Sunday, December 15, 2013

NABI MUHAMMAD SAW MAHA GURU LOGIKA TUHAN (4)



Puji syukur kita panjatkan kepada Allah swt. Shalawat dan salam bagi Nabi Besar Muhammad SAW penutup dari para Nabi. Maha guru yang menuntun umat manusia berpikir dengan logika Allah swt.  Kali ini saya akan jelaskan ajaran logika dari Nabi Muhammad SAW. sebagai berikut; 

“Aku bersama dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, maka hendaklah ia BERPRASANGKA dengan apa yang DIINGINKAN, bukan yang ia risaukan dan khawatirkan”. (Hadis Qudsi).

Hadis di atas mengajarkan kepada kita tentang cara berpikir (belogika) positif. Cara berlogika positif adalah memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan bukan pada yang kita khawatirkan. Konstruksi logika dari hadis di atas adalah sebagai berikut:

BERPRASANGKA------BERAKIBAT-----BERWUJUDNYA KEINGINAN
(ISI PIKIRAN-----------BISA JADI-------KENYATAAN)

Konstruksi logika di atas menjelaskan kepastian bahwa setiap prasangka (isi pikiran) akan berubah menjadi kenyataan. Untuk itulah hadis di atas mengajarkan kita untuk fokus pada apa yang kita inginkan atau cita-citakan, karena hadis di atas menginformasikan bahwa setiap prasangka (isi pikiran) akan berubah menjadi kenyataan.

Mari kita bandingkan konstruksi logika di atas, dengan konstruksi logika firman Allah swt di bawah ini. Konstruksi logika hadis di atas bersumber dari konstruksi logika di bawah ini;

Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah BENAR-BENAR (AKAN TERJADI) seperti PERKATAAN YANG KAMU UCAPKAN. (Adz Dzariyat:23)

Logika Allah swt;       PERKATAAN----BERAKIBAT---KEJADIAN NYATA
Logika Rasulullah;      PRASANGKA----BERAKIBAT---KENYATAAN

Setiap PERKATAAN pada hakikatnya bersumber dari isi pikiran. Segala isi pikiran adalah PRASANGKA. Perkataan dan Prasangka sama-sama bersumber dari isi pikiran. Jika Tuhan adalah sumber logika, maka setiap perkataan (hadis) Nabi Muhammad saw, mengandung unsur logika dari Tuhan yang bersumber dari Al-Qur’an. 

Harus diyakini, semua isi pikiran (prasangka atau perkataan) akan benar-benar menjadi kenyataan. Isi pikiran buruk akan melahirkan keburukan, sebaliknya isi pikiran baik akan melahirkan kebaikan. Maka kunci sukses paling mendasar hidup dimuka bumi ini berawal dari apa isi pikiran.

Sangat logis jika kita harus berpikir pada apa yang kita inginkan, karena kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Maka berprasangkalah bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, dengan demikian semua keinginan Anda akan berubah menjadi kenyataan.

Kesimpulannnya, konstruksi logika yang ada dalam hadis Nabi Muhammad saw, adalah konstruksi logika Al-Qur’an yang bersumber dari Allah swt. Hadis Nabi adalah konstruksi logika Allah yang dikonstruksikan oleh Nabi Muhammad saw ke dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh umat.

Selanjutnya dapat dipahami bahwa urusan pikiran berkaitan dengan urusan NIAT. Pengertian niat dalam hal ini adalah prasangka atau perkataan yang melatarbelakangi sebuah perbuatan. Niat tidak bisa dilihat kasat mata, karena ada dalam alam pikiran yang abstrak. Untuk itulah Rasulullah mengeluarkan sebuah kontrsuksi logika hadis yang masih berkaitan dengan prasangka yaitu, “...setiap orang akan memperoleh apa yang diniatkan.” (HR. Muslim. Wallahu ‘alam

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me@logika_Tuhan

NABI MUHAMMAD SAW MAHA GURU LOGIKA TUHAN (3)



Shalawat dan salam bagi Nabi Besar Muhammad SAW penutup dari para Nabi. Maha guru yang menuntun umat manusia berpikir dengan logika Allah swt.  Kali ini saya akan jelaskan ajaran logika dari Nabi Muhammad SAW. sebagai berikut; 

“Sesungguhnya BESARNYA PAHALA sesuai dengan BESARNYA UJIAN dan jika Allah mencintai suatu kaum Dia akan menguji mereka, siapa yang rida maka baginya keridaan (Allah) dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah)”. (HR. Tirmidzi No. 2576, disahihkan oleh Al-Albani).

Hadist di atas mengajarkan logika sebagai berikut:

BESARNYA UJIAN ----BERAKIBAT-----BESARNYA PAHALA.

Kata UJIAN, memiliki makna luas. Padanan kata ujian dalam keseharian bisa kita amati sebagai bentuk-bentuk kesulitan yang sering kita hadapi. Bentuk-bentuk kesulitan itu seperti sakit, PHK, kehilangan jodoh, ditipu, gagal bisnis, ditimpa bencana, difitnah orang, kesangkut korupsi, orang terkasih meninggal dan sebagainya.

Kata PAHALA, juga memiliki makna luas. Pahala dapat kita baca sebagai segala bentuk kesejahteraan di dunia dan akhirat nanti. Segala bentuk yang mensejahterakan adalah menyenangkan. Untuk itu pahala di dunia kita rasakan ketika cita-cita tercapai, sembuh dari sakit, binis lancar, anak-anak lulus ujian, dapat jodoh, dapat kerjaan baru, dapat rumah baru, jabatan baru dan sebagainya.  

Maka tenang saja, segala kesulitan dalam hidup ini, memiliki nilai positif. Inilah pegangan berpikir (logika) yang harus kita yakini setiap kali terima kesulitan. Sebab sesuai keterangan dari Nabi Muhammad saw, BESARNYA KESULITAN (UJIAN), akan berakibat (dibarengi) datangnya BESAR PAHALA.

Pertanyaan, dari mana Nabi Muhammad saw, berkyakinan seperti itu? Tidak lain semua ajaran Nabi Muhammad saw datangnya dari Tuhan, Allah swt. Sumber logika berpikir yang diajarkan Nabi Muhammad saw dapat dilihat dari Firman Allah swt di bawah ini:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu NIKMAT YANG BANYAK. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan BERKORBANLAH”. (Al Kautsar : 1-2)

Firman di atas, memiliki kontruksi logika yang sama seperti logika yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Mari kita bandingkan Logika Tuhan dengan Logika yang diajarkan Nabi Muhammad saw.

Logika Allah swt------------------ BERKORBAN akibatnya NIKMAT YANG BANYAK
Logika Nabi Muhammad saw ---- BESAR KESULITAN akibatnya BESAR PAHALA

Inilah logika Yang Maha Perkasa, sumber ajaran logika Nabi Muhammad saw yang akan membentuk pribadi-pribadi agung dan tangguh di muka bumi ini. Rasulullah saw adalah pribadi agung dan tangguh dalam menghadapi berbagai cobaan. Penganiayaan, rencana pembunuhan, perang, blokade ekonomi, penghkhianatan, semua dihadapi dengan harapan pahala besar. Tidak adalagi kesulitan yang menyulitkan, dengan logika Tuhan kesulitan diubah menjadi hadiah besar dari Allah swt.

Tiba saatnya, Allah swt menepati janji, besarnya kesulitan dibayar dengan besar pahala. Setelah 13 tahun Nabi Muhammad saw dihadapkan pada masalah-masalah besar dalam upaya mensejajarkan Islam sebagai agama dunia, maka tibalah saatnya Islam diakui sebagai agama dunia diawali dengan penaklukkan Mekkah. Sejak saat itu Islam menyebar ke dunia Barat dan Timur.  

Masa-masa ini akan terulang setelah hampir 1500 tahun umat Islam menghadapi ujian-ujian besar. Pada waktunya Allah swt akan menepati janjinya. Orang-orang tertindas akan mendapatkan pahala besar dari Allah swt, dan para penindas akan menduduki posisi terendah dihadapan Tuhan. Wallahu ‘alam.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @ logika_Tuhan.

Tuesday, December 10, 2013

IDEOLOGI DIBALIK KONDOM



Sudah diperkirakan sejak awal, Pekan Kondom Nasional yang ditandai dengan kegiatan bagi-bagi kondom kepada masyarakat akan menuai kontroversi. Sebelumnya rencana pembuatan ATM Kondom di tempat umum, yang sama digagas untuk mengendalikan penyebaran penyakit HIV/AID, urung terlaksana.

Dalam nuansa religius, masyarakat tidak memandang kondom sebagai alat penghambat penularan HIV/AIDS belaka. Di balik kondom, masyarakat menganggap ada ideologi yang bertabrakan dengan nilai-nilai ajaran agama. Perbuatan jinah jangankan melakukan, mendekati saja sudah dilarang. Untuk itu anjuran penggunaan kondom agar aktivitas seks (perjinahan) aman dari penularan HIV/AIDS, dianggap bertentangan dengan nilai-nilai agama.   

Lain halnya di negara-negara sekuler, penggunaan kondom dianggap salah satu langkah tepat untuk mengurangi penyebaran penyakit HIV/AIDS. Sebab di dalam kepercayaan sekuler, tidak ada larangan jinah, bahkan berhubungan seks di luar nikah menjadi gaya hidup masyarakat. Memenuhi kebutuhan seks, dianggap seperti memenuhi hajat ketika perut lapar, bisa makan di warung mana saja. Bahkan dalam budaya sekuler, hidup serumah sebelum nikah dianggap budaya dan lumrah dilakukan sebagai langkah awal menuju jenjang pernikahan. 

Di dalam masyarakat religius, perbuatan seks di luar nikah dianggap dosa besar, pelakunya dipandang rendah, dan akan mendapat sanksi sosial (dikucilkan), karena dianggap tidak taat pada nilai-nilai ajaran agama. Untuk itu para pelaku seks di luar nikah, penjaja seks, homoseks, lesbi, tidak diterima keberadaannya di lingkungan masyarakat.

Sekalipun di negara-negara religius, praktek-praktek seks menyimpang itu ada, namun tidak berarti keberadaannya menjadi sebuah kebiasaan yaang wajar diterima masyarakat. Prilaku seks diluar nikah tetap dinilai negatif karena bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama. Sekalipun masyarakat diam, tetapi di tataran ideologi  masih menjaga nilai-nilai ajaran agama untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Maka dari itu, Pekan Kondom Nasional yang bertujuan mensosialisasikan penggunaan kondom dalam hubungan seks beresiko (jinah), guna menghambat penyebaran HIV/AIDS, mengalami hambatan ideologis. Pesan penggunaan kondom untuk mengendalikan penularan HIV/AIDS, dipersepsi melegalisasi, memfasilitasi, dan memberi saran kepada seluruh masyarakat untuk berhubungan seks di luar nikah dengan aman. Sementara di dalam ajaran agama sangat dilarang.

Bukan masyarakat yang tidak memahami tujuan penggunaan kondom dalam penyebaran HIV/AIDS, tapi cara padangnya yang berbeda. Semua sepakat, penularan penyakit HIV/AIDS harus sesegera mungkin diantisifasi.
 
Di negara-negara sekuler, penggunaan kondom dalam hubungan seks bebas sesuai dengan ideologi mereka. Berhubungan seks bebas bukan perkara negatif. Justru melarang, menghambat, atau mengganggu seseorang untuk berhubungan seks bebas adalah suatu pelanggaran hak asasi dan dianggap perbuatan tercela.
Dalam persepsi masyarakat religius, penggunaan kondom dapat diterima hanya sebagai alat kontrasepsi pengendali kehamilan bagi pasangan suami istri. Penggunaan kondom bagi mereka yang sudah terkena penyakit HIV/AIDS, dan pelaku seks bebas, dapat dibenarkan tetapi tidak mesti dipublikasikan dalam konteks nasional.

Pasalnya, jika penggunaan kondom disosialisasikan secara terbuka, bisa jadi ada orang-orang terinspirasi, dan merasa nyaman melakukan jinah karena ada kondom. Maka, dikhawatirkan Pekan Kondom Nasional, yang tadinya bertujuan menghambat penyebaran HIV/AIDS, justru mengedukasi masyarakat untuk melakukan hubungan seks bebas dengan nyaman.

Pemerintah dan semua pihak, harus kreatif mengemas program. Kiranya, adil, jika upaya menghambat penyebaran HIV/AIDS dilakukan dengan mengedukasi masyarakat agar semakin taat pada ajaran agama. Selain itu digencarkan kembali program-program pembinaan masyarakat, pemberdayaan perempuan, untuk membangun kehidupan keluarga damai, harmonis dan sejahtera demi terlahirnya generasi berkualitas tanpa seks bebas. Wallahu ‘alam
Salam sukses dengan Logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan

Tuesday, December 3, 2013

KELOMPOK ILUMINATI MEMBAJAK ISU GENDER

Islam meninggikan derajat kaum perempuan tiga kali lipat dari pada kaum laki-laki. Di atas kepemimpinan laki-lakilah kedudukan perempuan harus di posisikan paling tinggi dan terhormat.

Kita setuju, kaum perempuan harus memiliki kesempatan mengembangkan bakat dan potensinya sebagaimana halnya kaum laki-laki. Mitos perempuan hanya bisa masak, cuci, dan urus anak di rumah, terlalu berlebihan dan mendeskreditkan kaum perempuan.

Kita hargai perjuangan Kartini, dan Dewi Sartika yang ingin meningkatkan harkat dan martabat kaum perempuan melalui pendidikan. Faktanya, kaum perempuanlah yang harus cerdas di banding laki-laki. Perempuan adalah madrasah pertama untuk anak-anak penerus bangsa. Maka logis, dari perempuan tidak cerdas akan lahir generasi-generasi lemah. Sangat logis juga jika ajaran agama mengatakan bahwa penghormatan tiga kali lipat harus diberikan kepada kaum perempuan.

Namun apa perlu kita pikirkan kembali? Fakta ada gejala kaum perempuan bukan sedang dicerdaskan dan ditinggikan derajatnya, tapi telah dimanfaatkan. Isu gender telah disalahgunakan untuk mengekploitasi kaum perempuan sebagai mesin pencetak uang bagi para kaum kapitalis. Fakta ini bisa kita saksikan, pabrik-pabrik stereotif merengkrut tenaga kerja perempuan secara besar-besaran. Berkembang opini sesat bahwa kaum perempuan bekerja lebih teliti, mudah diatur, dan tidak banyak tuntutan seperti kaum laki-laki.

Sepintas lalu, rekruitmen besar-besaran tenaga kerja perempuan tidak bermasalah jika melihat data statistik pengangguran. Atas nama indek daya beli, kepala daerah mana yang tidak tergiur dengan munculnya pabrik-pabrik baru di wilayah mereka. Sawah-sawah produktif mulai terancam untuk dialih fungsikan menjadi pabrik-pabrik. Masalah lingkungan, ancaman kekurangan pangan, gimana nanti, yang logis di depan mata adalah indek daya beli meningkat dan IPM naik.

Tapi, apakah mereka pernah berpikir kritis bahwa rekuitmen besar-besaran tenaga kerja perempuan dapat berdampak pada perubahan sosiologi masyarakat. Perempuan-perempuan itu berangkat kerja pagi pulang menjelang magrib. Di depan gerbang, kaum laki-laki menunggu, menjemput istrinya pulang kerja. Apakah kita tahu, kaum laki-laki itu mulai kehilangan lahan pekerjaan dan terpaksa menjadi pekerja dirumah tangga.

Jika kaum perempuan sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya, apakah mereka mendidik anaknya secara inten, padahal kita tahu mereka bekerja hampir seharian. Bisakah kita mengubah kodrat laki-laki menjadi berjiwa ibu-ibu yang telaten mengurus dan merawat anak?

Apakah kita sadar, kodrat ibu tetaplah ibu, sekalipun telah bekerja seharian di luar rumah, naluri ibu akan kembali pada kodratnya merawat anak, dan mengurus rumah tangga. Akibat kodrat inilah penelitian di Amerika Serikat membuktikan, bahwa kaum perempuan yang bekerja di luar rumah, bekerja dua kali lipat lebih lama dibanding kaum laki-laki (Elison:2011). Apakah ini bukan ekploitasi kerja atas nama gender?


Tahukah kita, para tenaga kerja di luar negeri yang kebanyakannya perempuan berinteraksi dalam jangka waktu lama tanpa lawan jenis, mereka berkumpul di penampungan sesama jenis, bekerja, dan liburan sesama jenis. Kondisi ini telah menimbulkan efek negatif terhadap psikologi kaum perempuan, yang mulai tertular penyakit lesbi, menyukai sesama jenis.

Sebuah surat kabar nasional memberitakan, bahwa di suatu daerah kekerasan di rumah tangga mengalami peningkatan. Salah satu alasan adalah kondisi laki-laki yang mulai sulit mencari pekerjaan. Masuk akal jika percekcokkan akan timbul dalam kehidupan keluarga, karena perubahan peran kaum laki-laki menjadi bapak rumah tangga tidak semudah membalikkan tangan.

Apakah kita tahu, para iluminati (kelompok penyembah setan), membajak isu persamaan gender menjadi penghapusan gender?   Mereka menginginkan pria berpenampakkan fisik wanita. Dengan gender netral, masyarakat menjadi jinak dan mudah diatur untuk keuntungan mereka. Secara statistik, di Amerika Serikat laki-laki dan perempuan yang tidak menikah semakin meningkat jumlahnya. Ini artinya manusia akan mengalami defisit generasi penerus.

Henry Makow (2013) seorang ahli teori konspirasi mengemukakan bahwa rekayasa sosial ini mereka susupkan dalam pendidikan, politik, dan bisnis. Anak-anak di sekolah sejak dini, sedikit demi sedikit diajarkan untuk tidak kenal bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan. Dalam dunia politik mulai dibuat regulasi untuk mendongkrak keikutsertaaan kaum perempuan dalam kancah politik. Dan dalam dunia bisnis, mulai muncul kebijakan rekruitmen tenaga kerja hanya untuk kaum perempuan dengan alasan teknis yang semua orang secara logis bisa menerimanya.

Tetapi apakah kita berpikir apa dampak bagi keluarga bila kaum perempuan habis separuh waktunya untuk bekerja di pabrik. Siapa yang urus pendidikan anak-anak dan melayani suaminya. Solusinya memang selalu ada, bisa mengangkat pengasuh, sekolah fullday, atau diurus suami yang harus dipaksa menjadi keibuan.
Namun apakah kita akan tutup mata, jika menurut Elison, hasil riset anak-anak yang diurus oleh ibu biologisnya dengan penuh kehangatan dia dapat tumbuh menjadi manusia cerdas, sehat dan lebih tahan terhadap stres? Apakah kita yakin bahwa gejala tawuran yang terjadi pada anak-anak sekolah adalah mereka yang telah dirawat oleh ibunya dengan penuh kehangantan? Apakah semua orang tahu, bahwa kualitas kehidupan di rumah merupakan faktor penentu mendasar terhadap kesehatan fisik dan mental anak? Jangan-jangan kita telah terlalu jauh mengapresiasi tentang isu persamaan gender ini. Jangan-jangan benar apa kata Henry Makow bahwa kita telah dikondisikan oleh para iluminati untuk tidak percaya kepada Tuhan, yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan sesuai dengan kodrat-kodratnya dengan penuh keseimbangan. Sasaran para iluminati adalah hancurkan kehidupan keluarga, dan usir kaum perempuan dari lingkungan rumahnya. Wallahu ‘alam.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan

Tuesday, November 26, 2013

KEDAMAIAN PENYEBAB KESUKSESAN ANDA



Suatu hari, saya dihadapkan pada masalah yang sebenarnya tidak sulit untuk dipecahkan. Pihak pertama merasa tidak bersalah, pihak kedua merasa tidak bersalah. Kedua belah pihak berposisi tegang mempertahankan posisinya.

Lalu kedua belah pihak berusaha mengurai urutan masalah untuk mencari pembenaran, siapa yang salah dan siapa yang benar. Pihak pertama mengajukan bukti-bukti untuk membenarkan posisinya. Tapi pihak kedua menyangkal semua bukti dan merasa telah difitnah.

Selanjutnya, pihak kedua mengajukan pihak pertama kehadapan hukum dengan alasan pencemaran nama baik. Pihak penegak hukum, mengembalikan masalah untuk diselesaikan secara kekeluargaan.

Sebagai peimpinan saya berinisiatif memanggil semua pihak untuk bermusyarawarah. Setelah semua hadir, saya dituntut untuk menyelesaikan masalah dengan kekeluargaan. Saya tidak tahu langkah apa yang harus saya ambil. Tapi jika dilihat dari urutan kasus, posisi kedua belah pihak sudah dalam posisi tegang, jadi sangat sulit untuk dipertemukan jika mengurai kembali siapa yang salah. Alih-alih bukan menyelesaikan masalah, malah akan semakin memperparah keadaan.

Untuk mengambil keputusan, secara psikologis saya pilah kedewasaan kedua belah pihak. Dari umur, pihak pertama belum dewasa menurut undang-undang, dan masih sangat tergantung pada orang lain. Dari pengetahuan pihak pertama belum memiliki banyak pengetahuan karena tingkat pendidikan lebih rendah dari pihak pertama. Secara psikologis tingkat kedewasaan seseorang dipengaruhi oleh luasnya pengetahuan.

Sementara posisi pihak kedua, umur sudah dewasa, tingkat pendidikan sarjana, dan menduduki posisi terhormat, serta punya kedewasaan berpikir dalam menyikapi masalah. Dari kepemilikan pengetahuan, pihak pertama sudah jauh lebih banyak pengetahuan dalam arti dewasa, karena sudah berpendidikan sarjana.

Atas dasar itu, saya ajak kedua belah pihak untuk berdamai tanpa harus mengusut siapa yang benar dan siapa yang salah. Karena pihak kedua tidak hadir, sebagai pimpinan saya mengambil posisi mewakili pihak kedua.

Pihak pertama bersikukuh, menuntut bahwa dirinya tidak bersalah dan minta direhabilitasi nama baiknya dihadapan publik. Kesepakatan pun dibuat, dengan pernyataan bahwa pihak kedua bersalah, minta maaf, dan pihak pertama mencabut tuntutannya. Konsekuensi selanjutnya, semua orang harus berkumpul dilapangan untuk terima pengumuman bahwa pihak pertama adalah orang baik dan tidak bersalah. Saya lakukan semua tuntutan dengan harapan kondisi kembali dalam keadaan damai.

Namun setelah itu, teman-teman pihak kedua akan mogok karena tidak terima keputusan yang telah disepakati sebagai bentuk solidaritas karena merasa tidak bersalah, serta merasa dilecehkan oleh pihak pertama yang masih di bawah umur (belum dewasa).

Saya mencoba menjelaskan bahwa keputusan itu diambil dengan pertimbangan, suasana damai lebih penting dari sebuah kemenangan. Alasan selanjutnya, bersitegang dengan orang-orang yang belum dewasa, menandakan bahwa kita sama-sama tidak dewasa. Kemudian untuk mendudukkan posisi kita sebagai orang baik, tidak perlu pembenaran dari opini publik. Seandainya kita bersikukuh ingin jadi orang baik karena opini publik, hal itu cerminan bahwa kita bukan orang baik. Orang-orang baik adalah orang-orang yang teguh dalam kebaikan, tanpa harus terpengaruh oleh pendapat publik, karena bagi orang-orang baik,  kebaikan itu hanya perlu disaksikan oleh Tuhan.

Dilecehkan dan ditinggikannya derajat seseorang bukan karena pendapat publik, tapi kehendak yang Maha Kuasa Allah swt. Sebagai orang baik, kita selalu diuji kemampuan untuk bersabar menanti ketentuan Allah swt, bahwa yang baik akan ditinggikan derajatnya dan yang buruk akan direndahkan kedudukannya. Ketentuan itu akan terwujud dalam selang beberapa waktu. Saksikan dengan mata kepala sendiri bahwa ketentuan Allah itu benar adanya.

Terakhir saya jelaskan mengapa damai itu lebih penting dari kemenangan. Kondisi damai jauh lebih penting karena akan melahirkan kemenangan besar. Kemenangan bukan penyebab kedamainan, tapi penyebab konflik, karena kemenangan berada di atas kekalahan orang lain. Maka cenderunglah pada kedamaian karena dibalik kedamaian ada sukses besar yang dijanjikan Tuhan.

Perhatikan firman Allah swt di bawah ini. Ada logika berpikir yang harus kita yakini! Lihat cetak tebal dan baca dengan logika.

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (An Nisaa:114)

KEDAMAIAN ADALAH SEBAB, DAN PAHALA BESAR (SUKSES, KEMENANGAN, KEJAYAAN) ADALAH AKIBATNYA. Apakah benar logikanya seperti itu? Kita lihat urutan sejarah Nabi Muhammad saw dalam menyebarkan Islam ke seluruh dunia.

Pada perang pertama (perang Badar), kaum musliman mendapat kemenangan, setelah itu berganti dengan kekalahan pada perang Uhud. Ini menunjukkan logika perjalanan hidup bahwa KEMENANGAN melahirkan konflik dan kekalahan.

Setelah kekalahan itu, Nabi Muhammad saw lebih cenderung menerima perdamaian, sekalipun kedudukan Nabi Muhammad saw dalam perjanjian damai itu direndahkan (dilecehkan). Dalam perjanjian itu Nabi Muhammad ditulis bukan sebagai Rasulullah tetapi sebagai Muhammad bin Abdullah. Ini adalah lebih dari pelecehan, karena merendahkan kedudukan seorang Nabi yang diutus langsung oleh Allah swt.

Saat itu, sesama kaum muslimin banyak yang tidak bisa menerima perjanjian damai ini karena dianggap menguntungkan lawan dan kaum muslimin berada di posisi lemah. Namun semua menyaksikan, setelah penjanjian damai itu, penyebaran Islam, hubungan diplomasi, kekuatan umat semakin bertambah besar. Sampai pada akhirnya Mekkah berhasil ditaklukkan oleh kaum muslimin di bawah pimpinan Rasulullah saw.

Bukankah ini logika dari Tuhan, bahwa kedamaian adalah penyebab lahirnya kemenangan yang besar bagi kuam muslimin. Salam sukses dengan logika Tuhan.

Follow me @logika_Tuhan