Sunday, December 10, 2017

GOLONGAN PERTENGAHAN


OLEH
MUHAMMAD PLATO

Mengapa dunia ini cenderung menipu? Untuk memahaminya kita harus mengkaji tiga jenis ilmu logika yang akan saya jelaskan di bawah ini. Berdasarkan sumber pengetahuannya, ilmu logika terbagi menjadi tiga.

PERTAMA ADALAH LOGIKA BERSUMBER PADA PENGETAHUAN ALAM. Logika ini dikembangkan oleh para ilmuwan yang konsen melakukan penelitian di alam. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengamatan dan pencatatan. Indera yang digunakan adalah penglihatan. Setiap kejadian mereka catat dan dihubungkan dengan pola sebab akibat. Kemudian diuji berulang-ulang melalui pengamatan sampai menemukan sebuah pola baku sebab akibat kejadian hingga mereka jadikan sebuah ketentuan yang disebut teori.

Dalam pemahaman logika dari pengetahuan alam, setiap kejadian sebab akibat yang tidak bisa dibuktikan atau dilihat di alam, tidak dianggap sebagai kebenaran. Cara pandang seperti ini disebut dengan logika materialis (empiris)

Logika berpikir materialis memiliki kelemahan, karena tidak semua yang diamati dapat memenuhi kriteria kebenaran. Sebagai contoh, genangan air yang kita lihat di jalan aspal di siang hari, bukanlah air sesungguhnya yang kita lihat. Bintang yang kita lihat kecil di langit, sesungguhnya sebuah benda yang besar. Bumi yang kita lihat seperti diam, sesungguhnya dia bergerak.  

KEDUA ADALAH LOGIKA BERSUMBER PADA  PENGETAHUAN HASIL PENALARAN. Logika ini dikembangkan dengan menggunakan kemampuan manusia dalam bernalar, menghubung-hubungkan sebuah kejadian dengan perenungan. Pengetahuan yang ada dalam pikiran diolah dihubungkan dengan pola sebab akibat, sampai menemukan pola hubungan sebab akibat langsung (rasional). Pola hubungan sebab akibat ini kemudian diuji lewat percobaan untuk membuktikan hasil pemikirannya. Pandangan semacam ini mewakili golongan rasionalis.

Bernalar adalah menghubungkan pengetahuan dengan pengetahuan yang ada dalam memori, dengan pola hubungan sebab akibat. Sesuatu bisa dikatakan masuk akal jika mengikuti pola hubungan sebab akibat langsung.

Golongan ini memiliki kelemahan karena apa yang dipikirkan sering tidak sesuai dengan kenyataan. Ketika kita merencanakan sesuatu, sering terjadi tidak sesuai dengan kenyataan. Semisal, dalam hitungan angka seharusnya bisnis kita untung, tetapi dalam kenyataannya gagal. Orang-orang rasionalis juga sama, jika suatu kejadian tidak bisa dipahami dengan nalar, maka kejadian itu dianggap sebagai khayalan dan bukan kebenaran.

Ketika nalar kita mengangap bahwa penyebab kemiskinan adalah karena kebodohan, ternyata orang-orang bodoh banyak yang memiliki kekayaan melebihi orang-orang pintar. Ketika orang-orang rasionalis berpikir bahwa dengan memberi kebebasan kepada manusia, dunia akan sejahtera, ternyata kemiskinan malah merajalela.

Sumber pengetahuan berdasar pada alam dan pikiran, ternyata tidak bisa menjawab sepenuhnya tentang apa hakikat kehidupan sesungguhnya. Mereka selalu terjebak dalam lingkaran berpikir yang tiada ujung dan tiada pangkal. Dalam istilah mereka hal ini disebut dengan lingkaran setan (vicious circle)

JIka kedua model berpikir ini kita gunakan untuk mencari kesejahteraan hidup, manusia cenderung terjerumus pada kehancuran, dan jalan pikirannya tersesat. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa kedua golongan ini terjebak pada alam nyata dan pikirannya, dengan menganggap perbuatan buruk menjadi baik dan perbuatan baik menjadi buruk.

fajayyana lahumussyaitoonu ‘amalahum
… syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk),
(An Nahl, 16:63)

Pornografi, prostitusi , judi, mabuk, perkawinan sejenis, riba, menjadi perbuatan baik dilegalisasi negara, dan dilindungi undang-undang. Bagi mereka dunia sangat menyenangkan, dan setelah kematian tidak ada kehidupan.

KETIGA ADALAH LOGIKA BESRUMBER PADA PENGETAHUAN DARI KITAB SUCI DAN HADIS. Dalam kitab suci dijelaskan, ‘Katakanlah (Muhammad): "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal sehat, agar kamu mendapat keberuntungan."’ (Al Maa’idah, 5:100).

Berdasarkan keterangan di atas, dapat dipahami bahwa manusia tidak bisa menemukan kebenaran dengan mengandalkan pengetahuan alam dan nalarnya. Manusia harus mendapat  petunjuk dari  Yang Maha Mengetahui. Dia lah yang maha tahu segala rahasia langit dan bumi.

Logika yang bersumber pada pengetahuan dari kitab suci, saya beri nama logika Tuhan, karena kita suci sumbernya adalah Tuhan, Allah swt. Logika yang bersumber dari kitab suci, tidak menapikan kebenaran empiris dan rasional. Untuk menemukan kebenaran Allah juga memerintahkan kepada manusia untuk mengamati, dan berpikir menggunakan akal sehat berdasar prtunjuk pengetahuan dari Tuhan.   

Dalam kitab suci kita dapat menemukan logika sebab akibat berdasarkan pengetahuan dari Tuhan. Berlogika dengan sumber pengetahuan dari kitab suci, tidak mendorong manusia jadi berpikir irrasional atau mistis, justru sebaliknya. Dengan bersumber pengetahuan dari kitab suci, selain kita bisa memahami logika dari kitab suci, kita dapat mengembangkan kemampuan berpikir rasional dan empiris secara berbarengan.

Saya berkesimpulan, dengna mengembangkan ilmu berpikir dari kitab suci dan hadis, kita bisa menemukan tujuan-tujuan hidup di dunia tanpa meninggalkan akhirat dan sebaliknya. Dalam panduan kitab suci, dalam berpikir kita akan dipandu menjadi umat pertengahan, yang menjaga kesimbangan antara kebutuhan hidup di dunia dan akhirat.

wamintahti arjulihim minhumm ummatum muqqtasidah

Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al Qur'an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka. (Al Maidah, 5:66)

Golongan pertengahan ADALAH MEREKA YANG BERPIKIR DENGAN PETUNJUK TUHAN, DAN MENCARI KEBENARAN DI ALAM DENGAN KEMAMPUAN AKAL NYA, UNTUK MENINGKATKAN KEYAKINANNYA KEPADA TUHAN. DIALAH ORANG ORANG YANG BERAKAL SEHAT (ULIL ALBAB).

Kita umat Nabi Muhammad saw adalah umat pertengahan itu. Umat yang menjalankan hukum Al-Qur’an yang diturunkan dari Tuhannya. Dia adalah yang berpikir dengan logika dari petunjuk Tuhan. Wallahu ‘alam.

 (Master Trainer @logika_Tuhan)

No comments:

Post a Comment