Thursday, October 4, 2018

DERITA BATIN NABI MUHAMMAD SAW

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sejarah itu pasti dongeng, namun dongeng belum tentu sejarah. Sejarah itu bersumber pada fakta, dan diceritakan dalam bentuk dongeng. Inilah dongeng fakta penderitaan Nabi Muhammad saw semasa Beliau sebelum dan sesudah menjadi Nabi. Saya susun dari sudut pandang sejarah.

Tujuan tulisan ini adalah memberikan hiburan kepada orang-orang yang dilanda sedih karena penderitaan yang dihadapinya. Bandingkanlah penderitaan mu dengan penderitaan Nabi Muhammad saw. Semasa hidupnya Nabi Muhammad ternyata sama seperti kita sebagai manusia biasa, merasa sedih dan gembira.

Biasanya jika manusia dilanda derita, dia selalu melihat derita orang lain. Ketika deritanya sama dengan derita orang lain, agak sedikit terobati deritanya karena yang lain pun sama menderita. Itulah sifat manusia, apa yang dirasakannya harus dirasakan orang lain. Derita batin Nabi Muhammad bisa jadi penghibur hati manusia, karena sepangkat Nabi pun tidak lepas dari derita apa lagi kita.

Sebelum menerima wahyu, pada usia 25 tahun Nabi Muhammad menikah dengan seorang janda kaya raya dan terhormat, berusia 40 tahun. Dua puluh ekor unta betina menjadi mas kawin. Dari pernikahannya dengan khadijah Nabi dikaruniai dua putra dan empat putri.


DERITA BATIN KEMATIAN ANAK

“Putra pertama adalah Al-Qasim. Kemudian lahir berturut turut Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, Fathimah, dan Abdullah yang diberi julukan at Thayyib dan at-Thahir. Al-Qasim wafat dalam usia satu tahun, sudah bisa didudukkan di atas punggung unta, dan sudah bisa bertatih-tatih. Sedangkan Abdullah wafat dalam keadaan masih bayi. Semua putri beliau wafat semasa beliau masih hidup, kecuali Fatimah ia wafat menyusul ayahandanya enam bulan kemudian.” (al-Ghazali, 2005:80-81).

“kehidupan rumah tangga Nabi tidak ada yang meresahkan hati Siti Khadijah selain kematian putra-putranya, apalagi mengingat kedudukan anak laki-laki dikalangan suatu bangsa yang punya tradisi menanam hidup-hidup anak perempuan, dan para ayah bermuka kecut bila mendengar anaknya yang baru lahir itu perempuan. (al-Ghazali, 2005:81).

“Setelah Nabi Muhammad diangkat Allah swt jadi nabi dan rasul, kaum Quraisy mengejek Nabi karena putra-putra beliau semuanya meninggal dunia. Secara terang-terangan mereka menyatakan, bagaimanapun juga Muhammad tidak mempunyai keturunan, dan namanya pun tidak akan disebut orang lagi setelah wafat.” (al-Ghazali, 2005:81).

Kematian anak-anak laki-laki Nabi Muhammad di usia anak-anak, jelas sangat membebani. Rasa cinta kasih seorang ayah kepada anak, stigma rendah terhadap keluarga yang tidak punya keturunan laki-laki, jelas bukan perkara mudah dalam menghadapinya. Setelah menjadi Nabi pun, ejekan seorang ayah yang tidak punya keturunan anak laki-laki pun masih menjadi objek ejekkan menyakitkan bagi orang-orang Arab pada masa itu.

Kesedihan Muhammad dan Khadijah dijelaskan dalam cerita-cerita sejarah hidup Nabi Muhammad. Muhammad Husain Haekal (2003:72) menuturkan, al-Qasim dan Abdullah tidak banyak diketahui, kecuali disebutkan mereka meninggal waktu kecil zaman jahiliyah dan tak ada meninggalkan sesuatu yang patut dicatat.  Tetapi yang pasti kematian itu meninggalkan bekas yang dalam pada orang tua mereka. Demikian juga pada diri Khadijah terasa sangat menyedihkan hatinya. Kematian dua anak laki-lakinya membuat khadijah merasa sangat sedih karena ditimpa sedih berulang-ulang. Rasa sedih itu dirsakan pula oleh suaminya (Muhammad). Rasa sedih ini selalu melecut hatinya, yang hidup terbayang pada istrinya, terlihat setiap ia pulang ke rumah duduk-duduk disampingnya.

Tidak begitu sulit bagi kita menduga betapa mendalamnya rasa sedih yang diderita oleh Muhammad dan istrinya Khadijah. Ditengah-tengah masyarakat yang sangat mengagung-agungkan anak laki-laki, dan mengubur hidup-hidup anak perempuan, mereka mendapati kedua anak laki-lakinya meninggal dalam usia anak-anak.  Untuk mengobati rasa sedihnya Muhammad membeli Zaid dan memerdekakannya hingga zaid dikenal sebagai Zaid bin Muhammad. Sudah tentu malapetaka yang menimpa Muhammad dengan kematian kedua anaknya berpengaruh juga dalam kehidupan dan pemikirannya. Sudah tentu pula pikiran dan perhatiannya tertuju pada kemalangan yang datang satu demi satu menimpa. Ibrahim pun putri Nabi bukan dari khadijah meninggal, setelah Islam mengharamkan menguburkan anak-anak perempuan hidup-hidup, dan sesudah menentukan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu.

Muhammad Sameh Said (2016:49), menggambarkan kesedihan mendalam Nabi Muhammad saat meninggal dua anak laki-lakinya. “anak laki-laki beliau meninggal ketika masih kecil. Tentunya kejadian ini meninggalkan kesedihan di hati Muhammad dan Khadijah, sampai beliau mengangkat seorang anak laki-laki bernama Zaid bin Muhammad.”

Seberapa berat derita batin anda? bersyukurlah karena masih ada sahabat kita yang sama-sama menderita dengan luka batin menganga, bahkan sahabat kita lebih menderita. Sahabat kita adalah kekasih Allah yaitu Nabi Muhammad saw. Sebagaimana Nabi adalah manusia biasa, maka bergembiralah karena derita batin anda sama dengan luka batin kekasih Allah. Kini anda bisa merasakan bagaimana beratnya penderitaan batin Nabi Muhammad saw dalam memperjuangkan kebenaran untuk umat manusia. Keselamatn dan kesejahteraan untuk Anda! Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

Wednesday, October 3, 2018

ILMU KOSONG

Oleh : MUHAMMAD PLATO

Sebuah nasehat diberikan oleh guru saya Prof. Erlina, “saya merasakan bagaimana beratnya kehilangan orang yang dicintai. Satu tahun lebih perasaan itu terus membawa suasana sedih. Belajar dari pengalaman itu, saya berhasil keluar dari perasaan itu dengan tidak mengikuti kata emosi, tetapi mengikuti kata logika. Jika kita mengikuti emosi maka perasaan sedih, kehilangan selamanya tidak akan pernah hilang”.

Selanjutnya Beliau berkata, “kamu harus belajar ilmu kosong. Kita terlahir ke bumi ini, tidak sebutir debu pun memiliki harta, semuanya adalah titipan. Jiwa kita, tubuh kita, semua milik Allah. Sekehendak Pemilik lah bagaimana Dia mau memperlakukan kita. Tidak ada kejadian yang menimpa kita, semuanya akan kembali kepada pemiliknya. Kita ini sesungguhnya kosong, jika semuanya dikembalikan kepada pemiliknya”.

Ilmu kosong yang dimaksud guru saya adalah ilmu pemahaman bahwa kita bukan pemilik. Sehingga jika kita bukan pemilik, maka apapun yang menimpa kita akan menimpa kepada pemiliknya yaitu Tuhan. Karena kita bukan pemilik, maka hinaan orang, cacian, makian, bencana, tidak akan menimpa kita, tetapi akan langsung kepada Pemiliknya. Hinaan, cacian, makian, seperti melewati lingkaran kosong, tidak menyentuh apa-apa kecuali sampai kepada Tuhan. Maka keburukan akan kembali kepada pelaku keburukan. 

Pemahaman tentang ilmu kosong ini, perlu bantuan logika, yang kemudian akan menuntun perasaan untuk mengikuti apa yang dikatanan logika. Di sini kita dapat pelajaran, antar hati dan logika posisinya saling membutuhkan. Dua-duanya akan menyelamat kita dan akan hadir sesuai dengan kebutuhan.

Tuhan sudah mencitakan hati dan logika. Sangat tidak mungkin jika kedua ciptaan Tuhan ini kita matikan sebelah. Kedua-duanya harus hidup. Menghidupkan hati bukan mematikan logika, dan sebaliknya menghidupkan logika bukan mematikan hati.

Demikian guru saya, Prof. Erlina mengajarkan bagaimana cara keluar dari situasi buruk yang bisa menggiring kita menjadi manusia kurang produktif. Kuncinya adalah disaat kita dihantui perasaan yang tidak kita inginkan, maka saatnya gunakan logika.

ILMU KOSONG ADALAH KEMAMPUAN LOGIKA DALAM MEMPERSEPSI BAHWA KITA BUKAN PEMILIK, MAKA SEGALA KEJADIAN ADALAH KEMBALI KEPADA SANG PEMILIK YANG ESA 
Saya setuju dengan guru saya yang kedua, Prof. Rochiati, beliau menulis dalam bukunya dari sudut pandang sejarah, “jatuhnya bangsa Indonesia ke dalam kolonialisme Belanda, berbarengan dengan menyebarluasnya himbauan ulama besar yang melarang penggunaan akal (reason) dalam kerangka kajian pemahaman agama”. Ulama ini telah mereduksi potensi manusia yang memiliki potensi ke arah agama/keyakinan/tauhid dan potensi akal/reason. Sekalipun para ulama terbelah dua dalam menyikapi himbauan ulama besar ini. Umat Islam kita terlanjur mengikuti himbauan ulama besar ini.

Logika (reason) akan membawa kita kepada pikiran-pikiran rasional untung rugi baik dunia maupun akhirat.  Sebagai contoh, kematian adalah kejadian yang tidak bisa dihindari. Orang-orang yang mati tidak lagi membutuhkan ratapan penyesalan dari orang yang hidup. Jiwa orang yang sudah mati lebih membutuhkan doa-doa dari pada ratapan orang yang masih hidup.

Untuk memahami kejadian demi kejadian dibutuhkan kemampuan akal. Perintah Tuhan untuk berprasangka baik kepada setiap kejadian secara tidak langsung merupakan perintah untuk menggunakan reason (logika) agar bisa menemukan kebaikan dari segala kejadian.

Untuk melakukan persepsi baik terhadap segala kejadian, dibutuhkan ilmu kosong, dan untuk mendapatkan ilmu ini dibutuhkan reason (logika), agar hati bisa terjaga tetap baik. Wallahu ‘alam.

(Master Trainer @logika_Tuhan)