Showing posts with label superintelegence. Show all posts
Showing posts with label superintelegence. Show all posts

Sunday, October 18, 2026

SUPERINTELLEGENCE BUKAN AI

Oleh: Muhammad Plato

Para pengembang kecerdasan buatan sedang berlomba-lomba menciptakan mesin berpikir paling cerdas. Hasilnya kemudian diterapkan pada robot yang menyerupai manusia. Lalu manusia ditakut-takuti robot manusia ciptaaannya sendiri akan melawan manusia. 

Teknologi apapun namanya tetap saja teknologi, digunakan sesuai dengan kebutuhan manusia. Manusialah pengendali teknologi, apapun yang terjadi yang harus diwaspadai adalah manusia. Robot-robot manusia diciptakan dan dikendalikan manusia.

Dalam buku Superintelligence karya Nick Bostrom. Dia adalah filsuf asal Swedia, profesor di Oxford University, pendiri dan direktur Future of Humanity Institute di Oxford.

Hal yang saya setujui dari pemikiran Bostrom adalah jangan fokus berlomba membuat AI, tetapi berlomba-lombalah untuk mengajarkan manusia beretika menggunakan AI. Bagaimanapun cerdasnya AI diciptakan, manusia tetap jadi pengendalinya. 

AI tidak berbahaya jika diciptakan dan dikendalikan oleh orang-orang yang masih punya etika dan rasa kemanusiaan. Fenomena yang cukup mengkhawatirkan di era AI sekarang adalah beriringan dengan menurunnya penghargaan manusia pada kemanusiaan. Perang, genosida, mengabaikan etika dan rasa kemanusiaan.

Jika AI dikembangkan oleh orang-orang tidak berprikemanusiaan, AI akan jadi teknologi berbahaya bagi kemanusiaan. Pendidikan ilmu-ilmu sosial harus lebih fokus mengajarkan tentang sisi-sisi dasar tentang penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia. Inti dari pendidikan tetap mengajarkan manusia beretika, bermoral, dan saling menghargai dan bergotong royong menciptakan kesejahteraan hidup di muka bumi yang sama.  

Teknologi AI diciptakan untuk menciptakan kehidupan damai dan sejahtera untuk umat manusia. Dunia pendidikan harus mengajarkan tujuan dan pengendalian pemanfaatan AI untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan. 

Pendidikan tidak mengajarkan manusia berserah diri pada AI, tapi menjadi manusia-manusia sejati ciptaan Tuhan, yang mengupayakan kebaikan demi kebaikan untuk masa depan manusia.  

Pengajaran etika berkaitan dengan ajaran agama. Pengajaran agama harus membuka ruang penggunaan akal untuk menciptakan kesejahteraan dan kedamaian masyarakat. Di era AI, pendidikan moral dan etika agama, sosial, kemanusia, harus jadi narasi besar. 

Secerdas apapun teknologi AI diciptakan, manusia tetap jadi pengendalinya. Untuk itu, pendidikan jangan terpesona pada kemajuan teknologi AI, tapi harus tetap mengajarkan dan melatih manusia tetap jadi makhluk ciptaan Tuhan dan mendapat manat untuk menjaga kelestarian alam dan umat manusia di masa depan.

Jangan terjebak oleh kemajuan teknologi. Secerdas apapun AI diciptakan, untuk hidup sejahtera manusia butuh makan, minum, tempat tinggal, dan saling mencintai antar sesama. Cinta tanah air dan lingkungan, hidup saling berbagi antar sesama, dan beriman kepada Tuhan, menjadi bahan dasar kebutuhan hidup manusia. Kendalikan emosi, jadilah diri sendiri, dan jadilah manusia-manusia mandiri.***