Oleh: Muhammad Plato
Dikusi antar para pemuka agama dapat kita temukan dalam Al Quran yaitu dalam surah yasin. Kisah ini terjadi dalam sebuah lingkungan yang sudah mapan. Sistem ekonomi dan keyakinan sudah berjalan di masyarakat. Para pengusaha dan pemuka agama merasa semua sudah berjalan dengan baik.
Dalam kehdiupan masyarakat telah berkembang berbagai kepercayaan, dengan tuhan-tuhan yang mereka yakini berdasarkan tradisi dari nenek moyang. Tiba-tiba datang seorang utusan mengajarkan kebenaran berdasarkan wahyu dari Tuhan yang ghaib.
Yaa Siin. Demi Al Qur'an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. (Yasin, 36:1-6).
Kelompok pemuka agama yang sudah hidup mapan dan menganut keyakinan turun-turun merasa terusik dengan kehadiran para utusan. Terjadilah perdebatan antara orang yang mendapatkan wahyu dan pemuka agama dari masyarakat yang sudah mapan.
Para pemuka agama mereka memiliki pengetahuan ketuhanan dan kekayaan sebagai simbol kekuasaan. Kepercayaan yang ada dimasyaarkat telah menjadi sumber ekonomi dan menjadi sumber pendapatan tanpa henti karena bisnis sudah besatu padu dalam keyakinan.
Kedatangan utusan menjadi ancaman berkurangnya pendapatan dan hilangnya kekuasaan. Diantara masyarakat terjadi perselisihan dan mengganggu keamanan sehingga wisata religi yang dikelolanya terganggu. Kungungan menurun drastis dan berdampak secara ekonomi.
Terjadilan perdebatan dengan para utusan. Kisah perdebatan antara pemuka agama dengan para utusan dikabarkan dalam Al Quran. "Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka;" (Yasin, 36:13).
Diutuskan dua orang utusan, kemudian mereka mendustakan, dan diutus utusan ketiga. Perdebatanpun dimulai dengan sengit karena masing-masing bertahan dengan argumennya. Para utusan berargumen dari wahyu, dan para pemuka agama berargumen berdasar pengetahuan dari tradisi dan pengalaman yang mereka alami.
Utusan berkata, "sesungguhnya kami adalah orang yang diutus". (Yasin, 36:14).
Pemuka agama menjawab, "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka". (Yasin, 36:15).
Utusan berkata, "Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas". (Yasin, 36:16:17).
Pemuka agama menjawab, "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami". (Yasin, 36:18).
Para utusan berkata: "Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas". (Yasin, 36:19).
Dikalangan masyarakat terpecah belah menjadi dua kubu, satu pihak memilih para utusan dan di satu pihak memilih berada di para pemuka agama. Satu pihak menganggap para utusan membawa kebenaran yang masuk akal, di sisi lain para pemuka agama memberi bantuan ekonomi pada pendukungnya dan menuntut untuk mmeberi dukungan.
Orang-orang yang berakal sehat punya pedoman dalam menemukan kebenaran ketika terjadi perselisihan setelah mengikuti perdebatan antara para utusan dan pemuka agama.
Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Yasin, 36:20:21).
Seorang utusan yang berada di jalan lurus dan mendapat petunjuk, dia tidak datang untuk mendapat dukungan dari siapapun. Para utusan tidak menuntut bayaran atau kekuasaan atas apa yang dia sampaikan. Tugas para utusan hanya menyampaikan dengan jelas apa yang telah diwahyukan Allah. Dan cukup Allah jadi saksinya.***

No comments:
Post a Comment