu banyak orang berkepentingan, maka pendidikan kami akan terus melatih menjadi negeri lobi-lobi untuk kepentingan bangsa dan dunia. Wallahu’alam. 

Monday, February 28, 2022

NABI MUHAMMAD PEMBAWA MISI PERDAMAIAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Riset microhistory pada biografi kisah hidup Nabi Muhammad, ditemukan fakta bahwa misi Nabi Muhammad adalah perdamaian. Pada usia 40 tahun Nabi Muhammad menerima misi kenabian di Gua Hira, kisah ini menjadi awal kiprah Nabi Muhammad membawa misi kesejahteraan dan kedamaian hidup manusia di muka bumi. Berdasarkan kajian microhistory, Nabi Muhammad mengalami empat kisah dalam hidupnya. Pertama; Nabi Muhammad mendapat tugas suci sebagai pembawa ajaran untuk kesejahteraan dan kedamaian hidup manusia di dunia, dengan menyebarluaskan bahwa membaca menjadi satu fundamental bagi kesejahteraan dan kedamaian hidup manusia di dunia. Kata sederhana “bacalah!” sebagai awal perintah pada Nabi Muhammad, menjadi kata-kata sederhana, mudah dimengerti, mengandung makna yang dalam dan sangat luas. Salah satunya, membaca dapat dimaknai sebagai perintah Tuhan kepada manusia untuk mencintai pengetahuan, mau berpikir, dan kreatif.

Kisah kedua adalah berani menghadapi kegagalan. Nabi Muhammad ketika mendapat wahyu pertama di Gua Hira, Beliau seorang diri tanpa ada manusia yang menyaksikannya. Saksi bahwa Nabi Muhammad sebagai utusan hanya malaikat Jibril yang diutus Allah. Sebuah keberanian besar dimiliki Nabi Muhammad, di tengah-tengah masyarakat mapan beragama politheis mengaku diri sebagai utusan tanpa dukungan keluarga besar atau pasukan. Kisah perjuangan Nabi Muhammad menyampaikan kebenaran wahyu di tanah Mekah selama kurang lebih 13 tahun tidak membuahkan hasil. Nabi Muhammad gagal meyakinkan masyarakat Mekah bahwa dirinya Rasulullah dengan berita wahyu yang dibawanya. Kegagalan Nabi Muhammad meyakinkan masyarakat Mekah bahwa dirinya Rasullullah, direkam dalam sejarah hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah.

Periode Madinah dalam beberapa buku biografi Nabi Muhammad dijelaskan sebagai masa-masa penderitaan, dalam arti Nabi Muhammad dihadapkan pada posisi tidak menguntungkan secara jumlah namun sudah dihadapkan pada situasi perang. Selama di Madinah, Nabi Muhammad menghadapi perang-perang yang sangat menguji keimanan para pengikutnya. Diantara perang-perang heroik Nabi Muhammad dan pengikutnya adalah perang Badar, Uhud, dan Khandaq. Peperangan ini sangat menguras energi Nabi Muhammad dan pengikutnya, sebab peperangan ini dilakukan dalam jumlah pasukan yang tidak seimbang kurang lebih 1 banding 10. Perbandingan pasukan pada Perang Badar sekitar 300 orang melawan 1000 orang, Perang Uhud sekitar 7000 s.d 1000 pasukan  melawan 10.000 pasukan, dan Perang Khandaq (Ahzab) sekitar 3000 pasukan melawan 24.000 s.d 30.000 pasukan. Fakta-fakta historis ini dapat kita temukan pada biografi-biografi Nabi Muhammad karya dari beberapa penulis sejarah. Dengan melihat jumlah pasukan di atas, masa peperangan yang dialami Nabi Muhammad tidak layak dikatakan sebagai upaya-upaya agresi, tetapi sebagai tindakan pertahanan karena mendapat ancaman dan tekanan. Masa-masa ini bisa dikatakan sebagai masa-masa Nabi Muhammad mengalami penderitaan. Dalam situasi ini Nabi Muhammad mendapat tekanan pengkhianatan dari pengikutnya yang membelot, dan tekanan dari luar dengan persekutuan yang menghasilkan gabungan pasukan dalam jumlah besar.

Kemenangan besar Nabi Muhammad dalam menunaikan misi kenabiannya yaitu ketika dilakukannya perjanjian Hudaibiyah pada tahun 628 M, saat itu kurang lebih usia Nabi Muhammad 58 tahun jika dihitung dari kelahiran Nabi Muhammad tahun 570 M. Perjanjian Hudaibiyah sekalipun pada faktanya oleh para sahabat dianggap merendahkan kedudukan Nabi, karena dalam perjanjian Hudaibiyah Nabi Muhammad dituliskan dengan Muhammad bin Abdullah. Dalam peristiwa perjanjian Hudaibiyah tercatat Nabi Muhammad tidak mempermasalahkan penulisan nama tersebut. Nabi Muhammad yag visioner membaca bahwa perjanjian damai merupakan upaya misi beliau dalam menjaga dan menyebarkan perdamaian. Dalam situasi damai, Nabi Muhammad dan pengikutnya bisa menyebarkan misi-misi Islam yang sesungguhnya membimbing manusia hidup damai sejahtera dengan berserah diri pada Tuhan Yang Gaib, Tuhan Yang Maha Esa.

Pada usia Nabi Muhammad kurang lebih 61 tahun, misi perdamaian Nabi Muhammad berhasil diwujudkan dengan menduduki Mekah tanpa pertumpahan darah. Terkenal ucapan Nabi Muhammad pada saat akan menduduki Mekah, “hari ini adalah hari kasih, kata Nabi. Hari dimana Tuhan memuliakan Quraisy".  Beliau kemudian berbicara kepada mereka (penduduk Mekah) dengan kata-kata memaafkan, sesuai dengan ayat saat Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya ketika mereka menemuinya di Mesir, sesungguhnya, aku berkata seperti saudara ku Yusuf berkata: "pada hari ini tidak ada cercaan pada kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni kalian. Dia Maha Pengasih di antara yang mengasihi”[Q. 12:92] (Lings, 2014, hlm. 466, 471).

Dalam kisah lain, dikatakan di depan pintu Ka’bah Nabi Muhammad membacakan firman Tuhan, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Q. 49:13). Kemudian Nabi bertanya kepada mereka: “orang-orang quraisy, menurut pendapat kamu apa yang akan ku perbuat terhadap kamu sekarang?”  Mereka menjawab, “Yang baik-baik. Saudara yang pemurah, sepupu pemurah”. Lalu kata Nabi, “Pergilah kamu sekalian. Kamu sekarang sudah bebas!” (Haikal, 2003, hlm. 462-464). Setelah misi menyebarkan ajaran damai tercapai, pada usia 63 tahun Nabi Muhammad, sakit dan wafat dalam pangkuan istrinya Siti Aisyah ra. Salawat dan salam semoga terlimpah pada Nabi Muhammad SAW. Demikian sepenggal kisah misi perdamaian Nabi Muhammad di muka bumi semoga bermanfaat untuk seluruh umat manusia. Wallahu’alam. 

Saturday, February 26, 2022

PUASA MARAH

 OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ide tulisan ini di dapat dari kegiatan kajian rutin Alumni SMAN 15 Kota Bandung yang diketuai Dadang Munajat menghadirkan Ustad Dudi Mutakin. Silaturahmi dan kekeluargaan Alumni dengan sekolah masih terpelihara dengan kepedulian dan kerelaan para pengurus alumni. Sebuah budaya positif yang harus terus dilestarikan. Kajian dihadiri kurang lebih 100 orang, jam 19.45 selesai shalat isya. Ustad Dudi sudah tidak asing, berlatarbelakang seorang pendidik, metode mengajarnya sangat kekinian karena materi disampaikan dengan bahasa ringan yang mudah dimengerti dalam kehidupan sehari-hari.

Kajian difokuskan pada materi dengan tema, “memantaskan diri untuk masuk bulan Ramadhan”. Ada beberapa hal menarik yang disajikan ustad Dudi dalam kajiannya. Pertama; masalah puasa marah. Beliau telah membuktikan puluhan tahun hidup dalam keluarga dengan melakukan puasa marah. Ketika audien bertanya apa rahasia bisa melakukan puasa marah berpuluh tahun dalam keluarga? Beliau menjawab, “ketika marah dia buka rekening dan share beberapa rupiah”. Ini metode yang patut dicoba, karena dalam hadis Rasulullah, sedekah dapat menolak keburukan. Setelah punya kebiasaan share dana dari rekening ketika marah, ketika tidak ada dana dalam rekening Allah memberi kemampuan untuk mengendalikan amarah. Teknik ini jangan diamini saja dalam tataran kognitif sebagai kepercayaan, tetapi harus berani mencoba dan melakukannnya dengan konsisten.

Kedua; masalah kesombongan iblis yang dikabarkan di dalam Al-Qur’an. Kesombongan iblis adalah menentang atau menolak ketentuan Allah. Kesombongan iblis menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Keberanian menentang pada perintah Allah adalah bentuk kesombongan Iblis karena merasa diri lebih baik dari yang lain berdasar sudut pandangnya.

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (Al ‘Araaf, 7:12)

Karakter iblis ini menjadi contoh karakter manusia-manusia sombong karena merasa lebih baik dari orang lain sehingga berani menolak perintah Allah. Ustad Dudi mengatakan karakter ini ada pada kecenderungan wanita yang kebanyakan menolak ketentuan Allah.

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim, maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (An Nisaa, 4:3).

Ustad Dudi menjelaskan bahwa kunci keadilan itu ada pada kaum wanita yang taat, dan keteladanan ketaatan laki-laki pada Allah yang mengagumkan dihadapan wanita. Jelas keadilan itu bukan usaha sepihak tetapi usaha dari kedua belah pihak untuk sama-sama taat kepada Allah sesuai dengan posisinya masing-masing. Untuk itu, dibutuhkan keilmuan dan pemahaman ajaran agama yang komprehensif agar ajaran agama tidak di salah pahami sebagai ajaran yang diskriminatif.

Ketiga; perihal kunci keberhasilah dalam pendidikan. Sebagaimana penulis jelaskan dalam tulisan terdahulu, kunci dari keberhasilan pendidikan adalah bagaimana menghadirkan Allah pada setiap mata pelajaran sehingga para siswa dapat mensyukuri hidupnya sebagai kesadaran untuk selalu berterimakasih pada Allah atas segala fasilitas hidup yang telah dinikmatinya. Selain itu biaya pendidikan tidak boleh menjadi beban bagi orang tua siswa. Terlaksananya pendidikan harus dinaungi dengan rasa ikhlas ketiga belah pihak yaitu guru, siswa, dan orang tua.

Demikian sedikit ringkasan pembelajaran di meetingzoom bersama IKA alumni 15 dan Ustad Dudi, semoga bermanfaat. Pesan terpenting dari kajian malam itu adalah mari kita sambut Ramadhan dengan niat untuk membiasakan puasa marah agar kehidupan berjalan damai dan sejahtera. Marah, sekalipun dalam kontek kebenaran, secara psikologis masih terselip kesombongan karena merasa diri benar. Kebenaran hanya milik Allah, kita hanya menjadi penyampai saja tanpa niat sedikitpun untuk menjadi pemilik kebenaran karena itu hak Allah. Taatlah pada ajaran-ajaran Allah dan Rasulnya jangan pada siapa penyampainya saat ini. Wallahu’alam.

Monday, February 7, 2022

AL-QUR’AN KITAB PENDIDIKAN

Oleh: Muhammad Plato

Al-Qur’an jika kita renungkan adalah kitabnya para pandidik. Sejarawan memendang Al-Qur’an adalah sumber primer dalam bentuk fakta mental (mentifact). Seluruh isi Al-Qur’an mengandung pelajaran untuk manusia yang mau memikirkanya. Konsep pendidikan di dalam Al-Qur’an adalah mengajarkan kepada manusia untuk melakukan refleksi diri karena karena seluruh kejadian yang diterima secara individu maupun kelompok adalah hasil dari perbuatannya.

Utusan-utusan itu berkata: "Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas". (Yasin, 36:19).

Konsep dasar ini banyak dijelaskan di dalam Al-Quran dalam berbagai kasus. Pada intinya manusia punya kebiasaan menyalahkan orang lain, dan bagi orang-orang yang diberi petunjuk setiap kejadian yang menimpa dirinya akan menjadi bahan refleksi diri. Inilah konsep berpikir yang harus diajarkan para pendidikan pada siswa. Konsep dasar ini menjadi pola berpikir baku dan sudah menjadi takdir atau ketetapan dari Allah. Manusia-manusia yang terlalu fokus pada kesalahan orang lain adalah manusia tidak terdidik dan melampaui batas yang sudah ditetapkan oleh Allah.

Jika kita mengacu kepada Al-Qur’an sedikitnya ada tiga dasar pendidikan yang harus diajarkan yaitu, membaca, keyakinan pada Tuhan, dan bersedekah atau berbuat baik pada sesama. Gagasan ini dimulai dari perintah membaca (Al ‘Alaq, 96:1), keyakinan pada Tuhan, dan bersedekah (Al Baqarah, 2:3). Tiga gagasan ini menjadi konsep dasar pendidikan yang harus diajarkan dalam berbagai macam materi ajar, media dan pendekatan pembelajaran.

Pertama; Mengapa membaca (literasi) menjadi dasar pendidikan? Secara filosofis segala yang dapat dilakukan dan diciptakan oleh manusia sumbernya adalah pengetahuan. Abas & Wekke (2019) mengatakan bahwa agama sebenarnya bersumber dari pengetahuan. Keyakinan pada Allah sumbernya pengetahuan, dan teknologi yang diciptakan sumbernya pengetahuan. Arwani (2012) menjelaskan bahwa Tuhan sebagai sumber pengetahuan dan kebenaran, dan manusia sebagai aktor pencari pengetahuan. Dalam teori fenomenologi, pengetahuan diketahui berdasarkan kesadaran orang yang mengalaminya, karena itu penngetahuan hanya dapat diamati oleh orang yang mengalaminya (Asih, 2005). Dari sudut pandang fenomenologi, kesadaran seseorang tentang sebuah pengetahuan menjadi tanggung jawab seseorang. Ide ini berkaitan dengan pengajaran Al-Qur’an, bahwa segala sesuatu pada akhirnya menjadi tanggung jawab pribadi.

Dasar pendidikan kedua; keyakinan pada Tuhan yang ghaib. Keyakinan pada Tuhan yang ghaib implementasinya adalah percaya pada pengetahuan yang diturunkan dari Tuhan yaitu kitab suci yang substansinya tentang adanya kehidupan setelah kematian yaitu akhirat. (baca: Al Baqarah, 2:4). Berkeyakinan pada Allah pemilik pengetahuan dan alam akhirat, pada prakteknya harus  menjadi ide ajaran etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari manusia. Alam akhirat yang dijelaskan Allah sebagai alam kekal menjadi pembangun harapan dan optimisme manusia untuk berbuat kebajikan atas nama Tuhan. Allah mengatakan orang-orang yang hidup dengan keyakinan pada Tuhan, alam akhirat, dan berbuat baik pada sesama, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang beruntung. “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”. (Al Baqarah, 2:5).

Eksistensi Tuhan harus dijadikan sebagai wujud segala pengharapan manusia. Segala sesuatu yang dikerjakan manusia di muka bumi harus bersandar pada pengharapan baik yang digantungkan pada Tuhan. “dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (Alam Nasyrah, 94:8). Erich Fromm (1968) dalam bukunya “Revousi Harapan” menjelaskan harapan adalah hasrat atau keinginan. Harapan kepada rumah, mobil, perkakas, bahkan ke masa depan sejarah adalah berhala. Harapan ini harapan-harapan palsu yang diciptakan manusia yang dimulai pada masa Revolusi Perancis. Harapan bersifat paradoksional. Bukan pekerjaan pasif, tetapi keadaan yang siap setiap saat menunggu kedatangan yang akan datang, dan sekalipun tidak datang tidak putus asa. Psikologi harapan ini hanya bisa diwujudkan ketika manusia berharap kepada Tuhan sebagai pemberi harapan.

Dasar pendidikan ketiga; menngeluarkan sebagai harta atau sedekah. Konsep sedekah bermakna luas yaitu hidup bermanfaat bagi sesama. Sedekah adalah karakter yang dapat membentuk manusia-manusia penyejahtera yang akan menjadi khalifah di muka bumi. Karakter sedekah harus menjadi pola pikir (mindset) yang dipraktekkan dalam kebiasan-kebiasan memberi diajarkan dalam bentuk pendidikan karakter atau pembiasaan. Murakami (2013, hlm. xix) menjelaskan manusia tersusun dari banyak sel. Di dalam sel tertulis kode rahasia yang luar biasa banyaknya. Salah satu cara untuk mengaktifkan DNA yang baik yaitu hidup dengan memikirkan kepentingan orang lain dan untuk kebaikan dunia, berpikir optimis dan bersyukur. Hidup memikirkan orang lain, berpikir optimis, dan bersyukur adalah bawaan yang terdapat dalam kode DNA.

Mengeluarkan sebagian harta yang diajarkan dalam kitab suci Al-Qur’an, berkaitan dengan mengaktifkan DNA baik, untuk membentuk karakter manusia-manusia penyejahtera yang sudah terdapat dalam kode DNA-nya manusia. Memberi akan membawa efek positif pada pikiran dan perasaan, serta mendatangkan sikap-sikap bersyukur dalam arti menerima dan mengoptimalkan sesuatu yang telah dimilikinya menjadi lebih bermanfaat untuk orang lain.

Itulah tiga konsep dasar pendidikan yang dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan manusia-manusia berkualitas di dunia pendidikan. Saatnya untuk mengkaji lebih dalam lagi konsep dan teori pendidikan yang bersumber dari kitab suci Al-Qur’an sebagai kitab pendidikan untuk melahirkan manusia-manusia unggul penyejahtera kehidupan dunia. Direkomendasikan adanya riset-riset pengembangan lebih lanjut. Wallahu’alam.

Wednesday, February 2, 2022

MANUSIA BERHALA

 Oleh: Muhammad Plato

Syekh Abdul Kadir Jailani berkata, “sesungguhnya berhala itu adalah diri mu sendiri”. Pemikiran mendalam ini dapat dipahami karena manusia diberi akal dan nafsu sehingga manusia diberi potensi oleh Allah untuk berkehendak. Fakta ini sering dipahami oleh kita sebagai kebebasan manusia dalam menentukan kehendaknya. Sekalipun segala kehendak yang ada di muka bumi ini adalah kehendak Allah. Namun manusia kadang melupakan Tuhannya dengan mengatakan bahwa manusia punya kehendak. Padahal sesungguhnya ketika manusia mengatakan bahwa dirinya berkehendak atas kemampuan dirinya sesungguhnya dia telah menjadi berhala bagi dirinya sendiri.

Akal dan nafsu adalah berhala yang ada dalam diri manusia. Kedua berhala ini akan menyesatkan manusia jika kesadaran eksistensi Tuhan dilupakan dalam setiap kehendaknya. Manusia itu pada dasarnya pelupa, makhluk tersesat, dikarenakan akal dan nafsunya kerap lupa kepada Tuhannya. Dalam waktu 24 jam berapa persen manusia bisa mengingat kepada Tuhan? Orang-orang terbaik adalah mereka yang bisa menjaga ingatan akal dan nafsunya selalu bersama kehendak Tuhan. Ibadah rutin yang dilakukan umat Islam 5 kali dalam sehari, ditambah dengan ibadah-ibadah tambahan adalah kegiatan rutin agar akal dan nafsunya senantiasa berada dekat dengan Allah.

Jika standar orang Islam setiap hari 5 kali melakukan ibadah untuk mengingat Allah, maka dalam 24 jam jika saja setiap ibadah memakan waktu 10 menit, artinya setiap hari orang Islam bersama dengan Allah hanya 50 menit, sisanya 23,1 jam akal dan nafsunya lupa kepada Allah. Manusia berhala ingatannya banyak lupa kepada Allah.

Jika kita gali informasi dari Al-Qur’an, keberadaan nafsu dan akal tidak dikotomi baik dan buruk, karena nafsu dan akal hanya perangkat hidup yang diberikan Allah. Perangkat ini tergantung pada pemanfaatannya. Pemanfaatan perangkat sangat tergantung pada tujuan. Pemanfaatan akal dan nafsu akan bermanfaat jika tujuannya untuk kebaikan bersumber pada informasi dari Tuhan. Kebaikan yang tidak atas nama Allah, berarti kebaikan tersebut tidak akan kembali pada Allah, tetapi kembali kepada dari mana sumber kebaikan itu di dapat.

Allah menurunkan wahyu Al-Qur’an dalam bentuk pengetahuan-pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Hal yang membedakan antara buku dan Al-Qur’an adalah buku yang ditulis oleh manusia tentang alam kadang mengkondisikan kita lupa pada Tuhan, namun kitab suci Al-Qur’an yang isinya tentang alam, kejadian, dan manusia, telah terkondisikan di dalam ingatan bahwa informasi Al-Qur’an dari Tuhan. Artinya membaca informasi-informasi dari Al-Qur’an akan membimbing pikiran kita untuk ingat, berkomunikasi dengan Tuhan setiap saat.

Manusia berhala mengendalikan akal dan nafsunya dengan hanya memanfaatkan informasi dari apa yang dilihat, didengar, dan dipikirkannya, tanpa memikirkan sumber informasi yang didapatkannya mengandung kebenaran atau hanya sekedar pengetahuan alam tanpa ada hubungan dengan Tuhan. Fungsi pengetahuan dari Al-Qur’an adalah menjaga ingatan agar selalu berhubungan dengan Tuhan. Jika ingatannya selalu terhubung dengan Tuhan, maka akal dan nafsu akan mengevaluasi setiap kejadian dengan melibatkan pertimbangan-pertimbangan untung dan rugi berdasarkan infromasi dari Tuhan.

Aktivitas ritual shalat dapat menjaga ingatan akal dan nafsu ingat kepada Tuhan. Sebagai ritual shalat adalah benteng terakhir pertahanan akal dan nafsu untuk selalu ingat Tuhan. Kekuatan ingatan akal dan nafsu kepada Tuhan, selayaknya dibangun dengan memperbanyak perbendaharaan pengetahuan tentang alam, hewan, manusia, dan kejadian yang sumbernya dikombinasikan antara pengetahuan Al-Qur’an, dan fakta-fakta di alam.

Siapa manusia berhala? ukurannya adalah antara lupa dan ingat kepada Tuhan. Lupa terjadi karena semua pengetahuan yang diterima akal dan nafsunya bersumber dari alam, sementara ingat kepada Tuhan terjadi karena pengetahuan yang diterima selalu dikaitkan dengan Tuhan dengan bantuan informasi dari Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an sesungguhnya mengevaluasi segala kejadian di alam dengan informasi-informasi yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan alam.

Budaya menghafal Al-Qur’an dengan patokan tajwij, perlu ditingkatkan dengan membaca, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan ide-ide Al-Qur’an menjadi prilaku pikiran (akal), hati (nafsu), tindakan (akhlak), dan produk (teknologi). Sebagai sumber pengetahuan, Al-Qur’an harus bisa memenuhi seluruh sudut ruang akal dan nafsu, agar Allah selalu ada dalam ingatan, tindakan, dan benda-benda yang bisa kita ciptakan. Wallahu’alam