Friday, November 9, 2018

NABI MUHAMMAD PATAH HATI?


OLEH: MUHAMMAD PLATO
Menyimak diskusi lintas agama, ternyata hal yang menjadi permasalahan dari non muslim, adalah mereka tidak yakin bahwa kitab suci Al-Qur’an adalah wahyu. Dengan demikian mereka tidak meyakini bahwa Nabi Muhammad saw sebagai Nabi. Padahal jika mereka membaca sejarah, hanya Nabi Muhammad saw yang sampai sekarang jejak-jejak kenabiannya masih terekam dalam catatan sejarah. Bukti-bukti peninggalan, tempat, waktu, Kenabian Nabi Muhammad saw sampai sekarang masih terekam.

Untuk itulah, saya memohon kepada pemerintah Arab Saudi, untuk mempertahankan situs-situs sejarah kenabian Nabi Muhammad saw. biarkan tempat, benda itu ikut menjadi saksi kenabian Nabi Muhammad saw. Kita harus kasihan, karena ada orang-orang yang sudah terjebak dengan kebenaran materi, mereka sulit percaya jika tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri. Siapa tahu, dengan menjaga situs-situs dan benda-benda bersejarah itu, orang-orang yang sudah terjebak dengan kebenaran materi bisa mengenal Nabi Muhammad saw dan mendapat hidayah. Kita harus menolong mereka dengan memperkenalkan Islam dan siapa Tuhannya.

Dari 25 Nabi yang pernah diutus Allah, didalamnya termasuk Nabi yang diutus kepada orang Yahudi dan Nasrani. Cerita kehidupan Nabi Muhammad sejak lahir sampai meninggal, dibanding dengan nabi-nabi sebelumnya, ceritanya  tergolong sangat lengkap masih terekam. Untuk itulah untuk kehidupan pada abad sekarang kisah Nabi Muhammad saw, jika kita teliti banyak menginspirasi dan menjadi contoh teladan untuk umat manusia di zaman sekarang.
Diceritakan dalam kisah Nabi Muhammad sebelum kenabiannya, diceritakan dalam sejarah hidupnya berdasarkan hadis dan fakta-fakta silsilah kekeluargaannya, Nabi Muhammad saw menjalani hidup seperti manusia biasa. Beliau bekerja, mengembal kambing, berdagang, layaknya seperti manusia seperti kita menjalani hidup. Beliau kehilanagan ayah, ibu, kakek, paman, dan merasakan kesedihan yang mendalam akibat ditinggalkan orang-orang tercintanya.

Untuk mejaga eksistensinya sebagai pemuda dewasa, Nabi Muhammad saw. mengadu nasib dengan menjadi seorang pedagang. Modal kejujuran yang disandangnya sebagai al-amin, Beliau berhasil menjadi seorang pedagang  sukses dan terpercaya. Kesuksesannya dalam berdagang dan kejujurannya, telah memikat seorang perempuan terhormat dan kaya yaitu Siti Khadijah. Pada usia 25 tahun beliau menikah dengan Siti Khadijah.
Dari pernikahannya dikaruniai 6 orang anak, semua anaknya meninggal mendahuluinya. Dua anak laki-lakinya meninggal di saat usianya masih balita. Bisa kita bayangkan bagaimana Nabi Muhammad kehilangan anak laki-laki tercinta, yang pada saat itu dalam budaya Arab, anak laki-laki adalah penjaga eksistensi keluarga. Inilah kisah hidup Nabi Muhammad saw yang betul-betul realistis menyentuh bumi dan kisah hidupnya dapat dialami oleh manusia-manusia biasa yang hidup di zaman sekarang. Untuk itulah Nabi Muhammad saw contoh teladan untuk kehidupan kita sekarang.

Bagi anak-anak muda yang merasakan pernah ditolak lamarannya kepada seorang pasangan wanita, ternyata bisa belajar kepada Nabi Muhammad saw. Jangankan Anda sebagai manusia biasa yang tidak tahu akan jadi apa, Nabi Muhammad saw pernah merasakan bagaimana lamarannya ditolak karena sudah wanita yang dilamarnya sudah mendapatkan jodoh seorang pemuda kaya.
Dalam kisah hidup Nabi Muhammad saw, karya seorang mualaf yang menjadi penyair sufi modern kelahiran Amerika Serikat, pernah tinggal di Inggris, lama belajar Islam di Kairo, Martin Lings (2008, hlm.40)  dikenal dengan nama Abu Bakr Siraj Al-Din, dari sumber-sumber kisah klasik, menceritakan;

“Abu Thalib memiliki beberapa putri. Diantara yang ada yang telah mencapai usia nikah, namanya adalah Fakhitah, namun kemudian ia dipanggil dengan Umm Hani dan senantiasa dikenal dengan nama itu. Rasa cinta tumbuh antara dia dan Muhammad (belum mendapat wahyu sebagai Nabi). Kemudian Muhammad memohon kepad apamannya agar diizinkan menikahi putrinya. Namun Abu Thalib memiliki rencana lain. Hubayrah putra saudara ibu Abu Thalib yang berasal dari Bani Makhzum, juga telah melamar Umm Hani. Hubayrah bukan saja seorang pria kaya raya, tetapi seorang penyair berbakat, seperti halnya Abu Thalib sendiri. Terlebih lagi, kekuasaan Bani Makhzum di Mekah demikian meningkat seiring dengan semakin merosotnya kekuasaan Bani Hasyim. Kepada Hubayrahlah Abu Thalib menikahkan putrinya, Umm Hanni. Ketika kemenakannya kembali mendekati dengan lembut, Abu Thalib hanya menjawab “mereka te;ah menyerahkan putri mereka untuk kita kawini (artinya Abu Thalib mengawini perempuan yang jadi istrinya dari Bani Makhzum), maka kita haruslah membalas kebaikan mereka. Muhammad menerima keputusan pamannya. Dengan sopan, ramah, dan lapang dada, ia mengakui bahwa dirinya belum siap untuk menikah. Itulah yang diputuskan untuk dirinya”.

Sebuah empati bisa kita rasakan bagaimana Muhammad sebelum menjadi Nabi mendapat ujian dari Allah ditolak lamarannya. Namun sikap dan kesannya sungguh anggun dan bijaksana. Semua mozaik kehidupan manusia dialami masa demi masa, secara fisik dan psikologis, oleh Nabi Muhammad sebagai manusia biasa. Demikianlah mengapa Nabi Muhammad saw layak menjadi contoh teladan bagi seluruh umat manusia hingga sekarang.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab, 33:21).  

Demikianlah kisah Nabi Muhammad saw, sebagai teladan bagi anak-anak muda. Jangan putus asa dari rahmat Allah. Masa remaja Nabi saja tidak berjalan mulus seperti yang kita inginkan. Padahal kalau Allah menghendaki, sebelum dan sesudah kenabian Muhammad, bagi Allah mudah memberikan segala kebaikan yang diinginkan manusia. Nabi saja mendapat ujian apalagi kita. Wallahu ‘alam.
(Master Trainer @logika_Tuhan)

Thursday, November 1, 2018

MENYUAP DI JALAN TUHAN!

Oleh: Muhammad Plato

            Kasus suap menyuap sebetulnya bukan masalah baru di Indonesia. Sejak dinobatkan sebagai negara terkorup di dunia, sudah pasti bermacam-macam suap ada di Indonesia. Seorang Profesor Dosen Kakak saya di sebuah Universitas swasta ternama di Bandung berbicara, suap tidak bisa hilang dengan mudah di bumi Indonesia. Bagaimana tidak, sejak dahulu nenek moyang kita selalu mengajarkan dan mempraktekkan suap.
            Setiap malam selasa, malam jumat, nenek moyang kita melakukan ritual suap kepada para leluhurnya dengan menyajikan sesajian. Mereka punya keyakinan jika tidak melakukan acara ritual ini, akan kehilangan berkah dalam hidupnya. Saking percayanya, kebiasaan ini bisa bertahan turun-temurun mungkin sampai sekarang.
            Demi mempertahankan ritual suap dan proses adaptasi dengan zaman, ritual suap antara manusia dengan roh nenek moyang berubah menjadi suap diantara sesama manusia. Suap dilakukan untuk memuluskan proyek yang dinilai bisa menghasilkan uang banyak. Suap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tiada hari tanpa suap, itulah mungkin pepatah yang pas untuk menggambarkan kehidupan di Indonesia.

BERPIKIRLAH ADA SUAP YANG HALAL YAITU MENYUAP TUHAN
            Alang kepalang, masyarakat kita sudah biasa dengan suap, mau dibagaimanakan lagi, kita tidak bisa hidup tanpa suap. Satu-satunya jalan kita harus ikut-ikutan main suap. Kalau tidak ikut-ikutan suap jelaslah tidak akan kebagian tender, alias dapur tidak ngebul.
            Tapi kita modifikasi sedikit cara suapnya. Kalau masyarakat dahulu melakukan suap terhadap nenek moyang sebagai perbuatan syirik, dan masyarakat sekarang main suap kepada sesama manusia itu juga dosa besar karena berprilaku curang, yang halal main suap kepada Allah yang memiliki kekuasaan rezeki di dunia dan akhirat. Tentu saja menyuap Allah juga harus sembunyi-sembunyi karena itulah hakikat suap. Semakin tersembunyi, suap semakin baik.
            Jika selama ini orang-orang menginginkan kekayaan, jabatan, dengan cara suap, kita juga lakukan hal yang sama. Jika orang-orang melakukan suap kepada pejabat, atau atasan penentu kebijakan, kita juga harus lakukan suap kepada Penentu Keputusan yaitu Allah SWT.
            Jika ingin jadi pegawai negeri (PNS), tentara, guru, dan polisi, berani keluarkan dana  30 sampai 150 juta, kita juga harus berani. Mengapa kita tidak sanggup keluarkan juga dana sebesar itu untuk Allah. Kalau Anda orang beriman suap saja Allah dengan dana sebesar itu. Caranya keluarkan dana sebesar itu untuk fakir miskin, panti asuhan, dan kaum dhuafa.
            Suap kepada manusia hasilnya bisa kita saksikan, banyak yang tertipu oleh oknum-oknum yang menjanjikan pekerjaan dan jabatan. Para penyuap kehilangan uang dan akhirnya jatuh miskin. Sekarang anda pikirkan bahwa uang yang anda berikan kepada fakir miskin untuk menyuap Allah, akan dikembalikan 10 sampai 700 kali lipat. Ini adalah janji Allah dalam Al-Qur’an surat Al An’am ayat 160 dan Albaqarah ayat 261. Bayangkan jika Anda menyuap Allah 30 juta saja, bukan hanya jabatan atau pekerjaan yang akan anda dapatkan, justru anda akan mendapatkan kelimpahan harta dari Allah SWT.
            Berpikirlah para penyuap! Jika saja untuk memperoleh keinginan Anda berani berbuat jahat dengan melakukan suap terhadap sesama manusia, mengapa juga Anda tidak berani berbuat baik, dengan cara menyuap Allah. Menyuap kepada manusia dan kepada Allah modalnya sama, KE-BE-RA-NI-AN. Berani buruk atau baik? Kata Mario Teguh, “pemberani itu ciri dari orang-orang beriman” Berpikirlah para penyuap!!!

(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan)