Saturday, July 11, 2026

AGAMA YANG DISUSUPI KEBENCIAN

Oleh: Muhammad Plato

Hati-hati terhadap agama yang telah disusupi kebencian turun-temurun, tidak disadari diwaris melalui lembaga-lembaga pendidikan dengan label agama. Kebencian dalam beragama disusupkan oleh mereka yang punya kepentingan. Penghargaan, keturunan, kekuasaan, kekayaan, adalah kepentingan-kepentingan yang sering menyusup dalam agama. 

Terkadang kerena kebencian sudah melekat dalam lembaga pendidikan berlabel agama, kebencian menjadi larut seolah jadi ajaran agama dan tidak terdeteksi oleh penganutnya. Kebencian yang sudah larut dalam lembaga agama dan menjadi narasi para penganutnya, situasi ini menjadi sulit untuk disadarkan.

Ebook pola berpikir mengikuti petunjuk Tuhan

Kebencian yang sudah larut dalam ajaran agama menjadi pola pikir menyusup tersembunyi. Mereka yang sudah tersusupi kebencian, tidak bisa mengenali kebenaran. Kebencian yang sudah membekas dalam hati sangat berbahaya, karena akan menutup keinginan untuk belajar. 

Kebencian yang tersimpan di hati tidak ada obatnya kecuali kembali belajar mengenali kembali kebenaran sesungguhnya. Bahaya memelihara kebencian adalah bisa menutup diri dari kebenaran. Karena kebencian kebenaran sekalipun sudah jelas dapat dibuktikan namun tidak dapat dikenalinya.

"Atau (apakah patut) mereka berkata: "Padanya (Muhammad) ada penyakit gila." Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran." (Al Mukminuun, 23:70). 

Kebencian yang tersembunyi bisa terjadi karena beragama terlalu mengandalkan emosi dan menutup keterlibatan akal. Tanpa libatkan akal, agama bisa jadi berubah menjadi hawa nafsu yang tidak terkendali. Agama yang terlalu mengandalkan emosi, bisa berubah menjadi sekumpulan orang yang mudah di provokasi dan mudah terjebak tipu daya. Agama yang terlalu mengandalkan emosi berubah menjadi fanatisme kelompok, aliran, keturunan, dan ekslusif.

Al Quran mengandung informasi yang sudah jelas dan abstrak. Hal-hal sudah jelas bisa dipahami dengan akal sederhana. Hal-hal yang abstrak membutuhkan kajian dan penelitian mendalam. Perintah Allah agar manusia menggunakan akal cukup jelas.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (Ali Imran, 3:190).

Allah memberi peringatan bahwa dalam beragama, wajib memiliki kecerdasan intelektual, untuk bisa membaca, meneliti, membedakan, menyamakan, dan merenungi berbagai tanda-tanda di alam. Dengan memahami tanda-tanda yang ada di alam, manusia bisa mengelola, memenuhi kebutuhan hidup, dan melestarikan alam.

Perihal penggunaan akal, Allah memberi peringatan dalam Al Quran. "Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (Al Maa'idah, 5:100).

Al Quran sangat menganjurkan penggunaan akal. Bahkan Al Quran mengandung peringatan keras bagi orang-orang yang tidak menggunakan akalnya. Tanpa penggunaan akal manusia bisa terjebak dengan emosinya sendiri. Agama tanpa akal mudah disusupi kehencian dan menimbulkan kemurkaan Allah.

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (Yunus, 10:100).

Di era keterbukaan tidak ada yang bisa sembunyi dari kebenaran. Di era informasi, kebenaran tidak lagi mutlak milik lembaga pendidikan, akademisi, ilmuwan, guru, pemuka agama, atau mereka yang bergelar. Kebenaran kembali pada esensinya bersumber pada data dengan akurasi tinggi dan mengandung nilai-nilai kebenaran, serta bisa menyelesaikan masalah untuk kehidupan damai sejahtera dan menjamin kehidupan manusia secara berkelanjutan hingga kehidupan setelah kematian.***

Friday, July 3, 2026

GURU TIDAK BERJASA PADA MURID?

Oleh: Muhammad Plato

Mengapa guru tidak boleh merasa berjasa pada muridnya? Karena tugas guru tidak boleh melampaui batas yang telah ditetapkan oleh Allah. Kegagalan dan keberhasilan adalah ketetapan dalam hidup yang tidak dapat dihindari oleh siapapun, termasuk Nabi Muhammad. 

Nabi Muhammad pernah mengalami kegagalan yang membuat jiwa kaum muslimin terguncang keimanannya. Kegagalan dialami pasukan Nabi Muhammad ketika perang Uhud. Kaum muslimin yang terguncang keimanannya kembali pada keyakinan lamanya. 

Inilah bukti ketetapan dari Allah bahwa siapapun akan mengalaminya. Gagal dan sukses adalah dua sisi yang pasti dilalui oleh siapapun. Orang-orang sabar, konsisten, fokus pada keberhasilan, atau dalam konsep Al Quran, beriman dan bertakwa kepada Tuhan itulah yang akan mendapat kemenangan.

Kembali pada topik guru. Keberhasilan dan kegagalan murid terlepas dari guru. Posisi guru hanya menduduki posisi penyampai ilmu dan penasehat. Ilmu milik Allah dan apa yang dinasehatkan dari apa yang baik milik Allah. 

Manusia tidak punya kuasa menjadi penyebab seseorang jadi baik atau buruk. Ketika guru mengajarkan ilmu dan etika, mengingatkan, membimbing, memotivasi, kehendak untuk melakukan dan tidak melakukannya sangat tergantung siapa yang dikehendaki Allah.  

Pola pikir Nabi Muhammad bisa kita identifikasi dalam ayat Al Quran. Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (Al A'raaf, 7:188).

Siapa yang dikendaki Allah mendapat kebaikan dan kesuksesan? Merekalah yang banyak berbuat kebajikan, kemungkinan besar mendapat keberhasilan, dan kemungkinan kecil mendapat kemudaratan. Ayat ini mengandung etika bagaimana seorang guru tetap rendah hati. 

Al Quran bukan perkataan manusia, jika kita mengembangkan pola pikir dari Al Quran, kita telah mengikuti pola pikir yang diajarkan Tuhan kepada para nabi hingga sampai kepada kita. Intinya adalah segala yang dilakukan guru hanya sebagai faktor eksternal yang mengondisikan situasi menuju ke arah baik. 

Inilah filosofi guru yang didasari pada kitab suci Al Quran, "Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (Al A'raaf, 7:188).

Secara hakikat, guru tidak berada pada posisi sebagai penjamin dan penentu keberhasilan murid, tapi sebagai pelaku penyampai dan pemberi kabar gembira. Guru tugasnya menggoda. Jika setan menggoda murid untuk berbuat jahat, guru menggoda murid untuk berbuat baik.

Mengapa ada orang kuliah di universitas terbaik, nasibnya kurang baik. Mengapa ada orang pendidikannya tinggi, penghasilannya lebih kecil dari orang yang tidak punya pendidikan tinggi? Itulah fakta bahwa keberhasilan terjadi pada siapa yang dikehendaki Allah. 

Lalu apa yang harus diajarkan pada murid-murid oleh guru? Jawabannya ada di potongan ayat ini. "Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. (Al A'raaf, 7:188)."

Interpretasi dari potongan ayat ini adalah karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tindakan yang paling aman untuk kita lakukan adalah berbuat baiklah sebanyak banyaknya, karena Allah berjanji akan membalas kebaikan dengan yang lebih baik. Inilah pesan yang harus diulang-ulang oleh guru agar murid-murid punya harapan bisa hidup lebih baik di masa depan.***