Friday, October 30, 2015

KESALAHAN BERPIKIR DIAJARKAN DI SEKOLAH-SEKOLAH



Konsep pemikiran terdahulu mengatakan, untuk mencari agama tertua, kita harus mencari suku-suku tertua yang masih hidup di dunia. Apa yang diyakini suku tertua tersebut itulah agama yang mereka anut. Jika kita menemukan suku yang menyembah fenomena alam sebagai komunitas primitif di bumi, maka agama yang dianutnya sebagai yang paling kuno.

Dengan konsep berpikir ini, sebagian besar masyarakat percaya bahwa agama paling tua di dunia adalah agama yang mengakui kekuatan pada fenomena alam, seperti animisme, dinamisme, dan politeisme. “Pola berpikir ini dipengaruhi oleh kultur ilmiah yang telah mendidik kita untuk memusatkan perhatian hanya kepada dunia fisik dan material yang hadir dihadapan kita”. (Amstrong, 2013). Manusia lebih sadar pada apa yang mereka lihat secara fisik dan material, dan tidak sadar bahwa lebih banyak hal-hal ghaib yang ada disekitarnya.

Konsep pemikiran lain adalah agama yang dianut manusia mengikuti perkembangan zaman. Auguste Comte membagi zaman menjadi tiga fase yaitu teologis, metafisis, dan positif. Comte berpendapat bahwa asal usul fase teologis bermula dari fetisisme, diikuti politeisme, dan berakhir pada monoteisme. (Taslaman, 2010).

Dengan teori ini, Comte seolah-olah ingin berpendapat bahwa keberagamaan manusia hanya berada pada fase teologis yang terbagi menjadi tiga fase yaitu fetisisme, politeisme, dan monoteisme. Selanjutnya, setelah masyarakat meyakini agama monoteis, secara bertahap masyarakat akan beralih ke masa metafisik, dan akhirnya menjadi masyarakat positif, dimana sains mengambil alih agama.

Pola pikir diatas telah diajarkan di sekolah-sekolah berabad-abad di dunia Barat, hingga sampai ke bangku sekolah kita mulai dari tingkat usia dini sampai perguruan tinggi. Belum sepenuhnya disadari bahwa kita sedang mengajarkan generasi kita menuju masyarakat positif yang dicita-citakan oleh Comte, yaitu masyarakat yang meninggalkan kepercayaan kepada Tuhan, menjadi masyarakat yang hanya percaya kepada kebenaran fisik dan material.

Dari pola pikir di atas, disimpulkan bahwa masyarakat yang percaya pada Tuhan adalah masyarakat primitif yang terbelakang berabad-abad tahun lalu. Muncul stigma negatif bahwa mereka yang masih percaya Tuhan dianggap kuno, dan tidak akan bisa hidup sesuai dengan perkembangan zaman. Kenyataannya seolah-olah dibenarkan oleh kondisi kaum agamawan aliran anti keduniawian yang tampil miskin dan penuh kesederhanaan. Pola hidup ini semakin tidak diminati oleh generasi-generasi muda yang sudah diajarkan hidup dengan kemewahan, kemudahan, dengan penerapan berbagai macam teknologi. Kalau tidak Atheis, generasi Barat memilih Agnostik. Pengaruh ini mulai ke kita melalui berbagai saluran seperti pendidikan. Tanda-tandanya mulai dengan meninggalkan nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari Tuhan (wahyu), menggantinya dengan teori-teori ilmiah hasil dari penelitian yang meyakini kebenaran dari apa yang dilihat secara fisik dan material.

Pemikiran sekuler yang melihat dunia sebagai entitas terpisah, ikut membenarkan bahwa antara tipe masyarakat satu dengan lainnya hidup berdasarkan karakteristiknya masing-masing. Oleh karena itu masyarakat teologis seolah-olah terpisah dari masyarakat ilmiah.

Inilah kesalahan berpikir yang diajarkan di sekolah-sekolah secara turun temurun berabad-abad. Kini setelah dunia mengalami krisis, kerusakan alam dan kemiskinan merajalela, menyebarnya penyakit mematikan akibat hubungan seks bebas, dan turunnya kualitas moral masyarakat, mulailah muncu kesadaran. Telah terjadi kesalahan berpikir, sehingga manusia terlepas dan mengabaikan keberadaan Tuhan. Pengetahuan yang bersumber dari Tuhan tidak dijadikan sebagai sumber pengetahuan untuk dipikirkan dan dianggap sebagai khayalan, layaknya mitos dan cerita legenda.

KEMBALI KE JALAN BENAR

Karen Amstrong (2013) dalam bukunya, “Sejarah Tuhan”, telah membantu meluruskan kita ke jalan yang benar bahwa pada mulanya manusia meyakini satu Tuhan sebagai sebab pertama dari segala sesuatu dan penguasa langit dan bumi. Pendapat Amstrong didasari oleh teori yang dipopulerkan oleh Wihelm Schmidt dalam buku The Origin Of The Idea of God, yang terbit tahun 1912. Schmidt menyatakan bahwa telah ada suatu monoteisme primitif sebelum manusia mulai menyembah banyak dewa. Pada awalnya mereka mengakui hanya ada satu Tuhan Tertinggi, yang telah menciptakan dunia dan menata urusan dunia.

Caner Taslaman (2010) mempertegas bahwa kebanyakan agama dunia hanyalah versi menyimpang dari monoteisme. Penuhanan terhadap alam penyebab lahirnya konsep Tuhan monoteis, adalah tidak masuk akal, karena sebelum orang menjadikan kekuatan alam sebagai tuhan, orang tersebut terlebih dahulu harus sudah mengenal “Tuhan”.

Logisnya, penyimpangan terhadap agama monoteisme menjadi politeisme, seiring dengan perjalanan waktu, karena manusia memvisualisasikan Tuhan dengan metafora. Jalan pikirannya seperti berikut, “Tuhan adalah pencipta, dia seperti ibuku.”, “Tuhan adalah segala sesuatu, Dia bagaikan bumi”.   Itu sebab lahirnya agama politeisme.

Selanjutnya dalam setiap tahapan sejarah, sudah ada gagasan satu Tuhan. Pada setiap tahapan sejarah selalu terjadi, agama monoteisme ditentang oleh penyembah bulan atau matahari. Pada zaman sekarang, agama monoteis mendapat penentangan dari kaum komunis atau positivis. Pada akhirnya penentang monoteis selalu mengalami kegagalan, dan keyakinan pada satu Tuhan bertahan selamanya.

Jadi gambaran perubahan masyarakat secara evolusi yang dikemukakan oleh Comte, sudah tidak relevan lagi. Setiap tahap-tahap sejarah, masalah teologis selalu mewarnainya bukan suatu yang terpisah seperti yang disangkakan kaum evolusionis.

Penulis punya kesimpulan baru bahwa perjalanan hidup manusia mengikuti sebuah siklus, silih berganti, atau timbul tenggelamnya agama monoteisme dengan politeisme. Ujung dari siklus ini adalah monoteisme. Diprediksi pada pada abad sekarang sebagai masa redup dari agama politeisme, dan segera akan mulai muncul kesadaran masyarakat untuk kembali kepada agama monoteisme.

Pemilik keyakinan terhadap agama monoteisme, tidak lagi akan dianggap sebagai masyarakat tertinggal dan kuno. Sebaliknya masyarakat berperadaban akan dicirikan sebagai masyarakat dengan keyakinan terhadap agama monoteisme. Wallahu ‘alam.

(Muhammad Plato, Penulis Buku Hidup Sukses Dengan Logika Tuhan. Follow @logika_Tuhan)

No comments:

Post a Comment