Saturday, December 30, 2017

MOTIVATION FROM GOD


OLEH:
MUHAMMAD PLATO

“Bagi para pejuang, nol adalah nilai angka tertinggi. Dan nol lah yang meninggikan derajat manusia”. (toto suharya, 2017).

Saya sudah jelaskan, bahwa nol adalah lambang dari kasih (Rohman) dan sayang (Rohim) Tuhan. Sebagaimana pendapat KH. Fahmi Basya, kata bismillahirohmanirrohiim dalam surat-surat selain Alfatihah tidak memiliki nomor. Maka bismillahirrohmaanirrohiim harus diberi nomor angka NOL.

Rohman dan Rohimnya Tuhan adalah nilai yang tidak bisa dibanding dengan angka 1,2,3…dst. Nilai angka nol dengan lambang (0), berarti bukan kosong, angka ini punya nilai melebihi angka-angka yang lain.

Di dibalik angka nol tersimpan karakter-karakter Tuhan. Jika anda mendapatkan angka 10 juta, 20 juta, 30 juta per 3 hari kerja, angka tersebut tidak akan punya nilai apa-apa dihadapan Tuhan, kecuali Anda menolkan minimal 2,5%, 10%, 50% atau 100% dari penghasilan Anda.

Zero is motivation from god, who one can be a great leader and glory in the world from God.

Nol di sini adalah karakter dermawan, sebagai refresentasi dari sifat Tuhan Yang Maha Pemurah. Semakin besar nol yang anda buat, maka nol berubah menjadi refresentasi dari wujud karakter jiwa rela berkorban.

Di balik angka Nol juga tersimpan karakter sabar dan tawakal. Mereka yang kehilangan angka 1M, 2M, 3M, akan merasa kehilangan yang sangat hebat. Mereka yang kehilangan jabatan dan kedudukan tinggi, akan mengalami lost power sindrom. Kehilangan jumlah yang besar, kedudukan yang tinggi, cinta sejati adalah penderitaan.

Penderitaan diciptakan Tuhan untuk menciptakan benda dan makhluk berkualitas tinggi. Benda-benda berkualitas tinggi seperti berlian harus berada di lapisan bumi paling bawah karena harus dihimpit oleh bumi jutaan ton. Manusia-manusia agung lahir dari krisis dan tekanan hebat yang dihadapinya.

Nol adalah penderitaan karena manusia merasa kehilangan, dan terhimpit berbagai masalah. Tetapi dari penderitaan dan himpitan masalah inilah, Tuhan melatih manusia menjadi manusia berkekuatan dua sampai 10 kali lipat, dengan diberikannya kemampuan (kompetensi) bersabar, dan tawakal.

Nol adalah rasa damai dan kemenangan. Percekcokan, perkelahian, dan peperangan, terjadi karena memperebutkan angka 1 sampai dengan 9. Dalam percekcokan, perkelahian, dan peperangan, selalu berakhir setelah ada yang kalah. Mereka yang kalah adalah mereka yang mendapatkan nol dan menjadi penyebab damai.

Nol sebagai lambang kekalahan adalah penyebab kemenangan. Jepang menyerah kepada sekutu, dan kini situasinya berbalik Jepang menjadi pemenang, dengan menjadi pemilik insdustri otomotif dunia. Maka sebenarnya mereka yang kalah dan yang mengalah adalah yang jadi pemenang.

Nol adalah kegagalan. Manusia-manusia gagal adalah mereka yang tidak bisa mencapai target tujuan hidupnya. Arti kegagalan dari Tuhan adalah harapan dan optimisme. Oleh karena itu pemilik nol (gagal) yang banyak adalah mereka yang telah dijanjikan Tuhan akan mendapat kemenangan besar.

Nol adalah motivasi dari Tuhan, agar manusia menjadi pengasih, dan penyayang (dermawan). Nol adalah motivasi dari Tuhan agar manusia rela berkorban. Nol adalah motivasi dari Tuhan agar manusia menjadi penyabar. Nol adalah motivasi dari Tuhan agar manusia tetap optimis. Nol adalah motivasi dari Tuhan agar manusia cenderung hidup damai. Nol adalah motivasi dari Tuhan agar manusia jangan takut kalah atau gagal.

Nol adalah motivasi dari Tuhan agar manusia menjadi pemimpin-pemimpin besar dan pemenang berjiwa besar. Zero is motivation from god, who one can be a great leader and glory in the world form God. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Of Trainer @logika_Tuhan)

Tuesday, December 26, 2017

SEMUA TUJUAN AKHIRAT


OLEH
MUHAMMAD PLATO

Jika ingin dimudahkan jalan mudah, maka yakinilah bahwa akhirat adalah tujuan akhir. Dan siapa yang mendustakan akhirat maka Allah akan memudahkan jalan yang sulit. Inilah pola pikir yang sesuai petunjuk Tuhan. Dasar berpikirnya bisa kita temukan dalam keterangan ayat di bawah ini; 

POLA LOGIKA PERTAMA

“… MEMBENARKAN ADANYA PAHALA yang terbaik (surga), MAKA  Kami kelak akan menyiapkan baginya JALAN YANG MUDAH”. (AL Lail, 92:6-7)

POLA LOGIKA KEDUA

“… MENDUSTAKAN PAHALA yang terbaik, MAKA kelak Kami akan menyiapkan baginya (JALAN) YANG SUKAR”. (Al Lail, 92:9-10)

Fakta dilapangan secara psikologis, orang-orang yang tidak begitu fokus pada pahala akhirat, mereka akan mengalami kesulitan melakukan hal-hal baik. Sebagai contoh, orang-orang yang bergerak dalam bisnis atau dunia kerja, kegiatan bisnis yang semata untuk mencari keuntungan dunia akan terasa sulit.


SUASANA SETELAH GERAKAN SHALAT SUBUH BERJAMAAH DI MASJID AGUNG CIANJUR JAWA BARAT
Bisnisnya bisa berjalan lancar, tetapi hidupnya tertekan karena dituntut untuk menghasilkan keuntungan dalam bentuk material. Inilah yang dimaksud dengan Allah memudahkan jalan yang sukar. Bisnisnya berjalan dengan lancar tetapi hidupnya tertekan, stres, dan tidak pernah ada kepuasan. Semakin besar keuntungan material (harta) di dapat semakin besar rasa takut kehilangan hartanya.

Demikian juga mereka yang bekerja demi material, mereka hanya bergerak jika melihat ada upah material. Orang-orang seperti ini akan bekerja dengan berat karena ukuran kerja mereka adalah upah material. Mereka bekerja dalam tekanan, dan tidak bisa menikmati pekerjaannya dengan tenang. Mereka terlihat seperti mendapati jalan mudah, padahal sesungguhnya mereka mengalami kesukaran dalam hidupnya, harta yang dimilikinya tidak dapat memberikan kepuasan.

“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya …” (Al Lail, 92:11)

Sebaliknya bagi mereka yang berbisnis dengan niat membantu orang dengan harapan balasan pahala akhirat, mereka akan mengalami jalan mudah dalam hidupnya. Jalan mudah itu mereka dapatkan karena bisnisnya tidak dibayang-bayangi oleh rasa takut rugi atau kehilangan harta. Harapannya kepada balasan akhirat akan memudahkan jalan hidupnya karena tidak dibatasi oleh keuntungan yang sifatnya material. Jiwanya bebas dari ikatan material, maka seluruh hidupnya akan terasa mudah. Tidak percaya silahkan anda praktekkan…

Demikian juga para pekerja, mereka yang bekerja semata-mata membantu, melayani kebutuhan orang, pekerjaannya akan terasa mudah, dan layanan yang diberikannya melebihi batas minimal layanan yang diberikan.

Bekerja dengan harapan pahala akhirat, akan membantu kinerja mereka melebihi batas kemampuannya. Mereka bisa bekerja dengan tekun, pantang mengeluh, dan penuh kesabaran. Bagi mereka, pekerjaanya tidak menjadi beban tapi menjadi mudah dan menyenangkan jiwa.

“… dia benar-benar mendapat kepuasan”. (Al Lail, 92:21)

Tuhan maha pemurah yang memberi petunjuk jalan bagi manusia. Maka jelaslah bagi kita semua, bahwa akhirat, diciptakan oleh Allah Tuhan Yang Esa untuk memudahkan jalan manusia. Sesungguhnya manusia-manusia yang hidupnya bebas adalah mereka yang terbebas dari ketergantungan ada material.

Bagi yang memahami dengan akalnya, cara-cara Allah membebaskan manusia dari penderitaan kehidupan dunia dengan mengajarkan berpikir tentang bagaimana membenarkan tentang  adanya kehidupan akhirat. Untuk itu di dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan dengan setegas-tegasnya bahwa sesungguhnya kehidupan akhiratlah yang nyata, bukan kehidupan dunia.

Sesungguhnya (yang disebutkan ini “kehidupan akhirat”) adalah suatu keyakinan yang benar. (Al Waaqi’ah, 56:95)

Pola pikir sederhana yang harus kita pahami dan latihkan dalam pikiran, membenarkan pahala kehidupan akhirat adalah sebab jalan hidup mudah, dan barang siapa mendustakan maka dia jadi sebab jalan sukar. Itulah ketetapan dari Tuhan Yang Esa.

Demikianlah Allah Tuhan Yang Esa, mengajarkan berpikir sehat kepada kaum berakal. Dari panduan berpikir sehat inilah kelak manusia akan menemukan kesejahteraan hidup dunia dan akhirat. Semoga Allah terus membimbing kita semua untuk terus mengajarkan cara berpikir sehat sesuai dengan petunjuknya. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan)

Thursday, December 21, 2017

KECERDASAN MENCARI MATI


OLEH:
MUHAMMAD PLATO

Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan asy-Syaikh al-Albani rahimahullahu dalam ash-Shahihah no. 1384). (http://www.daaruttauhiid.org)

Hadis di atas adalah dasar berpikir yang melandasi, bahwa hidup ini adalah dalam rangka mencari kematian. Mengapa demikian? Karena resiko yang paling berat dalam hidup ini adalah mati. Kematian yang paling beresiko tinggi adalah mati dalam keadaan kufur.

Mengapa hidup ini dalam rangka mencari mati? Kematian adalah ujung dari kehidupan, dan hidup kita dinilai dari ujungnya. Jika ujungnya baik dia beruntung, dan jika ujungnya buruk, dia merugi. Maka dari itu hidup ini dalam rangka mencari ujung kematian dalam keadaan baik.

UNTUK BEKAL MATI, SILAHKAN ANDA DERMAKAN UNTUK MEMBELI BUKU INI DENGAN MENGAKSES www.logika-tuhan.com
Mati dalam kekufuran adalah kebangkrutan yang hakiki. Setelah kematian ada perhitungan bahwa seluruh perjalan hidup akan dihitung dan ditimbang. Jika berat pada baik dia beruntung, dan jika berat pada buruk dia merugi. Maka yang paling beruntung adalah yang mati dalam kebaikan, dia akan akan tercatat sebagai orang yang mati dengan membawa amal baik.

Untuk itu orang-orang cerdas, dalam hidupnya dia akan mencari kematian dalam keadaan berserah diri kepada Tuhan (muslim). Bagi orang cerdas, ujung dari kehidupan dunia ini harus baik, maka orang-orang cerdas menginginkan mati dengan ujung baik.

dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.
(Adh Dhuhaa, 93:4)

Jika di akhirat, Allah menilai manusia dari niat-niatnya, maka sesungguhnya kebaikan itu dinilai dari niat-niatnya. Maka untuk mencari  ujung baik kehidupan dunia ini, niat harus dijaga selalu baik.

Orang-orang cerdas adalah mereka yang selalu menjaga niat baik dalam segala aktivitas. Maka niat yang harus dijaga oleh orang-orang cerdas adalah mencari mati dalam kebaikan. Seluruh aktivitas hidup harus diniatkan mencari mati dalam kebaikan, agar hidup setelah mati baik.

Kematian adalah pembatas angan-angan hidup manusia di dunia. Dengan mengingat mati, kecintaan pada dunia, tahta, dan wanita, akan hampa. Setelah mati yang diperhitungkan bukan material, tetapi niat-niatnya yang ada dalam dada.

Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, (Al ‘Aadiyaat, 100:9-10)

Jika niat ada dalam hati dan pikiran manusia, maka pikiran harus dilatih untuk mengingat kematian dengan berulang-ulang mengingat kematian dalam seluruh aktivitas hidup.

HIDUP INI UNTUK MENCARI MATI.

Kita makan untuk mencari mati
Kita minum untuk mencari mati
Kita bekerja untuk mencari mati.

Kita mencari harta untuk mati.
Kita mencari nafkah untuk mati.
Kita mencari jodoh untuk mati.
Kita mencari ilmu untuk mati.
Kita mencari kedudukan untuk mati.

Kita sembahyang untuk cari mati.
Kita bersedekah untuk cari mati.
Kita beribadah untuk cari mati.

Kita mencari mati, karena ada kehidupan setelah mati.
Seluruh aktivitas niatnya untuk hidup setelah mati.
Seluruh aktivitas hidup kita mencari mati di jalan Tuhan.

Di cari atau tidak pasti mati.
Dan kematian itu terus mendekati.

(Kang Master, 21 Desember 2017)

Demikianlah orang-orang cerdas mencari mati, agar hati dan pikirannya tetap baik, karena hidup adalah mencari mati, mati di jalan Tuhan. Inilah kecerdasan manusia cerdas!!! Wallahu ‘alam.

(Master Trainer @logika_Tuhan).

Saturday, December 16, 2017

TUHAN MENEGUR, JAWAB LAH!


OLEH:
MUHAMMAD PLATO

Tulisan ini tidak hendak menghakimi atau merendahkan prilaku siapa pun di muka bumi ini. Tulisan ini murni mecoba membaca fenomena alam berdasarkan informasi yang mampu saya terima dari kitab suci Al-Qur’an yang saya imani. TULISAN INI UNTUK SELURUH UMAT MANUSIA.

Selama ini, kita telah lalai terhadap keberadaan kitab suci yang kita imani. Telah banyak terjadi bencana di bumi ini, tetapi kita hanya membacanya sebatas gejala alam. Wawancara televisi hanya sibuk memberitakan tentang kerusakan dan proses terjadinya gempa dari ilmu alam. Sedikit sekali berita yang mengingatkan bahwa kita sedang ditegur Tuhan.

Tulisan ini hanya sebatas mengajak, mengingatkan, dan mencoba menjelaskan, bahwa kitab suci Al-Qur'an adalah sumber informasi yang sudah tidak disangsikan lagi kebenarannya. Informasinya bisa terus kita gali untuk menjelaskan semua fenomena yang terjadi di alam.

GEMPA ITU TERJADI KARENA DUSTA MANUSIA KEPADA TUHAN

Kejadian alam bukan hanya kejadian alam semata. Jika kita memahami bencana alam sebagai fenomena alam belaka, apa manfaatnya buat kita? Paling hanya bisa belajar bagaimana menghindar dari bencana, atau bisa menciptakan teknologi agar terhindar dari bencana.

Tapi, jika kita bisa selamat dari bencana apakah kita akan selamat dari kematian? Maka pelajaran apa yang seharusnya kita dapatkan dari bencana? Agar pelajaran itu bisa menyelamatkan hidup kita dari bencana di dunia dan akhirat.

Jika kita hanya belajar dapat menghindari bencana dari bencana, sesungguhnya ilmu yang kita pelajari tidak tuntas. Setiap pembelajaran harus sampai pada tingkat perubahan prilaku. Maka untuk mencapai tingkat perubahan prilaku, setiap pembelajaran harus sampai menemukan nilai kebenaran hakiki.

Untuk mencapai kebenaran hakiki, setiap kejadian kita baca tidak boleh lepas dari petunjuk Tuhan yang dijelaskan dalam kitab suci. Tuhan memberi petunjuk berlogika dalam membaca fenomena alam. Logika sebab akibat terjadinya bencana dapat kita temukan dalam kitab suci Al-Qur’an.

Dan sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang BERAKAL. Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu'aib, maka ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan". Maka MEREKA MENDUSTAKAN Syu'aib, lalu MEREKA DITIMPA GEMPA YANG DAHSYAT, dan jadilah mereka mayit-mayit yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka. (Al ‘Ankabut, 29:35-37).

Informasi kejadian gempa di dalam Al-Qur’an, berlaku sepanjang hayat. Bagi orang-orang berakal ayat ini cukup jelas mengabarkan apa sebab terjadinya gempa. Logika sederhana ini bisa dipahami oleh anak-anak sekolah dasar.

SEBAB
AKIBAT
MENDUSTAKAN
GEMPA DAHSYAT

Inilah pelajaran penting bagi kaum berakal. Gempa adalah tanda-tanda (teguran) Tuhan kepada manusia bahwa prilaku buruk berpaling kepada selain Tuhan, tidak percaya pada hari akhir, dan perbuatan-perbuatan yang merusak tatanan kehidupan masyarakat adalah penyebab gempa yang membinasakan.

Jika logika terjadinya gempa dapat kita pahami sebagaimana disampaikan dalam kitab suci, maka solusinya untuk menghindari gempa, selamat dari gempa adalah dengan meningkatkan ketaatan kita kepada Allah dengan berbuat hal-hal yang disukai oleh Allah Tuhan Semesta Alam.

Perbuatan-perbuatan yang disukai Allah sebagaimana diperintahkan, memperbanyak shalat, memperbanyak sedekah. Memperbanyak shalat artinya latihlah pikiran dan hati untuk selalu menggantung kepada Allah semata, dan memperbanyak sedekah dengan cara banyak-banyak berbuat baik kepada sesama manusia dan lingkungan alam. Dengan demikian, Allah akan berkenan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Gempa adalah tanda bahwa Tuhan sedang menegur, “Kamu telah banyak berdusta kepada Ku!" Apakah kamu tidak berpikir? Jawab lah, hai kaum yang berakal! "kami akan memperbaiki diri dan lebih taat lagi kepada Mu. Ampunilah kami, maafkanlah kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Pengasih”. Wallahu ‘alam.

(Master Trainer @logika_Tuhan)