Monday, December 12, 2022

MASUK SURGA KARENA LALAT

OLEH: MUHAMMAD PLATO

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah." (Al Hajj, 22:73).

Segala sesuatu yang diminta pertolongan selain Allah adalah penyebab kelemahan manusia. Dia yang disembah selain Allah dan yang menyembah kepada selain Allah sama-sama makhluk lemah. Allah adalah kekuatan, dan manusia yang memohon pertolongan Allah adalah manusia yang memiliki kekuatan. Melatih dan mengajarkan peserta didik untuk membiasakan diri memohon pertolongan pada Allah setiap pagi adalah upaya dunia pendidikan untuk membangun manusia-manusia kuat berkarakter unggul. 

Manusia yang menyembah pada selain Allah kekuatannya lebih lemah dari seekor lalat. Ketika lalat hinggap di atas makanan kita, lalu lalat itu terbang sesunguhnya lalat sudah mengambil sebagian makanan kita. Jika disadari,  kita memang tidak berdaya mengambil kembali makanan yang telah diambil seekor lalat. Betapa lemahnya kita, kalah hanya dengan seekor lalat. Itulah perumpamaan bagi manusia yang memohon pertolongan kepada selain Allah. 

Ayat di atas bisa jadi menjadi dasar Nabi Muhammad memberikan sebuah logika perumpamaan dari cerita seekor lalat. Hadis riwayat Thariq bin Syihab, Nabi Muhammad pernah bersabda, "ada seorang lelai yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki yang masuk neraka gara-gara lalat". 

Mereka (para sahabat bertanya), "bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban sesuatu untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, "berkorbanlah." Ia pun menjawab, "aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan"." Mereka mengatakan, "berkorbanlah, walaupun dengan seekor lalat." Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya, "berkorbanlah." Ia menjawab, "tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah. "Akhirnya mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah ia masuk surga. (Hadis Mauquf dikeluarkan oleh Ahmad dalam Az Zuhud dari Thoriq bin Syihab dari sahabat Salman Al Farisi).

Apa pesan di kisah lalat ini? Al Quran dan hadis berbicara tentang lalat. Bisa jadi inspirasi Nabi Muhammad membuat cerita lalat ini dengan menafsir dari Al Quran.

Jika kita analisis pesan dari Al Quran dan cerita Nabi Muhammad sangat dalam, berkaitan dengan menjaga keyakinan niat hati dan pikiran seseorang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Allah memudahkan jalan orang untuk masuk neraka, dan Allah menyulitkan jalan seseorang untuk masuk surga. Bisa jadi jalan yang mudah di muka bumi ini, penyebab orang masuk neraka, dan bisa jadi jalan sulit yang dipilih orang adalah jalan menuju surga. Jalan sulit dan jalan mudah menuju surga tergantung kepada di atas tujuan orang melakukan sesuatu. Bisa jadi kematian seseorang adalah akhir jalan hidup dia masuk surga, bisa jadi keselamatan dari maut seseorang adalah jalan singkat menuju neraka. 

Pengorbanan seseorang yang bisa membuat dia masuk surga bukan diukur dari besar atau kecilnya pengorbanan. Demikian juga keselamatan seseorang tidak bisa diukur dari selamatnya dia dari kematian. Sesungguhnya penyelamat kehidupan seseorang adalah komitmennya dalam menjaga keimanan kepada satu Tuhan, yaitu Tuhan Yang Ghaib. Inilah pesan filosofis yang dalam dari perumpamaan seekor lalat. Hanya orang berakal yang bisa mengambil pelajaran dari cerita lalat ini.

Jangan meremehkan pekerjaan kecil dan jangan berbangga dengan pekerjaan besar. Jaminan surganya seseorang bukan dari seberapa besar pekerjaan yang orang lakukan, tapi seberapa lurus hati dan pikiran seseorang dalam menjaga iman tauhid orang kepada Allah. Untuk itulah orang Islam selalu meminta jalan yang lurus dalam setiap shalatnya. Wallahu'alam. 


 


No comments:

Post a Comment