Tuesday, March 28, 2017

MENGIKIS MENTAL MISKIN


OLEH:
MUHAMMAD PLATO

Globe Asia, salah satu majalah ternama di Indonesia dan Asia baru memberitakan 150 orang terkaya di Indonesia. Dari jumlah tersebut terdapat 24 pengusaha kaya dari kalangan muslim dan sisanya non muslim. (republika.co.id). Bukti bahwa budaya wirausaha masih rendah di kalangan muslim Indonesia.

Saya sepakat dengan para peneliti sejarah, sikap bangsa Indonesia yang lebih mengutamakan jadi pekerja dari pada pengusaha, adalah warisan budaya zaman penjajahan. Zamah penjajahan, masyarakat menilai bahwa menjadi pekerja adalah kesejahteraan hidup di dunia. Nilai ini lahir dari fakta sejarah penjajahan  yang mendudukkan golongan priyayi sebagai pekerja pemerintah Belanda hidup sejahtera. Keluarga raja, bupati, demang, mereka hidup sejahtera dengan menjadi pekerja dan bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Bersama-sama pemerintah Belanda, kalangan pekerja pribumi hidup sejahtera.

Saat itulah, cita-cita dan harapan masyarakat mengkerucut bahwa untuk mencapai hidup bahagia harus menjadi pekerja. Selanjutnya setelah mencapai kemerdekaan, keejahteraan di dapat oleh para pekerja abdi negara. Abdi negara yang digaji uang rakyat hidup nyaman tanpa kerja keras. Budaya disiplin yang rendah tidak mengurangi jumlah gaji yang dibayarkan oleh negara.

Alam pikiran, dan cita-cita masyarakat ingin menjadi pekerja, secara turun-temurun diwariskan dalam keluarga. Keluhan orang tua, dan cita-cita anak-anak, tidak jauh dari bagaimana menjadi pekerja. Orang tua memandang rendah anak, jika hanya mampu menjadi pengusaha makanan keliling, sebaliknya bangga melihat anaknya pergi pagi pulang sore dengan pakaian seragam sekalipun statusnya pekerja tidak tetap dan gaji habis untuk ongkos.

Budaya menjadi pekerja menjadi sebab anak-anak tidak menghargai dan mencintai wirausaha. Anak-anak tidak menghargai usaha bapak dan ibunya yang berjualan bubur, es, kue kering, gorengan, mie ayam, bakso malang, dan warung-warungan. Begitu menderitanya anak-anak sampai bunuh diri, ketika diolok-olok karena bapaknya berjualan bubur. Anak-anak kita telah disesatkan oleh budaya kolonial, yang memandang rendah wirausaha.

Bangsa kita menjadi negara besar yang kalah bertempur dengan negara-negara kecil. Kekalahan bangsa kita iidentifikasi dari minimnya jumlah pewirausaha. Jumlah minimal dua persen pengusaha dari jumlah penduduk belum dimiliki sampai satu persen. Berbeda dengan negara-negara kecil tetangga yang sudah berada di atas dua persen. Begitu akutnya budaya kolonial memiskinkan bangsa ini, sampai menularkan budaya miskin ke tingkat keluarga.

Budaya miskin yang harus kita kikis warisan zaman penjajahan adalah mendorong anak-anak menjadi pekerja berseragam. Keberhasilan etnis Tionghoa menjadi pengusaha kelas dunia, di mulai dari dorongan orang tua di keluarga. Mereka dorong anak-anak untuk sekolah ke sekolah terbaik sampai kelas dunia, setelah itu mereka mewarisi usaha keluarga yang dirintisnya.

Program-program pendidikan harus membangun kultur jiwa wirausaha. Penghargaan-penghargaan tinggi terhadap peserta didik jangan sebatas prestasi akademik, seni, dan olah raga. Harus ada ajang penghargaan bergengsi untuk para peserta didik sebagai pewirausha, sekalipun hanya menjadi tukang gorengan keliling, reseller pulsa, pakaian, dan kue kering. Para peserta didik harus diajarkan membuat proposal bisnis, dengan prediksi-prediksi keuntungan yang bisa membangun dan memotivasi mereka menjadi pengusaha.

Di lingkungan pendidikan keberhasilan wirausaha peserta didik tidak dilihat dari hasil, tapi dari jiwa yang dimiliki. Jiwa-jiwa wirausaha yang harus dimiliki dan dikembangkan di sekolah adalah kejujuran, kepercayaan diri, keuletan, kesabaran, ketelitian, dan keyakinan kepada Tuhan tentang keberhasilan sebuah usaha yang dirintisnya.

Dari ajaran agama, Allah sangat memandang tinggi kedudukan  mereka yang berwirausaha. Perintah berwirausaha secara eksplisit dianjurkan oleh Tuhan dalam Al-Qur’an, dicontohkan pula oleh para Nabi sekalipun menjadi pengembala kambing.

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (An Nisaa, 3:1)

Saling meminta satu sama lain adalah praktek berniaga, berwirausaha, atau jual beli (trade). “Mata pencaharian paling afdhol adalah berjualan dengan penuh kebajikan dan dari hasil keterampilan tangan”. (HR. Al-Bazzar dan Ahmad)
 
 MELATIH ANAK BERMENTAL KAYA DARI KAKI LIMA


Pada jual beli ada kesulitan dan kepayahan yang akan dialami. Sesorang mengeluh dengan sedih, bahwa dirinya harus bangun subuh berkeliling pasar untuk berjualan. Dia merasakan dirinya terhina dan rendah dihadapan manusia. Padahal jika dia memahami pandangan Tuhan terhadap pekerja keras dalam berjualan niscaya dia akan bahagia. “Sesungguhnya Allah Ta'ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yang halal. (HR. Ad-Dailami).

Dalam pandangan Allah, belum tentu yang duduk-duduk di kursi, pakaian bersih lebih tinggi kedudukannya di banding dengan mereka yang berkeliling memungut sampah dari sisa-sisa bungkus palstik makanan dan minuman. Allah menyenangi mereka yang mengais rejeki dengan tangan dan kakinya sendiri. “Tiada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan sendiri”. (HR. Bukhari). Mereka yang duduk di atas kursi mendapat gaji belum tentu, makanan yang di makannya hasil dari hasil usaha tangan sendiri.

Orang tua yang mendorong anak-anaknya menjadi pengusaha memiliki keuntungan dibanding dengan mereka yang menyuruh anak-anaknya menjadi pekerja. Orang tua yang menyuruh anaknya menjadi pengusaha tidak dihinggapi rasa khawatir anaknya tidak mendapat pekerjaan, karena anak tersebut akan menciptakan lapangan pekerjaan, bukan hanya untuk dirinya tetapi untuk orang lain. Inilah kedudukan tinggi para pengusaha dihadapan Allah, karena para pengusaha bukan hanya menghidupi dirinya sendiri tapi mampu menghidupi banyak orang. Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi banyak orang.

(Penulis Master Trainer, @logika_Tuhan)

PENDOSA YANG DISENANGI ALLAH



OLEH:
MUHAMMAD PLATO

Judul tulisan ini tidak hendak menyuruh orang berbuat dosa. Tapi coba jawab pertanyaan ini, “adakah manusia yang tidak berbuat dosa?” Kalau jawabannya ada, jawaban Anda bertentangan dengan hadis Nabi Muhammad saw yang mengatakan bahwa, “setiap anak Adam pelaku dosa”.

Di negeri yang masyoritas beragama dan  minoritas prilaku beragama ini, sering menghujat para pelaku dosa tanpa aling-aling. Prilaku tidak beragama ini disebarluaskan melalui media massa yang kadang beragama dan kadang tidak tidak beragama.

Tulisan ini hanya ingin mengajarkan kepada pelaku dosa yang banyak sekali di negeri ini, untuk tetap berharap baik kepada Allah. Jika pendosa-pendosa, harapannya tetap baik kepada Allah swt, sedikit-demi sedikit dunia ini akan membaik. Sebab negeri ini tergantung kepada harapan masyarakatnya.

Kebodohan yang saya saksikan di negeri ini adalah mereka yang merasa orang baik justru ucapan dan pikirannya tidak punya harapan  baik untuk negeri ini. Pelaku dosa yang masih punya harapan baik, lebih baik dari orang-orang baik yang tidak mau berbuat karena putus asa.

·         Hadis riwayat Abu Hurairah ra:
Dari Nabi saw. tentang yang beliau riwayatkan dari Tuhannya, beliau bersabda: Seorang hamba melakukan satu perbuatan dosa lalu berdoa: "Ya Allah, ampunilah dosaku". Allah Taala berfirman: Hamba-Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau akan menghukum karena dosa itu. Kemudian orang itu mengulangi perbuatan dosa, lalu berdoa lagi: Wahai Tuhan-ku, ampunilah dosaku. Allah Taala berfirman: Hamba-Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menyiksa karena dosa itu. Kemudian orang itu melakukan dosa lagi, lalu berdoa: Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku. Allah Taala berfirman: Hamba-Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menghukum karena dosa itu serta berbuatlah sesukamu, karena Aku benar-benar telah mengampunimu. Abdul A`la berkata: Aku tidak mengetahui apakah Allah berfirman "berbuatlah sesukamu" pada yang ketiga kali atau keempat kali. (Shahih Muslim No.4953)

·         Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:
Seorang lelaki datang menemui Nabi saw. lalu berkata: Ya Rasulullah! Aku telah melanggar hukum hudud, maka laksanakanlah hukuman itu atas diriku! Kemudian tibalah waktu salat dan ia pun ikut salat bersama Rasulullah saw. Setelah menyelesaikan salat, orang itu berkata lagi: Ya Rasulullah! Sesungguhnya aku telah melanggar hukum hudud, maka laksanakanlah hukuman Allah itu atas diriku! Rasulullah saw. bertanya: Apakah engkau ikut melaksanakan salat bersama kami? Orang itu menjawab: Ya! Rasulullah saw. bersabda: Kamu telah diampuni. (Shahih Muslim No.4965)

·         Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra.:
Bahwa seorang lelaki telah mencium seorang perempuan, lalu orang datang menemui Nabi saw. untuk menceritakan hal itu kepada beliau. Maka turunlah ayat: Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus dosa perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang mau ingat. Lelaki itu bertanya: Apakah ayat ini untukku, wahai Rasulullah? Rasulullah saw. bersabda: Untuk siapa saja di antara umatku yang melakukan hal itu. (Shahih Muslim No.4963)

Silahkan pahami hadis di atas apa maksudnya? Setiap orang berhak memahami berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Jangan takut salah, jika kita salah memahami, Allah sendiri yang akan membimbing kita ke jalan benar. Setiap muslim memiliki kewajiban  berpikir, bukan hanya mendengar. Hal terpenting dalam berpikir adalah berniat mencari kebenaran.

Hadis-hadis di atas adalah bukti nyata bahwa Allah swt  maha pengampun. Allah lebih besar rahmat dan kasihnya dari pada murkanya. Hadis-hadis ini bertujuan memberi  memberi peluang kepada para pelaku dosa untuk tetap memiliki harapan hidup sejahtera di dunia dan akhirat.

Seburuk-buruknya dosa yang kita lakukan adalah dosa yang mematikan harapan baik kepada Allah swt. bagi pelakunya. Untuk kepentingan inilah hadis-hadis ini dikemukakan oleh Nabi Muhammad saw. kepada kita semua, agar para pelaku dosa tidak putus asa dan tetap optimis bisa hidup lebih baik.

Demikian juga dengan akhlak manusia, jangan pernah menutup pintu maaf dan ampunan kepada pelaku dosa, sebesar apapun dosa manusia itu. Jangan menghujat pelaku dosa, karena dalam diri setiap orang termasuk pelaku dosa, melekat hak dari Allah yang harus kita jaga yaitu hak harapan hidup lebih baik di dunia dan akhirat.

Rasulullah saw. bersabda: Sungguh Allah akan LEBIH SENANG menerima tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya daripada (kesenangan) seorang di antara kamu sekalian yang menunggang untanya di tengah padang luas yang sangat tandus, lalu unta itu terlepas membawa lari bekal makanan dan minumannya dan putuslah harapannya untuk memperoleh kembali. Kemudian dia menghampiri sebatang pohon lalu berbaring di bawah keteduhannya karena telah putus asa mendapatkan unta tunggangannya tersebut. Ketika dia dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia mendapati untanya telah berdiri di hadapan. Lalu segera ia menarik tali kekang unta itu sambil berucap dalam keadaan sangat gembira: Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu. Dia salah mengucapkan karena terlampau merasa gembira. (Shahih Muslim No.4932)


Dalam logika Tuhan, para pelaku dosa yang masih punya harapan baik, lebih baik dari pada orang-orang baik yang putus asa. Para pendosa tetaplah berharap baik kepada Allah, semoga negeri ini menjadi lebih baik.

Sholawat dan salam kepada Rasulullah saw, dan terimakasih ya Allah telah membimbing kami dalam dosa. Semoga Engkau jadikan kami orang-orang yang berjalan lurus di atas petunjuk Mu. Amin.

(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan)

Wednesday, March 22, 2017

DUNIA INI SEMUANYA BAIK


OLEH:
MUHAMMAD PLATO

Bagaimana menurut Mu, apakah dunia ini tercipta terdiri atas dua kutub, yaitu baik dan buruk? Jika jawabannya iya, maka sesungguhnya Kamu telah melanggar perintah Allah, yaitu menjauhi prasangka buruk. Kenyataan keberadaan kutub positif dan negatif tidak mengandung arti nilai, bahwa kutub positif baik dan kutub negatif buruk, dua kutub itu adalah ketentuan yang sama-sama akan melahirkan kebaikan.

Bacalah firman Allah ini dengan teliti dan mohonlah pertolongan hidayah kepada-Nya.

“Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?" Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah". Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini". Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati”. (Ali Imran, 34:154).

Ayat ini berkisah tentang keberadaan kaum Muslimin setelah mengalami kekalahan, kehinaan, dalam Perang Uhud. Kaum muslimin yang tetap beriman sekalipun mengalami kekahalan mereka diberi keamaan dan kenyamanan dengan datangnya kantuk sehingga mereka bisa tertidur dengan nyeyak. Namun sekelompok kaum muslimin yang mulai goyah keimanannya, mereka dihinggapi rasa cemas, takut, khawatir dan tidak bisa tidur. Mereka takut setelah kekalahan ini, kaum muslimin akan kembali menjadi kelompok tertindas karena dianggap tidak lagi memiliki kekuatan.

Keragu-raguan telah menghinggapi pikiran mereka. Mereka bertanya-tanya, mengapa mereka (Pasukan Nabi) bisa mengalami kekalahan dalam perang padahal dalam pasukan itu ada Nabi yang dikasihi Allah. Lalu mereka berprasangka buruk kepada Allah, kekalahan perang disebabkan Allah tidak memberikan pertolongan dan terbersit dalm pikiran mereka mulai meragukan kenabian Nabi Muhammad saw.

Lalu Allah menurunkan hidayah pengetahuan kepada mereka, “katakanlah: “sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Siapapun tidak bisa menolak segala ketentuan Allah. Jika orang itu ditakdirkan mati, sekalipun mereka berada di dalam rumah mereka akan dikeluarkan dan mati terbunuh di mana tempat mereka harus mati terbunuh. 

REZEKI BURUNG INI DIATUR OLEH ALLAH

Sesunguhnya kejadian-kejadian buruk yang disangkakan oleh manusia kepada Allah itu adalah ujian bagi setiap jiwa agar semakin baik, semakin dekat dan semakin taat kepada Allah. Sangkaan-sangkaan buruk itu adalah prilaku buruk pikiran dan hati manusia yang akan membinasakan manusia itu sendiri.
Jika kamu menyangka bahwa dunia ini tercipta dari unsur baik dan buruk, maka 50% kamu telah berprasanka baik kepada Allah, dan 50% kamu telah berprangka buruk kepada Allah. Dan kita telah melanggar perintah Allah untuk menajuhi perbuatan dosa, yaitu (sebagian) 50% prasangka buruk yang kita sangkakan terhadap Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya SEBAGIAN (50%) prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain”. (Al Hujuraat, 49:12).

Prasangka buruk adalah faktor penyebab kebinasaan bangsa, negara, dan umat manusia. Prasangka buruk adalah kesalahan pikiran manusia karena melihat setiap kejadian berdasarkan apa yang dilihatnya bukan dari pengetahuan dari Allah yang tersurat, tersirat dalam kitab suci.

Maka jika kita membaca kitab suci, sesungguhnya sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang pasti terjerumus ke dalam jurang kenistaan namun pikiran dan hatinya tetap berharap ampunan dan rahmat dari Tuhannya tanpa pernah putus asa. Dan manusia hebat adalah mereka yang masih sadar ketika berbuat dosa, bersabar dan sholat meminta jalan keluar, tanpa prasangka buruk kepada Tuhannya.

Logika yang benar adalah “ketika hal-hal yang tidak diinginkan menimpa, seharusnya dibaca! Allah sedang memberi tahu kepada semua orang bahwa kita orang baik, jika kita sabar dan tetap optimis kepada janji Allah”. Dan harus diakui pula bahwa setiap apa yang kita terima adalah balasan dari apa yang telah kita kerjakan. Setiap balasan dari apa saja yan gkita kerjakan tujuannya adalah kebaikan, jika kita berpikir dengan logika Tuhan. Demikian penejalasan saya, mohon maaf lahir batin atas segala kekurangannya selama ini. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer logika_Tuhan)