Sunday, April 11, 2021

AGAMA ILMU DUNIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Pendapat mainstream dari sudut pandang sekuler ilmu alam dan sosial dianggap ilmu tentang dunia, dan ilmu agama dianggap ilmu akhirat. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, paradigma berpikir sekuler terus mendominasi pola pikir umat manusia termasuk pemikiran kelompok-kelompok umat beragama. Dengan susah payah para kelompok religius menncoba memasukkan pola pikir keberagamaannya agar cocok dengan paradigma sekuler. Kelompok pemikir ini mencoba mendamaikan agama dengan pemikiran sekuler, sekalipun cara berpikirnya berbelit-belit dan susah dimengerti oleh orang.

Ketika seorang filsuf ditanya bagaimana hubungan antara agama dengan nation building? Agama dianggap tidak bisa dijadikan sebagai faktor pembentuk pola pikir kebangsaan. Katanya, agama adalah urusan pribadi antara manusia dengan Tuhannya, bersifat personal dan tidak bisa dijadikan sebagai dasar berpikir dalam kenegaraan. Ini pola pikir berisiko sebenarnya, karena dengan paradigma seperti ini ketika manusia bernegara maka seluruh warga negara refleksi otaknya tidak berTuhan. Otaknya berisi Tuhan ketika melakukan ritual ibadah. Di luar ritual ibadah Tuhannya kembali hilang dari ingatan. 

Cara pandang sekuler sebenarnya bisa diterapkan dalam bernegara, namun terlalu berbelit-belit cara berpikirnya. Sulit menjelaskannya, apalagi kepada orang-orang awam yang tidak suka belajar berpikir. Daripada memaksakan cara berpikir yang rumit untuk dipahami, sebagai manusia yang pasti dalam otaknya ada Tuhan, seharusnya mengambil cara-cara berpikir yang bersumber kepada ajaran agamanya.  Ajaran agama harus benar-benar berdasar dari kitab suci yang orisinalitasnya dapat dipertanggungjawabkan masih bersumber dari Tuhan. Sangat tidak logis jika manusia menjadikan kitab suci sebagai sumber keberagamaan sementara di dalam kitab suci tersebut ada pemikiran-pemikiran manusia. Jadi ketika umat beragama berkiblat pada kitab suci sementara di dalamnya ada pemikiran-pemikiran manusia maka dia tidak sedang berkiblat pada pola pikir Tuhan tapi pada pola pikir manusia.


Al-Qur’an menawarkan cara berpikir yang mudah dipahami dan dapat dijadikan panduan dalam kehidupan sehari-hari dala berbangsa dan bernegara. Lalu seorang filsuf berbicara, Al-Qur’an tidak bisa dijadikan langsung sebagai car akita berpikir dalam hidup bernegara. Filsuf ini sedang menjadi Tuhan, karena dia mengeluarkan kata larangan bagi seseorang untuk berpikir bersumber langsung kepada kitab suci Al-Qur’an padahal mereka sendiri yang mengusung kata kebebasan berpikir.

Agama adalah ilmu dunia plus akhirat. Dunia tidak dapat dipisah-pisah karena Tuhan menciptakan alam dalam sistem ketersalinghubungan. Benda-benda tidak berdiri sendiri-sendiri, semua benda memiliki eksistensi jika saling berhubungan.  

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (Al Anbiyaa’, 21:30)

Inilah cara berpikir yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an langit dan bumi tidak terpisah. Artinya memahami kehidupan dunia ini tidak bisa dipahami secara terpisah-pisah. Keterpaduan adalah cara berpikir yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an. Prakteknya adalah segala tindakan manusia secara nyata dikendalikan pikiran yang harus bersumber pada petunjuk sebagaimana Allah perintahkan.

dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (Al Baqarah, 2:4)

inilah ilmu dunia yang diajarkan Allah, bahwa bagi manusia-manusia yang beriman kepada Tuhan mereka harus punya pemikiran bahwa hidup dunia akan terus berkesinambungan sampai pada kehidupan akhirat. Kehidupan dunia tidak terputus karena kematian. Tindakan-tindakan manusia di dunia akan mengalami kematian namun pikiran-pikiran akan terus berlangsung sampai akhirat. Untuk itulah yang diadili dikahirat adalah prilaku-prilaku pikiran manusia. Maka dari itu, Rasulullah saw menjelaskan bahwa semua manusia akan diadili berdasarkan niat-niatnya dalam arti pikiran-pikirannya. Semua manusia bertindak berdasarkan apa yang dipikirkannya.

Paradigma pemisahan ilmu umum dan ilmu agama adalah paradigma manusia. Buya Syakur berpendapat Nabi Muhammad saw ketika memerintahkan pada umat untuk mencari ilmu, tidak ada spesifik ilmu apa yang harus dipeajari. Pada saat itu para sahabat belajar ilmu dari Yunani, Parsi, China, karena pada saat itu memang adanya ilmu-ilmu tersebut. Jadi pemisahan ilmu agama dan umum hanya paradigma saja atas dugaan manusia yang tidak berdasar pada pengetahuan dari Al-Qur’an.

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". (Al Baqarah, 2:201).

Begitulah panduan cara berparadigma berpikir sebagaimana Allah ajarkan kepada manusia. Maka dari itu agama yang sumbernya dari Al-Qur’an adalah ilmu dunia. Ilmu yang dapat memandu manusia agar bisa hidup sejahtera di dunia karena diakhirat orang-orang masuk neraka gegara tidak becus hidup di dunia. Wallahu’alam.

No comments:

Post a Comment