Sunday, May 6, 2018

KESEHATAN OTAK

OLEH
MUHAMMAD PLATO

Dalam tulisan ini saya akan meresume hasil penelitian seorang ahli neurologi, kesehatan, dan pendidikan, yaitu Prof. Dr. Taufik Pasiak, Dr., M.Pd., M.Kes. Hasil penelitian dikemas dengan menarik dalam bukunya berjudul Tuhan dalam Otak Manusia. Buku ini menjelaskan pendekatan-pendakatan, dan fakta-fakta, cara mewujudkan ksesehatan spiritual berdasarkan neurosains.

Ada tiga kelemahan praktek kedokteran, pertama; terlalu mementingkan jasmani dari pada manusia. Manusia dianggap hanya fisik belaka, sehingga faktor-faktor lain yang berkontribusi besar terhadap penyembuhan diabaikan. Kedua; lebih mementingkan penyakit dari pada manusia. Sasaran dari pengobatan adalah menyembuhkan penyakit, bukan pada menumbuhkan kesehatan. Ketiga; manusia menjadi agen yang pasif dalam proses penyembuhan. Obat dan intervensi fisik dianggap sebagai hal yang paling penting. Segala aspek manusia, terutama aspek spiritual, tidak mendapat tempat sepantasnya dalam proses pengobatan.

Berdasarkan hasil penelitian  tahun 2003, di lembaga-lembaga pelayanan kesehatan Amerika, ditemukan kenyataan bahwa bentuk perawatan di luar bentuk perawatan konvensional meningkat dari hari ke hari. Pendekatan-pendekatan yang dikenal pendekatan kedokteran timur telah masuk ke ruang-ruang praktik kedokteran. Yoga, reiki, terapi herbal, kiropraksi, dan pelbagai pendekatan alternatif, telah banyak digunakan dalam praktik kedokteran, meskipun secara medis belum diakomodir dalam sistem pendidikan kedokteran.

Temuan mutakhir dalam neurosains, doa yang intens dan meditasi (ritual shalat) secara permanen dapat mengubah jumlah struktur fungsi dalam otak manusia, gilirannya akan mengubah nilai-nilai hidup dan cara pandang terhadap realitas. Tidak hanya berdoa, praktik-praktik spiritual dapat menyusutkan atau menghilangkan stres, dan kecemasan. Sekitar 12 menit meditasi per hari dapat melambatkan proses penuaan. Kontemplasi akan kehadiran Tuhan dapat menyusutkan stres, kecemasan, depresi, dan meningkatkan rasa aman, semangat, dan cinta.

Banyak riset menemukan adanya hubungan positif antara ketaatan pada ajaran agama dengan kesehatan mental. Mereka yang kurang aktif dalam kegiatan religius memiliki frekuensi menderita kanker yang lebih tinggi, kecemasan kronik, depresi, menjadi perokok berat, dan pengguna alkohol.

AGAR ANAK-ANAK POLA PIKIRNYA SEHAT, PENDIDIKANNYA HARUS DIBANGUN SEJAK DALAM KANDUNGAN. PENDIDIKAN ZAMAN 4.0
Hubungan di atas diperkuat dengan penelitian-penelitian tentang otak spiritual (neuroteologi), yang menemukan hubungan bahwa praktik-praktik spiritual yang menjadi kepercayaan religius, meningkatkan fungsi neuron otak dengan cara memperbaiki kesehatan fisik dan mental. Praktik-praktik spiritual juga dapat meningkatkan kognisi, komunikasi, dan kreativitas, serta sejalan dengan waktu, dapat mengubah persepsi neurologi tentang realitas.  

DISKUSI

Prediksi para ilmuwan, perkembangan ilmu kesehatan abad 21 akan lebih fokus pada bagaimana memelihara agar tubuh tetap sehat dari sumbernya. Sumber kesehatan bisa dibangun dari pola kerja otak. Rumusnya, pola kerja otak negatif akan memperburuk konidisi fisik dan pola kerja otak positif akan meningkatkan kesehatan fisik.

Ajaran-ajaran agama membimbing pola pikir penganutnya agar tetap berpikir positif dalam segala kondisi. Ajaran agama mengajarkan pola-pola berpikir optimistik, agar hidup tetap semangat dan energik.

Kondisi kesehatan seseorang sangat dipengaruhi oleh pola pikir, yang diciptakannya sendiri berdasar pada kejadian yang dialami. Persepsi buruk dalam menyikapi kejadian, akan berdampak pada timbulnya keluhan, kekecewaan, dan sakit secara fisik.

Ustad Yana seorang ahli terapi kesehatan, melalui kecerdasan visualisasi yang dimilikinya, dari berbagai penyakit pasien yang pernah diobatinya, memberikan kesimpulan bahwa penyakit dari leher ke atas rata-rata disebabkan oleh prilaku kehidupan sehari-hari yang beretentangan dengan ajaran agama. Dalam bahasa agama, penyakit manusia dari leher ke atas disebabkan oleh dosa-dosa kecil (prilaku buruk) yang rutin dilakukan, disadari atau tidak disadari. Dosa-dosa kecil ini menjadi sebab timbulnya penyakit pada organ-organ yang ada di wilayah kepala.  Penyakit ini meliputi; otak, mata, telinga, hidung, tenggorakan, dan mulut.

“…kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikit pun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) adzab yang keras”. (Saba, 34:46).

Nabi Muhammad saw, mendapat sanggkaan gila dari orang-orang kafir (materialis), karena pola-pola pikir Nabi Muhammad yang bersumber dari kitab suci memiliki perbedaan dengan pola pikir material. Hal ini mengindikasikan bahwa orang-orang materialis selalu berprasangka buruk terhadap pola pikir di luar pandangan materialisnya. Maka sebenarnya kaum materialis memiliki sakit di sekitar wilayah organ leher ke atas, yang intinya di otak.

Ustad Yana menejelaskan penyakit leher ke atas, dominan disebabkan oleh nafsu amarah yang tidak terkendali. Prilaku ini menyebabkan lahirnya penyakit vertigo, migrain, radang otak, pecah pembuluh darah, stroke. Penyakit-penyakit ini ada di leher ke atas.

Penyakit kedua yaitu penyakit dari sekitar leher sampai ke pinggang. Penyakit ini disebabkan oleh prilaku-prilaku yang sangat bertentangan dengan ajaran agama, yaitu prilaku kafir, munafik, dusta, tidak mengakui adanya Tuhan,dan mengingkari ke-Esa-an Tuhan. Penyakit ini berdampak pada sakit di jantung, hati, ginjal, usus, lambung, dan kelamin.

Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. (At Taubah, 9:125)

Dari hasil visualisasi yang dilakukan Ustad Yana, pasien yang keluhan sakitnya dari sekitar leher ke pinggang, rata-rata mereka memiliki praktek-praktek yang bertentangan dengan ajaran agama, yaitu perbuatan menyembah kepada selain Tuhan Yang Esa. Prilaku tersebut antara lain syirik, murtad, fasik, munafik, ria, takabur, dzolim, aniaya dan sebagainya.

Ditarik kesimpulan bahwa hal terpenting dari pengobatan adalah bukan mengobati sakit fisik semata, tetapi bagaimana semua orang bisa sehat dengan memelihara pola prilaku, bersumber dari pola pikir yang baik. Ajaran berprilaku baik, berpikir baik, pedomannya ada dalam kitab suci (Al-Qur'an).

Maka dari itu, sangat masuk akal jika seharusnya para penganut agama hidupnya lebih sehat dan panjang umur. Pola pikir dan prilakunya yang baik, menjagi faktor penyebab organ-organ tubuhnya terpelihara dengan baik.

Sangat masuk logika juga jika kemudian para ilmuwan Barat mulai meneliti hubungan peran otak dengan kesehatan. Dan tidak menutup kemungkinan ke depan untuk mendeteksi kesehatan seseorang, datanya bukan hanya dari photo sinar x, tetapi bisa di diagnosis dari prilaku dan pola pikirnya, dan secara khusus prilaku otak spiritualnya. Salah satu ciri otak sehat adalah membenarkan bahwa perbuatan baik akan berbalas kebaikan dengan yang lebih baik. Wallahu “alam.

(Penulis Master of Logika Tuhan)

No comments:

Post a Comment