Showing posts with label teologi islam. Show all posts
Showing posts with label teologi islam. Show all posts

Monday, February 7, 2022

AL-QUR’AN KITAB PENDIDIKAN

Oleh: Muhammad Plato

Al-Qur’an jika kita renungkan adalah kitabnya para pandidik. Sejarawan memendang Al-Qur’an adalah sumber primer dalam bentuk fakta mental (mentifact). Seluruh isi Al-Qur’an mengandung pelajaran untuk manusia yang mau memikirkanya. Konsep pendidikan di dalam Al-Qur’an adalah mengajarkan kepada manusia untuk melakukan refleksi diri karena karena seluruh kejadian yang diterima secara individu maupun kelompok adalah hasil dari perbuatannya.

Utusan-utusan itu berkata: "Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas". (Yasin, 36:19).

Konsep dasar ini banyak dijelaskan di dalam Al-Quran dalam berbagai kasus. Pada intinya manusia punya kebiasaan menyalahkan orang lain, dan bagi orang-orang yang diberi petunjuk setiap kejadian yang menimpa dirinya akan menjadi bahan refleksi diri. Inilah konsep berpikir yang harus diajarkan para pendidikan pada siswa. Konsep dasar ini menjadi pola berpikir baku dan sudah menjadi takdir atau ketetapan dari Allah. Manusia-manusia yang terlalu fokus pada kesalahan orang lain adalah manusia tidak terdidik dan melampaui batas yang sudah ditetapkan oleh Allah.

Jika kita mengacu kepada Al-Qur’an sedikitnya ada tiga dasar pendidikan yang harus diajarkan yaitu, membaca, keyakinan pada Tuhan, dan bersedekah atau berbuat baik pada sesama. Gagasan ini dimulai dari perintah membaca (Al ‘Alaq, 96:1), keyakinan pada Tuhan, dan bersedekah (Al Baqarah, 2:3). Tiga gagasan ini menjadi konsep dasar pendidikan yang harus diajarkan dalam berbagai macam materi ajar, media dan pendekatan pembelajaran.

Pertama; Mengapa membaca (literasi) menjadi dasar pendidikan? Secara filosofis segala yang dapat dilakukan dan diciptakan oleh manusia sumbernya adalah pengetahuan. Abas & Wekke (2019) mengatakan bahwa agama sebenarnya bersumber dari pengetahuan. Keyakinan pada Allah sumbernya pengetahuan, dan teknologi yang diciptakan sumbernya pengetahuan. Arwani (2012) menjelaskan bahwa Tuhan sebagai sumber pengetahuan dan kebenaran, dan manusia sebagai aktor pencari pengetahuan. Dalam teori fenomenologi, pengetahuan diketahui berdasarkan kesadaran orang yang mengalaminya, karena itu penngetahuan hanya dapat diamati oleh orang yang mengalaminya (Asih, 2005). Dari sudut pandang fenomenologi, kesadaran seseorang tentang sebuah pengetahuan menjadi tanggung jawab seseorang. Ide ini berkaitan dengan pengajaran Al-Qur’an, bahwa segala sesuatu pada akhirnya menjadi tanggung jawab pribadi.

Dasar pendidikan kedua; keyakinan pada Tuhan yang ghaib. Keyakinan pada Tuhan yang ghaib implementasinya adalah percaya pada pengetahuan yang diturunkan dari Tuhan yaitu kitab suci yang substansinya tentang adanya kehidupan setelah kematian yaitu akhirat. (baca: Al Baqarah, 2:4). Berkeyakinan pada Allah pemilik pengetahuan dan alam akhirat, pada prakteknya harus  menjadi ide ajaran etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari manusia. Alam akhirat yang dijelaskan Allah sebagai alam kekal menjadi pembangun harapan dan optimisme manusia untuk berbuat kebajikan atas nama Tuhan. Allah mengatakan orang-orang yang hidup dengan keyakinan pada Tuhan, alam akhirat, dan berbuat baik pada sesama, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang beruntung. “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”. (Al Baqarah, 2:5).

Eksistensi Tuhan harus dijadikan sebagai wujud segala pengharapan manusia. Segala sesuatu yang dikerjakan manusia di muka bumi harus bersandar pada pengharapan baik yang digantungkan pada Tuhan. “dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (Alam Nasyrah, 94:8). Erich Fromm (1968) dalam bukunya “Revousi Harapan” menjelaskan harapan adalah hasrat atau keinginan. Harapan kepada rumah, mobil, perkakas, bahkan ke masa depan sejarah adalah berhala. Harapan ini harapan-harapan palsu yang diciptakan manusia yang dimulai pada masa Revolusi Perancis. Harapan bersifat paradoksional. Bukan pekerjaan pasif, tetapi keadaan yang siap setiap saat menunggu kedatangan yang akan datang, dan sekalipun tidak datang tidak putus asa. Psikologi harapan ini hanya bisa diwujudkan ketika manusia berharap kepada Tuhan sebagai pemberi harapan.

Dasar pendidikan ketiga; menngeluarkan sebagai harta atau sedekah. Konsep sedekah bermakna luas yaitu hidup bermanfaat bagi sesama. Sedekah adalah karakter yang dapat membentuk manusia-manusia penyejahtera yang akan menjadi khalifah di muka bumi. Karakter sedekah harus menjadi pola pikir (mindset) yang dipraktekkan dalam kebiasan-kebiasan memberi diajarkan dalam bentuk pendidikan karakter atau pembiasaan. Murakami (2013, hlm. xix) menjelaskan manusia tersusun dari banyak sel. Di dalam sel tertulis kode rahasia yang luar biasa banyaknya. Salah satu cara untuk mengaktifkan DNA yang baik yaitu hidup dengan memikirkan kepentingan orang lain dan untuk kebaikan dunia, berpikir optimis dan bersyukur. Hidup memikirkan orang lain, berpikir optimis, dan bersyukur adalah bawaan yang terdapat dalam kode DNA.

Mengeluarkan sebagian harta yang diajarkan dalam kitab suci Al-Qur’an, berkaitan dengan mengaktifkan DNA baik, untuk membentuk karakter manusia-manusia penyejahtera yang sudah terdapat dalam kode DNA-nya manusia. Memberi akan membawa efek positif pada pikiran dan perasaan, serta mendatangkan sikap-sikap bersyukur dalam arti menerima dan mengoptimalkan sesuatu yang telah dimilikinya menjadi lebih bermanfaat untuk orang lain.

Itulah tiga konsep dasar pendidikan yang dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan manusia-manusia berkualitas di dunia pendidikan. Saatnya untuk mengkaji lebih dalam lagi konsep dan teori pendidikan yang bersumber dari kitab suci Al-Qur’an sebagai kitab pendidikan untuk melahirkan manusia-manusia unggul penyejahtera kehidupan dunia. Direkomendasikan adanya riset-riset pengembangan lebih lanjut. Wallahu’alam.

Monday, August 23, 2021

SAKSI MUHAMMAD UTUSAN ALLAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sudah 30 tahun lamanya tidak jumpa kawan semasa SMA, ketika bertemu diskusi tak terasa sampai menjelang pagi. Diskusi-diskusi menarik sekitar masalah kehidupan pribadi, keluarga, dan bangsa. Namun diskusi lebih banyak tentang masalah pribadi yang berkaitan dengan pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya jarang didiskusikan karena tabu. Saya mengingatkan kawan-kawan bahwa usia kita sudah kepala empat hampir masuk umur 50. Sudah saatnya kita bertanya mencari pengetahuan tentang hakikat kehidupan.

Diskusi pun berlangsung hangat ditemani kopi dan mie baso buatan istri.  Pertanyaan-pertanyaan nyeleneh pun bermunculan. Apakah benar Nabi Muhammad itu ada, dan apakah Nabi Muhammad itu utusan? Pertanyaan itu pernah ditanyakan pada ustad, lalu dijawab oleh ustad dengan jawaban yang tidak memuaskan dengan menyuruhnya kembali bersyahadat.

Baiklah saya akan membantu saudara kita yang memiliki pertanyaana seperti ini. Saya tidak marah dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, karena saya merasa bahwa mereka butuh jawaban dan yang ditanya harus memberi jawaban untuk menolong mereka yang punya pertanyaan.

Saksi Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah adalah Allah. Ketika Nabi Muhammad bertemu dengan malaikat Jibril di Gua Hira tidak ada saksi manusia. Kejadian bertemunya Nabi Muhammad dengan Malaikat Jibril, saksinya adalah Allah swt. Maka dari itu Allah sebagai saksi kerasulan Nabi Muhammad SAW memiliki kekuatan yang tak terbantahkan.

Berbeda jika saksi kerasulan seorang nabi saksinya manusia. Derajat kerasulan seorang nabi dengan kesaksian manusia kebenarannya tidak 100 persen, karena ada faktor yang membuat kesaksian manusia tidak dapat dikatakan 100 persen benar, yaitu posisi manusia yang punya potensi salah dan benar. Jadi kesaksian manusia tentang kerasulan sebagai syarat kerasulan tidak memiliki derajat kesaksian yang kuat, artinya masih bisa terbantahkan karena kesaksian manusia bisa kemungkinan salah.

Lalu apa buktinya bahwa kerasulan Nabi Muhammad saksinya Allah swt. Allah kan tidak terlihat, tidak bicara langsung seperti manusia, tidak menulis kitab sejarah seperti manusia? Bagaimana membuktikannya bahwa Allah telah menjadi saksi kerasulan Nabi Muhammad? Untuk membuktikan bahwa Nabi Muhammad sebagai rasul saksinya Allah, kita dapat mengecek kebenaran kitab suci A-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad sebagai utusan.

Di dalam Al-Qur’an dikatan bahwa orang-orang menganggap Nabi Muhammad saw tidak sehat akal, karena mengatakan sesuatu kebenaran tetapi tidak memiliki saksi manusia seorang pun. Kejadian ini terekam di dalam ayat Al-Qur’an.

“sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar firman utusan yang mulia”. (At takwir, 81:19). Melalui ayat ini Allah menegaskan Allah menjadi saksi bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar firman yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad saw.

Selanjutnya Allah menjelaskan lagi, “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila”. (A takwir, 81:22). Ayat ini menegakan Allah menjadi saksi bahwa apa yang disampaikan Nabi Muhammad saw adalah kebenaran dari Allah.

“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang”. (At Takwir, 81:23). Ayat ini menegaskan lagi bahwa Allah menjadi saksi pertemuan antara Nabi Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril.

Sekanjutnya kesaksian Allah dipertgas lagi, “Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang gaib. Dan apa yang dikatakan Muhammad (Al Qur'an) itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk,” (At takwir, 81:24:25).

Jadi kenabian nabi Muhammad SAW sebagai Rasul saksinya bukan manusia tapi langsung Allah swt, dan kesaksian itu tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an, kemudian Allah juga menegaskan bahwa wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad bukan perkataan setan. Artinya Allah ingin menegaskan bahwa wahyu Al-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad adalah juga kebenaran dari Allah.

Lalu untuk menujukkan eksistensi-Nya, Allah menantang atau mengingatkan manusia dengan bersumpah, “Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing,” (At takwir, 81:15-18). Sumpah Allah ini ditujukan untuk orang-orang yang ingin membuktikan eksitensi Allah, mereka diminta untuk memperhatikan bagaimana pergerakan bintang-bintang dengan keteraturan dan fenomena-fenomenanya.

sesungguhnya perkataan Muhammad (Al Qur'an) benar-benar firman Allah dari utusan yang mulia (Jibril), (At Takwir, 81:19). Jadi berdasarkan ayat ini, Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad adalah firman Allah. Untuk itu jika ingin membuktikan kebenaran bahwa Allah yang menjadi saksi kenabian Nabi Muhammad, maka Allah mempersilahkan kepada seluruh manusia untuk menguji dan membuktikan kebenaran-kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an dengan memperhatikan alam semesta ciptaan-Nya.

Saya berpikir, sejak saya dilahirkan matahari, bulan, gunung, laut, udara, air, api, sudah ada. Fasilitas hidup ini saya gunakan setiap hari, tanpa tahu asal-usulnya dari mana. Teralu berat dan rumit untuk otak saya harus mencari tahu sendiri siapa yang menyediakan fasilitas ini semua. Beruntung ada firman Allah berisi informasi, pengetahuan, yang dibawa Nabi Muhammad, SAW sehingga saya bisa mengungkap dan menemukan jawaban-jawaban untuk membuktikan kebenaran. Wallahu’alam.  

Sunday, August 22, 2021

DUA JALAN MENUJU ALLAH

OLEH: MUHMMAD PLATO

Berjumpa dengan kawan-kawan lama di sekolah, menjadi ruang diskusi yang bukan lagi untuk mengenang masa-masa lalu di sekolah. Bertemu dengan kawan lama di sekolah untuk saling bertukar pikiran setelah sekian lama hidup umur bertambah dan jatah berkurang. Diksusi yang harus dibuka setiap bertemu kawan lama adalah menyangkut realitas hidup yang harus terkendali untuk selamat sampai tujuan.

Lain jalan hidup lain cerita, beruntunglah bagi orang-orang yang punya kebiasaan berpikir, membaca kenyataan-kenyataan hidup dan selalu mengajak berdialog dengan sesama. Tidak ada jalan baik dan buruk, karena semua orang ditempa dengan jalannya masing-masing untuk menemukan Tuhannya. Hidup ini dua jalan bukan jalan baik dan buruk menurut persepsi kita, tapi jalan pendek dan jalan panjang.

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Maka tidakkah sebaiknya  ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?. (Al Balad, 80:10-11)

Jalan pendek adalah jalan-jalan sempit ke sebelah kanan yang terjal namun cepat sampai tujuan. Jalan panjang adalah jalan-jalan lebar tapi penuh dengan hambatan hingga lama untuk sampai tujuan. Tujuan semua manusia adalah kembali kepada Tuhan Yang Esa.

“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (Al Insyiqaaq, 84:6).

Jadi tidak ada satupun manusia yang tidak akan kembali kepada Tuhannya. Apa pun yang dilakukan manusia, semuanya sedang bekerja keras berjalan menuju Tuhannya. Perbedaannya adalah ada yang bekerja keras menempuh jalan pendek menuju Tuhannya, ada yang bekerja keras menempuh jalan pajang menuju Tuhannya.

Orang-orang yang menempuh jalan pendek adalah mereka yang mengikuti segala bimbingan Tuhan melalui para Rasul dan kitab yang ditinggalkannya. Orang-orang yang menempuh jalan panjang adalah mereka yang membuat jalan sendiri, mereka memikirkannya, memetakannya, dan mereka merasa mampu menemukannya dengan kemampuan akal yang dimilikinya tanpa bantuan Tuhan.

Orang-orang yang menempuh jalan pendek dan terjal, mereka mampu merasakan kesenangan jiwa dalam kesempitan dan terbatas, setelah itu mereka akan sampai pada suatu tempat yang penuh kesenangan dan keleluasaan tanpa batas hingga akhirnya bertemu Tuhan. Bagi orang-orang yang menempuh jalan panjang mereka merasakan kesenangan dalam keleluasaan, setelah itu mereka akan menempuh jalan sukar yang penuh semak belukar yaitu suatu proses penyucian jiwa yang panjang, sebelum kembali kepada Tuhannya. Sementara itu, orang-orang yang mengambil jalan pendek sudah sampai pada suatu tempat menyenangkan dan penuh kenikmatan sambil menunggu kembali kepada Tuhannya.

Semua manusia diciptakan dari ruh Tuhan dan ruh itu akan kembali kepada Tuhan. Mereka yang melalui jalan pendek terjal dan mendaki akan cepat bertemu dengan Tuhannya, dan mereka yang menempuh jalan panjang akan lama bertemu dengan Tuhannya. Mereka yang memilih jalan panjang, setelah menikmati kesenangan mereka akan bertemu dengan kesulitan sebelum bertemu Tuhannya, dan mereka yang memilih jalan pendek setelah mendaki jalan yang terjal penuh kesulitan, akan bertemu kesenangan hinnga kembali kepada Tuhannya.

Kitab suci (Al-Qur’an) yang diturunkan pada Para Nabi isinya adalah kabar berita, yang menjelaskan bagaimana manusia-manusia berjalan pada kedua jalan yang disediakan Allah. Maka manusia diberi ruh atau kemampuan kreatif oleh Allah untuk memilih jalan mana yang hendak ditempuh, apakah jalan pendek atau jalan pandang. Dan orang-orang yang berakal sehat akan memilih jalan-jalan pendek yang mendaki dan terjal agar cepat sampai tujuan.

Lalu apakah jalan mendaki dan terjal itu? “melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Mereka adalah golongan kanan”. (Al Balad, 90: 13-18). Inilah jalan-jalan yang ditempuh oleh orang-orang berakal sehat. Wallahu’alam.

Sunday, August 8, 2021

ALLAH ADA DALAM KESADARAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kawan-kawan ada cerita menarik untuk disimak bagi siapa saya yang ingin dekat dengan Tuhan. Di media sosial banyak orang-orang baik saling membantu antar sesama. Saya suka sekali melihat mereka saling tolong menolong, dan hati ini terasa mengembang menyaksikannya. Saya melihat mereka yang berbuat baik, tidak melihat latar belakang agamanya, karena pakaiannya biasa-biasa saja tidak mencirikan seorang penganut agama tertentu. Dan saya juga tidak tahu apakah mereka membantu sesama manusia atas nama Tuhan, atau karena empati saja pada penderitaan orang lain atas dasar kemanusiaan.

Mungkin kawan-kawan berpikir, untuk berbuat baik, tidak perlu bawa-bawa Tuhan. Tapi Tuhan itu ada dan menciptakan kita, mengapa kita tidak boleh bawa-bawa Tuhan dalam kehidupan kita? Masalah ini dari masa ke masa, dari generasi ke generasi terus jadi perbincangan tidak ada ujungnya. Sampai akhir nanti hal ini jadi perbincangan antar sesama manusia.

Di media sosial saya tonton ada orang mati suri, menceritakan pengalamannya ditayangkan di stasiun televisi nasional. Bagi saya, orang yang punya pengetahuan dari kitab suci, cerita pengalaman orang mati suri itu sama dengan cerita isi kitab suci. Semua ceritanya seperti apa yang diceritakan dalam kitab suci, bahwa setiap orang akan diadili sesuai dengan perbuatannya di dunia. Teman setianya seseorang kelak adalah perbuatan-perbuatan baik yang pernah dilakukannya di dunia.

Pengetahuan ini membuat rasa takut di hati, apakah kelak amal-amal baik saya bisa menemani hidup saya di alam akhirat, atau amal baik saya kalah sama amal buruk yang pernah saya lakukan? Pengetahuan ini membuat saya sadar diri untuk mengimbangi setiap perbuatan buruk dengan perbuatan baik. Tindakan yang saya lakukan berdasar pada kesadaran bahwa setelah kematian akan ada kehidupan dan pengadilan berdasar pengetahuan awal yang saya miliki dari kitab suci. Tanggapan tentang pengalaman mati suri akan berbeda jika pengetahuan awal yang dimiliki bukan dari kitab suci seperti mitos, tradisi, atau sains.

Pengetahuan awal yang kita miliki menentukan Tuhan itu ada atau tidak ada. Anak-anak yang dikeluarganya tidak diajarkan tentang keberadaan Tuhan, dia tidak akan mengenal Tuhan. Jadi, pada dasarnya Tuhan itu ada dalam pengetahuan, kemudian kesadaran dan menjadi tindakan. Untuk membangun kesadaran perlu kegiatan berulang-ulang. Maka dari itu tindakan ibadah ritual rutin setiap hari salah satu dampakanya adalah menghadirkan kesadaran adanya Tuhan setiap hari. Dalam agama Islam untuk membangun kesadaran dilakukan ritual shalat lima waktu dan dhuha 12 rakaat. Kegiatan ini bisa jadi program pendidikan bagi anak-anak yang muslim.

Fenomena kehidupan dunia yang material memang terus menggiring kita jadi makhluk material murni. Di Amerika sebagai contoh negara maju, sejak tahun 1960an nilai agama mulai memudar. Tahun 1986, seorang Provesor di New York University, Paul Vitz, meluncurkan buku mengungkap bahwa potret agama secara perlahan hilang dari konteks sekolah. Dalam buku teks sekolah kata kata Tuhan diedit dan hilang. Kata-kata syukur dengan ungkapan “thank God” diubah dengan “thank Goodnes”. (Lickona, 2019, hlm. 66). Survey anak-anak di Amerika dengan latar belakang agama berbeda mengatakan bahwa sesuatu yang buruk sudah jelas tidak boleh dilakukan karena itu merugikan orang lain. Kesadaran tidak melakukan hal buruk tidak mereka hubungkan dengan ajaran agama yang mereka anut, tetapi lebih kepada alasan rasional kemanusiaan.

Selanjutnya, di Amerika ada upaya memasukkan kembali agama pada pelajaran budaya Amerika dan Sejarah. Hukum-hukum dasar moral yang universal dapat diajarkan di sekolah seperti berlaku adil dan peduli sama sesama, dapat diajarkan secara religius kepada masyarakat beragama. (Lickona, 2019, hlm. 69). Kita tidak mengikuti Amerika, tetapi kesadaran tentang keberadaan Tuhan sudah kembali digalakan dan dirasakan kebutuhannya oleh masyarakat di dunia.

Allah berwujud tapi tidak dapat dilihat, Dia berbicara tetapi kita tidak mendengarnya. Tuhan ada dalam kesadaran manusia. Jika kita berdo’a kepada Tuhan, maka hanya dengan kesadaran bahwa Tuhan mengabulkan doa kita. Untuk membangun kesadaran adanya Tuhan dibutuhkan pengetahuan (knowing), pembuktian (feeling), dan tindakan (action). Setelah mengetahui tidak mungkin memiliki perasaan jika tidak pernah membuktikan.

Tuhan ada dan menetapkan hukumnya bahwa setiap kebaikan akan berbalas kebaikan dan setiap perbuatan buruk akan berbalas keburukan. “Jika kamu berbuat baik  kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,” (Al Israa, 17:7).

Jika kita mengetahui ketentuan ini dari Tuhan, maka manusia harus membuktikan, bagaimana kebaikan-kebaikan yang kita lakukan berbalas dengan kebaikan. Untuk membuktikannya dibutuhkan upaya pembuktian dengan melakukannya. Saya menyarankan untuk proses pembuktian melakukan eksperimen kebaikan. Dilakukan secara berjangka tiga bulan atau enam bulan. Setiap kebaikan dicatat dan dirasasakan dampaknya, kemudian dicatat dengan mencantumkan jam, hari, dan tanggal. Pengalaman-pengalaman dari hasil pembuktian akan membangun kesadaran kita bahwa Tuhan itu ada. Metode ini bisa diajarkan pada anak-anak sebagai pendidikan karakter dan penerapan nilai-nilai agama di rumah atau di keluaga. Allah ada dalam kesadaran. Selamat mencoba. Wallahu’alam. 

Friday, June 25, 2021

BUKTI ALLAH TIDAK TIDUR

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus; tidak mengantuk dan tidak tidur.” (Al Baqarah, 2:255). “Allah, tidak ada Tuhan  melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya”. (Ali Imran, 3:2).

Berangkat dari informasi Al-Qur’an di atas, kita buktikan bahwa Allah mengurus manusia secara terus menerus baik dikala kita tidur maupun bangun, untuk orang tidak percaya Tuhan maupun percaya. Mau kemana manusia? Seluruh semesta alam berdzikir taat kepada Allah, seluruh semesta alam berkehendak atas nama Allah. Tidak ada satu kedip pun manusia bisa lepas dari ikatan Allah.

Benarkah Allah terus menerus mengurus? Makanan yang kita makan, dipilah menjadi berbagai nutrisi kemudian diedarkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Pada saat tidur, dalam tubuh ada petugas memperbaiki sel-sel yang rusak. Jantung, sekalipun kita dalam keadaan tidur, tetap bekerja memompa darah agar mengalir keseluruh bagian tubuh sesuai kebutuhan. Jika seluruh kerja organ tubuh bisa bekerja karena energi listrik, lalu sebelah mana sumber listrik itu ada dalam tubuh kita? Sirkuit robot begitu rumit didesain agar bisa merespon gerakan dan suara, tidak bisa mengimbangi gerakan reponsip seperti manusia ketika kulitnya terbakar.

Sel-sel ukuran mikro dalam tubuh manusia semua berfungsi megikuti kehendak Allah. Allah menciptakan makhluk-makluk super kecil dengan tugas mengikuti kehendak Allah sehingga gerakan-gerakan manusia sangat lentur. Untuk memproses makanan yang masuk dari mulut sampai keluar dari anus, banyak makhluk-makhluk superkecil terlibat untuk mengolah dan mengeluarkannya kembali. Aktivitas makhluk-makhuk kecil itu tanpa henti mengikuti kehendak Allah untuk mengurus manusia.

“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. (At Takwir, 81:29).    

Kesombongan manusia jika mengaku telah menyebuhkan orang-orang sakit. Kesombongan manusia jika mengaku telah mensejahterakan masyarakat. Kesombongan manusia jika mengaku telah membuat murid-muridnya sukses. Kesombongan manusia jika mengaku telah menciptakan teknologi. Kesombongan manusia jika mengaku telah membantu orang-orang miskin. Tidak sebutir debu pun manusia bisa berpikir, mengembangkan ilmu, menciptakan teknologi dengan kemampuannya sendiri.

Di saat manusia tidur, jantung tetap berdetak, paru-paru tetap bernafas, pikiran tetap bekerja, matahari terus beredar, bumi terus berputar, setelah malam kembali datang siang. Matahari tidak pernah berhenti hanya sekedar untuk isi bahan bakar, bumi tidak pernah istirahat untuk melepas lelah. Semua berfungsi atas kehendak Allah, maka Allah tidak tidur mengurus dan melayani manusia sepanjang masa. Kita lahir dengan fasilitas yang sudah tersedia. Terlalu banyak fasilitas gratis yang Allah berikan pada manusia.

Apapun yang manusia usahakan dan kerjakan semua berada di atas kehendak Allah. Setiap usaha dan kerja manusia berdasarkan fasilitas yang telah Allah sediakan. Manusia hanya menggunakan segala sesuatu yang telah Allah sediakan. Jika manusia bisa mengubah keadaan, maka semua yang diusahakan manusia bisa dilakukan, namun Allah menetapkan kegagalan dan kesuksesan. Allah memerintahkan kepada manusia untuk mengubah keadaan, namun hasilnya sudah Allah tetapkan yaitu kegagalan dan kesuksesan. Allah menghendaki kepada siapa gagal dan sukses. Manusia hanya bisa berharap kepada Allah, semoga sukses selalu datang di masa mendatang. Harapan manusia tidak pernah putus karena Allah tidak pernah tidur, terus mendengar permohonan, terus mengurus makhluk,  dan berjanji mengabulkan semua harapan dengan catatan tetap bersabar.  Bagi orang-orang sabar Allah janjikan keberutungan besar tanpa batas.

Bagi orang-orang yang mengetahui dan sadar bahwa Allah tidak pernah tidur mengurus manusia, tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak ingat, taat, dan bersyukur pada Allah setiap saat. Begitu besar jasa Allah kepada manusia karena terus menerus mengurus manusia dan tidak pernah tidur. Untuk itu kemanapun manusia pergi, Allah selalu dekat mengurus segala kebutuhan semua manusia. “maka kemanakah kamu akan pergi?” (At Takwir, 81:26).  Allah selalu mengurus kita semua. Wallahu’alam.  

BERTAUHID PADA MANUSIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Perbedaan agama Islam dengan agama-agama lain adalah hanya di monotheis. Ilmu tauhid adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia agar tidak terjebak pada ketaatan, ketundukan, kepada selain Allah. Segala tindak tanduknya harus selalu mengatasnamakan Tuhan Yang Esa. Ketauhidan seseorang dinyatakan batal jika niat hati dan pikirannya bermotif tidak kepada Tuhan Yang Esa.

Jika seseorang bertindak atas dasar instruksi dukun maka ketauhidannya kepada dukun. Jika seseorang bertindak atas nama gurunya, maka ketauhidannya kepada guru. Jika seseorang bertindak atas nama teori yang ditemukan seseorang, maka ketauhidannya kepada orang si penemu teori. Berkiblat pada satu guru mursid dan menaatinya dalam segala hal, maka ketauhidannya kepada guru mursid. Menetapkan diri sebagai pengikut aliran menjadikan alirannya sebagai satu-satunya yang dijadikan patokan maka dia bertauhid pada aliran. Lalu memutuskan untuk tidak mengikuti pendapat guru, golongan, dan aliran manapun karena kemampuan yang dimilikinya, maka dia bertauhid pada dirinya.

Ketauhidan yang lurus hanya kepada Allah semata, dengan mengakui bahwa segala kehendak yang kita lakukan berada di atas kehendak  Allah swt. "bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki  kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (A Takwir, 81:28-29). Ketauhidan yang lurus apa bila seluruh tindakan selalu ingat berada di atas kehendak Allah.     

Dalam obrolan sehari-hari banyak sekali tindakan-tindakan yang tidak mengatasnamakan Allah. Seseorang untuk mempersiapkan pesta pernikahan menghabiskan miliaran rupiah, alasan melakukan tindakan tersebut karena status sosial, tradisi masyarakat, dan demi pandangan masyarakat. Maka tindakan semacam itu ketauhidannya kepada status sosial, tradisi, dan opini masyarakat. Ketika bekerja untuk mencari uang maka ketauhidannya kepada uang, dst. Penyebab kehancuran dan kebodohan manusia disebabkan oleh ketauhidan pada selain Allah. Ilmu tauhid bisa dipelajari dengan ilmu logika. Logika mampu memperivikasi ketauhidan seseorang sampai tingkat nano, hingga kita dapat meluruskan dan menjaga ketauhidan murni kepada Allah.

Al-Qur’an adalah petunjuk bagaimana berlogika (berpikir) agar manusia mampu menemukan ketauhidan murni kepada Allah sekalipun dalam kesibukan aktivitas sehari-hari. Keotentikan Al-Qur’an sebagai kitab suci dari Allah, dapat diuji bukan saja dari historis kenabian Nabi Muhammad SAW, tapi dari kebenaran-kebenaran informasi yang terkandung di dalamnya. Namun demikian substansi kebenaran kitab suci Al-Qur'an bukan dari pembuktian sejarah, atau saksi semata, tetapi kebenaran kandungan ayat-ayat kitab suci dengan pengujian sesuai kondisi zaman. Keotentikan Al-Qur’an dapat diuji bahwa orang-orang yang benar-benar membaca dan memahami Al-Qur’an kemurnian ketauhidannya dapat terjaga.

Kitab-kitab suci selain Al-Qur’an sudah banyak campur tangan manusia Kitab suci selain Al-Qur’an layaknya seperti karya akademik seorang ilmuwan. Jika kitab yang dianggap suci namun di dalamnya sudah ada campur tangan manusia, maka umat yang meyakini kitab suci tersebut sedang tidak bertauhid kepada Tuhan Yang Esa, melainkan kepada manusia-manusia penulis dan penafsir kitab suci tersebut. Fenomena ini dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At Taubah, 9:31)

Al-Qur’an kitab otentik berbahasa Arab, penuturnya masih ada dan sejak zaman kekhalifahan empat sahabat Nabi, ayat ayat A-Qur’an dikumpulkan dari sahabat-sahabat Nabi penghafal Al-Qur’an. Hingga saat ini ayat-ayat Al-Qur’an terus teruji kebenarannya. Abad informasi semakin mengungkap kebenaran kitab suci Al-Qur’an dengan publikasi kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an melalui pengujian sains.

Berkaitan dengan fenomena perpindahan agama atau keluar dari agama Islam (murtad), sejak zaman Nabi Muhammad SAW hal ini sudah terjadi. Bagi kami yang memahami ketauhidan kepada Allah, tidak ada sedikitpun kerugian bagi mereka-mereka yang memutuskan keluar dari agama Islam. Namun rasanya sedikit geli dan ingin tertawa, melihat orang-orang yang keluar dari agama Islam lalu berapi-api membela agama barunya dan menyerang ajaran Islam. Bagi kami, dia yang keluar dari agama Islam tidak sedang berurusan dengan umat Islam, dia sedang berurusan dengan Allah yang menciptakannya. Jika manusia benar-benar memahami Al-Qur’an, tidak sedikitpun orang-orang yang murtad dari agama Islam akan merugikan umat Islam, karena dia sedang berperang melawan Allah penciptanya bukan dengan umatnya.

Jadi dapat dipastikan umat beragama selain Islam kebanyakan dia sedang bertauhid kepada manusia penafsir kitab sucinya bukan kepada Tuhan Yang Esa. Kitab suci yang mereka baca bukan otentik dari utusan tetapi hasil kompilasi dari perkataan-perkataan yang diduga bahwa perkataan itu dari Tuhan. Mereka tidak sedang membaca firman Tuhan, mereka sedang menyampaikan karya pemikiran manusia, sebagaimana Allah mengabarkan.

Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putra Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (At Taubah, 9:30).

Mereka yang beriman kepada ucapan-ucapan orang terdahulu, tidak sedang beriman kepada Allah Tuhan Yang Esa, tapi beriman kepada manusia. Pendidikan kita cenderung menggiring manusia taat kepada manusia. Umat Islam yang beriman kepada Al-Qur’an dia beriman kepada Tuhan Yang Esa, karena Al-Qur’an kitab suci otentik lisannya Tuhan Yang Esa Allah swt. Wallahu ‘alam. 

Wednesday, May 5, 2021

FITNAH PADA AGAMA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Pesan Nabi Muhammad saw, agama itu awalnya asing dan akan kembali menjadi asing. Terorisme bukan untuk menyerang sekelompok agama, tetapi upaya sekelompok orang untuk mengkerdilkan peran agama dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Pertarungan ini sudah terjadi sejak dahulu antara orang orang pola pikir materialis dengan religius.

Agama adalah ajaran moral agar manusia bisa hidup berdampingan dengan damai dan sejahtera. Damai dan sejahtera adalah puncak yang ingin dicapai oleh orang-orang beragama. Peran agama menjadi terasing dari kehidupan dengan pola-pola pikir sekuler yang positivistik. Agama menjadi symbol-simbol dan ritual-ritual. Kultus individu, gelar, penampilan, bangunan, seolah menjadi tampilan baku dari ciri orang beragama. Agama telah kehilangan nalar karena nalar dianggap k kekafiran.

Nietzsche, (1844-1900) telah mengemukakan pemikirannya bahwa kelak manusia akan membunuh Tuhannya. Seorang mahasiswa dari fakultas hukum yang giat belajar filsafat menemukan bahwa Nietzsche tidak mengajarkan orang menjadi Atheis. Dia membantu menjelaskan bahwa dengan menjamurnya pemikiran-pemikiran ilmiah materialistik, suatu saat akan sampai pada titik bahwa sebagian besar manusia sudah tidak lagi menganggap Tuhan ada. Sekalipun hidup, Tuhan akan terpenjara di masjid-masjid, biara-biara, dan sinagog. Tuhan tidak ada di lembaga poitik, ekonomi, sosial, dan budaya. Pada akhirnya Tuhan tidak akan lagi hadir di rumah dan dunia pendidikan. Hubungan antar manusia menjadi transaksional karena berharap imbalan-imbalan material.

Penjelasan Nietzche bisa dipandang sebagai sebuah gambaran kekhawatiran melihat pesatnya pola-pola pikir manusia yang semakin materialistik. Pola pikir material yang dikampanyekan mealui sains dan teknologi informasi berhasil menjadi world view berpikir sebagian besar manusia. Agama yang mengajarkan keikhlasan, kejujuran, kedamaian antar umat manusia, difitnah sebagai penghambat kemajuan dan biang perpecahan.

Padahal menurut Ibn Khaldun dan Maududi (2000), “agama memiliki peranan besar dalam membentuk dan menegakkan sejarah kehidupan bangsa yang berperadaban”. Karen Amstrong mengatakan bahwa sejarah dunia semuanya tentang sejarah Tuhan sebagai pemilik alam semesta.

Penganut agama pun terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling berebut kebenaran. Pandangan-pandangan agamanya terjerumus pada keegoisan yang haus kekuasaan, dan kehormatan. Sumber ajaran agama bergeser pada penafsir-penafsir agama yang saling bergesekkan karena ingin mendapat pengakuan sebagai pemilik kebenaran. Ayat-ayat Tuhan digunakan untuk melegitimasi kekuasan dan kehormatannya.

Agama harus dikembalikan pada fungsi sesungguhnya. Agama diajarkan untuk memberikan pedoman atau petunjuk arah bagi kehidupan di dunia secara aplikatif bukan hanya sebatas ritual-ritual, simbol-simbol. (Agustian, 2002:xliv). Nalar agama harus kembali kepada ajaran sesungguhnya yang bersifat universal untuk memberi petunjuk pada umat manusia agar hidup damai dan sejahtera di muka bumi sebagaimana diajarkan pada para utusan-Nya. Agama adalah pembangun peradaban umat manusia.  

Kehadiran nalar dalam memahami agama sangat dibutuhkan sebagaimana Tuhan mengancam kepada mereka yang tidak menggunakan nalar dalam beragama. Nalar materialis yang cenderung telah menguasai nalar manusia, membutuhkan nalar religius bersumber pada pengetahuan kitab suci ajaran agama yang mengajarkan keseimbangan dunia dan akhirat dalam berpikir. Agama mengajarkan bagaimana manusia bisa hidup damai sejahtera di dunia dan diakhirat. Ritual-ritual ajaran agama apa bila dipahami dengan nalar sebenarnya mengandung pesan simbol-simbol bagaimana keteraturan hidup manusia di dunia yang kelak menjadi sebab kesuksesan hidup di akhirat.

Dunia dan akhirat bukan ruang dan waktu terpisah, melainkan suatu kontinum berkelanjutan menuju cita-cita hidup yang luhur menuju kembali kepada Tuhan. Taufik Pasiaq mengatakan ada Tuhan yang maha kreatif dalam setiap otak manusia. Tuhan selalu hadir untuk mensejahterakan manusia di manapun berada. Manusia Pancasila adalah manusia yang di dalam otaknya ada Tuhan sebagai pengendali hidup di dunia. Manusia Pancasila adalah manusia berakal Tuhan yang mempersatukan umat manusia dalam damai, dan selalu tampil menjadi manusia-manusia sejahtera di manapun berada. Wallahu’alam.  

Sunday, April 18, 2021

AGAMA ILMU BERPIKIR

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Agama pada era disrupsi ini sering jadi perbincangan, bahkan perbincangannya kontra produktif, seolah-olah agama menjadi faktor penghambat perubahan dan persatuan bangsa. Pandangan ini sangat tendensius bukan datang dari kaum intelektual kelompok manapun, pandangan ini datang dari mereka yang pikirannya sangat dipengaruhi oleh kepentingan pribadi dan golongan untuk suatu kepentingan.

Jika manusia terdiri dari ruh dan jasad, maka ruh adalah inti dari manusia. Berpikir adalah bagian dari aktivitas yang dilakukan ruh. Pengetahuan adalah makanan ruh yang akan diolah dengan aktivitas berpikir dan menghasilkan kesimpulan demi kesimpulan sebagai dasar manusia dalam bertindak, berprilaku dan berkepribadian.

Agama berkaitan dengan kecerdasan intelektual seseorang. Keberagamaan seseorang akan berbanding lurus dengan kecerdasan intelektualnya. Edward Said tidak membedakan peran alim ulama dengan para intelektual, mereka sama-sama memiliki tugas menyebarkan ajaran-ajaran damai dan kebaikan dari Tuhan atau pewaris para Nabi.

Nabi Muhammad saw dalam hadis menjelaskan bahwa tujuan dari agama adalah memperbaiki akhak (kepribadian atau karakter) seseorang. Pembentukkan akhlak dalam ilmu pendidikan meliputi tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Untuk itu agama dalam kacamata pendidikan adalah ilmu yang bertujuan membentuk pola pikir, perasaan, dan prilaku yang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah. Ritual dan kepribadian yang ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari adalah kegiatan psikomotor sebagai pengikat pikiran dan perasaan.

Pembentuk perasaan dan psikomotor adalah kegiatan pola pikir yang ada di wilayah kognitif.  Berpikir adalah pekerjaan ruh sebagai inti dari kehidupan manusia. Ruh adalah daya berpikir kreatif yang ditiupkan langsung oleh Tuhan sebagai bagian unsur inti dalam diri manusia. Mahmud Thoha (1994) mengatakan bahwa ruh adalah daya entrepreneurship yang dimiliki oleh setiap manusia.  Pendidikan berkaitan erat dengan usaha sadar untuk menjadikan ruh manusia berpikir sehat sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para Nabi kepada umat manusia.

Perbedaan pola pikir terletak pada sumber pengetahuan, dominasi, dan egoisme. Perbedaan pengetahuan membuat perbedaan persepsi. Dominisasi dan propaganda, membangun persepsi publik hingga jadi pola pikir bersama. Egoisme membangun persepsi berdasar pada kepentingan-kepentingan pribadi atau golongan. Sumber pengetahuan agama dari kitab suci Al-Qur’an  membebaskan manusia dari keterikatan manusia pada alam, dominasi tradisi nenek moyang, dan sifat-sifat berlebihan mementingkan diri sendiri yang dilakukan manusia.

Nabi Muhammad saw pertama kali berdakwah di Mekkah adalah mengajarkan berpikir Tauhid yaitu mengesakan Allah sebagai dzat yang tidak berwujud dan tidak dapat dipersamakan dengan manusia. Cara berpikir seperti ini membutuhkan kecerdasan nalar dengan sumber pengetahuan dari Al-Qur’an. Sebagaimana Allah jelaskan di dalam Al-Qur’an orang-orang beriman melaksanakan shalat dan berbuat baik pada sesama sesungguhnya mereka yang memiiki pikiran sehat.

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Ali Imran, 3:7)

Al-Qur’an adalah sumber pengetahuan sebagai pijakan berpikir. Berpikir kepada selain sumber dari Al-Qur’an seperti berpijak pada batu mengambang. Diihatnya batu tetapi ketika dipijak akan tenggelam. Sumber pengetahuan dan berpikir adalah permasalahan manusia dalam berpikir. Manusia-manusia yang tidak mengenal Tuhan bukan karena tidak berpikir, tetapi bermasalah di sumber pengetahuan.

Hanya agama yang membawa sumber pengetahuan yang otentik yang layak dijadikan agama. Ajaran agama yang membawa kabar pengetahuan dari karangan manusia adalah penyebab kekacauan dalam berpikir. Manusia-manusia yang berpikir pada sumber dari Al-Qur’an tidak akan mengklaim kebenaran tetapi hanya menyampaikan kebenaran. Bagi orang-orang yang berpikir bersumber pada Al-Qur’an perbedaan akan jadi kenyataan yang tidak saling membahayakan. Kehidupan akan jadi harmoni dan menyejukkan hati. Hati damai hadir dari pikiran sehat yang dipandu dari pengetahuan agama yaitu Al-Qur’an. Wallahu’alam. 

Sunday, December 13, 2020

AMAL YANG TIDAK TERLIHAT

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Manusia tidak bisa melihat amal baik manusia lain yang sesungguhnya. Tim penilai amal manusia adalah Malaikat yang telah ditugasi Allah. Malaikat mencatat kebaikan ketika amal baik masih ada dalam niat, dan mencatat amal buruk ketika sudah dilakukan.

Mengapa manusia tidak bisa 100 persen menilai amal manusia lain? Pada dasarnya amal manusia terbagi menjadi dua yaitu amal terlihat dan tidak terlihat.

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Hadiid, 57:3).

Atas dasar itulah prasangka yang harus kita miliki adalah prasangka baik. Jika kita selalu berprasangka baik maka malaikat selalu mencatat kebaikan untuk kita. Sekali lagi manusia tidak bisa menilai sepenuhnya pribadi seseorang karena ada amal-amal yang tidak terlihat yaitu amal batin atau amal laku diluar penglihatan manusia.

Kita sering terjebak oleh penglihatan mata. Mengukur atau menilai pribadi seseorang berdasarkan penglihatan dan pendengaran. Sementara padangan mata dan pendengaran sangat terbatas. Untuk itu Al-Qur’an adalah petunjuk dari Allah agar manusia terjaga dari keburukan prilaku akibat keterbatasan penglihatan mata dan pendengaran.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Albaqarah, 2:216).  

Bisa jadi kita melihat prilaku-prilaku buruk tentang seseorang, tetapi sesungguhnya orang tersebut memiliki prilaku baik yang tidak terlihat oleh pandangan mata kita, yaitu prilaku batin maupun prilaku di luar penglihatan dan pendengaran kita. Mungkin kita melihat prilaku seseorang buruk tetapi rezekinya lebih baik dari kita. Bisa jadi kita melihat dan mendengar prilaku seseorang buruk, tetapi dia terpilih menjadi pemimpin umat. Itulah tanda bahwa penglihatan dan pendengaran kita terbatas. Padahal Allah memberi rezeki dan kedudukan pada seseorang pasti dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya.

Prilaku mendasar yang cenderung manusia miliki adalah prasangka buruk. Manusia adalah makhluk pencari makna dibalik setiap kejadian. Kita selalu terjebak memberi prasangka buruk terhadap segala kejadian. Normalnya manusia selalu memberi prasangka baik yang terukur baik berdasarkan perasaannya akibat dari pengetahuan yang dilihat dan didengarnya. Juga memberi prasangka buruk terhadap kejadian atas dasar perasaan akibat makna dari sebuah kejadian yang dilihat dan didengarnya.

Allah mengajarkan bahwa setiap prasangka memiliki dua kemungkinan yaitu benar dan salah. Sebagian besar prasangka manusia adalah tidak benar. Untuk itu Allah membimbing perasaan dan pikiran kita untuk selalu berprasangka baik agar manusia terhindar dari prilaku-prilaku buruk. Ketika kita berprasangka baik Allah mencatat dan membimbing kita dijalan baik, sebaliknya ketika kita berprasangka buruk, kita telah ada pada resiko untuk berprilaku buruk.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Al Hujuraat, 49:12).

Apa yang diketahui manusia lebih sedikit dari yang diketahuinya. Bumi yang ukurannya tidak setitik belum dapat diketahui seluruh sudutnya, apalagi dengan alam semesta yang terdiri dari tujuh lapis langit dan tujuh matahari. Untuk itu kita tidak bisa menilai prilaku seseorang yang hanya kita lihat pada saat kita melihatnya. Banyak prilaku-prilaku seseorang yang luput dari penglihatan kita apalagi dengan prilaku batin-batin seseorang.

Prangsangka yang dibimbing Allah adalah setiap prilaku buruk dan baik yang kita lihat pada seseorang adalah kebaikan dari Allah kepada seseorang. Keburukan adalah pengingat agar manusia selalu berbuat baik, bagi pelaku keburukan maupun bagi yang melihatnya. Berprasangka baik sesungguhnya amal baik yang harus selalu diupayakan setiap manusia, sebab prasangka adalah pangkal dari prilaku baik maupun buruk.

Demikian sebuah pelajaran untuk kita agar selalu berprasangka baik, karena amal-amal baik seseorang ada yang tidak terlihat. Demikian juga kita harus berpasangka baik pada setiap kejadian karena kita tidak tahu kebaikan apa yang akan terjadi dibalik kejadian itu. Amannya agar prilaku kita dijaga selalu baik, Allah memerintahkan banyak-banyaklah berprasangka baik dan berlindunglah kepada Allah agar selalu terlindung dari segala hal yang buruk. Prasangka adalah amal tak terlihat, kecil tapi bisa membawa seluruh kehidupan menjadi baik. Wallahu’alam. 

Sunday, November 8, 2020

HIDAYAH ADALAH GREAT KNOWLEDGE

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Salah satu kegagalan kita dalam beragama adalah tidak pernah berani bertanya tentang hal-hal sederhana, apakah arti shalat, apakah arti hidayah, apakah arti safaat, apakah arti makrifat, dan lain sebagainya. Pertanyaan pertanyaan sederhana di atas sebenarnya pertanyaan mendalam dan untuk menjawabnya butuh pengetahuan dan pemikiran mendalam agar si penanya memahami pengertiannya sampai pada tataran operasional.

Pemahaman agama yang tekstual dibutuhkan untuk mengembalikan pemahaman kepada arti teks aslinya. Namun untuk kehidupan sosial kita butuh pemahaman-pemahaman rasional dan empiris agar ajaran agama yang kita yakini benar-benar membumi dan benar-benar bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat.

Dilihat dari kajian filsafat, masyarakat kita sebagian besar pemahaman agamanya bersifat mistik. Dunia mistik sifatnya acak untuk itu jarang menjelaskan konsep-konsep yang kita kenal dalam agama didefinisikan secara teknis. Hidayah dari sudut padang misitik memang sulit didefinisikan karena penyebabnya tidak dapat diketahui secara pasti, sehingga hidayah sering dipahami sebagai kejadian ghaib sebagai kehendak Allah kepada orang yang dikehendaki.

Pemahaman ini menjadi kesulitan bagi orang-orang yang ingin menemukan hidayah dari Allah. Jujur saja, penulis juga tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika orang ingin mendapatkan hidayah. Untuk itu kita harus kembali melihat petunjuk-Nya, sebagaimana dikabarkan Allah di dalam Al-Qur’an.

Dari sudut pandang sejarah, Nabi Muhammad saw menerima wahyu, setelah melakukan bertahun-tahun perenungan dengan mengambil tempat di Gua Hira. “Mendekati usia 40 tahun Nabi Muhammad saw mulai pergi berkhilwat dan beritikaf di Gua Hira, yaitu sutau bukit yang jauhnya kira-kira tiga mil dari kota Mekah. Muhammad berkhilwat pada setiap tahun sebulan lamanya. Enam bulan sebelum diangkat menjadi Rasul, Muhammad selalu bermimpi maka apa yang diimpikannya tepat terjadi sebagaimana dilihat dalam mimpinya.” (Ash Shiddieqy, 1996, hlm. 19).

Puncaknya Nabi Muhammad saw menerima wahyu dengan kata kunci “Iqra=bacalah”. Bisa kita renungkan dari jumlah ayat Al-Qur’an 6236, wahyu dari Allah itu turun diawali dengan kata bacalah! Sebagai sebuah kata perintah!!! Penulis merenungi perintah membaca bukan sebagai kata-kata sederhana tetapi sebuah perintah besar, mendasar, dan wajib bagi setiap umat manusia. Perintah membaca adalah fassword (kunci) bagi siapa saja yang ingin mendapat einligten. Arti einlighten dari kamus Oxford, give (someone) greater knowledge and understanding about a subject or situation”. Arti lainnya adalah “give (someone) spiritual knowledge or insight”.

Kata iqra adalah greater knowledge atau spiritual knowledge dari Tuhan. jadi Iqra adalah sebuah pengetahuan besar atau pengetahuan spritiual sebagai perintah kepada manusia untuk berpengetahuan agar manusia dapat menemukan greater atau spiritual knowledge.

Dari pemahaman ini hidayah adalah “pengetahuan besar” yang membuat seseorang mendapat einlighten (pencerahan). Untuk itu mereka-mereka yang telah mendapat hidayah adalah mereka yang diberi pengetahuan besar oleh Allah, dan pengetahuan itu menjadi kunci pengubah seluruh pola pikirnya. Maka untuk mendapatkan hidayah, perintah-Nya adalah bacalah, galilah pengetahuan dengan membaca seluruh makhluk dan kejadian yang terjadi di muka bumi ini sebagai ciptaan Tuhan YME.

Sejarah membuktikan, sangat tidak mungkin sebuah bangsa akan menjadi bangsa berperadaban tinggi jika membaca tidak menjadi budaya atau karakter dasar dari masyarakatnya. Bangsa-bangsa besar didirikan oleh orang-orang besar yang tercerahkan karena kebiasaannya membaca.

Hidayah adalah greater knowledge yang didapat seseorang karena ketekunan dan kegigihannya dalam membaca. Jadi kunci untuk mendapat hidayah caranya adalah menggali dan terus menambah pengetahuan dengan membaca seluruh makhluk dan kejadian alam dengan meyakininya bahwa membaca adalah perintah Tuhan. Wallahu’alam.

Friday, October 30, 2020

SHALAT RITUAL DAN FAKTUAL

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Shalat bagi muslim adalah perintah ibadah pokok yang tidak boleh ditinggalkan setiap hari. “Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya. Apabila shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya buruk maka dia kecewa dan merugi. (HR. An-Nasaa'i dan Tirmidzi). Dalam kisah Kerasulan Nabi Muhammad saw, shalat adalah perintah langsung dari Allah ketika Nabi mi’raj. Shalat ritual dicontohkan langsung oleh Rasulullah dengan gerakan berdiri, ruku dan sujud disertai bacaan doa sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw.

Jika kita pakai hubungan konsep dan analisa hadis-hadis, shalat memiliki dua dimensi, yaitu ritual dan faktual.  Idenya bisa ditemukan dari Al-Qur’an, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya SHALAT itu MENCEGAH dari KEJI DAN MUNGKAR. Dan sesungguhnya MENGINGAT ALLAH adalah LEBIH BESAR. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Ankabuut, 29:45).

Berdasarkan ayat di atas pengertian shalat sudah jelas. Mengapa Allah perintahkan shalat, karena shalat mencegah prilaku keji dan mungkar. Jika kita lihat fakta kehidupan Nabi Muhammad Saw, shalat adalah tindakan ritual dan dicerminkan dalam prilaku Nabi Muhammad saw yang selalu beramal baik. Jadi antara shalat dan amal baik menjadi dua sisi dari satu mata uang. Pada kontek ini saya tafsirkan bahwa shalat memiliki dua sisi yaitu kegiatan ritual dan faktual. Shalat ritual contohnya sering kita lakukan lima kali sehari, shalat dhuha, tahajud, dan shalat sunah lainnya. Secara faktual shalat berbentuk tindakan-tindakan konkrit seperti zakat, sedekah, dan seluruh perbuatan baik yang membawa manfaat bagi kesejahteraan manusia dan penghuni bumi.

Shalat ritual dan faktual tidak bisa dipisahkan karena ibarat dua sisi dari satu mata uang. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan ada orang-orang yang lalai dari shalat, yaitu mereka yang tidak memberi makan anak yatim dan orang miskin, ria dan enggan membantu dengan barang-barang berguna. “(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria.” (Al Maa’uun, 107:6). Dikatakan bahwa ada orang-orang yang shalatnya tidak berkualitas karena secara faktual prilakunya tidak memberi manfaat pada orang banyak.

Selama ini pengertian shalat yang memiliki dua dimensi tereduksi menjadi satu dimensi yaitu ritual. Reduksi pemahaman masyarakat terhadap shalat menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan kita dalam mengelola keluarga, sekolah, masyarakat, organisasi, dan negara. Terjadilah suatu paradok bahwa di negara kita yang religius rajin ritual shalat, tetapi masyarakatnya tidak hidup tertib dan kurang menghargai kebersihan lingkungan artinya tidak shalat secara faktual. Sebaliknya di negara-negara maju lingkungan terlihat bersih dan tertib mereka shalat secara faktual, tetapi mereka tidak banyak mengenal ritual shalat.  

Sebenarnya Islam agama sempurna yang tidak menyuruh umatnya meninggalkan kehidupan dunia. Allah memerintahkan untuk menjaga keseimbangan antara hidup di dunia dan akhirat. Visi kehidupan akhirat harus ada dalam setiap misi hidup di dunia. Visi hidup sejahtera di akhirat harus diwujudkan dengan bekerja keras mengelola kehidupan dunia dengan sebaik-baiknya sebagai shalat faktual selain mendirikan shalat ritual.

Idealnya kehidupan umat Islam jika shalat ritual dan faktualnya berjalan seiringan, seperti menggabungkan antara peradaban Barat dan Timur. Ajaran Islam yaitu shalat jika dipahami memiliki dua dimensi yaitu ritual dan faktual tidak terpisahkan, dimanapun Islam berada akan membawa peradaban tinggi dan kesejahteraan bagi umat manusia.

Shalat ritual berguna untuk membangun harapan dan optimisme ketika kita menghadapi masalah. Shalat faktual seperti mengembangkan ilmu alam, sosial, dan teknologi, bekerja, dan berdagang, menjadi usaha fisik manusia sesuai dengan keyakinan pada Tuhan YME. Wallahu’alam. 

Friday, October 23, 2020

SHALAT ADALAH MUKJIZAT

 OLEH: MUHAMMAD PLATO

Semua yang dikabarkan Al-Qur’an memiliki bukti nyata, hanya saja karena keterbatasan pengetahuan manusia, ada hal-hal yang dikabarkan di dalam Al-Qur’an belum bisa dibuktikan oleh manusia. Bukan kabar dari Al-Qur’an yang tidak punya bukti tetapi keterbatasan manusia dalam membuktikannya. Keterbatasan manusia terletak pada kualitas berpikir akalnya. Manusia-manusia berakal rendah, dan sombong, merasa pemilik kebenaran, tidak akan mempu mengungkap bukti-bukti kebenaran informasi dari Al-Qur’an.

Bagi yang membatasi kemampuan berpikir, mukjizat hanya bisa dialami oleh para Nabi dan Rasul. Padahal para Nabi dan Rasul adalah manusia seperti manusia pada umumnya. Para Nabi dan Rasul mereka merasa lapar, haus, sakit, sedih, gembira, takut, dan marah. Namun keyakinan dan kedekatannya dengan Allah para Nabi dan Rasul berhasil mengendalikan nafsu-nafsu destruktifnya menjadi manusia-manusia berjiwa tenang, lemah lembut dan layak menjadi teladan bagi manusia. Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menjadi contoh teladan bagi manusia. Dengan demikian jika manusia mengikuti jejak para Nabi dan Rasul maka tidak mustahil manusia-manusia itu akan bertemu dengan mukjizat-mukjizat seperti yang dialami oleh para Nabi dan Rasul.

Bagaimana manusia agar bisa menemukan mukjizat-mukjizat hidup yang dijanjikan Allah? Kuncinya adalah ikuti jejak-jejak hidup para Nabi dan Rasul sebagaimana diperintahkan oleh Allah. Siapapun manusianya jika tidak  mau melakukan apa yang diperintahkan Allah, dia tidak akan mengalami, dan membuktikan adanya mukjizat dari Allah.

Nabi Musa tidak akan bisa membuktikan tongkatnya jadi ular jika Nabi Musa tidak melemparkan tongktatnya sebagaiman diperintahkan Allah. Nabi Musa juga tidak akan bisa membelah laut jika tidak memukulkan tongkatnya ke laut sebagaimana diperintahkan Allah.

“Dan kami wahyukan kepada Musa: "Lemparkanlah tongkatmu!" Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.” (Al ‘Araaf, 7:117).

Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (Asy Syu’araa, 26:63).

Shalat adalah perintah Allah langsung kepada Nabi Muhammad saw, maka siapapun orangnya tidak akan bisa membuktikan kebenaran dan mukjizat shalat jika tidak mau melakukannya. Jadi kunci agar manusia bisa membuktikan mukjizat-mukjizat dari Allah manusia harus memikirkan dan melakukan apa yang diperintahkan Allah. Shalat wajib lima waktu dalam sehari, shalat dhuha 12 rakaat tidak bisa dirasakan manfaat, dan mukjizatnya jika tidak dilakukan. Lakukanlah maka Allah akan memberikan kabar gembira bagi siapa yang melakukannya.

Inilah kesadaran yang harus dipahami dan dihayati oleh manusia bahwa mukjizat-mukjizat dari Allah akan dapat dirasakan dan dibuktikan jika manusia mampu berkonsentrasi dan konsisten untuk melaksanakan segala perintah Allah. Mukjizat-mukjizat itu akan kita rasakan dan buktikan satu persatu dengan keberanian memikirkan dan melakukannya. Shalat adalah perintah dari Allah dan ada mukjizat dibalik shalat jika kita mau melakukannya.

Untuk itulah mengapa sekolah mengjarkan shalat kepada anak-anak didik sebagai pendidikan karakter. Pelajaran shalat tidak akan pernah berakhir dan harus diajarkan dalam seluruh tingkatan pendidikan. Shalat adalah ajaran dari Allah, dan dibalik itu pasti banyak mukjizat bakal kita temukan sampai akhir khayat jika kita konsisten melakukannya. Shalat meliputi empat dimensi keilmuan, mulai dari syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Maka shalat belum selesai kita pahami sebelum sampai pada tingkat makrifat. 

Kelemahan kita selama ini adalah kita selalu membatasi dengan pikiran-pikiran kita padahal Allah memerintahkan kepada kita untuk memikirkan ayat-ayat-Nya dan mau melakukannya sehingga janji Allah akan memberikan pahala yang besar, mengembirakan, dapat kita rasakan dengan bukti langsung pada diri kita sendiri. Shalatlah!!! dan buktikan sendiri mukjizatnya. Selamat mencoba dan semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua. Wallahu’alam.

Tuesday, October 20, 2020

MINDSET JALAN YANG LURUS

 OLEH: MUHAMMAD PLATO

Umat Islam setiap hari minimal 17 kali akan berdoa kepada Tuhannya, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Alfatihah, 1:6-7). Diantara doa yang dipanjatkan orang Islam, doa ini termasuk yang paling banyak dilantunkan.

Hidup ini faktanya terdiri dari dua jalan, jalannya lurus diridhai jalan kanan dan jalan lurus dimurkai jalan kiri. Dua jalan sama-sama mendaki jika kita menjalaninya. “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Maka tidakkah sebaiknya  ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?” (Al Balad, 90:10-12).

Apakah jalan lurus itu? Allah berfirman di dalam Al-Qur’an, “dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (Yasin, 36:61). Di dalam ayat lain Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus". (Ali Imran, 2:51). Dalam surat lainnya Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.” (Maryam, 19:36). 

Berdasarkan informasi dari Al-Qur’an jalan yang lurus adalah penyembahan kepada Allah tuhan dari seluruh manusia, yang tidak beranak dan beribu, tidak melahirkan dan dilahirkan. Mempertahankan penyembahan kepada Allah Tuhan Yang Esa, inilah mindset inti dari jalan yang lurus.

Menjaga kesadaran hati, pikiran, bahwa Allah swt sebagai segala sebab dan akibat dalam segala kejadian adalah jalan yang lurus. Jalan yang lurus adalah mindset yang selalu menjadikan Allah sebagai sebab dan akibat dari segala kejadian. Allah mengajari manusia sebab akibat dalam segala kejadian, dan segala sebab akibat kejadian semuanya ada di atas kehendak Allah. “dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,” (Al A’la, 87:3).

Menjaga mindset bahwa Allah sebagai segala sebab dan kajadian adalah jalan yang lurus. Penyebab kesejahteraan hidup manusia bukan ilmu, pekerjaan, perniagaan, kerja keras, atau keberuntungan. Penyebab kesejahteraan adalah Allah. Ilmu, pekerjaan, kedudukan, perniagaan, kerja keras, dan keberuntungan adalah takdir-takdir Allah yang harus dilalui manusia sebagaimana Allah kehendaki. Maka dibalik ilmu, pekerjaan, kedudukan, kerja keras, perniagaan, dan keberuntungan ada kehendak Allah sebagai penyebab kesejahteraan. Inilah mindset jalan yang lurus. Jalan pikiran yang selalu menjadikan Allah Esa sebagai penyebab segala kejadian, tidak terganggu oleh sebab kejadian-kejadian alam berdasar penglihatan.

Jadi jalan yang lurus adalah mindset yang lurus yang selalu menjadikan Allah sebagai segala sebab dalam kejadian. Jalan yang lurus adalah pengakuan bahwa Allah Tuhan Esa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Allah tuhan pengampun bagi para pembuat dosa, dan Allah Tuhan dari seluruh manusia.  Allah tuhan yang memberi makan dan minum kepada seluruh makhluk di alam semesta. Inilah mindset jalan yang lurus yang harus terus dijaga dikala sempit maupun lapang, siang maupun malam, dosa maupun tidak berdosa. Semoga Allah tetap menempatkan mindset kita berada dijalan yang lurus. Wallahu’alam.