Wednesday, November 30, 2022

MENDOAKAN PARA PEMIMPIN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Keberadaan pemimpin dalam masyarakat sangat dibutuhkan. Ajaran Islam sangat menganjurkan adanya pemimpin. Pemimpin dijelaskan dalam Al Quran sebagai pemegang amanah untuk mengelola memakmurkan bumi. 

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Shaad, 38:26).

Pemimpin adalah pemberi keputusan, untuk menciptakan keadilan. Kesejahteraan hidup manusia di muka bumi sangat berkaitan erat dengan kehadiran pemimpin yang adil. Pemimpin adalah sosok manusia berkualitas yang bisa membawa manusia pada jalan hidup sejahtera. Kehadiran pemimpin sangat vital dalam sebuah masyarakat. Kehancuran sebuah masyarakat dapat diidentifikasi dari eksistensi pemimpin. Dapat kita saksikan, negara yang tidak berhasil melahirkan seorang pemimpin, negara tersebut mengalami kehancuran dilanda kekacauan. 

Negara-negara di Timur Tengah terlihat mengalami kehancuran karena gagal hadirkan pemimpin. Perang saudara dan kerusakan sistem bernegara, membuat masyarakat hadapi krisis dan mengalami kemunduran. Kepemimpinan yang berdaulat menjadi kunci dari terciptanya negara berdaulat. Negara-negara yang sudah dianugerahi pemimpin berdaulat, adalah karunia Tuhan yang tidak ternilai harganya. 

Pola pikir religius, integralis, holistis, layak jadi paradigma berpikir masyarakat dunia

Demokrasi hanyalah cara bagaimana masyarakat melahirkan sebuah pemimpin berdaulat. Sistem demokrasi memang terbukti melahirkan pemimpin-pemimpin berdaulat. Keuntungan dari negara demokrasi adalah memberi ruang pada masyarakat untuk terlibat dalam suksesi kepemimpinan. Dengan sistem demokrasi, diharapkan setiap suksesi kepemimpinan berjalan dengan damai dan alamiah. Seiring dengan waktu, sistem pemerintahan demokrasi akan terus menggiring masyarakat menjadi masyarakat cerdas. Masyarakat cerdas akan melahirkan pemimpin yang cerdas. 

Di negara religius seperti Indonesia, masyarakat cerdas adalah mereka yang punya pola pikir religius. Pola pikir religius sebenarnya lebih cerdas dari pola pikir materialis dan liberal. Pola pikir religius tidak menapikan kehidupan material, dan tidak juga mengekang kebebasan. Pola pikir religius seperti pola pikir integralis, inklusif, dan holistis. 

Ideologi Pancasila menawarkan pada dunia sebuah pemikiran religius atau integralis dalam menghadapi era globalisasi. Demokrasi Pancasila adalah model demokrasi di dunia yang mengusung pola pikir religius sebagai model pengelolaan negara di tengah-tengah krisis pemikiran di awal abad 21. Agama yang semula dianggap sebagai penyebab kemandegan dalam berpikir, melalui pola pikir religius integralis dan holistis, agama bisa jadi sumber kedaulatan bangsa dan negara.

Indonesia sebagai negara religius, dalam perjalanan demokrasinya telah mengalami beberapa kali ujian. Namun berkat keyakinan masyarakat kepada Tuhan yang terjaga, Indonesia berhasil keluar dari berbagai krisis yang melanda. Dibalik kedaulatan rakyat Indonesia, ada invisible hand yang melindungi keutuhan bangsa Indonesia. Invisible hand adalah kakuasaan Tuhan yang ikut terlibat memberi kekuatan atas dasar keyakinan yang dianut masyarakat. 

Sekalipun bangsa Indonesia masih memperlihatkan berbagai kekurangan dalam berdemokrasi, tetapi seiring dengan waktu, Indonesia telah tumbuh menjadi negara kuat dengan kedaulatan rakyat yang berkeyakinan pada Tuhan. Keterlibatan Tuhan dalam mengelola negara, adalah kekuatan laten yang secara tidak sadar telah ikut terlibat memberi keselamatan dan kedamaian pada masyarakat Indonesia. 

Masyarakat Indonesia sekalipun sering dipersepsi oleh dunia sebagai negara kacau, namun harus diakui bangsa Indonesia terus tumbuh memperbaiki diri menuju masyarakat teratur, adil dan sejahtera. Doa-doa masyarakat Indonesia yang multi agama, telah menjadi kekuatan bangsa Indonesia tetap optimis untuk terus berusaha mewujudkan negara berdaulat dan sejahtera.

Ritual doa yang menjadi bagian dari aktivitas masyarakat Indonesia adalah kekuatan intagible bangsa Indonesia. Doa adalah pikiran dan perasaan positif yang dapat menghadirkan optimisme masyarakat dalam bernegara. Masyarakat beragama adalah kekuatan bangsa Indonesia dalam menghadapi situasi krisis di era global saat ini. 

Doa-doa terbaik masyarakat Indonesia untuk para pemimpin, akan terus menyeleksi para pemimpin di Indonesia tampil menjadi pemimpin-pemimpin kelas dunia. Doa-doa masyarakat Indonesia yang tidak pernah berhenti dan putus asa dilantunkan, akan menjatuhkan pemimpin-pemimpin yang tidak berkualitas dari pentas politik Indonesia. Doa-doa untuk para pemimpin yang dilantunkan bangsa Indonesia, akan terus menjaga bangsa Indonesia dari hadirnya pemimpin-pemimpin tidak berkualitas. 

Tangan Tuhan ikut terlibat dalam skenario kehidupan bangsa Indonesia dalam menjaga kualitas kepemimpinan. Kasus-kasus yang menimpa dan menjatuhkan kekuasaan para pemimpin, adalah skenario Tuhan dalam menjaga kualitas kepemimpinan di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa agama selalu hadir membawa dampak positif bagi kedaulatan sebuah bangsa. Tidak selayaknya lagi agama dihadapkan antagonis dengan kehidupan demokrasi. 

Agama di abad 21 ini, sudah saatnya dijadikan sebagai instrumen untuk membangun kedaulatan bangsa. Pola pikir religius, integralis, dan holistis, layak menjadi paradigma dunia dalam membangun kesejahteraan dunia. Para sejarawan telah mencatat bahwa kejayaan sebuah peradaban tidak lepas dari keterlibatan agama didalamnya. Abad 21 bisa jadi abadnya agama terlibat kembali menjadi paradigma dalam mengelola negara, dengan persepsi agama yang inklusif, integralis, dan holistis.*** 


      

 


 


ALLAH MU BAPERAN, ALLAH KU PEMAAF

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Allah tidak bisa dipersepsi secara sempurna oleh pikiran manusia. Namun setiap manusia diberi kemampuan untuk mengenal Allah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Siapa Allah? Al Quran memperkenalkan banyak konsep untuk mengenal lebih dekat siapa Allah. 

Berdasarkan informasi dari Al Quran para pemikir muslim mengembangkan nama-nama yang diberi label sebagai sifat Allah. Sifat Allah pengasih, penyayang, pemberi, pemelihara, dan sifat-sifat lainnya diperkenalkan hingga 99 nama. 

“Tidak ada Tuhan Melainkan Allah. Dialah Allah yang memiliki Asmaul Husna atau nama-nama yang terbaik.” (QS. Thaha ayat 8).


Allah memperkenalkan dirinya dengan nama-nama terbaik. Asmaul hunsa adalah patokan bagi orang-orang yang ingin mengenal Allah, maka Allah ingin dipersepsi dengan sifat-sifat yang baik. 

Allah sudah mengenalkan diri dengan nama-nama terbaik. Mana yang akan kita kenali dari sifat Allah? Setiap orang punya kebebasan untuk mengenal Allah dari sifat yang mana. Manusia sangat terbatas dengan ruang dan waktu, maka manusia akan mengenal Allah berdasarkan situasi dan kondisi yang dihadapinya.

Orang yang sedang mengalami kesulitan, hatinya akan merasa senang ketika mengenal Allah sebagai sebagai pemberi kemudahan. Bagi orang berdosa hatinya akan merasa senang jika Allah maha pengampun. Namun ada orang yang fokus mengenal Allah dengan sifat-sifat baper. 

Allah tidak tergantung pada situasi dan kondisi. Allah bisa hadir dalam setiap aktivitas kehidupan manusia sesuai dengan apa yang manusia butuhkan. Allah bisa hadir sebagai teman, penyemangat, penyelamat, penjamin kehidupan, dan sebagainya. Maka dari itu manusia-manusia yang mengenal Allah akan menjadi manusia tangguh karena selalu optimis.

Manusia yang mempersepsi Allah dengan sifat baper akan jadi manusia-manusia baperan. Allah jadi baper jika dipsersepsi dengan sifat-sifat antagonis. Allah dipersepsi membalas hinaan, membalas tipu daya, membalas olok-olokkan, membalas dosa dengan balasan yang pedih, dsb. Persepsi antagonis pada Allah, menjadi sebab Allah di mata orang itu jadi Allah yang sensitif, mudah tersinggun, ekslusif, dan kaku. Allah yang dipersepsi baper, bisa jadi sebab lahirnya manusia-manusia yang tidak toleran, ektrim, dan main hakim sendiri.   

Allah pengendali sifat manusia. Bagaimana cara orang mempersepsi Allah, maka akan menjadi karakter orang tersebut. Jika Allah dipersepsi dari sifat-sifat yang lembut, pemurah, pemelihara, pengampun, maka karakter orang akan jadi seperti mereka mempersepsi sifat-sifat Allah. Sebaliknya jika Allah dipersepsi orang dengan sifat baper, maka orang itu akan jadi baperan, mudah tersinggung dan sulit bergaul.***

 



 

Sunday, November 20, 2022

BEDAH AKAL ORANG BERAGAMA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Belum tentu orang beragama, isi akalnya beragama. Dalam sebuah riwayat mengatakan, Nabi Muhammad memerintahkan untuk memeriksa akalnya, ketika para sahabat membicarakan orang-orang saleh hanya melihat dari aktivitas fisik. Ada indikasi bahwa aktivitas fisik bisa jadi tidak merepresentasikan dari aktivitas akalnya. 

Nilai dari sebuah aktivitas adalah tujuannya. Aktivitas akal bisa terbagi menjadi dua tujuan. Ada aktivitas akal untuk tujuan fisik, material, dunia, dan ada juga aktivitas akal untuk tujuan ketaatan pada Tuhan Yang Maha Esa. Hal inilah yang mendasari Nabi Muhammad memerintahkan memeriksa akal orang, sekalipun aktivitas fisiknya sudah memperlihatkan prilaku-prilaku baik. 

Tujuan akal dalam beraktivitas diketahui sangat personal. Allah mengadili isi tujuan dari akal setiap orang, bukan aktivitas fisiknya. Sangat mungkin terjadi ada orang beraktivitas fisik menebar kebaikan untuk sesama manusia, tetapi akalnya tidak bertujuan atas dasar taat pada Tuhan. Dapat disimpulkan prilaku ini dimiliki oleh orang-orang yang tidak percaya Tuhan. Masuk akal jika kelak di hadapan Tuhan, orang-orang ini tidak mendapat kebaikan atas apa-apa yang dikerjakannya.

Memeriksa tujuan sebagai aktivitas akal tidak dapat dinilai langsung oleh orang lain. Memeriksa tujuan akal dalam beraktivitas adalah aktivitas refleksi diri tiap orang. Orang yang taat pada Tuhan, akan selalu menjaga tujuan aktivitas akalnya sebagai wujud ketaatan pada Tuhan. Tujuan akal dalam beraktivitas berdasarkan isi pengetahuan yang ada dalam akalnya. 

Al Quran sebagai kitab pengetahuan, berisi pengetahuan dari Allah tentang petunjuk-petunjuk. Isi Al Quran berupa pengetahuan tertulis yang mengandung konsep berupa, subjek, objek, predikat, keterangan, masa lalu, masa depan, perintah dan larangan, yang jika dibaca akan mengisi akal seseorang. Semua karakter manusia sudah tertulis di dalam Al Quran. Kadang terjadi pergeseran, otak orang beragama bukan lagi berisi pengetahuan hasil analisis dari Al Quran, tapi berisi pengetahuan Al Quran yang bermuatan kepentingan seseorang, keturunan, kelompok, kekuasaan, dan sebagainya. 

Hemat penulis, pengajaran agama adalah membebaskan manusia dari segala keterikatan terhadap selain Allah. Orang beragama terbebas dari kepentingan seseorang, keturunan, kelompok, dan apapun yang dapat menyimpangkan ketergantungan, kecuali kepada Allah. Kebersamaan hanya terjadi karena sama-sama taat kepada Allah yang hanya diketahui antara pribadinya dengan Allah. Ketaatannya kepada Allah senantiasa berusaha hidup dalam harmoni kemanusiaan yang tidak saling menghujat, mencela, dan menjatuhkan. 

Akal orang beragama berisi kemerdekaan karena sangat tergantung pada Allah. Jika orang-orang beragama berpecah belah, saling menghujat, saling mengkafirkan, dan menjadi biang kerok permusuhan, bisa jadi isi akalnya bukan berisi ketaatan kepada Allah, tapi kepada manusia atau kelompoknya. 

Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka". (Al Mukminun, 23:53). 

"Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan." (Al Qashash, 28:4). 

Fir'aun adalah orang-orang. Mereka menghidupkan perempuan melebihi kodratnya sebagai perempuan. Mereka menjungkirbalikkan kodrat manusia hingga manusia terjerumus pada jurang kebinasaan. Fir'aun adalah karakter manusia yang isi akalnya dipenuhi dengan pengetahuan hasil dari pemikiran sekehendaknya. Mereka tidak memiliki akal yang punya ketundukkan kepada pengetahuan-pengetahuan yang diberikan Tuhan.***


Monday, November 14, 2022

MENGHINA NABI URUSANNYA DENGAN TUHAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Islam melarang manusia meleceh sesama manusia, apa lagi melecehkan nabi Nya. Ketika manusia melecehkan manusia lain sesungguhnya dia melecehkan sang Pencipta. Baru-baru ini beredar komedian menampilkan sosok yang menyudutkan kelompok yang mengarah pada identitas etnis dan agama tertentu.  Komedian di dampingi boneka ciptaannya, dengan aksesoris negatif tentang kelompok dan agama tertentu. Nampak sang komedian berhasil menghibut penonton dengan gelak tawa, namun di luar sana ada sekelompok etnis, dan agama yang sedang disudutkan. 

Komedian dan para penonton sebagian besar dari kelompok masyarakat yang getol menyuarakan anti pelecehan, anti intoleran, dan sangat menghargai perbedaan. Namun mereka tidak sadar bahwa boneka, nama boneka, dan identitas boneka, mengerucut pelecehan pada satu kelompok masyarakat. Tertawa mereka adalah hiburan, namun mereka tidak sadar bahwa tertawa mereka adalah pelecehan pada sebuah bangsa yang identitik dengan masyarakat penganut agama yang taat.

Bangsa itu sangat menghargai kebebasan berekspresi, namun mereka tidak berhasil memahami bahwa kebebasan ekspresi yang dijaganya bisa jadi bumerang bagi bangsanya sendiri. Dari kehidupan dunia, diakuii bangsa mereka sudah mapan. Ilmu dan teknologi berhasil mereka kembangkan. Namun kemegahan dan kekayaan dunia telah melumpuhkan hati mereka untuk mengidentifikasi kehadiran Tuhan dalam seluruh relung kehidupan. 

Sayang, komedi yang mereka ciptakan dengan dalil kebebasan berekspresi tidak berhasil membuat mereka jadi bangsa beradab. Komedi yang mereka ciptakan berhasil menggeneralisir etnis, agama, dan nabi yang dihormati di kelompok masyarakat tertentu dilcecehkan. Jika saja melecehkan etnis, agama, dianggap melecehkan Tuhan, apalagi mengarah pada pelecehan nama seorang nabi. 

Terimakasih Tuhan, agama dan nabi yang diyakini sebagai agama paling rasional, dan nabi yang paling fenomenal di dunia telah diperkenalkan melalui berbagai macam cara. Di timur nabi ini dikenal sebagai pembawa perubahan peradaban masyarakat, sebaliknya di barat nabi ini dipopulerkan dengan cara-cara keji dan kejam. 

Hampir 1400 tahun nabi ini dikampanyekan negatif oleh belahan barat, dan di belahan timur dikampanyekan positif. Umat manusia di seluruh dunia menyaksikan, bahwa upaya-upaya manusia tidak akan mengubah yang baik jadi buruk, sebaliknya yang buruk jadi baik. Pemilik skenario kehidupan manusia di bumi ini bukan para kapitalis bukan juga para spiritualis. Skenario kehidupan manusia di bumi ini mutlak milik Tuhan. 

Penulis mengingatkan pada seluruh umat manusia di belahan bumi manapun, menghina agama dan melecehkan nabi bukan sedang berurusan dengan umat manusia. Mereka yang melecehkan agama dan nabi, dia sedang berurusan dengan Tuhan pemilik skenario kehidupan. Manusia tidak mampu melenyapkan keburukan dan kebaikan di muka bumi ini. Namun manusia-manusia yang sedang berusaha mematikan kebaikan, dia sedang menghidupkan keburukan untuk dirinya sendiri. 

Skenario Allah akan tetap berjalan, di sadari atau tidak disadari. Dikabarkan di dalam Al Quran mereka yang menertawakan kebaikan, pada suatu saat akan jadi bahan tertawaan. 

"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman". (Al Mutaffifiin, 83:29). "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir," (Al Mutaffifiin, 83:34). 

Apa yang dilakukan manusia di muka bumi ini, telah dituliskan Tuhan dalam catatan Nya. Apa yang telah ditetapkan Tuhan itulah yang akan kelak terjadi. Bagi manusia yang yakin mendapati kebenaran dari Tuhan, seluruh kejadian menjadi harapan baik dikehidupan yang akan datang. Pada saat mereka menertawakan kebenaran dari Tuhan dengan senang, sebenarnya kami juga menertawakan mereka karena mengetahui apa yang terjadi di masa depan.  

Sebagai umat beragama, kita tidak diajarkan Tuhan untuk mengutuk manusia. Umat beragama diajarkan untuk mendoakan seluruh umat manusia bisa hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan. Mereka yang menentang kebenaran dari Tuhan, tidak sedang berperang dengan sekelompok manusia. Dia sedang menentang kehendak Tuhan Yang Esa. Bagi kami, para penentang kebenaran agama adalah manusia-manusia yang kelak bisa jadi orang-orang yang dicintai Tuhan. Tidak ada sedikit kekhawatiran bagi umat beragama karena semuanya sudah diberi tahu Tuhan, apa kelak yang akan terjadi. Semoga para penentang Tuhan, kelak menjadi orang-orang yang dicintai Tuhan***


 

Wednesday, November 9, 2022

MAKNA USAHA DAN KERJA DALAM AL QURAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Setiap manusia dilahirkan untuk usaha dan bekerja. Konsep usaha dan bekerja di dalam Al Quran tertulis dua hal yang berbeda. Allah akan membalas setiap usaha dan kerja manusia. Apakah perbedaan usaha dan kerja. Dua konsep ini, penting untuk kita pahami agar kita punya pedoman apa yang harus dilakukan apabila kita disuruh usaha dan kerja. 

Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan (Al Baqarah, 2: 141).

Usaha dan kerja dua hal yang berbeda. Usaha adalah upaya manusia mencari ide atau gagasan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Usaha berkaitan dengan membaca, mencari ide-ide yang berpeluang untuk menyelesaikan masalah. Untuk itulah ayat pertama turun adalah perintah membaca. Perintah membaca memiliki makna agar manusia selalu kreatif mencari ide atau gagasan dalam menghadapi segala tantangan hidup yang dialaminya.  

Usaha adalah kegiatan berpikir kreatif dalam menggali pengetahuan. Maka Allah mengabarkan bahwa Dia tidak membebani suatu kaum, dan dia harus berusaha atau kreatif mencari peluang-peluang yang memungkinkan mereka untuk melakukan perintah Tuhan. Usaha adalah kegiatan ruh yang memiliki sifat kreatif dan membutuhkan asupan pengetahuan. Membaca adalah kegiatan ruhani manusia yang wajib dilakukan. Tanpa kemampuan membaca ruh akan kehilangan daya kreatif. Literasi dalam dunia pendidikan menjadi kompetensi dasar yang harus selalu diajarkan dalam setiap level pendidikan. 

Kerja adalah segala perbuatan manusia yang berwujud fisik. Allah akan meminta pertanggungjawaban setiap apa yang dikerjakan manusia. Sebaik-baiknya pekerjaan adalah yang sesuai dengan apa yang mereka usahakan dengan niat baik. Allah akan meminta pertanggungjawaban pada setiap pekerjaan bukan pada tindakannya tetapi pada niat yang diusahakannya. Hal ini sesuai dengan bunyi hadis Rasulullah bahwa kelak manusia akan dibangkitkan dengan niat-niat yang diusahakannya. 

Jika usaha adalah sebuah kegiatan berpikir kreatif, maka kerja adalah keberanian untuk melakukan. Orang-orang yang tidak punya keberanian adalah mereka yang tidak punya kemampuan usaha atau berpikir kreatif menemukan peluang dalam hidupnya. Para penakut adalah mereka yang tidak suka membaca, kekurangan pengetahuan, dan tidak punya kemampuan berpikir kreatif. Allah memberi rahmat kepada mereka yang selalu berusaha dengan tidak meminta pertanggungan jawab pada kegiatan usaha. Rasulullah bersabda, "setiap usaha benar dinilai satu, dan usaha salah tidak dinilai". Usaha adalah kegiatan berpikir kreatif merupakan kegiatan akal. 

Usaha adalah kegiatan berpikir kreatif mencari peluang yang akan jadi niat-niat seseorang untuk melakukan sesuatu. Niat selalu mendahului apa yang dikerjakan manusia.

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa  berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan  barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” [HR. al Bukhâri dan Muslim dalam kitab Shahiih mereka] Referensi : https://almanhaj.or.id/12399-niat-untuk-berbuat-baik-mendapat-pahala-2.html

Maka, Allah memerintahkan kepada manusia berulang-ulang untuk berpikir, karena berpikir adalah kegiatan akal yang bernilai baik dan diampuni Allah jika ada kesalahan. Artinya Allah sangat mendorong manusia untuk berusaha berpikir kreatif, mencari ide atau gagasan sebagaimana Allah pada banyak ayat memerintahkan agar manusia selalu berpikir. 

Usaha atau kegiatan berpikir yang baik adalah usaha yang selalu berusaha mencari jalan untuk menuju kepada hal-hal baik. Adapun kesalahan dalam usaha atau berpikir, selama tidak berwujud menjadi sebuah tindakan fisik, Allah tidak menghitungnya sebagai kesalahan tetapi tetap sebagai kebaikan. Hal ini menandakan betapa Allah sangat mendorong manusia untuk selalu berusaha atau berpikir, membaca, mencari ide, kreatif, di dalam menjalani dan menyelesaikan masalah-masalah dalam hidupnya.  

Pesan untuk dunia pendidikan, mengajarkan keterampilan berpikir merupakan kompetensi dasar yang sangat dianjurkan, dan selaras dengan pengajaran Allah dalam Al Qur'an. Pada pendidikan, pengajar harus terus berusaha mencari cara, metode, pendekatan dalam pengajaran, untuk melatih kemampuan berpikir siswa dengan berbagai cara. Wallahu'alam

KEKUATAN RELIGIUS BANGSA INDONESIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kebesaran bangsa Indonesia bukan hanya di jumlah manusia, tetapi dari ideologi yang memadukan antara kehidupan religius dengan duniawi. Ideologi Pancasila adalah berkah dari Tuhan untuk bangsa Indonesia. Lima sila dari dasar negara yang berbeda dari ideologi di dunia adalah menjadikan sila ketuhanan yang maha esa sebagai dasar leterlek sebagai cara hidup bangsa Indonesia. Keanekaragaman etnis, budaya, dan agama menjadi harmoni dalam kehidupan bangsa Indonesia. 

Dalam sejarah bangsa Indonesia, mereka sudah mengalami berbagai macam ujian hidup yang panjang. Penjajahan ratusan tahun, masa revolusi kemerdekaan, tragedi 30 September 1965, dan krisis multidimensi tahun 1998. Religiusitas telah menyelamatkan bangsa Indonesia dari kehancuran. Pada tahun 1998 banyak pengamat politik memprediksi Indonesia akan hilang dari peta mengalami nasib yang sama seperti USSR. Fakta-fakta keselamatan bangsa Indonesia dari krisis merupakan berkah dari Tuhan karena bangsa Indonesia pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bangsa Indonesia terlahir sebagai berkah dari rahmat Tuhan Yang Maha Esa. 

Atas Berkat dan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Terlahir Indonesia Merdeka

Cepat atau lambat sejarah akan berulang, religiusitas bangsa Indonesia akan terus mengalami ujian dan membuat bangsa Indonesia tampil menjadi kekuatan dunia. Negara-negara dengan yang hanya mengadalkan kekuatan materi, sedikit demi sedikit mengalami kemunduran. Humanisme yang menjadi sandaran berpikir tidak mampu memprediksi akan seperti apa yang terjadi di masa mendatang. Seperti kata Fritjop Capra, siklus dunia secara alamiah akan terjadi. Pola pikir yang cenderung mengandalkan kekuatan hukum-hukum alam, akan digantikan dengan pola pikir idealistik. Pemikiran religius yang menggabungkan pengetahuan intuitif dengan rasional. 

Pola pikir ajaran Islam di dalam Al Quran, tidak memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan dunia yang sejahtera dan kehidupan akhirat sejahtera menjadi satu tujuan yang tidak terpisahkan. Kegagalan di dunia, bagi bangsa Indonesia tidak jadi alasan untuk berputus asa, karena ada harapan kedua yang tetap harus dicapai yaitu kehidupan sejahtera di akhirat. Bangsa Indonesia memiliki harapan dinamis seperti yang dijelaskan Erich Fromm. Inilah kekuatan bangsa Indonesia yang tidak akan terkalahkan.   

Religiusitas adalah bukti keunggulan bangsa Indonesia. Bangsa religius indentik dengan bangsa yang punya ikatan kuat dengan Tuhan. Religius dalam agama Islam adalah kelompok masyarakat yang percaya, tunduk, dan patuh, kepada Tuhan Yang Esa. Ketundukkan dan kepatuhan kepada Tuhan tidak dapat dikatakan sebagai masyarakat ekslusif, tetapi masyarakat yang bercita-cita menjadi pemberi berkah dan penjaga perdamaian dunia. Pandangan-pandangan bangsa religiusitas mendorong mansyarakat menjadi ekslusif adalah bukti dari ketidaktuntasan manusia dalam membaca dan memahami ajaran-ajaran agama Islam dari Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad. 

Di abad teknologi informasi semua orang di dunia bisa belajar dari bangsa Indonesia. Agama yang sering difitnah sebagai buah kemandegan berpikir, ternyata bukan karena ajaran agamanya, tetapi karena keterbatasan manusia dalam memahaminya. Agama Islam yang sering dikampanyekan oleh kelompok tertentu sebagai agama intoleran adalah kesalahpahaman. Ajaran agama Islam sangat inklusif dan melindungi hak-hak hidup seluruh umat manusia. 

Al Quran dan sunnah Nabi Muhammad merupakan sumber primer dari ajaran Islam. Micahael H. Hart, mengidentifiksi dari 100 tokoh berpengaruh di dunia, nomor satu adalah Nabi Muhammad. Tokoh Nabi Muhammad sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran adalah manusia yang layak jadi contoh teladan umat manusia. Nabi Muhammad menjadi sosok multitalenta, beliau bukan hanya pemimpin dalam urusan agama, tetapi pemimpin dalam kehidupan dunia. Salah satu keagungan Nabi Muhammad yang wajib dicontoh oleh seluruh umat manusia adalah kemampuannya dalam bersabar dengan membalas keburukan dengan kebaikan. 

"Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)" (Ar'rad, 13:22). 

Nasionalisme bangsa Indonesia yang dilandasi dengan pola pikir idealistik, nasionalisme dengan keyakinan bahwa Tuhan akan selalu bersama orang-orang yang menyembah dan berharap kepada Nya. Nasionalisme bangsa Indonesia adalah harga mati dengan komitmen keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa. Pola pikir religius menjadi kolektif memori bangsa Indonesia. Bangsa-bangsa manapun yang berhadan dengan bangsa Indonesia mereka akan berhadapan dengan manusia-manusia yang selalu optimis berharap pada Tuhan Pelindung Bangsa Indonesia. Faktanya sudah teruji dan dapat dibuktikan dalam sejarah panjang bangsa Indonesia yang tidak pernah menyerah untuk menjadi negara merdeka dan berdaulat.***