Oleh: Muhammad Plato
Perbedaan mendasar pada masyarakat Timur dan Barat adalah masalah batasan. Peradaban Barat memnjamin kebebasan setiap orang berpendapat. Menghina menghujat, mencemooh, presiden di barat diakui sebagai ekpresi kebebasan berpendapat dan dilindungi undang-undang.
Al Qur'an mengajarkan etika berkomunikasi dengan pemimpin. Pemimpin di dalam Al Qur'an disebut sebagai ulim amri. Para ulama menyimpulkan ulil amri adalah para pemimpin di masyarakat. Ketaatan pada ulil amri dijelaskan dalam Al Qur'an setelah ketaatan pada Allah dan Rasul.
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa, 4:59).
Keberadaan pemimpin pada sebuah masyarakat menjadi penting dan sakral. Fungsi pemimpin sebagai pengambil keputusan penentu arah kebijakan di masyarakat. Pemimpin seperti Pilot yang akan membawa kemana saja pesawat beserta penumpangnya pergi.
Idealnya seorang pemimpin dipilih dari kemampuan memahami kondisi masyarkat (peneliti), punya kemampuan berpikir (filsuf), dan teguh dalam keyakinan (berani mengambil keputusan). Pemimpin adalah manusia berkualitas tinggi sehingga punya otoritas dan harus ditaati.
Untuk itulah kepada pemimpin, seburuk apapun pemimpin ketika berkomunikasi Allah menetapkan standar penghormatan tinggi pada pemimpin. Siapapun menjadi pemimpin, tertulis dalam Al Qur'an sebagai orang yang harus ditaati. Penghormatan pada pemimpin, bagian dari ketaatan pada ketetapan dalam kitab suci.
Namun demikian, pemimpin yang tidak mengikuti aturan harus tetap mendapat peringatan. Allah mengajarkan bagaimana Nabi Musa memberi peringatan kepada pemimpin. Allah mengabarkan Nabi Musa medatangi Fir'aun dengan kata-kata lemah lembut.
Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Thaahaa, 20:43-44).
Lalu apa yang dikatakan oleh Nabi Musa kepada Fir'aun. Secara substantif perkataan yang disampaikan kepada Fir'aun adalah bukan kata-kata hinaan, hujatan, ancaman, atau mnejelek-jelekkan, tetapi dalam bentuk katak-kata bijak untuk mengajak refleksi, tawaran bantuan, atau solusi, menuju pada kehidupan yang diharapkan oleh setiap orang.
Maka berkata, "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri?" "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar kamu takut (kepada-Nya)?" (An Naazi'at, 18-19).
Al Qur'an mengajarkan kepada seluruh manusia untuk tetap menjadi manusia beretika tinggi. Dalam kondisi seburuk apapun, manusia tetap mengendalikan dirinya tetap berada di atas akhlak yang baik. Inilah kecerdasan manusia-manusia beriman kepada Tuhan, yang digambarkan dalam Al Qur'an sebagai manusia berkemampuan intelektual tinggi.***

No comments:
Post a Comment