Tuesday, May 29, 2018

MEMBELA ALLAH ATAU ALIRAN?

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Jika semua beriman kepada Tuhan Yang Esa, maka seharusnya seluruh manusia bersatu. Perbedaan pendapat tentang kebenaran yang sama-sama di dapat dari kitabullah dan sunnah adalah fitrah, perasaan bersatu (berjamaah) karena sama-sama menyembah Allah Yang Ahad adalah visi dari adanya jamaah.

Maka dapat dipahami akal, hadirnya tuhan-tuhan selain Allah pasti  membuat manusia terpecah belah menjadi aliran-aliran. Lahirnya aliran-aliran disebakan oleh nafsu-nafsu yang merasa menjadi pemilik kebenaran. Aliran-aliran itu telah menjadi tuhan-tuhan yang menyesatkan manusia.

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai `Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (Al Mukminun, 40:26)

Nabi Muhammad saw, para sahabat, dan para imam, tidak pernah mengklaim kebenaran milik dirinya, tidak pula menciptakan aliran. Mereka semua menyampaikan kebenaran milik Allah dengan beriman kepada Al-Qur’an dan sunnah.

Apa dalilnya jika aliran-aliran terbentuk karena hawa nafsu manusia? Buktinya kita temukan dalam hadis, bahwa Islam terpecah menjadi 73 golongan, 72 di atas api neraka dan satu di syurga.

“Rasulullah SAW bangkit dan memberikan khutbah, dalam khutbahnya beliau berkata, 'Millah ini akan terbagi ke dalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, (hanya) satu yang masuk surga, mereka itu Al-Jamaa’ah, Al-Jamaa’ah. Dan dari kalangan umatku akan ada golongan yang mengikuti hawa nafsunya, seperti anjing mengikuti tuannya, sampai hawa nafsunya itu tidak menyisakan anggota tubuh, daging, urat nadi (pembuluh darah) maupun tulang kecuali semua mengikuti hawa nafsunya.” (HR.  Abu Daud).

Fenomena ini telah terjadi sekarang. Umat telah mengalami disoreintasi keimanan dalam beragama. Keimanan mengalami disorientasi karena taklid kepada  pendapat manusia, bukan kembali kepada kitabullah dan sunnah.

Kata Al Jamaa’ah terlalu beresiko jika di tafsir sebagai aliran, karena akan terjebak pada semangat ego kelompok berlebihan yang merasa paling benar dan yang lain salah. Jika Al Jamaa’ah di tafsir sebagai aliran, orang akan kembali terjebak membela aliran.

Al Jamaa’ah adalah kelompok muslim yang memiliki ciri akhlak selalu berkomitmen untuk tetap bersama-sama, menjaga kebersamaan, menebarkan sikap damai, persaudaraan, tidak mencaci dan menyalahkan, serta menghindari perpecahan sebagaimana diajarkan dalam kitabullah dan sunnah.
Dua orang lebih baik dari seorang dan tiga orang lebih baik dari dua orang, dan empat orang lebih baik dari tiga orang. Tetaplah kamu dalam jamaah. Sesungguhnya Allah Azza wajalla tidak akan mempersatukan umatku kecuali dalam petunjuk (hidayah) (HR. Abu Dawud)
Setiap penceramah harus sering-sering mengingatkan bahwa kebenaran milik Allah dan kesalahan adalah milik manusia. Kata kunci ini harus diulang ulang karena di masyarakat sering terdengar mereka beriman kepada ulama, kiyai, kelompok, atau aliran. Masyarakat menjadikan ustad, ulama, kiyai, aliran, madzab  sebagai rujukan atas kebenaran yang mereka lakukan. Padahal rujukan dalam melakukan kebenaran sepeninggal Nabi Muhammad saw adalah Al-Qur’an dan sunnah.
Penceramah harus terbuka kepada masyarakat jika mengemukakan sebuah pendapat, dengan mengeluarkan dalil setiap pendapat yang dikemukakannya. Sehingga masyarakat akan beriman kepada kitabullah dan sunnahnya bukan kepada penceramah dan alirannya.

Hal penting yang harus diiformasikan kepada masyarakat adalah jika terjadi perbedaan pendapat dalam hal kebenaran yang sumbernya dari kitabullah dan sunnah, maka pengadilannya harus dikembalikan kepada sang pemilik kebenaran, Prateknya setiap orang harus bersabar untuk menunggu pengadilan Allah di akhirat, sambil tetap berpikir dan memperbaiki kualitas keilmuan dengan tetap menjaga  kebersamaan, persaudaraan dan perdamaian.

Itulah Al jamaa’ah… Al jamaa’ah…! Begitu pentingnya untuk berjamaah, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa tidak menyukai sesuatu dari tindakan penguasa maka hendaklah bersabar. Sesungguhnya orang yang meninggalkan (membelot) jamaah walaupun hanya sejengkal maka wafatnya tergolong jahiliyah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam bulan suci ramadhan 1439 hijriyah ini, kita perlu bertanya dan berpikir. Apakah selama ini kita telah benar-benar membela Allah, atau mengikuti hawa nafsu kita dengan membela aliran? Jika benar membela Allah seharusnya tidak menebar kebencian, tetap berada dalam jamaah, menebar rasa persaudaraan, damai dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master of Logika Tuhan)

Sunday, May 27, 2018

SHALAT ADALAH KOMITMEN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Mereka yang tidak shalat seperti binatang”, demikian kata si penceramah. Benarkah yang tidak shalat sama dengan binatang?

Silahkan anda bisa menjawabnya dengan membaca firman Allah dalam Al-Qur’an. Burung shalat dengan mengembangkan sayapnya, karena itu Allah menjelaskan semua sudah mengetahui cara shalat dan tasbihnya.

“Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. (An Nuur, 24:41)

Lalu shalat itu apa? Sudah saya jelaskan beberapa definisi salat dalam blog ini. Silahkan di search dengan kata kunci shalat. Kali ini ada satu difinisi shalat yang saya temukan dari hasil penafsiran Achmad Chodzim (2017). Fungsi shalat yang sering ditemukan dalam Al-Qur’an sebenarnya adalah komitmen atau janji untuk bertindak. Sayangmya makna shalat yang dipahami masyarakat luas cenderung bersifat angan-angan dari pada ke arah yang nyata untuk kepentingan kesejahteraan dan kedamaian manusia itu sendiri.


Berlandasakan pada keterangan Al-Qur’an, kata shalat, Achmad Chodzim memaknainya sebagai komitmen. Sebelum melakukan aksi, komitmen harus mendahului. Komitmen manusia dalam menjalani hidup dijelaskan ada empat hal, yang diawali dengan shalat.

Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (Al An’aam, 6:162)

Achmad Chodzim menafsir kata shalat  sebagai komitmen atau janji, dilihat dari kasus yang terjadi dalam Al-Qur’an. “…maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah shalat (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu:.. (Al Maidah, 5:106)

Kasus dalam ayat di atas adalah ada orang yang berlainan agama dijadikan sebagai saksi. Kemudian diajak bersumpah setelah shalat. Menurut Achmad Codzim, makna setelah shalat di sini bukan ritual, berdoa, karena dalam kasus itu ada orang berlainan agama. Sehingga tidak mungkin dalam ayat ini, shalat dimaknai kegiatan ritual, tetapi tepatnya dimaknai sebagai komitmen atau janji.

Jika kita mengacu pada keterangan ayat sebelumnya, seluruh makhluk sudah ditetapkan cara shalat dan tasbihnya. Ini artinya secara general seluruh makhluk di muka bumi ini kafir atau tidak, mereka melakukan shalat dalam arti komitmen atau janji.
Hanya saja Allah memberikan penjelasan bahwa sekalipun semua makhluk shalat (berkomitmen) dengan caranya masing-masing, shalatnya ada yang sia-sia, digambarkan sebagai siulan dan tepukkan belaka.

Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. (Al Anfaal, 8:35).

Shalat atau komitmen mereka yang seperti siulan dan tepukan adalah mereka yang berkomitmen dengan selain Allah, atau mereka yang berkomiten tidak sampai pada tataran aksi. Mereka yang berkomitmen tidak sampai pada tataran aksi adalah mereka yang shalatnya hanya ritual saja, tidak sampai mengubah akhlaknya.  

KOMITMEN DIULANG-ULANG

Untuk membangun kesadaran dan kesucian jiwa, komitmen harus diulang-ulang. Manusia terkena sifat lupa, maka dari itu setiap berkomitmen harus ada waktu-waktu yang ditentukan.

Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (An Nisaa, 4:103)

Dari berbagai keterangan dalam ayat suci Al-Qur’an dan pertimbangan hadis, bahwa shalat (komitmen) adalah bagian hidup manusia yang paling penting. Ritual shalat yang kita kerjakan setiap waktu adalah pembaharuan komitmen kepada Tuhan, agar komitmen kita tidak seperti siulan dan tepukan. Agar komitmen tidak seperti siulan dan tepukan, setiap komitmen harus diusahakan sekuat tenaga untuk diimplementasikan. Komitken kita kepada Allah adalah mengeluarkan harta sebagai harta yang kita miliki untuk kepentingan orang banyak. Demikian makna shalat. Wallahu’alam.

(Penulis, Master of logika Tuhan).

Saturday, May 26, 2018

BACAAN ANTI HOAX

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Hidup adalah mengetahui” (Capra, 390:2002). Demikian kata-kata filsuf sekuler dalam pencariannya tentang unsur paling kecil di dunia ini. Tidak bertentangan dengan kosnsep dalam Al-Qur’an bahwa membaca (berpengetahuan) harus jadi pondasi bagi manusia-manusia yang mau hidup sejahtera.

Kepandaian pertama yang harus dimiliki manusia adalah kemampuan mengetahui (membaca). Sedih-bahagia, duka-suka, gelisah-tenang, sakit-sehat, disebabkan oleh apa yang diketahui. Inilah makna bahwa Al-Qur’an itu adalah bacaan (pengethauan) yang isinya absolut menggembirakan, menyehatkan, dan meyakinkan. Inilah bacaan anti hoak!

Membaca informasi dari Al-Qur’an tidak bisa terpisah-pisah. Informasi dalam Al-Qur’an sifatnya saling berhubungan. Salah satu dari definisi kata Al-Qur’an itu sendiri adalah keterhubungan. Maka untuk memahami makna informasi dari Al-Qur’an tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.

Sebagai pembuktian kebenaran konsep keterhubungan dalam Al-Qur’an, para filsuf sekuler pun sudah memahami, “informasi itu adalah sebuah kuantitas, sebuah nama, atau pernyataan singkat yang kita abstraksikan dari suatu keseluruhan jaringan hubungan-hubungan, suatu kontek di mana ia tertanam dan mendapatkan makna”. (Capra, 397:2002).

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" (Al-Baqarah, 2:31)

Ayat di atas memberikan informasi bahwa Allah mengajarkan nama (konsep)  sebuah benda kepada Adam dengan mengajarkan nama-nama (banyak konsep). Nama-nama ini kemudian di olah oleh Adam melalui kemampuan berpikir yang dimilikinya. Adam memikirkannya sampai menghasilkan nama (konsep) baru. 

Lalu Allah menguji Adam dihadapan makhluk lainnya, dengan memerintahkan Adam untuk menyebutkan sebuah nama benda (hasil pemikirannya). Inilah gambaran dalam Al-Qur’an sebagai bukti bahwa Adam memiliki kecerdasan dalam mengolah informasi. Untuk itu Adam diberi kelebihan oleh Allah dari makhluk lainnya.

ADAM MEMAHAMI MAKNA JIHAD

Informasi perintah perang (jihad) dalam Al-Qur’an, tidak berdiri satu ayat untuk memahaminya. Dia berhubugan dengan seluruh konsep yang ada dalam ayat-ayat Al-Qur’an lainnya. Kata jihad sendiri tidak identik dengan perang, dalam Al-Qur’an kata jihad berhubungan dengan banyak kata antara lain dengan, kata hijrah, sabar, infak, iman, takwa, mendekatkan diri, harta, jiwa, usaha, berniaga, cinta, dll.


Untuk itu, jihad jika dilihat dari hubugan-hubungan konsep yang ada dalam Al-Qur’an, jihad bukan perang. Jihad adalah sebuah ajaran Islam yang harus melekat dalam segala usaha kebaikan. Ukuran kebaikan di dalam konsep Al-Qur’an adalah segala tidakan yang tujuannya untuk menjaga keseimbangan, kesejahteraan, kedamaian hidup manusia dan seluruh alam. Konsep-konsep yang disandingkan dengan kata jihad ikut menjaga makna, agar jihad tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (At Taubah, 9:20)   

Tidak ada jihad untuk membinasakan manusia tanpa sebab, tidak ada jihad untuk balas dendam, tidak ada jihad untuk menyebar ketakutan (teror). Jihad adalah kesungguh-sungguhan setiap muslim untuk hidup di jalan Allah yang maha pengasih dan penyayang.

Bacalah Al-Qur’an dan hadis shahih dengan artinya agar setiap muslim bisa mengantisifasi hoak dari masing-masing dirinya. Jargon anti hoak, bagi seorang muslim memiliki arti bahwa kita harus kembali kepada bacaan yang benar, bacaan yang tidak diragukan lagi, bacaan yang akan membawa kesejahteraan hidup seluruh manusia di dunia dan akhirat.  

Setiap muslim sudah saatnya berjihad membaca dan memahami segala informasi yang terdapat dalam Al-Qur’an. Belum membaca Al-Qur’an dengan sempurna jika belum timbul karakter cinta, damai dan penyejahtera dalam jiwa seorang muslim. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master @Logika Tuhan)

Saturday, May 19, 2018

LOGIKA KOCAK USTAD EE

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sekarang kita memasuki awal abad 21, inilah zaman perubahan sebagaimana dikabarkan dalam hadis. “Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini di setiap awal 100 tahun, seseorang yang akan memperbaharui agama ini.” (HR. Abu Hurairah).

Ustad Evie adalah sesungguhnya fakta fenomena terjadinya pembaharuan dalam agama. Ustad Evie yang berlatar belakang dunia hitam, bukan saja berhasil mengubah dirinya menjadi orang cerdas beragama, tetapi dia juga berhasil mengubah paradigma beragama masyarakat.

Perubahan paradigma beragama yang bisa kita akui bersama adalah cara berpenampilan Ustad Evie dalam setiap ceramah. Ustad Evie telah membebaskan belenggu masyarakat dalam melihat baju sebagai ukuran seorang beragama. Ustad Evie telah menyadarkan bahwa menjadi pemuda hijrah tidak harus merubah tampilan, tapi utamakan keimanan.

Paradigma lama, hijrah prilaku selalu di dahului dengan hijrah penampilan. Paradigma lama ini menjadi banyak orang sulit untuk berhijrah karena masalah penampilan. Ustad Evie membuka paradigma baru bahwa tampilan bukan ukuran perubahan seseorang. Perubahan ada diakhlak dan pengetahuan tentang keimanan terhadap hukum-hukum dalam agama. Untuk itulah dakwah ustad Evie diterima oleh semua kalangan, khususnya mereka yang selama ini tidak tersentuh dan diabaikan yaitu anak jalanan dan berandalan.

LOGIKA KOCAK

Keberhasilan dakwah Ustad Evie kepada masyarakat adalah kelihaian Ustad Evie dalam mengolah logika Al-Qur’an. Logika dasar dari Al-Qur’an disampaikan, dikemas dalam bahasa-bahasa sehari-hari melalui contoh-contoh ringan dalam kehidupan nyata dan lucu.

KITA SEKARANG BERADA DI ABAD 21, DIMANA DALAM 100 TAHUN AKAN ADA PEMBAHARU
Bahasa kocak yang sering diucapkan Ustad EVie adalah “Ganteng itu relatif, yang mutlak yang jelek”. Ini bahasa logika, kalau kita telusuri sumbernya dari Al-Qur’an. Bahasa logika yang diolah Ustad Evie sebenarnya ingin menyampaikan bahwa manusia bukan pemilik kebenaran, tetapi manusia pemilik keburukan.   

Kebajikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) diri mu sendiri". (QS. An-Nisa' 4: Ayat 79).

Bahasa logika kocak lain yang sering disampaikan Ustad Evie ketika membahas masalah poligami. Ajaran poligami sering dianalogikan dengan kaki kursi yang jumlahnya empat, sehingga kursi bisa berdiri kokoh. Kursi tidak akan berdiri ajeg ketika kakinya satu.

Beliau juga menjelaskan bahwa berpoligami tidak perlu izin karena poligami tidak ada di lembaga perizinan pemerintah. Poligami izinnya bukan dari lembaga atau dari manusia tetapi dari Allah, karena itu ajarannya yang tertulis dalam Al-Quran.

"maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki". (An nisaa, 3:3)

Bisa dipahami, pertimbangan poligami adalah keadilan bukan izin. Tafsir bahwa poligami harus izin istri sebenarnya bukan hak istri (manusia), tetapi itu tafsir dalam rangka pertimbangan untuk mewujudkan keadilan agar tidak ada yang tersakiti.

Itulah beberapa kecerdasan ustad Evie dalam menjelaskan ajaran agama kepada masyarakat. Bahasa-bahasa logika analogi kehidupan sehari-hari, membuat Ustad Evie sangat disukai oleh masyarakat dan membuat ajaran agama mudah dipahami.

Ustad Evie juga sering menganalogikan poligami dengan shalat berjamaah yang hanya boleh dipimpin oleh satu imam, dan boleh dengan empat makmum. Logika sederhana ini ikut menjelaskan bahwa perempuan tidak mungkin berpoliandri. Kepemimpinan ada di laki-laki sehigga menguatkan bahwa poligami adalah kodrat laki-laki.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), (An nisaa, 4:34)

Demikian penjelasan-penjelasan logika kocak dari ustad Evie yang sering mengundang gelak tawa. “dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis” (An Njam, 53:43). Tapi jangan terlalu banyak tertawa jika tidak ingin kalian banyak menangis! Wallahu ‘alam.  

(Penulis Master logika Tuhan)

Thursday, May 17, 2018

UNSUR X PENYEBAB SAKIT

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Menjelang  duhur ada kabar, kerabat yang sudah lama merantau di pula Jawa bagian timur, ada di Bandung dengan kondisi sakit. Ibu meratap-ratap menangisi keadaan kerabat yang kondisinya seperti manusia kekurangan gizi, lemah tanpa daya di ranjang rumah sakit.

Kerabat lahir sezaman dengan pemberontakan PKI tahun 1965. Kini tubuhnya sudah tidak berdaya. Berbagai penyakit bersemayam di dalam organ tubuhnya. Jantung bengkak, batu di ginjal, dan seluruh badannya berwarna kuning. Bagian punggung, kaki, dada, perut, terasa sakit.  Jantung bengkak menekan ke hati dan ada cairan di paru-paru.

Ustad Yana memberi bantuan pengobatan jarak jauh. Saya kirim photo-photo pasien yang sedang tergeletak di ranjang rumah sakit. Hasil deteksi Ustad Yana, dia melihat dari atas sampai bawah organ tubuhnya rusak. Jantung, ginjal, hati, empedu, sudah mengalami kerusakan. Tulang belakang keropos, hampir habis.

HAPUSLAH KEBURUKAN (SAKIT) DENGAN BERBUAT BAIK (SHALAT) INILAH RESEP AGAR TETAP SEHAT
Sebagaimana sudah dijelaskan Ustad Yana sebelumnya, penyakit-penyakit yang menyerang bagian tubuh dari leher ke bawah adalah penyakit yang berkaitan dengan tauhid. Dalam tubuh terdeteksi ada unsur x (benda/makhluk). Unsur x sudah tentu datang dari luar. Unsur x seperti parasit, menumpang ikut makan sari-sari makanan yang dibutuhkan organ tubuh manusia. Unsur x bisa saja dalam pandangan ilmu kedokteran adalah virus.

Banyak yang salah menyimpulkan, bahwa unsur x ini adalah kiriman seseorang dari luar. Pola pikir ini tidak sehat dan akan membuat unsur x tetap bertahan dalam tubuh. Setiap benda yang ada dalam tubuh, datangnya diundang, disengaja atau tidak sengaja melalui prilaku buruk.

Unsur-unsur x dalam tubuh, mereka menempati ruang yang tersedia dalam tubuh manusia. Ruang-ruang yang mereka tempati adalah ruang-ruang kotor di tubuh manusia. Saluran utama masuknya unsur x adalah lambung dan pola pikir kotor.

Ruang kotor yang ada dalam tubuh biasanya terbentuk karena makanan tidak bergizi, kotor, tidak sempurna pengolahan, dan pola makan tidak sehat. Dalam bahasa agama makanan  dikategorikan baik, jika dari hulu sampai hilir prosesnya halal.

Pola hidup yang tidak sehat, bukan hanya dilihat dari pola makan, tetapi termasuk pola pikir dan pengendalian emosi. Pola pikir yang salah dapat melahirkan emosi yang tidak menyehatkan, seperti mudah marah, khawatir, dan curigaan.

Pola pikir yang tidak sehat, bisa menyebabkan timbulnya prilaku-prilaku tidak sehat. Di dalam pola pikir yang sehat terdapat akhlak yang sehat. Pola pikir sehat akan melahirkan akhlak sehat dan tubuh yang sehat. Pola pikir dan akhlak sehat adalah syariat penyebab pasien tetap sehat setelah diobati.

Metode terapi yang  dilakukan Ustad Yana, bukan hanya mengobati fisik, tetapi mengobati secara psikis. Secara psikis, pasien diberi resep pola pikir sehat, untuk menjaga kondisi pasien tetap sehat setelah diobati. Pola pikir sehat yaitu pola pikir yang sesuai dengan petunjuk Tuhan Yang Esa.

Pola-pola pikir sehat resepnya terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an. Pola pikir sehat yang harus dimiliki pasien agar selalu sehat adalah percaya bahwa semua kejadian sebabnya Allah swt dan Dia satu-satunya sebab. Selanjutnya pasien harus meyakini bahwa semua kejadian yang sebabnya dari Allah swt adalah absolut kebaikan untuk manusia. Dengan keyakinan ini pola pikir manusia insya Allah akan selalu baik.

Hapuslah keburukan dengan mendirikan shalat. "Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat". (Hud, 11:114)

Itulah pola pikir mendasar yang harus dimiliki setiap pasien agar bisa sembuh dan tetap sehat. Sekalipun azal menjemput, insya Allah pasien punya harapan meninggal dalam kondisi berkeyakinan kepada Tuhan Yang Esa. Demikianlah tugas para ahli pengobatan dalam mengobati. Wallahu ‘alam.   

(Penulis Master Logika_Tuhan)

Wednesday, May 16, 2018

SABAR ITU BUKAN MENAHAN MARAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Pak jika ada orang yang ngata ngatain kita, apa yang harus kita lakukan…? Baca Surah Al Israa ayat 7. Pahami logikanya bukan di baca berulang-ulang ya. Ya pak haturnuhun, semoga bisa menahan emosi (marah)”. Potongan chating di media sosial dengan seorang kawan mencerminkan bahwa logika Tuhan harus serius diajarkan agar mereka bisa bahagia dalam segala kondisi.

Sebetulnya sikap kita sederhana. Ketika ada orang menghina, mengata-ngatai, memfitnah, menjelek-jelekkkan, menyalah-nyalahkan, yang harus kita lakukan adalah bahagia. Yang belum paham logikanya tentu saja terheran-heran. Kok bisa, di fitnah, dijelek-jelekkan, malah bahagia. Boa edan! Hehe… Panduan berpikirnya dari sini ni, surah Al Israa ayat 7.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri
jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,

coba kita andaikan yang mengata-ngatai itu kita. Artinya ketika kita mengata-ngatai orang lain, maka kata-kata itu akan kembali ke siapa? Ke kita kan. Jika kata-kata kita buruk, keburukan untuk kita, jika kata-kata kita baik, kebaikan untuk kita. Itu yang dimaksud dengan logika Tuhan.

MEREKA YANG SUDAH BELAJAR LOGIKA TUHAN, SEMUA KABAR ADALAH BAIK
Maka sikap apa yang harus kita lakukan jika ada yang ngata-ngatain kita? Jawabannya jangan lupa! bahagia. Kenapa harus bahagia? karena yang terima keburukan yang ngata-ngatain bukan kita. Jadi, sedikit pun kita tidak sedang terancam oleh apapun yang dikatakan orang.

Sedangkan sikap bahagia dalam menyikapi sikap buruk orang lain terhadap kita, akan melahirkan prilaku baik selanjutnya yaitu sabar. Jika kita berhasil bersikap sabar menyikapi sikap buruk orang lain, ingat janji Allah kepada orang sabar!

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fushshilat, 41:35).

Coba lihat logika ayat di atas!! akan dianugerahkan kepada orang-orang sabar keberuntungan yang besar. Inilah makna bahwa kabar-kabar dari Al-Qur’an itu selalu membuat kita bahagia. Jadi, jangan lupa selalu bahagia dengan belajar logika Tuhan dari Al-Qur’an.  

Kesimpulannya, sabar itu bukan menahan amarah, tapi sabar itu bahagia menunggu janji akan diberi keberuntungan yang besar dari Allah. Itulah manfaat dari memahami logika Tuhan dari Al-Qur’an, kita akan tergolong manusia-manusia yang berakhlak mulia.  Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Logika Tuhan)

MANUSIA BERAKHLAK ALLAH


Dalam sebuah hadis diceriatkan bahwa ada seorang ayah yag memasuki kehidupan yang penuh penderitaan, alias neraka. Sebaliknya, anak orang tersebut berada dalam kehidupan yang penuh kenikmatan, alias di surga. Anak tersebut memohon kepada Allah agar dirinya dimasukkan ke dalam neraka untuk menggantikan ayahnya. Tetapi Allah itu maha penyantun! Akhirnya ayah tersebut dikumpulkan dengan anaknya yang ada di syurga. Karena itu manusia diperintahkan berakhlak dengan akhlak Allah, takhallaqu bi khuluqillah. Berbudi pekertilah kamu dengan budi pekerti Allah. (Chodjim, 2005).

"Sesungguhnya Allah telah membagikan akhlak di antara kalian, sebagaimana Dia telah membagikan rezeki diantara kalian. Sesungguhnya Allah memberikan harta kepada orang yang dicintai dan tidak dicintai. Namun dia tidak memberikan keimanan kecuali kepada orang yang Dia cintai..." (HR. ath-Thabarani)

Sembilan puluh sembilan nama Allah yang sering anak-anak hafalkan sesungguhnya adalah akhlak-akhlak Allah yang harus jadi patokan prilaku manusia. Akhlak-akhlak Allah ini adalah 99 kecerdasan yang bisa dimiliki manusia, dan harus diajarkan di rumah dan sekolah-sekolah dalam kegiatan pendidikan karakter.

KUALITAS PENDIDIKAN DI SATUAN PENDIDIKAN TERGANTUNG PADA AKHLAK PARA PENDIDIK
Akhlak-akhlak Allah secara aplikatif dijelaskan di dalam kitab suci Al-Qur’an. Akhlak-akhlak Allah ini menjadi standar prilaku yang harus diwariskan dari generasi ke generasi melalui proses pendidikan. Sudah seharusnya para pelaku pendidikan memahami prilaku-prilaku dasar ini. Agar kualitas sumber daya manusia dari tahun ke tahun tidak mengalami penurunan kualitas.

Diantaranya ada empat Akhlak Allah paling dasar yang harus diajarkan kepada anak-anak. Tiga Akhlak Allah ini dianggap akhlak paling mendasar karena bagian dari kunci-kunci keberhasilan dalam pendidikan.

Kegagalan kita dalam dunia pendidikan, sesungguhnya tidak memiliki persepsi yang sama tentang standar prilaku yang harus diajarkan. Standar prilaku dalam  pendidikan seolah-olah mengalami perubahan karena mengikuti perkembangan zaman dan pemikiran manusia. Padahal akhlak manusia mengikuti akhlak Allah yang tidak mengalami perubahan. “walantajida lisunnatillohi tabdiila” (kamu sekali kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu).

Ahlak Allah pertama adalah Maha Mengetahui. Akhlak Allah maha mengetahui diimplementasikan oleh dunia pendidikan dalam memelihara dan meningkatkan kemampuan membaca (kemampuan literasi). Literasi dianggap sebagai implementasi akhlak Allah yang maha mengetahui. Dalam kegiatan membaca Allah memberikan kemurahannya kepada manusia untuk mengetahui segala rahasia, dan sunatullah yang berlaku di alam semesta. (Al Alaq, 96:1-4).

Akhlak Allah yang kedua Maha Kuasa diimplementasikan dengan menjadikan Allah sebagai satu satunya penolong. Dalam dunia pendidikan di praktekkan dengan melatih anak-anak untuk selalu beriman dan berkeyakinan kepada Allah sebagai penolong. Bagi umat Islam dengan menjadikan ritual salat sebagai prilaku dasar dalam meminta pertolongan kepada Tuhan Yang Esa. Konsep salat sebagai sarana untuk minta tolong kepada Allah sebagaimana di jelaskan dalam Al-Qur’an.

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah, 2:153)

Konsepsi salat sebagai cara minta tolong kepada Allah, harus diajarkan kepada anak-anak, agar mereka memiliki arah tujuan yang jelas dalam melaksanakan ritual salat. Ritual ini akan membangun kompetensi spiritual anak-anak.

Akhlak Allah yang ketiga adalah Maha Pemelihara, diimplementasikan dengan mengajarkan anak-anak untuk berbakti kepada orang tuanya. Implementasi akhlak hormat pada orang tua, guru, menjadi samar ketika model pembelajaran, mengajarkan agar hubungan antara orang tua, guru, dengan anak harus seperti seorang teman. Hasilnya anak-anak mengalami disorientasi tujuan hidup, di mana guru-guru, orang tua, harga dirinya menjadi sederajat, karena dianggap sebagai teman.

Hubungan antara guru dan peserta didik seharusnya mengikuti akhlak Allah yang diterapkan oleh para ibu terhadap anaknya, yaitu memelihara anak-anaknya dengan tidak ada harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Para guru yang memiliki akhlak pemelihara akan mengubah anak-anak menjadi anak cerdas dan berkahlak mulia.

Anak-anak seharusnya diajrakan untuk memperlakukan guru sebagaimana perlakuan anak terhadap orang tuanya, dia harus taat, patuh, dan berbakti dengan sebaik-baiknya. Dengan diajarkan Akhlak Allah, anak-anak akan menjadi guru untuk generasi berikutnya di mana pun mereka berada. (baca, Al-Israa, 17:23).

Akhak Allah Ke empat adalah Maha Pemberi. Alam semesta diciptakan dengan hukum dasar memberi. Manusia adalah makhluk pewaris bumi, yang harus melestarikan bahwa memberi adalah konsep dasar penciptaan alam semesta. Manusia pemberi adalah penjaga keseimbangan alam.

Sementara ini akhlak anak-anak berubah ketika diajarkan ekonomi bagaimana meminimalisir pengeluaran untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Padahal akhlak Allah tidak mengajarkan demikian. Allah mengajarkan dengan akhlaknya bahwa untuk mendapatkan keutungan yang besar, manusia harus berani memberi dan berkorban dengan sempurna. (Baca, Al-Kautsar, 108:1-3)

Itulah empat akhlak Allah yang harus diajarkan kepada manusia dari masa ke masa. Teknologi boleh berubah, tetapi sustansi pendidikan paling mendasar yang tujuannnya mewariskan akhlak-akhlak Allah tidak akan pernah mengalami perubahan.

Kesenjangan sosial, kekerasan, dan kedzaliman di muka bumi ini bersumber dari kegagalan pendidikan dalam mewariskan akhlak-akhlak Allah kepada anak-anak didik. Disorientasi pendidikan terjadi karena manusia telah melepaskan diri dari pengetahuan-pengetahuan hidup yang terdapat dalam kitab suci (Al-Qur’an). Kitab suci tidak dijadikan rujukan, karena terjebak oleh pola pikir kaum naturalis yang tidak percaya kepada Tuhan sebagai pemilik segala pengetahuan. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master @Logika Tuhan)

Thursday, May 10, 2018

GENERASI SUPER EINSTEIN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Mengapa Einstein menjadi ikon manusia cerdas secara intelektual? Karena Einstein mampu memahami gejala alam dengan kemampuan visualisasi pikirannya.

Kasarnya Einstein bisa menemukan realitas alam tanpa di dahulu penelitian. Dia mengemukakan teori dengan kemampuan berpikirnya. Einstein mampu berpikir deduktif, mengeluarkan teori tanpa penelitian, otaknya seperti kamus berjalan.

Ustad Yana adalah salah satu generasi Einstein abad 21. Dengan kemampuan visualisasinya, Ustad Yana mampu melakukan visualisasi organ tubuh manusia tanpa melakukan penelitian dan kuliah spesialis di kedokteran.

PARA PASIEN YANG SUDAH TIDAK TERTANGANI DENGAN PENDEKATAN MEDIS KONVENSIONAL
Selain melihat seluk beluk organ tubuh manusia, Ustad Yana mampu membersihkan, memotong, dan mengganti organ-organ tubuh manusia seperti yang dilakukan para dokter ahli bedah otak dan jantung.

Pasien yang sudah masuk daftar operasi jantung untuk pasang ring, dinyatakan sehat dan batal operasi. Ustad Yana mampu melakukan memperbaiki pembuluh darah yang tersumbat dengan memotong bagian yang tersumbat dan menyambungkannya kembali tanpa melakukan pembedahan. Operasi pembuluh darah itu dilakukan dengan kemampuan visualisasi yang dimilikinya.

Dengan kemampuan visualisasinya Beliau memahami seluk beluk organ jantung, seperti dokter spesialis jantung. Beliau mampu memperbaiki fungsi katuf jantung yang lemah, dan menambal jantung yang bocor.

Beliau juga memampu melakukan cangkok otak. Otak besar yang sudah membusuk, Beliau ganti dengan otak baru tanpa menunggu donor otak. Otak baru dia dapatkan dari kemampuan visualisasinya.

Seorang dokter spesialis yang terkena radang akut di hidung, setelah berusaha mengobatinya ke dokter di Jerman dan Singapura, diobati oleh Ustad Yana dalam hitungan menit. Dengan kemampuan visualisasinya, Beliau lakukan operasi dengan memmbuat saluran baru dari otak ke hidung dan hidung dokter itu kembali bekerja dengan normal sampai sekarang.

Cara pengobatan yang dilakukan Ustad Yana belum terjangkau oleh akal rasional empiris. Tetapi dari segi ontologi dan aksiologi apa yang dilakukan Ustad Yana dapat dipahami secara filosofis.

Hal yang masih menyisakan misteri dari apa yang dilakukan Ustad Yana adalah bagaimana cara mendapatkan ilmu tersebut. Jadi pada tahap epistemologi apa yang dilakukan Ustad Yana perlu kajian inten. Ilmu ini harus bisa dipelajari dan diwariskan.

Ustad Yana adalah ilmuwan Super Einstein yang ahli dalam ilmu kedokteran tanpa kuliah dan penelitian. Untuk menggali asal-usul, struktur, metode, dan sahnya,  ilmu yang dimiliki Ustad Yana perlu perhatian dan kajian secara berkesinambungan dari para ilmuwan.

Inilah babak baru ilmu pengetahuan di abad fisika kuantum. Babak ilmu yang meneliti benda-benda super halus dan harus dikembangkan teknologi visualisasi yang bisa menangkap benda-benda superhalus.

Mikroskop kecepatan sangat tinggi harus diciptakan untuk bisa menangkap benda-benda dengan kecepatan tinggi, seperti yang sudah dilakukan oleh Masaru Emoto dalam meneliti berbagai macam bentuk heksagonal yang terdapat dalam berbagai jenis air.

Ke depan penelitian-penelitian akan difokuskan pada prilaku benda-benda super kecil yang saat ini baru terdekteksi geraknya saja tetapi wujudnya tidak terlihat. Ilmuwan fisika menyebutnya, gerakan-gerakan super cepat terlihat dalam bentuk vibrasi energi (gerakan bolak balik dalam satu interval). Gerakan ini seperti makhluk halus yang kasat mata.  

Entah berapa puluh tahun lagi, apa yang dilakukan Ustad Yana bisa dipahami secara epistemologi. Sedikit-sedikit akan terungkap oleh manusia, bahwa kecerdasan makhluk Tuhan tidak akan melebihi kecerdasan Tuhan Allah swt. Semoga Tuhan Allah swt melimpahkan ilmu kepada kita semua. Wallahu ‘alam.


(Penulis Master Logika_Tuhan)

SETIAP MUSLIM PASTI KAYA!

OLEH :MUHAMMAD PLATO

Sebentar lagi Ramadan, ada dua pola pikir yang kemungkinan hinggap di kepala orang. Pertama, sambut ramadan dengan banyak banyak sedekah. Kedua, sambut ramadan dengan berburu sedekah.

Jika biasanya orang-orang banyak kritik orang kaya, sekarang saya akan mengkritik orang-orang fakir (miskin). Supaya adil, karena orang kaya dan orang miskin sama-sama punya kelemahan.

Pernah anda saksikan bagaimana orang-orang miskin berebut sedekah? Tua, muda, anak-anak, ikut terjun berebut sedekah, sampai berujung maut. Pemandangan ini terjadi di saat-saat menjelang akhir bulan ramadan.

Dari luar sana orang akan melihat kejadian itu sebagai gambaran negatif orang-orang miskin beragama Islam. Jika disebar luaskan akan menjadi kampanye negatif untuk umat Islam.


SETIAP MUSLIM PASTI KAYA, KARENA TUHAN MENGAJARKAN INFAK BUKAN MINTA
Padahal mereka yang berebut sedekah atau zakat, dia bukan orang Islam. Mereka baru tercatat di dalam kartu penduduknya sebagai orang yang beragama Islam, tetapi belum berkepribadian sebagai orang Islam.

Seseorang yang dikatakan muslim harus mengikuti standar baku prilaku. Standar baku prilaku ini tertulis, dalam Al-Qur’an. Siapa yang keluar dari standar baku prilaku sebagai seorang muslim, dia tidak dapat dikategorikan sebagai muslim.

Standar baku prilaku sebagai seorang muslim tersebut adalah percaya kepada yang ghaib (Allah), medirikan shalat, mengeluarkan infak (sedekah), berpedoman kepada Al-Qur’an, yakin pada kehidupan akhirat. (sumber: Q.S, Al-Baqarah, 2:1-5). Standar baku prilaku seorang muslim ini berlaku untuk semua orang yang dikategorikan kaya maupun miskin.

Jika mengacu kepada lima standar prilaku muslim yang ditetapkan dalam Al-Qur’an, sebenarnya tidak ada muslim miskin, semua orang yang telah menjadi muslim, mereka telah menjadi orang kaya. Semua muslim prilakunya pemberi bukan penerima. Setiap muslim akan sangat menjaga dirinya dari meminta-minta.

Allah mengabarkan bagaimana kisah seorang muslim fakir yang tetap menjaga kualitasnya sebagai muslim. Inilah gambaran indah prilaku muslim fakir yang Allah abadikan di dalam Al-Qur’an;

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Al Baqarah, 2:273)

Kualitas muslim fakir dijelaskan dalam Al-Qur’an, mereka masih terlihat seperti orang kaya, karena mereka menjaga diri dari meminta-minta. Sebuah keterpaksaan bagi mereka meminta, itupun dilakukan dengan santun, tanpa memaksa, apalagi harus berebut berdesak-desakkan. Itulah kualitas manusia fakir dalam Islam.

Maka pemandangan rebutan sedekah atau zakat saat menjelang akhir ramadan, itu bukan prilaku orang-orang Islam. Mereka adalah orang-orang lupa diri, bahwa Allah telah mengajarkan kepada seluruh lapisan masyarakat muslim untuk mengeluarkan infak, sedekah, dan zakat.

Mereka orang-orang lupa, sekalipun tidak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya, mereka harus memelihara diri dari minta-minta, dan jikalau terpaksa mereka bisa meminta dengan tidak memaksa, apalagi berebut dengan berdesak-desakan, membabi buta.

Pemandangan itu menandakan bahaya kefakiran bagi umat manusia khususnya umat Islam. Kefakiran bisa menutup keimanan manusia dari ajaran-ajaran prilaku standar yang telah ditetapkan Tuhan Allah swt. 

SETIAP MUSLIM PASTI KAYA, KARENA ALLAH MENGAJARKAN KEPADA SETIAP MUSLIM UNTUK BERINFAK BUKAN MEMINTA. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Logika Tuhan)