Saturday, August 15, 2026

REFLEKSI MORAL DUNIA ARAB

Oleh Muhammad Plato

Ide tulisan ini merupakan pandangan keprihatinan sebagai muslim melihat kejadian di Timur Tengah. Pandangan mengenai pergeseran moral dan politik di tanah Arab mencerminkan keprihatinan mendalam selaras dengan berbagai peringatan dalam nas dalil agama.
Kondisi sosiopolitik di tanah Arab saat ini memicu keprihatinan mendalam bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Sikap dan kebijakan sebagian penguasa Arab dinilai mulai menjauh dari substansi nilai-nilai murni ajaran Islam. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran akan kembalinya mentalitas zaman jahiliyah sebelum datangnya Rasulullah SAW.
Sejarah mencatat bahwa karakteristik utama masyarakat jahiliyah adalah fanatisme golongan yang melampaui keadilan moral. Allah SWT mengutuk keras kesombongan berbasis kesukuan ini di dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 13. Rasulullah SAW juga menegaskan dalam hadis sahih riwayat Muslim bahwa siapa pun yang berperang demi membela fanatisme kelompok maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.
Sikap tidak berkomitmen terhadap keimanan tampak jelas dari suburnya permusuhan antar-sesama bangsa Arab itu sendiri. Konflik internal ini dipicu oleh ego keturunan, ambisi kekuasaan, dan perbedaan aliran yang tajam. Padahal, persaudaraan universal adalah fondasi utama yang dibangun Nabi Muhammad SAW untuk meruntuhkan sekat-sekat kesukuan tersebut.
Permusuhan yang terus terpelihara ini sayangnya ikut mengekspor perpecahan ke seluruh penganut Islam di dunia. Sentimen sektarian dari pusat dunia Islam justru melemahkan posisi tawar umat di panggung geopolitik global. Akibatnya, energi umat habis untuk bertikai internal alih-alih membangun peradaban yang maju dan damai.
Krisis berkepanjangan di Timur Tengah seharusnya bisa diselesaikan jika para pemimpinnya memegang teguh petunjuk Al-Qur'an. Allah SWT berfirman secara tegas dalam Surah Al-Hujurat ayat 10 bahwa sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Pengabaian terhadap ayat ini membuktikan adanya kesenjangan besar antara identitas formal sebagai muslim dan realitas tindakan sehari-hari.
Persaudaraan Islam menuntut adanya rekonsiliasi dan perdamaian ketika terjadi perselisihan di antara sesama muslim. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Oleh karena itu, memelihara konflik demi ego politik bertentangan langsung dengan amanah persatuan yang diwajibkan agama.
Faktor kedua yang sangat kasat mata adalah kontrasnya kemakmuran bangsa Arab dengan penderitaan saudara mereka. Wilayah Teluk bergelimang kemewahan material, sementara jutaan muslim di belahan lain hidup di bawah garis kemiskinan. Ketimpangan ekstrem ini menunjukkan pudarnya rasa empati yang menjadi pilar utama bangunan keimanan seseorang.
Tragedi kemanusiaan di Palestina menjadi ujian terbesar bagi komitmen moral dan keimanan bangsa-bangsa Arab saat ini. Puluhan ribu nyawa manusia melayang akibat agresi tanpa ada tindakan nyata yang mampu menghentikannya. Sikap diam dan lambatnya respons para pemimpin Arab dinilai sebagai bentuk pengorbanan terhadap nyawa saudara sendiri demi stabilitas ekonomi mereka.
Kondisi rakyat Palestina saat ini sungguh memprihatinkan karena mereka kelaparan, terlantar, dan kehilangan tempat tinggal. Rumah-rumah ibadah dan fasilitas medis dihancurkan hingga tidak menyisakan ruang aman untuk bertahan hidup. Penderitaan ini berlangsung terbuka di hadapan mata para penguasa Arab yang memiliki kekuatan militer dan finansial besar.
Pengabaian terhadap penderitaan sesama muslim ini mendapat ancaman keras di dalam teks-teks suci Islam. Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Anfal ayat 73 bahwa jika orang beriman tidak saling melindungi, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di bumi. Keengganan bertindak konkret untuk menyelamatkan nyawa sesama muslim mencerminkan rapuhnya pembelaan atas dasar akidah.
Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang sangat indah mengenai ikatan emosional umat Islam dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Beliau bersabda bahwa perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai dan menyayangi adalah bagaikan satu tubuh. Jika ada satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.
Kesimpulan dari seluruh fenomena ini adalah mendesaknya kebutuhan restorasi iman dan moral di jantung dunia Islam. Mengelola Kakbah secara fisik tidak serta-merta menggugurkan kewajiban moral untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan universal. Bangsa Arab harus segera kembali pada khitah Al-Qur'an dan Sunnah agar terhindar dari kehancuran moral layaknya kaum jahiliyah terdahulu.***

No comments:

Post a Comment