Sunday, March 8, 2026

STOP NARASI KONFLIK SESAMA MUSLIM

Oleh: Muhammad Plato

Stop narasi konflik sesama muslim. Ustad, ulama, kiai, yang suka maki-maki sesama muslim, merendah-rendahnkan kedudukan muslim, menngungkap aib muslim, menghujat kelompok sesama muslim, mulai sekarang bertobat, karena kita tidak lebih berani dari orang Iran. 

Sudah saatnya kita akhiri cara-cara beragama dengan saling benci kelompok satu dengan yang lain. Syiah dan Sunni bukan kelompok agama, dia lahir dari konflik politik di masa lalu. Agama hanya jadi bahan legitimasi keberadaan masing-masing kelompok. 

Teladan kita dalam beragama adalah Nabi Muhammad. Tokoh-tokoh Islam bukan tokoh-tokoh yang harus diteladani, karena yang wajib diteladani adalah Nabi Muhammad, sebagaimana Allah jelaskan di dalam Al Quran. 

Berabad-abad Islam dibesarkan dan disebarkan dengan narasi konflik antar sesama. Hari ini saatnya kita putus tradisi konflik dalam beragama. Kita kembalikan ajaran agama kepada sumbernya yaitu Al Quran dan hadis. 

Al Quran sebagai sumber primer ajaran Islam didalamnya mengandung dasar-dasar pemikiran ajaran Islam. Hadis-hadis Nabi Muhammad menjelaskan praktek ajaran Islam. Inti dari ajaran Al Quran adalah mempersatukan umat dalam satu Tuhan. 

Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. (Al An'aam, 6:106).

Nabi Muhammad mengajarkan Islam dengan mengajak kepada seluruh umat manusia untuk menyembah Tuhan yang satu. Islam adalah agama monotheis, dan bersatu dibawah satu Tuhan yang maha esa. Inilah konsep dasar dalam berislam. 

Perbedaan-perbedaan pendapat dalam masalah tata cara beribadah terjadi karena pengaruh geografi, budaya, dan pandangan pemikiran masing-masing. Namun pada dasarnya sesama muslim kita semua bersaudara. Rasa persaudaraan seperti satu tubuh, ketika satu bagian tubuh sakit yang lain ikut merasakan.

Kini umat Islam sedang diajak untuk berpikir ulang tentang budaya konflik antar agama dengan membela kelompok dan menyalahkan kelompok lain. Cara-cara beragama seperti itu tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad.

Semua yang diajarkan Nabi Muhammad tentang Islam bersumber dari Al Quran yang melarang saling hujat dan melecehkan. "Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain boleh jadi mereka lebih baik dari mereka..." (Al Hujurat, 49:11).

Merasa hebat, merasa benar, merasa paling sunnah, merasa paling ahli surga, adalah sifat-sifat yang tidak dibenarkan di dalam ajaran Islam karena sifat ini dimiliki oleh Iblis. "Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah"." (Al A'raaf, 7:12). Jangan lagi berdakwah dengan cara-cara Iblis.

Tidak mungkin Nabi Muhammad mengajarkan cara-cara beragama dengan saling benci antar sesama muslim, karena merasa benar dan yang lain salah, sementara kita sama-sama menyembah Tuhan yang satu dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad. 

Stop narasi-narasi konflik sesama muslim dalam mengajarkan agama. Sudah jelas ajaran di dalam Al Quran, sesama muslim kita bersaudara, harus tolong menolong, menjaga silaturahmi, tidak membedakan-bedakan antar kelompok, suku, budaya, dan keturunan. 

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujurat, 49:13).

Umat Islam ditandai dengan satu Tuhan Yang Esa, melanjutkan misi Nabi Muhammad menjalin rasa persaudaraan dan kesejahteraan seluruh umat manusia. Ajaran-ajaran Al Quran inilah yang harus dinarasikan oleh umat Islam di seluruh dunia.

"Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat." (Huud, 11:118). Umat Islam harus menarasikan sebagai mana kehendak Allah menjadi umat yang satu. Hindari perselisihan dengan mengembalikan kebenaran kepada Allah.

Besar-besarkan rasa persatuan bukan perselisihannya. Para penceramah yang membesar-besarkan perbedaan, membangga-banggakan kelompok, dan menimbulkan perselisihan, harus segera ditinggalkan. Mereka tidak sedang mengajarkan Islam tapi mengajarkan apa yang diajarkan setan.

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka." (Al Israa, 17:53)***


Saturday, March 7, 2026

TANDA KEKALAHAN AMERIKA TADABUR QURAN

Oleh: Muhammad Plato

Tanda Amerika Serikat akan kalah perang, bukan karena kalah jumlah senjata dan pasukan. Tanda kekelahan Amerika seperti kekalahan kaum Quraisy Mekah menghadapi kaum muslimin di Madinah.

Kaum Quraisy dikenal sebagai kelompok dengan jumlah pasukan dan senjata lengkap. Kaum muslimin di Madinah, di bawah pimpinan Nabi Muhammad, memiliki pasukan dan senjata terbatas. 

Kaum Quraisy merasa berada di atas angin, dan yakin mereka bisa menyelesaikan pasukan kaum muslimin dengan mudah. Sebelum berangkat mereka gelar kekuatan. Lalu mereka berangkat ke medan perang dengan angkuh. 

Dari kata-kata yang keluar dari mulut pemimpin Amerika Serikat telah memperlihatkan sikap sombong yang nyata. Allah sangat tidak menyukai orang-orang sombong. 

Dikisahkan tentara-tentara Quraisy berangkat ke medan perang dengan membusungkan dada, sebagai bentuk sikap sombong. Inilah sebab sepele dari kekalahan pasukan besar Quraisy di perang Badar.

"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan". (Al Anfaal, 8:47). 

Sikap menganggap remeh pada pasukan kecil, menjadi tekanan mental bagi Amerika Serikat di mata internasional. Kekuatan Iran bukan dikekuatan senjata tapi punya ideologi dibangun dengan kekuatan agama. 

Iran menarasikan dirinya sebagai negara Islam dengan tekanan dari negara besar. Posisinya seperti zaman perjuangan Nabi Muhammad di Madinah ketika mendapat tekanan dari pasukan Quraisy.

Kekuatan Iran dibangun dengan narasi agama, telah melipat gandakan kekuatan pasukan 10 kali lipat lebih banyak. Sebagaimana Al Quran mengabarkan bagaimana Nabi Muhammad membangkitkan kekuatan pasukannya. 

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (Al Anfaal, 8:65).

Ketika narasi agama sudah melekat bulat menjadi tekad warga Iran, tidak ada senjata yang bisa menghentikan perjuangan mereka. Narasi-narasi perang menggunakan moralitas agama, akan sangat sulit ditaklukkan. 

Disarankan Amerika Serikat mengubah arah kebijakan politiknya untuk bisa hidup berdampingan dengan semua negara di dunia. Kekalahan negara besar bukan oleh pasukan yang besar, tapi karena pasukan-pasukan kecil yang punya nyali melawan.

Ingatlah kisah di dalam Al Quran selalu mengandung kebenaran. Negara-negara besar akan kehilangan muka karena tidak mampu melumpuhkan pasukan kecil.

"Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al Baqarah, 2:249). 

Peperangan bukan sebatas kekuatan angkatan bersenjata, tetapi ditentukan oleh mental-mental yang angkat senjata. Logika Tuhan tidak memenangkan pasukan dari jumlah senjatanya, tapi dari ketakwaan dan kesabaran orang-orang yang mengangkat senjata.

Tuhan cinta pada orang-orang sabar dan takwa. Tuhan tidak cinta pada orang-orang sombong. Sekalipun didoakan oleh ribuan ulama, orang sombong tetap dibenci Tuhan.***

Monday, March 2, 2026

NABI MUHAMMAD TIDAK BERMADZAB

Oleh: Muhammad Plato

Tinggalkan madzab. Nabi Muhammad bukan Sunni, bukan Syiah, bukan Sufi, bukan Tasyawuf. Nabi Muhammad  tidak bermadzab Syafi'i, Maliki, Hambali, atau Hanafi. Nabi Muhammad tidak berorganisasi, Nabi Muhammad mengajarkan Islam. Nabi Muhammad, teladan bagi seluruh umat manusia.

Sudah saatnya, kebodohan-kebodohan dalam beragama diakhiri. Islam agama rahmat sebagaimana tertuang di dalam Al Quran. Perbedaan adalah fakta yang tidak bisa dihindari, tetapi untuk persatuan dan persaudaraan antar sesama muslim harga mati. 

Saatnya kita tampil menjadi muslim-muslim cerdas, muslim yang memanfaatkan Al Quran sebagai sumber ilmu pengetahuan. Manusia-manusia berkualitas tinggi adalah manusia yang menagajarkan dan mengamalkan Al Quran, yaitu Nabi Muhammad.

Manusia-manusia yang mengajarkan agama Islam bersumber pada selain Al Quran, adalah manusia-manusia tidak berkualitas haus kedudukan dan ingin dihormati. Manusia-manusia yang mengajarkan agama Islam bersumber pada selain Al Quran, adalah pemecah belah agama.

Kelemahan umat Islam yang banyak di seluruh dunia, mayoritas lemah dikecerdasan intelektual. Ajaran Islam yang diajarkan pada umat terlalu lugu dan kemayu secara intelektual. Umat Islam tidak diajarkan menjadi khalifah, manusia penuh optimis, berkekuatan ekonomi, ilmu dan teknologi.

Umat Islam kehilangan otaknya karena dibajak oleh ajaran-ajaran yang tidak fokus pada Al Quran, tetapi pada pemuka-pemuka agama yang haus kehormatan dan kekuasaan. Girah Al Quran sebagai umat terbaik tidak diajarkan diganti menjadi manusia bodoh, lumpuh, pakaian lusuh, seperti pengemis. Sebaliknya bermegah-megahan dengan harta kekayaan, hingga takut mati, dan tidak bisa mencegah kemunkaran, menjadi hal kontra produktif dengan ajaran Al Quran.  

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (Ali Imran, 3:110).

Madzab bukan agama, dia aliran-aliran pemikiran yang tidak patut diimani. Madzab buatan manusia, diciptakan untuk memecah belah umat Islam. Imani Al Quran dan Sunnah, bukan madzab.

"Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka." (Al Mukminuun, 23:53). 

Tidak ada paksaan dalam agama, sebagaimana Allah jelaskan dalam Al Quran. Saatnya dengan segenap kemampuan, pahami Al Quran. Di dalam Al Quran Allah melarang perpecahan dan menghendaki persatuan. "

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara;" (Ali Imran, 103).

Al Quran adalah pedoman hidup umat Islam, di dalamnya terdapat pedoman berpikir. 

Sunday, March 1, 2026

MEMASUKI ERA MUSLIM TANPA MADZAB

Oleh: Muhammad Plato

Umat Islam di seluruh dunia saatnya kembali ke dasar-dasar ajaran Islam sesungguhnya. Beragama Islam dengan memegang teguh pada madzab-madzab sudah kadaluarsa. Saatnya setiap muslim bergerak menggunakan akal memahami esensi ajaran Islam pada Al Quran dan hadis. 

Kekuatan ajaran Islam bukan ketergantungan pada kelompok-kelompok mengatasnamakan madzab. Kekuatan Islam terletak pada pribadi-pribadi tangguh sebagai muslim, berpedoman pada Al Quran dan menegakkan persatuan umat Islam seluruh dunia.

Pribadi-pribadi muslim yang tangguh harus masuk pada seluruh sendi kehidupan di seluruh dunia di negara manapun berada. Pribadi-pribadi muslim yang tangguh harus menjadi penentu-penentu kebijakan di setiap negara. 

Muslim tanpa madzab tidak bertujuan mendirikan negara, tetapi menguasai seluruh sendi kehidupan dunia, dengan memasuki wilayah-wilayah strategis yang ada di setiap negara. Muslim-muslim tanpa madzab menggunakan Al Quran sebagai naratif menguasai dunia untuk kesejahteraan manusia.

Al Quran sebagai sumber primer ajaran Islam menjadi pedoman seluruh muslim di dunia. Konsep-konsep dasar Islam yang jelas di dalam Al Quran kita jadikan pedoman dimanapun orang Islam berada. Muslim-muslim tanpa madzab harus menguasai teknologi perang, industri, pertanian, perdagangan, kesehatan, pendidikan, dan informasi.

Umat Islam tanpa mandzab memiliki visi menguasai kehidupan dunia untuk kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat. Muslim tanpa madzab mengendalikan pola pikir dunia untuk taat kepada Tuhan dengan menjadikan bumi sebagai tempat bernaung semua makhluk. 

"Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu." (Yunus, 10:19).

Islam bukan doktrin untuk mendirikan negara, tapi paradigma berpikir untuk menyatukan seluruh makhluk bumi dalam naungan Islam. Madzab-madzab merupakan kelompok-kelompok pemikiran bukan inti dari ajaran agama.

Memahami Islam tidak mutlak melalui pemikiran berdasarkan madzab. Memahami Islam adalah memahami Al Quran, mengggali nilai-nilai ilmu pengetahuan, kemanusiaan, teknologi, dan saling mensejahterakan. Prinsip-prinsip kesejahteraan dan kedamaian hidup antar sesama manusia menjadi inti dari ajaran Islam.

Era Islam sebagai entitas negara-negara muslim dengan berpegang pada madzab-madzab sudah berakhir. Kini saatnya telah lahir era Islam tanpa madzab, dimana umat Islam sudah dikenal dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. 

Penganut agama Islam tumbuh subur di seluruh dunia dan akan tumbuh menjadi orang-orang terdidik di setiap negara. Penganut agama Islam akan menguasai objek-objek vital di setiap negara. Penganut agama Islam akan menjadi pengendali disetiap negara untuk mewujudkan visi muslim tanpa madzab untuk menguasai dunia.

Kelak kemamkmuran akan menjadi milik umat manusia di seluruh dunia. Perselisihan antar muslim akan berakhir menjadi rasa persatuan berdasarkan satu Tuhan dan menerapkan ajaran-ajaran Islam dalam menjaga dan meningkatkan hubungan harmonis antar sesama manusia di seluruh dunia.

Muslim-muslim tanpa madzab tidak dikendalikan oleh kelompok tetapi dikendalikan oleh Tuhan melalui bimbingan Al Quran. Muslim-muslim tanpa madzab mengikuti jejak-jejak Nabi Muhammad, menyebarkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Muslim-muuslim tanpa madzab merencanakan kehidupan dunia menggunakan rencana-rencana Allah dalam Al Quran. "Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari." (An Naml, 27:50). Muslim-muslim tanpa madzab merencanakan menegakkan kekusaan Tuhan di muka bumi.  

Gerakan muslim tanpa madzab bersifat kekuatan individu-individu muslim di seluruh dunia. Kekuatan muslim tanpa madzab terletak pada kekuatan individu untuk menggerakkan seluruh dunia tunduk pada kekuasaan Tuhan. Rasa persatuan dan kesatuan antar muslim di dasari pada ajaran Al Quran, sebagai makhluk pengabdi pada satu Tuhan.

"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,  Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia". (Al Ikhlas, 112:1-4).

Muslim-muslim tanpa madzab, hiduplah dengan damai dimanapun berada. Ketaatan mu bukan pada madzab, tapi pada Tuhan yang esa. Jadilah manusia-manusia penyejahtera dimanapun berada. Setiap muslim bersaudara dan tugas muslim tanpa madzab adalah mensejahterakan bumi dimanapun berada.***