Tuesday, November 19, 2013

PENGETAHUAN DULU ATAU BERIMAN DULU?

Oleh: Muhammad Plato

Sepulang dari panti asuhan satu keluarga, begitu melelahkan. Rumah kontrakan yang tidak layak huni bagi seorang manusia berpenghasilan di atas 10 juta, selalu jadi tempat istirahat yang menenteramkan. 

Sekalipun langit-langit lapuk, talang kadang bocor, kamar mandi tak berkeramik, dan sedikit ada bau lembab, rumah itu seperti surga yang selalu membawa tenang di saat-saat waktu istirahat tiba.

Waktu pulang dari panti asuhan, hampir larut malam. Sebelum tidur, iseng-iseng nonton ceramah seorang Pendeta dari salah satu acara televisi swasta lokal. Sengaja saya nonton ingin tahu bagimana logika-logika berpikir yang digunakan agama lain.


Hal yang menarik dari ceramah itu adalah Pak Pendeta berkata, bahwa keimanan sesorang bukan didapat dari logika (logic), bukan pula dari penglihatan (seeing), bukan pula dari bukti-bukti (evident). Tapi keimanan di dapat dari iman, istilah Pak Pendeta adalah faith to faith. Pak Pendeta menegaskan bukan mengerti lalu beriman, tetapi beriman dulu baru mengerti.  Menurut Pak Pendeta inilah metode beriman yang tidak dimiliki oleh agama lain.

Penulis tidak mau menghakimi apakah pendapat Pak Pendeta itu benar atau salah. Lagian Pak Pendeta berbeda agama dengan penulis. Yang menggelitik penulis adalah apakah dalam memperoleh keimanan, kita harus beriman dulu, atau mengerti dulu?

Ternyata metode yang dianut Pak Pendeta dianut juga oleh kawan-kawan saya yang muslim di pesantren.  Beberapa kawan yang selalu terlibat diskusi bersikukuh bahwa keimanan mendahului pengetahuan. Metode mereka sama dengan Pak Pendeta yaitu faith to faith.

Penulis coba analisis pendapat Pak Pendeta, kenapa Beliau berpendapat untuk beriman harus beriman dulu bukan mengerti. Kemungkinan besar, Pak Pendeta sangat menghindarkan ajaran agama yang dianutnya dari pendekatan-pendekatan ilmiah, melalui logika, dan empiris. Penulis ketahui dari sejarah bahwa ajaran agama Pak Pendeta sangat bertentangan dengan orang-orang ilmiah. Seperti diceritakan dalam kasus Copernicus, dan Galileo Galilei.

Sepengetahuan penulis, agama Pak Pendeta juga memiliki kasus kontroversi tentang konsep ketuhanannya. Konsep ketuhanan dalam agama Pak Pendeta kadang-kadang sulit dipahami dengan akal (logika). Dalam berbagai acara debat agama (Ahmed Deedat, Dr. Naik), Pendeta selalu kewalahan menghadapi argumen logis untuk mempertahankan konsep ketuhanannya. Atas dasar itulah Tuhan Pak Pendeta selalu berlindung di balik misteri yang dinisbatkan sebagai sifat mutlak Tuhan, yang tidak dimiliki makhluk selain Tuhan. Padahal dimuka bumi ini banyak makhluk-makhluk misterius juga, seperti Alien contohnya.

Untuk itulah keluar metode bahwa keimanan itu di dapat bukan dari logika, penglihatan, dan bukti-bukti, tapi dari keimanan. Jika metode ini satu-satunya dalam memperoleh keimanan, kemungkinan bisa terjadi, sekalipun tidak logis, dan empiris dengan keimanan sesuatu bisa menjadi benar. Begitu kira-kira.  Mohon maaf ini hanya prediksi saja, yang lebih tahu tentu Pak Pendeta. Setiap orang boleh berpendapat kan, asal tidak saling menjelekkan.
  
Bagaimana dengan pandangan dari agama penulis? Dari sudut pandang agama penulis, metode untuk beriman harus beriman dulu, atau untuk mengerti harus beriman dulu, kurang sependapat. Sebab jika metode ini dimutlakkan, akan terjadi indoktrinasi membabi buta, yaitu membenarkan sesuatu sekalipun bertentangan dengan logika. Padahal akal, logika adalah perantara manusia untuk memahami siapa Tuhannya.

Jika memahami asal-usulnya turunnya kitab suci Al-Qur’an, Nabi Muhammad saw menerima wahyu pertama dari Allah di Gua Hira adalah kata Iqra (bacalah). Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (logika). (Al-‘Alaq:1-4). 

Jika dicermati mengapa untuk pertama kalinya Tuhan tidak memerintahkan manusia (Nabi Muhammad saw) berimanlah, bertakwalah, atau berserah dirilah? Sangat mungkin perintah membaca ini adalah perintah awal dari Tuhan yang harus dilakukan manusia, jika manusia ingin mencapai derajat beriman.  Dapat juga berarti, untuk mendapatkan dan meningkatkan keimanan, Tuhan mewajibkan manusia membuktikan firman-firman Tuhan dengan pikiran (logika), dan membuktikannya.

Sebagaimana kita ketahui dari wahyu Al-Qur’an, bagaimana proses pencarian Tuhan yang dilakukan Nabi Ibrahim. Diberitakan Nabi Ibrahim melakukan penalaran (berlogika), dan meminta pembuktian keberadaan Tuhan kepada Tuhan, untuk memantapkan keimanannya. Nabi Ibrahim memang sempat ditegur Tuhan dalam bentuk pertanyaan,” apakah kamu belum yakin dengan keberadaan Ku?” Dan setelah mendengar jawaban Nabi Ibrahim, ingin memantapkan keimanannya, Tuhan tidak menyuruh Nabi Ibrahim untuk beriman demi keimanan. Tapi Tuhan menjawab keinginan Nabi Ibrahim dengan menyuruh menyembelih burung dan setelah itu Tuhan membuktikan kebenarannya dengan menghidupkan kembali burung yang telah disembelih Nabi Ibrahim. Tunduklah Nabi Ibrahim dalam keimanan kepada Tuhan setelah itu.

Jadi pendapat penulis, di dalam agama yang penulis anut, untuk beriman seseorang harus mengerti dulu, sebab tanpa pengertian terlebih dahulu, kadang-kadang manusia sering merasa telah beriman dengan benar padahal sangat jauh dari kebenaran. Tuhan tidak takut gara-gara berlogika, dan ingin membuktikan Tuhan, manusia jadi tidak beriman. Sebab Tuhan sendirilah yang menciptakan logika untuk manusia.

Saya sependapat dengan Hassan Hanafi (2010:277-278), “Nalar mendahului keimanan. Memberikan prioritas iman di atas nalar tidak mendatangkan manfaat dan kemaslahatan. Pemilihan keimanan sebagai kewajiban pertama telah terjadi pada masa-masa keterbelakangan dan kebekuan, sebagai ajakan tegas menuju pengabaian terhadap nalar (logika). Ditegaskan oleh Beliau, kewajiban pertam bukan ber Islam, sebab seorang mukalaf tidak meyakini Islam kecuali setelah melakukan nalar, perenungan, menggunakan akal dan pikiran. Jika tidak, maka berarti Islamnya adalah melalui adat dan tradisi. Keislaman menuntut adanya pengetahuan tentangnya. JADI PENGETAHUAN MENDAHULUI KEISLAMAN. PENGETAHUAN TIDAK AKAN ADA KECUALI DENGAN NALAR. DENGAN DEMIKIAN NALAR MENDAHULUI PENGETAHUAN”.

Saya sependapat dengan KH. Fahmi Basya, bahwa yang pertama kali diciptakan Tuhan adalah logika. Pendapat ini dapat dipahami jika dihubungkan dengan pendapat Hassan Hanafi, yang menyimpulkan bahwa nalar mendahului pengetahuan.

Sampai sejauhmana manusia berlogika Tuhan akan meladeninya. Bahkan Tuhan menyuruh-nyuruh manusia berlogika (berpikir) sebanyak 63 kali. Perintah yang luar biasa penting. Tuhan sangat menginginkan umatnya menjadi cerdas, dan Tuhan membenci manusia-manusia bodoh yang tidak pernah menguji dan meningkatkan keimanannya.  Hari esok harus lebih baik dari hari ini, agar hari depan mu tetap baik. 

Sekian pendapat penulis, mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan. Wallahu ‘alam.
Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan

No comments:

Post a Comment