Thursday, July 15, 2021

CARA AKTIFKAN PENGLIHATAN BATIN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka Barang siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu)”. (Al An’aam, 6:104). Berdasarkan pada ayat ini, Syaiful Karim pada youtube efisode ke 032, 12 Oktober 2020 menjelaskan bahwa ada dua kemampuan melihat yang dimiliki oleh manusia, yaitu kemampuan melihat secara fisik dan kemampuan melihat secara batin.

Kemampuan melihat dengan batin yang dimaksud adalah kemampuan melihat hakikat-hakikat kejadian sesuai dengan kehendak Allah, dengan ukuran bahwa seluruh kejadian di muka bumi bagi orang yang sudah mampu melihat dengan mata batin, semuanya tidak akan berpengaruh buruk dan akan tetap menjadi keberuntungan.

Selanjutnya, Syaiful Karim menjelaskan makna “bumi” dalam surat lainnya, “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-An’aam, 6:165).

Ibn’ Arabi mengatakan, “bumi adalah manusia berbadan besar”. Maka sebaliknya manusia adalah bumi kecil. Analogi ini dapat kita pahami dari penjelasan-penjelasan Al-Qur’an bahwa sistem penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia memiliki kesamaan. Jika bumi adalah Al-Qur’an, maka manusia sendiri adalah Al-Qur’an. Untuk itu, para filsuf membagi alam menjadi dua yaitu alam makro dan mikro. Manusia adalah alam mikro.

Maka ketika Allah mengatakan, “Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi”. Bumi di sini bisa bermakna makro dan mikro. Maka makna bumi mikro menjadi tafsir bahwa setiap manusia dijadikan penguasa-penguasa dirinya sendiri. Tafsir ini digunakan oleh Syaiful Karim untuk menjadikan diri kita menjadi pengatur diri kita sendiri. Manusia-manusia yang menjadi penguasa bagi dirinya sendiri adalah manusia yang bisa mengendalikan seluruh kehendaknya berada di atas kehendak Allah. Iniah kekuasaan sesungguhnya yang harus dimiliki oleh setiap individu. Manusia-manusia yang bisa mengendalikan dirinya di atas kehendak Allah, adalah mereka yang bisa melihat semua kejadian dengan mata batinnya.

Lalu bagaimana cara agar kita bisa melihat dengan mata batin? Objek penglihatan fisik adalah benda atau kejadian, kemudian dipersespi akal berdasarkan pengetahuan yang berhasil diingat oleh memori. Stok pengetahuan yang diingat memori adalah kunci objek yang dilihat bisa diberi makna. Kebanyakan orang memberi makna sebuah objek dengan pengetahuan yang di dapat dari alam atau pengalaman. Ilmu dan sains mempersepsi objek dengan pengetahuan alam dan pengalaman (percobaan atau penelitian). Maka dari itu, ilmu atau sains melatih penglihatan fisik karena objek yang diteliti berdasar pengetahuan dari hasil penelitian atau pengalaman.

Objek penglihatan batin pada dasarnya sama yaitu benda dan kejadian. Pemberian makna terhadap sebuah objek oleh penglihatan batin akan berbeda dengan penglihatan fisik. Penyebab perbedaan tersebut terletak pada pengetahuan yang ada dalam memori. Penglihatan batin bisa diaktifkan dengan memberikan makna pada objek yang dilihat berdasar pada pengetahuan non materi yang sudah tersimpan dalam memori. Sumber pengetahuan non materi adalah kitab suci Al-Qur’an yang terpeihara dari campur tangan manusia. Pengetahuan-pengetahuan yang bersumber dari non materi menjelaskan sebab akibat kejadian kasar (material) sampai kejadian halus (non material).

(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Lukman, 31:16).

Pengihatan batin adalah pemahaman akal yang dapat mengetahui sebab akibat kejadian non material berdasar petunjuk pengetahuan yang bersumber dari non material yaitu kitab suci Al-Qur’an. Jadi kunci untuk mengasah penglihatan mata batin adalah dengan memahami sebab akibat (logika) kejadian yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Kebenaran-kebenaran penglihatan batin dapat dibuktikan dengan kesadaran tinggi (akal sehat) terhadap adanya ketentuan Allah melalui pengalaman (lahir) dan melibatkan perasaan (batin).

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (Lukman, 31:20)

Untuk itu sangat penting untuk mempelajari dan memahami logika-logika Tuhan dalam Al-Qur’an sebagai modal kita untuk mengaktifkan mata batin dalam melihat segala kejadian. Dengan memohon pertolongan Allah dan keberanian, siapapun akan dibimbing Allah untuk memahami setiap kejadian dengan penglihatan batin sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing yang diberikan Allah. Demikian sedikit informasi untuk membuka diskusi tak berujung dalam memahami segala kejadian dengan pengihatan mata batin.  Wallahu’alam. 

No comments:

Post a Comment