Oleh: Muhammad Plato
Stop narasi konflik sesama muslim. Ustad, ulama, kiai, yang suka maki-maki sesama muslim, merendah-rendahnkan kedudukan muslim, menngungkap aib muslim, menghujat kelompok sesama muslim, mulai sekarang bertobat, karena kita tidak lebih berani dari orang Iran.
Sudah saatnya kita akhiri cara-cara beragama dengan saling benci kelompok satu dengan yang lain. Syiah dan Sunni bukan kelompok agama, dia lahir dari konflik politik di masa lalu. Agama hanya jadi bahan legitimasi keberadaan masing-masing kelompok.
Teladan kita dalam beragama adalah Nabi Muhammad. Tokoh-tokoh Islam bukan tokoh-tokoh yang harus diteladani, karena yang wajib diteladani adalah Nabi Muhammad, sebagaimana Allah jelaskan di dalam Al Quran.
Berabad-abad Islam dibesarkan dan disebarkan dengan narasi konflik antar sesama. Hari ini saatnya kita putus tradisi konflik dalam beragama. Kita kembalikan ajaran agama kepada sumbernya yaitu Al Quran dan hadis.
Al Quran sebagai sumber primer ajaran Islam didalamnya mengandung dasar-dasar pemikiran ajaran Islam. Hadis-hadis Nabi Muhammad menjelaskan praktek ajaran Islam. Inti dari ajaran Al Quran adalah mempersatukan umat dalam satu Tuhan.
Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. (Al An'aam, 6:106).
Nabi Muhammad mengajarkan Islam dengan mengajak kepada seluruh umat manusia untuk menyembah Tuhan yang satu. Islam adalah agama monotheis, dan bersatu dibawah satu Tuhan yang maha esa. Inilah konsep dasar dalam berislam.
Perbedaan-perbedaan pendapat dalam masalah tata cara beribadah terjadi karena pengaruh geografi, budaya, dan pandangan pemikiran masing-masing. Namun pada dasarnya sesama muslim kita semua bersaudara. Rasa persaudaraan seperti satu tubuh, ketika satu bagian tubuh sakit yang lain ikut merasakan.
Kini umat Islam sedang diajak untuk berpikir ulang tentang budaya konflik antar agama dengan membela kelompok dan menyalahkan kelompok lain. Cara-cara beragama seperti itu tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad.
Semua yang diajarkan Nabi Muhammad tentang Islam bersumber dari Al Quran yang melarang saling hujat dan melecehkan. "Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain boleh jadi mereka lebih baik dari mereka..." (Al Hujurat, 49:11).
Merasa hebat, merasa benar, merasa paling sunnah, merasa paling ahli surga, adalah sifat-sifat yang tidak dibenarkan di dalam ajaran Islam karena sifat ini dimiliki oleh Iblis. "Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah"." (Al A'raaf, 7:12). Jangan lagi berdakwah dengan cara-cara Iblis.
Tidak mungkin Nabi Muhammad mengajarkan cara-cara beragama dengan saling benci antar sesama muslim, karena merasa benar dan yang lain salah, sementara kita sama-sama menyembah Tuhan yang satu dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad.
Stop narasi-narasi konflik sesama muslim dalam mengajarkan agama. Sudah jelas ajaran di dalam Al Quran, sesama muslim kita bersaudara, harus tolong menolong, menjaga silaturahmi, tidak membedakan-bedakan antar kelompok, suku, budaya, dan keturunan.
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujurat, 49:13).
Umat Islam ditandai dengan satu Tuhan Yang Esa, melanjutkan misi Nabi Muhammad menjalin rasa persaudaraan dan kesejahteraan seluruh umat manusia. Ajaran-ajaran Al Quran inilah yang harus dinarasikan oleh umat Islam di seluruh dunia.
"Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat." (Huud, 11:118). Umat Islam harus menarasikan sebagai mana kehendak Allah menjadi umat yang satu. Hindari perselisihan dengan mengembalikan kebenaran kepada Allah.
Besar-besarkan rasa persatuan bukan perselisihannya. Para penceramah yang membesar-besarkan perbedaan, membangga-banggakan kelompok, dan menimbulkan perselisihan, harus segera ditinggalkan. Mereka tidak sedang mengajarkan Islam tapi mengajarkan apa yang diajarkan setan.
Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka." (Al Israa, 17:53)***
No comments:
Post a Comment