Sunday, May 27, 2018

SHALAT ADALAH KOMITMEN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Mereka yang tidak shalat seperti binatang”, demikian kata si penceramah. Benarkah yang tidak shalat sama dengan binatang?

Silahkan anda bisa menjawabnya dengan membaca firman Allah dalam Al-Qur’an. Burung shalat dengan mengembangkan sayapnya, karena itu Allah menjelaskan semua sudah mengetahui cara shalat dan tasbihnya.

“Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. (An Nuur, 24:41)

Lalu shalat itu apa? Sudah saya jelaskan beberapa definisi salat dalam blog ini. Silahkan di search dengan kata kunci shalat. Kali ini ada satu difinisi shalat yang saya temukan dari hasil penafsiran Achmad Chodzim (2017). Fungsi shalat yang sering ditemukan dalam Al-Qur’an sebenarnya adalah komitmen atau janji untuk bertindak. Sayangmya makna shalat yang dipahami masyarakat luas cenderung bersifat angan-angan dari pada ke arah yang nyata untuk kepentingan kesejahteraan dan kedamaian manusia itu sendiri.


Berlandasakan pada keterangan Al-Qur’an, kata shalat, Achmad Chodzim memaknainya sebagai komitmen. Sebelum melakukan aksi, komitmen harus mendahului. Komitmen manusia dalam menjalani hidup dijelaskan ada empat hal, yang diawali dengan shalat.

Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (Al An’aam, 6:162)

Achmad Chodzim menafsir kata shalat  sebagai komitmen atau janji, dilihat dari kasus yang terjadi dalam Al-Qur’an. “…maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah shalat (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu:.. (Al Maidah, 5:106)

Kasus dalam ayat di atas adalah ada orang yang berlainan agama dijadikan sebagai saksi. Kemudian diajak bersumpah setelah shalat. Menurut Achmad Codzim, makna setelah shalat di sini bukan ritual, berdoa, karena dalam kasus itu ada orang berlainan agama. Sehingga tidak mungkin dalam ayat ini, shalat dimaknai kegiatan ritual, tetapi tepatnya dimaknai sebagai komitmen atau janji.

Jika kita mengacu pada keterangan ayat sebelumnya, seluruh makhluk sudah ditetapkan cara shalat dan tasbihnya. Ini artinya secara general seluruh makhluk di muka bumi ini kafir atau tidak, mereka melakukan shalat dalam arti komitmen atau janji.
Hanya saja Allah memberikan penjelasan bahwa sekalipun semua makhluk shalat (berkomitmen) dengan caranya masing-masing, shalatnya ada yang sia-sia, digambarkan sebagai siulan dan tepukkan belaka.

Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. (Al Anfaal, 8:35).

Shalat atau komitmen mereka yang seperti siulan dan tepukan adalah mereka yang berkomitmen dengan selain Allah, atau mereka yang berkomiten tidak sampai pada tataran aksi. Mereka yang berkomitmen tidak sampai pada tataran aksi adalah mereka yang shalatnya hanya ritual saja, tidak sampai mengubah akhlaknya.  

KOMITMEN DIULANG-ULANG

Untuk membangun kesadaran dan kesucian jiwa, komitmen harus diulang-ulang. Manusia terkena sifat lupa, maka dari itu setiap berkomitmen harus ada waktu-waktu yang ditentukan.

Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (An Nisaa, 4:103)

Dari berbagai keterangan dalam ayat suci Al-Qur’an dan pertimbangan hadis, bahwa shalat (komitmen) adalah bagian hidup manusia yang paling penting. Ritual shalat yang kita kerjakan setiap waktu adalah pembaharuan komitmen kepada Tuhan, agar komitmen kita tidak seperti siulan dan tepukan. Agar komitmen tidak seperti siulan dan tepukan, setiap komitmen harus diusahakan sekuat tenaga untuk diimplementasikan. Komitken kita kepada Allah adalah mengeluarkan harta sebagai harta yang kita miliki untuk kepentingan orang banyak. Demikian makna shalat. Wallahu’alam.

(Penulis, Master of logika Tuhan).

No comments:

Post a Comment