Saturday, July 31, 2021

WHAT, MELIHAT TUHAN?

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ingin melihat Tuhan pernah di minta oleh seorang Nabi yaitu Musa a.s. Lalu apa yang terjadi? Nabi Musa pingsan tidak sadarkan diri karena melihat gunung hancur luluh lantak ketika Tuhan menampakkan dirinya pada gunung. Setelah bangun kembali sadar, Musa a.s bertobat dan beriman. Cerita ini dikisahkan di dalam Al-Qur’an.

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".” (Al A’raaf, 7:143)

Sungguh Al-Qur’an adalah kitab berisi pengajaran dan peringatan. Fenomena Nabi Musa terus berulang sepanjang masa, dimana saat ini ada orang yang kurang pengetahuan, menantang kepada orang-orang Islam untuk membuktikan bagaimana wujud Tuhan yang disembahnya, sebab dia merasa bahwa tuhan yang disembahnya bisa dilihat. Dengan arogan tantangan ini disertai imbalan hadiah satu miliar. Tantangan ini persis seperti prilaku orang-orang kafir terdahulu yang meminta kepada Nabi-Nabinya untuk bisa melihat Tuhan.

Bagi muslim yang memahami bagaimana sifat Tuhan, tantangan ini tidak perlu mendapat tanggapan serius. Namun Allah menghadirkan orang-orang cerdas untuk membalikkan tantangan itu dengan tantangan untuk membuktikan bahwa wajah tuhan yang disembahnya benar-benar wajah tuhan yang asli dengan imbalan 100 miliar.

Dua tantang-menantang ini memang sudah dapat dipastikan jawabannya, Tuhan tidak mungkin dilihat, dan wajah Tuhan tidak mungkin dapat dibuktikan. Namun dua tantangan ini berbeda, yang satu datang dari orang kafir (tertutup) dari kebenaran, dan yang satu dari orang-orang beriman yang ingin mempertebal keimanannya.

Melihat dan melukiskan Tuhan dalam wujud yang tampak secara materil adalah kekafiran (kebodohan, kejahiliyahan, atau ksesesatan). Kemustahilan Tuhan dapat menampakkan diri pada manusia sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an dalam kisah Nabi Musa a.s.  Dalam kisah tersebut Allah mengajarkan bahwa manusia-manusia yang ingin melihat wujud Tuhan, dia mengikuti hasrat kekafiran dan termasuk dosa besar. Untuk itu, dikisahkan setelah Nabi Musa a.s melihat gunung hancur, kemudian jatuh pingsan dan setelah sadar dia bertasbih dan bertobat lalu menyatakan keimanannya. Pertanyaannya, “mengapa Nabi Musa bertobat?” Karena meminta Tuhan untuk menampakkan diri adalah pelecehan terhadap Tuhan. Meminta Tuhan untuk menampakkan dari adalah merendahkan dan mengingkari segala ciptaan Tuhan.

Meminta Tuhan menampakkan diri adalah kedunguan. Bagaimana tidak dungu? Matahari, gunung, laut, udara, api, angin, tanah, bahkan keberadaan dirinya tidakkah menjadikan bukti keberadaan Tuhan? kebodohan itu lahir karena keterbatasan ruang dan waktu yang bisa dijelajahi secara fisik oleh manusia. Maka Allah memerintahkan manusia berulang-ulang untuk berpikir, menjelajahi ruang dan waktu agar bisa membuktikan betapa tidak terbatasnya ruang dan waktu yang diciptakan Allah, dan betapa terbatasnya pengetahuan ruang dan waktu yang bisa dijelajahi manusia di alam semesta ini. Luas bumi yang dihuni manusia ternyata ukuran besarnya tidak menyerupai sebutir debupun, lalu sebesar apa ukuran manusia ini? Lalu makhuk super super kecil dan sangat sangat lemah ini, betapa sombongnya mau melihat Tuhan di dunia ini. Itulah kiranya mengapa pada akhirnya Nabi Musa bertobat dan memutuskan cukup beriman saja kepada Tuhan Yang Esa. Untuk itu kejahatan yang dahsyat bagi manusia jika mematerilkan Tuhan dengan mengatakan beranak dan beribu.

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: "Allah beranak". Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.” (Ash Shaaffaat, 37:152).

Sangat-sangat tidak berakal sehat jika ada orang mengaku bertemu dan melihat wajah Allah di dunia ini. Dapat dipastikan orang-orang itu pembawa berita hoak dan pembohong besar. Tidakkah engkau mengambil pelajaran dari ayat-ayat Al-Qur’an yang terang? Wallahu’alam 

No comments:

Post a Comment