Saturday, April 4, 2026

MENGAPA UMAT BERAGAMA SULIT BERSATU

Oleh: Muhammad Plato

Membangun kesadaran umat beragama bersatu mengapa begitu sulit terwujud? Dalam konteks kehidupan bermasayrakat dan bernegara seharusnya semua umat beragama mengedepankan rasa kemanusiaan. Ajaran agama Islam sangat menghargai kemanusiaan, kemerdekaan, dan perbedaan. 

Takdir Tuhan sudah ditetapkan bahwa setiap manusia memiliki dasar pemikiran, cara hidup, keyakinan, berbeda-beda. Perbedaan tercipta karena latar belakang ilmu pengetahuan, geografi, budaya, dan kepentingan. 

Di dalam ajaran Islam, Al Quran memberi pedoman bagaimana manusia hidup berdampingan. Manusia diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa, untuk saling mengenal. Dilaranga saling menghina, mencemooh, dan berprasangka buruk satu sama lain. Secara leterlek tersurat dalam kitab suci.

"Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim." (Al Hujurat, 49:11). 

Memahami keterangan ayat ini tidak perlu tafsir berbelit-belit, larangannya sudah jelas tertulis. Jika saja semua patuh pada Tuhan, dunia sudah pasti cenderung hidup damai berdampingan. Karakter orang beriman pada Tuhan, semestinya memiliki kesadaran untuk tidak saling menghujat.

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain..." (Al Hujurat, 49:12).

Orang beriman adalah orang-orang berpendidikan, berakal sehat, selalu berpikir positif. Berprasangka buruk pada kelompok atau kaum adalah pangkal dari keburukan prilaku. Jika semua umat beragama mendengar dan menyadari apa yang diperintahkan Tuhan, tidak perlu validasi tokoh beragama untuk membenarkan bahwa kita tidak berprsangka buruk. 

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujuraat, 49:13). 

Tuhan maha mengetahui, manusia tercipta bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa. Untuk menghindari olok-olok dan prasangka buruk, perintahnya adalah untuk saling mengenali diri sendiri dan adat orang lain. Tidak ada satu bangsa lebih unggul dari bangsa lain, karena masing-masing memiliki kekurangan. 

Sebenarnya untuk membangun kesadaran umat beragama untuk hidup rukun dan damai, kuncinya ikuti apa yang diperintahkan Allah, selesai. Semua pihak menahan diri, refleksi, karena setiap keburukan berawal dari hawa nafsu yang ada pada setiap pribadi atau kelompok. 

Merasa paling benar, paling berkuasa, paling kuat, paling berlilmu, paling terhormat, adalah pangkal dari munculnya sikap saling hujat, dan prasangka. Islam mengajarkan untuk bersikap rendah hati, bersabar, tidak lemah, punya prinsip, tidak putus asa, pantang menyerah, cinta damai, suka bekerjasama, dan selalu beserah diri pada ketentuan Tuhan.

Konflik pasti selalu ada, untuk itu Allah perintahkan untuk menyelesaikan setiap konflik dengan musyawarah, jangan khianat, dan berdusta. Musyawarah adalah solusi yang harus selalu dikedepankan dalam berbagai konflik, antar kelompok maupun negara. Kunci dasar dari musyawarah adalah bersikaplah lemah lembut, dan jadi pemaaf. 

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." (Ali Imran, 3:159).

Seandainya ayat-ayat suci ini dipahami secara mendalam dan sadar untuk taat pada Tuhan, beberapa ayat ini bisa jadi solusi dalam berbagai konflik yang terjadi saat ini. Namun pikiran-pikiran jahat selalu ada dalam setiap diri manusia untuk menentang Tuhan. Kadang manusia tidak sadar upaya-upaya menentak Tuhan dibungkus dalam kata-kata menggunakan narasi orang bergelar dan mengaku mulia.  

Inilah fungsinya akal sehat agar manusia selalu taat pada Tuhan, bukan taat pada tuhan selain Tuhan. Untuk mengidentifikasi apakah selama ini kita taat pada Tuhan atau selain Tuhan, membutuhkan kesadaran agar pikiran manusia tidak mengikuti tuhan-tuhan selain Tuhan yaitu hawa nafsu.***    

No comments:

Post a Comment