Tuesday, August 26, 2014

MENGENDALIKAN EMOSI PAKAI OTAK KIRI?



“Saya berpikir bahwa otak kiri adalah otak yang mengelola dan mengendalikan kebutuhan dan perasaan senang maupun tidak senang. Singkatnya, kegiatan emosional yang dianggap berada pada fungsi otak kanan ada pada otak kiri. Seseorang baik bukan karena hatinya yang baik, tetapi karena ia memiliki emosi atau perasaan yang baik. Sesungguhnya saat melakukan kebaikan dengan memberikan pertolongan kepada orang yang sedang kebingungan, pada dasarnya ada keinginan agar perasaan sendiri juga merasa baik”. Kutipan ini bukan pendapat saya tapi pendapat Dr. Shigeo Haruyama (22: 1999) dari bukunya berjudul Keajaiban Otak Kanan.

Menurut Haruyama, hampir semua kebaikan orang timbul dari wilayah perhitungan kebutuhan akan suka atau tidak suka senang atau tidak senang. Saya sepakat dengan pendapat Haruyama, dan saya tambahkan hampir semua kebaikan orang timbul dari perhitungan untung dan rugi.

Jika perhitungannya seperti di atas maka, saya sangat setuju dengan Haruyama, bahwa fungsi kontrol emosi sebenarnya ada di otak kiri. Tugas otak kiri adalah menghitung untung atau rugi. Hasil perhitungan tersebut akan melahirkan efek emosi senang atau tidak senang, suka atau tidak suka.

Kata Haruyama, manusia berlevel tinggi jumlahnya sedikit. Contoh manusia berlevel tinggi adalah mereka yang membalas keburukan dengan kebaikan, atau mereka yang mau menolong orang lain padahal dirinya sedang membutuhkan pertolongan.

Manusia berlevel tinggi adalah mereka yang menggunakan otak kanan. Kata Haruyama (1999:73), kebijaksanaan manusia terakumulasi di otak kanan, otak kanan banyak mengetahui bahwa kegagalan dalam ujian masuk di masa lalu akan menjadi suatu awal manusia yang baru. Oleh karena itu sekalipun gagal di ujian masuk tidak akan membuat kita menyerah (down). Dengan mengaktifkan otak kanan, maka kita akan mendapatkan kebijaksanaan yang demikian. Singkatnya, menurut Haruyama, gagal jika dibaca dengan otak kanan bukan sumber keburukan tapi kebaikan, karena menurut otak kanan kegagalan adalah faktor penyebab keberhasilan. Dengan logika semacam itu, orang akan tetap berpikir positif sekalipun gagal.

Baiklah, logika di atas sudah sering saya jelaskan dalam logika Tuhan yang saya kembangkan.  Saya akan menjelaskan bagaimana cara kerja otak agar anda bisa mendapatkan kebijaksanaan "otak kanan" seperti yang dikatakan Haruyama. Pertama harus saya kemukakan bahwa buka otak kanan yang punya kebijaksanaan, tetapi di dalam otak kanan tersimpan pengetahuan purba. Sumber pengetahuan di otak kanan disimpan oleh Tuhan, dan diwahyukan secara nyata kepada Nabi Utusan-Nya. Berlogika itu fungsi otak kiri. Yang membedakan cara berlogika manusia bukan terletak pada aktivasi otak kanan atau kiri, tetapi sumber pengetahuannya. Logika kebijaksanaan seperti yang dikatakan Haruyama, sumber pengetahuannya saya temukan dalam kitab suci Al-Qur’an. Pengetahuan dalam kitab suci Al-Qur'an adalah pengetahuan purba yang disimpan dalam otak kanan manusia.
Tanpa menyebutkan sumber pengetahuannya, Haruyama menjelaskan, manusia berlevel tinggi adalah mereka yang membalas keburukan dengan kebaikan.  Manusia berlevel tinggi bersumber dari logika yang dimilikinya. Kepemilikan logika tergantung kepada pengetahuan yang dimilikinya. Berikut saya kemukakan sumber pengetahuan logika kebijaksanaan dari kitab suci Al-Qur’an:

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,”... (Al Israa:7).

Jika pengetahuan di atas kita jadikan patokan berlogika (otak kiri), maka akan muncul pemahaman logis bahwa penyebab keburukan dan kebaikan adalah diri kita sendiri. Berdasarkan patokan logika di atas, jika membalas keburukan orang lain dengan keburukan, maka sama dengan sedang mengundang keburukan untuk diri kita. Patokan logikanya adalah jika orang lain berbuat buruk pada kita, keburukan itu akan kembali pada pelakuknya. Agar tetap baik kita harus membalas keburukan orang lain dengan kebaikan, dengan demikian kebaikanlah yang akan kita terima.

Inilah logika berpikir bijaksana yang dikatakan Haruyama. Mereka yang berlogika semacam ini oleh Haruyama dianggap sebagai manusia level tinggi. Dengan demikian, Nabi Muhammad saw adalah manusia level tinggi yang berpikir dengan logika dari Tuhan.

Pengetahuannya ada di otak kanan, tapi logikanya ada di otak kiri. Pengetahuannya ada di otak kanan tapi yang menghitung untuk ruginya adalah otak kiri. Agama tidak mengharamkan logika, karena logika adalah alat untuk memahami. Pengetahuan yang melimpah dalam kitab suci tidak akan bisa dipahami tanpa logika.

Emosi kita tergantung pada pengetahuan dan perhitungan untung rugi, senang dan tidak senang. Sudah saatnya kita kembangkan pengetahuan otak kanan yang akan melahirkan logika-logika bijaksana yang melahirkan manusia level tinggi. 

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @ logika_Tuhan.

Saturday, August 23, 2014

OPTIMALISASI OTAK SPIRITUAL?



Otak spiritual berpusat di noktah Tuhan (god spot) yang ditemukan oleh Ramachandran di lobus temporal. Pada bagian inilah kesadaran tingkat tinggi manusia yaitu eksistensi diri tereksplorasi. Optimasi otak spiritual akan membuat seseorang hidup lebih baik dan bermakna. Zohar dan Marshall (dalam Kemenkes RI, 2014), menejelaskan optimasi otak spiritual paling tidak menghidupkan tiga komponen yaitu: 1) kejernihan berpikir rasional; 2) kecakapan emosi; 3) ketenangan hidup.

Pusat Intelegensia Kesehatan di bawah Kemeskes RI (2014), berpendapat bahwa otak spiritual tempat terjadinya kontak dengan Tuhan, hanya akan berperan jika otak rasional dan pancaIndera telah difungsikan secara optimal. Dengan demikian seorang pencari ilmu tidak akan mendapatkan hidayah dari Tuhan jika ia tidak memaksimalkan fungsi otak rasional dan pancainderanya.

Salah satu cara mengoptimalkan otak spiritual adalah melihat permasalahan secara utuh, mengjkaji yang tersirat dari yang terlihat, dan mengungkapkannya. Berdoa dengan berbagai cara pada berbagai agama merupakan sarana ampuh untuk mengoptimalkan otak spiritual dan cara ampuh untuk berbicara maupun mendengar apa yang dikatakan Tuhan. Cara ini akan mendukung pemecahan masalah dengan otak emosional-intuitif-spiritual.

Dari pengamatan saya selama mengaplikasikan logika Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, cara berpikir yang saya lakukan dapat jadi alternatif untuk aktifkan otak spiritual. Kelebihan berpikir dengan logika Tuhan antara lain: 1) melatih pola berpikir rasional dalam memahami agama; 2) melatih kecerdasan emosi karena logika yang dibangun menuntun pada prilaku ramah terhadap sesama dan lingkungan. 3) berpikir dengan logika Tuhan bisa membangun ketenangan hidup karena apa yang ditakuti dalam kehidupan semuanya menjadi kesempatan positif. 

Tanda bahwa otak spiritual aktif adalah selalu ingat Tuhan. Aktivitas otak spiritual dapat dilihat dari intensitas otak dalam mengingat Tuhan. Maka benar jika dikatakan bahwa salah satu cara mengaktifkan otak spiritual yaitu dengan berdoa dengan berbagai macam cara. Berdoa pada intinya adalah mengingat Tuhan. 

Berlogika Tuhan artinya berlogika berdasarkan pada petunjuk-petunjuk berlogika dari sumber wahyu yang diturunkan Tuhan. Dalam hal ini, Al-Qur’an menjadi rujukan penulis dalam mengembangkan logika-logika Tuhan. 

Kelebihan berlogika Tuhan adalah meningkatkan intensitas ingat Tuhan. Mengapa demikian? Karena ketika membaca gejala alam, sosial, atau psikologi, akan dibaca berdasarkan logika yang sumbernya dari wahyu. Ketika berlogika dengan sumber wahyu maka pikiran akan langsung tertuju pada Tuhan.

Setiap hari otak membaca kejadian dengan logika. Mereka yang membaca kejadian tidak menggunakan logika dari Tuhan, sangat sedikit ingat Tuhan. Di budaya Barat mereka cenderung Atheis, karena logika-logika yang mereka kembangkan sumbernya dari logika-logika empiris. Dengan demikian intentsitas ingat Tuhan akan lebih sering dilakukan oleh orang-orang yang berpikir dengan logika Tuhan, dari pada mereka yang berpikir dengan logika yang sumbernya dari alam empiris.

Jika optimalisasi otak spiritual bisa dilakukan dengan mengingat Tuhan memalui doa-doa dalam berbagai macam cara, maka berlogika Tuhan bisa menjadi cara untuk optimalisasi otak spiritual karena berlogika Tuhan berarti berpikir menurut petunjuk Tuhan, yang berarti menuntun setiap orang untuk selalu ingat Tuhan dalam segala kondisi dan ini menjadi cara efektif dalam mengoptimalkan fungsi otak spiritual.

salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan

Saturday, August 16, 2014

SUATU SAAT AKAN SANGAT SULIT MENCARI PENGEMIS?



Ada diskusi menarik, saya lakukan dengan seorang pemilik perguruan tinggi. Karirnya di mulai dari seorang office boy di perguruan tinggi hingga jadi pemilik 15 cabang perguruan tinggi di Indonesia. Kini dia sedang membangun sebuah universitas di luar Jawa, dan membangun kampus empat lantai di Kota Bandung.

Ketika saya dalami, kapan awal kesuksesannya di mulai? Beliau bercerita dengan penuh antusias. Usahanya mengembangkan perguruan tinggi dimulai tahun 2007. Setelah saya korek tentang bagaimana kiat sukses membangun kerajaan perguruan tingginya? Pada tahun 2007 di saat-saat perguruan tinggi yang dikelolanya merugi, dia menggunakan logika Tuhan, bersumber dari Al-Qur’an At-thalaq ayat 7, yang intinya disaat kekurangan disitulah kita harus mengeluarkan apa yang kita miliki di jalan Tuhan.

Logika dari Tuhan ini, Dia lakukan dengan penuh kepastian, bahwa sedekah yang dikeluarkan akan mendapat pengembalian sampai 700 kali lipat bahkan lebih. Pada saat itu Beliau sedekahkan sebidang tanah untuk tempat dibangunnya sebuah masjid. Jika diuangkan tanah tersebut bernilai 70 juta. Setelah mengeluarkan sedekah tanah saat kekurangan, dalam beberapa bulan ke depan jumlah mahasiswa di perguruan tinggi yang dibinanya mengalami peningkatan signifikan. Kampusnya terus berkembang hingga 15 cabang di seluruh Indonesia.

Logika hidup seperti di atas, Beliau terus praktekkan untuk meningkatkan, mengembangkan kerajaan perguruan tingginya. Terakhir Beliau cerita, saat menghadapi lebaran, saldo rekeningnya tidak cukup untuk memenuhi kewajiban membayar THR dan transport pesawat karyawan yang mau pulang ke pulau Jawa. Dengan penuh kepastian, seluruh saldo rekening yang dimilikinya dia sumbangkan untuk yatim piatu, pembangun masjid, dan berbagai kegiatan amal lainnya. Lalu menjelang jatuh tempo pembayaran THR dan kepulangan para karyawan, Beliau cek rekeningnya sudah kembali penuh dan lebih dari cukup untuk membayar THR dan biaya tranport mudik para karyawannya.

Sekarang, dia sedang membutuhkan uang banyak sekali untuk membangun universitasnya di luar Jawa. Maka untuk mewujudkan cita-citanya, Beliau bertransaski dengan Tuhan dengan merenovasi masjid di kampungnya yang sudah bertahun-tahun tidak mengalami perubahan. Kini Beliau sedang membangun Masjid di kampungnya persis seperti salah satu masjid yang ada di rest area tol Cipularang. Ketika saya lihat, photo masjid yang sedang dibangunnya, masjid dengan desain seperti itu saya taksir akan menghabiskan uang miliaran rupiah.

Ketika saya tanya mengapa melakukan itu? Beliau menjawab, kampus yang dibangunnya memerlukan biaya besar, maka pengungkit rezekinya pun harus besar. Luar biasa! Ternyata Beliau adalah master of god logic.

Lalu saya bertanya, “apakah diantara kawan-kawan Beliau sebagai pengusaha, muslim maupun non muslim melakukan hal yang sama?”  Beliau menjawab, “sama!” Bahkan orang-orang non muslim sudah meyakini bahwa hukum menerima lebih banyak dengan lebih dahulu memberi, adalah hukum alam. 

Kata Beliau, hukum alam ini sudah lumrah dan banyak dilakukan oleh para pengusaha di seluruh negara di dunia, tanpa melihat etnis, bangsa, dan agama. Semua orang, para pengusaha, telah yakin bahwa untuk meningkatkan kekayaan yang dimilikinya, mereka harus mengeluarkan kekayaan yang dimilikinya dalam jumlah banyak. Program charity, CSR, melalui foundation, dikeluarkan oleh pengusaha-pengusaha kaliber dunia, dengan keyakinan bahwa semakin banyak pengeluaran maka perusahaannya akan semakin berkembang berlipat-lipat. 

Khusus yang beragama Islam, seharusnya mereka menjadi orang-orang yang paling banyak memberi, karena printahnya sangat jelas ada dalam kitab suci Al-Qur'an. Bagi non muslim, dan ilmuwan Barat, hukum memberi lalu menerima adalah hukum alam, tetapi bagi seorang muslim itulah ketentuan Tuhan. Dan bagi seorang muslim memberi menjadi sebuah kewajiban ibadah kepada Tuhan.

Dari hasil diskusi ini saya mengambil sebuah penalaran bahwa suatu saat logika orang-orang dalam mengumpulkan harta kekayaan akan mengalami perubahan. Semula mengumpulkan kekayaan dengan mengambil dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya, dengan menjadi peminta-minta, dan kikir,  akan berubah dengan menjadi dermawan, mengeluarkan harta sebanyak-banyaknya agar hartanya bertambah banyak. Karena pola berpikir ini akan menjadi pola pikir mainstream seluruh lapisan masyarakat, maka sangat logis jika suatu saat, akan sangat sulit mencari orang-orang yang mau menerima pemberian. Semua orang akan beramai-ramai memberi, karena yakin dan pasti dengan cara demikianlah harta dan kesejahteraannya akan bertambah lebih banyak lagi.

Jika logika masyarakat sudah terjadi demikian, maka ramalan Nabi Muhammad saw yang diungkapkannya dalam sebuah hadis, sangat logis dan akan benar-benar terjadi.

Haritsah bin Wahab (al-Khuza'i 2/116) berkata, "Saya mendengar Nabi bersabda, 'Bersedekahlah! Sesungguhnya akan datang atasmu suatu masa ketika seseorang berjalan membawa sedekahnya lalu ia tidak menjumpai orang yang mau menerimanya. Seseorang berkata, 'Seandainya kamu membawanya kemarin, niscaya saya terima. Adapun hari ini maka saya tidak membutuhkannya.' (Shahih Bukhari)

Abu Musa r.a mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Sungguh akan datang kepada manusia suatu masa yang mana seseorang berkeliling-keliling dengan (membawa) sedekah emasnya. Kemudian ia tidak mendapati seseorang yang mau mengambilnya. Tampaklah (pada masa itu) seorang laki-laki diikuti oleh 40 orang wanita, yang mereka bersenang-senang dengan laki-laki itu, karena sedikitnya jumlah kaum laki-laki dan banyaknya kaum wanita." (Shahih Bukhari)

Sekalian umat manusia, apakah kamu tidak berpikir? Apa yang dikemukakan Nabi Muhammad saw, bersumber dari logika Tuhan. Shalawat dan salam sejahtera untuk Nabi Muhammad saw sang maha guru logika Tuhan.

Salam Sukses dengan Logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan.

Sunday, August 3, 2014

ALLAH MAHA PEMILIK LOGIKA



Seorang teman yang sudah membaca buku saya, berjudul “Hidup Sukses dengan Logika Tuhan”, melalui telepon memberi masukkan. Di antara masukkannya adalah isi buku yang saya tulis sudah baik, namun berdasarkan hasil konsultasi Beliau dengan sarjana lulusan luar negeri bergelar Lc, kita tidak boleh membuat lagi sifat Allah selain dari sifat-sifat yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Alasan lain kata logika, hanya untuk manusia dan kurang pas jika dikaitkan dengan Tuhan.

Saya terima usulan Beliau dan akan memikirkannya terlebih dahulu, sebelum saya mengambil keputusan. Saya masih belum yakin apakah logika hanya untuk manusia, dan tidak boleh dikaitkan dengan Tuhan.
Baiklah apakah benar logika hanya untuk manusia, dan tidak layak untuk Tuhan. Dan apakah logika bukan sifat Tuhan? Mohon izin inilah penjelasan saya.

Dari 20 wajib sifat Tuhan yang ke 13 yaitu qalam (kalam) diartikan berbicara. Saya menemukan kata kalam, ada yang mengartikan bukan berbicara tapi logika. Beliau yang menafsirkan kata kalam dengan arti logika adalah KH. FAHMI BASYA. Beliau orang Sumatera Barat generasi ke enam Syekh Arsyad Al-Banjar Kalampayan. Sebagai seorang dosen dan peneliti, Beliau berhasil memadukan ilmu dan agama, lewat buku-bukunya yang terkenal yaitu Bumi itu Al-Qur’an dan Matematika Islam.

Matematika Islam telah diajarkan di perguruan tinggi, yakni di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, dan telah tercatat secara internasional sebagai mata kuliah, karena UIN Jakarta tercatat secara internasional yang ditandatangani di Australia.

Berikut adalah argumentasi Beliau menafsirkan kata kalam dengan arti logika. Sebelumnya sudah saya tulis, bahwa kegagalan kita dalam mengelola bumi ini berangkat dari keterbatasan kita dalam memahami kata kalam.

Kata kalam terdapat dalam surat Al-Alaq ayat ke 4, berbuyi “alladzi ‘allama billqalam”. (Dia Yang memberi tahu (mengajar) dengan perantara kalam). Lalu bagaimanakah cara Tuhan mengajar dengan kalam itu? KH. FAHMI BASYA menafsirkan kata kalam dengan mengambil contoh bagaimana Tuhan mengajarkan (Kabil) seorang anak Adam yang sedang kebingungan ketika hendak memperlakukan mayat saudaranya.

“Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Kabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal”. (Al Maidah:31).

Apa yang dilakukan burung gagak kemudian ditiru oleh Kabil untuk menguburkan mayat saudaranya. Proses peniruan inilah yang membuat Kabil mengerti (tahu), atau belajar bahwa mayat saudaranya harus dikuburkan. Proses peniruan ini adalah logika (Alqalam).

Dalam peniruan ada proses berpikir sebab akibat. Pada saat Kabil melihat burung gagak, sebelum memutuskan untuk meniru burung gagak, Kabil melakukan pemahaman, pertimbangan, mengunakan pola sebab akibat. Hasilnya, oleh sebab melihat gagak menguburkan mayat, akibatnya saya (Kabil) mengubur mayat saudaranya”.

Dalam keseharian kita juga sering meniru (berlogika). Umat Islam sering berlogika (meniru) prilaku Nabi Muhammad saw. Misalnya; saya harus membalas keburukan dengan kebaikan, kaena Nabi Muhammad saw melakukannya.

Tidak semua meniru dapat menghasilkan kebaikan. Maka dari itu dibutuhkan proses berpikir (berlogika sebab akibat), sebelum kita memutuskan untuk meniru. Maka dari itu Tuhan memberi petunjuk dalam bentuk pengetahuan bagaimana cara berpikir sebab akibat, agar meniru kepada hal-hal baik, untuk kebaikan seluruh alam. Maka Tuhan menurunkan wahyu Al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan dan cara berlogika yang diberkahi Tuhan.
 
Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Yang Maha Pemilik Logika. Maha Logika adalah sifat Tuhan yang berarti Alqalam sifat wajib ke 13 dari 20 sifat yang wajib diketahui umat manusia. Wallahu ‘alam. 

salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan