Wednesday, December 26, 2018

PENAMPAKKAN DI GUNUNG KRAKATAU

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sejarah mencatat bahwa tahun 2010, gunung Merapi sebagai gunung teraktif di dunia memuntahkan isi perutnya ke bagian wilayah Jawa Tengah, dan Jogjakarta. Awan panas (wedhus gembel) membakar ladang-ladang dan rumah-rumah warga. Mereka tidak sempat menyelamatkan diri, takdir hidupnya berakhir oleh sengatan awan panas ribuan derajat celcius. Abu ledakan Gunung Merapi berterbangan menjangkau radius 500 KM ke bagian barat pula Jawa.

Baru saja lepas dari bencana gunung Merapi, di akhir penghujung tahun 2010, gunung Bromo di Jawa Timur menunjukkan aktivitasnya menyemburkan abu vulkanik. Walaupun letusannya tidak sedahsyat letusan gunung Merapi, abu vulaknik yang disemburkan gunung Bromo merubuhkan rumah dan menutupi tanaman-tanaman milik para petani hingga tidak bias produksi. Abu yang dihasilkan dari letusan gunung Bromo merugikan para petani karena gagal panen dan pasokan kebutuhan bahan pokok menjadi terhambat, harga-harga barang melambung tinggi.

GUNUNG KRAKATAU MELETUS KARENA TUHAN MENAMPAKKAN DIRI KEPADA GUNUNG
Sejarah telah mencatat, tahun 1883 telah terjadi letusan dahsyat gunung Krakatau, yang menyebabkan ribuan orang jatuh korban. Akibat bencana meletusnya gunung Kratakatau, masyarakat Banten sangat terkena dampakanya. Sawah-sawah mereka hilang menjadi gersang akibat letusan abu vulkanik gunung Krakatau. Hampir 200.000 nyawa melayang, wabah penyakit, dan hewan-hewan mati terserang penyakit. Kondisi ini membuat masyarakat Banten hidup dalam kesengsaraan. (Kartodirdjo, 2015).

Sejarah gunung krakatau berulang, akhir tahun 2018, anak gunung Krakatau meletus menyebabkan tsunami dan memakan korban ratusan orang. Tsunami terjadi tiba-tiba, disaat orang-orang sedang lengah. Tsunami akibat letusan gunung Krakatau bergerak tidak terdeteksi.

Dalam sejarah spiritual, gunung membawa  pesan untuk manusia. Pesan itu bisa kita tangkap dari fakta sejarah di dalam kitab suci Al-Qur’an, “Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan”. (Al A’raaf:143). Dari fakta ini, kita pahami bahwa letusan gunung disebabkan oleh penampakkan Tuhan kepada gunung, lalu gunung hancur (meletus) meluluhlantakkan segala apa yang ada di permukaan bumi. Manusia yang menyaksikan dan merasakan dahsyatnya letusan gunung, meratap memohon ampun kepada Tuhan. 

Lalu apa sebab Tuhan menampakkan diri kepada gunung? Dalam Al-Qur’an dijelaskan, “Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya”. (Ibrahim:46). Makar-makar manusia menyebabkan gunung hancur, dan memberi pesan kepada manusia agar kembali ke jalan benar dan tinggalkan segala perbuatan buruk.

Gunung punya ikatan kuat dengan kehidupan masyarakat. Dalam adat Jawa dan Sunda, gunung selalu dikaitkan dengan tempat-tempat suci. Pada kenyataannya banyak gunung yang dijadikan tempat suci. Di lingkungan masyarakat Jawa banyak dikenal tempat-tempat suci berkaitan dengan gunung seperti Gunung Kawi, Gunung Kemukus, dan Gunung Merapi. Walaupun berbau mitos dan kadang ada perbuatan syirik di dalamnya, dibalik penyucian gunung sebenarnya ada pesan spiritual yang sering tidak tersampaikan. Pesannya adalah gunung mewakili dari seluruh alam semesta yang harus kita rawat dan jaga kelestariannya untuk kelangsungan dan kesejahteraan hidup manusia. Gunung makhluk suci berfungsi sebagai pertanda, tempat atau media komunikasi antara manusia dengan Tuhan.

Untuk kelangsungan hidup manusia, gunung memiliki fungsi sebagai rumah tempat berlindung, (Al Araaf:74); sumber penghidupan, (Ar ra’d:3); sumber air, (An naml:61), pertahanan kemanan, (Thaahaa:80); menahan goncangan dan tempat berkembang biaknya segala jenis binatang (Lukman:10).

Meletusnya Gunung dapat kita renungi sebagai tanda manusia telah melampaui batas, dan harus kembali memperbaiki diri. Meletusnya Gunung adalah tanda bahwa Tuhan itu ada, menyaksikan dan memiliki ketentuan pasti. Tuhan telah menampakkan diri kepada gunung, untuk menyampaikan pesan, kembalilah kepada Tuhan mu agar hidup mu sejahtera. 

Lalu mengapa Tuhan menampakkan diri kepada gunung? Budaya hedonis, gila kekuasaan, pergaulan bebas, peredaran narkoba, prostitusi kekuasaan, pencemaran dan kerusakan lingkungan, telah menjadi kebiasaan. Kita telah bertindak sekehendak hati dan telah mengabaikan eksistensi Tuhan. Prilaku ini telah membuat gunung bereaksi takut kepada Tuhan.

Para leluhur  menyucikan gunung, bukanlah akal-akalan agar manusia berlindung kepada gunung. Penyucian gunung adalah cara orang-orang terdahulu, agar manusia menghargai dan menjaga keseimbangan alam untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan umat manusia. Terpeliharanya gunung dapat menjadi pertanda terpeliharanya kesejahteraan hidup manusia. Memperbaiki diri, dengan berikap jujur, adil, amanah, adalah cara manusia memelihara gunung dari kehancuran.

Nabi Muhammad SAW, diutus untuk menyempurnakan agama, agar ajaran-ajaran yang dibawa turun temurun dari para leluhur tidak jadi sumber penyimpangan. Untuk itu, sesuai dengan kemampuan berpikir manusia, Nabi Muhammad SAW diberi mukjizat Al-Qur’an sebagai al-Furqon, untuk membedakan mana yang benar dan salah.

Mitos adalah cara orang-orang terdahulu menyampaikan pesan Tuhan kepada manusia. Kini, zaman sudah berubah, ajaran-ajaran berbau mitos telah digeser dengan ajaran-ajaran yang bisa dijangkau oleh akal. Untuk itu, kitab suci Al-Qur’an diturunkan supaya dibaca, dipahami dengan akal dan pikiran manusia. Jika tidak, akan banyak manusia berpaling dari ajaran-ajaran Tuhan terjebak di dunia mitos, berbuat makar dan mengabaikan eksistensi Tuhan.  Mari, bertobatlah seperti Nabi Musa as. dan akhiri perbuatan makar itu. Wallahu ‘alam.

Master Trainer logika tuhan

Saturday, December 22, 2018

ILMU NAFSIR

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Salah satu bukti manusia berpikir adalah setiap hari manusia menafsir, setiap apa yang diindera. Ketika panca indera berfungsi, maka pengetahuan akan masuk ke memori dan diolah oleh otak untuk kemudian menghasilkan pengetahuan baru sebagai hasil sintesa. Proses sintesa pengetahuan adalah kegiatan otak berpikir, mengolah pengetahuan yang masuk ke memori.

Praktek pengolahan pengetahuan dalam otak, dilakukan oleh setiap orang. Praktek pengolahan pengetahuan (berpikir) ini ada yang disadari ada yang tidak. Hasil dari proses berpikir yang bisa diamati dari luar adalah penafsiran yang dikemukakan dalam bentuk lisan atau tulisan. Jika demikian, pembicaraan yang kita utarakan, setiap kali bicara adalah hasil berpikir berupa penafsiran. Tafsiran dalam bentuk obrolan sehari-hari adalah hasil pemikiran reflek yang tidak dalam kontrol kesadaran. Bisa ditarik kesimpulan bahwa obrolan sehari-hari manusia adalah tafsir tingkat rendah yang tidak mengeluarkan seluruh energi kesadaran sebagai bukti nyata manusia berpikir. 
Manusia adalah Makhluk Penafsir. Ilmu Dasar Manafsir adalah Berprasangka Baik.
Tafsir tingkat tinggi adalah hasil pemikiran yang direncanakan untuk mendapat pengetahuan bermanfaat bagi kehidupan. Pembicaraan berkualitas di bawah kontrol kesadaran dilandasi oleh ilmu pengetahuan didukung oleh data dan fakta yang benar. Plato menegaskan bahwa hasil pengamatan inderawi tidak dapat memberikan pengetahuan yang kokoh karena sifatnya berubah-ubah. Sesuatu yang berubah-ubah tidak dapat dipercaya kebenarannya. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan yang memberikan kebenaran kokoh, ia mesti bersumber pada hasil pengamatan yang tepat dan tidak berubah-ubah. Hasil pengamatan yang tidak berubah-ubah, hanya bisa datang dari alam yang tetap dan kekal. Alam inilah yang disebut oleh Aristoteles sebagai “alam ide” suatu alam di mana manusia sebelum lahir telah mendapatkan ide bawaan. Bagi Plato alam ide inilah alam realitas, sedangkan alam inderawi bukanlah alam sesungguhnya. (Siraj, 2012, hlm. 24).

Namun demikian tidak semua orang bisa jadi peneliti dan senang meneliti. Sebagaimana statistik masyarakat kita menunjukkan tidak suka membaca, dan minat terhadap ilmu pengetahuan rendah. Budaya ngobrol yang lebih diminati, masyarakat sangat rentan terjebak pada pembicaraan tidak produktif karena sumber pembicaraannya diambil dari data dan fakta yang rendah derajat kebenarannya.

Menghindari pembicaraan kurang produktif, berkaitan dengan memahami ilmu dasar menafsir. Sebagaimana dalam pembelajaran sejarah, menafsir adalah proses pemberian makna pada data atau fakta sejarah. Etika dalam menafsir sekalipun hasilnya bisa baik dan buruk tujuannya tetap harus positif. Kebenaran tafsir salah satunya ditentukan oleh kebenaran data atau fakta yang ditafsir. Jika tafsir dinilai kurang tepat tidak akan bermakna buruk karena kembali kepada data. Tafsir yang baik selain diukur dari kebenaran data atau fakta, juga bias diukur dari tujuan atau niat menafsir. 

Untuk menghindari hal-hal kontroversi dalam penafsiran, dibutuhkan kesepaktan bersama bahwa sebaik-baiknya tafsiran harus membawa kebaikan bagi kehidupan manusia, bagaimanapun kondisi data dan fakta yang kita miliki. Sebagaimana dalam etika agama, sebaik baik tafsir adalah tafsiran baik terhadap segala kejadian. Setiap tafsir tidak memiliki derajat mutlak sebagai kebenaran. Untuk itulah agar terhindar dari tafsir yang salah, setiap tafsir harus bertujuan dan diupayakan bernilai baik. Maka dari itu, tidak pernah ada tafsir yang salah, jika setiap tafsir selalu di jaga untuk kebaikan umat manusia.

Jika manusia adalah makhluk tukang tafsir, maka ilmu menafsir yang paling dasar, yang harus dipahami semua manusia adalah menafsir untuk tujuan baik. Ilmu dasar dalam menafsir adalah PRASANGKA BAIK, sebagai mana dijelaskan, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Al Hujuraat, 49:12).

Jauhi prasangka karena sebagian prasangka adalah dosa. Jika sebagian prasangka adalah dosa, maka ada sebagian prasangka yang berpahala. Oleh karena itu, “Aku bersama dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, maka hendaklah ia BERPRASANGKA dengan apa yang DIINGINKAN, bukan yang ia risaukan dan khawatirkan”. (Hadis Qudsi). 

Allah absolut pemilik kebaikan, maka Allah bersama orang-orang yang berprasangka baik. Dari dasar inilah lahir dasar ilmu tafsir yang bisa digunakan semua manusia sebagai makhluk tukang tafsir. Maka untuk menghindari kebinasaan, menciptakan kedamaian, tafsirlah semua kejadian menjadi baik, dengan tujuan baik, dan niat baik. Oleh karena kebaikan milik Allah, tidak ada tafsir manusia yang mutlak baik, kecuali setelah diadili oleh Allah di hari pengadilan. Wallahu “alam.

#Master logika tuhan

Friday, December 21, 2018

BATAS BERPIKIR

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kebebasan adalah kata fantasi dengan abstraksi tinggi, yang sering dikemukakan kepada semua orang tanpa memperhatikan tingkat pendidikan. Padahal kata kebebasan, hanya bisa dipahami oleh mereka yang sudah memiliki kedewasaan dalam berpikir. Kebebasan harus diajarkan kepada anak-anak mengikuti level kemampuan berpikirnya.

Kata kebebasan tidak memiliki arti sebenarnya bebas tanpa batas, kebebasan memiliki arti dalam batasan tanggung jawab seorang individu. Batasan kebebasan Individu memiliki perbedaan, tergantung kepada nilai yang disepakati. Setiap latar belakang suku, bangsa, budaya, agama, memiliki nilai-nilai yang membatasi kebebasan manusia. 

KEBEBASAN BERPIKIR ADALAH MITOS, KARENA MANUSIA TERBATAS
Dewasa ini dominasi nilai-nilai budaya dunia dibatasi oleh budaya rasional, ilmiah, yang bersumber dari pengetahuan alam. Dominasi budaya rasional yang bersumber pada alam disebarkan ke seluruh dunia melalui gelombang teknologi informasi. Kebebasan pemahamannya dimonopoli oleh budaya rasional empiris, dan arti kebebasan adalah kehendak manusia dalam melakukan apa saja di muka bumi ini.

Al-Gazhali menggolongkan manusia menjadi tiga dalam memahami arti nur, yaitu kalangan umum, kalangan khusus, dan kalangan lebih khusus. Nur bagi kalangan awam adalah indera penglihatan, sehingga pengetahuan tidak bisa diketahui oleh orang buta. Namun demikian, tanpa indera penglihatan orang masih bisa mengetahui dengan bantuan akal, sehingga akal lebih pantas untuk disebut nur. Ini adalah definisi nur untuk kalangan khusus. Mata memiliki keterbatasan, tidak bisa melihat dibalik tirai, yang besar terlihat kecil, yang jauh terlihat dekat, yang diam terlihat bergerak, yang bergerak terlihat diam. Oleh karena itu akal lebih layak disebut sebagai nur. Akal tidak memiliki kekurangan seperti mata. Al-Ghazali mengakui bahwa pengakuan akal sebagai sesuatu yang dapat dipercaya dalam mencari kebenaran.

Namun Al-Ghazali mempertanyakan kembali dimana datangnya kepercayaan terhadap akal sebagai sesuatu yang dapat dipercaya. Jika ada dasarnya sesungguhnya itulah yang sesungguhnya yang harus dipercaya, dan Al-Ghazali tidak menemukan dasar itu secara faktual. Ternyata akal bisa keliru. Kekeliruan akal karena ada penutup. Penutup itu adalah khayalan, praduga, dan keyakinan. Manusia sangat sulit keluar dari penutup itu, kecuali setelah mati.

Al-Gazhali tetapi mempercayai akal, akan tetapi kebenaran akal bukan melalui kata-kata dialektis dan logis melainkan melalui nur yang diberikan oleh Allah. Nur itu adalah kunci pengetahuan yang didapat dengan mengosongkan jiwa dari selain Tuhan dan mengisi jiwa dengan ingatan totalitas kepada Allah. Hal inilah yang akan mengantarkan manusia kepada kesadaran totalitas kepada Allah. Pada tahap inilah kemampuan jiwa meningkat kepada menangkap gambar-gambar dan tanda-tanda pemisalan-pemisalan sampai ke tingkat yang sama sekali tidak dapat digambarkan oleh kata-kata.

Mata menurut Al-Gazhali adalah sarana untuk dapat mengetahui sesuatu. Mata terbagi menjadi dua, yaitu mata inderawi dan mata batin. Mata inderawi melihat zahir yang jangkauannya adalah alam fisik, sedangkan mata batin melihat alam metafisik. Kedua alam ini memiliki hubungan erat seperti kulit dan daging. Untuk melihat alam fisik dibutuhkan cahaya, dan untuk memperoleh cahaya yang lebih tajam harus melakukan berbagai macam usaha atau latihan. Al Gazhali menyimpulkan cahaya adalah sumber pengetahuan, dimana pengetahuan diperoleh melalui indera, akal, dan kalbu. (Siraj, 2012, hlm. 26-27).

Penulis menyimpulkan, cahaya yang dimaksud sebagai sumber pengetahuan adalah kitab suci Al-Qur’an. Sebagaimana kita ketahui pengetahuan yang terdapat dalam Al-Qur’an menyangkut alam fisik dan metafisik. Fakta-fakta dalam Al-Qur’an bisa ditangkap oleh mata, akal, dan kalbu. Sampai saat ini, belum ada persamaan persepsi bahwa Al-Qur’an sebagai cahaya, sumber pengetahuan bagi manusia. Al-Qur’an terlalu disakralkan sehingga manusia terjebak oleh penutup yaitu khayalan, praduga dan keyakinan. Inilah pembatas pikiran manusia, sehingga manusia tidak mampu memahami hakikat kebenaran.

Bagi Calne (2004, hlm. 16), menjelaskan bahwa kekuatan nalar betul-betul merupakan kemampuan manusia yang nyata, jelas, dan tidak boleh tidak bekerja dalam setiap hampir bidang kehidupannya, tetapi nalar tidak bisa memberi tujuan-tujuan yang terkait dengannya. Nalar harus dibela sekuat tenaga terhadap serangan-serangan yang makin keras dewasa ini dari pihak tak nalar, dan sikap mengadalkan nalar untuk menentukan motivasi dan tujuan hidup manusia harus dihindari.

Al-Gazhali dan Calne sama-sama mengakui bahwa nalar ada batasnya. Al-Ghazali mengatakan batas nalar, karena danya penutup berupa khayalan, praduga, dan keyakinan. Sedangkan Calne batasan dari nalar adalah ketidak mampuan menemukan motivasi dan tujuan hidup manusia. Sekalipun pemikir ini berlatar belakang berbeda, tetapi jika kita cermati, sama-sama mengakui bahwa akal punya keterbatasan. Maka dari itu, kebebasan berpikir adalah mitos yang menyihir golongan awam, yang membuat mereka bersikap mengandalkan nalar tanpa batasan. WALLAHU 'ALAM

Master @logika_Tuhan

Thursday, December 6, 2018

PENGETAHUAN ADALAH EKSISTENSI


OLEH: MUHAMMAD PLATO

            Kawan-kawan saya coba jelaskan pemikiran Plato, yang dijelaskan oleh Bertrand Russell. Sebenarnya apa yang dikatakan mereka tentang eksistensi Tuhan, dalam bentuk particular. Filsafat Barat kalau kita pahami bersumber pada Tuhan yang absolut, hanya saja mereka jarang menyebutkan kata Tuhan, karena lebih senang bermain dalam tataran partikular (duniawi). Itu opini saya. Coba kita lihat saja penjelasannya di bawah. Insya Allah tidak akan musyrik, justru kita akan belajar untuk lebih mengenal Tuhan.

Plato berpendapat, “Mereka yang bisa melihat yang absolut, abadi, dan tak berubah bisa dikatakan mengetahui”. Orang yang memiliki pengetahuan berarti memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang eksis, sebab sesuatu yang tidak eksis berarti tidak ada. Jadi pengetahuan tak mungkin salah, sebab secara logis tidak mungkin keliru. Sedangkan opini bisa keliru. Opini tidak mungkin tentang yang tak eksis, sebab itu mustahil; tidak mungkin pula tentang apa yang eksis, sebab ini adalah pengetahuan. (Russell, 2016, hlm.164).

Mungkin sedikit pusing juga memahami makna filosofis penejelasan di atas. Baik saya akan sedikit memberi pemahaman tentang apa beda pengetahuan dengan opini. Eksistensi alam semesta hakikatnya adalah pengetahuan. Muasal dari semua pengetahuan adalah Tuhan. Pengetahuan bersama pemeliharanya yaitu Tuhan. Manusia bukan pemilik pengetahuan, tetapi dia pencari pengetahuan. Manusia-manusia pencinta pengetahuan pada akhirnya akan bermuara kepada Tuhan.

  Setiap opini manusia adalah pasti didasari pengetahuan, tetapi manusia tidak mungkin memahami pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan tidak mungkin keliru, maka yang keliru adalah opini manusia. Pengetahuan dalam opini manusia menjadi objek partikular, karena manusia hidup dalam ruang dan waktu. Sesuatu yang partikular senantiasa mengandung sifat berlawanan.

Analogi lain yang menjelaskan pengetahuan adalah eksitensi, dijelaskan dalam kisah gua dan liang. Mereka yang tidak memiliki pengetahuan diibartakan seorang narapidana (manusia terbatas) berada dalma liang gua. Mereka melihat ke dalam gua, samping kiri kanan dinding gua. Sementara di belakang mereka ada api yang menyala. Mereka hanya bisa melihat bayang bayang dirinya sendiri, serta bayangan benda-benda di belakang mereka, yang dipantulkan pada dinding gua oleh cahaya api.  Mereka menganggap bayang-bayang itu adalah kenyataan, dan dan tak punya pengertian benda-benda yang menjadi sumber bayang-bayang. Pada akhirnya dia akan lolos keluar dari gua menuju dunia terang, dan untuk pertama kalinya dia melihat yang nyata dan sadar bahwa sebelumnya dia tertipu oleh bayang-bayang. Ketika kembali kepada teman-temannya yang masih terjebak dalam gua, kemudian menjelaskan tentang kebenaran, di mata teman-temannya ia akan tampak menjadi lebih bodoh dari sebelum ia bebas. (Russell, 2016, hlm, 170).

Manusia yang hidup di muka bumi, seperti narapidana yang ada dalam gua. Mereka hidup diliang sempit yang gelap gulita. Atas cahaya-Nya mereka bisa melihat benda-benda. Mereka tidak sadar bahwa benda-benda yang dilihat adalah bayang-bayang Nya. Mereka tidak bisa mengenali cahaya dan siapa pemilik bayang-bayang. Mereka akan keluar dari gua ketika mengenali cahaya dan pemilik-Nya. Orang-orang yang sudah mendapat pencerahan (Pemimpin) akan berusaha memperkenalkan siapa pemilik cahaya sebenarnya  kepada mereka yang masih tinggal di dalam gua, tapi yang di dalam gua, mereka kesulitan untuk memahaminya karena pandangan mereka yang kaku. Mereka hanya bisa melihat ke depan akibat rantai yang membelenggunya. Rantai yang membelenggu itu adalah pandangan keduniawian akibat terlalu lama dirantai dalam gua.

Inti dari pemikiran Plato adalah manusia harus cinta pengetahuan. Artinya, Tuhan yang absolut bisa eksis dalam jiwa manusia yang berpengetahuan. Plato ingin menyampaikan kepada manusia bahwa mengetahui yang absolut adalah visi tertinggi bagi perjalanan hidup manusia. Tuhan sebagai pemilik pengetahuan absolut bisa ditemukan oleh manusia yang bisa keluar dari liang gua, dan menyadarinya bahwa manusia tidak bisa menemukan kebenaran tanpa bantuan dari Sang Pemilik Pengetahuan. Untuk itulah, Tuhan menurunkan manusia yang telah memiliki pencerahan, berjiwa pemimpin, untuk membimbing manusia ke pada cahaya Tuhan.

Sayang manusia-manusia sudah banyak terjebak di lubang gua dan lehernya sudah terbelenggu oleh rantai sehingga pandangannya tidak fleksibel dan hanya melihat satu arah ke arah bayang-bayang mereka sendiri dan benda-benda yang ada di belakangnya. Para pemimpin (yaitu Nabi), yang membawa pengetahuan (pencerahan) dari Tuhan, dianggap orang-orang bodoh dan lebih bodoh dari mereka. Maka dari itu pesan dari Tuhan, Para Nabi, dan Plato, manusia harus bisa melihat yang absolut dan abadi dengan terus menggali pengetahuan. Wallahu’alam.  
(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan)

Friday, November 9, 2018

NABI MUHAMMAD PATAH HATI?


OLEH: MUHAMMAD PLATO
Menyimak diskusi lintas agama, ternyata hal yang menjadi permasalahan dari non muslim, adalah mereka tidak yakin bahwa kitab suci Al-Qur’an adalah wahyu. Dengan demikian mereka tidak meyakini bahwa Nabi Muhammad saw sebagai Nabi. Padahal jika mereka membaca sejarah, hanya Nabi Muhammad saw yang sampai sekarang jejak-jejak kenabiannya masih terekam dalam catatan sejarah. Bukti-bukti peninggalan, tempat, waktu, Kenabian Nabi Muhammad saw sampai sekarang masih terekam.

Untuk itulah, saya memohon kepada pemerintah Arab Saudi, untuk mempertahankan situs-situs sejarah kenabian Nabi Muhammad saw. biarkan tempat, benda itu ikut menjadi saksi kenabian Nabi Muhammad saw. Kita harus kasihan, karena ada orang-orang yang sudah terjebak dengan kebenaran materi, mereka sulit percaya jika tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri. Siapa tahu, dengan menjaga situs-situs dan benda-benda bersejarah itu, orang-orang yang sudah terjebak dengan kebenaran materi bisa mengenal Nabi Muhammad saw dan mendapat hidayah. Kita harus menolong mereka dengan memperkenalkan Islam dan siapa Tuhannya.

Dari 25 Nabi yang pernah diutus Allah, didalamnya termasuk Nabi yang diutus kepada orang Yahudi dan Nasrani. Cerita kehidupan Nabi Muhammad sejak lahir sampai meninggal, dibanding dengan nabi-nabi sebelumnya, ceritanya  tergolong sangat lengkap masih terekam. Untuk itulah untuk kehidupan pada abad sekarang kisah Nabi Muhammad saw, jika kita teliti banyak menginspirasi dan menjadi contoh teladan untuk umat manusia di zaman sekarang.
Diceritakan dalam kisah Nabi Muhammad sebelum kenabiannya, diceritakan dalam sejarah hidupnya berdasarkan hadis dan fakta-fakta silsilah kekeluargaannya, Nabi Muhammad saw menjalani hidup seperti manusia biasa. Beliau bekerja, mengembal kambing, berdagang, layaknya seperti manusia seperti kita menjalani hidup. Beliau kehilanagan ayah, ibu, kakek, paman, dan merasakan kesedihan yang mendalam akibat ditinggalkan orang-orang tercintanya.

Untuk mejaga eksistensinya sebagai pemuda dewasa, Nabi Muhammad saw. mengadu nasib dengan menjadi seorang pedagang. Modal kejujuran yang disandangnya sebagai al-amin, Beliau berhasil menjadi seorang pedagang  sukses dan terpercaya. Kesuksesannya dalam berdagang dan kejujurannya, telah memikat seorang perempuan terhormat dan kaya yaitu Siti Khadijah. Pada usia 25 tahun beliau menikah dengan Siti Khadijah.
Dari pernikahannya dikaruniai 6 orang anak, semua anaknya meninggal mendahuluinya. Dua anak laki-lakinya meninggal di saat usianya masih balita. Bisa kita bayangkan bagaimana Nabi Muhammad kehilangan anak laki-laki tercinta, yang pada saat itu dalam budaya Arab, anak laki-laki adalah penjaga eksistensi keluarga. Inilah kisah hidup Nabi Muhammad saw yang betul-betul realistis menyentuh bumi dan kisah hidupnya dapat dialami oleh manusia-manusia biasa yang hidup di zaman sekarang. Untuk itulah Nabi Muhammad saw contoh teladan untuk kehidupan kita sekarang.

Bagi anak-anak muda yang merasakan pernah ditolak lamarannya kepada seorang pasangan wanita, ternyata bisa belajar kepada Nabi Muhammad saw. Jangankan Anda sebagai manusia biasa yang tidak tahu akan jadi apa, Nabi Muhammad saw pernah merasakan bagaimana lamarannya ditolak karena sudah wanita yang dilamarnya sudah mendapatkan jodoh seorang pemuda kaya.
Dalam kisah hidup Nabi Muhammad saw, karya seorang mualaf yang menjadi penyair sufi modern kelahiran Amerika Serikat, pernah tinggal di Inggris, lama belajar Islam di Kairo, Martin Lings (2008, hlm.40)  dikenal dengan nama Abu Bakr Siraj Al-Din, dari sumber-sumber kisah klasik, menceritakan;

“Abu Thalib memiliki beberapa putri. Diantara yang ada yang telah mencapai usia nikah, namanya adalah Fakhitah, namun kemudian ia dipanggil dengan Umm Hani dan senantiasa dikenal dengan nama itu. Rasa cinta tumbuh antara dia dan Muhammad (belum mendapat wahyu sebagai Nabi). Kemudian Muhammad memohon kepad apamannya agar diizinkan menikahi putrinya. Namun Abu Thalib memiliki rencana lain. Hubayrah putra saudara ibu Abu Thalib yang berasal dari Bani Makhzum, juga telah melamar Umm Hani. Hubayrah bukan saja seorang pria kaya raya, tetapi seorang penyair berbakat, seperti halnya Abu Thalib sendiri. Terlebih lagi, kekuasaan Bani Makhzum di Mekah demikian meningkat seiring dengan semakin merosotnya kekuasaan Bani Hasyim. Kepada Hubayrahlah Abu Thalib menikahkan putrinya, Umm Hanni. Ketika kemenakannya kembali mendekati dengan lembut, Abu Thalib hanya menjawab “mereka te;ah menyerahkan putri mereka untuk kita kawini (artinya Abu Thalib mengawini perempuan yang jadi istrinya dari Bani Makhzum), maka kita haruslah membalas kebaikan mereka. Muhammad menerima keputusan pamannya. Dengan sopan, ramah, dan lapang dada, ia mengakui bahwa dirinya belum siap untuk menikah. Itulah yang diputuskan untuk dirinya”.

Sebuah empati bisa kita rasakan bagaimana Muhammad sebelum menjadi Nabi mendapat ujian dari Allah ditolak lamarannya. Namun sikap dan kesannya sungguh anggun dan bijaksana. Semua mozaik kehidupan manusia dialami masa demi masa, secara fisik dan psikologis, oleh Nabi Muhammad sebagai manusia biasa. Demikianlah mengapa Nabi Muhammad saw layak menjadi contoh teladan bagi seluruh umat manusia hingga sekarang.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab, 33:21).  

Demikianlah kisah Nabi Muhammad saw, sebagai teladan bagi anak-anak muda. Jangan putus asa dari rahmat Allah. Masa remaja Nabi saja tidak berjalan mulus seperti yang kita inginkan. Padahal kalau Allah menghendaki, sebelum dan sesudah kenabian Muhammad, bagi Allah mudah memberikan segala kebaikan yang diinginkan manusia. Nabi saja mendapat ujian apalagi kita. Wallahu ‘alam.
(Master Trainer @logika_Tuhan)

Thursday, November 1, 2018

MENYUAP DI JALAN TUHAN!

Oleh: Muhammad Plato

            Kasus suap menyuap sebetulnya bukan masalah baru di Indonesia. Sejak dinobatkan sebagai negara terkorup di dunia, sudah pasti bermacam-macam suap ada di Indonesia. Seorang Profesor Dosen Kakak saya di sebuah Universitas swasta ternama di Bandung berbicara, suap tidak bisa hilang dengan mudah di bumi Indonesia. Bagaimana tidak, sejak dahulu nenek moyang kita selalu mengajarkan dan mempraktekkan suap.
            Setiap malam selasa, malam jumat, nenek moyang kita melakukan ritual suap kepada para leluhurnya dengan menyajikan sesajian. Mereka punya keyakinan jika tidak melakukan acara ritual ini, akan kehilangan berkah dalam hidupnya. Saking percayanya, kebiasaan ini bisa bertahan turun-temurun mungkin sampai sekarang.
            Demi mempertahankan ritual suap dan proses adaptasi dengan zaman, ritual suap antara manusia dengan roh nenek moyang berubah menjadi suap diantara sesama manusia. Suap dilakukan untuk memuluskan proyek yang dinilai bisa menghasilkan uang banyak. Suap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tiada hari tanpa suap, itulah mungkin pepatah yang pas untuk menggambarkan kehidupan di Indonesia.

BERPIKIRLAH ADA SUAP YANG HALAL YAITU MENYUAP TUHAN
            Alang kepalang, masyarakat kita sudah biasa dengan suap, mau dibagaimanakan lagi, kita tidak bisa hidup tanpa suap. Satu-satunya jalan kita harus ikut-ikutan main suap. Kalau tidak ikut-ikutan suap jelaslah tidak akan kebagian tender, alias dapur tidak ngebul.
            Tapi kita modifikasi sedikit cara suapnya. Kalau masyarakat dahulu melakukan suap terhadap nenek moyang sebagai perbuatan syirik, dan masyarakat sekarang main suap kepada sesama manusia itu juga dosa besar karena berprilaku curang, yang halal main suap kepada Allah yang memiliki kekuasaan rezeki di dunia dan akhirat. Tentu saja menyuap Allah juga harus sembunyi-sembunyi karena itulah hakikat suap. Semakin tersembunyi, suap semakin baik.
            Jika selama ini orang-orang menginginkan kekayaan, jabatan, dengan cara suap, kita juga lakukan hal yang sama. Jika orang-orang melakukan suap kepada pejabat, atau atasan penentu kebijakan, kita juga harus lakukan suap kepada Penentu Keputusan yaitu Allah SWT.
            Jika ingin jadi pegawai negeri (PNS), tentara, guru, dan polisi, berani keluarkan dana  30 sampai 150 juta, kita juga harus berani. Mengapa kita tidak sanggup keluarkan juga dana sebesar itu untuk Allah. Kalau Anda orang beriman suap saja Allah dengan dana sebesar itu. Caranya keluarkan dana sebesar itu untuk fakir miskin, panti asuhan, dan kaum dhuafa.
            Suap kepada manusia hasilnya bisa kita saksikan, banyak yang tertipu oleh oknum-oknum yang menjanjikan pekerjaan dan jabatan. Para penyuap kehilangan uang dan akhirnya jatuh miskin. Sekarang anda pikirkan bahwa uang yang anda berikan kepada fakir miskin untuk menyuap Allah, akan dikembalikan 10 sampai 700 kali lipat. Ini adalah janji Allah dalam Al-Qur’an surat Al An’am ayat 160 dan Albaqarah ayat 261. Bayangkan jika Anda menyuap Allah 30 juta saja, bukan hanya jabatan atau pekerjaan yang akan anda dapatkan, justru anda akan mendapatkan kelimpahan harta dari Allah SWT.
            Berpikirlah para penyuap! Jika saja untuk memperoleh keinginan Anda berani berbuat jahat dengan melakukan suap terhadap sesama manusia, mengapa juga Anda tidak berani berbuat baik, dengan cara menyuap Allah. Menyuap kepada manusia dan kepada Allah modalnya sama, KE-BE-RA-NI-AN. Berani buruk atau baik? Kata Mario Teguh, “pemberani itu ciri dari orang-orang beriman” Berpikirlah para penyuap!!!

(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan)

Thursday, October 4, 2018

DERITA BATIN NABI MUHAMMAD SAW

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sejarah itu pasti dongeng, namun dongeng belum tentu sejarah. Sejarah itu bersumber pada fakta, dan diceritakan dalam bentuk dongeng. Inilah dongeng fakta penderitaan Nabi Muhammad saw semasa Beliau sebelum dan sesudah menjadi Nabi. Saya susun dari sudut pandang sejarah.

Tujuan tulisan ini adalah memberikan hiburan kepada orang-orang yang dilanda sedih karena penderitaan yang dihadapinya. Bandingkanlah penderitaan mu dengan penderitaan Nabi Muhammad saw. Semasa hidupnya Nabi Muhammad ternyata sama seperti kita sebagai manusia biasa, merasa sedih dan gembira.

Biasanya jika manusia dilanda derita, dia selalu melihat derita orang lain. Ketika deritanya sama dengan derita orang lain, agak sedikit terobati deritanya karena yang lain pun sama menderita. Itulah sifat manusia, apa yang dirasakannya harus dirasakan orang lain. Derita batin Nabi Muhammad bisa jadi penghibur hati manusia, karena sepangkat Nabi pun tidak lepas dari derita apa lagi kita.

Sebelum menerima wahyu, pada usia 25 tahun Nabi Muhammad menikah dengan seorang janda kaya raya dan terhormat, berusia 40 tahun. Dua puluh ekor unta betina menjadi mas kawin. Dari pernikahannya dengan khadijah Nabi dikaruniai dua putra dan empat putri.


DERITA BATIN KEMATIAN ANAK

“Putra pertama adalah Al-Qasim. Kemudian lahir berturut turut Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, Fathimah, dan Abdullah yang diberi julukan at Thayyib dan at-Thahir. Al-Qasim wafat dalam usia satu tahun, sudah bisa didudukkan di atas punggung unta, dan sudah bisa bertatih-tatih. Sedangkan Abdullah wafat dalam keadaan masih bayi. Semua putri beliau wafat semasa beliau masih hidup, kecuali Fatimah ia wafat menyusul ayahandanya enam bulan kemudian.” (al-Ghazali, 2005:80-81).

“kehidupan rumah tangga Nabi tidak ada yang meresahkan hati Siti Khadijah selain kematian putra-putranya, apalagi mengingat kedudukan anak laki-laki dikalangan suatu bangsa yang punya tradisi menanam hidup-hidup anak perempuan, dan para ayah bermuka kecut bila mendengar anaknya yang baru lahir itu perempuan. (al-Ghazali, 2005:81).

“Setelah Nabi Muhammad diangkat Allah swt jadi nabi dan rasul, kaum Quraisy mengejek Nabi karena putra-putra beliau semuanya meninggal dunia. Secara terang-terangan mereka menyatakan, bagaimanapun juga Muhammad tidak mempunyai keturunan, dan namanya pun tidak akan disebut orang lagi setelah wafat.” (al-Ghazali, 2005:81).

Kematian anak-anak laki-laki Nabi Muhammad di usia anak-anak, jelas sangat membebani. Rasa cinta kasih seorang ayah kepada anak, stigma rendah terhadap keluarga yang tidak punya keturunan laki-laki, jelas bukan perkara mudah dalam menghadapinya. Setelah menjadi Nabi pun, ejekan seorang ayah yang tidak punya keturunan anak laki-laki pun masih menjadi objek ejekkan menyakitkan bagi orang-orang Arab pada masa itu.

Kesedihan Muhammad dan Khadijah dijelaskan dalam cerita-cerita sejarah hidup Nabi Muhammad. Muhammad Husain Haekal (2003:72) menuturkan, al-Qasim dan Abdullah tidak banyak diketahui, kecuali disebutkan mereka meninggal waktu kecil zaman jahiliyah dan tak ada meninggalkan sesuatu yang patut dicatat.  Tetapi yang pasti kematian itu meninggalkan bekas yang dalam pada orang tua mereka. Demikian juga pada diri Khadijah terasa sangat menyedihkan hatinya. Kematian dua anak laki-lakinya membuat khadijah merasa sangat sedih karena ditimpa sedih berulang-ulang. Rasa sedih itu dirsakan pula oleh suaminya (Muhammad). Rasa sedih ini selalu melecut hatinya, yang hidup terbayang pada istrinya, terlihat setiap ia pulang ke rumah duduk-duduk disampingnya.

Tidak begitu sulit bagi kita menduga betapa mendalamnya rasa sedih yang diderita oleh Muhammad dan istrinya Khadijah. Ditengah-tengah masyarakat yang sangat mengagung-agungkan anak laki-laki, dan mengubur hidup-hidup anak perempuan, mereka mendapati kedua anak laki-lakinya meninggal dalam usia anak-anak.  Untuk mengobati rasa sedihnya Muhammad membeli Zaid dan memerdekakannya hingga zaid dikenal sebagai Zaid bin Muhammad. Sudah tentu malapetaka yang menimpa Muhammad dengan kematian kedua anaknya berpengaruh juga dalam kehidupan dan pemikirannya. Sudah tentu pula pikiran dan perhatiannya tertuju pada kemalangan yang datang satu demi satu menimpa. Ibrahim pun putri Nabi bukan dari khadijah meninggal, setelah Islam mengharamkan menguburkan anak-anak perempuan hidup-hidup, dan sesudah menentukan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu.

Muhammad Sameh Said (2016:49), menggambarkan kesedihan mendalam Nabi Muhammad saat meninggal dua anak laki-lakinya. “anak laki-laki beliau meninggal ketika masih kecil. Tentunya kejadian ini meninggalkan kesedihan di hati Muhammad dan Khadijah, sampai beliau mengangkat seorang anak laki-laki bernama Zaid bin Muhammad.”

Seberapa berat derita batin anda? bersyukurlah karena masih ada sahabat kita yang sama-sama menderita dengan luka batin menganga, bahkan sahabat kita lebih menderita. Sahabat kita adalah kekasih Allah yaitu Nabi Muhammad saw. Sebagaimana Nabi adalah manusia biasa, maka bergembiralah karena derita batin anda sama dengan luka batin kekasih Allah. Kini anda bisa merasakan bagaimana beratnya penderitaan batin Nabi Muhammad saw dalam memperjuangkan kebenaran untuk umat manusia. Keselamatn dan kesejahteraan untuk Anda! Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

Wednesday, October 3, 2018

ILMU KOSONG

Oleh : MUHAMMAD PLATO

Sebuah nasehat diberikan oleh guru saya Dr. Erlina, “saya merasakan bagaimana beratnya kehilangan orang yang dicintai. Satu tahun lebih perasaan itu terus membawa suasana sedih. Belajar dari pengalaman itu, saya berhasil keluar dari perasaan itu dengan tidak mengikuti kata emosi, tetapi mengikuti kata logika. Jika kita mengikuti emosi maka perasaan sedih, merasa kehilangan selamanya tidak akan pernah hilang”.

Selanjutnya Beliau berkata, “kamu harus belajar ilmu kosong. Kita terlahir ke bumi ini, tidak sebutir debu pun memiliki harta, semuanya adalah titipan. Jiwa kita, tubuh kita, semua milik Allah. Sekehendak Pemilik lah bagaimana Dia mau memperlakukan kita. Tidak ada kejadian yang menimpa kita, semuanya akan kembali kepada pemiliknya. Kita ini sesungguhnya kosong, jika semuanya dikembalikan kepada pemiliknya”.

Ilmu kosong yang dimaksud guru saya adalah ilmu pemahaman bahwa kita bukan pemilik. Sehingga jika kita bukan pemilik, maka apapun yang menimpa kita akan menimpa kepada pemiliknya yaitu Tuhan. Karena kita bukan pemilik, maka hinaan orang, cacian, makian, bencana, tidak akan menimpa kita, tetapi akan langsung kepada Pemiliknya. Hinaan, cacian, makian, seperti melewati lingkaran kosong, tidak menyentuh apa-apa kecuali sampai kepada Tuhan. Maka keburukan akan kembali kepada pelaku keburukan. 

Pemahaman tentang ilmu kosong, perlu bantuan argumen logika, yang kemudian akan menuntun perasaan untuk mengikuti apa yang dikatakan logika. Di sini kita dapat pelajaran, antar hati dan logika posisinya saling membutuhkan. Dua-duanya akan menyelamatkan kita dan akan hadir sesuai dengan kebutuhan.

Tuhan sudah mencitakan hati dan logika. Sangat tidak mungkin jika kedua ciptaan Tuhan ini kita matikan sebelah. Kedua-duanya harus hidup. Menghidupkan hati bukan mematikan logika, dan sebaliknya menghidupkan logika bukan mematikan hati.

Demikian guru saya, Dr. Erlina mengajarkan bagaimana cara keluar dari situasi buruk yang bisa menggiring kita menjadi manusia kurang produktif. Kuncinya adalah disaat kita dihantui perasaan yang tidak kita inginkan, maka saatnya gunakan logika.

ILMU KOSONG ADALAH KEMAMPUAN LOGIKA DALAM MEMPERSEPSI BAHWA KITA BUKAN PEMILIK, MAKA SEGALA KEJADIAN ADALAH KEMBALI PEMILIKNYA
  
Saya setuju dengan guru saya yang kedua, Prof. Rochiati, beliau menulis dalam bukunya dari sudut pandang sejarah, “jatuhnya bangsa Indonesia ke dalam kolonialisme Belanda, berbarengan dengan menyebarluasnya himbauan ulama besar yang melarang penggunaan akal (reason) dalam kerangka kajian pemahaman agama”. Pemikiran ulama ini telah mereduksi potensi manusia yang memiliki potensi ke arah agama/keyakinan/tauhid dan potensi akal/reason. Sekalipun para ulama terbelah dua dalam menyikapi himbauan ulama besar ini. Umat Islam kita terlanjur mengikuti himbauan ulama besar ini.

Logika (reason) akan membawa kita kepada pikiran-pikiran rasional untung rugi baik dunia maupun akhirat.  Sebagai contoh, kematian adalah kejadian yang tidak bisa dihindari. Orang-orang yang mati tidak lagi membutuhkan ratapan penyesalan dari orang yang hidup. Jiwa orang yang sudah mati lebih membutuhkan doa-doa dari pada ratapan orang yang masih hidup.

Untuk memahami kejadian demi kejadian dibutuhkan kemampuan akal. Perintah Tuhan untuk berprasangka baik kepada setiap kejadian secara tidak langsung merupakan perintah untuk menggunakan reason (logika) agar bisa menemukan kebaikan dari segala kejadian.

Untuk melakukan persepsi baik terhadap segala kejadian, dibutuhkan ilmu kosong, dan untuk mendapatkan ilmu ini dibutuhkan reason (logika), agar hati bisa terjaga tetap baik. Wallahu ‘alam.

(Master Trainer @logika_Tuhan) 

Friday, September 28, 2018

PESAN MALAIKAT MAUT DI MINGGU PAGI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sebuah kebodohan besar jika peristiwa yang membuat luka batin menganga, tidak meninggalkan pesan bermakna untuk kehidupan. Hukumnya setiap kejadian akan meninggikan dan merendahkan kedudukan seseorang. Tafsir bagi orang-orang beriman setiap kejadian akan meninggikan kedudukan kita dihadapan Tuhan.

Kejadian singkat Minggu, tanggal 9 September 2018, meninggalkan berbagai hermeneutik (tafsir) dari dalam pikiran penulis yang bukan hanya akan terjadi pada penulis saja. Untuk itu penulis sampaikan beberapa hermeneutik dari kejadian tersebut untuk jadi pelajaran bagi penulis, umumnya bagi sahabat-sahabat tercinta dan para pembaca yang dirahmati Allah swt.

Kejadian yang menimpa anak kandung penulis, tanggal 9 September 2018 adalah teguran dari Allah kepada pribadi penulis, terhadap rentetan kejadian yang terjadi selama 18 tahun. Teguran sangat singkat terjadi di sampaikan malaikat maut. Dua hari dan menjelang ajalnya hanya kurang lebih delapan jam. Rentetan kejadian yang dilakukan penulis selama bertugas 18 tahun menjadi pendidik, kemudian ditegur Allah hanya 8 jam dan sangat mengesankan sampai menghasilkan multi tafsir dari sudut pandang penulis. Inilah kekayaan dan kreativitas Allah dalam memberikan pelajaran kepada makhluknya.


KAMI UCAPKAN TERIMAKASIH ATAS DOANYA, KEPADA KADISDIK PROVINSI JABAR, KACABDIN WILAYAH VI JABAR, MKKS SMA KBB, MKKS SMA KAB. CIANJUR, MKKS SMA PROVINSI JABAR, SMAN 1 CIBINONG CJR, SMAN 1 MANDE, SMAN 1 CIPEUNDUEY, IKA ALUMNI UPI, IKA ALUMNI SEJARAH UPI, PESANTREN ASSUYUTIAH DAN SEMUA REKAN TEMAN SEJAWAT. SEMOGA BAPAK IBU SEHAT SEJAHTERA DAN SELALU DALAM LINDUNGAN ALLAH SWT.  
Tafsir pertama; Kejadian minggu 9 September 2018 mengingatkan penulis pada suatu prilaku meremehkan dan kurang perhatian terhadap anggota keluarga. Dunia kerja yang menyita waktu, telah mengabaikan hak-hak anggota keluarga. Jika diprosentasekan perhatian ke keluarga, anak, istri, orang tua, kerabat, dengan ke dunia kerja, hampir 30 persen perhatian ke keluarga, dan 70 persen untuk dunia kerja. Panggilan anggota keluarga, dianggap gangguan terhadap dunia kerja, padahal mereka adalah amanah, dan penyuplai energi untuk penulis bisa bekerja dengan tenang.

Prilaku buruk bertahun-tahun ini, ternyata mengundang teguran keras dari Allah, dengan mengutus malaikat maut. Prilaku ini mengabaikan perintah Allah kepada penulis sebagai kepala rumah tangga yang senantiasa menjaga amanah anak (keluarga) sebagai titipan Allah, dan selalu berbakti kepada orang tua sebagai ketetapan Allah. Pelanggaran ini, sepertinya sepele tetapi masuk pada kategori pelanggaran besar dihadapan Allah swt.

Tafsir kedua; kejadian itu telah mengajarkan kepada penulis dalam hal ibadah. Selama ini, kegiatan-kegiatan ritual ibadah cenderung tendensi untuk harapan dunia, hingga menyepelekan masalah akhirat. Pikiran penulis tidak pernah seimbang memperlakukan dunia dan akhirat. Jika melihat perbandingan harapan dunia dan akhirat, prosentase itu seharusnya 38 persen harapan dunia dan 62 persen harapan akhirat. Kerja keras kita di dunia, harapannya bukan tendensi untuk dunia tetapi 62 persen harus untuk akhirat. Itulah kesimbangan hidup yang harus kita ciptakan dalam pikiran.

Prosentase pembagian kerja, bisa didapatkan mengacu kepada konstanta golden ratio yang dijelaskan Prof. K. H. Fahmi Basya dalam Flying Booknya di youtube. Konstanta Golden ratio 1,618 terdapat dalam seluruh struktur tubuh manusia dan alam. Perbandingannya adalah b/a = 1,618. Tepatnya nilai b adalah 3,236 dan a adalah 2. Maka 3,236/2 = 1,618.

Jika kita ubah dalam angka prosentase maka 3,236+2=5,236. Untuk itu kita dapat prosentase hidup manusia yaitu 2/5,236=0,38x100=38%, dan 3,236/5,236 = 0,62x100=62%. Sebagaimana kita ketahui bahwa kehidupan akhirat lebih besar dari kehidupan dunia. Prosentasenya adalah 62 persen kehidupan akhirat dan 38 persen kehidupan dunia. Dengan prosentase ini, tujuan hidup manusia akan mengalami keseimbangan dan itulah kehidupan sejahtera manusia di dunia dan akhirat.

Menurut Prof. K. H. Fahmi Basya, pemisahan urusan dipisahkan oleh Allah dengan bijaksana. Beliau merujuk kepada dalil dalam Al-Qur’an, “Padanya dipisahkan tiap urusan dengan bijaksana”. (Ad Dukkhan, 44:4).

Penulis mendapat pemahaman bahwa dalam menjaga keseimbangan hidup antara dunia kerja dan keluarga harus berada pada titik keseimbangan sesuai dengan konstanta, 1,618. Maka untuk menjaga keseimbangan antara dunia keluarga dan dunia kerja, prosentasenya adalah 62 persen perhatian untuk keluarga dan 38 persen untuk dunia kerja. Logikanya kita harus bekerja profesional menyelesaikan semua pekerjaan dengan cepat dalam prosentase 38%, dan sebagian besar  62% untuk menyelesaikan tugas membangun keluarga sejahtera. Untuk mewujudkan titik keseimbangan ini, dunia kerja harus dibentuk menjadi sebuah sistem kerjasama, profesional dan kondusif. Sebab jika kita tidak bekerja profesional maka yang malu adalah keluarga.

Dari 24 jam per hari, pemerintah hanya menuntut kerja delapan jam per hari selama lima hari. Jika kita prosentasekan, dunia kerja hanya menuntut 33 persen kerja per hari, dan sisanya sekitar 67 persen  bersama keluarga. Ditambah libur Sabtu dan Minggu, dunia kerja kita sudah memberi peluang kepada kita untuk membangun keluarga sejahtera.

Tafsir ketiga;  ibadah rutin kita sebagai wujud ketaatan kepada Tuhan tidak menjamin kita terbebas dari kesalahan, juga tidak akan terbebas dari ketetapan Tuhan bahwa manusia akan ditimpa kesulitan dan bencana. Ibadah rutin sebagai wujud ketaatan kepada Tuhan Yang Esa, menghindarkan manusia dari derita dan bencana bukan dalam bentuk fisik tetapi dalam bentuk ruhaniyah yaitu terbentuknya jiwa damai dan sejahtera. Inilah derajat tertinggi keimanan manusia kepada Tuhan yaitu terbentuknya jiwa-jiwa yang damai dan sejahtera, jiwa-jiwa yang selalu dirahmati Tuhan yang Esa, jiwa-jiwa yang merasa selalu dekat dengan Tuhan Yang Esa,  dalam menghadapi segala kejadian di muka bumi.

Tafsir ke empat; dosa batin lebih berbahaya dari dosa lahir. Dosa batin tidak terlihat secara kasat mata. Dosa batin hanya diketahui oleh Tuhan dan diri kita, yang bisa memperbaikinya adalah diri kita sendiri. Ada orang berzina, sekalipun manusia tidak mengetahui karena ditutupi, namun secara batin dirinya mengakui Tuhan mengetahui. Itulah contoh dosa batin.

Untuk mengobati dosa batin hanya kesadaran diri kita yang merasa selalu diawasi oleh Tuhan. Tanpa kesadaran ingat kepada Tuhan, dosa batin akan membawa kebinasaan manusia di dunia dan akhirat. Dosa batin meliputi dosa-dosa yang ada dalam pikiran dan hati manusia, sangat rahasia dan tersembunyi. Dosa batin bersarang dalam niat-niat jahat dan prasangka-prangka buruk manusia kepada Tuhan dan makhluknya. Dosa batin akan diperingati oleh Allah dengan luka batin yang lebih dahsyat dari luka lahir.

Dosa batin bisa menimpa siapa saja, tidak peduli orang berpangkat, berkedudukan, dan pemegang jabatan. Dosa batin bisa menimpa siapa saja, sekalipun manusia itu sudah mencapai derajat pemimpin atau ulama di hadapan manusia. Tidak ada manusia yang bisa luput dari dosa batin. Tidak ada manusia yang luput dari dosa dihadapan Tuhan. Maka dari itu tidak boleh merasa terbebas dari dosa karena ibadah-ibadah kita, kita harus merasa tetap waspada, mengoreksi pikiran dan hati kita dihadapan Allah swt.

Aktivitas lahir kita tidak akan dinilai baik oleh Allah swt. tanpa didasari oleh batin-batin yang taat kepada Allah swt.  Kelak Allah akan mengadili batin-batin manusia, dan yang lahir akan menjadi saksi-saksi kita. Semoga Allah melindungi batin kita tetap taat kepada-Nya. Itulah pesan Allah melalui malaikat maut di minggu pagi (Sunday Morning) untuk penulis, semoga bermanfaat.

Kami ucapkan terimakasih untuk para pimpinan, sahabat-sahabat,  dan kerabat semua yang telah berusaha menguatkan batin kami sekeluarga. Semoga kita semua berkumpul di syurganya Allah swt. Amin. Wallahu ‘alam.

(Master Trainer logika Tuhan) 

Saturday, September 15, 2018

KEGAGALAN SANG JENDERAL

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Nasehat dalam tulisan ini, saya dapatkan dari Motivator Terbaik di bumi ini, Beliau adalah Khattab ‘Aliyy Suharya. Dia adalah anak saya sendiri, yang meninggal karena penyakit meningitis. Dalam menjelang sekarat beliau mengajari bapaknya (Sang Jenderal di rumah tangga) bagaimana menjadi seorang pemimpin.

Hari Kamis dan Jum’at, saya masih mengantar beliau sekolah. Selama diperjalanan dia bercerita bahwa di sekolah dia dengan seorang temannya setiap hari melaksanakan shalat dhuha. Dia juga melihat ada satu orang guru yang sering shalat dhuha di pagi hari sebelum Istirahat pertama. Saya katakan, itu prilaku yang baik sekali, membanggakan, dan seorang calon pewirausaha harus rajin shalat dhuha. Kemudian permintaan terakhirnya, dia hendak membaca buku Jack Ma, untuk belajar bagaimana menjadi pengusaha. Pada saat akhir khayatnya, buku Jack Ma masih terselip di tas sekolahnya.

Beliau juga cerita, bahwa dirinya di sekolah kerap mendapat ejekan karena badannya gemuk. Namun khawatir saya hilang, karena dia sendiri mengatakan aku tidak peduli dengan ejekan, karena ejekan telah memotivasi dirinya untuk menjadi pengusaha sukses. Dia tahu bahwa kisah-kisah pengusaha sukses lahir karena ejekan-ejekan yang kerap diterimanya. Kedua kalinya bangga saya mendengar ceita anak tersebut. Harapan saya semakin kuat bahwa kelak anak saya akan jadi pengusaha sukses. Cita-citanya ingin jadi pengusaha bis, seperti Pak Haryanto idolanya, pemilik perusahaan bis PO Haryanto.

Menjelang ajal, Beliau menderita sakit panas. Dimulailah pelajaran pertama dari sang Inspirator. Saya menganggap sakit panas adalah sakit biasa yang diderita anak-anak yang dalam waktu satu atau dua hari bisa kembali normal. Saya nasehatkan dia untuk banyak minum dan makan, makan obat maag, dan minum madu, lalu istirahat yang cukup.

MOTIVATOR: KHATTAB 'ALIYY SUHARYA, CITA-CITA PENGUSAHA. SEMOGA HIDUP DAMAI DI SYURGANYA ALLAH swt. 
Panasnya menurun, tapi nafsu makan dan minum hilang. Saya nasehatin supaya mau makan dan minum agar kesehatan cepat pulih. Lalu anak makan nasi lontong beberapa suap dan minum. Inilah awal yang sangat mengenasnya terjadi. Dalam kondisi ini, anak masih disepelekan, kurang diperhatikan,  dengan candaan yang tidak pantas bagi seorang Jenderal di rumah tangga.

Saya tidak mengetahui jika gejala tidak mau makan dan minum adalah tanda bahwa tentara pencabut nyawa sudah bergelombang-gelombang melakukan serangan mematikan ke organ-organ vital. Rupanya saya sebagai jenderal masih belum menyadari kehadiran para pencabut nyawa yang sudah mengincar seluruh organ vital.

Pagi itu saya masih tetap beraktivitas dengan tenang, mengantar istri berdagang di tempat terbuka yang banyak orang berolahraga setiap hari minggu. Setelah memasang tenda, saya lanjutkan berolah raga seperti biasa. Tanpa diketahui, anak saya sedang berjuang melawan berpuluh-puluh ribu pasukan pencabut nyawa. Dia bertempur sendiri, tanpa komando, bantuan, petunjuk dan instruksi dari Jenderal.

Setelah berolah raga saya pulang ke rumah, dan langsung membuka laptop lalu belajar toefl dari youtube. Sementara anak saya masih belum masuk makanan dan minuman. Saya masih belum sadar bahwa gelombang pasukan pencabut nyawa telah berhasil membuat badan anak saya kaku duduk sulit bergerak.

Saya beranjak dari laptop dan mulai membujuk anak saya untuk makan dan minum. Tanpa sadar anak sudah mulai tidak berdaya terhadap pasukan pencabut nyawa, saya mencoba memberi minum satu gelas air madu dengan bantuan sendok. Setengah gelas air madu masuk ke perutnya dengan susah payah.

Setelah itu saya papah anak saya ke meja makan. Begitu sulit badan anak saya digerakkan. Untuk bangun saja perlu perjuangan dengan bantuan tiga orang. Saya belum sadar pasukan pencabut nyawa sudah menyerang bagian perut. Ketika masuk ruang makan, anak saya sudah sulit sekali bergerak. Memorinya masih memerintahkan untuk pergi ke wc dan membuka celana. Tetapi pasukan pencabut nyawa sudah mengeluarkan seluruh kotoran sebelum masuk wc. Kotoran tersebar di mana-mana memenuhi ruang makan dan dapur.

Disinilah kegagalan saya sebagai Jenderal, dalam situasi darurat, dengan hati kasar melemparkan omelan kepada anak saya dan dua kali sentuhan tidak bersahabat. Masih terlihat lirikan anak saya saat itu penuh dengan arti.  Seolah-olah dia ingin mengatakan,  “Ade lagi sekarat papi! Tolong Ade!

Bodohnya sang Jenderal masih dengan hati kasar membawa anak ke kamar mandi. Membersihkan kotoran dengan air hangat dengan hati tidak bersahabat. Anak masih mengeluarkan sisa-sisa kotoran sambil berdiri. Saya perintahkan untuk duduk di kloset supaya nyaman buang air besarnya, dengan tidak bersahabat pula. Untuk kesekian kalinya sang Jenderal tidak sadar bahwa pasukan pencabut nyawa sudah semakin massif menyerang organ-organ vitalnya. Anak saya sudah terlihat limbung dan kehilangan daya ingat.

Sekalipun terlambat, sang Jenderal baru sadar bahwa anaknya (pelabuhannya) sudah mendapat serangan-serangan mematikan dibagian vital yaitu otak. Anak saya sudah terkena serangan kaku duduk, kehilangan daya ingat, sulit komunikasi, dan seluruh kontrol kesadaran hampir lumpuh. Perutnya sudah dikuasai penuh oleh pasukan pencabut nyawa. Sang Jenderal memeluknya dan mulai khawatir. Romannya berubah seperti pecundang.

Evakuasi dilakukan segera  ke rumah sakit terdekat, hitungan nyawanya ternyata hanya tinggal hitungan jam. Sesampainya di klinik, pasukan pencabut nyawa sudah menyerang paru-paru dan hampir ke Jantung. Napasnya sudah tersengal-sengal. Mulutnya kejang dan giginya beradu menimbulkan bunyi menyakitkan. Tiba-tiba semburan darah kotor menyebur keluar dari mulut dan hidungnya. Sang Jenderal belum sadar bahwa itu adalah pertanda pelabuhannya akan musnah dari permukaan bumi.

Evakuasi dilanjutkan ke rumah sakit besar yang terbaik dekat kota. Di tengah jalan rencana berubah tanpa sepengetahuan. Anak dievakuasi ke rumah sakit terbesar tetapi dengan kualitas layanan buruk. Jenderal menyerah karena kondisi daraurat.

Di rumah sakit tersebut, anak sudah masuk ruangan darurat dengan penanganan sesuai prosedur tanpa menjamin bisa sembuh atau tidak. Para penjaga ruang gawat darurat bekerja benar-benar sesuai prosedur tanpa memperhatikan faktor lain. Prosedur sudah dilaksanakan, pekerjaan selesai dan mereka kembali beraktivitas seperti tidak sedang menghadapi situasi darurat.

Napas buatan, selang udara, selang penarik cairan dari lambung masuk melalui mulut dan hidung. Anak saya bernafas dengan tersengal-sengal. Sang Jenderal masih berinisiatif, membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk memotivati dan memberi energi. Terlihat tenang dan detak jantungnya masih bisa dipertahankan. Kondisi detak jantungnya mulai menurun setelah dipindahkan ke ruang rawat sementara. Sang Jenderal tidak bisa mendampingi dalam jarak dekat karena ruangan sumpek dan sempit sehingga tidak punya keleluasaan untuk mendekati telinganya untuk membisikan energi-energi ilahi. Itulah kegagalan Jenderal yang terus menerus diperlihatkan oleh Tuhan. Hingga, kondisi kesadaran anak terus menurun dan berakhirlah sudah harapan hidupnya di dunia fana, jiwanya bangkit hidup di alam baka dengan tenang dan bahagia.

Sang Jenderal baru sadar bahwa pelabuhannya telah mendapat serangan mendadak. Serangan pasukan pencabut nyawa seperti serangan pasukan Jepang menyerang pelabuhan Pearl Harbour di Hawai pada hari minggu pagi 7 Desember 1941. Jenderal Franklin D. Roosevelt baru sadar setelah pelabuhannya bumi hangus oleh pasukan berani mati Jepang.

Peristiwa serangan pasukan pencabut nyawa juga terjadi hari minggu, 9 September 2018. Dalam hitungan jam, serangan-serangan dari kurang lebih 30.000 (data lekosit dari lab) pasukan pencabut nyawa, mematikan organ-organ vital di pelabuhan. Semua sirna, 12 tahun pelabuhan dikembangkan dan dipelihara, punah seketika karena kelalaian sang Jenderal dalam mendeteksi dan memahami adanya serangan pasukan pencabut nyawa.

Maka bukan hancurnya kapal induk yang membuat hati Jenderal terluka, tetapi kegagalannya sebagai seorang Jenderal dalam melaksanakan tugasnya memelihara dan menjaga pelabuhan. Kegagalan ini menjadi motivator sang Jenderal untuk hidup lebih cerdas, waspada, bijaksana, dan selalu siaga. Kegagalan ini menjadi motivator untuk menjadi seorang Jenderal yang selalu penuh perhatian, penuh kasih dan pemelihara tanpa melihat situasi dan kondisi. Kegagalan ini menjadi motivator untuk  menjadi seorang jenderal yang pandai merasa dan selalu terbuka terhadap segala nasihat dari manapun dan dimanapun berada.

Terimakasih Khattab ‘Aliyy Suharya, terimakah Allah swt, saya bangga diajari oleh orang-orang hebat dan dikirim langsung oleh sang Pencipta. Sang Jenderal belajar dan memahami, keluarga dan anggotanya adalah pelabuhan yang harus selalu dijaga, karena keluarga adalah pelabuhan sebagai suplai energi untuk kita bisa bekerja dengan semangat mengabdi untuk negara, dengan gagah perkasa. Itulah energi dari Allah yang disimpan di keluarga. Wallahu ‘alam.

(Master Trainer Logika Tuhan)