Saturday, March 7, 2026

TANDA KEKALAHAN AMERIKA TADABUR QURAN

Oleh: Muhammad Plato

Tanda Amerika Serikat akan kalah perang, bukan karena kalah jumlah senjata dan pasukan. Tanda kekelahan Amerika seperti kekalahan kaum Quraisy Mekah menghadapi kaum muslimin di Madinah.

Kaum Quraisy dikenal sebagai kelompok dengan jumlah pasukan dan senjata lengkap. Kaum muslimin di Madinah, di bawah pimpinan Nabi Muhammad, memiliki pasukan dan senjata terbatas. 

Kaum Quraisy merasa berada di atas angin, dan yakin mereka bisa menyelesaikan pasukan kaum muslimin dengan mudah. Sebelum berangkat mereka gelar kekuatan. Lalu mereka berangkat ke medan perang dengan angkuh. 

Dari kata-kata yang keluar dari mulut pemimpin Amerika Serikat telah memperlihatkan sikap sombong yang nyata. Allah sangat tidak menyukai orang-orang sombong. 

Dikisahkan tentara-tentara Quraisy berangkat ke medan perang dengan membusungkan dada, sebagai bentuk sikap sombong. Inilah sebab sepele dari kekalahan pasukan besar Quraisy di perang Badar.

"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan". (Al Anfaal, 8:47). 

Sikap menganggap remeh pada pasukan kecil, menjadi tekanan mental bagi Amerika Serikat di mata internasional. Kekuatan Iran bukan dikekuatan senjata tapi punya ideologi dibangun dengan kekuatan agama. 

Iran menarasikan dirinya sebagai negara Islam dengan tekanan dari negara besar. Posisinya seperti zaman perjuangan Nabi Muhammad di Madinah ketika mendapat tekanan dari pasukan Quraisy.

Kekuatan Iran dibangun dengan narasi agama, telah melipat gandakan kekuatan pasukan 10 kali lipat lebih banyak. Sebagaimana Al Quran mengabarkan bagaimana Nabi Muhammad membangkitkan kekuatan pasukannya. 

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (Al Anfaal, 8:65).

Ketika narasi agama sudah melekat bulat menjadi tekad warga Iran, tidak ada senjata yang bisa menghentikan perjuangan mereka. Narasi-narasi perang menggunakan moralitas agama, akan sangat sulit ditaklukkan. 

Disarankan Amerika Serikat mengubah arah kebijakan politiknya untuk bisa hidup berdampingan dengan semua negara di dunia. Kekalahan negara besar bukan oleh pasukan yang besar, tapi karena pasukan-pasukan kecil yang punya nyali melawan.

Ingatlah kisah di dalam Al Quran selalu mengandung kebenaran. Negara-negara besar akan kehilangan muka karena tidak mampu melumpuhkan pasukan kecil.

"Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al Baqarah, 2:249). 

Peperangan bukan sebatas kekuatan angkatan bersenjata, tetapi ditentukan oleh mental-mental yang angkat senjata. Logika Tuhan tidak memenangkan pasukan dari jumlah senjatanya, tapi dari ketakwaan dan kesabaran orang-orang yang mengangkat senjata.

Tuhan cinta pada orang-orang sabar dan takwa. Tuhan tidak cinta pada orang-orang sombong. Sekalipun didoakan oleh ribuan ulama, orang sombong tetap dibenci Tuhan.***

No comments:

Post a Comment