Wednesday, October 3, 2018

ILMU KOSONG

Oleh : MUHAMMAD PLATO

Sebuah nasehat diberikan oleh guru saya Prof. Erlina, “saya merasakan bagaimana beratnya kehilangan orang yang dicintai. Satu tahun lebih perasaan itu terus membawa suasana sedih. Belajar dari pengalaman itu, saya berhasil keluar dari perasaan itu dengan tidak mengikuti kata emosi, tetapi mengikuti kata logika. Jika kita mengikuti emosi maka perasaan sedih, kehilangan selamanya tidak akan pernah hilang”.

Selanjutnya Beliau berkata, “kamu harus belajar ilmu kosong. Kita terlahir ke bumi ini, tidak sebutir debu pun memiliki harta, semuanya adalah titipan. Jiwa kita, tubuh kita, semua milik Allah. Sekehendak Pemilik lah bagaimana Dia mau memperlakukan kita. Tidak ada kejadian yang menimpa kita, semuanya akan kembali kepada pemiliknya. Kita ini sesungguhnya kosong, jika semuanya dikembalikan kepada pemiliknya”.

Ilmu kosong yang dimaksud guru saya adalah ilmu pemahaman bahwa kita bukan pemilik. Sehingga jika kita bukan pemilik, maka apapun yang menimpa kita akan menimpa kepada pemiliknya yaitu Tuhan. Karena kita bukan pemilik, maka hinaan orang, cacian, makian, bencana, tidak akan menimpa kita, tetapi akan langsung kepada Pemiliknya. Hinaan, cacian, makian, seperti melewati lingkaran kosong, tidak menyentuh apa-apa kecuali sampai kepada Tuhan. Maka keburukan akan kembali kepada pelaku keburukan. 

Pemahaman tentang ilmu kosong ini, perlu bantuan logika, yang kemudian akan menuntun perasaan untuk mengikuti apa yang dikatanan logika. Di sini kita dapat pelajaran, antar hati dan logika posisinya saling membutuhkan. Dua-duanya akan menyelamat kita dan akan hadir sesuai dengan kebutuhan.

Tuhan sudah mencitakan hati dan logika. Sangat tidak mungkin jika kedua ciptaan Tuhan ini kita matikan sebelah. Kedua-duanya harus hidup. Menghidupkan hati bukan mematikan logika, dan sebaliknya menghidupkan logika bukan mematikan hati.

Demikian guru saya, Prof. Erlina mengajarkan bagaimana cara keluar dari situasi buruk yang bisa menggiring kita menjadi manusia kurang produktif. Kuncinya adalah disaat kita dihantui perasaan yang tidak kita inginkan, maka saatnya gunakan logika.

ILMU KOSONG ADALAH KEMAMPUAN LOGIKA DALAM MEMPERSEPSI BAHWA KITA BUKAN PEMILIK, MAKA SEGALA KEJADIAN ADALAH KEMBALI KEPADA SANG PEMILIK YANG ESA 
Saya setuju dengan guru saya yang kedua, Prof. Rochiati, beliau menulis dalam bukunya dari sudut pandang sejarah, “jatuhnya bangsa Indonesia ke dalam kolonialisme Belanda, berbarengan dengan menyebarluasnya himbauan ulama besar yang melarang penggunaan akal (reason) dalam kerangka kajian pemahaman agama”. Ulama ini telah mereduksi potensi manusia yang memiliki potensi ke arah agama/keyakinan/tauhid dan potensi akal/reason. Sekalipun para ulama terbelah dua dalam menyikapi himbauan ulama besar ini. Umat Islam kita terlanjur mengikuti himbauan ulama besar ini.

Logika (reason) akan membawa kita kepada pikiran-pikiran rasional untung rugi baik dunia maupun akhirat.  Sebagai contoh, kematian adalah kejadian yang tidak bisa dihindari. Orang-orang yang mati tidak lagi membutuhkan ratapan penyesalan dari orang yang hidup. Jiwa orang yang sudah mati lebih membutuhkan doa-doa dari pada ratapan orang yang masih hidup.

Untuk memahami kejadian demi kejadian dibutuhkan kemampuan akal. Perintah Tuhan untuk berprasangka baik kepada setiap kejadian secara tidak langsung merupakan perintah untuk menggunakan reason (logika) agar bisa menemukan kebaikan dari segala kejadian.

Untuk melakukan persepsi baik terhadap segala kejadian, dibutuhkan ilmu kosong, dan untuk mendapatkan ilmu ini dibutuhkan reason (logika), agar hati bisa terjaga tetap baik. Wallahu ‘alam.

(Master Trainer @logika_Tuhan) 

1 comment:

  1. Thanks for info jangan lupa kunjungi website kami http://bit.ly/2OJQQpc

    ReplyDelete