Sunday, August 8, 2021

ALLAH ADA DALAM KESADARAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kawan-kawan ada cerita menarik untuk disimak bagi siapa saya yang ingin dekat dengan Tuhan. Di media sosial banyak orang-orang baik saling membantu antar sesama. Saya suka sekali melihat mereka saling tolong menolong, dan hati ini terasa mengembang menyaksikannya. Saya melihat mereka yang berbuat baik, tidak melihat latar belakang agamanya, karena pakaiannya biasa-biasa saja tidak mencirikan seorang penganut agama tertentu. Dan saya juga tidak tahu apakah mereka membantu sesama manusia atas nama Tuhan, atau karena empati saja pada penderitaan orang lain atas dasar kemanusiaan.

Mungkin kawan-kawan berpikir, untuk berbuat baik, tidak perlu bawa-bawa Tuhan. Tapi Tuhan itu ada dan menciptakan kita, mengapa kita tidak boleh bawa-bawa Tuhan dalam kehidupan kita? Masalah ini dari masa ke masa, dari generasi ke generasi terus jadi perbincangan tidak ada ujungnya. Sampai akhir nanti hal ini jadi perbincangan antar sesama manusia.

Di media sosial saya tonton ada orang mati suri, menceritakan pengalamannya ditayangkan di stasiun televisi nasional. Bagi saya, orang yang punya pengetahuan dari kitab suci, cerita pengalaman orang mati suri itu sama dengan cerita isi kitab suci. Semua ceritanya seperti apa yang diceritakan dalam kitab suci, bahwa setiap orang akan diadili sesuai dengan perbuatannya di dunia. Teman setianya seseorang kelak adalah perbuatan-perbuatan baik yang pernah dilakukannya di dunia.

Pengetahuan ini membuat rasa takut di hati, apakah kelak amal-amal baik saya bisa menemani hidup saya di alam akhirat, atau amal baik saya kalah sama amal buruk yang pernah saya lakukan? Pengetahuan ini membuat saya sadar diri untuk mengimbangi setiap perbuatan buruk dengan perbuatan baik. Tindakan yang saya lakukan berdasar pada kesadaran bahwa setelah kematian akan ada kehidupan dan pengadilan berdasar pengetahuan awal yang saya miliki dari kitab suci. Tanggapan tentang pengalaman mati suri akan berbeda jika pengetahuan awal yang dimiliki bukan dari kitab suci seperti mitos, tradisi, atau sains.

Pengetahuan awal yang kita miliki menentukan Tuhan itu ada atau tidak ada. Anak-anak yang dikeluarganya tidak diajarkan tentang keberadaan Tuhan, dia tidak akan mengenal Tuhan. Jadi, pada dasarnya Tuhan itu ada dalam pengetahuan, kemudian kesadaran dan menjadi tindakan. Untuk membangun kesadaran perlu kegiatan berulang-ulang. Maka dari itu tindakan ibadah ritual rutin setiap hari salah satu dampakanya adalah menghadirkan kesadaran adanya Tuhan setiap hari. Dalam agama Islam untuk membangun kesadaran dilakukan ritual shalat lima waktu dan dhuha 12 rakaat. Kegiatan ini bisa jadi program pendidikan bagi anak-anak yang muslim.

Fenomena kehidupan dunia yang material memang terus menggiring kita jadi makhluk material murni. Di Amerika sebagai contoh negara maju, sejak tahun 1960an nilai agama mulai memudar. Tahun 1986, seorang Provesor di New York University, Paul Vitz, meluncurkan buku mengungkap bahwa potret agama secara perlahan hilang dari konteks sekolah. Dalam buku teks sekolah kata kata Tuhan diedit dan hilang. Kata-kata syukur dengan ungkapan “thank God” diubah dengan “thank Goodnes”. (Lickona, 2019, hlm. 66). Survey anak-anak di Amerika dengan latar belakang agama berbeda mengatakan bahwa sesuatu yang buruk sudah jelas tidak boleh dilakukan karena itu merugikan orang lain. Kesadaran tidak melakukan hal buruk tidak mereka hubungkan dengan ajaran agama yang mereka anut, tetapi lebih kepada alasan rasional kemanusiaan.

Selanjutnya, di Amerika ada upaya memasukkan kembali agama pada pelajaran budaya Amerika dan Sejarah. Hukum-hukum dasar moral yang universal dapat diajarkan di sekolah seperti berlaku adil dan peduli sama sesama, dapat diajarkan secara religius kepada masyarakat beragama. (Lickona, 2019, hlm. 69). Kita tidak mengikuti Amerika, tetapi kesadaran tentang keberadaan Tuhan sudah kembali digalakan dan dirasakan kebutuhannya oleh masyarakat di dunia.

Allah berwujud tapi tidak dapat dilihat, Dia berbicara tetapi kita tidak mendengarnya. Tuhan ada dalam kesadaran manusia. Jika kita berdo’a kepada Tuhan, maka hanya dengan kesadaran bahwa Tuhan mengabulkan doa kita. Untuk membangun kesadaran adanya Tuhan dibutuhkan pengetahuan (knowing), pembuktian (feeling), dan tindakan (action). Setelah mengetahui tidak mungkin memiliki perasaan jika tidak pernah membuktikan.

Tuhan ada dan menetapkan hukumnya bahwa setiap kebaikan akan berbalas kebaikan dan setiap perbuatan buruk akan berbalas keburukan. “Jika kamu berbuat baik  kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,” (Al Israa, 17:7).

Jika kita mengetahui ketentuan ini dari Tuhan, maka manusia harus membuktikan, bagaimana kebaikan-kebaikan yang kita lakukan berbalas dengan kebaikan. Untuk membuktikannya dibutuhkan upaya pembuktian dengan melakukannya. Saya menyarankan untuk proses pembuktian melakukan eksperimen kebaikan. Dilakukan secara berjangka tiga bulan atau enam bulan. Setiap kebaikan dicatat dan dirasasakan dampaknya, kemudian dicatat dengan mencantumkan jam, hari, dan tanggal. Pengalaman-pengalaman dari hasil pembuktian akan membangun kesadaran kita bahwa Tuhan itu ada. Metode ini bisa diajarkan pada anak-anak sebagai pendidikan karakter dan penerapan nilai-nilai agama di rumah atau di keluaga. Allah ada dalam kesadaran. Selamat mencoba. Wallahu’alam. 

No comments:

Post a Comment