Sunday, September 13, 2026

LOGIKA TUHAN MENGAJAK SEMUA BERPIKIR

Oleh: Muhammad Plato

Allah mengajak kepada semua orang untuk berpikir. Al Quran adalah wahyu otentik yang bisa diakses oleh semua orang. Semua orang bisa mempelajarinya dengan kapasitas intelektual setiap orang. Al Quran turun langsung dari Allah, tidak mengenal batas usia bagi siapa saja yang mau mempelajarinya.

Allah menjadi milik semua orang, demikian juga Al Quran menjadi milik semua orang karena diturunkan dari Tuhan seluruh alam. Untuk itulah keajaiban Al Quran dalam masalah hafalan bisa dihafal mulai balita sampai lansia. 

Allah maha pemurah dan yang memudahkan segala urusan bagi seluruh umatnya yang beriman. Allah menjelaskan Al Quran diturunkan bukan untuk menyulitkan tetapi untuk memudahkan. Tidak semua orang bisa memahami Al Quran, maka tugas orang-orang berilmu untuk memudahkan memahami Al Quran sesuai kapsitas keilmuan masing-masing.

"Kami tidak menurunkan Al Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), (Thahaa, 20: 2-3)."

Logika Tuhan adalah ilmu untuk memudahkan semua orang agar semua orang gemar dan bisa memahami secara mendalam yang terkandung dalam Al Quran. Selama ini, bagi orang-orang yang tidak berlatar belakang paham bahasa Arab, dipaksa puas hanya membaca Al Quran dalam teks bahasa Arab berulang-ulang. 

Logika Tuhan adalah konsep yang sengaja diperkenalkan bahwa cara berpikir terbaik yaitu dengan menngikuti pola pikir yang Allah ajarkan dalam Al Quran. Logika Tuhan tidak mengajak semua orang jadi Tuhan, tetapi mengajak semua orang menjadi hamba Allah yang taat, diawali dengan belajar membaca cara berpikir yang diajarkan Allah dalam Al Quran. 

Logika Tuhan sekilas mengajarkan kekakuan dalam berpikir, padahal apa yang diajarkan Allah dalam Al Quran jauh dari kata kaku, justru dengan memahami logika Tuhan cara berpikir orang bisa menjadi orang-orang santun, ramah, inklusif, penyabar, dan penyayang, seperti sifat-sifat Allah. 

Mungkin juga ada orang berprasangka, logika Tuhan mengajarkan orang menjadi manusia manusia ekslusiv, teroris, dan intoleran, justru sebaliknya, logika Tuhan mengajarkan menjadi manusia pengasih dan penyayang kepada sluruh alam, hal ini sesuai dengan sifat-sifat Allah yang maha rahman dan rahim.

Secara fisik siapa orang yang mengaplikasikan logika Tuhan dalam kehidupan sehari-hari? Tidak ada manusia lain sebagai contoh teladan kita adalah Nabi Muhammad Rasullah SAW. Saya menyadari, ada orang yang sulit menerima konsep logika Tuhan, karena berbeda metode saja dalam memahami Al Quran. Tapi tidak sedikit pula orang yang menerima karena memiliki metode dan pemikiran yang sama. 

Artinya, Allah maha luas ilmunya, dan setiap orang diberi kapasitas oleh Allah untuk memahami Al Quran bagi orang yang menginginkannya. Sebagaimana, seorang Kiai berpendapat, "ilmu itu diberikan kepada orang yang mau belajar, dan tidak mungkin ilmu diberikan kepada orang yang tidak menginginkannya". Maka dari itu Allah menghendaki memberikan ilmu kepada orang-orang yang menghendakinya, yaitu orang-orang yang mau belajar.

Berlogika Tuhan adalah ilmu berpikir bersumber pada Al Quran dan dengan mempelajarinya, kehidupan di bumi akan menjadi kehidupan penuh rahmat dan kasih sayang kepada sesama manusia, sebagai mana Nabi Muhammad contohkan. 

Ajaran Islam otentik ada dalam Al Quran dan hadis, bukan di kitab-kitab yang dikarang oleh manusia. Hadis Nabi Muhammad tidak boleh bertentangan dengan Al Quran, karena Nabi Muhammad berpedoman pada Al Quran. Belajar logika Tuhan adalah upaya manusia belajar agama Islam dari sumbernya langsung. 

Perbedaan pendapat yang kelak menjadi sumber perpecahan, bukan karena Al Quran tetapi karena ego-ego yang dimiliki oleh kepentingan manusia. Belajar logika Tuhan adalah upaya melepaskan diri dari kepentingan-kepentingan pribadi dan semua harus dikembalikan kepada Tuhan, karena manusia diciptakan dari dua sifat bawaan yang ditetapkan Allah yaitu punya potensi berbuat baik dan buruk.

Kita saksikan saat ini, Islam lahir di dunia Arab, tetapi tidak semua penganut Islam di Arab punya rasa persaudaraan sesama umat Islam. Bukan Islamnya yang salah, tetapi hal ini membuktikan bahwa pemahaman Islam tidak berdasarkan logika Tuhan, tetapi berdasarkan pada logika-logika yang dikendalikan hawa nafsunya, sehingga lahirlah aliran-aliran, dan kepentingan-kepentingan kekuasaan dan kekayaan, maka hasilnya wilayah Arab tidak pernah berhenti konflik hingga sekarang.

Untuk itulah Allah lebih banyak mengingatkan pada umat manusia, "apakah kamu tidak berpikir?". Allah mengajak kepada seluruh umat manusia untuk terus memperbaiki diri, berpikir, refleksi diri, apakah selama ini kita telah berlogika Tuhan atau menuhankan diri kita sendiri? 

"Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun. (Faathir, 35:37).***

No comments:

Post a Comment