Saturday, June 6, 2026

STRUKTUR JIWA MANUSIA DALAM Al QUR'AN

Oleh: Muhammad Plato

Dari sudut pandang pendidikan kisah Kabil dan Habil bukan sosok fisik manusia, tapi dua potensi berpasangan yang ada dalam jiwa manusia. Perumpamaan Kabil dan Habil seperti arus dalam listrik, yaitu negatif dan positif. 

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (Al Maa'idah, 5:27).

Al Quran tidak leterlek memberikan nama Kabil dan Habil. Namun untuk memudahkan pemahaman para penafsir memberi nama dua anak Adam dengan Kabil dan Habil. Namun kalau dilihat dari kisah Al Qur'an di atas, Adam dan dua putranya dari sisi pendidikan merpakan susunan struktur jiwa manusia, yaitu Intelektual, Emosional, dan Spiritual (IES).

Tiga potensi yang ada dalam jiwa manusia ditemukan teorinya oleh tiga tokoh. Kecerdasan Intektual oleh Alfred Binet, Kecerdasan emosional oleh Daniel Goleman, kecerdasan spiritual oleh Danah Zohar dan Ian Marshal. 

Di dalam Al Qur'an ada konsep keseimbangan (mizan) dan larangan melampaui batas mizan. "Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. (Ar Rahman, 55:7-8).

ebook logika tuhan belajar berpikir optimis

Orang-orang berdosa dikatakan di dalam Al Qur'an adalah mereka yang melampuai batas. "Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; (Thaahaa, 20:43).

Intelektual (Adam) adalah pengendali emosi (Kabil) dan (Habil) spiritual. Adam adalah akal/intelektual, emosi dan spritual adalah nafsu (jiwa). Di dalam Al Qur'an ada penjelasan bahwa jiwa terdiri dari dua. "maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya," (Asy Syams, 91:8).

Intelektual sebuah kecerdasan aktif, bisa mengolah, memilah, dan mencipta informasi. Emosi dan Spiritual sifatnya dipengaruhi oleh apa yang diproses oleh kecerdasan intelektual. Emosi dan spiritual punya kekuatan besar jika aktif. Intelektual tidak bisa mengendalikan tanpa bantuan petunjuk dari Allah.

Petunjuk dari Allah adalah pengajaran. Di dalam Al Qur'an Allah mengajarkan kepada manusia kepada akal. "Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al 'Alaq, 3-5).

Allah mengutus para rasul untuk menurunkan wahyu (pemberitahuan tersembunyi) sebagai petunjuk. Kumpulan pengetahuan dari wahyu kepada para nabi jadi kitab. Nabi Muhammad meninggalkan kitab suci Al Qur'an.

Manusia diciptakan dengan tiga potensi yang ada pada dirinya, yaitu intelektual, emosi, dan spiritual. Di dalam otak, kontruksi ini terbagi menjadi tiga yaitu otak depan, tengah, dan belakang. Otak depan intelektual, otak tengah emosi, dan otak belakang motorik. 

Dalam dunia pendidikan dikenal tiga  ranah otak yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Teori ini jika ditarik ke sumber asalnya telah dijelaskan dalam Al Qur'an. Pengajaran dasarnya adalah menanam pengetahuan ke dalam otak intelektual untuk diproses menjadi moral dan prilaku hidup manusia di dunia untuk tujuan hidup sejahtera dan berkelanjutan (akhirat).***

Sunday, May 24, 2026

MENGAPA IRAN TIDAK MAU MENYERAH?

Oleh: Muhammad Plato

Iran dalam membela kedaulatannya tidak akan pernah ada kata menyerah. Nasionalisme bangsa Iran bukan bersumber dari nasionalisme kesamaan nasib atau budaya. Nasionalisme Iran dibangun atas dasar keyakinan pada ajaran agama, bersumber dari Al Quran.

Cara beragama orang Iran memiliki ciri khas. Mereka meniru karakter Ali bin Abi Thalib. Kita bisa saksikan karakter dari empat sahabat Nabi Muhammad memiliki keunggulan masing-masing. Abu Bakar berkarakter lembut, Umar Bin Khattab berkarakter keras dan tegas, Usman bin Affan berkarakter  dermawan, dan Ali Bin Abi Thalib berkarakter sangat cerdas.

ebook memahami pola pikir Al Quran menjadi rahmat bagi alam

Iran termasuk mengikuti karakter Ali bin Abi Thalib dalam beragama. Kecerdasan dalam beragama menjadi ciri khas bagi masyarakat Iran. Kondisi ini terlihat dalam model keberagamaan orang Iran yang sangat adaftif dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Para sahabat terdekat Nabi Muhammad memiliki keunggulan masing-masing. Ali bin Abi Thalib termasuk sahabat Nabi Muhammad yang ahli dalam memahami dan menjelaskan Al Quran. Ali bin Abi Thalib termasuk keluarga Nabi Muhammad yang mendapat asuhan langsung dari Nabi Muhammad. 

Oleh karena itu, Al Quran bagi masyarakat Iran selain sumber ajaran etika dan moral dalam beragama, mereka juga menjadikan Al Quran sebagai sumber gagasan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Moralitas keberagamaan orang Iran terlihat kuat tergambar dari prilaku para pemimpinnya.

Siapa orang Iran, karakternya bisa dilihat dari apa yang diajarkan Nabi Muhammad dalam Al Quran. Dalam membela tanah air, masyarakat Iran dapat digambarkan dalam Al Quran sebagai bangsa  berkeyakinan pada Tuhan dengan mengikuti apa yang diajarkan Nabi Muhammad dalam Al Quran.

Orang Iran sangat beriman pada Al Quran, sebagaimana dicontohkan para pemimpinnya. Di dalam Al Quran dijelaskan.

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya." (Al Anfaal, 8:15-16).

Inilah motivasi dorongan para pemimpin dan rakyat Iran dalam menghadapi agresi negara lain. Perlawanan dilakukan untuk menjaga kedaulatan negara. Inilah gambaran rakyat Iran menjadi kompak dalam membela kedaulatan negara. 

Negara-negara Muslim di Timur Tengah, seperti Palestina, Arab Saudi, Mesir, Yaman, memiliki keunggulan masing-masing. Dalam konteks agresi militer Amerika Serikat ke Iran saat ini, kita perlu belajar dari Iran bagaimana mempertahankan kedaulatan negara dari agresi negara lain. 

Umat Islam membutuhkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, untuk menterjemahkan Al Quran dalam konteks kekinian. Al Quran sebagai sumber pemikiran, tidak mengotak-ngotakan manusia menjadi satu kelompok ekslusif, tetapi menjadi masyarakat inklusif dengan semangat persaudaraan dan kasih sayang, saling tolong menolong dalam kebaikan, dan saling menghargai hak asasi manusia.*** 

Saturday, May 9, 2026

MENGAPA IRAN JADI NEGARA KUAT

Oleh: Muhammad Plato

Mengapa Iran bisa bertahan dari agresi Amerika Serikat? Secara fisik mungkin karena Iran punya teknologi senjata yang bisa mengimbangi AS. Iran memiliki teknologi perang yang lebih efektif dan efisien dibanding teknologi perang AS. Keunggulan Iran adalah bisa menciptakan teknologi murah tapi mematikan. Analisis ini menggunakan logika material. 

Dari sudut pandang Logika Tuhan, Iran bisa bertahan karena ketauhidan pemimpin dan masyarakat Iran kepada Tuhan. Pada saat perang berkecamuk, pemimpin Iran berkata, "tidak takut AS, tapi hanya takut kepada Tuhan". 

Para peminpin Iran menjadikan Al Quran sebagai landasan berpikir. Dalam budaya Iran, mereka memahami agama dengan menggunakan akal, sehingga Al Quran menjadi sumber keilmuan dan keimanan. Blokade selama 47 tahun tidak mungkin bisa dihadapi tanpa keyakinan. 

E book memahami logika Tuhan

Iran juga menjadikan Al Quran sebagai inspirasi dalam mengembangkan teknologi perang. Burung Ababil yang digambarkan telah menghancurkan pasukan gajah, menjadi inspirasi mengembangkan drone yang bisa menghantam kapal induk dan pangkalan militer dengan biaya murah. 

Ketika Al Quran dijadikan pedoman dalam kehidupan dan pengembangan ilmu pengetahuan, maka Allah membimbing dan memberi kekuatan pada bangsa Iran. Al Quran bukan sekedar pengetahuan biasa, Al Quran adalah firman Tuhan, Al Quran hidup dan membawa manusia dari gelap menuju terang. 

Ketika orang di isi Al Quran, dan Al Quran menjadi pola pikir dan keyakinan, maka Allah bersama orang-orang beriman. Maka selama 47 tahun Iran telah hidup bersama pertolongan Allah. Saat ini Allah membuktikan bahwa pasukan kecil bisa mengalahkan pasukan besar, karena Allah bersama pasukan kecil yang beriman dan bersabar 47 tahun. 

"Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al Baqarah, 2:249). 

"Allah beserta orang-orang sabar", inilah sebab kunci mengapa Iran bisa bertahan dan percaya diri menghadapi agresi militer Amerika Serikat. Selain itu, Iran tidak hanya beriman kepada Allah, dalam hati dan praktek ritual agama, Iran melaksanakannya dengan melaksanakan perintah Allah untuk membaca, berpikir, mengembangkan ilmu dan teknologi untuk   bisa hidup damai dan sejahtera. 

Makna perdamaian bagi bangsa Iran adalah menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mempertahankan diri. Di dalam Al Quran Allah memerintahkan untuk bersiap siaga. "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran, 3:200). 

Atas dasar bimbingan Allah, selama 47 tahun Iran tidak diam, mereka bersiap siaga dengan mengembangkan persenjataan untuk bertahan dari agresi bangsa lain. Ketika Iran tampil melawan kesewenang-wenangan AS, sesungguhnya hati umat Islam di dunia semakin yakin, Allah menjanjikan kehidupan damai dan sejahtera bagi orang-orang beriman dan seluruh makhluk di muka bumi.

Belajar dari Iran, makna ayat Al Quran, "kuatkanlah kesabaran, bersiap siaga, dan bertakwalah", prakteknya adalah selalu waspada, bersiap siaga, dan kuasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjaga kemananan, kedamaian, dan kesejahteraan hidup umat manusia.***

Friday, May 1, 2026

CARA PANDANG MANUSIA TERHADAP DUNIA

Oleh: Muhammad Plato

Para pemikir terdahulu banyak berdebat bagaimana cara memandang kehidupan dunia? Apakah dunia diciptakan Tuhan, atau ada dengan sendirinya? Apakah dunia ini kenyataan yang tepisah-pisah atau satu kesatuan?

Bermacam-macam pemikiran manusia, melahirkan bermacam-macam cara pandang. Sekularis, Integralis, Atheis, Agnostik, Pantheis, Monotheis, Animisme, Dinamisme. Mana yang akan diikuti? Manusia diberi akal dan punya potensi jadi pembelajar sepanjang hayat. 

Ebook cara berpikir menurut petunjuk Allah

Pemikiran-pemikiran dinarasikan melalui berbagai saluran informasi. Setiap pemikiran memiliki tokoh-tokoh yang diidolakan. Kadang, para ahli agama, ilmuwan, negarawan, pemimpin, pengusaha, dipakai untuk memasarkan berbagai pemikiran.

Nabi Muhammad adalah Rasulullah mendapat wahyu dari Allah untuk menarasikan bagaimana memandang dunia bersumber pada wahyu. Nabi Muhammad tidak hidup di zaman teknologi informasi, tetapi Al Quran yang diterimanya telah melampaui zaman. 

Nabi Muhammad adalah manusia, tetapi hati, pikiran, ucapan, dan tindakannya, melaksanakan Al Quran. Nabi Muhammad tidak pernah membawa kehendak berdasarkan keinginannya. 

Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru,dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. (An Najm, 53:1-3).


Nabi Muhammad membawa pesan bagaimana seharusnya manusia memiliki cara pandang. Cara pandang terhadap dunia yang diajarkan Nabi Muhammad bukan cara pandang Nabi Muhammad, tetapi cara pandang Allah, karena Nabi Muhammad berserah diri kepada apa yang telah diwahyukan Allah kepada dirinya. 

"Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu itu maka (katakanlah olehmu): "Ketahuilah, sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?" (Huud, 11:14).

Nabi Muhamad bukan sekedar membawa pesan wahyu untuk mengabarkan hukuman dan kabar gembira kepada manusia, tetapi mengabarkan bagaimana Allah memberi petunjuk kepada manusia dalam berpikir bagaimana cara memandang kehidupan dunia.

Allah telah menjelaskan bagaimana manusia dan alam semesta diciptakan, tetapi manusia-manusia yang membawa hawa nafsunya, mengemukakan pendapat-pendapatnya sendiri berdasarkan hawa nafsu tanpa ilmu. Ilmu dari Allah sudah jelas tiada Tuhan selain Allah. Ini kunci pertama agar manusia punya sudut pandang dengan mengikuti petunjuk ilmu dari Allah.

Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa". (Thaahaa, 20:16)***

SUNNI DAN SYIAH BUKAN AGAMA

Oleh: Muhammad Plato

Sunni dan Syiah bukan agama mereka adalah kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama. Agama yang bersumber pada Al Quran dan Hadis adalah Islam. Islam tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan kelompok, Islam melihat perbedaan manusia dari perbuatan, iman, dan takwanya kepada Tuhan. 

Ebook metode belajar agama langsung dari sumbernya

Keberadaan kelompok-kelompok dalam agama tidak bermasalah karena Nabi Muhammad sudah mengabarkan akan terjadi perbedaan dalam beragama. Tetapi ketika perbedaan kelompok atas nama agama sudah diajarkan dan menjadi bibit konflik dalam beragama, umat beragama harus kembali pada sumber ajaran dasar agama.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran, 3:103).

Mengapa perpecahan dilandasi kelompok agama mudah tersulut? Karena setiap kelompok agama merasa paling benar berada di posisi benar. Orang yang merasa pada posisi benar jika emosinya tidak terkendali bisa lebih berbahaya dan menuju perang saudara. Maka Allah mengajarkan kepada umat beragama jangan saling mencela karena merasa paling benar dihadapan Allah. 

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. ( Al Hujuraat, 49:11).

Untuk memahami isi dua ayat Al Quran di atas, tidak perlu validasi dari orang lain. Gunakan otak sehat pahami apa yang dikehendaki Allah berdasar ayat itu. Allah melarang bercerai berai, Allah melarang sesama umat beragama saling olok-olok. Tidak pantas bagi orang-orang yang mengaku beriman masih punya prilaku suka mengolok-ngolok sesama umat beragama. Bagi yang masih suka mengolok-ngolok harus bertobat itu peringatan dari Allah.

Ketika di akhirat manusia tidak akan ditanya dari kelompok-kelompok mana organisasi agamanya? Semua akan terbagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok kiri dan kanan, dan kelompok yang suka berkorban. Kelompok kiri mereka yang suka mengajarkan agama dengan mengolok-mengolok kelompok agama lain. Kelompok kanan adalah mereka yang mengajarkan agama taat kepada Allah dengan menjaga persatuan dan menghindarkan umat dari perpecahan. 

Kelompok yang suka berkorban mereka membela keadilan dan hak-hak manusia sebagai makhluk Tuhan yang harus dihormati dan dihargai dengan harta dan jiwanya. Mereka tidak melihat manusia dari kelompok-kelompoknya tapi melihat manusia sebagai makhluk Tuhan. Sesama orang beriman mereka menganggap saudara tanpa membeda-bedakan kelompok dan alirannya. Kelompok yang suka berkorban dirinya telah menjadi rahmat bagi seluruh alam. ***  


Sunday, April 12, 2026

NABI IBRAHIM LELUHURNYA BANGSA IRAN

Oleh: Muhammad Plato

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim." (As Syu'araa, 26:69). 

Iran adalah bangsa yang tidak pernah dijajah. Iran mewarisi peradaban Persia sebagai peradaban besar dunia. Dari sejarahnya bangsa Iran adalah pemikir dan petarung. Persia dikenal sebagai bangsa penyembah api. Kisah Persia digambarkan dalam Al Quran dalam kisah Kerasulan Nabi Ibrahim. 

Cek Ebook sukses dengan logika Tuhan

Nabi Ibrahim adalah penakluk masyarakat penyembah api atau matahari. Nabi Ibrahim diturunkan kepada masyarakat penyembah api dengan kemampuan berpikir tinggi. Nabi Ibrahim digambarkan sebagai sosok ahli debat, karena pemimpin dan masyarakat yang dihadapi Nabi Ibrahim  adalah ahli berpikir.

Kisah-kisah Nabi Ibrahim digambarkan dalam Al Quran, dengan perdebatan. Nabi Ibrahim punya kemampuan berpikir dengan bimbingan wahyu dari Allah. Nabi Ibrahim menghadapi orang-orang cerdas dalam berpikir dan menaklukkannya dengan adu debat. 

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim." (Al Baqarah, 2:258).

Bangsa persia penyembah api mengalami perubahan, sekarang menjadi bangsa Iran penyembah Tuhannya Ibrahim. Gen sebagai ahli pikir warisan Nabi Ibrahim mengalir di darah bangsa Iran. Peradaban Islam berkembang setelah Persia bertemu dengan Nabi Muhammad yang melanjutkan jejak agama Nabi Ibrahim. 

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif." dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (An Nahl, 16:123).

Berita Al Quran di bawah, bisa jadi petunjuk fakta bahwa bangsa Iran memiliki keterkaitan leluhur kepada Nabi Ibrahim sebagai Nabi yang diutus oleh Allah kepada masyarakat ahli debat. 

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (At Taubah, 9:114).

Berikut Allah gambarkan perdebatan Nabi Ibrahim dengan penyembah berhala. Perdebatan ini menggambarkan Nabi Ibrahim sebagai pememang debat. 

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim". Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara". kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara". Ibrahim berkata: "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak memberi mudarat kepada kamu?" (Al Anbinya, 21: 58, 60, 62, 63, 65,66).

Kisah perdebatan Nabi Ibrahim menggambarkan tradisi leluhur orang Iran zaman dahulu sebagai masyarakat penyembah berhala yang suka berdebat. Cara beragama bangsa Iran sekarang memiliki kebiasan menggunakan akal untuk berpikir. Tradisi beragama bangsa Iran seperti tradisi yang diaajar Nabi Ibrahim dan diikuti Nabi Muhamad. 

Bangsa Iran termasuk kelompok umat Islam yang kuat dalam keyakinan dan punya keberanian karena keteguhan Iman dibangun dengan nalar bersumber pada Al Quran sebagai pedoman. Iran bangkit sebagai bangsa yang tidak mudah menyerah, punya kemampuan ilmu dan teknologi, serta teguh dalam keyakinan.

Bangsa Iran, menjadi salah satu kelompok bangsa yang mewarisi tradisi beragama mengikuti Nabi Muhammad, dan Nabi Muhammad diutus untuk mengikuti agamanya Nabi Ibrahim. Bangsa Iran adalah pembawa narasi kisah kejayaan Islam karena kemampuannya dalam berpikir turun temurun seperti Nabi Ibrahim.***  

 

Saturday, April 11, 2026

PEMIMPIN HARUS MISKIN

Oleh: Muhammad Plato

Michael H. Hart, menobatkan Nabi Muhammad sebagai pemimpin nomor satu paling berpengaruh di dunia dari 100 tokoh berpengaruh. Sebagai pemimpin Nabi Muhammad tidak membuat singgasana. Kepemimpinan Nabi Muhammad masih ditiru oleh empat sahabat terdekat Nabi. 

Mengapa Nabi mengajarkan gaya hidup miskin pada pemimpin? Menurut Prof. Suzie Sri Suparin S. Sudarman, M.A., dalam podcast di @last minute id,  "orang kaya jika sudah sangat kaya berubah jadi jahat". 

cek Ebook sukses dengan logika Tuhan

Hal ini diungkapkan melihat kasus prilaku jahat kaum kapitalis di Amerika Serikat (AS). Skandal kebobrokan pemimpin AS terungkap dari file tokoh-tokoh kapitalis yang berisi foto-foto penyimpangan sosial yang dilakukan para pemimpin kapitalis AS. Pemimpin AS sengaja menciptakan perang untuk kepentingan uang.


Nabi Muhammad dalam sebuah hadis bersabda, "Kesengsaraan yang paling sengsara ialah miskin di dunia dan disiksa di akhirat."  (HR. Ath-Thabrani dan Asysyihaab). "Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran. (HR. Ath-Thabrani)". 

Kemudian Nabi Muhammad berdoa, "“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku nanti di hari kiamat bersama kelompok orang-orang miskin.” (HR. Ibnu Madjah dan Tarmidzi).

Dua konteks hadis di atas jika disimak terlihat bertentangan. Di satu sisi Nabi Muhammad mengajak umat manusia waspada dengan kemiskinan, di satu sisi Nabi Muhammad memberi contoh agar jadi pemimpin miskin. 

Nabi Muhammad setelah mendapat kemenangan menguasai Mekah, Beliau bisa menjadi orang paling kaya di Mekah. Namun Nabi Muhammad tetap memosisikan diri sebagai pemimpin miskin. Puncak spiritual seorang pemimpin adalah menjadi orang miskin. 

Miskin dalam konteks kepemimpinan adalah gaya hidup. Bukan berarti pemimpin miskin tidak punya kekuatan kapital dan harta. Dalam perjuangan menegakkan Islam, Nabi Muhammad menghabiskan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. 

Miskin sebagai gaya hidup pemimpin adalah gaya hidup manusia yang tidak punya banyak angan-angan, hanya berpikir kebutuhan dasar terpenuhi. Artinya gaya hidup pemimpin miskin, untuk pribadinya lebih fokus pada kebutuhan dasar hidupnya bukan keinginan.   

Semua energi perjuangan para pemimpin bergaya hidup miskin adalah mensejahterakan orang-orang miskin. Rakyat harus kaya, pemimpin tetap miskin. Segala daya dan upaya pemimpin miskin memperjuangkan seluruh kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Bagi pemimpin bergaya hidup miskin, untuk dirinya sudah terasa cukup. 

Nabi Muhammad menginginkan mati dalam keadaan miskin. Nabi memahami, orang miskin waktunya singkat ketika menghadapi pertanggungjawaban di akhirat. Orang kaya akan menghadapi hisab yang panjang mempertanggungkawabkan kekayaan yang dimilikinya di dunia. Nabi Muhammad menjelaskan.

"Orang-orang miskin dari kalangan kaum mukminin akan masuk surga setengah hari lebih dahulu daripada orang-orang kaya, dan setengah hari itu setara dengan lima ratus tahun." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). 

Inilah filosofi mengapa Nabi Muhammad berdoa minta hidup miskin dan mati miskin. Inilah filosofi seorang pemimpin yang pasti banyak peluang untuk mendapatkan kekayaan banyak dari kekuasaannya, tapi tidak punya angan-angan untuk memilikinya, karena lebih memilih jadi pemimpin miskin. 

Peemimpin miskin yang diharapkan oleh Nabi, dicontohkan oleh dirinya sendiri. Kekuasaan Nabi Muhammad bisa meliputi Barat dan Timur. Kekayaan Nabi bisa seisi langit dan bumi, tapi Nabi memilih hidup miskin, dan lebih mengkhawatirkan kehidupan umatnya. Itulah pemimpin miskin yang diajarkan Nabi Muhammad.***

Saturday, April 4, 2026

MENGAPA UMAT BERAGAMA SULIT BERSATU

Oleh: Muhammad Plato

Membangun kesadaran umat beragama bersatu mengapa begitu sulit terwujud? Dalam konteks kehidupan bermasayrakat dan bernegara seharusnya semua umat beragama mengedepankan rasa kemanusiaan. Ajaran agama Islam sangat menghargai kemanusiaan, kemerdekaan, dan perbedaan. 

Takdir Tuhan sudah ditetapkan bahwa setiap manusia memiliki dasar pemikiran, cara hidup, keyakinan, berbeda-beda. Perbedaan tercipta karena latar belakang ilmu pengetahuan, geografi, budaya, dan kepentingan. 

cek ebook sukses dengan logika Tuhan

Di dalam ajaran Islam, Al Quran memberi pedoman bagaimana manusia hidup berdampingan. Manusia diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa, untuk saling mengenal. Dilaranga saling menghina, mencemooh, dan berprasangka buruk satu sama lain. Secara leterlek tersurat dalam kitab suci.

"Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim." (Al Hujurat, 49:11). 

Memahami keterangan ayat ini tidak perlu tafsir berbelit-belit, larangannya sudah jelas tertulis. Jika saja semua patuh pada Tuhan, dunia sudah pasti cenderung hidup damai berdampingan. Karakter orang beriman pada Tuhan, semestinya memiliki kesadaran untuk tidak saling menghujat.

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain..." (Al Hujurat, 49:12).

Orang beriman adalah orang-orang berpendidikan, berakal sehat, selalu berpikir positif. Berprasangka buruk pada kelompok atau kaum adalah pangkal dari keburukan prilaku. Jika semua umat beragama mendengar dan menyadari apa yang diperintahkan Tuhan, tidak perlu validasi tokoh beragama untuk membenarkan bahwa kita tidak berprsangka buruk. 

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujuraat, 49:13). 

Tuhan maha mengetahui, manusia tercipta bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa. Untuk menghindari olok-olok dan prasangka buruk, perintahnya adalah untuk saling mengenali diri sendiri dan adat orang lain. Tidak ada satu bangsa lebih unggul dari bangsa lain, karena masing-masing memiliki kekurangan. 

Sebenarnya untuk membangun kesadaran umat beragama untuk hidup rukun dan damai, kuncinya ikuti apa yang diperintahkan Allah, selesai. Semua pihak menahan diri, refleksi, karena setiap keburukan berawal dari hawa nafsu yang ada pada setiap pribadi atau kelompok. 

Merasa paling benar, paling berkuasa, paling kuat, paling berlilmu, paling terhormat, adalah pangkal dari munculnya sikap saling hujat, dan prasangka. Islam mengajarkan untuk bersikap rendah hati, bersabar, tidak lemah, punya prinsip, tidak putus asa, pantang menyerah, cinta damai, suka bekerjasama, dan selalu beserah diri pada ketentuan Tuhan.

Konflik pasti selalu ada, untuk itu Allah perintahkan untuk menyelesaikan setiap konflik dengan musyawarah, jangan khianat, dan berdusta. Musyawarah adalah solusi yang harus selalu dikedepankan dalam berbagai konflik, antar kelompok maupun negara. Kunci dasar dari musyawarah adalah bersikaplah lemah lembut, dan jadi pemaaf. 

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." (Ali Imran, 3:159).

Seandainya ayat-ayat suci ini dipahami secara mendalam dan sadar untuk taat pada Tuhan, beberapa ayat ini bisa jadi solusi dalam berbagai konflik yang terjadi saat ini. Namun pikiran-pikiran jahat selalu ada dalam setiap diri manusia untuk menentang Tuhan. Kadang manusia tidak sadar upaya-upaya menentak Tuhan dibungkus dalam kata-kata menggunakan narasi orang bergelar dan mengaku mulia.  

Inilah fungsinya akal sehat agar manusia selalu taat pada Tuhan, bukan taat pada tuhan selain Tuhan. Untuk mengidentifikasi apakah selama ini kita taat pada Tuhan atau selain Tuhan, membutuhkan kesadaran agar pikiran manusia tidak mengikuti tuhan-tuhan selain Tuhan yaitu hawa nafsu.***    

Thursday, March 19, 2026

PESAN AL QURAN TUNTUT ILMU SAMPAI NEGERI CHINA

Oleh: Muhammad Plato

Dari Arab dikenal bunyi hadis, "Tuntutlah ilmu sampai negeri China". Meskipun hadis ini dianggap lemah, namun jika kita kaji secara tekstual dari Al Quran dan kontekstual memiliki pesan moral mendalam. Jika kita lihat sejarah, China dari zaman dulu hingga sekarang memiliki tanda-tanda pewaris peradaban.

miliki ebook sukses dengan logika Tuhan

Bunyai hadis untuk menuntut Ilmu sampai ke negeri China, sekalipun lemah namun dalam konteks sekarang dan pesannya tidak bertentangan dengan Al Quran. Al Qur'an memerintah umat Islam untuk belajar antar suku dan bangsa, sekalipun secara khusus tidak menyuruh belajar ke China. 

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al Hujurat, 49:13). 

Al Quran memberi pesan kepada seluruh manusia agar saling belajar dari berbagai bangsa dan suku yang ada di muka bumi. Salah satunya umat Islam bisa belajar, menuntut ilmu ke negeri China. 

Dalam konteks belajar, pergi ke negeri China tidak ada yang salah. Maka mungkin-mungkin saja, Nabi Muhammad pernah menyuruh belajar sampai negeri China, karena China termasuk negara memiliki sejarah peradaban tinggi. Belajar tidak harus melihat latar belakang agama, karena semua ilmu, timur atau barat, adalah milik Allah.   

Negara-negara muslim di dunia, hampir semua menggunakan produk-produk teknologi yang diciptakan China. Di tengah-tengah hegemoni politik Amerika Serikat (AS), dunia bertumpu pada China untuk mengimbangi kekuatan AS.

Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia, membangun kereta api cepat menggunakan teknologi China. Pabrik mobil listrik terbesar didirikan di Indonesia, berasal dari China. Indonesia juga dibanjiri gadget berbagai merek dari China. 

Senator AS John N. Kennedy pernah melontarkan kutipan satir yang populer di media sosial: "Tuhan menciptakan dunia, sisanya dibuat di China".  Kai FuLee seorang eksekutif google berpendapat, "jika Amerika Serikat unggul dalam fase "penemuan", maka China unggul dalam fase "penerapan" atau implementasi.

Melihat fakta sejarah tentang China hingga sekarang, China dapat dikatakan sebagai pusat ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya kertas oleh orang China. Kertas ditemukan di Tiongkok pada awal abad ke-2 Masehi (sekitar 105 M) oleh Cai Lun, seorang pejabat istana Dinasti Han Timur. Kertas identik dengan buku sebagai alat untuk dokumentasi dan publikasi ilmu pengetahuan berabad-abad.

Jika Nabi Muhammad benar mengatakan menyuruh belajar sampai negeri China, hal ini sangat mungkin karena Nabi Muhammad dalam hadis-hadis lain digambarkan sebagai sosok futuristik. 

Nabi Muhammad mampu memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan, seperti kemunculan salju di Arab, gurun menghijau, gedung pencakar langit di Mekah, dan ciri-ciri akan datangnya dajjal. 

Urusan ilmu dan teknologi, kini China telah kembali mendominasi dunia. Dominasi China dalam bidang ilmu pengetahuan tidak mungkin terjadi dalam waktu singkat. Hal ini pasti dibangun dari kisah panjang peradaban China dari dulu hingga sekarang.

Di tengah kekacauan akibat tidak terkendalinya kekuatan ekonomi dan politik AS, penduduk dunia berharap China bisa menjadi penyeimbang, agar tidak terjadi kesewenang-wenangan kekuasaan terhadap kemanusiaan, seperti mengulang kisah Firaun di zaman dahulu.

Serangan AS pada Iran telah menjadi bom atom bagi kesadaran umat Islam. Selama 1400 tahun telah disesatkan dengan memelihara perselisihan sesama muslim karena beda madzab. Serangan AS telah menyadarkan umat Islam seluruh dunia untuk bersatu menguasai segala bidang dimanapun umat Islam berada. *** 

Sunday, March 15, 2026

1400 TAHUN BERADA DIUJUNG NERAKA

Oleh: Muhammad Plato

Serangan Amerika Serikat pada Iran, membawa inspirasi untuk dua miliar penganut agama Islam. Jika kita refleksi kembali ke Al Quran, ternyata selama 1400 tahun kita telah berada diujung neraka. Keberagaamaan kita telah menyimpan sifat-sifat tidak terpuji yang dilarang Allah. 

Selama 1400 tahun secara tidak dasar kita telah mewariskan sifat-sifat iblis dalam beragama. Perselisihan dan saling benci menjadi bagian dari umat beragama. Iblis adalah musuh yang sangat berbahaya. Mereka mendatangi setiap anak Adam dari depan, belakang, kiri, dan kanan. 

"kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur". (Al A'raaf, 7:17).

Tidak ada satu orang manusia pun yang luput dari godaan iblis. Mereka bisa masuk ke dalam pikiran bawah sadar dan membelokkan keyakinan kepada Allah menjadi kepada aliran, kelompok, dan tradisi nenek moyang. Keyakinan kepada Allah secara tidak sadar berubah menjadi keyakinan pada hawa nafsu.

Rasa benci dan dengki dibalut ajaran agama menjadi emosi yang mudah tersulut adu domba. Akal sehat tidak berfungsi karena hati sudah menyimpan prasangka buruk dan dengki. Pikiran lebih fokus pada hal-hal buruk dibanding hal-hal baik. 

Siapapun yang berada di luar kelompoknya selalu dicurigai dengan prasangka buruk. Padahal seluruh makhluk ditakdirkan oleh Allah sesuai dengan fitrahnya. Fitrah iblis adalah membawa manusia kepada hal-hal buruk. Malaikat fitrahnya membawa sifat-sifat takwa. Manusia diciptakan sempurna dengan fitrah membawa sifat buruk dan baik, tetapi diberi ilmu oleh Allah bisa memilah baik dan buruk dengan akalnya.

Allah menurunkan Al Quran dengan ilmu Nya kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril. Al Quran adalah ilmu dari Allah dan dianugerahkan pada manusia sebagai pedoman hidup. Allah memerintahkan pada manusia untuk beriman pada Al Quran. 

Nabi Muhammad, para sahabat, dan para ulama, bukan pemilik kebenaran, tetapi penyampai kebenaran dan pembawa kabar gembira. "Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka". (Al Baqarah, 2:119).

Al Quran adalah kebenaran, berisi kabar gembira dan peringatan. 1400 tahun kita mengabaikan Al Quran karena telah membesar-besarkan perselisihan antar kelompok atau aliran. Di dalam Al Quran Allah mengabarkan untuk menghindari peselisihan dengan mengembalikan kebenaran milik Allah.

"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." (Al Israa, 17:53).

Seandainya kita beriman kepada Al Quran, seharusnya tidak ada perselisihan diantara umat beragama, karena perselisihan ditimbulkan dan dibesarkan oleh sifat-sifat buruk dari setan. 1400 tahun kita terjebak dalam perselisihan dan menimbulkan perpecahan. Inilah bukti betapa berbahayanya iblis karena mereka bisa masuk pada hati dan pikiran alam bawah sadar manusia. 

Saatnya kita kembali kepada Al Quran, kita kembali kepada Allah dan mengikuti apa yang dikehendaki Allah dalam menjalani kehidupan di muka bumi. Allah melarang umat manusia bercerai berai, dan menghendaki persatuan. 

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (Ali Imran, 3:103).

Seandainya, umat manusia benar-benar beriman kepada Allah, Al Quran, dan Rasulullah, hati mereka pasti akan menjadi umat yang satu, karena taat pada perintah Allah. Kecuali orang-orang yang disesatkan setan dan tercerai berai karena masing-masing merasa bangga dengan kelompok-kelompoknya. 

"Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)". (Al Mukminuun, 23:53).

1400 tahun sudah kita berada di tepi jurang neraka karena perselisiahan dibalut rasa dengki dan benci yang kita pelihara. Saatnya kita kembali berpegang pada tali Allah, memohon ampun dan menjadi umat bersyukur dengan memelihara persaudaraan sesama umat sebagaimana Allah melarang kita bercerai berai.***

Sunday, March 8, 2026

STOP NARASI KONFLIK SESAMA MUSLIM

Oleh: Muhammad Plato

Stop narasi konflik sesama muslim. Ustad, ulama, kiai, yang suka maki-maki sesama muslim, merendah-rendahnkan kedudukan muslim, menngungkap aib muslim, menghujat kelompok sesama muslim, mulai sekarang bertobat, karena kita tidak lebih berani dari orang Iran. 

Sudah saatnya kita akhiri cara-cara beragama dengan saling benci kelompok satu dengan yang lain. Syiah dan Sunni bukan kelompok agama, dia lahir dari konflik politik di masa lalu. Agama hanya jadi bahan legitimasi keberadaan masing-masing kelompok. 

Teladan kita dalam beragama adalah Nabi Muhammad. Tokoh-tokoh Islam bukan tokoh-tokoh yang harus diteladani, karena yang wajib diteladani adalah Nabi Muhammad, sebagaimana Allah jelaskan di dalam Al Quran. 

Berabad-abad Islam dibesarkan dan disebarkan dengan narasi konflik antar sesama. Hari ini saatnya kita putus tradisi konflik dalam beragama. Kita kembalikan ajaran agama kepada sumbernya yaitu Al Quran dan hadis. 

Al Quran sebagai sumber primer ajaran Islam didalamnya mengandung dasar-dasar pemikiran ajaran Islam. Hadis-hadis Nabi Muhammad menjelaskan praktek ajaran Islam. Inti dari ajaran Al Quran adalah mempersatukan umat dalam satu Tuhan. 

Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. (Al An'aam, 6:106).

Nabi Muhammad mengajarkan Islam dengan mengajak kepada seluruh umat manusia untuk menyembah Tuhan yang satu. Islam adalah agama monotheis, dan bersatu dibawah satu Tuhan yang maha esa. Inilah konsep dasar dalam berislam. 

Perbedaan-perbedaan pendapat dalam masalah tata cara beribadah terjadi karena pengaruh geografi, budaya, dan pandangan pemikiran masing-masing. Namun pada dasarnya sesama muslim kita semua bersaudara. Rasa persaudaraan seperti satu tubuh, ketika satu bagian tubuh sakit yang lain ikut merasakan.

Kini umat Islam sedang diajak untuk berpikir ulang tentang budaya konflik antar agama dengan membela kelompok dan menyalahkan kelompok lain. Cara-cara beragama seperti itu tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad.

Semua yang diajarkan Nabi Muhammad tentang Islam bersumber dari Al Quran yang melarang saling hujat dan melecehkan. "Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain boleh jadi mereka lebih baik dari mereka..." (Al Hujurat, 49:11).

Merasa hebat, merasa benar, merasa paling sunnah, merasa paling ahli surga, adalah sifat-sifat yang tidak dibenarkan di dalam ajaran Islam karena sifat ini dimiliki oleh Iblis. "Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah"." (Al A'raaf, 7:12). Jangan lagi berdakwah dengan cara-cara Iblis.

Tidak mungkin Nabi Muhammad mengajarkan cara-cara beragama dengan saling benci antar sesama muslim, karena merasa benar dan yang lain salah, sementara kita sama-sama menyembah Tuhan yang satu dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad. 

Stop narasi-narasi konflik sesama muslim dalam mengajarkan agama. Sudah jelas ajaran di dalam Al Quran, sesama muslim kita bersaudara, harus tolong menolong, menjaga silaturahmi, tidak membedakan-bedakan antar kelompok, suku, budaya, dan keturunan. 

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujurat, 49:13).

Umat Islam ditandai dengan satu Tuhan Yang Esa, melanjutkan misi Nabi Muhammad menjalin rasa persaudaraan dan kesejahteraan seluruh umat manusia. Ajaran-ajaran Al Quran inilah yang harus dinarasikan oleh umat Islam di seluruh dunia.

"Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat." (Huud, 11:118). Umat Islam harus menarasikan sebagai mana kehendak Allah menjadi umat yang satu. Hindari perselisihan dengan mengembalikan kebenaran kepada Allah.

Besar-besarkan rasa persatuan bukan perselisihannya. Para penceramah yang membesar-besarkan perbedaan, membangga-banggakan kelompok, dan menimbulkan perselisihan, harus segera ditinggalkan. Mereka tidak sedang mengajarkan Islam tapi mengajarkan apa yang diajarkan setan.

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka." (Al Israa, 17:53)***


Saturday, March 7, 2026

TANDA KEKALAHAN AMERIKA TADABUR QURAN

Oleh: Muhammad Plato

Tanda Amerika Serikat akan kalah perang, bukan karena kalah jumlah senjata dan pasukan. Tanda kekelahan Amerika seperti kekalahan kaum Quraisy Mekah menghadapi kaum muslimin di Madinah.

Kaum Quraisy dikenal sebagai kelompok dengan jumlah pasukan dan senjata lengkap. Kaum muslimin di Madinah, di bawah pimpinan Nabi Muhammad, memiliki pasukan dan senjata terbatas. 

Kaum Quraisy merasa berada di atas angin, dan yakin mereka bisa menyelesaikan pasukan kaum muslimin dengan mudah. Sebelum berangkat mereka gelar kekuatan. Lalu mereka berangkat ke medan perang dengan angkuh. 

Dari kata-kata yang keluar dari mulut pemimpin Amerika Serikat telah memperlihatkan sikap sombong yang nyata. Allah sangat tidak menyukai orang-orang sombong. 

Dikisahkan tentara-tentara Quraisy berangkat ke medan perang dengan membusungkan dada, sebagai bentuk sikap sombong. Inilah sebab sepele dari kekalahan pasukan besar Quraisy di perang Badar.

"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan". (Al Anfaal, 8:47). 

Sikap menganggap remeh pada pasukan kecil, menjadi tekanan mental bagi Amerika Serikat di mata internasional. Kekuatan Iran bukan dikekuatan senjata tapi punya ideologi dibangun dengan kekuatan agama. 

Iran menarasikan dirinya sebagai negara Islam dengan tekanan dari negara besar. Posisinya seperti zaman perjuangan Nabi Muhammad di Madinah ketika mendapat tekanan dari pasukan Quraisy.

Kekuatan Iran dibangun dengan narasi agama, telah melipat gandakan kekuatan pasukan 10 kali lipat lebih banyak. Sebagaimana Al Quran mengabarkan bagaimana Nabi Muhammad membangkitkan kekuatan pasukannya. 

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (Al Anfaal, 8:65).

Ketika narasi agama sudah melekat bulat menjadi tekad warga Iran, tidak ada senjata yang bisa menghentikan perjuangan mereka. Narasi-narasi perang menggunakan moralitas agama, akan sangat sulit ditaklukkan. 

Disarankan Amerika Serikat mengubah arah kebijakan politiknya untuk bisa hidup berdampingan dengan semua negara di dunia. Kekalahan negara besar bukan oleh pasukan yang besar, tapi karena pasukan-pasukan kecil yang punya nyali melawan.

Ingatlah kisah di dalam Al Quran selalu mengandung kebenaran. Negara-negara besar akan kehilangan muka karena tidak mampu melumpuhkan pasukan kecil.

"Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al Baqarah, 2:249). 

Peperangan bukan sebatas kekuatan angkatan bersenjata, tetapi ditentukan oleh mental-mental yang angkat senjata. Logika Tuhan tidak memenangkan pasukan dari jumlah senjatanya, tapi dari ketakwaan dan kesabaran orang-orang yang mengangkat senjata.

Tuhan cinta pada orang-orang sabar dan takwa. Tuhan tidak cinta pada orang-orang sombong. Sekalipun didoakan oleh ribuan ulama, orang sombong tetap dibenci Tuhan.***

Monday, March 2, 2026

NABI MUHAMMAD TIDAK BERMADZAB

Oleh: Muhammad Plato

Tinggalkan madzab. Nabi Muhammad bukan Sunni, bukan Syiah, bukan Sufi, bukan Tasyawuf. Nabi Muhammad  tidak bermadzab Syafi'i, Maliki, Hambali, atau Hanafi. Nabi Muhammad tidak berorganisasi, Nabi Muhammad mengajarkan Islam. Nabi Muhammad, teladan bagi seluruh umat manusia.

Sudah saatnya, kebodohan-kebodohan dalam beragama diakhiri. Islam agama rahmat sebagaimana tertuang di dalam Al Quran. Perbedaan adalah fakta yang tidak bisa dihindari, tetapi untuk persatuan dan persaudaraan antar sesama muslim harga mati. 

Saatnya kita tampil menjadi muslim-muslim cerdas, muslim yang memanfaatkan Al Quran sebagai sumber ilmu pengetahuan. Manusia-manusia berkualitas tinggi adalah manusia yang menagajarkan dan mengamalkan Al Quran, yaitu Nabi Muhammad.

Manusia-manusia yang mengajarkan agama Islam bersumber pada selain Al Quran, adalah manusia-manusia tidak berkualitas haus kedudukan dan ingin dihormati. Manusia-manusia yang mengajarkan agama Islam bersumber pada selain Al Quran, adalah pemecah belah agama.

Kelemahan umat Islam yang banyak di seluruh dunia, mayoritas lemah dikecerdasan intelektual. Ajaran Islam yang diajarkan pada umat terlalu lugu dan kemayu secara intelektual. Umat Islam tidak diajarkan menjadi khalifah, manusia penuh optimis, berkekuatan ekonomi, ilmu dan teknologi.

Umat Islam kehilangan otaknya karena dibajak oleh ajaran-ajaran yang tidak fokus pada Al Quran, tetapi pada pemuka-pemuka agama yang haus kehormatan dan kekuasaan. Girah Al Quran sebagai umat terbaik tidak diajarkan diganti menjadi manusia bodoh, lumpuh, pakaian lusuh, seperti pengemis. Sebaliknya bermegah-megahan dengan harta kekayaan, hingga takut mati, dan tidak bisa mencegah kemunkaran, menjadi hal kontra produktif dengan ajaran Al Quran.  

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (Ali Imran, 3:110).

Madzab bukan agama, dia aliran-aliran pemikiran yang tidak patut diimani. Madzab buatan manusia, diciptakan untuk memecah belah umat Islam. Imani Al Quran dan Sunnah, bukan madzab.

"Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka." (Al Mukminuun, 23:53). 

Tidak ada paksaan dalam agama, sebagaimana Allah jelaskan dalam Al Quran. Saatnya dengan segenap kemampuan, pahami Al Quran. Di dalam Al Quran Allah melarang perpecahan dan menghendaki persatuan. "

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara;" (Ali Imran, 103).

Al Quran adalah pedoman hidup umat Islam, di dalamnya terdapat pedoman berpikir. 

Sunday, March 1, 2026

MEMASUKI ERA MUSLIM TANPA MADZAB

Oleh: Muhammad Plato

Umat Islam di seluruh dunia saatnya kembali ke dasar-dasar ajaran Islam sesungguhnya. Beragama Islam dengan memegang teguh pada madzab-madzab sudah kadaluarsa. Saatnya setiap muslim bergerak menggunakan akal memahami esensi ajaran Islam pada Al Quran dan hadis. 

Kekuatan ajaran Islam bukan ketergantungan pada kelompok-kelompok mengatasnamakan madzab. Kekuatan Islam terletak pada pribadi-pribadi tangguh sebagai muslim, berpedoman pada Al Quran dan menegakkan persatuan umat Islam seluruh dunia.

Pribadi-pribadi muslim yang tangguh harus masuk pada seluruh sendi kehidupan di seluruh dunia di negara manapun berada. Pribadi-pribadi muslim yang tangguh harus menjadi penentu-penentu kebijakan di setiap negara. 

Muslim tanpa madzab tidak bertujuan mendirikan negara, tetapi menguasai seluruh sendi kehidupan dunia, dengan memasuki wilayah-wilayah strategis yang ada di setiap negara. Muslim-muslim tanpa madzab menggunakan Al Quran sebagai naratif menguasai dunia untuk kesejahteraan manusia.

Al Quran sebagai sumber primer ajaran Islam menjadi pedoman seluruh muslim di dunia. Konsep-konsep dasar Islam yang jelas di dalam Al Quran kita jadikan pedoman dimanapun orang Islam berada. Muslim-muslim tanpa madzab harus menguasai teknologi perang, industri, pertanian, perdagangan, kesehatan, pendidikan, dan informasi.

Umat Islam tanpa mandzab memiliki visi menguasai kehidupan dunia untuk kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat. Muslim tanpa madzab mengendalikan pola pikir dunia untuk taat kepada Tuhan dengan menjadikan bumi sebagai tempat bernaung semua makhluk. 

"Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu." (Yunus, 10:19).

Islam bukan doktrin untuk mendirikan negara, tapi paradigma berpikir untuk menyatukan seluruh makhluk bumi dalam naungan Islam. Madzab-madzab merupakan kelompok-kelompok pemikiran bukan inti dari ajaran agama.

Memahami Islam tidak mutlak melalui pemikiran berdasarkan madzab. Memahami Islam adalah memahami Al Quran, mengggali nilai-nilai ilmu pengetahuan, kemanusiaan, teknologi, dan saling mensejahterakan. Prinsip-prinsip kesejahteraan dan kedamaian hidup antar sesama manusia menjadi inti dari ajaran Islam.

Era Islam sebagai entitas negara-negara muslim dengan berpegang pada madzab-madzab sudah berakhir. Kini saatnya telah lahir era Islam tanpa madzab, dimana umat Islam sudah dikenal dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. 

Penganut agama Islam tumbuh subur di seluruh dunia dan akan tumbuh menjadi orang-orang terdidik di setiap negara. Penganut agama Islam akan menguasai objek-objek vital di setiap negara. Penganut agama Islam akan menjadi pengendali disetiap negara untuk mewujudkan visi muslim tanpa madzab untuk menguasai dunia.

Kelak kemamkmuran akan menjadi milik umat manusia di seluruh dunia. Perselisihan antar muslim akan berakhir menjadi rasa persatuan berdasarkan satu Tuhan dan menerapkan ajaran-ajaran Islam dalam menjaga dan meningkatkan hubungan harmonis antar sesama manusia di seluruh dunia.

Muslim-muslim tanpa madzab tidak dikendalikan oleh kelompok tetapi dikendalikan oleh Tuhan melalui bimbingan Al Quran. Muslim-muslim tanpa madzab mengikuti jejak-jejak Nabi Muhammad, menyebarkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Muslim-muuslim tanpa madzab merencanakan kehidupan dunia menggunakan rencana-rencana Allah dalam Al Quran. "Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari." (An Naml, 27:50). Muslim-muslim tanpa madzab merencanakan menegakkan kekusaan Tuhan di muka bumi.  

Gerakan muslim tanpa madzab bersifat kekuatan individu-individu muslim di seluruh dunia. Kekuatan muslim tanpa madzab terletak pada kekuatan individu untuk menggerakkan seluruh dunia tunduk pada kekuasaan Tuhan. Rasa persatuan dan kesatuan antar muslim di dasari pada ajaran Al Quran, sebagai makhluk pengabdi pada satu Tuhan.

"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,  Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia". (Al Ikhlas, 112:1-4).

Muslim-muslim tanpa madzab, hiduplah dengan damai dimanapun berada. Ketaatan mu bukan pada madzab, tapi pada Tuhan yang esa. Jadilah manusia-manusia penyejahtera dimanapun berada. Setiap muslim bersaudara dan tugas muslim tanpa madzab adalah mensejahterakan bumi dimanapun berada.*** 

Sunday, February 22, 2026

LOGIKA TUHAN ILMU PARA NABI

Oleh: Muhammad Plato

Dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, semua nabi menggunakan logika Tuhan. Artinya semua yang para nabi pikirkan, ucapkan, dan lakukan, dibimbing Allah melalui wahyu. 

Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israel, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. (Al Ma'idah, 5:70).

Allah mengabarkan dalam Al Quran, nabi-nabi terdahulu diutus dengan bimbingan wahyu dari Tuhan. Para nabi tidak ujug-ujug mengaku nabi tapi mendapat bimbingan Tuhan melalui wahyu. 

Dapat dipahami ketika para nabi mendapat cemoohan, lecehan, dan pembunuhan, karena narasi, logika-logika yang dibawanya bertentangan dengan hawa nafsu.

Jelas Al Quran mengisahkan rasul-rasul yang diutus pada Bani Israel membawa kabar berita bukan dari hawa nafsunya, melainkan firman Allah. Para rasul tidak membuat perkataan-perkataan dan perbuatan dari hawa nafsunya, tetapi mengikuti, tunduk, dan patuh, dari apa yang diwahyukan Allah kepadanya.

Hal ini dialami juga oleh Nabi Muhammad, seperti nabi -nabi terdahulu mendapat lecehan, cemoohan, dan ancaman pembunuhan. Perkataan, aturan, dan perbuatan, yang dibawa Nabi Muhammad bukan dari hawa nafsu dan berbeda dengan yang ada di masyarakat Arab saat itu. 

 "Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru,dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),". (An Najm, 53:1-4).

Terkonfirmasi dengan jelas di dalam Al Quran, ucapan-ucapan Nabi Muhammad selalu merujuk pada wahyu yang diterimanya melalui malaikat Jibril. Artinya ucapan nabi bukan lahir dari pemikiran nabi, tapi mengikuti wahyu.  

Maka kalimat dalam Al Quran inilah yang melahirkan konsep logika Tuhan, "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," (An Najm, 53:4). 

Manusia adalah makhluk berpikir. Setiap kejadian selalu dipahami dengan logika-logika sebab akibat. Al Quran adalah petunjuk berpikir. "Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa," (Al Baqarah, 2:2). 

Memahami kehidupan dengan menggali pola-pola pikir sebab akibat dari Al Quran adalah sebuah upaya menemukan logika-logika Tuhan yang digunakan para nabi dalam bernarasi.  

Logika Tuhan adalah ilmu bepikir merujuk pada Al Quran, yang seharusnya dikembangkan dan ditradisikan pada penganut agama Islam. 

Jika ilmu ini dikembangkan dan diajarkan tidak menutup kemungkinan akan lahirkan pemikir-pemikir pembaharu sekualitas pemikir-pemikir terbaik mengikuti para nabi. Banyak ayat-ayat Al Quran memerintahkan manusia berpikir. Dan Allah menjadikan Al Quran sebagai petunjuk berpikir.***

UJUNG HIDUP BUKAN MATI?

Oleh Muhammad Plato

Rata-rata semua orang berpendapat bahwa ujung kehidupan ini adalah kematian. Pendapat ini tidak salah tetapi jika kita pahami Al Quran, ujung hidup bukan kematian. 

Semua orang dari berbagai latar belakang budaya, suku, bangsa, percaya ujung hidup ini kematian. Percaya Tuhan atau tidak percaya Tuhan, beragama atau tidak beragama, semuanya yakin bahwa akhir hidup ini kematian. 

Fakta kebanyakan orang yang menganggap ujung hidup ini kematian, ketika memiliki kekayaan dia akan berpoya-poya dan bermegah-megahan sebelum mati. Mereka menganggap hidup hanya sekali maka mumpung hidup kekayaannya digunakan untuk poya-poya dan bermegah-megahan. 

Di dalam Al Quran, orang yang suka poya-poya dan bermegah-megahan mereka beranggapan ujung hidup ini kematian. Maka mereka berpikir mumpung masih hidup, mereka bermegah-megahan sampai ajal menjemput. 

Hal ini digambarkan Allah dalam Al Quran. "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. (At Takaatsur, 102: 1-2). Inilah pola pikir orang yang hidupnya suka poya-poya dan bermegah-megahan, mereka menganggap akhir hidup ini adalah kematian. Inilah pola pikir orang tidak beriman dan kurang pendidikan.

Pola pikir orang beriman memahami, akhir dari hidup bukan kematian tapi kehidupan. Pandangan ini bersumber pada ilmu dari Al Quran.  

"Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)." (Ali Imran, 3:27).

Secara berurutan, hidup mengalami pasang surut seperti siang dan malam. Hidup ini akan diakhiri dengan alam kegelapan (malam), artinya alam yang tidak banyak diketahui oleh manusia yaitu alam akhirat. 

Maka, hidup manusia sebenarnya diakhiri dengan hidup bukan mati, karena setelah mati manusia masuk ke kehidupan akhirat, alam pengadilan, atau hari pembalasan. Manusia akan diadili berdasarkan kelakuannya selama hidup di alam dunia.

Orang-orang beriman dan beramal baik dijanjikan rezeki tanpa batas oleh Allah karena rezekinya tembus sampai ke akhirat. Bagi orang beriman hidup ini untuk hidup setelah mati. Oleh karena itu orang beriman, selalu berusaha hidup sesuai perintah Allah agar hidup abadi dan sejahtera selamanya sebagaimana Allah janjikan.*** 

Tuesday, February 17, 2026

MEMAHAMI HUKUM SEBAB AKIBAT ADALAH KESADARAN

Oleh: Muhammad Plato

Pangkal dalam membangun kesadaran adalah memahami berlakunya hukum sebab akibat di alam semesta. Hamparan alam semesta bergerak beraturan seirama karena ada hukum sebab akibat. Alam semesta adalah sistem kehidupan dilandasi hukum sebab akibat saling berkaitan. 

Hukum sebab akibat dapat dipahami dengan melakukan pengamatan pada setiap kejadian alam. Matahari bisa terbit dari timur dan terbenam di barat dapat dipahami karena padanya berlaku hukum sebab akibat. Terjadinya siang dan malam dapat dijelaskan dengan hukum sebab akibat.

Hukum sebab akibat terjadi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Setiap orang berusaha bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, hal ini dapat dijelaskan dengan hukum sebab akibat. Apapun yang dilakukan setiap orang selalu punya alasan sebab dan akibat.

Kesadaran manusia terjadi ketika manusia bisa memahami pola sebab akibat dalam kehidupan. Keterbatasan manusia dalam memahami pola sebab akibat karena keterbatasan ilmu. Jangkauan manusia dalam memahami pola-pola sebab akibat dibatasi oleh ruang dan waktu. 

Manusia terbatas mengetahui kejadian di masa lalu dan masa depan. Manusia terbatas mengetahui batas atas dan bawah. Manusia terbatas mengetahui yang turun dan naik ke langit. Manusia terbatas mengetahui yang masuk dan keluar dari bumi.

Manusia membutuhkan alat untuk mengetahui pola sebab akibat di masa lalu dan masa sekarang. Berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi diciptakan dalam rangka ingin mengetahui pola-pola sebab akibat.  

"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah. Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Hadid, 57:2-4).

Dunia lahir (nyata) dan batin (ghaib) dalam keduanya berlaku hukum sebab akibat. Manusia memahami pola sebab akibat berdasarkan pengetahuan yang diterima dan tersimpan di memori otak. Pengetahuan yang masuk ke otak dan disimpan di memori akan menjadi sudut pandang manusia. 

Kesadaran tertinggi manusia ketika dia mengetahui dan mengakui Tuhan seluruh makhluk adalah penyebab dan akibat dari segala sesuatu. Memahami pola-pola sebab akibat yang terjadi di alam adalah sarana manusia untuk membuktikan hukum-hukum sebab akibat yang telah ditetapkan oleh Tuhan. 

"Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Al hadiid, 57:4).

Ketika Allah mengabarkan, dimana saja manusia berada Allah bersamanya, dan Allah mengetahui setiap apa yang dikerjakan manusia, artinya dimanapun manusia berada dia tidak akan lepas dari hukum sebab akibat yang sudah Allah tetapkan. 

Pertanyaannya, "jika hidup ini Allah tetapkan dalam hukum sebab akibat, maka Allah pasti ada sebabnya. Lalu dari mana sebabnya Allah?" Jawabannya adalah, "Allah adalah sebab dan Allah adalah akibat semua makhluk akan kembali kepada-Nya". Itulah kesadaran tertinggi manusia yang harus jadi pola pikir dimanapun manusia berada.***


Thursday, February 5, 2026

HATI-HATI DENGAN ORANG DEKAT?

Oleh: Muhammad Plato

Menjadi orang dekat tentu jadi keinginan setiap orang. Orang dekat akan mendapat perhatian lebih dan mendapat keistimewaan. Orang dekat bisa minta apa saja sesuai keinginan. Itulah keistimewaan orang dekat. 

Semua orang bisa menjadi orang dekat. Allah mengabarkan di dalam Al Quran, orang-orang dekat dengan Allah dialah yang akan diberi kesejahteraan. 

"sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan), (Al 'Alaq, 96:19).

Inilah berita Al Quran tentang cara bagaimana membangun kedekatan dengan Allah yaitu dengan sujud. Maka dari itu Nabi Muhammad saw bersabda: 

"Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa." (HR. Muslim).

Sabda Nabi Muhammad berkaitan dengan Al Quran surat Al 'Alaq. Hadis ini shahih karena isinya bersumber pada keterangan Al Quran. Ketika posisi dekat dengan Allah Nabi Muhammad mengajarkan doa. 

"Ya Allah ampunilah aku, dosaku seluruhnya, yang kecil dan yang besar, yang awal dan yang akhir, yang tersembunyi dan terang-terangan" (HR. Muslim). 

Mengapa doa yang diajarkan ketika sujud adalah ampunan? Karena jika manusia mendapatkan ampunan dari semua dosa, maka selesai semua urusan.

Kapan orang-orang melakukan sujud? Ritual agama dengan gerakan sujud adalah shalat. Jika demikian shalat adalah cara agar manusia jadi orang-orang terdekat Allah. Ritual shalat hanya dilakukan oleh umat Islam.

Kalau begitu umat Islam yang rajin shalat dialah orang-orang terdekat Allah. Harus hati-hati dengan orang terdekat Allah, karena Allah pelindung dan penolongnya.

"Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh di dalamnya apa yang kamu minta. (Fushshilat, 41:31).

Orang-orang terdekat dengan Allah mereka telah dijamin kesejahteraannya. "Mereka itulah orang yang didekatkan, Berada dalam surga kenikmatan. (Al Waaqi'ah, 11-12).

Pendidikan terbaik membiasakan dan mengajarkan shalat. Mengajarkan shalat melatih murid-murid jadi orang-orang terdekat Allah. 

Sebaik-baiknya pendidikan melatih murid-murid banyak bersujud supaya dekat dengan Allah. Memperbanyak sujud hanya dapat dilakukan dengan mengajarkan dan melatih disiplin mengerjakan shalat setiap hari.*** 


 

Tuesday, February 3, 2026

UMAT ISLAM TIDAK MENGENAL PENSIUN

Oleh: Muhammad Plato

Umat Islam tidak pernah mengenal kata pensiun. Nabi Muhammad dalam kisah hidupnya, sampai akhir hayatnya tidak pernah mengenal kata pensiun. Nabi Muhammad meninggal sebagai nabi dan rasul. Nabi Muhammad meninggal di usia 63 tahun, meninggal sebagai nabi dan rasul. 

Seorang muslim diwarisi oleh Nabi Muhammad sebagai pekerja keras, pejuang, yang tidak pernah mengenal kata pensiun. Selama hayat masih dikandung badan, Nabi Muhammad mengisyaratkan umatnya untuk terus berjuang. 

Di dalam hadis shahih Nabi Muhammad mengisyaratkan sebagai umat Islam tidak boleh berhenti berbuat baik sekalipun esok akan terjadi kiamat. Pesan ini cukup mendalam untuk direnungkan.

Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, di mana Rasulullah  bersabda: "Jika kiamat terjadi sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada sebuah bibit, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya."

Umat Islam ditakdirkan menjadi pejuang, pekerja keras, selalu produktif sepanjang hayat. Inilah pesan mendalam dari Nabi Muhammad yang harus ditangkap dan diajarkan terus kepada seluruh umat Islam. 

Di dalam Al Quran Allah mengajarkan pada seluruh umat manusia, tidak ada kata pensiun atau berhenti bekerja. Umat Islam adalah manusia-manusia produktif sepanjang hayat. Informasinya tertulis jelas dalam kitab suci Al Quran.

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Alam Nasyrah, 94:7-8)."

Perjuangan umat Islam dituntut untuk bekerja keras dan bersungguh-sungguh sampai titik darah penghabisan. Inilah keunnggulan umat Islam di muka bumi jika mereka benar-benar berpedoman kepada Al Quran dan hadis. 

Selama hidup di dunia umat Islam tidak mengenal kata menyerah atau putus asa. Selama hidup akan terus berjuangan dan bekerja keras karena harapannya digantungkan pada Allah yang maha hidup.

Seberat apapun ujian hidup di dunia, tidak akan mematikan mematikan harapan umat Islam. Selama hidup umat Islam akan terus belajar sepanjang hayat, terus bekerja sepanjang hayat, dan terus bekerja keras sepanjang hayat. Itulah makna mengapa Nabi Muhammad berpesan, sekalipun kiamat terjadi jika masih ada bibit di tangan hendaklah tetap menanam.

Dari sinilah makna keunggulan umat Islam, selama hayat dikandung badan tidak ada kata pensiun. Ketika mati menghampiri maka akan ada generasi berikutnya yang terus berjuang, bekerja keras sampai kembali kepada Allah dengan tenang.***

Sunday, January 25, 2026

HUKUM PARETO DAN PERANG BADAR

Oleh: Muhammad Plato

Tahun 1848-1923 Vilfredo Pareto seorang ahli ekonomi dan sosiologi menemukan fakta 80% tanah di Italia dikuasai oleh 20% populasi. Temuan ini dipolulerkan menjadi “Prinsip Pareto”.

Kondisi ini pernah terjadi di Indonesia pada zaman Orde Baru, ekonomi Indonesia dikuasai oleh 10% para pengusaha. Fakta ini masih terjadi hingga sekarang kepemilikan kekayaan Indonesia hanya dimiliki segelintir orang. 

Prinsip "yang sedikit menguasai yang banyak" rupanya jadi hukum hidup. Prinsip ini berlaku dalam berbagai bidang tidak hanya dalam bidang ekonomi. Prinsipnya dasarnya bisa dipahami dalam pola sebab akibat, yaitu sebab 20% akan berakibat 80%. Dalam prinsip ekonomi, "usaha sedikit hasil maksimal" bisa dipahami melalui hukum ini.

Joseph M. Juran (1904–2008) menyebut fenomena ini dengan " the vital few and the trivial many " (sedikit yang penting dan banyak yang sepele). Al Quran telah memberita ide prinsip ini 1400 tahun lalu. Hanya kemalasan berpikir umat Islam, ide ini diungkap oleh Pareto dari Italia. 

Toto Suharya telah mengungkap hukum ini di dalam Al Quran. Peristiwanya terekam di dalam kisah perang Badar yang dialami Nabi Muhammad. https://www.logika-tuhan.com/2019/07/sebagian-besar-manusia-tersesat.html

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk membangkitkan. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, (Al Anfal, 8:65).

Ayat ini saling menguatkan dengan ayat lain , "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al Baqarah, 2:249).

Di dalam Al Quran tercatat perhitungan 20 orang dapat mengalahkan 200 orang, dan 100 orang dapat mengalahkan 1.000 orang. Polanya adalah 20/200 dan 100/1000.

Apa yang diberitakan dalam Al Quran adalah hukum dasar atau prinsip bahwa telah berlaku "sedikit yang penting dan banyak yang sepele".

Di dalam fakta sejarah pasukan Nabi Muhammad saat perang Badar sekitar 300 lebih dan pasukan musyirikin kurang lebih 900 - 1000 orang. Jadi pasukan Nabi Muhammad kurang lebih 30%.

Antara Al Quran, kisah Perang Badar, pendapat Pareto, dan Juran, memiliki kesamaan pada prinsipnya yaitu "sedikit yang penting dan banyak yang sepele".

Sejak 1400 tahun lalu, Al Quran sudah membicarakan kelompok kecil mengalahkan kelompok besar. Hukum ini dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam bidang pembangunan, sebuah negara harus memilih faktor mana yang penting untuk bisa meningkatkan produktivitas.

Kita berterimakasih pada Pareto dan Juran sudah mengenalkan hukum ini kepada publik. Sebagai umat beragama, sebaik-baiknya ilmu ketika berhubungan dengan kitab sucinya. Ilmu yang bersumber dari kitab suci selain mengandung kebenaran juga mengandung keyakinan atau optimisme. 

Berdasarkan prinsip Al Quran dan kisah Nabi Muhammad ketika perang Badar, jumlah manusia berkualitas yang harus dimiliki sebuah negara kurang lebih 30% dari populasi penduduk. 

Maka untuk menuju Indonesia emas 2045, bangsa Indonesia membutuhkan 86 juta manusia berkualitas tinggi dari total 286 juta populasi penduduk Indonesia. Salah satu manusia berkualitas tinggi yaitu para investor di pasar modal”*** 

Friday, January 16, 2026

IDE SAINS DAN TEKNOLOGI DARI ISRA MI'RAJ

Oleh: Muhammad Plato

Cerita Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad pada masa itu menggemparkan seluruh penduduk. Dalam konteks kenabian, pada usia antara 51-52 tahun Nabi Muhammad melakukan Isra dan Mi'raj. Posisi Nabi Muhammad masih sedang berada di Mekah. Kondisi Nabi Muhammad sedang berduka karena Khadijah istri Nabi saw, dan Abu Thalib paman Nabi telah wafat.

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al Israa, 17:1).

Berdasarkan buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal, reaksi masyarakat Mekah saat mendengar cerita Isra Mi'raj ditandai dengan pendustaan yang keras, ejekan, dan lecehan semakin meningkat. Keimanan pada umat Islam saat itu mendapat guncangan hebat.

Cerita Isra Mi'raj sangat tidak masuk akal bagi masyarakat Arab saat itu, karena perjalanan dari Masjidil Haram (Mekah) ke Madjidil Aksa (Palestina) dapat ditempuh melalui perjalan satu bulan. Sementara Isra Mi'raj ditempuh dalam satu malam. Belum ada ilmu dan teknologi yang bisa menjelas perjalanan Nabi saat itu. Dari suasana psikologis masyarakat saat itu, dapat tergambarkan tidak sedikit yang tadinya sudah muslim kembali murtad.

Namun diluar konteks historis, ada pesan dari Allah dalam surat Al Israa ayat 1, peristiwa Isra Mi'raj adalah ayat atau tanda-tanda untuk dikabarkan agar manusia bisa menemukan bukti kebesaran Allah dan Rasulnya. Maka ketika Nabi Muhammad oleh Ummu Hani diingatkan supaya hati-hati tidak menceritakannya pada orang Arab, Nabi Muhammad malah mengumumkannya kepada orang Mekah di Masjidil Haram, karena Allah memerintahkan untuk mengabarkannya. Tandanya bisa dilihat pada dua kata terakhir di surat Al Israa ayat 1.

Tanda-tanda berikutnya, kisah Isra Mi'raj dipandang dari geografi. Jarak dan Waktu Tempuh: Jarak antara Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Yerusalem) adalah sekitar 1.500 km. Secara geografis, perjalanan ini biasanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan (30-40 hari) menggunakan transportasi unta atau kuda.

Lompatan Ruang: Secara geografis, penyelesaian perjalanan ini dalam satu malam menghancurkan batasan fisik ruang yang diketahui masyarakat Arab saat itu, menjadikannya bukti kekuasaan transendental di atas hukum alam. Dapat dipahami jika masyarakat Arab yang sudah beriman pada saat itu terguncang, dan masyarakat Arab kafir bersorak sorai karena mereka memiliki bahan bukti untuk melecehkan Nabi Muhammad. 

Lompatan antar ruang dengan kecepatan tinggi, sangat tidak masuk nalar ketika zaman Nabi Muhammad. Tapi di era sekarang, perjalanan satu malam bisa ditempuh dengan pesawat terbang kecepatan tinggi. Perlu 1400 tahun memahami secara rasional tanda kebenaran empiris terjadinya peristiwa Isra Mi'raj.

Isra Mi'raj dikabarkan dalam Al Quran sebagai tanda-tanda, dapat dipahami kisah Isra Mi'raj sebagai sumber ide pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagi penulis, Isra Mi'raj mengandung ide tentang kepemilikan manusia tentang teknologi tinggi yang bisa dikembangkan manusia di masa depan.  

Di internet beredar ide tentang Isra Mir'raj dengan kecepatan cahaya: Idenya mengaitkan kecepatan Buraq dengan kecepatan cahaya (speed of light), yaitu sekitar 300.000 km/detik. Pada zaman Nabi Muhammad, pemikiran orang saat itu belum sampai pada bukti-bukti rasional dipahami akal, maka disimpulkan sebagai mukjizat, namun sekarang konsep ini menjadi dasar teknologi serat optik dan komunikasi nirkabel.

Saat mendengar Nabi Isra dan Mi'raj semalam, orang Arab yang sudah muslim kembali murtad, dan orang kafir di Arab saat itu membully Nabi, karena dianggap mengarang dongeng yang tidak masuk akal. Sekarang, perjalanan itu dapat dipahami dengan sistem transportasi super cepat. Perjalanan Makkah-Yerusalem yang ditempuh dalam sekejap menginspirasi pemikiran tentang teknologi transportasi masa depan yang memangkas hambatan ruang-waktu.

Perjalanan Isra Mir'aj Nabi mengandung pesan untuk sebuah ilmu dalam fisika. Beberapa teori fisika menghubungkan perjalanan Isra Mi'raj dengan "Teori Anihilasi," di mana materi diubah menjadi energi untuk dapat berpindah dengan kecepatan tinggi dan kemudian disusun kembali menjadi materi di tempat tujuan. Pengiriman data melalui internet adalah bagian dari teori Anihilasi. Konsep ini merupakan dasar teoretis bagi teknologi teleportasi yang sedang diteliti dalam skala partikel subatomik.

Fleksibilitas Waktu: Terjadinya perjalanan luar biasa hanya dalam waktu semalam merupakan contoh nyata dari teori dilatasi waktu atau pemuluran waktu dalam Relativitas Khusus Einstein. Di mana bagi pelaku perjalanan dengan kecepatan sangat tinggi, waktu akan terasa jauh lebih lambat dibandingkan mereka yang diam di bumi.

Kisah Isra Mi'raj adalah sumber gagasan bagi manusia untuk terus menggali tanda-tanda dari Tuhan sebagai sumber ide dalam mengembangkan berbagai bidang kehidupan, untuk menemukan kebenaran Tuhan sebagai Sang Maha Mendengar dan Mengetahui.

Dari psikologi, bisa jadi kisah Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad diantara usia 51-52 bisa menjadi sebuah tanda perjalanan spiritual manusia yang harus mengalami peningkatan di usia 51-52 tahun. Hal ini ditandai dengan beban berat yang akan menimpa manusia di antar usia 51-52 tahun.

Banyak ilmu-ilmu dan teknologi tinggi dari inspirasi Al Quran yang bisa dikembangkan manusia. Al Quran adalah ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Tuhan. Semua orang bisa menemukan Tuhan dari berbagai sudut pandang ilmu dan teknologi. Keberadaan ilmu dan teknologi selain mempermudah kehidupan manusia, tujuan sebenarnya adalah menemukan kebenaran-kebenaran dari Tuhan Pencipta Semesta Alam. ***