Sunday, September 27, 2015

TAKDIR ADA SEBAB AKIBATNYA



Musim haji 2015 telah terjadi musibah beruntun di kota Mekkah. Badai gurun, runtuhnya crane, kebakaran hotel, berdesak-desakkan di Mina, telah memakan kerugian dan korban yang tidak sedikit. Semua orang setuju, apa yang terjadi di Mekkah adalah kehendak Tuhan.  

Tapi Tuhan memberi potensi kepada manusia untuk mengetahui apa yang terjadi. Manusia diberi peluang oleh Tuhan untuk memahami segala apa yang terjadi dengan akalnya. Segala sesuatu dapat dipahami kalau diketahui sebab-sebabnya.   

Tuhan menciptakan alam semesta dengan sebuah sistem agar manusia bisa memahaminya. Sistem tersebut adalah ketentuan sebab akibat (kausalitas) dalam setiap kejadian. Keterangan Tuhan berkaitan dengan sistem sebab akibat, dijelaskan di dalam AL-Qur’an;

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (al Hadiid:3).

Ayat ini bicara tentang ketetapan hidup, bahwa segala sesuatu yang diciptakan Tuhan, terbangun dengan sistem sebab (awal) dan akibat (akhir). Tuhan sendiri memosisikan diri sebagai Pencipta yang paling tahu tentang sebab paling awal, dan akibat paling akhir, dan diri-Nya sendiri sebagai awal sebab dan akhir akibat. Lalu Tuhan menetapkan sistem ini dalam setiap kejadian.

Dalam memahami sebab akibat suatu kejadian, manusia diberi keterbatasan oleh Tuhan. Hal ini dapat kita baca pada kalimat terakhir ayat di atas, Tuhan menyatakan diri sebagai Yang Maha Mengetahui. Kalimat ini bisa diartikan sebaliknya, bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam mengetahui sebab atau akibat setiap kejadian.

Makna lain dari ayat di atas adalah manusia telah diberi kemampuan mengetahui sebab dan akibat setiap kejadian. Hanya saja, manusia harus menyadari bahwa segala pengetahuan bukan milik manusia, tetapi milik Tuhan. Maka hendaknya, setiap pengetahuan yang berhasil kita temukan harus diakui sebagai pemberian dari Tuhan. Hal ini harus dilakukan karena menjadi etika para pemikir agar terhindar dari kesombongan. Bentuk kesombongan terbesar yang dilakukan para pemikir setelah mengetahui sebab atau akibat kejadian adalah mengingkari keberadaan Tuhan.  

Sudah ketetapan-Nya, setiap kejadian, pasti memiliki sebab-sebab. Namun karena keterbatasan manusia, sebb-sebab tersebut ada yang bisa dengan cepat diketahui, ada yang membutuhkan jangka waktu lama. Suatu sebab memiliki jangka waktu lama untuk diketahui karena faktor penyebabnya bersifat multi sehingga sulit diketahui sebab pastinya, bisa jadi dimensi kejadian terlalu kecil atau terlalu besar, sehingga manusia tidak bisa memastikan mana sebab sesungguhnya. Dengan demikian kejadian menjadi tidak bisa dipahami.

Saat ini, untuk membantu menjelaskan sebab-sebab kejadian yang rumit dan membutuhkan waktu lama dalam pembuktiannya, manusia mulai menggali sumber pengetahuan lain yang bersumber dari intuisi dan wahyu. Setiap kejadian harus dikaji dari berbagai sumber pengetahuan. Faktanya bahwa memahami setiap kejadian hanya dari satu sumber pengetahuan telah melahirkan manusia-manusia kerdil, kurang cerdas, merusak, dan lemah.  

Kegagalan manusia dalam menjelaskan suatu kejadian adalah menapikan potensi-potensi yang dimiliki manusia dalam menggali pengetahuan. Masyarakat Barat, menjelaskan kejadian hanya menggunakan pengetahuan rasional. Sebaliknya masyarakat Timur mengutamakan pengetahuan-pengetahuan intuitif dan kurang peduli pada pengetahuan rasional. Kalangan agama menjadikan sumber wahyu sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, tanpa memperdulikan pengetahuan rasional, dan mengharamkan pengetahuan intuitif. 

Ketidakseimbangan dalam menggali pengetahuan adalah awal dari krisis kemanusiaan yang terjadi saat ini. Untuk mengantisifasinya, dibutuhkan kemampuan berpikir holistis, melibatkan seluruh sumber pengetahuan agar manusia bisa menjelaskan sebab-sebab kejadian secara bijaksana dan penuh tanggungjawab.  

Seyogyanya, apa yang menimpa Kota Mekkah harus ada yang berani memahami sebab-sebabnya dari berbagai sumber pengetahuan. Sumber rasional, intuitif, wahyu, dikumpulkan agar melahirkan kesimpulan utuh demi kemaslahatan manusia di masa depan sampai menembus akhirat. Wallahu ‘alam.  

(Muhammad Plato, Penulis Buku Hidup Sukses dengan Logika Tuhan. Follow @logika_Tuhan)

Sunday, September 13, 2015

SEMUA DOA PASTI DIKABUL



Dalam sebuah pembelajaran kelas, penulis menyisipkan materi tambahan untuk peserta didik. Biasanya materi ini disispkan setelah materi pokok disampaikan. Itung-itung sambil represing tapi bermanfaat bagi peningkatan kompetensi spiritual peserta didik.

Kali ini penulis sisipkan materi tentang sukses dengan membiasakan berdoa. Penulis jelaskan bahwa dengan berdoa, apapun yang kita inginkan di dunia ini akan tercapai. Masalahnya, terkabulnya doa memiliki relativitas waktu. Artinya doa yang kita panjatkan, bisa terbukti dikabulkan saat itu, dua hari kemudian, satu minggu, tiga bulan, satu tahun, bahkan empat sampai lima tahun kemudian. Kenyataan ini pernah penulis buktikan, karena doa-doa yang penulis penjatkan selalu dituliskan hari, tanggal, bulan, dan tahunnya dari buku harian.

Sekalipun dalam proses dikabukannya doa, manusia menyimpulkan adanya relativitas waktu, tetapi kalau dibaca tidak melihat kontinum waktu, sebetulanya setiap doa pasti dikabulkan Tuhan. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab suci Al-Qur’an:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (Albaqarah:186).

Kalimat di atas memiliki arti bahwa Allah swt Tuhan Semesta Alam, memiliki ketetapan mengabulkan setiap doa yang dipanjatkan oleh umatnya. Kalimat ini dapat dipahami sebagai ketentuan berlaku pasti, bahwa setiap doa pasti dikabulkan.

Saat itu penulis bertanya kepada peserta didik, “apakah kalian percaya bahwa semua doa dikabulkan oleh Tuhan. Jawab mereka, “percaya”. Ketika ditanya pernahkan membuktikannya? Jawaban mereka rata-rata belum pernah.

Penulis ajak mereka ikut terlibat dalam sedikit permainan, namun mengandung makna mendalam dan serius. Mereka diajak untuk membuktikan bahwa doa itu benar dan pasti dikabulkan oleh Tuhan, jika kita berdoa kepada Tuhan.

Saya perintahkan mereka untuk menutup mata. Lalu mereka dibimbing memanjatkan doa, “ya Tuhan kami yang maha pemurah dan menguasai segala sesuatu yang ada di langit dan dibumi, ampunilah dosa kami dan ibu bapak kami. Berikan ilmu yang mepimpah kepada kami, dan sampaikanlah kami pada apa yang kami cita-citakan untuk kesejahteraan kami di dunia dan akhirat. Ya Allah yang Tuhan kami, setelah kami mengalami kegelapan bukakanlah mata kami”.

Setelah doa dipanjatkan, penulis menyuruh peserta didik untuk membuka matanya. Ketika semua mata terbuka, penulis ucapkan selamat kepada seluruh peserta didik, karena baru saja Allah, Tuhan  yang maha berkehendak telah mengabulkan doa yang baru saja dipanjatkan. Peserta didik sedikit bingung, dan mulai tertawa disertai dengan tepuk tangan, yang artinya mereka mengerti bahwa ketika mereka memanjatkan doa minta dibukakan mata, langsung saat itu juga mata terbuka.
  
Jika ada yang berpikir tanpa berdoa pun mata bisa terbuka dengan sendirinya, disinilah kita dapat memahami arti dan fungsi doa. Pertanyaannya apa bedanya orang yang berdoa dan tidak berdoa?

Doa memiliki fungsi MEMBANGUN KESADARAN. Kesadaran dalam bentuk pengakuan bahwa Tuhan lah yang menentukan segalanya. Jadi perbedaan orang yang berdoa dan tidak bedoa terletak pada kesadaran atau pengakuan bahwa semua yang didapatkan oleh dirinya dari Tuhan. Dengan berdoa, maka manusia akan selalu bersyukur kepada Tuhan.

Apakah untuk mewujudkan segala sesuatu di muka ini cukup dengan berdoa? Ya jika kita memahami bahwa bentuk doa tidak hanya dalam bentuk perasaan, pikiran dan ucapan, tetapi menyangkut dalam bentuk tindakan. Perhatikan potongan firman Allah swt di bawah ini.

“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (Al Baqarah: 186)

Kalimat di atas menunjukkan pola kegiatan sebab akibat dalam berdoa. Jika setelah berdoa maka harus melaksanakan segala perintah Tuhan agar kita menemukan kebenaran, (dapat membuktikan) doa-doa yang kita panjatkan dikabulkan Tuhan. Melaksanakan perintah Tuhan seperti menuntut ilmu, berzakat, sedekah, berbakti pada orang tua, puasa, berusaha, berhijrah, dsb. Itulah orang-orang yang kelak akan selalu berada di dalam kebenaran.

Sekian dulu penjelasan dari saya, jika ada kebenaran yang saya sampaikan itulah dari Allah swt, dan jika ada kekurangan itu dari saya sendiri. Wallahu 'alam.

(Muhammad Plato, Penulis Buku Hidup Sukses dengan Logika Tuhan). Follow @logika_Tuhan.

Monday, September 7, 2015

WHY KNOWLEDGE IS POWER?



Jika anda jalan-jalan ke kota Bandung, ada salah satu sekolah favorit yang menjadikan kalimat, “Knowledge is Power” sebagai mottonya. Terjemahannya kurang lebih “pengetahuan adalah kekuatan”. Kalimat ini terpampang besar di depan sekolah tersebut.

Jika sekilas kita baca, motto ini tidak akan bermakna apa-apa. Namun jika kita pikirkan kalimat ini mengandung makna filosofis tinggi.

Saya lupa lagi siapa yang pertama kali mengungkapkan kalimat ini. Kalau tidak salah dia seorang ilmuwan terkenal dari Barat, kalau tidak salah Francis Bacon. Kalau saya salah cari aja sendiri, karena dalam hal ini saya tidak akan membahas siapa yang pertama kali mengemukakannya.

Kembali ke pertanyaannya mengapa pengetahuan adalah kekuatan? Jawabannya karena semua yang berhasil diciptakan manusia berawal dari pengetahuan. Orang-orang Jepang bisa membuat kendaraan karena mereka memiliki pengetahuan . Bill Gate bisa membuat sofware microsoft karena Dia memiliki pengetahuannya. Tanpa pengetahuan orang tidak akan bisa berbuat apa-apa. Paranormal yang bisa menerawang ke depan, sebabnya dia memiliki pengetahuan.

Pengetahuan sangat berpengaruh dalam  membentuk pribadi manusia. Orang-orang yang tidak berpengetahuan cenderung pasif. Tanpa pengetahuan manusia akan jadi penakut. Kita bisa takut untuk pergi ke Jakarta, karena tidak tahu jalan. Setan ditakuti karena sering ditampilkan dengan wajah buruk dan prilaku jahat. Sebaliknya malaikat disenangi karena sering digambarkan dengan wajah tampan dan baik hati. Demikianlah pengetahuan sangat berpengaruh pada pribadi seseorang.

Banyak orang takut gagal dalam usaha, karena tidak tahu gagal itu penyebab sukses. Secara spontan  jika dihina orang kita inginnya marah, karena tidak tahu bahwa hinaan orang itu tidak berdampak apa-apa untuk dirinya. Orang-orang kikir hanya tahu bahwa memberi menyebabkan harta berkurang.

Orang-orang yang mengetahui apa yang akan terjadi dikehidupan masa depannya, tidak akan takut untuk hidup. Orang-orang yang tahu bahwa dibalik pengorbanan besar ada keuntungan besar, dia tidak akan segan-segan untuk berkorban.

Semua tindakan seseorang ditentukan oleh luas dan dalamnya pengetahuan. Maka dari itu, karakter seseorang juga ditentukan oleh pengetahuan yang dimilikinya. Orang yang hanya tahu  rumus 1-1= 0 (nol dalam arti kosong), hidupnya akan jauh dari kata dermawan.

Tuhan ada dalam tataran pengetahuan. Sebelum pengetahuan dari Tuhan datang kepada manusia, Tuhan banyak ragamnya. Setelah pengetahuan dari Tuhan datang, manusia mengenal tiada Tuhan selain Allah swt.

Tuhan pun menegaskan bahwa inti dari eksistensi manusia di muka bumi bergantung pada pengetahuan. Maka dari itu Tuhan mengutus Rasul yang diberi pengetahuan (wahyu). Kitab suci yang isinya pengetahuan dari Tuhan, adalah mukjizat Tuhan terbesar yang diberikan kepada manusia melebihi mukjizat menghidupkan orang mati, atau membelah laut.

Perintah bacalah, bisa dipahami sebagai perintah perbanyaklah pengetahuan, karena dengan berpengetahuan rahasia langit dan bumi akan terungkap. Siapa tidak suka menambah pengetahuan, hidupnya pasti tertinggal zaman. Wallahu’alam.

(Muhammad Plato, Penulis Buku Hidup Sukses Dengan Logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan)