Sunday, April 12, 2026

NABI IBRAHIM LELUHURNYA BANGSA IRAN

Oleh: Muhammad Plato

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim." (As Syu'araa, 26:69). 

Iran adalah bangsa yang tidak pernah dijajah. Iran mewarisi peradaban Persia sebagai peradaban besar dunia. Dari sejarahnya bangsa Iran adalah pemikir dan petarung. Persia dikenal sebagai bangsa penyembah api. Kisah Persia digambarkan dalam Al Quran dalam kisah Kerasulan Nabi Ibrahim. 

Cek Ebook sukses dengan logika Tuhan

Nabi Ibrahim adalah penakluk masyarakat penyembah api atau matahari. Nabi Ibrahim diturunkan kepada masyarakat penyembah api dengan kemampuan berpikir tinggi. Nabi Ibrahim digambarkan sebagai sosok ahli debat, karena pemimpin dan masyarakat yang dihadapi Nabi Ibrahim  adalah ahli berpikir.

Kisah-kisah Nabi Ibrahim digambarkan dalam Al Quran, dengan perdebatan. Nabi Ibrahim punya kemampuan berpikir dengan bimbingan wahyu dari Allah. Nabi Ibrahim menghadapi orang-orang cerdas dalam berpikir dan menaklukkannya dengan adu debat. 

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim." (Al Baqarah, 2:258).

Bangsa persia penyembah api mengalami perubahan, sekarang menjadi bangsa Iran penyembah Tuhannya Ibrahim. Gen sebagai ahli pikir warisan Nabi Ibrahim mengalir di darah bangsa Iran. Peradaban Islam berkembang setelah Persia bertemu dengan Nabi Muhammad yang melanjutkan jejak agama Nabi Ibrahim. 

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif." dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (An Nahl, 16:123).

Berita Al Quran di bawah, bisa jadi petunjuk fakta bahwa bangsa Iran memiliki keterkaitan leluhur kepada Nabi Ibrahim sebagai Nabi yang diutus oleh Allah kepada masyarakat ahli debat. 

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (At Taubah, 9:114).

Berikut Allah gambarkan perdebatan Nabi Ibrahim dengan penyembah berhala. Perdebatan ini menggambarkan Nabi Ibrahim sebagai pememang debat. 

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim". Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara". kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara". Ibrahim berkata: "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak memberi mudarat kepada kamu?" (Al Anbinya, 21: 58, 60, 62, 63, 65,66).

Kisah perdebatan Nabi Ibrahim menggambarkan tradisi leluhur orang Iran zaman dahulu sebagai masyarakat penyembah berhala yang suka berdebat. Cara beragama bangsa Iran sekarang memiliki kebiasan menggunakan akal untuk berpikir. Tradisi beragama bangsa Iran seperti tradisi yang diaajar Nabi Ibrahim dan diikuti Nabi Muhamad. 

Bangsa Iran termasuk kelompok umat Islam yang kuat dalam keyakinan dan punya keberanian karena keteguhan Iman dibangun dengan nalar bersumber pada Al Quran sebagai pedoman. Iran bangkit sebagai bangsa yang tidak mudah menyerah, punya kemampuan ilmu dan teknologi, serta teguh dalam keyakinan.

Bangsa Iran, menjadi salah satu kelompok bangsa yang mewarisi tradisi beragama mengikuti Nabi Muhammad, dan Nabi Muhammad diutus untuk mengikuti agamanya Nabi Ibrahim. Bangsa Iran adalah pembawa narasi kisah kejayaan Islam karena kemampuannya dalam berpikir turun temurun seperti Nabi Ibrahim.***  

 

Saturday, April 11, 2026

PEMIMPIN HARUS MISKIN

Oleh: Muhammad Plato

Michael H. Hart, menobatkan Nabi Muhammad sebagai pemimpin nomor satu paling berpengaruh di dunia dari 100 tokoh berpengaruh. Sebagai pemimpin Nabi Muhammad tidak membuat singgasana. Kepemimpinan Nabi Muhammad masih ditiru oleh empat sahabat terdekat Nabi. 

Mengapa Nabi mengajarkan gaya hidup miskin pada pemimpin? Menurut Prof. Suzie Sri Suparin S. Sudarman, M.A., dalam podcast di @last minute id,  "orang kaya jika sudah sangat kaya berubah jadi jahat". 

cek Ebook sukses dengan logika Tuhan

Hal ini diungkapkan melihat kasus prilaku jahat kaum kapitalis di Amerika Serikat (AS). Skandal kebobrokan pemimpin AS terungkap dari file tokoh-tokoh kapitalis yang berisi foto-foto penyimpangan sosial yang dilakukan para pemimpin kapitalis AS. Pemimpin AS sengaja menciptakan perang untuk kepentingan uang.


Nabi Muhammad dalam sebuah hadis bersabda, "Kesengsaraan yang paling sengsara ialah miskin di dunia dan disiksa di akhirat."  (HR. Ath-Thabrani dan Asysyihaab). "Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran. (HR. Ath-Thabrani)". 

Kemudian Nabi Muhammad berdoa, "“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku nanti di hari kiamat bersama kelompok orang-orang miskin.” (HR. Ibnu Madjah dan Tarmidzi).

Dua konteks hadis di atas jika disimak terlihat bertentangan. Di satu sisi Nabi Muhammad mengajak umat manusia waspada dengan kemiskinan, di satu sisi Nabi Muhammad memberi contoh agar jadi pemimpin miskin. 

Nabi Muhammad setelah mendapat kemenangan menguasai Mekah, Beliau bisa menjadi orang paling kaya di Mekah. Namun Nabi Muhammad tetap memosisikan diri sebagai pemimpin miskin. Puncak spiritual seorang pemimpin adalah menjadi orang miskin. 

Miskin dalam konteks kepemimpinan adalah gaya hidup. Bukan berarti pemimpin miskin tidak punya kekuatan kapital dan harta. Dalam perjuangan menegakkan Islam, Nabi Muhammad menghabiskan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. 

Miskin sebagai gaya hidup pemimpin adalah gaya hidup manusia yang tidak punya banyak angan-angan, hanya berpikir kebutuhan dasar terpenuhi. Artinya gaya hidup pemimpin miskin, untuk pribadinya lebih fokus pada kebutuhan dasar hidupnya bukan keinginan.   

Semua energi perjuangan para pemimpin bergaya hidup miskin adalah mensejahterakan orang-orang miskin. Rakyat harus kaya, pemimpin tetap miskin. Segala daya dan upaya pemimpin miskin memperjuangkan seluruh kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Bagi pemimpin bergaya hidup miskin, untuk dirinya sudah terasa cukup. 

Nabi Muhammad menginginkan mati dalam keadaan miskin. Nabi memahami, orang miskin waktunya singkat ketika menghadapi pertanggungjawaban di akhirat. Orang kaya akan menghadapi hisab yang panjang mempertanggungkawabkan kekayaan yang dimilikinya di dunia. Nabi Muhammad menjelaskan.

"Orang-orang miskin dari kalangan kaum mukminin akan masuk surga setengah hari lebih dahulu daripada orang-orang kaya, dan setengah hari itu setara dengan lima ratus tahun." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). 

Inilah filosofi mengapa Nabi Muhammad berdoa minta hidup miskin dan mati miskin. Inilah filosofi seorang pemimpin yang pasti banyak peluang untuk mendapatkan kekayaan banyak dari kekuasaannya, tapi tidak punya angan-angan untuk memilikinya, karena lebih memilih jadi pemimpin miskin. 

Peemimpin miskin yang diharapkan oleh Nabi, dicontohkan oleh dirinya sendiri. Kekuasaan Nabi Muhammad bisa meliputi Barat dan Timur. Kekayaan Nabi bisa seisi langit dan bumi, tapi Nabi memilih hidup miskin, dan lebih mengkhawatirkan kehidupan umatnya. Itulah pemimpin miskin yang diajarkan Nabi Muhammad.***

Saturday, April 4, 2026

MENGAPA UMAT BERAGAMA SULIT BERSATU

Oleh: Muhammad Plato

Membangun kesadaran umat beragama bersatu mengapa begitu sulit terwujud? Dalam konteks kehidupan bermasayrakat dan bernegara seharusnya semua umat beragama mengedepankan rasa kemanusiaan. Ajaran agama Islam sangat menghargai kemanusiaan, kemerdekaan, dan perbedaan. 

Takdir Tuhan sudah ditetapkan bahwa setiap manusia memiliki dasar pemikiran, cara hidup, keyakinan, berbeda-beda. Perbedaan tercipta karena latar belakang ilmu pengetahuan, geografi, budaya, dan kepentingan. 

cek ebook sukses dengan logika Tuhan

Di dalam ajaran Islam, Al Quran memberi pedoman bagaimana manusia hidup berdampingan. Manusia diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa, untuk saling mengenal. Dilaranga saling menghina, mencemooh, dan berprasangka buruk satu sama lain. Secara leterlek tersurat dalam kitab suci.

"Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim." (Al Hujurat, 49:11). 

Memahami keterangan ayat ini tidak perlu tafsir berbelit-belit, larangannya sudah jelas tertulis. Jika saja semua patuh pada Tuhan, dunia sudah pasti cenderung hidup damai berdampingan. Karakter orang beriman pada Tuhan, semestinya memiliki kesadaran untuk tidak saling menghujat.

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain..." (Al Hujurat, 49:12).

Orang beriman adalah orang-orang berpendidikan, berakal sehat, selalu berpikir positif. Berprasangka buruk pada kelompok atau kaum adalah pangkal dari keburukan prilaku. Jika semua umat beragama mendengar dan menyadari apa yang diperintahkan Tuhan, tidak perlu validasi tokoh beragama untuk membenarkan bahwa kita tidak berprsangka buruk. 

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujuraat, 49:13). 

Tuhan maha mengetahui, manusia tercipta bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa. Untuk menghindari olok-olok dan prasangka buruk, perintahnya adalah untuk saling mengenali diri sendiri dan adat orang lain. Tidak ada satu bangsa lebih unggul dari bangsa lain, karena masing-masing memiliki kekurangan. 

Sebenarnya untuk membangun kesadaran umat beragama untuk hidup rukun dan damai, kuncinya ikuti apa yang diperintahkan Allah, selesai. Semua pihak menahan diri, refleksi, karena setiap keburukan berawal dari hawa nafsu yang ada pada setiap pribadi atau kelompok. 

Merasa paling benar, paling berkuasa, paling kuat, paling berlilmu, paling terhormat, adalah pangkal dari munculnya sikap saling hujat, dan prasangka. Islam mengajarkan untuk bersikap rendah hati, bersabar, tidak lemah, punya prinsip, tidak putus asa, pantang menyerah, cinta damai, suka bekerjasama, dan selalu beserah diri pada ketentuan Tuhan.

Konflik pasti selalu ada, untuk itu Allah perintahkan untuk menyelesaikan setiap konflik dengan musyawarah, jangan khianat, dan berdusta. Musyawarah adalah solusi yang harus selalu dikedepankan dalam berbagai konflik, antar kelompok maupun negara. Kunci dasar dari musyawarah adalah bersikaplah lemah lembut, dan jadi pemaaf. 

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." (Ali Imran, 3:159).

Seandainya ayat-ayat suci ini dipahami secara mendalam dan sadar untuk taat pada Tuhan, beberapa ayat ini bisa jadi solusi dalam berbagai konflik yang terjadi saat ini. Namun pikiran-pikiran jahat selalu ada dalam setiap diri manusia untuk menentang Tuhan. Kadang manusia tidak sadar upaya-upaya menentak Tuhan dibungkus dalam kata-kata menggunakan narasi orang bergelar dan mengaku mulia.  

Inilah fungsinya akal sehat agar manusia selalu taat pada Tuhan, bukan taat pada tuhan selain Tuhan. Untuk mengidentifikasi apakah selama ini kita taat pada Tuhan atau selain Tuhan, membutuhkan kesadaran agar pikiran manusia tidak mengikuti tuhan-tuhan selain Tuhan yaitu hawa nafsu.***