Sunday, July 19, 2026

MENGANUT AGAMA ATAU PEMIKIRAN?

Oleh: Muhammad Plato

Apakah selama ini kita menganut agama atau pemikiran? Di dalam Islam sumber ajaran agama sudah jelas yaitu Al Quran dan hadis Rasulullah. Tanpa merujuk kepada dua sumber ini, seseorang tidak dapat dikatakan beragama. 

Sekalipun Al Quran dan hadis dinarasikan oleh orang per orang atau kelompok, keyakinan seseorang tidak pada orang atau kelompok, tapi pada Al Quran dan hadisnya. Pergeseran umat dalam beragama seiring dengan waktu telah bergeser bukan pada sumber pokok ajaran agama, tapi pada individu dan kelompok. 

Pengajaran beragama perlu di riset ulang, dikembalikan pada sumber aslinya. Pertentangan antar kelompok pemeluk Islam, sejak meninggalnya Nabi Muhammad masih terus terbawa hingga sekarang. Pertentangan antar kelompok karena keuasaan atas dasar keturuan menjadi keyakinan dalam beragama. Kelompok-kelompok keturunan yang ingin mendapat pengakuan mengeluarkan pandangan-pandangan keagamaan yang kadang bias dengan kepentingan.

Pertentangan antar kelompok keturunan keras terjadi di wilayah Timur Tengah hingga sekarang masih terjadi. Konflik yang masih terjadi sekarang terjadi antara kelompok Syiah dan Sunni. Dua kelompok ini masing-masing membawa pemikiran dalam ajaran Islam. Masing-masing pengikut membenarkan dan menyalahkan berdasarkan garis pemikiran dari kelompoknya masing-masing.

Ada batas yang sangat abstrak untuk membedakan mana agama dan mana pemikiran. Ketika narasi-narasi kebenaran diatasnamakan kelompok atau aliran, maka dia sedang tidak menganut ajaran agama tapi pemikiran sebuah kelompok. Hal paling abstrak lagi adalah ketika mengeluarkan dasar Al Quran dan hadis dengan niat membenarkan kelompoknya. 

Untuk mengembalikan agama pada sumber dasarnya, perlu ada gerakan kembali pada Al Quran dan hadis. Kebenaran dalam Al Quran dan hadis dinarasikan ketika berbicara ajaran agama Islam, bukan mengatasnamakan kelompok atau aliran. 

Islam bukan sunni dan bukan syiah, Islam adalah agama yang diajarkan Nabi Muhammad bersumber pada Al Quran dan hadis. Penganut agama Islam di seluruh dunia adalah satu kesatuan, tidak membeda-bedakan diri dengan kelompok, keturunan, atau aliran. 

Untuk mengembalikan kemurnian ajaran agama, perbedaan-perbedaan budaya dalam beragama tidak dibesar-besarkan menjadi konflik kelompok atau aliran agama. Umat beragama harus diberi batasan mana yang murni ajaran agama dan mana yang mengatasnamakan budaya atau kelompok. 

Semua pemuka agama sepakat kebenaran milik Allah, bukan milik ulama, pemikir, kelompok, atau aliran. Siapa yang mengajarkan agama untuk mengaku sebagai kelompok pemilik kebenaran, atau menyalahkan kelompok lain di luar kelompoknya, dia telah melampaui batas yang ditetapkan Allah.

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (Al Baqarah, 2:147).

Pengajaran agama sebaiknya lebih banyak menjelaskan apa yang terkandung dalam Al Quran dan hadis tentang sikap-sikap keteladan Nabi Muhammad dalam menjalankan agama. Tidak ada manusia yang patut diikuti kecuali Nabi Muhammad. 

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujuran, 47:10).

Konflik sesama muslim yang terjadi di Timur Tengah, sekalipun mengaku keturunan Nabi Muhammad, dia telah bertentangan dengan kebenaran dari Allah bahwa sesama muslim bersaudara dan seharusnya mengutamakan hidup damai jika mereka beriman kepada Al Quran.*** 

No comments:

Post a Comment