Sunday, July 19, 2026

MENGENALI ORANG YANG DIMULIAKAN ALLAH

Oleh: Muhammad Plato

Siapa orang-orang yang dimuliakan Allah? Mereka tidak dikenali dari keturunannya, pakaiannya, kekayaannya, atau kedudukannya. Fenomena di masyarakat kita temukan, mereka memuliakan seseorang karena keturunan, pakaian, kedudukan, pangkat dan gelar. Mereka mengkultuskannya dan riskan terjebak pada fanatisme berlebihan masuk pada wilayah syirik tersembunyi.

Orang yang dimuliakan Allah dapat dikenali dari iman dan akhlaknya. Banyak orang berakhlak baik tetapi tidak dikatakan orang mulia karena sebaik-baiknya akhlak dia harus punya dasar iman kepada Allah. Kemuliaan seseorang ditandai dengan keimanan kepada Allah dibuktikan dengan shalat dan selalu berbagi rezeki. 

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (Al Anfaal, 8:3-4)

Akhlak dan keimanan tidak dapat dipisahkan. Kemulian seseorang diukur dari dua katergori ini. Al Quran menjadi panduan pola berpikir umat Islam dan seluruh umat manusia harus diajarkan. Nabi Muhammad diutus untuk seluruh makhluk. Maka orang-orang yang dimuliakan Allah bukan untuk sekelompok orang tapi untuk seluruh umat manusia.

Kita lihat lagi dari keterangan Al Quran siapa orang yang dimuliakan Allah. Orang yang dimuliakan Allah bukan mereka yang terlihat bergelimang kekayaan dan kesenangan. Kemuliaan tidak diukur karena mereka terlihat selalu diberi kesenangan atau selalu terhindar dari kesulitan.

Manusia suka berprasangka menurut keinginan hawa nafsunya sendiri. Manusia melihat kemuliaan dari kesenangan yang didapat dari Allah, dan kesulitan adalah kehinaan yang didapat dari Allah. Kesenangan dan keterbatasan rezeki bukan ukuran Allah memuliakan atau menghinakan. 

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku".  Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". (Al Fajr, 89:15-16).

Kesenangan dan kesulitan adalah takdir yang harus dilalui oleh manusia. Allah mengenalkan orang-orang yang dimuliakan berdasarkan akhlak dan keimananya. Dalam keterangan Al Quran dijelaskan. 

Orang yang dimuliakan Allah adalah dia yang punya keimanan pada Allah, mau berhijrah, berjihad, memberi, dan suka menolong. Mereka mulia karena memperolah ampunan dan itulah sebaik-baiknya rezeki dari Allah. 

"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. (Al Anfaal, 8:74).***

AMERIKA SERIKAT HENTIKAN PERANG

Oleh: Muhammad Plato

Amerika Serikat harus hentikan perang jika ingin tetap menjadi negara berdaulat. Iran adalah negara dengan kekuatan penuh secara militer dan didukung oleh rakyatnya. Selamat 47 tahun dikucilkan, Iran berubah menjadi negara kuat karena keyakinannya pada Tuhan. 

Amerika Serikat harus hentikan perang, jika ingin tetap menjadi negara terhormat di dunia. Iran tidak akan pernah berhenti melawan penjajahan. Peperangan melawan penjajah bagi bangsa Iran sudah menjadi bagian ibadah kepada Tuhan.

Amerika Serikat harus hentikan perang, jika ingin menjaga dunia kembali berjalan damai. Iran sebagai negara berdaulat dengan mayoritas penduduk berkeyakinan pada Tuhan, tidak akan berhenti perang karena desakan senjata. 

Iran represntasi negara muslim yang ada di Timur Tengah. Sekalipun ada negara-negara muslim yang bersikap menjadi musuh Iran, tetapi sebagai muslim memiliki keyakinan pada Al Quran, bahwa sesama muslim kita bersaudara. Tidak ada seorang muslim pun yang berani menentang ayat Al Quran, karena risikonya di akhirat mendapat pengadilan Allah.

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujuraat, 49:10).

Seluruh muslim di dunia telah melihat, saudara-saudaranya telah menjadi korban genosida dari perang tidak seimbang. Untuk rasa kemanusiaan seluruh penduduk dunia telah menentang genosida. Perlawanan Iran telah menjadi representasi kebangkitan umat Islam untuk menegakkan keadilan.

Amerika Serikat harus hentikan perang, jika masih ingin membela kemanusiaan. Takdir telah terbukti, pemenang perang tidak berada pada kelompok besar tapi pada kelompok kecil teraniaya. Iran telah teraniaya selama puluhan tahun bertahan bersama keyakinan kepada Tuhan. Takdir Tuhan telah menetapkan akan bersama pasukan kecil yang sabar. 

"Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al Baqarah, 2:249).

Selama bertahun-tahun teraniaya, Allah telah menguji keyakinan kepada bangsa Iran untuk bangkit membela kedaulatan negara. Rakyat  Iran merasa kewajiban untuk membela tanah air dan berdosa kepada Tuhan jika tidak membela. 

Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka. (Asy Syuraa, 42:41). 

Kebangkitan bangsa Iran telah menyebarkan kesadaran kepada seluruh muslim di dunia. Hati muslim di seluruh dunia mulai bersatu karena keyakinan pada satu Tuhan. Kesadaran umat Islam untuk bersatu merupakan ketaatan kepada Allah sebagai mana dijelaskan dalam Al Quran.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; (Ali Imran, 3:103).

Ayat-ayat Al Quran yang memerintah umat Islam untuk bersatu telah menyebar ke seluruh dunia, seiring terjadinya genosida dan perang antara Iran dengan Amerika Serikat. Sia-sialah bagi orang yang berperang karena hawa nafsunya. 

Rasa persaudaraan dan persatuan sesama muslim kini sedang merasuki memasuki hati-hati seluruh muslim di dunia. Kesadaran rasa persaudaraan dam kemanusiaan penduduk bumi sedang bangkit melihat ajaran-ajaran Islam, karena dalam sejarahnya Nabi Muhammad tidak menaklukkan tentara untuk menyerah, tetapi menaklukkan hati manusia untuk berserah diri pada segala ketetapanTuhan.***

 

MENGANUT AGAMA ATAU PEMIKIRAN?

Oleh: Muhammad Plato

Apakah selama ini kita menganut agama atau pemikiran? Di dalam Islam sumber ajaran agama sudah jelas yaitu Al Quran dan hadis Rasulullah. Tanpa merujuk kepada dua sumber ini, seseorang tidak dapat dikatakan beragama. 

Sekalipun Al Quran dan hadis dinarasikan oleh orang per orang atau kelompok, keyakinan seseorang tidak pada orang atau kelompok, tapi pada Al Quran dan hadisnya. Pergeseran umat dalam beragama seiring dengan waktu telah bergeser bukan pada sumber pokok ajaran agama, tapi pada individu dan kelompok. 

Pengajaran beragama perlu di riset ulang, dikembalikan pada sumber aslinya. Pertentangan antar kelompok pemeluk Islam, sejak meninggalnya Nabi Muhammad masih terus terbawa hingga sekarang. Pertentangan antar kelompok karena keuasaan atas dasar keturuan menjadi keyakinan dalam beragama. Kelompok-kelompok keturunan yang ingin mendapat pengakuan mengeluarkan pandangan-pandangan keagamaan yang kadang bias dengan kepentingan.

Pertentangan antar kelompok keturunan keras terjadi di wilayah Timur Tengah hingga sekarang masih terjadi. Konflik yang masih terjadi sekarang terjadi antara kelompok Syiah dan Sunni. Dua kelompok ini masing-masing membawa pemikiran dalam ajaran Islam. Masing-masing pengikut membenarkan dan menyalahkan berdasarkan garis pemikiran dari kelompoknya masing-masing.

Ada batas yang sangat abstrak untuk membedakan mana agama dan mana pemikiran. Ketika narasi-narasi kebenaran diatasnamakan kelompok atau aliran, maka dia sedang tidak menganut ajaran agama tapi pemikiran sebuah kelompok. Hal paling abstrak lagi adalah ketika mengeluarkan dasar Al Quran dan hadis dengan niat membenarkan kelompoknya. 

Untuk mengembalikan agama pada sumber dasarnya, perlu ada gerakan kembali pada Al Quran dan hadis. Kebenaran dalam Al Quran dan hadis dinarasikan ketika berbicara ajaran agama Islam, bukan mengatasnamakan kelompok atau aliran. 

Islam bukan sunni dan bukan syiah, Islam adalah agama yang diajarkan Nabi Muhammad bersumber pada Al Quran dan hadis. Penganut agama Islam di seluruh dunia adalah satu kesatuan, tidak membeda-bedakan diri dengan kelompok, keturunan, atau aliran. 

Untuk mengembalikan kemurnian ajaran agama, perbedaan-perbedaan budaya dalam beragama tidak dibesar-besarkan menjadi konflik kelompok atau aliran agama. Umat beragama harus diberi batasan mana yang murni ajaran agama dan mana yang mengatasnamakan budaya atau kelompok. 

Semua pemuka agama sepakat kebenaran milik Allah, bukan milik ulama, pemikir, kelompok, atau aliran. Siapa yang mengajarkan agama untuk mengaku sebagai kelompok pemilik kebenaran, atau menyalahkan kelompok lain di luar kelompoknya, dia telah melampaui batas yang ditetapkan Allah.

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (Al Baqarah, 2:147).

Pengajaran agama sebaiknya lebih banyak menjelaskan apa yang terkandung dalam Al Quran dan hadis tentang sikap-sikap keteladan Nabi Muhammad dalam menjalankan agama. Tidak ada manusia yang patut diikuti kecuali Nabi Muhammad. 

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujuran, 47:10).

Konflik sesama muslim yang terjadi di Timur Tengah, sekalipun mengaku keturunan Nabi Muhammad, dia telah bertentangan dengan kebenaran dari Allah bahwa sesama muslim bersaudara dan seharusnya mengutamakan hidup damai jika mereka beriman kepada Al Quran.*** 

Saturday, July 11, 2026

AGAMA YANG DISUSUPI KEBENCIAN

Oleh: Muhammad Plato

Hati-hati terhadap agama yang telah disusupi kebencian turun-temurun, tidak disadari diwaris melalui lembaga-lembaga pendidikan dengan label agama. Kebencian dalam beragama disusupkan oleh mereka yang punya kepentingan. Penghargaan, keturunan, kekuasaan, kekayaan, adalah kepentingan-kepentingan yang sering menyusup dalam agama. 

Terkadang kerena kebencian sudah melekat dalam lembaga pendidikan berlabel agama, kebencian menjadi larut seolah jadi ajaran agama dan tidak terdeteksi oleh penganutnya. Kebencian yang sudah larut dalam lembaga agama dan menjadi narasi para penganutnya, situasi ini menjadi sulit untuk disadarkan.

Ebook pola berpikir mengikuti petunjuk Tuhan

Kebencian yang sudah larut dalam ajaran agama menjadi pola pikir menyusup tersembunyi. Mereka yang sudah tersusupi kebencian, tidak bisa mengenali kebenaran. Kebencian yang sudah membekas dalam hati sangat berbahaya, karena akan menutup keinginan untuk belajar. 

Kebencian yang tersimpan di hati tidak ada obatnya kecuali kembali belajar mengenali kembali kebenaran sesungguhnya. Bahaya memelihara kebencian adalah bisa menutup diri dari kebenaran. Karena kebencian kebenaran sekalipun sudah jelas dapat dibuktikan namun tidak dapat dikenalinya.

"Atau (apakah patut) mereka berkata: "Padanya (Muhammad) ada penyakit gila." Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran." (Al Mukminuun, 23:70). 

Kebencian yang tersembunyi bisa terjadi karena beragama terlalu mengandalkan emosi dan menutup keterlibatan akal. Tanpa libatkan akal, agama bisa jadi berubah menjadi hawa nafsu yang tidak terkendali. Agama yang terlalu mengandalkan emosi, bisa berubah menjadi sekumpulan orang yang mudah di provokasi dan mudah terjebak tipu daya. Agama yang terlalu mengandalkan emosi berubah menjadi fanatisme kelompok, aliran, keturunan, dan ekslusif.

Al Quran mengandung informasi yang sudah jelas dan abstrak. Hal-hal sudah jelas bisa dipahami dengan akal sederhana. Hal-hal yang abstrak membutuhkan kajian dan penelitian mendalam. Perintah Allah agar manusia menggunakan akal cukup jelas.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (Ali Imran, 3:190).

Allah memberi peringatan bahwa dalam beragama, wajib memiliki kecerdasan intelektual, untuk bisa membaca, meneliti, membedakan, menyamakan, dan merenungi berbagai tanda-tanda di alam. Dengan memahami tanda-tanda yang ada di alam, manusia bisa mengelola, memenuhi kebutuhan hidup, dan melestarikan alam.

Perihal penggunaan akal, Allah memberi peringatan dalam Al Quran. "Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (Al Maa'idah, 5:100).

Al Quran sangat menganjurkan penggunaan akal. Bahkan Al Quran mengandung peringatan keras bagi orang-orang yang tidak menggunakan akalnya. Tanpa penggunaan akal manusia bisa terjebak dengan emosinya sendiri. Agama tanpa akal mudah disusupi kehencian dan menimbulkan kemurkaan Allah.

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (Yunus, 10:100).

Di era keterbukaan tidak ada yang bisa sembunyi dari kebenaran. Di era informasi, kebenaran tidak lagi mutlak milik lembaga pendidikan, akademisi, ilmuwan, guru, pemuka agama, atau mereka yang bergelar. Kebenaran kembali pada esensinya bersumber pada data dengan akurasi tinggi dan mengandung nilai-nilai kebenaran, serta bisa menyelesaikan masalah untuk kehidupan damai sejahtera dan menjamin kehidupan manusia secara berkelanjutan hingga kehidupan setelah kematian.***

Friday, July 3, 2026

GURU TIDAK BERJASA PADA MURID?

Oleh: Muhammad Plato

Mengapa guru tidak boleh merasa berjasa pada muridnya? Karena tugas guru tidak boleh melampaui batas yang telah ditetapkan oleh Allah. Kegagalan dan keberhasilan adalah ketetapan dalam hidup yang tidak dapat dihindari oleh siapapun, termasuk Nabi Muhammad. 

Nabi Muhammad pernah mengalami kegagalan yang membuat jiwa kaum muslimin terguncang keimanannya. Kegagalan dialami pasukan Nabi Muhammad ketika perang Uhud. Kaum muslimin yang terguncang keimanannya kembali pada keyakinan lamanya. 

Inilah bukti ketetapan dari Allah bahwa siapapun akan mengalaminya. Gagal dan sukses adalah dua sisi yang pasti dilalui oleh siapapun. Orang-orang sabar, konsisten, fokus pada keberhasilan, atau dalam konsep Al Quran, beriman dan bertakwa kepada Tuhan itulah yang akan mendapat kemenangan.

Kembali pada topik guru. Keberhasilan dan kegagalan murid terlepas dari guru. Posisi guru hanya menduduki posisi penyampai ilmu dan penasehat. Ilmu milik Allah dan apa yang dinasehatkan dari apa yang baik milik Allah. 

Manusia tidak punya kuasa menjadi penyebab seseorang jadi baik atau buruk. Ketika guru mengajarkan ilmu dan etika, mengingatkan, membimbing, memotivasi, kehendak untuk melakukan dan tidak melakukannya sangat tergantung siapa yang dikehendaki Allah.  

Pola pikir Nabi Muhammad bisa kita identifikasi dalam ayat Al Quran. Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (Al A'raaf, 7:188).

Siapa yang dikendaki Allah mendapat kebaikan dan kesuksesan? Merekalah yang banyak berbuat kebajikan, kemungkinan besar mendapat keberhasilan, dan kemungkinan kecil mendapat kemudaratan. Ayat ini mengandung etika bagaimana seorang guru tetap rendah hati. 

Al Quran bukan perkataan manusia, jika kita mengembangkan pola pikir dari Al Quran, kita telah mengikuti pola pikir yang diajarkan Tuhan kepada para nabi hingga sampai kepada kita. Intinya adalah segala yang dilakukan guru hanya sebagai faktor eksternal yang mengondisikan situasi menuju ke arah baik. 

Inilah filosofi guru yang didasari pada kitab suci Al Quran, "Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (Al A'raaf, 7:188).

Secara hakikat, guru tidak berada pada posisi sebagai penjamin dan penentu keberhasilan murid, tapi sebagai pelaku penyampai dan pemberi kabar gembira. Guru tugasnya menggoda. Jika setan menggoda murid untuk berbuat jahat, guru menggoda murid untuk berbuat baik.

Mengapa ada orang kuliah di universitas terbaik, nasibnya kurang baik. Mengapa ada orang pendidikannya tinggi, penghasilannya lebih kecil dari orang yang tidak punya pendidikan tinggi? Itulah fakta bahwa keberhasilan terjadi pada siapa yang dikehendaki Allah. 

Lalu apa yang harus diajarkan pada murid-murid oleh guru? Jawabannya ada di potongan ayat ini. "Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. (Al A'raaf, 7:188)."

Interpretasi dari potongan ayat ini adalah karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tindakan yang paling aman untuk kita lakukan adalah berbuat baiklah sebanyak banyaknya, karena Allah berjanji akan membalas kebaikan dengan yang lebih baik. Inilah pesan yang harus diulang-ulang oleh guru agar murid-murid punya harapan bisa hidup lebih baik di masa depan.***