Sunday, May 28, 2017

LOGIKA FIR’AUN


Oleh:
MUHAMMAD PLATO

Logika orang beriman dengan orang-orang sesat pasti berbeda, sebagaimana logika Nabi Musa dengan Fir’aun  (Ramses II). Logika Nabi Musa mendapat bimbingan dari Tuhan, sedangkan logika Fir’aun berdasar apa yang dipikirkan dan dilihatnya dari pengalaman atau alam. (rasional-empiris).

Fir’aun adalah tipe pemikir tanpa memperdulikan pengetahuan dari Tuhan. Fir’aun adalah tipe pemikir yang menganggap pengetahuan dari Tuhan sebagai khayalan, un rasional, dan cenderung lebih percaya pada kebenaran material. Fir’aun meyakini bahwa wahyu dari Tuhan tidak bisa dibahas secara rasional, dan tidak bisa menyelesaikan masalah-masalah rasional. Fir’aun termasuk sosok manusia kufur.

Nefertiti, Firaun Perempuan sangat Religius Menyembah Satu Tuhan bernama Aten
Logika berpikir Fir’aun menghilangkan satu sumber pengetahuan yang datangnya dari Tuhan. Logika Fir’aun dengan pola pikir sekuler beda tipis, karena orang-orang sekuler banyak terjerumus juga kepada kelompok Atheis yang tidak mengakui adanya pengetahuan dari Tuhan.

Untuk kaum beragama jangan cepat-cepat  dulu mengaku saya beriman, jika belum memahami logika berpikir yang diajarkan dari Tuhan. Seperti saya katakan tadi, logika orang beriman dengan logika orang-orang sesat berbeda. Perbedaan logika berpikir orang beriman dan sesat, terjadi pada zaman Rasulullah, saw. seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an.

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Al-Baqarah, 2:216).

Penilaian baik dan buruk terhadap suatu kejadian membutuhkan pengetahuan. Setiap orang akan mengeluarkan pendapatnya berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Perbedaan pendapat akan terjadi, atas dasar perbedaan pengetahuan yang dimilikinya. Orang-orang beriman mengeluarkan pendapat bedasarkan pengetahuan wahyu dari Tuhan, yang meliputi pengetahuan rasional dan empiris.

Prof. Kiai. H. Fahmi Basya mengatakan bahwa Alqur’an adalah alam tulisan. Yang ketelitiannya sama dengan ketelitian di alam itu sendiri. Dengan demikian Al-Qur’an dapat dijadikan data ilmiah yang handal. Betapa berat beban yang kita pikul, jika melakukan penelitian alam tanpa tulisan pendamping dari Tuhan. Dengan adanya alam tulisan ini (Al-Qur’an), yang dijamin ketelitiannya oleh Allah, berakibat kita mudah menemukan sesuatu di alam. Inilah fungsi Al-Qur’an bagi orang-orang beriman yang diwajibkan melakukan penelitian.

Orang-orang yang diberi kitab akan diberi tahu oleh Tuhan mana yang baik dan mana yang buruk. Dan orang-orang yang mengingkari kitab dari Tuhannya, berpotensi menjadi orang-orang sesat dengan tanda memandang baik perbuatan buruk. Orang-orang yang disesatkan Allah, berpikirnya seperti logika Fir’aun yang menganggap Nabi Musa sebagai pendusta.

“Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir'aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian”. (Al Mukminun, 40:37)

Fir’aun adalah tipe manusia sesat yang pandanganya terbalik, yang kekal dibilang fana, dan yang fana dianggap kekal. Kebatilan di bilang hak dan yang hak dibilang bathil. Inilah cara iblis menyesatkan manusia.

“Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (Al-Hijr:39).

Logika Fir’aun akan menggiring manusia lebih menyukai menumpuk kekayaan dari pada membelanjakannya di jalan Allah, dan lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kampung akhirat yang kekal.

Logika Fir’aun akan lebih cenderung membenarkan sesuatu berdasarkan kebenaran empiris (pengalaman), dan menganggap kisah dalam kitab suci, akhirat, hari pembalasan, sebagai dongeng anak anak sebelum tidur. Orang-orang yang berpikir menurut petunjuk Tuhan, diangap gila, sakit, tukang sihir, dan pendusta. Bagi mereka pengikut Fir’aun tidak ada kebenaran kecuali pembenaran menurut dirinya sendiri dan terlepas dari ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh pengetahuan dari Tuhan.

Bagi pengikut Fir’aun, rasionalitas hanya dapat dipahami dengan akal yang selalu selaras dengan kenyataan. Padahal rasionalitas adalah milik Tuhan, yang dibangun oleh satu sebab yaitu Tuhan Semesta Alam. 
Pengetahuan-pengetahuan dari Tuhan dianggap mistis, padahal Tuhan mencakup hal-hal yang rasional dan nyata. Pengetahuan dari Tuhan bisa buktikan secara rasional empiris, dan bisa dibuktikan dalam kenyataan alam. Pengetahuan Tuhan meliputi alam ghaib dan alam nyata. Membuktikan kebenaran wahyu Tuhan berangkat dari keyakinan untuk menambah keyakinan.

Ayat yang sering dikutif oleh Prof. Kiai. H. Fahmi Basya tentang pentingnya melakukan pembuktian kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an adalah, “Agar yakin orang-orang yang diberi kitab, dan bertambah iman orang-orang yang beriman dan tidak ragu-ragu lagi orang yang diberi kitab dan orang yang beriman”. (Al-Mudatsir, 74:31).

Logika orng-orang beriman menjadikan Tuhan sebagai sebab, sedangkan pengikut Fir’aun menjadikan kenyataan alam sebagai sebab. Bagi pengikut Fir’aun ada yang tidak rasional, sedangkan bagi orang-orang beriman semuanya rasional karena sebabnya adalah Tuhan.

Logika Fir’aun membatasi kehidupan dengan kematian, sedangkan orang-orang beriman membatasi kehidupan setelah adanya pengadilan dari Tuhan. Pengikut Fir’aun pengetahuannya dangkal dan terbatas, sedangkan pengetahuan orang-orang beriman tidak terbatas menjangkau hal-hal yang belum terjangkau oleh pikiran-pikiran pengikut Fir’aun.

Logika Fir’aun dibatasi oleh kenyataan, sedangkan logika orang-orang beriman dibatasi oleh Tuhan, sehingga logikanya menjadi tidak terbatas. Pengikut Fir’aun adalah mereka yang meragukan kebenaran kitab suci, dan tidak percaya terhadap eksistensi Tuhan sebagai penyebab segala kejadian semesta alam.

Berdo’alah semoga logika berpikir kita diberi bimbingan oleh Tuhan, dan kitab suci Al-Qur’an adalah sebenar-benarnya petunjuk berpikir bagi orang-orang beriman. Semoga Tuhan Allah swt selalu membimbing kita ke jalan yang lurus dalam berpikir. Wallahu’alam.

(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan).

Saturday, May 27, 2017

SEMUA MANUSIA PENDUSTA, KECUALI…?


OLEH:
MUHAMMAD PLATO

Jangan percaya pada laki-laki 100 persen, jangan juga percaya pada wanita 100 persen, karena semua manusia pendusta. Kalau tidak percaya semua manusia pendusta, coba pikir apa maksudnya jika Allah swt mempertanyakan sampai 31 kali kepada kita “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman:13)

Hampir setiap hari kita mengingkari nikmat Tuhan. Mengingkari nikmat Tuhan sudah jadi prototipe manusia. Mengapa demikian? karena Tuhan menetapkan sifat manusia tukang berkeluh kesah.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (Al-Ma’arij, 70:19)

Sifat manusia suka berkeluh kesah inilah yang menjadi sebab manusia menjadi makhluk pendusta. Mengapa manusia pasti suka berkeluh kesah, karena ketentuan-Nya juga manusia harus hidup dalam kesusahan. Tidak ada manusia yang lepas dari kesusahan dan pasti ada keluh kesah.

 Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (Al-Balad, 90:4)

Saat ditimpa kesusahan hampir mayoritas setiap manusia berkeluh kesah. Logika yang selalu dipakai ketika menghadapi masalah atau kesulitan adalah kesulitan (sebab), keluh kesah (akibat). Logika yang sesuai petunjuk Tuhan adalah kesulitan (sebab), bersabar dengan baik (akibat). Itulah logika berpikir yang diberi petunjuk Tuhan. Siapa yang menyimpang, maka berakibat kerugian hidup di dunia dan akhirat.

Bukti bahwa hidup manusia harus menempuh susah payah. Semua kebutuhan manusia harus dipenuhi orang lain, dan perlu diusahakan. Ketika makanan sudah dihidangkan, seluruh anggota badan harus bekerja memproses makanan. Setelah makanan ada di dalam, sampahnya harus dikeluarkan. Hidup adalah penderitaan tiada akhir.

Keluh kesah hampir menjadi ucapan manusia setiap hari. Bertemu masalah besar ataupun kecil manusia tidak lepas dari keluh kesah. Dalam kehidupan keluarga, istri, suami, anak, mertua, tidak lepas dari keluh kesah. Cuaca hujan, kemarau, banjir, macet, panas, dingin, tidak lepas dari keluh kesah. Bulan ramadhan, lebaran, dapat THR, sehat, sakit, selalu ada keluh kesah.

Saat berkeluh kesah itulah sebenarnya kita sedang mendustai nikmat Tuhan. Setiap keluhan adalah dusta pada nikmat Tuhan, untuk itulah haram mengeluh. Setiap keluhan melupakan nikmat Tuhan yang setiap saat kita dapatkan.

Betapa terbatasnya kesadaran manusia kepada nikmat dan anugerah Tuhan, sampai hanya seekor nyamuk hinggap di badan bisa jadi dusta terhadap nikmat Tuhan. Hanya orang-orang yang mau berpikir memahami isi Al-Qur’an yang bisa memahami melimpahnya nikmat Tuhan yang setiap saat diterima.

Allah menciptakan manusia dengan sifat keluh kesah dan kikir. Namun Allah mengecualikan manusia-manusia yang pantang mengeluh dan dermawan, yaitu mereka yang mendirikan shalat, dan menyisihkan hartanya untuk sedekah.

SEMUA MANUSIA PENDUSTA DAN KIKIR KECUALI MEREKA YANG SUKA SHALAT DAN SEDEKAH
Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (Al-Ma’arij, 70:22-24).


Intinya Allah swt menciptakan manusia dengan sifat keluh kesah dan kikir sebagai ujian kepada manusia, dan Allah memberikan solusi untuk mengantisifasinya dengan memerintahkan mendirikan shalat dan sedekah sebagai ujian juga. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk selalu menegakkan shalat dan menyisihkan sebagian harta kita untuk sedekah kepada yang minta maupun tidak. Inilah petunjuk hidup dari Allah, barang siapa mematuhinya maka janji Allah bagi mereka yang taat keberuntungan dunia dan akhirat. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan)

Friday, May 19, 2017

BERPIKIR… BERPIKIR.... BERPIKIR… 63 KALI!!!


OLEH
MUHAMMAD PLATO

Berpikir adalah perintah yang diulang-ulang Allah sampai 63 kali di dalam Al-Qur’an. Salah satunya Allah berfirman. “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (Al Baqarah, 2:44).

Seharusnya semua ulama berfatwa berpikir hukumnya wajib bagi setiap orang beriman. Namun demikian kata Kiai Haji Fahmi Basya (KHFB) “otak kuman” tidak akan paham bahwa berpikir itu wajib. Untuk itu saya coba bantu agar otak kita tidak seperti kuman yang ada di kepala manusia dan menganggap kepala manusia datar.

Berdasarkan kajian dari berbagai sumber tentang fungsi otak disimpulkan bahwa BERPIKIR memiliki makna kata kerja MENGHUBUNGKAN. Pola dasar yang dilakukan dalam menghubungkan data, fakta, atau konsep dalam otak adalah dengan pola sebab-akibat. Dasar pola pikir hubungan sebab-akibat diambil dari keterangan dalam Al-qur’an bahwa segala sesuatu ada, pasti ada awal (sebab) dan akhirnya (akibat). “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Al hadiid, 57:3).

Setiap hari orang-orang berpikir dengan pola hubungan sebab akibat. Jadi kalau ada orang melarang tidak boleh menggunakan pikiran dalam memahami Al-Qur’an, bisa jadi dia otak kuman, karena berpikir adalah aktivitas yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Kalau ada orang mengatakan iman itu pakai hati bukan pakai pikiran, otak kuman juga dia, kerena dia melarang-larang sesuatu yang Allah perintahkan. Hehe….

Para ahli psikologi pendidikan yang kebanyakan dari golongan tidak percaya Tuhan, mengatakan bahwa berpikir telah jadi ketentuan, naluri, potensi, yang dimiliki oleh setiap manusia. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk berpikir. Masuk akal jika dikatakan bahwa kelebihan eksistensi manusia dari makhluk lain adalah karena manusia BERPIKIR. Mereka yang tidak kenal Tuhan, bisa menemukan manusia makhluk berpikir, ini yang kenal Tuhan tidak, padahal punya kitab suci yang memerintahkan berpikir berulang-ulang. Sampai kapan mau jadi kuman?

Jika seluruh aktivitas manusia dimulai dengan kegiatan berpikir pola sebab akibat, maka tidak ada manusia yang tidak berpikir sebab akibat. Sekualitas apapun manusia, dia pasti berpikir sebab akibat. Nabi Adam, Nabi Muhammad saw, para sahabat, ulama, ilmuwan, Muslim, Yahudi, Nasrani, Zoroaster, Konghucu, Hindu, Budha, Atheis, semua berpikir dengan pola sebab akibat. Dengan berpikir sebab akibatlah manusia bisa memahami eksistensi siapa Tuhannya. Nabi Ibrahim adalah contoh pemikir yang bisa menemukan eksintensi Tuhannya.  

Maka ditegaskan lagi, jika ada orang, siapa pun, melarang memahami kitab suci (Al-Qur’an), hadist, dengan pikiran (logika), dia telah menentang sesuatu yang dikehendaki Tuhan. Menghujat pemikir dengan kaum sesat, zindiq, ahli neraka, sedangkan dirinya setiap hari berpikir, dialah the real otak kuman hehehe….. Semoga Allah mengampuni dan memberi hidayah kepada nya.

Apakah tidak sadar? Setiap hari kita mengambil keputusan dengan menggunakan logika sebab akibat. Orang-orang yang dekat dengan Tuhan, mereka menjadikan masalah sebagai sebab untuk dekat dengan Tuhan dengan mendirikan shalat, sedekah, puasa, dan dzikir. Pilihan melakukan shalat, sedekah, puasa, dzikir adalah akibat dari sebab masalah yang mereka hadapi. Mengapa mereka pilih shalat, sedekah, puasa, dzikir, untuk selesaikan masalah? Karena itulah pengetahuan yang mereka miliki sebagai petunjuk dari Tuhan. Jika pengetahuan yang muncul selesaikan masalah dengan narkoba, maka masalah itu akan membawa mereka menjadi pengguna narkoba. Semua masalah diselesaikan dengan pengetahuan yang diolah dengan bantuan logika (berpikir sebab akibat), kemampuan yang dimiliki setiap otak manusia.

Dan setiap saat pengetahuan diilhamkan ke dalam pikiran kita oleh Tuhan. Jika yang diilhamkan kebajikan maka jadilah karakter baik, jika yang diilhamkan kefasikan jadilah karakter buruk. Baik dan buruknya ilham yang kita terima dari Tuhan, tergantung pada usaha dan kebiasaan kita sehari-hari. Jika setiap hari kita berkubang dalam jalan yang tidak dikehendaki Tuhan, maka kecenderungan yang diilhamkan oleh Tuhan adalah jalan kefasikkan. Jika setiap hari kita kita akses pengetahuan dengan membaca kitab suci, maka Tuhan akan senantiasa ilhamkan kebajikan kedalam pikiran kita.

SAHABAT SEJATINYA TERCIPTA KARENA KESAMAAN PRINSIP BUKAN KEDEKATAN
 Agar kita diilhamkan kebajikan, maka bacalah, galilah, segala pengetahuan dari kitab suci Al-Qur’an. Alqur’an itu isinya 1000 persen pengetahuan. Kalau baca Al-Qur’an lalu pengetahuannya tidak masuk ke dalam otak, pikiran kita, maka jadilah otak kuman hehehe….tidak ada pengetahuan dari Alqur’an yang bisa diproses. “Hari gini masih bodoh”, begitu kata KHFB.  

Mohon maaf jangan tersinggung dengan tulisan saya, karena semua yang saya katakan akan kembali kepada saya hehe…peace! Niatnya, semoga apa yang saya sampaikan menjadi hidayah bagi kita semua. Sesungguhnya kehidupan ini tidak ada yang buruk, bagi orang-orang yang berpikir dengan petunjuk Tuhan, kecuali otak kuman, up! Astagfirullahaladzim… Marilah dengan gegap gempita kita berpikir menurut petunjuk Tuhan. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan)

Monday, May 1, 2017

APAPUN JABATANNYA, STATUS YA PEMBANTU


OLEH:
MUHAMMAD PLATO

Makna kata “pembantu” di Indonesia, mengalami penyempitan karena dikaitkan dengan pekerjaan yang dianggap rendah, terutama disandingkan kepada para pembantu rumah tangga. Persepsi rendah terhadap kata pembantu membawa bias kepada rendahnya keudukan perempuan yang bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Inilah persepsi jahiliyah yang masih bertahan pada abad ini.

Laki-laki yang menikahi perempuan pembantu, diolok olok sebagai selera rendah. Padahal semua perempuan yang dinikahi laki-laki statusnya menjadi pembantu rumah tangga. Sekalipun pekerjaan rumah tangga, sebenarnya tanggung jawab laki-laki sebagai pemimpin, tetapi kecenderungan, istri lah yang menyiapkan pakaian, makanan, minuman, dan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan rumah tangga para istri dipandang mulia dihadapan Allah.

Persepsi masyarakat tentang rendahnya pembantu, pekerjaan rumah tangga, rupanya telah menjadi memori kaum perempuan umunya saat ini. Kondisi ini menjadi ciri jahiliyahnya pemikiran kaum perempuan dalam hal memandang pekerjaan.


Memandang rendah terhadap kedudukan manusia dilihat dari pekerjaan, termasuk pandangan materialis. Pandangan ini hanya melihat kedudukan tinggi atau rendah sesesorang dilihat berdasar fakta dan logika empiris, tanpa bimbingan dari Tuhan melalui wahyu. Logika yang dipakainya adalah kebenaran logis material berdasarkan apa yang dilihat.

Sesungguhnya kata pembantu, memiliki makna kedudukan tinggi, karena tecatat dalam doa Nabi Musa yang memiliki keterbatasan dalam berbicara, memohon didatangkan pembantu untuk menyampaikan kebenaran kepada Firaun. “dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,” (Thaahaa, 20:29). Nabi Harun kemudian diutus oleh Allah menjadi pembantu Nabi Musa.

Saling membantu adalah prinsip umum dalam kehidupan manusia. Praktek ini berlaku dalam hal kebaikan maupun keburukan sebagaimana dijelaskan dalam Al-qur’an. “Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (Al Israa, 17:88).

Pembantu rumah tangga, satu konsep dengan kata pembantu dalam kebaikan, seperti Nabi Harun menjadi pembantu Nabi Musa dalam menegakkan kebenaran. Kata pembantu yang mengalami penyempitan makna menjadi rendah digandengkan dengan pekerjaan rumah tangga adalah kejahiliyahan nyata di abad 21.

Prinsip hidup saling membantu, terdapat dalam berbagai variasi kata dijelaskan dalam Al-qur’an. “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (An Nisaa, 4:1).

Konsep saling meminta satu sama lain, adalah petunjuk hidup bagi orang-orang beriman dari Allah swt. sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka”, (Albaqarah, 2:3).

Menafkahkan rezeki, memiliki kesamaan konsep dengan jual beli. “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau pun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan”. (Ibrahim, 14:31).

Lalu konsep saling membantu berikutnya, dijelaskan dalam satu kata, “Ambillah sedekah dari sebagian harta mereka, dengan sedekah itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (At taubah, 9:103).

Berdasarkan keterangan ayat-ayat di atas, kita urutkan persamaan konsep tersebut dilihat dari aktivitasnya melalui bagan di bawah ini.

KONSEP
AKTIVITAS
PEMBANTU
MEMBERI
SALING MEMINTA
SALING MEMBERI
MENAFKAHKAN REZEKI
MEMBERI
JUAL BELI
SALING MEMBERI
SEDEKAH
MEMBERI

Kesimpulannya, konsep pembantu, saling meminta, menafkahkan rezeki, jual beli, dan sedekah, semua berwujud dalam aktivitas memberi. Maka seluruh dasar aktivitas manusia adalah saling memberi. Logis jika dalam hadis dijelaskan bahwa orang-orang terbaik di muka bumi ini adalah orang-orang yang paling bermanfaat bagi orang lain yaitu PARA AHLI MEMBERI.

Dengan memahami konsep ini, apapun pekerjaan di muka bumi ini, selama tidak melampaui batas ketentuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan, aktivitas tersebut dipandang baik dan terhormat dihadapan Allah. Ativitas memberi di dalam Alqur’an disebutkan dengan kata khusus yaitu kebajikan.

Untuk itu, persepsi negatif, merendahkan pembantu (rumah tangga) dipandang sebagai persepsi jahiliyah, yaitu persepsi orang-orang yang tidak diberi pengetahuan oleh Allah. Dan mereka yang merasa hina, menjadi pembantu (mengerjakan rumah tangga), atau merasa rendah diri, termasuk manusia-manusia berjiwa jahiliyah.

Pada hakikatnya semua manusia adalah pembantu, karena tidak ada manusia yang bisa menghidupi, dan menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Kiyai, guru, dosen, presiden, menteri, gubernur, bupati, kepala dinas, kepala sekolah, kepala rumah tangga, pekerja rumah tangga, pekerja pabrik, semuanya pembantu. Dan sebaik-baiknya manusia, pemegang jabatan adalah pembantu Allah, yaitu mereka yang menegakkan keadilan sesuai dengan kehendak-Nya. Jadi apapun pekerjaan kita di muka bumi ini status kita adalah pembantu.

Di masa hidupnya dulu, untuk mengukuhkan kesederajatan manusia, mengubah persepsi negatif terhadap pembantu (budak), dan untuk membuktikan bahwa kedudukan manusia sama dihadapan Tuhan, Nabi Muhammad saw berani menikahi perempuan golongan pembantu (budak) yang tidak lazim pada budaya Arab saat itu. Inilah pesan moral kemanusian yang dalam dari Nabi Muhammad saw. bagi orang-orang berakal. Salam sejahtera untuk Nabi Muhammad saw. Semoga Allah mengampuni dosa kita semua. Wallahu ‘alam.

(Penulis Kepala Sekolah, Master Trainer @logika_Tuhan)