Showing posts with label psychology. Show all posts
Showing posts with label psychology. Show all posts

Sunday, March 6, 2022

PSIKOLOGI EMOSI PERANG NABI MUHAMMAD

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Perang Rusia dengan Ukraina menjadi sorotan dunia, namun kita tidak tahu apa motivasi sesungguhnya dibalik perang yang dilakukan oleh kedua negara. Rusia jelas menjadi negara berkekuatan besar tetapi jumlahnya tidak seberapa dibanding dengan kekuatan 27 negara tergabung dalam NATO yang terdiri dari beberapa negara yang punya kekuatan militer besar di dunia. Sesungguhnya, bukan Ukraina yang sedang berperang dengan Rusia tapi kekuatan yang ada dibalik Ukraina. Dapat dipahami secara emosi, Rusia akan sangat marah kepada Ukraina jika ingin bergabung dengan NATO. Tetangga dekat yang seharusnya senasib dan sepenanggungan malah milih bergabung dengan rival. Kemarahan yang sangat memuncak dari Rusia, maka dipilihlah jalan perang untuk menduduki Ukraina, sebelum Ukraina keburu berubah menjadi bagian kekuatan NATO. Perang didasari oleh psikologi dan emosi para pemimpin yang menjadi komandan tertinggi pasukan.

Dahulu, Nabi Muhammad mengalami beberapa kali perang yang sangat menguras energi pikiran, hati, dan tenaga. Dari peristiwa-peristiwa perang yang dialami Nabi, beredar sangkaan-sangkaan di masyarakat dunia, Nabi Muhammad dianggap sebagai sosok yang menyebarkan Islam dengan kekerasan, disimbolkan dengan pedang di tangan kanan dan Al-Qur’an di tangan kiri. Isu ini disebarkan oleh orang-orang yang mencoba mempelajari sejarah Islam tetapi tidak dilatarbelakangi oleh objektivitas fakta. Artinya kejujuran sebagai nilai dasar bagi seorang ilmuwan tidak dipegang teguh. Sebagai seorang muslim, penulis tidak hendak mengklarifikasi sangkaan-sangkaan buruk terhadap Nabi Muhammad, tetapi penulis mencoba menyampaikan fakta dan dari fakta itu biarkan semua orang berkseimpulan.

Fakta sejarah sifatnya netral, dan penafsiran sangat tergantung pada kultur memori yang dimiliki panafsir. Fakta bahwa perang Badar, Uhud, dan Khandaq adalah perang tidak seimbang. Berdasar fakta ini, secara psikologis sangat tidak mungkin pasukan kecil berniat melakukan ekspansi pada pasukan yang berjumlah besar. 

Peperangan yang dialami Nabi Muhammad jauh dari fakta sebagai agresi, tetapi tepatnya sebagai masa-masa penderitaan Nabi Muhammad. Secara psikologis Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq merupakan tekanan batin yang sangat hebat, menguji keimanan para pengikut Nabi Muhammad. Rasa takut yang menghantui para pengikutnya pada saat perang Badar, membuat Nabi berdoa dengan doa yang sangat mengiba dan “mengancam” pada Allah, jika tidak ada pertolongan Allah maka tidak akan ada lagi manusia yang menyembah Allah.

Kemenangan perang Nabi Muhammad bukan karena pasukan kecil yang dipimpin Nabi Muhammad, tetapi dalam rekaman sejarah di Al-Qur’an dikatakan; 

"Maka bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Al-Anfaal, 8:17). 

Kekuatan perang Nabi Muhammad, adalah bantuan dari Allah, akibat penderitaan, tekanan, teror, yang melampaui batas dialami Nabi dan pengikutnya dari orang-orang yang ingin memerangi kebenaran. Pada hakikatnya Allah akan menolong bangsa-bangsa, kelompok-kelompok yang mendapat tekanan dari bangsa atau kelompok lain yang melampaui batas.  

Di bawah tekanan yang hebat, maka emosi perang yang bangkit bukan untuk melakukan agresi atau penjajahan, tetapi melakukan perlawanan untuk membela diri. Emosi untuk membela diri inilah yang sampai kapanpun akan bangkit, menjelma menjadi kekuatan melebihi kekuatan pasukan biasa. Seperti perlawanan bangsa Indonesia terhadap Penjajahan Kolonial Belanda, nafsu perang pada saat itu untuk membela diri dari tekanan dan kekerasan yang dilakukan pemerintah Kolonial Belanda. Kematian dalam perang menjadi tebusan terbaik bagi orang-orang yang merasa bertahun-tahun tertindas dan teraniaya.  

Dalam catatan biografi Nabi Muhammad SAW karya Muhammad Husain Haekal (2003, hlm. 305), dikisahkan Nabi Muhammad pada saat usai perang Uhud sangat berduka cita, melihat mayat Hamzah pamannya, dianiaya dengan membedah perutnya, Nabi merasa sangat sedih sekali sehingga ia berkata; “takkan pernah ada orang mengalami malapetaka seperti kau ini. Belum pernah aku menyaksikan suatu peristiwa yang begitu menimbulkan amarahku seperti kejadian itu”. Lalu katanya lagi, “demi Allah, kalau pada suatu ketika Tuhan memberikan kemenangan kepada kami melawan mereka, niscaya akan kuaniaya mereka dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang Arab”. Dalam kejadian ini firman Allah turun:

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. (An Nahl, 16:126-127)

Sebagai Rasul, Nabi melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dalam ayat di atas. Tiba saatnya Nabi Muhammad dan 10.000 pengikutnya menaklukkan Mekah. Hari itu bukan jadi hari pembantaian, tetapi jadi hari pengampunan masal. Nabi Muhammad tidak mengingat kebencian, kekerasan, pelecehan, dan rencana-rencana pembunuhan yang telah dilakukan masyarakat Arab di masa lalu, Nabi Muhammad melaksanakan perintah Allah yang telah mengajarkan dalam Al-Qur;an; 

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. Fushshiat, 41:34). 

Nabi Muhammad menginstruksikan tidak boleh ada darah setetespun ditumpahkan. Membalas keburukan dengan keburukan hanya akan membuat lingkaran setan, yang melahirkan keburukan terus berkelanjutan. Kemenangan perang akan diperoleh oleh bangsa-bangsa yang tidak melampaui batas sekalipun dalam peperangan atau menjadi pemenang perang.  Wallahu’alam.

Sunday, December 26, 2021

TERUNGKAP PENYEBAB SUKSES KETUA YAYASAN PCI

Oleh: Muhammad Plato

Kisah perjalanan hidup Prof. Dadan Wildan Ketua Yayasan PCI bisa dibilang fenomenal. Takdir hidupnya memiliki keunikan. Alumni lulusan Pendidikan Sejarah UPI tahun 89, selesai tepat waktu, hanya menganggur enam bulan, langsung diangkat menjadi dosen Kopertis Wilayah IV. Setelah menjadi dosen tiga tahun, tahun 1993 melanjutkan kuliah S2, setelah lulus melanjutkan S3 dan pada Usia 34 tahun sudah menyandang gelar doktor. Uniknya lagi  setelah tiga tahun mendapat gelar doktor mendapat penghargaan guru besar. Dalam waktu 14 tahun menjadi dosen Beliau sudah menjadi Profesor dalam usia 37 tahun. Selanjutnya pada Usia 38 tahun bertugas menjadi staf khusus di kementerian. Karirnya terus bertahan, di rezim SBY dan Jokowi. Di organisasi masyarakat Beliau juga menjabat sebagai sekretaris umum dan penasehat Persis yang membuat darah spiritualnya mengalir deras.

Seperti takdir sejarah yang tidak bisa dihindari oleh setiap makhluk, karirnya seperti kilat, Dadan Wildan yang sekarang mendedikasikan dirinya menjadi Ketua Yayasan PCI, ternyata pernah mengalami kegagalan bahkan mungkin penderitaan. Pada saat pemilihan rektor di sebuah universitas swasta di Jawa Barat, Beliau terpilih dengan suara terbanyak sebagai rektor termuda se-Indonesia yaitu usia 34 tahun. Namun karena alasan usia terlalu muda pihak Yayasan tidak berkenan melantik beliau jadi rektor.

Darah spiritual yang sudah mengalir deras dalam jiwanya, tidak membuat kegagalan patah arang. Kegagalan disikapinya dengan ketaatan kepada Tuhan dengan melaksanakan ibadah haji. Lalu nasib yang dialaminya diadukan langsung kepada Tuhan dihadapan Ka’bah. Beliau berdoa, “ya Allah jika jabatan rektor tidak pantas untuk ku, maka berikanlah yang pantas”. Doa sederhana ini dijawab langsung oleh Allah, melalui sebuah mimpi, “sebuah mobil plat merah terparkir di Masjidil Haram”.  Merinding bulu kuduk mendengar cerita ini, Allah mendengar dan menjawab langsung keluhan hambanya. Tidak lama, sepulang haji dipanggil Menteri, Beliau diminta membantu tugas-tugas menteri, dan dalam waktu singkat langsung bekerja di staf khusus kementerian. Karir Beliau bertahan di dua rezim presiden dan empat menteri.

Di tengah karirnya yang cemerlang, beliau bercerita bahwa pada saat kuliah bukanlah tipe mahasiswa cerdas, karena pada saat kuliah pernah gagal matakuiah Sejarah Asia Timur sampai mengulang empat kali. Namun karena ketekunannya mata kuliah itu Beliau taklukkan hingga melahirkan sebuah buku tentang Sejarah Asia timur.   

Melihat takdir sukses yang dialaminya, Beliau layak di daulat sebagai Man of The Year, teladan manusia berkarakter di abad 21. Keberaniannya menghadapi kegagalan, dan caranya menyikapi kegagalan adalah kekuatan karakter entrepreneur yang dimiliki Dadan Wildan. Kesantunan, ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi kegagalan telah menggerakkan aras Tuhan untuk menjaga kehormatannya sebagai manusia. Sebagai akademisi dan birokrat, kecerdasan spiritualnya tidak menjadi sirna. Kekuatan-kekuatan spiritual selalu melekat membangun visi, semangat dan tindakan-tindakan yang mengundang kecintaan Allah.  

Inilah kisah Indah hidup manusia yang telah dikisahkan di dalam Al-Qur’an. Manusia tidak boleh berhenti berusaha untuk mencari takdir-takdir terbaik dari Allah. “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (Ar ra’ad, 13:11).

Ayat di atas menakdirkan bahwa hidup manusia bergiliran antara keburukan dan kebaikan. Bagi Allah penolakkan manusia terhadap suatu takdir yang harus dijalani seseorang adalah wujud perlindungan Allah pada hambanya. Berserah diri pada takdir-takdir hidup dari Allah adalah realitas kekuatan pribadi  seseorang. Allah kemudian menegaskan takdir-Nya untuk manusia, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Alam Nasyrah, 94:5-8). Inilah takdir Allah, dan barang siapa berserah diri mengikuti skenario-Nya, maka di atas kehendak Allah segala bentuk tindak tanduknya. 

Dadan Wiladan bercerita bahwa sejak kuliah sudah sering menulis. Tulisan pertamanya dimuat di koran Pikiran Rakyat, berjudul Bandung Lautan Api, dan setiap bulan menulis di Suara Daerah PGRI. Sebagaimana tokoh-tokoh besar dunia, selalu menandai sukses karirnya dengan literasi tinggi. Inilah bagian dari takdir penyebab sukses yang dijalani ketua Yayasan PCI.

Berada dalam puncak karirnya, kini Beliau mendirikan sekolah dengan bangunan sangat modern. Menampilkan sekolah Islam dalam wajah modern. Tujuannya ingin mewariskan harta yang dimilikinya untuk dinikmati oleh orang banyak. Sekaligus ingin menjawab kebutuhan masyarakat yang ingin mendapatkan sekolah Islam dengan sentuhan modern. Kurikulumnya mendekatkan anak-anak dengan Al-Qur’an. Buku-buku digital dan pembelajaran lebih banyak berbasis audio visual. Sekolahnya hanya menerima lima kelas. “Sekolah kecil tapi punya cita-cita besar”, ucap Beliau. Pembelajaran full day dari jam 7 sampai jam 4 sore. Posisi sekolah sengaja di lingkungan pinggiran kota Bandung Selatan. Biaya sekolah termasuk murah untuk sekolah modern, hanya 750 ribu per bulan, dan biaya masuk 10-11 juta tiga tahun. Tujuan mendirikan sekolah bukan cari uang tapi cari untung berupa pahala. Sekolah didirikan dari dana pribadi dengan menjual aset yang ada. Cita-cita selanjutnya sangat mulia yaitu wafat khusnul khotimah. Beliau menegatakan, urusan dunianya sudah selesai dan sekarang hidupnya hanya tinggal menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Inilah bagian takdir hidup dari manusia utusan. Ketaatannya kepada Allah adalah penyebab semua kesuksesan ketua Yayasan PCI. Semoga menjadi pelajaran untuk dunia pendidikan. Wallahu’alam.

Sunday, September 26, 2021

CARA MEMBACA TANDA-TANDA DARI ALLAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Dua sahabat dengan cepat telah pergi mendahului kita. Di saat-saat kita butuh kehadiran guru-guru terbaik untuk melahirkan generasi-generasi terbaik, Allah punya rencana lain, Allah memanggil sahabat-sahabat terbaik kembali pulang kepada-Nya. Rasanya ingin protes mengapa terjadi di saat-saat situasi sedang seperti ini? Untung saja ada sedikit kesadaran terbersit, bahwa orang-orang terbaik dihadapan Allah akan diuji dengan ujian-ujian besar agar selalu dekat dengan Allah.

Jika kita akan kehilangan sesuatu, sebenarnya Allah telah memberi tahu. Cara Allah memberi tahu dengan kejadian-kejadian yang terjadi pada alam, hewan, teman, saudara, pikiran dan bisikan hati. Allah memberi tanda-tanda. Kemampuan kita membaca tanda-tanda dapat jadi pengingat diri menjadi selalu waspada.

Sebagaimana Allah memberi tahu dengan tanda-tanda alam, mendung sebagai tanda akan turun hujan, angin kencang sebagai tanda akan terjadi penggantian musim, banjir bandang sebagai tanda telah terjadi kerusakan hutan, gunung meletus sebagai tanda pergerakan dapur magma. Semua tanda dikejadian alam adalah Allah yang menggerakkan, manusia membaca sebab dan akibatnya sebagai tanda.

Kejadian alam di rumah, ketika nasi sering basi Allah memberi tanda. Burung menabrak kaca, kupu-kupu, ular, kelabang, serangga, masuk rumah adalah tanda. Hati tiba-tiba gelisah dan pikiran jadi berprasangka negatif itu adalah tanda-tanda. Ilmu tanda-tanda Allah kabarkan dalam Al-Qur’an.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh  tanda-tanda  bagi kaum yang memikirkan. (Al Baqarah, 2:164).

Lalu bagaimana kita membaca tanda-tanda? Bukan kejadian fisik apa yang akan terjadi yang kita baca. Bukan siapa yang akan berbuat dzalim kepada kita yang kita baca. Bukan penderitaan apa yang akan menimpa kita yang kita baca. Allah memberi kabar cara membaca kejadian di dalam Al-Qur’an.

“Bacalah atas nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,” (Al ‘Alaq, 96:3).

Membaca atas nama Tuhan berarti manusia tidak boleh sembarangan membaca tanpa ada petunjuk dari Allah. Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang beriman adalah petunjuk membaca segala kejadian alam yang pada hakikatnya adalah tanda-tanda dari Allah.

Lalu bagaimana cara membaca tanda-tanda dari Allah berdasar petunjuk Al-Qur’an? Tanda-tanda dari Allah dapat dibaca oleh kaum yang memikirkannya, sebagaimana bunyi kata terakhir dalam Al Baqarah ayat 164, “la ayaatilliqoumi ya’qiluun”. Membaca kejadian sebagai tanda-tanda dari Allah adalah sebagai sebab dan manusia memikirkan akibatnya. Sebaliknya membaca tanda-tanda dari Allah sebagai akibat dan memikirkan sebabnya. Dua pola ini menjadi cara membaca tanda-tanda kejadian dari Allah. Untuk mempermudah kita buat tabel seperti di bawah ini, bacalah dari atas ke bawah pada tiap kolom agar bisa dipahami secara kronologis.

Tanda-tanda

Sebab

Akibat

Semua tanda-tanda kejadian adalah dari Allah

Membaca dengan memikirkan apa sebabnya

Membaca dengan memikirkan apa akibatnya

Menurut Petunjuk Allah, semua sebab kejadian baik dan buruk datang dari diri sendiri

Menurut petunjuk Allah semua akibat adalah apa yang dikehendaki Allah

Membaca sebab kejadian menurut petunjuk Allah adalah  berpikir, merenungi, merefleksi diri, atas apa-apa yang telah dilakukan di masa lalu.

Membaca akibat apa yang akan terjadi menurut petunjuk Allah adalah berpikir dengan bertauhid berserah diri atas apa yang akan terjadi sesuai kehendak Allah.

Perintah Allah, hapuslah keburukan dengan berbuat baik, atau ingat Allah banyak banyak agar akibat yang terjadi tetap baik.

Perintah Allah, “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (2:163)

Saya sederhanakan logikanya biar mudah memahaminya. Jadi jika kita mau membaca tanda-tanda kejadian dari Allah. Cara kerja logikanya sederhana, bacalah bahwa semua sebab kajadian yang kamu anggap buruk itu datang dari dirimu sendiri, dan bacalah semua akibat yang akan terjadi hanya Allah satu satunya yang tahu, tidak ada satu pun yang tahu selain Allah.

Harus kita pahami dalam hal membaca akibat-akibat yang akan terjadi, selalu ada manusia atau makhluk selain Allah yang merasa tahu. Manusia atau makhluk selain Allah ini kadang posisinya menjadi seperti Allah, dan inilah yang tidak boleh dilakukan oleh manusia, yaitu memiliki keyakinan  kepada selain Allah.

Jadi tanda-tanda itu hanya berfungsi sebagai peringatan untuk manusia, agar selalu ingat Allah, mohon ampun kepada Allah, dan berusaha memperbaiki diri dihadapan Allah, lalu setelah itu berserah dirilah atas segala akibat yang akan terjadi kepada Allah. Namun harus diingat, segala akibat yang akan terjadi jika kita telah memohon ampunan dan berserah diri kepada Allah, maka segala akibatnya adalah keberuntugan besar. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” (Al Buruuj, 85:11).

Begitulah cara membaca tanda-tanda dari Allah, semuanya dibaca atas perintah dari Allah. Hati-hatilah dari tanda-tanda itu, semoga iman kita tetap kepada Allah saja. Wallahu’alam.  

Tuesday, July 20, 2021

SETIAP KEPUTUSAN MILIK PRIBADI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Tidak ada satu orang manusia pun tidak berpikir. Ketika lingkungan memengaruhi, guru menasehati, pedagang merayu, setan membisiki, seseorang menghembuskan permusuhan, maka setiap orang akan mengambil keputusan berdasar keputusannya sendiri, baik dalam keterpaksaan maupun sukarela.

Madzab lahir karena dalam Islam memperbolehkan ijtijhad, sebagaimana Allah memerintahkan berpikir kepada setiap orang. Ijtihad perseorangan tidak berlaku untuk umum kecuali untuk dirinya sendiri. Namun karena beraneka ragam kemampuan, ada orang yang mengikuti pemikiran seseorang yang dianggap mampu memahami Al-Qur’an sampai timbul keterikatan dan timbullah madzab.

Islam mengakui bahwa hak untuk berijtihad dimiliki oleh semua pribadi yang dapat berpikir lurus dan mampu menyelidiki, baik pria maupun wanita, raja atau kaula, pegawai negeri yang terkemuka ataupun seorang warga-warga biasa. (Shaltout, 1961, hlm. 130). Dalam berijtihad, Islam tidak mengenal seorang pun yang kebal membuat kekeliruan, kecuali Nabi Muhammad SAW dalam soal wahyu. Para ulama yang besar atau kerabat Nabi SAW yang terdekat, akan mudah berbuat kekeliruan. (Shaltout, 1961, hlm. 131).

Penggunaan ijtihad perseorangan sangat luas setelah masa kedua khalifah yang pertama, lebih-lebih setelah adanya fitnah yang dahsyat yang timbul sesudah pembunuhan Usman r.a., khalifah yang ketiga. Dalam bentuknya yang ekstrim, ijtihad perseorangan telah mengubah umat Islam menjadi sekta-sekta yang saling bertentangan, dan masing-masing hanya mengikuti kecenderungan-kecenderungan perseorangan saja dalam menetapkan madzabnya dan dalam menyampaikan kata-kata Nabi Muhammad SAW. (Shaltout, 1961, hlm. 131).

Hendaklah dipahami benar bahwa Islam tidak mengesampingkan orang-orang tertentu untuk yang berhak menafsirkan Al-Qur’an atau sunnah, dan tidak pula kewajiban bagi orang-orang untuk berpegang pada pendapat perseorangan tententu mengenai masalah-masalah yang boleh ditafsirkan oleh perorangan. Islam tidak mengikat pengikut untuk menganut orang-orang teretentu, karena tidak ada kewajiban yang harus diakukan selain kewajiban yang telah diperintahkan oleh Allah swt dan Nabi SAW. Juga Allah dan Rasulnya tidak memerintahkan seseorang mengikuti madzab tertentu. (Shaltout, 1961, hlm. 131).

Kutipan-kutipan dari pendapat Mahmoud Shaltout di atas merupakan rangkaian pemikiran yang berdasar pada Al-Qur’an. Dasar dari ajaran agama Islam adalah beriman pada Allah, Nabi Muhammad SAW, malaikat, kitab suci AL-Qur’an, takdir, dan hari akhirat. Selain itu tidak ada kewajiban umat Islam untuk beriman. Allah tidak melihat manusia dari aksesoris kasat mata, Allah melihat kutamaan manusia dari ketaatannya dalam melakukan dan mengajarkan kebeneran-kebenaran-Nya.

“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujuraat, 49:13).

Maka dari itu, kelebihan Islam menurut Ust. Dondy Tan seorang yang baru kembali Islam, ketika manusia mau berhubungan, berkomunikasi dengan Allah “tanpa perantara”. Al-Qur’an adalah sarana umat manusia untuk berkomunikasi dengan Allah. Jika Al-Qur’an dibaca maka informasi yang diterima, dimaknai secara langsung oleh seseorang bahwa dia sedang berkomunikasi dengan Allah. Sekalipun seseorang bisa memahami Al-Qur’an dari hasil terjemah atau tafsir seseorang, tetap saja setiap orang akan menerima atau tidak menerima makna terjemah atau tafsir tersebut berdasar keputusannya pribadi. Untuk itu, di pengadilan akhirat setiap orang akan mempertangungjawabkan setiap keputusan yang pernah dilakukannya.

Etika dalam agama Islam dalam memahami dan menemukan kebenaran tidak diperkenankan mengklaim dirinya sebagai pemilik kebenaran, karena kebenaran mutlak milik Allah. Sifat manusia adalah tempatnya salah, maka siapapun manusia berpotensi salah. Siapa mengaku benar dia salah, dan barang siapa mengaku salah dia benar. Untuk itu ulama, ilmuwan, ustad, guru, siapapun jika dia seorang muslim maka sifat keredahan hati sudah pasti melekat pada dirinya.

“(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Lukman, 31:16)

Ayat ini ditafsir oleh Syaiful Karim sebagai keterangan yang menjadi sebab pemahaman adanya hukum tarik menarik (the law of attraction). Maka dari itu, bagi seorang muslim yang taat, tidak ada rumus menyalahkan orang lain, segala kejadian yang menimpa selalu diawali dengan kerendahan hati dengan mengakui kelemahan dan kealpaan yang ada pada diri sendiri.

Nabi Adam a.s dan Hawa mengajarkan sekalipun tergelincir karena tipu daya setan, namun dalam permohonan ampunnya kepada Allah, beliau tidak menyalahkan setan tetapi mengakui dirinya sendiri yang telah melakukan perbuatan salah.

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi". (Al A’raaf, 7:23).

Maka dari itu, menerima dan tidak menerima kebenaran dari penjelasan dalam artikel ini, kembali pada keputusan pribadi. Untuk itu Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk selalu memohon ampunan kepada Allah sebanyak banyaknya setiap hari. Wallahu’alam.

   

Sunday, July 18, 2021

AGAMA DI ERA AKAL SEHAT

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Amazing Allah swt. diskusi Dondy Tan, Ust Kainama, Host Ariesto dalam tayangan youtube Dondy Tan, https://www.youtube.com/watch?v=kE9LNV_A01M, tanggal  28 Juni 2021 tentang pembuktian kata Hira dalam Yesaya, 29:12, membuat saya berpikir. Argumentasi Ust. Dondy Tan dengan mengungkap arti kata Hira melalui penggunaan kata Hira oleh orang Yunani, dapat membuktikan bahwa kata Hira dalam Yesaya, 29:12 mengandung makna Hira merujuk ke Gua Hira. Ini adalah tanda-tanda bahwa kebenaran demi kebenaran akan terungkap dan Janji Allah adalah benar.

Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu. (Ar Ruum, 30:60).

Melihat gaya penjelasan agama oleh Ust. Dondy Tan dan Ust. Kainama, saya berpikir kita telah memasuki era baru dalam memahami agama. Tidak ada lagi tipu-tipu dengan ayat dalam beragama. Di era Industri 4.0, era society 5.0, informasi tentang kebenaran agama begitu telanjang. Orang-orang yang menjajakan keyakinan dan mengatasnamakan Tuhan, dapat di tracer, dianalisis, dan diverifikasi kebenarannya dengan menggunakan perbandingan kitab suci.

Al-Qur’an yang mengklaim dirinya sendiri sebagai kitab suci yang diturunkan dari Allah dan terpelihara, dengan dimulainya agama era akal sehat semakin mengukuhkan secara nyata bahwa Al-Qur’an memang diturunkan dari Allah Yang Suci dan terpelihara.

“sesungguhnya Al Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lohmahfuz), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam.” (Al Waqiah, 56:77-80)

Metode saling menguji kebenaran ayat-ayat dalam kitab suci melalui berbagai pendekatan, menjadi tanda telah dimulainya era akal sehat dalam memahami agama.  Di era akal sehat dakwah agama tidak lagi berjualan dongeng, gelak tawa, dan popularitas, tetapi agama akan banyak diajarkan dengan pendekatan-pendekatan yang masuk akal. Alat-alat bukti tentang kebenaran ajaran agama tersedia berjuta-juta informasi yang tersedia di internet.

Dimulainya era agama akal sehat seiring dengan terbukanya informasi dengan ditemukannya internet yang sering disebut dengan era informasi. Di era informasi pengetahuan bukan lagi milik orang-orang tertentu, tetapi sudah jadi milik semua orang. Sekolah, pesantren, kampus, bukan lagi mutlak sebagai tempat untuk menggali ilmu pengetahuan. Sekolah, pesantren, kampus, telah berubah menjadi Sekolah, pesantren, dan kampus universal. Dimanapun tempat adalah sekolah, dan seluruh makhluk adalah guru sebagaimana dikemukakan oleh Ridwal Kamil, merupakan pernyataan universal bahwa saat ini semua orang bisa belajar dan berpendidikan melalui internet.

Di era informasi semua orang bisa jadi guru, ustad, ulama, dan ilmuwan, tanpa harus berstatus siswa, mahasiswa, dan gelar pendidikan. Dengan berjuta-juta informasi yang tersedia di ineternet, semua orang bisa cerdas tanpa pendidikan formal. Kebenaran tidak lagi mutlak membutuhkan legitimasi kampus, atau gelar. Legitimasi kebenaran di era informasi adalah kemampuan berliterasi dan menggunakan akal sehat.

Era agama akal sehat adalah era pemahaman agama berdasarkan argumen-argumen dari kitab suci. Al-Qur’an dengan kebenaran-kebenaran yang nyata dan terus menerus terungkap semakin nyata,  akan membimbing seluruh umat manusia menuju kepada agama era akal sehat. Beragama dengan doktrin buta, manut pada satu guru, aliran, madzab, akan berakhir. Dengan akal sehat bersumber pada kitab suci, setiap orang akan mencari dan menemukan keyakinan dengan mengakses berbagai informasi yang tersedia di internet. Berjuta-juta Informasi dan pendapat yang berbeda-beda di internet akan semakin membuat orang semakin mandiri dan cerdas dalam menemukan dan memperkuat keyakinannya. Keyakinan beragama seseorang di era agama akal sehat, akan benar-benar bergantung pada kitab suci yang benar-benar datang otentik diturunkan dari Tuhan Semesta Alam.

Di era agama akal sehat, berbagai pendekatan kajian Al-Qur’an akan semakin beragam. Banyaknya pendekatan dalam kajian Al-Qur’an akan membuka peluang banyak orang menemukan kebenaran-kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an yang sesuai dengan kadar pengetahuannya. Untuk itu era akal sehat menjadi era kembalinya manusia kepada agama yang lurus, agama yang dibawa Nabi Ibrahim, dan agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW yaitu Islam. Fakta ini akan terbukti sebagaimana prediksi perkembangan keyakinan umat manusia didalam Al-Qur’an.

Berada dalam surga kenikmatan (Islam). Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. (Al Waqiah, 56: 12-14). “(Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian. (Al Waqiah, 56: 38-40).

Jika kita gabungkan secara berurut ayat-ayat dalam surat Al-Waqiah ini akan menggambarkan sebuah perkembangan zaman, seperti gelombang, “segolongan besar terdahulu—segolongan kecil kemudian, segolongan besar terdahulu, segolongan besar kemudian.” Dari informasi ini, kita bisa menafsir bahwa penganut agama yang lurus akan mengalami perkembangan pada awalnya besar, mengecil, kemudian membesar. Pada era informasi, era agama akal sehat sekarang ini, akan terjadi gelombang ketiga, yaitu golongan penganut agama yang lurus dalam jumlah besar.

 Inilah masa-masa ujung akhir zaman, ketika kita hubungkan dengan gelombang peradaban manusia dalam Al-Qur’an, sebuah peradaban dibinaskan---diteguhkan---binasakan. 

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (Al An ‘aam, 6:6).

Berdasarkan informasi di atas, penganut agama lurus (Islam) akan mengalami perkembangan pada awalnya kecil, besar, kecil, dan membesar. Setelah penganut agama yang lurus membesar manusia akan mengalami pembinasaan, dan dimulai era manusia baru. Bisa jadi generasi manusia kita sekarang akan mengalami pembinasaan dan telah Allah siapkan generasi yang lain. Semoga umat manusia saat ini bisa menjadi bagian dari segolongan besar manusia kemudian, manusia yang beragama akal sehat dan binasa kembali kepada Allah swt, di dalam jalan kebenaran. Walahu’alam.

Thursday, July 15, 2021

CARA AKTIFKAN PENGLIHATAN BATIN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka Barang siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu)”. (Al An’aam, 6:104). Berdasarkan pada ayat ini, Syaiful Karim pada youtube efisode ke 032, 12 Oktober 2020 menjelaskan bahwa ada dua kemampuan melihat yang dimiliki oleh manusia, yaitu kemampuan melihat secara fisik dan kemampuan melihat secara batin.

Kemampuan melihat dengan batin yang dimaksud adalah kemampuan melihat hakikat-hakikat kejadian sesuai dengan kehendak Allah, dengan ukuran bahwa seluruh kejadian di muka bumi bagi orang yang sudah mampu melihat dengan mata batin, semuanya tidak akan berpengaruh buruk dan akan tetap menjadi keberuntungan.

Selanjutnya, Syaiful Karim menjelaskan makna “bumi” dalam surat lainnya, “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-An’aam, 6:165).

Ibn’ Arabi mengatakan, “bumi adalah manusia berbadan besar”. Maka sebaliknya manusia adalah bumi kecil. Analogi ini dapat kita pahami dari penjelasan-penjelasan Al-Qur’an bahwa sistem penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia memiliki kesamaan. Jika bumi adalah Al-Qur’an, maka manusia sendiri adalah Al-Qur’an. Untuk itu, para filsuf membagi alam menjadi dua yaitu alam makro dan mikro. Manusia adalah alam mikro.

Maka ketika Allah mengatakan, “Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi”. Bumi di sini bisa bermakna makro dan mikro. Maka makna bumi mikro menjadi tafsir bahwa setiap manusia dijadikan penguasa-penguasa dirinya sendiri. Tafsir ini digunakan oleh Syaiful Karim untuk menjadikan diri kita menjadi pengatur diri kita sendiri. Manusia-manusia yang menjadi penguasa bagi dirinya sendiri adalah manusia yang bisa mengendalikan seluruh kehendaknya berada di atas kehendak Allah. Iniah kekuasaan sesungguhnya yang harus dimiliki oleh setiap individu. Manusia-manusia yang bisa mengendalikan dirinya di atas kehendak Allah, adalah mereka yang bisa melihat semua kejadian dengan mata batinnya.

Lalu bagaimana cara agar kita bisa melihat dengan mata batin? Objek penglihatan fisik adalah benda atau kejadian, kemudian dipersespi akal berdasarkan pengetahuan yang berhasil diingat oleh memori. Stok pengetahuan yang diingat memori adalah kunci objek yang dilihat bisa diberi makna. Kebanyakan orang memberi makna sebuah objek dengan pengetahuan yang di dapat dari alam atau pengalaman. Ilmu dan sains mempersepsi objek dengan pengetahuan alam dan pengalaman (percobaan atau penelitian). Maka dari itu, ilmu atau sains melatih penglihatan fisik karena objek yang diteliti berdasar pengetahuan dari hasil penelitian atau pengalaman.

Objek penglihatan batin pada dasarnya sama yaitu benda dan kejadian. Pemberian makna terhadap sebuah objek oleh penglihatan batin akan berbeda dengan penglihatan fisik. Penyebab perbedaan tersebut terletak pada pengetahuan yang ada dalam memori. Penglihatan batin bisa diaktifkan dengan memberikan makna pada objek yang dilihat berdasar pada pengetahuan non materi yang sudah tersimpan dalam memori. Sumber pengetahuan non materi adalah kitab suci Al-Qur’an yang terpeihara dari campur tangan manusia. Pengetahuan-pengetahuan yang bersumber dari non materi menjelaskan sebab akibat kejadian kasar (material) sampai kejadian halus (non material).

(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Lukman, 31:16).

Pengihatan batin adalah pemahaman akal yang dapat mengetahui sebab akibat kejadian non material berdasar petunjuk pengetahuan yang bersumber dari non material yaitu kitab suci Al-Qur’an. Jadi kunci untuk mengasah penglihatan mata batin adalah dengan memahami sebab akibat (logika) kejadian yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Kebenaran-kebenaran penglihatan batin dapat dibuktikan dengan kesadaran tinggi (akal sehat) terhadap adanya ketentuan Allah melalui pengalaman (lahir) dan melibatkan perasaan (batin).

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (Lukman, 31:20)

Untuk itu sangat penting untuk mempelajari dan memahami logika-logika Tuhan dalam Al-Qur’an sebagai modal kita untuk mengaktifkan mata batin dalam melihat segala kejadian. Dengan memohon pertolongan Allah dan keberanian, siapapun akan dibimbing Allah untuk memahami setiap kejadian dengan penglihatan batin sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing yang diberikan Allah. Demikian sedikit informasi untuk membuka diskusi tak berujung dalam memahami segala kejadian dengan pengihatan mata batin.  Wallahu’alam. 

Tuesday, July 13, 2021

MANUSIA BERMORAL TINGGI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Al-Fatihah, 01:01). Ini terjemah versi standar dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Apakah salah? Tidak, namun bukan satu-satunya terjemahan dari surat Al-Fatihah ayat pertama ini. Bahasa Arab sangat kaya kosa kotanya.  Buya Syakur sebagai seorang kiai dan berbasis ilmu filolog, memberi terjemahan lain. Bismilah dapat juga berarti “atas nama Allah”. Manusia yang seluruh langkahnya mengatasnamakan Allah dia manusia bermoral tinggi.

Terkait perbedaan makna terjemahan menyebut nama Allah dengan atas nama Allah, Buya Syakur menganalogikan ketika kita di suruh pidato mengatasnamakan yang disuruh, maka kita adalah bagian dari yang diatasnamakan, dan dipercaya oleh permberi atas nama. Ketika Sukarno dan Hatta membacakan proklamasi mengatas namakan bangsa Indonesia, maka proklamasi punya pengaruh kuat ke seluruh Nusantara. Dunia tidak melihat sosok Sukarno dan Hatta tetapi mereka seolah-olah melihat bangsa Indonesia. Ketika orang datang bertamu menyebut-nyebut presiden, tamu itu akan dianggap biasa-biasa saja. Namun ketika tamu datang bertamu mengatasnamakan presiden, maka orang itu bukan orang biasa-biasa.

Menyebut Allah sama dengan mengingat Allah, artinya ketika kita mau melakukan sesuatu maka niat dan harapan kita harus karena Allah. Namun menurut Buya Syakur bahasa terjemah “menyebut nama Allah” sebagai terjemahan dari bismillah dalam implementasinya kurang meresap pada jiwa. Berbeda ketika kita mengatakan “atas nama Allah”, rasa dan pemahaman akan terasa mendalam karena seolah-olah kita mewakili Allah. Ini artinya ikatan dengan Allah akan terbangun lebih dekat, dan keinginan untuk menjaga moralitas ajaran agama di masyarakat lebih tinggi.

“atas nama Allah”, adalah pembuka jiwa agar merasa bahwa setiap apa yang kita lakukan ada di atas kehendak Allah. Supaya mudah memahaminya, mengatasnamakan Allah berarti kita menjadi bagian dari kehendak Allah tapi bukan Allah. Sukarno dan Hatta mengatasnamakan bangsa Indonesia, tapi mereka bukan refresentasi wujud seluruh bangsa Indonesia itu sendiri. Bayang-bayang kita di pagi hari ketika tubuh kita tersinar matahari adalah kita, tapi bayang-bayang bukan tubuh kita. Allah adalah pemilik bayang-bayang, dan bayang-bayang bergerak persis seperti pemilik bayang-bayang, namun bayang-bayang pemilik bayang-bayang itu sendiri. Manusia itu ketika berkata, “atas nama Allah”, maka hidupnya akan seperti bayang-bayang, pemilik bayang-bayang duduk dia ikut duduk, pemilik bayang-bayang berdiri dia ikut berdiri, dan pemilik bayang-bayang hidup dia hidup.

Mengucap, “atas nama Allah” (bismillah) dalam setiap tindakan adalah upaya manusia agar hidupnya selalu merasa dekat, diberkahi, dan berada di atas kehendak Allah. Inilah upaya manusia agar hidupnya selalu berada di jalan lurus yaitu berada di atas kehendak Allah.

“bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (At Takwir, 81:28-29).

Bismillah adalah upaya membangun kesadaran bahwa Allah selalu hadir dalam setiap gerak langkah kita. Sebagai manusia hina kita berharap seluruh langkah hidup kita berada di jalan yang lurus yaitu jalan ketaatan yang dikehendaki Allah.

Bismillah adalah implementasi dari permohonan petunjuk kepada Allah yang selalu diulang-ulang umat Islam dalam bacaan shalat setiap hari yaitu, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Afatihah, 1:6-7).  Permohonan yang diulang-ulang dalam surat Alfatihah dan pengucapan bismillah yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW dalam setiap awal  perbuatan merupakan usaha agar setiap langkah kita selalu berada di atas niat baik, jika salah diberi tahu kesalahannya, diampuni, dan diperbaiki oleh Allah. Jika benar diberi pengetahuan serta kemampuan oleh Allah untuk isitiqomah di jalan itu dan menjadi contoh teladan sebagai pribadi berakhlak mulia bagi umat manusia.

Inilah cara-cara hidup yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai ajaran inti keimananan untuk muslim dan pelajaran bagi seluruh umat manusia yang telah Allah beri kemampuan memahaminya. Kalimat Bismillah yang sederhana ini menjadi pembuka kemurahan dan keberkahan hidup yang datang dikabarkan kepada Nabi Muhammad SAW dari Allah Tuhan Semesta Alam untuk memberkahi kehidupan seluruh alam. Bismillah adalah doa agar setiap langkah kita selalu berada di atas kehendak Allah. inilah manusia-manusia yang akan menjadi manusia bermoral tinggi atas kehendak Allah. Wallahu’alam.

Thursday, June 24, 2021

POLA PIKIR PRIMITIF

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Silaturahmi adalah sunatullah yang sampai kapanpun akan tetap berlaku dalam kehidupan manusia. Nabi Muhammad SAW menjelaskan manusia-manusia yang tidak mau bersilaturahmi akan menghadapi kesulitan hidup dengan tidak menemukan kesejahteraan di dunia maupun akhirat. Namun demikian ketika silaturahmi apa yang harus kita lakukan? Berbagi kebaikan adalah isi silaturahmi. Kualitas silaturahmi ditentukan dengan apa yang dilakukan berkomunikasi.

Zaman dulu gosip hanya terjadi antar keluarga dan tetangga. Zaman teknologi gosip berubah menjadi tingkat dunia. Pola pikir primitif semakin subur, gosip tingkat tetangga diubah menjadi gosip tingkat dunia untuk menghasilkan keuntungan material. Lelucon-lelucon murahan, prilaku menyimpang, dikemas oleh tim kreatif primitif agar menarik perhatian masyarakat hingga menghasilkan pundi pundi rupiah.

Pola pikir primitif adalah pola pikir materialistik. Orang-orang primitif melakukan transaksi dengan pola pikir barang ditukar menjadi barang. Barter yang dilakukan masyarakat terdahulu tidak termasuk primitif karena pola pikirnya adalah menegakkan keadilan. Namun orang yang berpola pikir benda harus selalu bertukar menjadi benda, itulah orang-orang primitif. Pola pikir primitif terpaku bahwa apa yang diakukannya harus berbalas dengan material dari orang per orang. Masyarakat primitif adalah mereka yang berpikir cenderung materialistik dan positivistik. Kata Nietzche dalam kehidupan masyarakat materialistik Tuhan dimatikan karena dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah kehidupan dunia. Inilah gambaran masyarakat primitif yang terjebak kebenaran-kebenaran materialistik. 

Siklus kehidupan masyarakat yang diprediksi oleh Auguste Comte, ternyata masyarakat menuju modern bukan dari masyarakat teologis bergerak menjadi masyarakat positivistik, tetapi dari masyarakat positivistik berubah menjadi masyarakat religius. Menurut Wiliam F. Ogburn ada dua dasar budaya yaitu material dan non material. Jika perubahan berjalan siklus maka sekarang sedang terjadi perubahan dari masyarakat material ke masyarakat non material. Arnold Toynbee berpendapat masyarakat akan mengalami perubahan dari keseimbangan, transisi, kemudian terwujud keseimbangan baru.

Pemikiran yang tidak bersumber dari Allah, berputar-putar tidak ada akhirnya. Semua pendapat dianggap benar dan semua pendapat ada salahnya. Seperti orang sakit jiwa, pulang pergi tiap hari tanpa ada tujuan yang ingin dicapai. Berpikir bulak-balik, terbawa arus terombang-ambing mengikuti kemana arah angin bertiup. Masyarakat primitif tidak punya paradigma berpikir ajeg, tidak punya nilai-nilai baku, dan tidak punya prinsip-prinsip tegas. Masyrakat primitif hidup dalam polemik dan sangat tergantung pada kondisi sosial dan alam.

Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW untuk membawa masyarakat pada peradaban, dari masyarakat bodoh ke masyarakat cerdas, dari masyarakat primitif ke masyarakat modern. Masyarakat modern adalah masyarakat yang tergantung pada non material. Gerak usaha dan kerja kerasnya semuanya berdasarkan pada yang non material yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Material sifat dasarnya adalah kaku dan terbatas, Tuhan yang non material sifatnya bebas dan tanpa batas. Sifat individualistis, tidak mau kalah, dan serakah adalah prilaku masyarakat primitif yang pola pikirnya material. Manusia-manusia modern bertransaksi dengan Tuhan non material, jiwanya hidup menjadi pekerja keras, tekun, tidak pernah putus asa, selalu optimis dan sabar menjalani hidup sesuai garis edarnya. Ruhnya kreatif dan penyejahtera.

Kegagalan umat Islam dalam mewujudkan kehidupan masyarakat ideal merupakan kegagalan umat Islam itu sendiri dalam memahami Al-Qur’an. Bukan substansi ajaran yang harus diubah, tetapi metode pengajarannya. Dulu para penyebar agama di Nusantara abad 7-13 tidak memaksa raja-raja masuk Islam, maka kuncinya ada di metode mengajar. Filsafat, sains, tradisi, budaya, ideologi, politik, ekonomi, mistik, semua bisa diperankan untuk mengajarkan substansi dari ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan kondisi zaman, dan masyarakat yang dihadapinya.

Zaman sekarang, jika agama masih diajarkan dengan pendekatan tekstual, kaku, berguru hanya pada satu guru, fanatik pada aliran, sementara informasi pemahaman agama seperti banjir bandang telah masuk ke ruang-ruang pribadi, maka akan terjadi benturan-benturan ketika mendapat perbedaan pemahaman. Untuk itu, sekolah-sekolah di dunia sudah mulai mengubah tujuan pembelajaran menjadi melatih kemampuan bernalar mulai dari analisis, interpretasi, integrasi, dan menyimpulkan informasi. Kemampuan ini diprediksi dapat membantu masyarakat menyikapi banjirnya informasi dan masyarakat tidak tenggelam terbawa arus. Pendekatan pemahaman agama tekstual harus sedikit ditingkatkan dengan kemampuan pemahaman rasional tanpa meninggalkan teks. Berpikir bebas tidak berarti meninggalkan teks, tetapi mengelaborasi kebenaran-kebenaran teks Al-Qur’an melalui bantuan berbagai ilmu dan sudut pandang. Dengan cara-cara ini semoga kita bisa keluar dengan damai dari pola-pola pikir primitif yang sudah cenderung material, sombong, dan lancang berani membunuh Tuhan. Walahu’alam.

Tuesday, June 15, 2021

KESADARAN MANUSIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ketika kita lupa, lalu kembali ingat, siapakah yang memberi tahu? Jawaban tergantung pada pengetahuan masing-masing. Untuk menjawabnya butuh pengetahuan, kemudian pengetahuan akan diolah dengan hubungan sebab akibat hingga sampai pada suatu pemahaman.

Jika pertanyaan di atas kita hubungkan dengan informasi dari Al-Qur’an, “Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al ‘Alaq, 96:5). Apa kira-kira jawaban Anda? Mungkin jawaban Anda sama dengan saya, yang memberi tahu ketika kita lupa adalah Allah, karena Allah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Lupa adalah suatu kondisi dimana kita tidak mengetahui, maka ketika ingat, berdasarkan informasi ayat di atas Allah telah memberitahu.

Dari dialog di atas, kita sebenarnya hanya mendiskusikan suatu kejadian yang secara fisik tidak dapat kita saksikan. Lupa bentuk fisiknya tidak ada, dan Allah gaib, wujud Allah tidak bisa kita saksikan dengan kasat mata. Oleh karena itu, Allah ada dalam kesadaran ingatan manusia. Orang-orang beriman adalah orang yang ingat (sadar) bahwa dirinya diatur dan dikendalikan Allah. Tanpa kesadaran Allah akan tetap ada, tetapi manusia bisa ingat dan merasakan kehadiran Allah setiap saat dengan kesadaran. Jadi ukuran kesadaran manusia adalah ingat dan merasakan Allah mengatur segala kehidupan.

Ingat Allah adalah ukuran kesadaran manusia paling mendasar. Kesadaran manusia akan meningkat jika pengetahuan adanya ketentuan-ketentuan alam dan tujuan-tujuan hidup yang Allah tetapkan disaksikan dan dirasakan dalam kehidupan.  Kesadaran akan meningkat lagi dengan bentuk ketaatan kepada segala ketentuan hidup yang telah Allah tetapkan.

Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (Al A’raaf, 7:`43).

Kesadaran manusia bukan ketika dia mengenal siapa dirinya, tetapi ketika dia mengenal siapa Tuhannya. Kesadaran manusia diukur dari seberapa dekat manusia mengenal Tuhannya dan segala ketentuannya. Tuhan ada dalam kesadaran manusia yang selalu mengingat, menaati, dan merasa dekat dengan-Nya. Untuk itu, tujuan pendidikan mengajarkan kepada anak-anak agar mereka menjadi manusia sadar bahwa dirinya makhuk ciptaan Tuhan dan hidupnya telah ditetapkan dalam segala ketentuan-Nya.

Kesadaran manusia kepada Tuhan memiiki beberapa tingkatan. Beberapa ukuran kesadaran manusia ditentukan oleh seberapa banyak ingat Tuhan, seberapa taat kepada Tuhan, dan seberapa dekat dengan Tuhan. Maka Allah mengajarkan ayat-ayat bagaimana agar manusia sadar kepada Tuhannya. (Dia-lah) Tuhan masyrik dan magrib, tiada Tuhan melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung. (Muzzammil, 73:9).  

Kesadran selanjutnya yang harus ditemukan dan dirasakan manusia adalah, “Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah”. (Al Ahzab, 33:62).

Tingkat kesadaran manusia tertinggi adalah ketika seluruh hidupnya telah menjadi satu dengan Allah. “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Thaahaa, 20:14). Total surrender adalah kesadaran para Nabi terhadap Tuhannya. Seluruh laku hidupnya sudah merasa sebagai kehendak Allah. Inilah manusia-manusia dengan kelas kesadaran paling tinggi yang menjadi teladan bagi umat manusia. Wallahu’alam.

Tuesday, May 11, 2021

BAHAYA BERPIKIR NEGATIF

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Berpikir negatif dalam bahasa Al-Qur’an adalah berprasangka buruk. Allah melarang manusia untuk berpikir negatif karena berpikir negatif masuk pada kategori dosa. Mengapa tidak boleh berprasangka buruk? Al-Qur’an (17:7) menjelaskan bahwa keburukan yang dilakukan seseorang akan menimpa pelakunya, sebaiknya kebaikan yang dilakukan seseorang akan kembali kepada pelakunya.

Ibrahim Elfiky (2014) mengatakan bahwa berpikir negatif adalah penyakit sangat berbahaya. Ia candu seperti narkoba dan minuman keras. Pikiran negatif menghasilkan perasaan, prilaku negatif dan dampak yang negatif. Selain itu, pikiran negatif membuat perasaan selalu khawatir. Para ilmuwan di Universitas Stanford melakukan penelitian tentang kekuatan pikiran negatif dan pengaruhnya terhadap organ tubuh. Hasilnya pikiran negatif membuat lambung mengeluarkan asam sangat kuat. Mereka mengambil asam lambung tersebut kemudian meletakkannya pada makanan tikus yang dijadikan objek penelitian. Hasilnya sungguh mencengangkan, tikus itu mati karena kuatnya kadar asam itu. Para ilmuwan terus mengulang penelitian dan hasilnya tetap sama: kematian.

Penelitian yang diakukan fakultas kedokteran San Francisco pada tahun 1985 menyimpulkan bahwa pikiran negatif penyebab 75% lebih penyakit organik seperti jantung, tekanan darah tinggi, vertigo, dan kanker. (Elfiky, 2014). Atas dasar itu, berpikir membutuhkan panduan, agar kondisi kesehatan bisa terjaga.

Berpikir ada yang dilakukan secara sadar dan ada yang di bawah alam sadar. Pikiran alam bawah sadar mengendalikan prilaku-prilaku spontan pada diri manusia. Hasil pemikiran dan yang kita lakukan dipengaruhi oleh persepsi.  Penelitian yang dilakukan Universitas George Town menyimpulkan bahwa lebih dari 90% sikap kita dilakukan secara spontan, tanpa dipikir panjang. (Elfiky, 2014). Hal-hal yang sudah menjadi rutinitas biasanya dilakukan secara spontan dikendalikan oleh pikiran alam bawah sadar.

Sangat berbahaya sekali jika alam bawah sadar memiliki kebiasaan berpikir negatif. Prilaku-prilaku spontannya akan bersifat negatif. Prilaku pikiran spontan dan negatif secara tidak sadar telah membahayakan diri sendiri setiap saat. Berpikir negatif adalah prilaku tidak kasat mata, sangat mudah terlintas dalam berbagai kondisi. Bisa dibayangkan bahwa orang-orang yang memiiki kebiasaan berpikir negatif jiwa sedang terancam setiap saat akibat keburukan prilaku berpikir yang dilakukannya. Hanya kesadaran yang bisa mengakhiri kebiasaan berpikir negatif.

Jika pikiran negatif dapat menghasilkan asam lambung yang racunnya dapat membunuh tikus, dapat dipahami jika orang-orang yang sulit sembuh dari penyakit bukan karena tidak ada obatnya, tetapi tidak bisa mengubah pola pikirnya yang selalu spontan negatif dan tidak disadari.

Faktor dominan dari penyebab lahirnya pikiran negatif adalah prasangka buruk pada setiap kejadian. Prasangka buruk akan berubah menjadi prilaku suka menyalahkan orang lain, atau menilai prilaku orang lain buruk, dan lupa pada diri sendiri sebagai manusia yang tidak lepas dari keburukan. Padahal Allah mengabarkan dunia ini diciptakan untuk kebaikan dan kemudahan. Persepsi prasangka baik harus dijaga dalam menyikapi berbagai kejadian agar setiap saat manusia diiputi kebaikan yang telah ditetapkan Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain”.(A Hujurat, 49:12).

Orang yang akut selalu berpikir negatif adalah mereka yang selalu mencari sisi buruk ketika melihat objek, orang, atau kejadian. Pola pikir ini menular dan sangat berbahaya. Orang-orang sukses tidak pernah melihat keburukan sekalipun dari keburukan. 

Sangat dipahami oleh akal jika berpedoman pada Al-Qur’an bahwa orang yang paling berbahaya bagi manusia di muka bumi ini adalah manusia itu sendiri. Untuk memperbaikinya harus berawal dari mengubah atau membiasakan berpola pikir positif. Logika Tuhan adalah cara berpikir positif sebagaimana Allah telah memberi petunjuk di dalam Al-Qur’an. Wallahu’alam.

Monday, May 3, 2021

FITNAH PADA AKAL

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Akal adalah suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung luas pengalaman dan tingkat pendidikan formal maupun informal. Jadi, akal bisa didefinisikan sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis dan menilai apakah sesuai, benar atau salah. Namun, karena kemampuan manusia dalam menyerap pengalaman dan pendidikan tidak sama. Maka tidak ada kemampuan akal antar manusia yang betul-betul sama. (id.wikipedia.org/wiki/akal).

Berdasarkan definisi di atas, akal adalah sebuah benda, karena dikategorikan alat. Di organ tubuh manusia akal terletak di bagian otak. Jelas sekali cara kerja akal adalah berpikir antara lain menganalisis, menyimpulkan, dan menilai. Setiap otak manusia pasti dilengkapi akal karena setiap manusia berpikir seperti menganaisis, menyimpulkan dan menilai.

Dari sini bisa kita simpulkan siapapun orangnya yang melarang dan meremehkan kemampuan akal akan mengalami ketertinggalan dari kualitas kemanusiaannya. Allah merendahkan kualitas manusia yang tidak menggunakan akalnya. Manusia yang tidak taat pada Tuhan dikategorikan sebagai manusia yang tidak mau menggunakan akalnya.

“Dan apabila kamu menyeru untuk shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.” (Al Maa ’idah, 5:58).

Lebih tegas lagi manusia yang tidak mau menggunakan akalnya, akan ditimpa segala keburukan dalam hidupnya. Atas kehendak Allah, kebodohan, kemiskinan, perselisihan, perpecahan, akan menimpa umat yang tidak mau menggunakan akalnya.

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (Yunus, 10:100).

Maka yang berdosa bukan mereka yang menggunakan akal, tapi mereka yang menghalang-halangi digunakannya akal untuk berpikir. Banyak pendidik, penceramah, pendakwah berkata, agama tidak bisa dipahami akal seolah-olah hendak menghalang-halangi manusia untuk menggunakan akalnya dalam memahami agama. Padahal para pendidik, penceramah, pendakwah, mereka semua punya akal dan menggunakan akalnya. Orang yang menghalang-halangi orang menggunakan akal dia telah menggunakan akal, dan sekaligus tidak berakal.

CARA KERJA AKAL   

Akal berfungsi untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar, serta menjelakan apa-apa yang belum dimengerti, sebagai mana di dalam Al-Qur’an dijelaskan.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan  yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf, 12:111).

Ukuran kebenaran yang didapat oleh akal sangat tergantung pada sumber pengetahuan yang diperoleh. Secara garis besar ada dua sumber pengetahuan yang diciptakan Allah, yaitu pengetahuan alam dan pengetahuan yang diturunkan Allah kepada para utusan berupa wahyu. Dua sumber pengetahuan ini menghasilkan dua konsep kebenaran yaitu kebenaran empiris dan kebenaran wahyu. Akal akan menghasilkan perbedaan kesimpulan jika pengetahuan yang didapatnya berbeda sumber.

Akal bekerja dengan rasional menggunakan pola berpikir sebab akibat. Akal bisa bekerja  jika ada pengetahuan yang diolahnya. Jika akal mengolah pengetahuan alam akan menghasilkan kebenaran rasional empiris (alam). Jika akal mengolah pengetahuan alam yang ada dalam pengetahuannya maka akal akan menghasilkan kebenaran rasional. Cara berpikir akal tidak terpisah, dia bersifat holistik karena alam adalah wahyu Tuhan dalam bentuk fisik.

Jika akal mengolah pengetahuan wahyu akan menghasilkan kebenaran rasional religius. Jika akal mengolah pengetahuan wahyu yang ada dalam pengetahuannya akan menghasilkan kebenaran rasional mistik.

Jika akal bekerja menggunakan kekuatannya dalam mengolah pengetahuan tanpa menggunakan pengetahuan alam, akal hanya berimajinasi. Selanjutnya jika akal bekerja menggunakan kekuatannya mengolah pengetahuan tanpa pengetahuan wahyu, akal telah menciptakan takhayul.    

Pengetahuan sains jika diolah akal tanpa bukti rasional dari pengetahuan alam maka sains hanya menghasilkan imajinasi. Ajaran agama jika diolah akal tanpa bukti rasional dari pengetahuan wahyu, maka agama akan jadi takhayul.

Kebodohan akal kaum intelektual adalah menggunakan akal hanya untuk mengolah pengetahuan alam dan menafikan pengetahuan wahyu sebagai sumber petunjuk kebenaran. Sebaliknya kebodohan akal kaum agamawan adalah menafikan pengetahuan alam sebagai sumber pembuktian kebenaran-kebenaran wahyu peningkat keimanan.      

Untuk itu dimana letak salahnya akal? Kesalahannya ada pada kelemahan dalam memahami sumber pengetahuan. Akal dibiarkan bekerja tanpa petunjuk dari Tuhan. Akal dibiarkan bekerja tanpa ketaatan pada Tuhan. Seharusnya akal diajak bekerja untuk meng-Esa dengan Tuhan. Seharusnya akal diajak berserah diri menyatu dengan akal Tuhan Yang Maha Mengetahui yang tersembunyi maupun yang lahir. Fitnah terbesar adalah ketika akal dibenci sebagai penyebab kemunkaran, sementara Allah memurkai orang-orang yang tidak menggunakan akal. Wallahu’alam.  

Tuesday, April 13, 2021

HATI-HATI PADA ORANG YANG KAMU BANTU

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Hati-hati pada orang yang kamu bantu! Nasihat ini mengajak kita untuk berpikir. Pesan ini mengandung arti kehati-hatian tinggi bagi orang-orang beriman. Orang-orang yang kita bantu, menurut pemikiran kita semestinya mereka menjadi orang yang berprilaku baik pada kita. Apa jadinya jika orang-orang yang kita bantu mengkhianati kita sendiri? Pada saat orang-orang yang kita bantu berkhiatan, berprilaku buruk pada kita, di sinilah kehati-hatian kita untuk menyikapinya.

Pesan hati-hati pada yang yang kita bantu, mengandung pesan bersumber pada ayat Al-Qur’an. Perasaan sakit, kecewa, kesal, benci, dendam, mudah tumbuh pada diri seseorang ketika orang yang diberi bantuan berkhianat.  Pengkhiatan seseorang adalah pupuk penumbuh subur penyakit-penyakit hati. Pada saat ini emosi harus terkendali agar sikap atau reaksi terhadap pengkhiatan tidak menjadi keburukan sikap yang lebih buruk.

Kasus yang sering terjadi ketika pengkhianatan terjadi, emosi sering tidak terkendali dan membabi buta. Hal yang harus hati-hati untuk tidak dilakukan adalah mengungkap semua kebaikan yang telah diberikan kepada mereka yang mengkhinati. Mengungkap semua kebaikan yang pernah diberikan akan mengubah niat ikhlas seseorang dalam berbuat baik. Kebaikan yang pernah dilakukannya akan berubah menjadi kebaikan yang mengharuskan seseorang untuk membalas kebaikan.

Sebuah pemberian yang diiming-imingi dengan harapan seseorang untuk membalas kebaikan yang dilakukannya adalah bukan pekerjaan baik.  Ukuran kebaikan adalah ketika kebaikan yang dilakukan hanya diharapkan kepada Allah, ketika berharap kepada manusia maka tidak ada kebaikan karena kiblatnya atau tauhidnya kepada manusia.

Orang yang mengungkit kebaikan yang dilakukannya kepada orang lain adalah alamat kebangkrutan bagi orang tersebut. Allah peringatkan kondisi orang seperti ini dalam sebuah perumpamaan.

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al Baqarah, 2:264).

Secara psikologis manusia yang menerima pembalasan buruk dari orang yang pernah dibantunya akan membangkitkan seluruh sifat buruk yang dimilikinya. Sifat buruk tersebut adalah ketika mengungkap seluruh bantuan kebaikan yang pernah dilakukannya dengan sumpah serapah, kata-kata menyakitkan hingga melukai orang-orang yang menerimanya. Ketika ini terjadi maka terungkap, tujuannya berbuat baik ternyata bukan karena Allah tetapi karena ingin dibalas kebaikan oleh orang orang yang dibantunya. Hingga pada kondisi ini kiblat manusia bukan lagi kepada Allah tetapi kepada manusia. Maka orang-orang itulah yang dikategrikan orang-orang ria yaitu orang yang berkibat kepada manusia dalam berbuat baik. Tidak ada sedikitpun kebaikan bagi mereka yang mengungkap kebaikannya karena ingin dihargai dihormati oleh orang yang pernah dibantunya. Kebaikannya akan hilang seperti tanah di atas batus licin yang ditimpa hujan lebat.

Penjelasan lain, orang-orang yang mengungkap seluruh kebaikan yang dilakukannya kepada orang lain dengan menyakiti, prilakunya bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah. “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan. Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Al Baqarah, 2:263). Kualitas manusia terbaik adalah mereka yang berkata tetap baik, dan pemberi maaf sekalipun kebaikan mereka dibalas keburukan oleh manusia yang dibantunya.

Allah mengajari kepada manusia untuk berakhlak seperti Allah, yaitu pemberi maaf dan penyantun. Sekalipun tidak seluruh manusia bersyukur kepada Allah atas rezeki yang diberikan-Nya, Allah masih tetap menyantuni dan membuka pintu maaf kepada semua manusia.  Umat Islam yang membaca Al-Qur’an sebagai kitab suci ilmu pengetahuan dari Allah, selayaknya memahami dan menghayati ayat-ayat Allah sampai bisa tampil menjadi manusia-manusia unggul dengan menjadi pribadi-pribadi agung seperti pribadi Rasullullah SAW. Berhati-hatilah pada orang yang kamu bantu! wallahu’alam.