Sunday, April 18, 2021

AGAMA ILMU BERPIKIR

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Agama pada era disrupsi ini sering jadi perbincangan, bahkan perbincangannya kontra produktif, seolah-olah agama menjadi faktor penghambat perubahan dan persatuan bangsa. Pandangan ini sangat tendensius bukan datang dari kaum intelektual kelompok manapun, pandangan ini datang dari mereka yang pikirannya sangat dipengaruhi oleh kepentingan pribadi dan golongan untuk suatu kepentingan.

Jika manusia terdiri dari ruh dan jasad, maka ruh adalah inti dari manusia. Berpikir adalah bagian dari aktivitas yang dilakukan ruh. Pengetahuan adalah makanan ruh yang akan diolah dengan aktivitas berpikir dan menghasilkan kesimpulan demi kesimpulan sebagai dasar manusia dalam bertindak, berprilaku dan berkepribadian.

Agama berkaitan dengan kecerdasan intelektual seseorang. Keberagamaan seseorang akan berbanding lurus dengan kecerdasan intelektualnya. Edward Said tidak membedakan peran alim ulama dengan para intelektual, mereka sama-sama memiliki tugas menyebarkan ajaran-ajaran damai dan kebaikan dari Tuhan atau pewaris para Nabi.

Nabi Muhammad saw dalam hadis menjelaskan bahwa tujuan dari agama adalah memperbaiki akhak (kepribadian atau karakter) seseorang. Pembentukkan akhlak dalam ilmu pendidikan meliputi tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Untuk itu agama dalam kacamata pendidikan adalah ilmu yang bertujuan membentuk pola pikir, perasaan, dan prilaku yang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah. Ritual dan kepribadian yang ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari adalah kegiatan psikomotor sebagai pengikat pikiran dan perasaan.

Pembentuk perasaan dan psikomotor adalah kegiatan pola pikir yang ada di wilayah kognitif.  Berpikir adalah pekerjaan ruh sebagai inti dari kehidupan manusia. Ruh adalah daya berpikir kreatif yang ditiupkan langsung oleh Tuhan sebagai bagian unsur inti dalam diri manusia. Mahmud Thoha (1994) mengatakan bahwa ruh adalah daya entrepreneurship yang dimiliki oleh setiap manusia.  Pendidikan berkaitan erat dengan usaha sadar untuk menjadikan ruh manusia berpikir sehat sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para Nabi kepada umat manusia.

Perbedaan pola pikir terletak pada sumber pengetahuan, dominasi, dan egoisme. Perbedaan pengetahuan membuat perbedaan persepsi. Dominisasi dan propaganda, membangun persepsi publik hingga jadi pola pikir bersama. Egoisme membangun persepsi berdasar pada kepentingan-kepentingan pribadi atau golongan. Sumber pengetahuan agama dari kitab suci Al-Qur’an  membebaskan manusia dari keterikatan manusia pada alam, dominasi tradisi nenek moyang, dan sifat-sifat berlebihan mementingkan diri sendiri yang dilakukan manusia.

Nabi Muhammad saw pertama kali berdakwah di Mekkah adalah mengajarkan berpikir Tauhid yaitu mengesakan Allah sebagai dzat yang tidak berwujud dan tidak dapat dipersamakan dengan manusia. Cara berpikir seperti ini membutuhkan kecerdasan nalar dengan sumber pengetahuan dari Al-Qur’an. Sebagaimana Allah jelaskan di dalam Al-Qur’an orang-orang beriman melaksanakan shalat dan berbuat baik pada sesama sesungguhnya mereka yang memiiki pikiran sehat.

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Ali Imran, 3:7)

Al-Qur’an adalah sumber pengetahuan sebagai pijakan berpikir. Berpikir kepada selain sumber dari Al-Qur’an seperti berpijak pada batu mengambang. Diihatnya batu tetapi ketika dipijak akan tenggelam. Sumber pengetahuan dan berpikir adalah permasalahan manusia dalam berpikir. Manusia-manusia yang tidak mengenal Tuhan bukan karena tidak berpikir, tetapi bermasalah di sumber pengetahuan.

Hanya agama yang membawa sumber pengetahuan yang otentik yang layak dijadikan agama. Ajaran agama yang membawa kabar pengetahuan dari karangan manusia adalah penyebab kekacauan dalam berpikir. Manusia-manusia yang berpikir pada sumber dari Al-Qur’an tidak akan mengklaim kebenaran tetapi hanya menyampaikan kebenaran. Bagi orang-orang yang berpikir bersumber pada Al-Qur’an perbedaan akan jadi kenyataan yang tidak saling membahayakan. Kehidupan akan jadi harmoni dan menyejukkan hati. Hati damai hadir dari pikiran sehat yang dipandu dari pengetahuan agama yaitu Al-Qur’an. Wallahu’alam. 

No comments:

Post a Comment